Aku menghela napas panjang sembari turun dari tempat tidur, menatap sedikit mencela ke arah Sasuke yang balas menatapku tajam. Sudah kubilang aku baik-baik saja, tapi suamiku satu ini masih saja tidak percaya dan bersikeras membawaku untuk memeriksakan diri pada Tsunade-sama.

Ini semua bermula ketika kesehatanku sedikit terganggu selama misi bersama Sasuke dan Sai di Amegakure beberapa hari yang lalu. Aku nyaris tidak bisa menelan makanan apapun karena rasa mual yang menyerangku. Tak hanya itu, aku sempat beberapa kali muntah di depan suamiku itu, membuatnya luar biasa khawatir. Ya, siapa yang menyangka Sasuke tipe suami yang suka khawatir dan over protective?

Aku sudah berusaha menjelaskan padanya, mungkin aku hanya tidak terbiasa dengan cuaca di Amegakure yang kelembabannya sangat tinggi dan setiap hari diguyur hujan itu. Lagipula perjalanan kemari cukup berat dan jauh, jadi bukannya tidak mungkin imunitasku turun saat itu. Tapi kita berbicara tentang Uchiha Sasuke di sini, pria yang selalu merasa dirinya benar. Aku jadi bertanya-tanya sendiri, sebenarnya siapa yang medic-nin di sini?

.

.

Kakkoii-chan presents

BEFORE

Naruto © Kishimoto Masashi

Warning! Sakura's POV, OOC, typo, deskrip minim, setting setelah chapter 699, Canon

DLDR

ENJOY!

.

.

4th Story

Before She was Born

.

.

Aku kembali menghempaskan tubuhku di kursi sebelah Sasuke, menunggu Tsunade-shishou menjabarkan hasil pemeriksaannya—yang aku yakin sebenarnya baik-baik saja.

"Jadi bagaimana?" tanya Sasuke dengan tidak sabar. Diam-diam aku menyodok pinggangnya. Tidak bisakah ia bersikap lebih sopan pada Tsunade-sama?

Nampaknya mood Tsunade-sama sedang baik hari ini. Atau tepatnya saat ini. Ia sama sekali tidak mempermasalahkan sikap Sasuke—ia bahkan tersenyum cukup lebar. Hal yang cukup mencengangkan untuk seseorang dengan temperamen sepertinya.

"Sesungguhnya aku heran kau sampai datang kemari untuk masalah ini," Tsunade membuka sesi pembicaraan. Aku langsung menyeringai ke arah Sasuke, kubilang juga apa. Aku hanya terpengaruh cuaca Amegakure yang tidak menentu jadi sedikit terkena flu-like syndrome.

Sasuke membalas dengan tatapan tak mau kalah. "Kau bilang muntah-muntah dan selera makan hilang itu 'masalah seperti ini'? Suhu tubuhnya saja lebih tinggi dari biasanya. Apa kau yakin ia tidak sakit sesuatu?" suamiku kembali mencecar pertanyaan kepada mantan hokage itu.

"Sakit? Tentu tidak. Itu reaksi yang wajar untuk wanita yang sedang hamil," jawab Tsunade sedikit geli.

Aku tersenyum penuh kemenangan. "Sudah kubilang kan, Sasuke, aku tidak sakit.. aku hanya hamil. EH? HAMIL?" aku berteriak begitu benar-benar menyadari apa yang baru saja dikatakan oleh Tsunade.

Tanpa sadar aku menyentuh perutku yang masih rata. Hamil? Astaga, kenapa aku tidak memikirkannya sama sekali. Kalau dingat-ingat aku juga sudah beberapa minggu terlambat datang bulan. Dan akhir-akhir ini aku juga sering mengalami perubahan mood. Jadi.. itu karena aku sedang mengandung anak kami berdua.

Aku melirik ke arah Sasuke. Ia tampak sama kagetnya denganku. Matanya membelalak ke arah Tsunade seolah menunggu wanita itu mengatakan 'April Mop!' atau apalah. Menyadari Tsunade hanya tersenyum, ia pun balik menatap perutku—masih dengan tatapan tidak percaya.

