TITLE : Puzzle Of My Heart

AUTHOR : Riry Jjang / Shin Ae Ri / YuriAi

Cast : Xi Luhan, Oh Se Hun, Do Kyung Soo, Kai, Park Chan Yeol, Byun Baek Hyun

Length : Multichapter

Rated : T

GENRE : School Life, Romance, Lil' Bit Crack (?)

Warning :

OOC, BOYS LOVE, YAOI, Typho(s) !

DISCLAIMER :

Ide, Alur, Cerita, dan Plot Keseluruhan Milik Saya.

EXO Belong To Their Gods, SM, and Parents.

Chapter 3

.

Puzzle Of My Heart

.

Aku mencintaimu….sungguh mencintaimu
Semua yang ku lakukan ini tidak lain hanyalah untukmu
Ku mohon, balaslah perasaan ini

Aku sudah menunggumu, bahkan kau tau itu
Tapi kau tak pernah menjawab perasaanku
Apa kau takut?

.

.

.

"Apa?! Dia sudah tidak masuk sekolah selama dua hari?!" pekik Baekhyun memecah keheningan cafetaria.

"Ne Hyung" jawab Kai dengan nada malas.

Sejak kejadian di kedai es krim dua hari yang lalu itulah Sehun tidak masuk sekolah.

"Apa benar ya penyakitnya itu begitu parah?" tanya Baekhyun cemas.

"Hyung,sudah kubilang kan kalau Sehun itu tidak sakit ! Dia itu gila..." sahut Kai lagi dengan kesalnya.

"Apa kau sudah mencoba menghubunginya?" tanya Kyungsoo kepada Kai.

Kai menghela nafasnya berat, "Sudah Hyung...berkali-kali. Tapi dia tidak menjawab"

Sikap Sehun benar-benar tidak dapat ditebak. Baru seminggu yang lalu ia mulai rajin. Tapi sekarang, yang dia lakukan malah bolos sekolah lagi.

"Apa dia tidak menghubungimu?" tanya Baekhyun menyelidik kali ini kepada Kyungsoo.

Kyungsoo menggeleng. Ia meneguk jus jeruk di depannya.

"Apa masalah keluarga lagi?" Kyungsoo menerka.

"Tapi kalau itu tentang kedua orang tuanya, ia pasti langsung menghubungiku. Kalaupun ia tidak menghubungiku, ia pasti langsung datang ke rumahku" jelas Kyungsoo yang diberi anggukan oleh Kai.

"Apa dia marah padaku karena aku membatalkan janjiku?" Kyungsoo ragu, tapi bisa jadi hal itu benar. Tapi, bagaimana mungkin ia sampai semarah itu? Bahkan Kyungsoo sudah memberikan alasan kenapa ia tidak bisa menemaninya.

Baekhyun mulai menyadari sesuatu, ia menjentikkan jarinya " ah! Apa karena aku bilang padanya kalau..."

"Eh, dimana Luhan?" Chanyeol memotong kalimat Baekhyun sebelum ia sempat menyelesaikannya. Ia tau yang akan Baekhyun katakan, dan ia tau apa yang akan terjadi jika kalimat itu keluar dari mulut Baekhyun.

"Luhannie...dia sedang tidak enak badan. Jadi, sekarang dia ada di ruang kesehatan" jawab Kyungsoo meski sebenarnya ia agak kesal karena Chanyeol secara tiba-tiba memotong pembicaraan Baekhyun.

"Mwo!?" sahut Chanyeol cemas.

"Ck, bocah itu" batinnya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, membuat Kyungsoo, Baekhyun dan Kai keheranan dengan sikapnya itu.

"Eum, oh ya Baekkie...tadi kau bilang kalau kau mengatakan sesuatu pada Sehun. Memangnya apa yang kau katakan?" merasa ada kesempatan, Kyungsoo pun kembali bertanya kepada Baekhyun tentang omongannya yang sempat terpotong tadi.

"Ah,itu..." Baekhyun menggaruk tengkuknya " ani...bukan apa-apa kok" jawabnya sembari tersenyum masam. Sesekali ia memandangi Chanyeol yang masih terlihat khawatir terhadap keadaan Luhan dengan raut wajah yang sulit ditebak.

