A/N : Hello~ *ditimpuk* Maaaaaaff! Aku sibuk sekali belakangan ini, banyak lomba, ulangan, terutama tugas dan PR! Aku baru bisa update sekarang, walaupun chapter 4 ini sudah ada di folderku sejak beberapa minggu lalu.. Oh ya, aku membuat fic eksperimen.. Kalau bisa sih.. baca ya :D *promosi*

Yosh! Langsung saja!

Don't Like, Don't Read! :D


Merry-Go-Round

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pair : Minato Namikaze & Kushina Uzumaki

Genre : Romance, Drama, Friendship

Warning : typo(s), OOC, OC (untuk anak Shion & bibi Kushina), abal, gaje, AU, cerita agak pasaran, dll.


Chapter 4 : When We Were 7.

Kushina Uzumaki tersenyum puas saat melihat nomor telepon Minato Namikaze yang telah berhasil tersimpan dalam kontaknya.

"Bolehkah aku pamit pulang terlebih dahulu? Shin harus pulang atau bibiku akan mencarinya," Minato meringis pelan sambil mengarahkan pandangannya ke arah Shin yang hanya memandang mereka dengan polos.

"Haha, silahkan, terima kasih banyak atas nomor telepon-mu!" Kushina tersenyum lebar.

"Kau sendiri? Ada yang menjemput?"

"Ah, tenang saja, aku membawa mobil sendiri kok!"

"Baiklah, kami pamit dulu, terima kasih banyak atas bantuanmu."

"Bantuan apa?"

"Bantuanmu menolong Shin."

"Aduh, kau sudah terlalu banyak berterimakasih. Berhentilah berterimakasih padaku!" Kushina jadi sebal sendiri. Pria ini selalu berterimakasih.

"Iya, iya. Kami pulang dulu," Minato menarik pelan tangan Shin yang digandengnya dan mereka mulai berbalik dan menjauhi Kushina.

"Hati-hati ya!" Kushina sempat melambaikan tangannya dengan ringan sambil tersenyum. Sebelum keluar dari Konoha Land, dia kembali mendudukkan dirinya di kursi yang terletak di dekat wahana Merry-Go-Round. Kembali melihat ke arah wahana yang kini tengah berputar dengan pendaran cahaya yang berwarna-warni. Maklum, ini sudah menjelang malam.

Benar juga. Ini sudah menjelang malam. Bibi dan paman-nya akan mencarinya jika ia tak segera pulang. Kushina segera beranjak dari kursi itu dan keluar dari Konoha Land.

"Minato-nii kenal dengannya?" Shin kini sudah duduk di kursi penumpang di sebelah kursi pengemudi yang didudukki Minato.

"Tentu."

"Bagaimana bisa?"

"Tentu bisa."

"Ya bagaimana? Masa' tiba-tiba kenal?"

"Aku sedang mengemudi, bisakah kita bicara nanti saja?"

"Baiklah, berjanjilah untuk menceritakannya padaku."

"Tentu, dengan senang hati," Minato mengakhiri percakapan mereka dengan senyuman lembutnya. Memang dia tetap fokus ke arah jalanan, tak sedikit pun ia menolehkan kepala menatap Shin. Namun, senyuman lembutnya itu tetap terlihat dari samping.

Lucu juga membayangkan dirinya yang masih berusia 7 tahun ketika itu.


FLASHBACK

"Minato, kamu mau naik ini?" Shion Namikaze yang masih berusia 21 tahun kala itu dipercayakan Tsunade untuk mengawasi Minato yang sedang berlibur ke Konoha dan ingin pergi ke Konoha Land. Minato hanya mengangguk ringan dan patuh sambil tersenyum simpul.

"Jangan kemana-mana, aku ingin ke wahana bianglala di sana sebentar."

"Untuk apa?"

"Pacarku juga sedang ke Konoha Land bersama keluarganya, dia mengajakku bertemu."

"Silahkan," Minato hanya tersenyum simpul saja. Shion sudah mengawasinya sejak tadi. Bukankah dia juga perlu memberikan sedikit waktu luang untuk Shion?