"Hamil? Sakura.. kau.." ia menggumam tidak jelas.

Aku mengangguk pelan. "Sepertinya begitu," jawabku dengan suara nyaris berbisik.

Detik kemudian aku merasakan tubuh Sasuke mendekapku erat. Salah satu tangannya melingkar di pinggangku sementara yang lain mengusap rambutku . "Sakura.. arigatou," bisiknya tepat di telingaku.

Dan entah karena memang kalimat itu suatu mantra yang ampuh untuk membuatku menangis ataukah pengaruh kehamilanku, air mata mulai mengalir di pipiku. Aku membalas pelukan Sasuke, membuat bajunya sedikit basah karena air mataku.

"Ehem, bisa kita lanjutkan dulu pembicaraan kita?" kalimat Tsunade-sama membuat kami berdua sadar kalau kami masih berada di rumah sakit. Buru-buru kami melepaskan diri dan kembali duduk di tempat duduk masing-masing dengan wajah sedikit memerah. Tapi ada satu hal yang membuatku terkejut, Sasuke ganti menggenggam tanganku sekarang. Aku melempar pandangan penuh tanya padanya—yang hanya dibalas dengan sebuah seringai.

Aku kembali mengalihkan perhatianku ke Tsunade-sama berusaha menghilangkan rona merah yang mulai permanen menempel di wajahku ini. Sial, sudah menikah beberapa bulanpun tidak membuatku kebal dengan pesonanya.

"Jadi kapan hari pertama terakhir kali kau menstruasi, Sakura?" tanya Tsunade-sama sembari menyiapkan berkas untuk memantau kehamilanku nantinya.

"Tanggal 13 Mei," jawabku langsung. Untung saja aku selalu rajin mencatat mulai dan berakhirnya menstruasiku selama ini.

"Ho.. kalau begitu kemungkinan janinmu sudah berusia sekitar 3 minggu. Dan untuk perkiraan hari kelahirannya, sekitar tanggal 20 Februari tahun depan," ia menjelaskan sembari terus menulis. "Dan kondisimu sejauh ini?"

"Hanya sedikit mual dan beberapa kali muntah, terutama di pagi hari," jawabku lagi yang langsung dihadiahi tatapan tak setuju oleh Sasuke. Hei, dia tak perlu berlebihan seperti itu.

Tsunade kembali mengangguk. "Baiklah, aku akan memberikan beberapa vitamin untuk menjaga kondisi tubuhmu dan janinmu. Kembalilah sebulan lagi untuk pemeriksaan rutin. Ada yang mau kau tanyakan?"

Aku cepat-cepat menggeleng. Aku sudah pernah membaa teori mengenai kehamilan, jadi tidak ada yang cukup membingungkan mengenai masalah ini.

"Kalau begitu kuucapkan selamat. Kalian sudah bisa melanjutkan perayaan kecil kalian tadi di rumah," Tsunade berkata sembari terkekeh menggoda. Aku melupakan sifat Tsunade-sama yang suka memanfaatkan kelemahan orang lain ini.

Aku membungkuk sekilas sebelum menuju pintu diikuti oleh Sasuke sebelum akhirnya suara Tsunade-shisou kembali mengalihkan perhatianku. "Dan, satu hal lagi, aku tidak melarang kalian berhubungan suami istri, tapi ada baiknya kau tahan dulu untuk tiga bulan pertama ini."

Dan wajahku sukses kembali merona.

.

~ Before She was Born ~

.

Baru seminggu dari saat kami mengetahui mengenai kehamilanku tapi Sasuke sudah ingin membawaku kembali ke Tsunade karena kondisiku tak kunjung membaik. Aku berusaha meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja. Dari buku yang kubaca ini adalah sesuatu yang biasa, apalagi pada kehamilan pertama di trimester pertama. Setidaknya aku tidak terkena dehidrasi—hanya terlihat sedikit pucat dari biasanya.

Dan lagi-lagi, pagi ini aku kembali mengeluarkan sarapan yang baru saja kumakan beberapa menit yang lalu. Di sebelahku Sasuke dengan kesabaran—yang belum pernah kulihat sebelum aku menikahinya—membantuku mengikat rambutku yang sudah mulai memanjang dan mengusap lembut punggungku.