"Aku sudah selesai, ada yang harus kulakukan. Aku duluan ya" Chanyeol yang tadi terlihat buru-buru menghabiskan makan siangnya, kini beranjak dari tempat duduknya meninggalkan ketiga sahabatnya yang lain.

"Chanyeol-ah! Eodiga?" teriak Baekhyun padanya yang berlari kecil menuju pintu keluar cafetaria.

Chanyeol berbalik kearah Baekhyun "Sudah kubilang ada yang harus kulakukan Baekhyun-ah... Sudahlah, habiskan saja makan siangmu".

Baekhyun menghempaskan sumpit yang ia pegang, ia pun mempoutkan bibirnya kesal karena sikap Chanyeol yang menjengkelkan itu baginya.

.

.

.

Krekkkkk

Terdengar suara derit pintu terbuka. Seseorang berperawakan tinggi masuk ke dalam ruangan itu. Di dalamnya terlihat seorang namja mungil sedang berbaring di atas tempat tidur. Bau obat sungguh tercium di ruangan tersebut. Yah, ruang kesehatan. Namja mungil yang tadinya terbaring itu mencoba untuk duduk sambil memperhatikan namja yang baru saja masuk ke ruangan tersebut.

"Park Chan Yeol?" gumamnya.

Namja yang tidak lain adalah Park Chan Yeol itu tidak langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepadanya. Ia duduk di sisi tempat tidur namja mungil yang juga tidak lain adalah Luhan. Sekarang, hanya ia seorang diri yang dirawat di ruang kesehatan tersebut.

"Gwenchana?" tanya Chanyeol balik.

Luhan menyejajarkan posisi duduknya dengan Chanyeol. Ia tersenyum, " Ne... energiku hanya terkuras sedikit, aku hanya perlu memulihkannya" jawabnya dengan wajah tenang.

"Benarkah?" Chanyeol nampak tidak percaya. Ia menarik lengan kanan Luhan, kemudian menaruh punggung tangannya di dahi Luhan. Sepertinya ia mencoba memeriksa suhu tubuh Luhan. Ia nampak sedikit khawatir, takut energi Luhan terkuras habis.

"Gwenchana Chanyeol-ah" Luhan menggapai tangan Chanyeol yang masih menyentuh dahinya. Ia cukup terkejut dengan tindakan Chanyeol barusan.

"Ck, tubuhmu hangat. Aku rasa tenagamu terkuras habis..." sahut Chanyeol cemas.

Sesaat keheningan menyelimuti mereka. Hingga akhirnya Chanyeol mulai buka suara.

"Kau mendapat penglihatan lagi kan?" Ia menatap penuh tanya pada namja mungil yang duduk di sampingnya itu.

Luhan menunduk. Sesekali ia pejamkan matanya.

"Ternyata kau tau" ia tersenyum tipis "Lagi pula percuma aku bohong kan? Tidak ada yang dapat ku sembunyikan darimu".

Chanyeol menyeringai ,"Kau benar. Tidak ada hal yang dapat kau sembunyikan dariku..."

Luhan ikut tersenyum mendengar kata-kata Chanyeol itu. Ia tau meskipun ia berbohong, Chanyeol tetap akan tau yang sebenarnya. Kemampuan yang Chanyeol miliki membuatnya tak bergeming di depan namja jangkung itu.

"Penglihatan itu tentang dia lagi?"

Luhan hanya mengangguk membenarkan pertanyaan Chanyeol barusan. Ia menoleh ke arah Chanyeol, menatap namja itu lekat-lekat. Chanyeol pun berbalik menatap Luhan.

"Bagaimanapun aku harus tau tentang penglihatan itu..." sahut Chanyeol memecah tatapan Luhan.

Luhan nampak menghembuskan nafasnya pelan, "Baiklah..." jawabnya pasrah.

Ia lalu tersenyum "Tutup matamu..." sahutnya seraya menggapai satu tangan Chanyeol dan menggenggamnya erat.

.

.

.

"Hyung..."

"Ne,Kai..."

Kyungsoo dan Kai saat ini sedang berada di sisi gedung utama SM High School. Tempat di mana kini hanya ada mereka berdua. Kyungsoo duduk di atas sebuah meja yang sengaja diletakkan tak beraturan di tempat itu, sedangkan Kai berdiri di hadapannya.