"Kalau sudah selesai, duduk saja di kursi itu, oke?" Shion menunjuk sebuah kursi yang berada di dekat wahana komedi putar itu. Sekali lagi, Minato hanya mengangguk ringan. Shion mulai berjalan menjauh, Minato hanya mengantri di barisan paling belakang. Antrian wahana ini panjang sekali. Hingga Minato mendengar suara dari 3 orang yang berada tak jauh dari tempatnya mengantri.

"Ba-san, aku ingin naik ini!" seorang gadis kecil yang terlihat sebaya dengannya menunjuk wahana komedi putar ini.

"Aku tidak," anak lelaki berambut merah yang berada dekat dengan gadis itu hanya melontarkan pendapatnya dengan nada datar.

"Ayolah, Nagato! Sekali-kali apa salahnya naik ini! Aku rasa ini permainan yang menyenangkan!" gadis itu kembali menunjuk-nunjuk wahana komedi putar itu sambil meyakinkan anak laki-laki yang tadi dipanggilnya Nagato.

"Aku tidak tertarik."

"Tapi aku tertarik!" gadis itu terlihat ngotot sekali akan pendiriannya. Wanita yang berada di tengah-tengah mereka menampakkan wajah bingung sambil menatap kedua anak yang tengah berargumen ini secara bergantian.

"Aku ingin!"

"Aku tidak."

"Ingin!"

"Tidak."

"Ba-san! Naik ini saja ya?"

"Kaa-san, lebih baik kita mencari wahana lain."

"Ayolah, Ba-san!"

Wanita itu terlihat berpikir. "Aku hanya menjaga kalian sendirian, kalau Kushina ingin naik ini dan Nagato tidak mau, aku harus menjaga siapa, hm?" wanita itu mengelus kepala kedua anak yang dipanggil Nagato dan Kushina itu dengan lembut. Keduanya tampak berpikir.

"Ba-san, sebentar saja aku ingin naik ini," Kushina menatap bibinya dengan wajah memelas. Bibinya menampakkan wajah tak tega.

"Kaa-san, daripada naik ini, kita bisa menaiki wahana lain," Nagato kembali menyuarakan pendapatnya. Wanita itu kembali memasang wajah bingung. Kushina sendiri masih memasang wajah memelas yang membuat orang lain tak tega kepadanya. Minato yang melihat wajah Kushina yang memelas dari jarak 5 meter saja jadi tersentuh juga.

"Tapi, siapa yang akan menjaga Kushina kalau Kushina bermain sendiri di sini?"

"Aku akan bermain sendiri, tenang saja, aku akan mencari kalian nanti."

"Tak semudah itu Kushina, Konoha Land sangat ramai, bagaimana kalau kamu tidak bisa menemukan kami? Kalau kamu malah diculik?"

"Tidak akan, Ba-san, kalau mereka mau menculik Kushina, tinggal tampar, tendang, pukul, selesai kan?" Kushina mengucapkan itu dengan ringan sekali. Sangat ringan hingga membuat sang bibi sweatdrop dan Nagato masih memasang wajah stoic.

"Itu bukan ide yang bagus."

"Sudahlah, lebih baik katakan kemana Nagato ingin main, aku akan ke sana."

"Aku ingin bermain rollercoaster."

"Baik, aku akan ke sana," Kushina kembali berkata dengan santainya sebelum berbalik dan bergabung dengan antrian panjang itu.

Saat gadis kecil itu mulai mengantri di belakangnya, Minato kembali mengarahkan pandangannya ke depan, ia tak ingin gadis di belakangnya ini tahu kalau dia menguping pembicaraan mereka.

Lama sekali giliran mereka tiba. Saat giliran Minato dan Kushina tiba, keduanya ikut berjalan pelan, sampai seorang pengawas wahana menghadang mereka.

"Adik-adik kecil, dimana orangtua kalian?" Pengawas itu bertanya dengan ramah dan lembut kepada keduanya. Keduanya hanya saling bertatapan. Lalu, karena mereka terdiam cukup lama, Minato mengambil inisiatif untuk berbicara terlebih dahulu.

"Kakak sepupuku sedang ke wahana bianglala, jadi aku ditinggal sementara dan dia akan menjemputku kembali nanti di sini," Minato menjelaskan dengan cukup detail. Dia hanya menunggu gadis kecil di sebelahnya ini untuk membuka mulutnya dengan melihat ke arahnya. Namun, yang ditatapi hanya memasang wajah bodoh dan menjadi sinis karena merasa risih ditatap begitu oleh Minato.