"Kenapa masih di sini? Bukankah kau ada urusan dengan Naruto hari ini?" tanyaku sembari membilas mulutku dengan air keran.

Ia menggelengkan kepalanya. "Dan meninggalkanmu yang sedang sakit sendiri?"

Aku melempar tatapan tidak setuju. "Tapi kau sedang berurusan dengan Hokage," tukasku. "Lagipula aku sudah baik-baik saja."

Sasuke menatapku dengan seksama, berusaha menilai keadaanku seolah kata-kataku barusan tidak berarti untuknya. "Kau jelas harus menemui Tsunade. Kau terlihat parah," ujarnya akhirnya.

Aku menggeleng keras. "Aku baik-baik saja, Sasuke. Aku sudah menjelaskannya padamu kan, ini normal untuk awal-awal kehamilan. Sebentar lagi juga hilang," balasku tak mau kalah. "Sudahlah, biarpun Hokage-nya adalah Naruto, ia tetap saja Hokage. Tidak baik membuatnya menunggu," aku mendorong tubuhnya keluar dari kamar mandi. "Ayo cepat, berangkat sana."

Ia masih tak mau beranjak, membuatku ingin sekali mendorongnya dengan tenaga superku—tapi kurasa itu bukan ide yang bagus.

"Ayolah, Sasuke. Aku berjanji padamu, aku baik-baik saja. Dan aku akan jujur padamu kalau kondisiku mulai memburuk. Oke?" aku mencoba membujuknya lagi.

Ia diam beberapa saat sebelum akhirnya berkata. "Kau benar-benar berjanji akan membiarkanku membawamu ke rumah sakit kalau kondisimu makin parah?"

Aku memutar bola mataku, tapi akhirnya aku mengangguk juga. "Hai, aku berjanji."

"Baiklah," akhirnya ia mengalah, membuatku tersenyum lebar. Ia berjalan menuju pintu keluar rumah kami kemudian memakai alas kakinya yang sudah kusiapkan tadi.

"Hati-hati di jalan, Sasuke. Salam untuk Naruto," ujarku sembari mengecup sekilas pipinya.

Sasuke menggeram tak jelas, kemudian balas mengecup puncak kepalaku. Salah satu perlakuan dari Sasuke yang paling kusukai.

Begitu pintu menutup kembali, aku kembali menghela napas. Sebaiknya aku cepat-cepat membereskan meja makan dan segera menuju ke rumah sakit.

.

~ Before She was Born ~

.

Aku tahu, sebelum menjadi suamiku, Uchiha Sasuke adalah seorang ninja Konoha yang harus melakukan kewajibannya pada desa. Termasuk menjalankan misi di luar desa dalam waktu yang tidak sebentar.

Dan di sinilah aku berada, mengantar kepergian Sasuke untuk misi ke Iwagakure selama kurang lebih dua bulan dengan perut membesar. Benar, dua bulan. Sekitar enam puluh hari tepatnya. Jujur, aku kurang menyukai hal ini. Ini memang bukan pertama kalinya Sasuke mendapat misi keluar desa selama kami menikah, tapi ini tidak pernah selama ini. Di saat aku sedang hamil pula. Bukannya aku manja, tapi sejak mengandung anak kami ini, aku selalu merasa ingin dekat-dekat dengan Sasuke. Tapi apa daya, aku tidak mungkin meminta Sasuke—ataupun Naruto—untuk membatalkannya.

Sebenarnya bisa saja aku mengatakannya—dan aku hampir seratus persen yakin Sasuke akan mengabulkannya—tapi lagi-lagi aku merasa tidak boleh egois seperti itu. Toh hanya dua bulan. Iya, dua bulan. Yang itu berarti Sasuke baru kembali setidaknya ketika usia kehamilanku sekitar tujuh bulan. Hal positifnya ia akan ada di sini ketika aku melahirkan nanti.

"..kura.. Sakura..," suara Sasuke sayup-sayup mengembalikanku ke dunia nyata.