"Aku rasa ada yang tidak beres Hyung..." sahutnya lagi pada Kyungsoo. Wajah Kai terlihat penuh kekhawatiran.

Kyungsoo mendongakkan wajahnya menghadap namja tampan di hadapannya itu,

"Sudahlah Jongin-ah... jangan terlalu mengkhawatirkan hal itu" jawabnya sembari melemparkan senyuman manis pada Kai.

Senyuman Kyungsoo adalah hal paling beracun bagi Kai. Bagaimana tidak? Senyuman itulah yang mampu melelehkan hati Kai hingga akhirnya ia jatuh cinta pada namja mungil nan manis itu. Kai tidak pernah menyangka bahwa cintanya pada Kyungsoo itulah yang menjerumuskannya pada jurang kebohongan hingga kini ia harus berada pada dua pilihan. Cinta atau persahabatan?

"Aku mengerti Hyung... Tapi aku lelah terus berpura-pura seperti ini" keluhnya.

"Aku juga lelah Kai, sama sepertimu. Aku bahkan tidak tau sampai kapan kita harus berbohong"

"Apakah ada yang salah dengan hubungan kita Hyung? Aku mencintaimu dan kau juga mencintaiku, lalu kenapa kita harus terus berbohong? Kita tidak membohongi satu orang saja Hyung..." Kai meraih kedua pundak Kyungsoo dan menggenggamnya erat.

"Maafkan Aku Jongin-ah... Ini semua salahku. Aku tau seharusnya kita bicara padanya sejak awal, tapi kau tau kan? Aku tidak mungkin melakukan hal itu, aku tidak ingin menyakiti hatinya..." perlahan air mata Kyungsoo menetes, membentuk sebuah aliran hingga membasahi pipi mulusnya.

Kyungsoo memang pribadi yang sensitif. Ia mudah menangis jika itu berhubungan dengan dirinya. Kai tau persis akan hal itu, tapi ia juga sudah tak tahan selalu bersikap seakan-akan tidak terjadi apa-apa di antara mereka. Dia sudah begitu lelah.

"Hyung, kumohon jangan menangis... Hyung hentikanlah" Kai merasa bersalah karena dialah yang menyebabkan Kyungsoo tidak dapat menahan air matanya. Ia usap perlahan aliran air mata di pipi Kyungsoo itu.

"Mianhae Jongin-ah, hiks hiks..." ucapnya dengan isakan yang belum dapat ia hentikan.

Kai benar-benar tidak tahan melihat namja manis di depannya itu menangis. Ia raih tubuh mungil Kyungsoo dan mendekapnya erat ke dalam pelukannya.

"Ani Hyung...Ini bukan salahmu. Hentikan tangisanmu itu Hyung, aku benar-benar tidak tahan mendengarnya, kau mau aku juga ikut menangis Hyung?" Kai semakin mengeratkan pelukannya.

Perlahan tangisan Kyungsoo memelan. Kai belum melepas pelukannya. Ia masih nyaman mendekap Kyungsoo.

"Hyung...Saranghae"

Kyungsoo yang mendengar ucapan Kai itu mulai terisak lagi, "Hiks... nado Kai... Nado Saranghae".

.

.

.

Genggaman erat Luhan pada tangan Chanyeol mulai meregang. Keduanya juga kini mencoba untuk membuka mata perlahan. Tangan Chanyeol terlihat sedikit gemetar. Mungkin karena ini baru pertama kalinya ia melihat sebuah penglihatan.

"Apa yang kulihat barusan?" ujarnya tak percaya.

Luhan tersenyum tipis, "Itulah yang kulihat tadi?"

"Apa dia akan melakukan hal itu? Anak itu, bagaimana sebenarnya jalan pikirannya?" geramnya. Sepertinya penglihatan yang baru Luhan perlihatkan padanya itu sedikit membuatnya tidak habis pikir.

"Apa yang seharusnya ku lakukan? Apa aku harus menjauhinya?" sahut Luhan dengan wajah memelas.

Chanyeol berusaha menjernihkan pikirannya dahulu. Ia tidak ingin hal-hal yang dikatakannya nanti malah menyakiti perasaan Luhan.