"Apa?" tanyanya dengan nada sinis. Minato hanya kembali menundukkan kepalanya.

Pengawas wanita di hadapan mereka berdeham. Setidaknya cukup keras untuk mereka dengarkan. "Bagaimana denganmu gadis kecil?"

"Oh.. Bibiku sedang menemani anaknya bermain rollercoaster, jadi aku ditinggal. Cukup jelaskah?"

"Hm.. Bagaimana ya.. Sebenarnya, jika tanpa pengawasan orangtua, kalian tidak boleh masuk.. Tapi.."

"Ayolah, kami sudah mengantri dari tadi, sia-sia kami mengantri kalau akhirnya tidak boleh masuk juga," Kushina memohon dengan sedikit nada keras dalam kata-kata yang diucapkannya. Anak lelaki di sebelahnya itu hanya mengangguk setuju.

"Tapi.. Mungkin karena kalian berdua, bisa dipertimbangkan.."

Tiba-tiba, seorang pengawas wahana lain yang ingin menutup pagar pembatas wahana dengan antrian berteriak pada pengawas wanita satu ini. "Hei! Kedua anak itu jadi naik tidak?"

Pengawas wanita di depan mereka terlihat berpikir keras. Kemudian dia menghela nafas perlahan. "Baiklah, kalian boleh masuk.."

Wajah Kushina berubah sumringah. Namun, pengawas wanita itu kembali melanjutkan ucapannya. "Dengan syarat, kalian harus saling mengawasi, oke?"

Keduanya kembali beradu pandang. Kemudian keduanya mengangguk pasrah.

"Ya sudah, cepatlah, yang lain sudah menunggu."

Keduanya segera berlari melewati pagar pembatas wahana. Hanya tersisa 2 kuda-kudaan yang bersebelahan. Mau bagaimana lagi? Mereka sudah tidak bisa memilih kuda-kudaan lain lagi. Mereka duduk dengan tenang.

Minato hanya melihat ke arah luar wahana. Tiba-tiba, suara dari gadis kecil di sampingnya terdengar.

"Hei!"

Minato menolehkan pandangannya. "Kau.. Bicara denganku?" Minato bertanya dengan gugupnya.

"Tentu! Memang aku mau bicara dengan siapa lagi!" Kushina hanya mendengus sebal sedangkan Minato hanya tertawa gugup sambil menggaruk pelan belakang kepalanya.

"Namamu.. Siapa namamu?" Kushina bertanya pada anak lelaki di sampingnya ini.

"Minato. Minato Namikaze. Kau sendiri?"

"Kushina. Kushina.. Uzumaki."

"Ke Konoha Land dengan siapa, Uzumaki-san?" Minato mulai memberanikan diri memanggil Kushina dengan nama keluarganya.

"Ugh, bisakah kau panggil aku dengan nama kecilku saja? Tanpa suffix apapun," Kushina terlihat resah dengan panggilan Minato. Entah mengapa.

"Baiklah, Ku-Kushina," Minato kembali tersenyum gugup.

"Aku ke sini dengan bibiku dan kakak sepupuku yang sangat menyebalkan, kau sendiri?"

"Dengan kakak sepupuku juga," Minato mulai bisa tersenyum simpul. Sepertinya, Kushina mungkin bisa jadi teman bicara yang menyenangkan.

"Rumahmu dimana?"

"Oh.. Aku tinggal di Sunagakure, di sini aku tinggal di rumah paman dan bibi. Kau sendiri?"

"Rumah paman dan bibiku di kompleks Blok B, dekat sini."

"Benarkah? Rumah bibi dan pamanku juga di kompleks itu kok."

"Wah, kita bisa sering bermain dong!"

"Ya, di kompleks ada taman kan?"

"Ya!"

"Besok pukul 4 sore. Bagaimana?"

"Hm.. Bisa!" Setelah menyepakati pertemuan mereka besok, tak lama, wahana itu berhenti berputar. Mereka turun dengan hati-hati. Setelah keluar dari wahana tersebut, kakak sepupu Minato belum juga tiba.

"Hei, Kushina, dimana bibimu?" Minato mengedarkan pandangannya.