"Ah, ada apa, Sasuke?" aku buru-buru menjawab untuk menutupi kekagetanku.

Ia menatapku sedikit curiga. "Kau baik-baik saja kan?" Ia bertanya sembari menangkupkan tangannya yang besar di dahiku.

Aku menggeleng cepat. "Aku baik-baik saja, Sasuke. Kau tidak perlu khawatir," aku mencoba tersenyum kecil untuk menenangkannya. Seperti yang sudah pernah kubilang sebelumnya, Uchiha Sasuke ini adalah salah satu manusia paling khawatiran di Konoha semenjak aku hamil—atau malah sejak menikah? Entahlah. "Sebaiknya kau cepat berangkat. Pasti tim mu sudah menunggumu."

"Kau yakin tidak apa-apa kutinggal lama? Aku bisa meminta Naruto mencari penggantiku," ujarnya masih dengan nada yang sama.

Aku memukul pelan lengan Sasuke. "Sasuke, berhenti berlebihan. Aku baik-baik saja. Aku yang paling mengerti kondisi tubuhku. Dan sepertinya kau selalu lupa kalau aku ini medic-nin yang cukup mumpuni," aku berkata galak.

Ia mengusap kepalaku pelan, "Tapi tetap saja… sejujurnya aku tidak ingin meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini," ujarnya melembut.

Mau tak mau aku jadi tersenyum mendengarnya. "Yang penting kau segera pulang dengan selamat. Itu saja sudah cukup."

Sasuke menghela napas panjang, kemudian tersenyum tipis. Perlahan ia mendekatkan tubuhku agar merapat di tubuhnya. "Baiklah. Kupastikan ini misi terakhir sebelum kau melahirkan. Aku tidak ingin melewatkan kehadiran anak pertama kita, Sakura," bisiknya tepat di telingaku. Tangannya membelai pelan perutku yang membuncit seolah berpamitan dengan bayi yang berada di perutku itu.

"Aku tidak akan memaakanmu kalau kau melewatkannya," balasku dengan bisikan.

.

~ Before She was Born ~

.

Terbangun tanpa adanya Sasuke di sampingku membuatku sedikit kesepian. Dan aku harus melewatkan sekitar enam puluh pagi dengan pemandangan ini. Well, kuatkan dirimu, Sakura.

Aku berjalan menuju ruang makan, berniat untuk menyiapkan sarapan untukku dan bayi tercintaku—segelas susu dan beberapa potong buah. Belajar dari pengalaman, mengganti menu dan porsi makan saat sarapan cukup membantu mengurangi gejala mual dan muntah di awal kehamilan. Intinya adalah sedikit tapi sering, begitulah yang kubaca dari sebuah buku yang dihadiahkan oleh Hinata ketika ia dan Naruto mengetahui kabar kehamilanku.

"Yo, Sakura!"

Aku nyaris melompat saking kagetnya. Buru-buru aku menoleh—astaga, apa yang dilakukan oleh Kakashi-sensei pagi-pagi begini di rumahku?

"Kakashi-sensei, kau membuatku nyaris jantungan," ujarku kesal. Kakashi-sensei kemudian melompat dari jendela ruang makan yang memang tidak terkunci untuk mendekatiku. "Bisakah kau bertamu dengan cara yang lebih normal? Lagipula tumben sekali kau datang pagi-pagi begini," tanyaku heran.

Kakashi-sensei menghempaskan tubuhnya ke salah satu kursi. "Ada yang salah dengan mengunjungi salah satu murid kesayanganku?" ia malah balik bertanya.

Aku menghembuskan napas pelan, mencoba memaklumi tingkah eksentrik mantan senseiku ini. "Tidak ada yang salah kalau kau tidak muncul sepagi ini. Jadi?"

"Hanya kunjungan biasa, Sakura. Tidak perlu curiga seperti itu," jawabnya asal-asalan. "Sedang menyiapkan sarapan?"

Baiklah, aku memutuskan untuk mengabaikan kecurigaanku untuk sementara. "Begitulah. Kau sudah sarapan, sensei? Aku bisa menyiapkan sesuatu untukmu," aku menawarkan.