"Andwae...jangan lakukan itu. Kurasa ada baiknya kau bersikap seperti biasanya. Bersikaplah seolah-olah kau tidak tau apa-apa...Yah, sepertinya lebih baik begitu" tukas Chanyeol meyakinkan Luhan.

Luhan tampak ragu. Ia takut.

"Baiklah..." angguknya.

"Hei, jangan murung begitu... Ini semua kan demi masa depanmu" sahut Chanyeol lagi. Ia yang melihat wajah murung Luhan jadi merasa tidak tega dengan apa yang dialami namja cantik itu.

Luhan tersenyum menanggapi ucapan Chanyeol tadi, " Arraseo... Aku tidak akan mundur semudah itu" sahutnya sambil menyenggol lengan Chanyeol dengan sikutnya.

"Nah,begitu dong... Kau tampak begitu manis jika tersenyum" goda Chanyeol seraya mencubit pipi kanan Luhan dengan gemasnya.

"Ya, hentikan Park Chan Yeol... Sakit tau..." kini suara Luhan malah terdengar sedikit manja.

Chanyeol pun melepas cubitannya, " Hahaha,baiklah...maaf,maaf..."

"Sudahlah, sebaiknya kau lekas kembali ke kelas. Sepertinya bel masuk sudah berbunyi... Kau tidak mau mendapat hukuman dari Songsaengnim kan?"

Chanyeol mendengus, menampilkan wajah khasnya yang meremehkan itu, "Hei, siapa yang berani memberi hukuman padaku... Itu sama saja mencari mati namanya"

Luhan menghela napasnya. Park Chan Yeol yang angkuh sepertinya sudah kembali.

"Geurae, geurae... Aku akan kembali ke kelas. Oh ya, nanti biar aku saja yang mengantarmu pulang. Arraci?!"

"Mwo?" pekik Luhan terkejut, " Tapi.."

"Eits... tidak ada tapi-tapian! Pokoknya Aku yang akan mengantarmu pulang! Titik!" potong Chanyeol dan setelah itu melangkah pergi dari ruang kesehatan tersebut dengan santainya. Ia bahkan tak memberi kesempatan pada Luhan untuk bicara.

.

.

Kringggg Kringggg

Bel tanda jam pelajaran telah usai akhirnya berbunyi. Namun karena hari ini ada kelas tambahan, para siswa kelas tiga tidak langsung merapikan buku-buku mereka yang berserakan di meja. Mereka harus menunggu Songsaengnim yang akan mengisi kelas tambahan di kelas mereka. Tapi tidak dengan Park Chan Yeol, ia terlihat buru-buru memasukkan semua buku-bukunya ke dalam tas.

"Ya! Kau mau kemana Park Chan Yeol?" tegur Baekhyun yang juga merupakan teman sebangkunya.

"Aku ada urusan Byun Baekhyun" jawabnya tanpa menoleh kepada lawan bicaranya itu.

Baekhyun mendengus, "Urusan apa lagi eoh? Kau tau kan kalau kita ada kelas tambahan? Apa kau mau bolos lagi?"

"Aku tau ada kelas tambahan, tapi aku harus mengantar Luhan pulang... Ia tidak terlalu sehat hari ini" ujar Chanyeol memberikan alasan telak pada Baekhyun.

Baekhyun nampak tertegun, " Kau ... mengantar Luhan?".

Chanyeol menoleh pada Baekhyun kemudian meraih pundaknya " Ne, aku khawatir jika terjadi apa-apa padanya. Jika nanti Songsaeng mencariku, kau tau kan harus beralasan apa Baekhyun-ah?"

Baekhyun terdiam sesaat. " Byun Baek Hyun?" tegur Chanyeol lagi.

"Ah, ne... geurae. Jika Songsaeng mencarimu aku akan bilang kalau kau sedang ada urusan dengan ayahmu, benarkan?" sahutnya.

"Cerdas! Baiklah, aku pergi ne... Annyeong" tukas Chanyeol seraya mengusap puncak kepala Baekhyun.

"Oh ya, mian aku tidak bisa mengantarmu pulang. Kau bisa pulang dengan Kyungsoo kan?" lanjutnya lagi. Kali ini meminta maaf.