"Oh, aku yang akan menghampiri mereka ke wahana rollercoaster," Kushina menjawab dengan santainya. Minato hanya tercengang melihat gadis kecil ini. Sebenarnya gadis ini nekat, terlalu pemberani, atau sudah benar-benar gila? Hei, tidak bisakah gadis ini melihat situasi Konoha Land yang ramai ini? Mungkin sebelum dia dapat menemukan bibi dan kakaknya itu, dia sudah hilang diculik atau tersesat ke wahana lain.

"Apa?" Kushina kembali memandang Minato risih.

Minato tersadar. Secara refleks saja, dia menggandeng tangan gadis ini.

"Hei! Ada apa sih?" Kushina jadi heran sendiri dengan laki-laki aneh yang sedang bersamanya ini.

"Mau mencari bibi dan kakakmu kan? Aku bantu."

"Tapi, kalau nanti kakakmu menjemput?"

"Tidak, aku tahu dia tak akan kembali secepat itu kalau sudah bertemu pacarnya."

Keduanya hanya dapat berjalan di tengah kerumunan dnegan hati-hati. Bertanya dengan beberapa petugas yang mereka temui tentang lokasi rollercoaster yang ternyata berdekatan dengan bianglala. Keduanya masih berjalan pelan dengan gandengan tangan yang belum juga lepas agar tak terpisah satu sama lain.

Setelah tiba di dekat wahana rollercoaster, Kushina bisa melihat bibinya dan Nagato yang baru saja turun dari wahana itu.

"Hei, terima kasih!" Kushina tersenyum riang, menatap Minato yang masih tersenyum simpul.

"Tidak masalah. Aku ke wahana bianglala dulu ya? Mencari kakak sepupuku."

"Baiklah. Hati-hati ya," Kushina segera berbalik dan menghampiri bibinya.

Keesokkan harinya, mereka bertemu di taman kompleks. Begitu juga dengan hari berikutnya. Hari terakhir mereka bertemu sebelum hari ini adalah saat mereka bermain di taman dan berjanji untuk bertemu di Konoha Land keesokkan harinya. Minato mengiyakan janji itu tanpa tahu kalau itu adalah hari terakhir liburannya di Konoha.

FLASHBACK OFF


"Jadi begitu ceritanya, Miko," Kushina menjelaskan panjang lebar mengenai urusannya kemarin, bertemu dengan Minato, dan siapa Minato itu.

"Hm.. Fateful encounter," Miko manggut-manggut mengerti, lalu menenggak jus yang dibelinya dari kantin tadi.

"Huh? Apa yang kau katakan tadi?"

"Fateful encounter."

"Apaan tuh?"

"Pertemuan yang sudah ditakdirkan."

"Huh? Kamu bicara apa sih? Takdir, pertemuan, apalah itu.. Kami hanya bertemu karena kebetulan bermain di Konoha Land pada hari yang sama dan sama-sama tidak diawasi orangtua. Hanya itu."

"Kamu yakin hanya itu, Kushina?"

"Tentu. Memang ada apa lagi selain kebetu-"

"Takdir."

"Ckck, Miko.. Masa' kamu masih percaya sama hal semacam itu sih?"

"Kushina.. Bukan masalah percaya dan tidak percaya.. Tapi takdir itu benar-benar ada."

"Ya-ya, terserah kamu saja.. Aku tetap tidak mengerti. Tetap saja, menurutku semuanya hanya kebetulan."

"Kushina.. Pertemuan kalian sudah takdir. Mungkin.. Hanya mungkin sih.. Dia orang yang terpilih menjadi takdirmu."

"Terpilih? Takdir? Apa sih?"

"Jodoh."

"Ck, Miko. Kamu ini.. Percaya sekali sih sama hal seperti itu?"

"Hohoho~.. Mau buktikan? Mau taruhan denganku kalau dia itu benar-benar jodohmu?"

"Ayo! Kalau memang benar dia jodohku atau apalah itu yang kau katakan, traktir aku ramen sepuasnya!"

"Dengan senang hati."

TBC


A/N : Hoho~ Baguskah? Kurang panjangkah? Mengecewakankah? Huhu.. Aku mohon reviewnya.. Agar hati(?)ku tergerak untuk makin semangat update! Arigatou ne! :D

Jaa~