"Apa saja boleh," jawabnya pendek sebelum kembali membuka novel kesayangannya.

Aku hanya mengangkat bahu sekilas dan memulai menyiapkan sarapan kami.

.

~ Before She was Born ~

.

"Kau baik-baik saja, Sakura? Aku bisa membantumu membereskannya," tiba-tiba Kakashi menawarkan diri untuk membantuku ketika aku mulai bersiap mencuci pirng-piring kotor bekas sarapan.

Aku menatapnya galak, "Terima kasih, sensei. Aku masih bisa melakukannya sendiri," tukasku sembari menyalakan keran.

"Baiklah. Kau bisa memberitahuku kalau kau membutuhkan sesuatu," ia mundur untuk memberikan ruang lebih luas padaku. Biarpun begitu aku masih bisa merasakan matanya tak berhenti mengawasiku seolah sesuatu bisa saja terjadi padaku.

"Ada sesuatu yang salah, Kakashi-sensei?" tanyaku tak tahan setelah beberapa menit berlalu di bawah tatapan menyelidiknya.

Ia menggeleng, berpura-pura melanjutkan bacaannya. "Tidak ada."

Aneh sekali. Bahkan Kakashi-sensei tak juga beranjak dari tempatnya sampai aku akan berangkat ke rumah sakit. Ia bahkan bersikeras mengantarku ke rumah sakit dengan alasan ia ada urusan di daerah sana.

Keanehan juga tidak hanya muncul dari Kakashi-sensei. Tiba-tiba saja Ino muncul saat makan siang dan mengajak untuk pulang bersama setelah selesai shift. Tumben sekali, biasanya ia lebih memilih menghabiskan waktunya dengan Sai setelah pulang kerja.

Dan hal serupa terus berlanjut, sampai akhirnya di hari ke empat aku memutuskan untuk menanyakannya langsung pada Kakashi-sensei yang—lagi-lagi—mengunjungiku lagi.

"Katakan sejujurnya, apakah Sasuke yang menyuruhmu mengawasiku?"

Kakashi-sensei tampak terkejut ketika mendengarnya, tapi buru-buru mengubah ekspresinya seperi biasa. Sayangnya aku sudah cukup mengenal mantan hokage ini hingga tidak tertipu. "Sama sekali tidak. Aku hanya sedang ingin ditemani makan saja," ia mengelak dengan alasan lemah.

"Jujur saja, Kakashi-sensei. Kau tak ingin aku mulai merusak koleksimu yang berharga kan?" ancamku kejam.

Kakashi-sensei menghela napas panjang. "Kenapa kalian suami istri ini suka sekali mengancamku dengan bahan yang sama?" ujarnya pelan.

Ah, terjawab sudah. Ternyata benar Sasuke yang berada di belakang semua ini. Dan itu berarti tidak hanya Kakashi-sensei yang 'dimintai tolong', bisa jadi Ino, Hinata, dan Shino serta yang lain mendapat pesan yang sama dari suamiku itu. Dasar. Aku tidak tahu harus senang atau malah kesal dengan tingkah berlebihan Sasuke ini.

.

~ Before She was Born ~

.

Rasa kesepian mulai terasa lebih berat dibandingkan sebelumnya. Aku benar-benar merindukan Sasuke sekarang. Biarpun teman-teman selalu menyempatkan diri untuk menemuiku atas 'permintaan' suami tercintaku, tetap saja ada yang terasa hilang di sini.

Aku nyaris menangis ketika pertama kali merasakan tendangan kecil dari dalam rahimku. Seandainya saja Sasuke ada di sini, ia pasti tidak akan berhenti menatap perutku. Mungkin ia akan memerkan tawa langkanya yang menawan itu sembari membelai perutku.