Baekhyun mengangguk " Chanyeol-ah! Sampaikan salamku pada Luhan ne... Semoga ia segera pulih" sahut Baekhyun setengah berteriak, karena Chanyeol sudah berada di depan pintu kelas.

Chanyeol menoleh padanya dan tersenyum " Ne...Sekali lagi aku minta maaf tak bisa mengantarmu pulang hari ini...".

Baekhyun mengangguk, " Ne...jangan khawatirkan aku". Ia tersenyum, namun senyumannya itu terlihat sedikit dipaksakan. Sepertinya,ada sesuatu yang mengganjal di hatinya sekarang.

Chanyeol kembali melemparkan senyum padanya "Baiklah, aku pergi. Hei, jangan merindukanku ne?" sahutnya dibarengi dengan sebuah candaan. Ia pun melambaikan tangannya pada Baekhyun seraya melangkahkan kakinya pergi dari kelasnya tersebut.

" Ne, Chanyeol-ah..." balas Baekhyun lesu.

.

.

.

"Kau bilang mau mengantarku pulang? Kenapa malah kesini?" dengus Luhan kesal sambil memanyunkan bibir tipisnya pada namja jangkung yang duduk di sampingnya itu.

"Kau butuh penyegaran... harusnya kau berterima kasih padaku karena mau membawamu ke tempat ini" balas Chanyeol. Ia sibuk memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang di depan mereka.

Mereka berdua sedang duduk di atas anak tangga, di sebuah taman yang menyajikan hamparan sungai han di depannya. Taman tersebut sangat ramai di kunjungi, baik anak-anak, remaja, pasangan kekasih, orang-orang yang sedang patah hati, dan bahkan kakek-nenek yang sedang menghabiskan waktu sambil mengingat memori masa muda mereka.

Chanyeol tersenyum sumringah. Ia terlihat sangat senang memperhatikan orang-orang itu.

"Kenapa kau cekikikan begitu? Apa ada yang lucu?" tanya Luhan keheranan.

Chanyeol masih tetap tertawa kecil. Sesaat kemudian ia menoleh pada Luhan dan menatapnya.

"Apa kau mau melihat kemampuanku?" tawarnya pada Luhan.

Luhan bergedik, "Maksudmu?" ia mengangkat sebelah alisnya.

"Hahaha" Chanyeol malah tertawa, "Coba kau lihat namja dan yeoja yang ada di sana" lanjutnya sambil menunjuk dua orang yang sedang berdiri di depan pagar pembatas taman.

"Mereka? Eum, sepertinya mereka sepasang kekasih..." tebak Luhan.

"Kau salah... Mereka itu sedang kencan buta" sahut Chanyeol.

Luhan membelalakkan matanya, "Jadi yang kau lakukan mengamati mereka dengan kemampuanmu itu?"

Chanyeol melipat kedua tangannya kedepan dada, ia mengangguk.

"Bingo! Hahahahha" ia kembali tertawa, "dan kau tau apa reaksi yeoja itu saat pertama kali melihat si namja?"

Luhan menggeleng. Tentu saja ia tidak tau, ia tidak memiliki kemampuan seperti yang Chanyeol miliki.

"Ini yang yeoja itu katakan, ehm ehm" Chanyeol berdehem sejenak " 'Mwo!? Apa aku salah orang? Ia terlihat tampan di foto, tapi kenapa... Assshhh, kenapa aslinya seburuk ini sih?! Pakaiannya kampungan sekali! Arrghhh, aku menyesal... harusnya aku tolak saja ajakannya untuk bertemu. Haish! Apa sebaiknya aku kabur saja!?' "

"Mwo?!" Luhan kembali mebelalakkan matanya tak percaya "Kau bercanda kan? Hahahahahahaha?" tawa Luhan pun akhirnya meledak.

"Park Chanyeol, kau benar-benar! Coba kau lihat, kasihan sekali namja jelek itu! Kalau aku jadi yeoja itu, mungkin aku juga akan menyesal sepertinya, hahahahahaha" Luhan tidak bisa menghentikan tawanya, bahkan beberapa orang kini malah memperhatikan dirinya yang masih tertawa terbahak-bahak.