Aku rindu sensasi tangan Sasuke ketika ia menyentuhku. Aku rindu suaranya yang menenangkan ketika membisikkan kata-kata lembut padaku dan bayi kami. Aku rindu pelukan hangatnya setiap pagi begitu aku membuka mata. Aku rindu ketika kami membicarakan bayi kami, nama apa yang sebaiknya kami berikan, lalu apakah ia laki-laki atau perempuan—ya kami memutuskan untuk menunggunya sampai lahir untuk mengetahuinya, dan apakah ia bisa menjadi ayah yang baik untuk bayi kami ini. Aku rindu saat-saat kami berdebat ketika membeli perlengkapan bayi bersama. Aku merindukannya. Sangat.

Ketika tinggal tujuh hari dari kepulangan Sasuke tiba, aku justru mendapatkan kabar yang membuatku sedikit frustasi. Ia mengirimkan salah satu hewan summon-nya padaku—melalui Naruto bersamaan dengan laporan sementara misinya—memberitahuku bahwa sepertinya ia tidak bisa datang sesuai rencana.

Ia berkata di suratnya ternyata ia harus menuju ke Kusagakure saat itu untuk mengurus beberapa hal yang lain—dan jelas ia merasa kesal karena hal itu. Tapi ia berjanji akan ada di sampingku ketika aku melahirkan. Setidaknya itulah yang membuatku merasa sedikit lebih baik.

.

~ Before She was Born ~

.

Sudah hampir tiga bulan sejak keberangkatan Sasuke. Di tengah musim dingin yang tidak terlalu dingin ini, mendadak aku bisa merasakan nyeri yang sangat di perutku. Tidak, tidak, jangan bilang aku akan melahirkan sekarang. Kalau menurut jadwal setidaknya masih dua minggu lagi sampai aku melahirkan.

Lagipula, Sasuke masih belum juga kembali dari misinya. Dan tidak ada kabar apapun darinya—membuatku mulai mencemaskan keadaannya.

Untung saja saat itu aku bersama Ino yang dengan sigap membawaku ke rumah sakit. Dan di sinilah aku, di sebuah kamar bernuansa putih menanti kelahiran anak pertamaku dengan Sasuke.

"Sepertinya kau akan melahirkan lebih cepat dari rencana, Sakura," Tsunade-shisou mengatakannya padaku. "Kau terlihat stres, dan itu mempengaruhi kondisimu dan bayi di rahimmu."

Aku hanya diam, tidak membantah.

"Kita akan mengobserasinya lebih lanjut. Aku akan menyuruh Hinata untuk memantau kondisimu. Bisa jadi kau melahirkan hari ini, besok, atau lusa," Tsunade melanjutkan penjelasannya. "Sekarang cobalah rileks, semua akan baik-baik saja. Oke?"

Aku hanya bisa mengangguk lemah. Sasuke, cepatlah pulang. Kau harus memenuhi janjimu.

.

~ Before She was Born ~

.

Aku membuka mata setelah lama tertidur. Semalaman tidak terjadi kemajuan yang signifikan. Aku mencoba tidak terlalu memikirkannya dan fokus untuk mempersiapkan diri melahirkan.

"Kau sudah bangun?" aku tidak bisa menahan keterkejutanku begitu mendengar suara yang sangat kurindukan ini. Mataku langsung mencari sumber suara itu. Aku tidak bisa menggambarkan betapa bahagianya aku begitu mendapati wajah Sasuke di sampingku. Ia terlihat lelah dan bajunya masih terlihat kotor. Sepertinya ia langsung menuju ke sini sesampainya ia di Konoha.

"Sasuke, kau sudah pulang?" tanyaku dengan sedikit isakan. "Kau lama sekali."

Ia mengangguk, tangannya membelai kepalaku, sementara yang lain menggenggam tanganku. "Maafkan aku, tapi kurasa aku tidak terlalu terlambat," balasnya dengan seringai khasnya. "Bagaimana keadaanmu?"

"Kurasa baik-baik saja," jawabku pelan. Aku tidak ingin membuatnya khawatir.

Sasuke mengecup dahiku sekilas. "Baguslah. Aku sudah berbicara dengan Tsunade, ia bilang tinggal menunggu sampai kontraksinya cukup sampai kau bisa melahirkan," ujarnya dengan suara pelan.

"Maukah kau menemaniku di sini nanti?" tanyaku spontan.

Ia tampak terperanjat beberapa saat sebelum seulas senyum tipis muncul di bibirnya. "Kalau Tsunade mengizinkan. Ah, tidak—aku pasti akan membuatnya mengizinkanku," tukasnya yakin.

Aku tertawa mendengarnya. Kurasa aku sudah siap untuk melakukan apapun sekarang.

.

~ Before She was Born ~

.

Hal terakhir yang kuingat sebelum aku menerima seorang bayi mungil di dadaku adalah rasa sakit yang sangat. Aku hanya mengingat mengejan beberapa kali lalu menarik dan menghembuskan napas kuat-kuat di tengah-tengah rasa sakit yang merobek perutku. Sasuke diperbolehkan untuk menemaniku—dan aku tidak tahu bagaimana caranya ia bisa mendapatkannya. Ia tak henti-hentinya menggenggam tanganku sembari sesekali membisikkan kata-kata yang samar kuingat. Kuharap tangannya baik-baik saja karena genggaman atau cakaranku yang terlalu kuat.

"Selamat, Sakura, bayinya perempuan dan sehat," suara Tsunade seolah menggelegar di dalam kepalaku, membuatku mengabaikan suara-suara lain di ruangan itu. Perlahan air mata mengalir di pipiku ketika aku menatap untuk pertama kalinya bayiku dan Sasuke. Ia tampak sehat dan cantik, walaupun sedikit kecil.

Aku menatap takjub sekaligus terpesona ketika ia menggerakkan kepalanya untuk mencari sumber ASI-nya. Ia tampak begitu sempurna di mataku. Perlahan aku mengalihkan pandanganku ke sisi tempat tidurku, kulihat Sasuke menatap bayi di dadaku dengan tatapan yang sama denganku.

"Kau lihat, Sasuke, kau sudah menjadi ayah sekarang," ujarku pelan dan serak. Kurasa aku sudah kelelahan karena terlalu banyak berteriak dan mengejan. Semua proses ini memang menyakitkan, tapi semua terbayar begitu melihat malaikat kecil ini.

Aku bisa merasakan Sasuke mengeratkan genggamannya di tanganku. Ia menatapku sekarang, merendahkan kepalanya untuk mengecup dahiku agak lama. "Kau sudah berusaha keras, Sakura," ujarnya dengan suara bergetar. Kurasa ia sangat bahagia saat ini.

"Kau sudah memikirkan nama yang tepat untuk bayi cantik kita ini?" tanyaku padanya.

Sasuke menatap si bayi kecil yang tengah menikmati makannya, sebuah senyum hangat terlukis jelas di wajahnya yang biasanya datar itu. "Bagaimana kalau Sarada?"

Aku tidak bisa menahan senyumku. Itu adalah salah satu nama yang pernah kami temukan di sebuah buku. Nama yang indah untuk anak perempuan pertama kami. "Uchiha Sarada? Nama yang bagus," tukasku pelan.

"Selamat datang, Uchiha Sarada," itulah kalimat Sasuke yang terakhir kudengar sebelum aku memejamkan mata karena kelelahan.

.

.

Lima tahun kemudian..

.

.

"Tadaima," aku membuka pintu rumah perlahan. Jam sudah menunjukkan pukul lima sore—sudah cukup gelap, begitu pula di dalam rumah. Apa Sasuke lupa menyalakan lampunya? Atau ia masih menjemput Sarada di rumah Naruto?

Aku berjalan menyusuri lorong depan, mencari saklar lampu untuk membuat rumah setidaknya lebih terang. Begitu lampu menyala, aku bisa mendengar teriakan riang,

"OTANJOUBI OMEDETOU, MAMA!"

Dan detik kemudian aku bisa merasakan tubuh kecil menubrukku cukup kencang, membuatku sedikit terhuyung ke belakang sebelum tangan yang lain membantuku menyeimbangkan diri.

Aku melihat Sarada, putriku dan Sasuke yang sudah berusia lima tahun, tengah tersenyum lebar sembari memelukku. Di sebelahku, Sasuke berdiri dengan sebuah cake kecil yang dilapisi krim berwarna putih dan beberapa buah cherry di atasnya lengkap dengan dua buah lilin dan tulisan 'Otanjoubi omedetou, Mama' di atasnya.