Chanyeol yang melihat Luhan tertawa lepas akhirnya juga ikut tertawa.

"Hei, kau sudah lihat kemampuanku kan?"

Luhan mengangguk. Ia mencoba untuk menghentikan tawanya sekarang. " Ne... kau yang paling hebat Park Chan Yeol" serunya sambil mengangkat dua jempolnya untuk Chanyeol.

"Hahaha, tentu saja... Sekarang giliranmu!"

"Kau mau melihat kemampuanku?"

"Ya..." Angguk Chanyeol.

"Baiklah... sini, berikan tanganmu" sahut Luhan seraya menarik tangan Chanyeol.

Chanyeol terkejut, "Apa yang kau lakukan? Jangan bilang kau mau melihat masa depanku!?" ia pun menarik tangannya kembali.

Luhan sedikit heran dengan reaksi Chanyeol itu.

"Kan tadi kau yang bilang ingin melihat kemampuanku? Apa salahnya jika aku melihat masa depanmu?" tanyanya heran.

"Kau tidak perlu melihat masa depanku... Lagi pula,aku tidak mau mengetahuinya"

Luhan mengerutkan dahinya " Kau takut ya?" selidiknya pada Chanyeol yang sekarang nampak sedikit gugup.

"Tidak, aku tidak takut... hanya saja"

"Aish, apa ada yang kau sembunyikan?" potong Luhan.

Chanyeol mendongakkan kepalanya menghadap langit yang cerah tanpa awan, sesekali ia pejamkan matanya. Semilir angin pun berhembus, meniup rambutnya halus. Jika diam seperti itu, Chanyeol terlihat semakin tampan. Sedikit banyak, hal itu membuat Luhan terpukau dengan namja tampan di sampingnya itu.

"Tidak ada...aku hanya ingin melewati setiap inchi kehidupanku secara normal. Lagi pula, meski aku tau masa depanku, aku tidak akan dapat berbuat apa-apa kan? Aku hanya harus merelakannya... Dan Aku rasa kemampuanmu itu tidak terlalu membuatmu bahagia, aku benar kan?" ia masih menatap langit.

Luhan terdiam. Apa yang dikatakan Chanyeol memang benar. Kemampuannya begitu berat. Terkadang, ia takut mendapat penglihatan-penglihatan itu. Ia pernah berpikir, bagaimana jika penglihatan yang akan ia dapat selanjutnya adalah tentang kematiannya. Ia pun tersenyum datar, masih menatap Chanyeol penuh arti.

"Kau benar... Kadangkala aku merasa sedih dengan penglihatan-penglihatan itu. Aku takut menjalaninya... Karena kemampuanku, kadang aku merasa seperti di penjara. Aku harus menjalaninya sesuai dengan apa yang kulihat, dan jika aku melanggarnya..." Luhan menghela nafasnya. Chanyeol akhirnya menoleh padanya, menatapnya penuh tanya.

"Sesuatu yang buruk pasti akan terjadi...".

.

.

.

"PARK CHAN YEOOOOOLLLLLLLL !"

Teriak Baekhyun dari dalam kamarnya. Sejak tadi ia terus menyerukan nama Chanyeol sambil memukuli dan membanting bantal-guling yang ada di tempat tidurnya sebagai wujud kekesalannya.

"KENAPA KAU BODOH SEKALI! AKU SUDAH CUKUP SABAR MENGHADAPIMU! TAPI KENAPA KAU SELALU MEMBUATKU KESAL EOH!?"

Ia terus mengerang, meneriakkan kekesalannya pada Chanyeol.

"DAN TADI SIANG! MENGAPA KAU LEBIH MEMILIHNYA? KENAPA KAU LEBIH MENGKHAWATIRKAN DIRINYA! APA KAU PERNAH CEMAS TENTANG KEADAANKU! APA KAU TAU, AKU JUGA SAKIT! AKU LEBIH SAKIT DIBANDING DIRINYA PARK CHAN YEOLLLLLLL!"

Sepertinya kekesalan Baekhyun telah mencapai puncak. Ia tatap bingkai foto dirinya dengan Chanyeol yang ia taruh di atas nakas di samping tempat tidurnya.