Aku melepaskan pelukan Sarada agar bisa melihat wajahnya lebih jelas. "Terima kasih, sayang. Apa kau yang membuatnya sendiri?"

Sarada mengangguk bersemangat. "Aku membantu Papa menghias rotinya. Apakah Mama menyukainya?"

Aku melirik ke arah Sasuke, sedikit menyangsikan bahwa roti kecil di tangan Sasuke adalah buatannya sendiri. Wajahnya sedikit memerah, dan aku tahu itu berarti iya. Aku langsung mengecup pipi gembil Sarada, "Tentu saja, Mama sangat menyukainya," jawabku dengan senyum lebar.

"Kalau begitu ayo kita coba," seru Sarada bersemangat. Ia langsung berlari ke dalam rumah setelah mengambil cake mungil itu dari tangan Sasuke.

Aku menatap punggung kecilnya menjauh sampai aku merasakan lengan Sasuke melingkari pinggangku. "Selamat ulang tahun, Sakura," bisiknya di telingaku.

"Terima kasih, Sasuke," balasku dengan bisikan juga. "Aku tidak menyangka kau membuatnya sendiri."

Sasuke hanya diam, tapi aku yakin ia masih sedikit malu. Siapa orang yang akan percaya seorang Uchiha Sasuke akan membuatkan kue ulang tahun untuk istrinya. Bermimpi saja aku tidak pernah.

"Papa, Mama, ayo cepaaat," suara Sarada membuat kami terpaksa menunda acara pribadi kami berdua.

"Hai, hai, Sarada. Tunggu sebentar."

Bahagia itu sederhana—dan kadang kita tidak menyadari hal itu. Merayakan hari kelahiranmu di dunia dengan orang-orang tersayangmu adalah salah satunya.

.

.

Chapter End

.

.

Yeeee! Akhirnya jadi juga. Hha. Nyaris pesimis nih awalnya nggak bisa selesai. Ada yang nungguin nggak? #plaaaks

Agak lama ya dibandingkan dengan chapter-chapter sebelumnya. Maapin ya, ada sedikit writers block dan saya sudah mulai rotasi klinik, jadi ya.. begitulah. Semoga tidak mengecewakan yaa.

Sedikit cerita dibalik pembuatan chapter ini, sebenernya ini bukan tulisan aslinya, tapi berhubung saya kurang puas akhirnya saya ulang dari awal dan jadilah yang ini. Sedikit terinspirasi sama anime 'Itazura na Kiss'. Tapi sedikit bangeet.

Oh iya, chapter ini sekalian special buat ulang tahun Sakura-chan! Yey! Otanjoubi omedetou, Sakura-chaaaan! Berbahagialah selalu dengan keluarga Uchihamu. Semoga selanjutnya laki-laki ya! #eh

Selanjutnya, maafkan kalau ada kesalahan penulisan, typo, keterbatasan deskrip, kealayan ide, atau kesalahan penokohan alias OOC. Ini garapnya agak-agak ngantuk gimana gitu, takut nggak sempet di lain waktu.

Terima kasih buat yang udah mengikuti fic ini, semoga menghibur para readers sekalian. Yang udah ngereview, ngefave, ataupun mengalert juga saya ucapkan berjuta-juta terima kasih. Maafkan nggak bisa nyebutin satu-satu. Love you all deh!

Buat yang review silakan cek akun masing-masing ya, untuk yang anon :

Saradaya iya nih, authornya males bikin adegan nikahnya #plaaaks

An username saradanya udah muncul ya kakaaaak~

Uchiha family untuk yang kesempatan ini, giliran Sakura dulu yaa. Hhe.

Anna waduh, soal itu bisa tanya langsung ke Sasuke ya! #kabuur

Terakhir, mohon masukan untuk ke depannya ya. Sampai jumpa di fic saya yang lain. Salam cinta, kakkoii-chan :*

~ Jogja 28032015 00:53 ~