"Arrrrrrggggghhhhhhhhh" erangnya lagi sambil mengacak rambutnya hingga tak beraturan.

"Kenapa Chanyeol-ah? " suaranya melembut, ia raih bingkai foto itu.

"Tidakkah kau sadar bahwa selama ini... aku terus menyimpan perasaanku padamu? Aku mencintaimu Chanyeol-ah... " lirihnya sambil menatap nanar fotonya dengan Chanyeol itu.

Ia peluk erat bingkai foto itu, meluapkan perasaanya. Hanya itu yang dapat Baekhyun lakukan untuk menyatakan perasaannya. Ya, hanya lewat potret dirinya dengan namja yang ia cintai, Park Chan Yeol. Selama ini ia terus memendam dalam - dalam perasaanya, karena ia takut cintanya itu tidak akan terbalas. Ia baringkan tubuhnya, mencoba menenangkan dirinya. Perlahan matanya mulai tertutup. Tepat sekali, foto itu adalah obat paling mujarab baginya jika ia merasa kesal atau pun marah pada Chanyeol.

Tok tok tok... tok tok tok

Terdengar pintu kamar Baekhyun sedang diketuk oleh seseorang.

"Jeosonghamnida, Tuan ada seseorang yang ingin bertemu denganmu. Ia sedang menunggumu di bawah" sahut seorang ahjumma dari depan pintu kamar Baekhyun. Ia adalah asisten rumah tangga keluarga Byun.

Dengan terpaksa, akhirnya Baekhyun yang mulai terlelap kembali membuka matanya, "Aish!" gerutunya.

"Sudah malam begini, siapa yang bertamu Ahjumma?" teriaknya. Ia masih enggan untuk bangkit dari tempat tidur empuknya.

"Maaf Tuan, tapi dia tidak mau memberitahukan namanya. Ia bilang kau mengenalnya, jadi ia akan menunggu sampai Tuan sendiri yang menemuinya" sahut Ahjumma itu lagi.

"Aku mengenalnya? Memangnya dia siapa?"

Baekhyun pun akhirnya bangkit dari tempat tidurnya. Berjalan menuju pintu dan membukanya.

"Baiklah... benar-benar orang itu" gerutunya pada Ahjumma yang kini sudah berada tepat di hadapannya itu.

"Baik Tuan" Ahjumma itu pun membungkuk pada Baekhyun kemudian pergi dari hadapannya.

Setelahnya, Baekhyun langsung melangkahkan kakinya menuju anak tangga.

"Siapa sih yang bertamu malam- malam begini? Ini kan sudah jam sembilan. Benar – benar tidak punya sopan santun. Memangnya dia siapa? Pakai alasan aku mengenalnya lagi. Awas saja kalau dia Park Chan Yeol, aku tidak akan segan untuk menghabisinya!" gerutunya sepanjang menuruni anak tangga.

Sesampainya ia di ruang tamu, ia melihat sesosok namja yang sedang duduk di sofa membalakanginya. Baekhyun mengernyitkan dahinya bingung. Ia pelankan laju langkahnya, sambil terus menatap namja tersebut. Karena tak mendapat petunjuk sama sekali tentang namja itu, akhirnya ia menghentikan langkahnya.

"Ehm... ehm..." dehemnya agar namja itu sadar bahwa ia ada di belakangnya.

Tak butuh waktu lama, namja itu langsung berdiri. Tubuhnya tinggi dan tegap. Kemudian ia berbalik ke belakang, tepat di mana Baekhyun sedang berdiri menatapnya. Namja itu pun tersenyum. Baekhyun tercengang, melihat namja yang kini sedang menatapnya itu.

"Annyeong Hyunnie..." sapa namja itu tanpa melepaskan senyumannya.

Baekhyun membelalakkan matanya tak percaya "Kau...!?"

.

.

TBC

.

.

Yappppp, chapter 3 is update ^^

Riry sengaja buatnya gak sepanjang chap.1 dan 2 :)

Jika ada kekurangan *banyak ,* di epep Riry ini, mohon kasih masukan, kritik, or saran di kotak review ne ^^v (That's too precious for Me)

Okelah, makasih buat yang udah baca ne :)

Annyeong * terbang bareng Kris*