Declaimer © Masashi Kishimoto

Another Version of Another Cinderella Story

Chapter 4 : Yellow Lilies

.

Ucapan Sakura sukses membuatku terkejut. Pandanganku tak lepas dari sosok berambut pink itu. Tidak, aku tidak memandangnya, hanya saja, Sakura seperti membawa berita buruk untukku.

Tapi, bukankah ia memang membawa berita buruk..untukku?

Begitu sadar, langsung saja kualihkan pandanganku pada Sasuke. Menanti jawaban yang mungkin keluar dari pemuda itu dengan perasaan takut.

Entah apa yang dipikirkannya, sekilas ia menoleh padaku, menatapku seolah meminta izin padaku. Mungkin sungkan karena harus meninggalkanku sendiri menjaga Rika.

Aku hanya mengangguk, mengizinkannya bicara empat mata dengan Sakura, hanya empat mata. Hatiku terasa berdesir. Aku tau ini menyakitkan, tapi apa hakku?

Kini kuakui, aku telah jatuh hati padanya, pada orang yang selalu mempermainkanku, pada orang yang selalu berkata ketus padaku, pada orang yang membuatku jengkel, pada..Tuan Mudaku. Kheh, kau pasti sudah gila Ino.

Kulihat Sasuke mulai turun dari ranjang dan berjalan pelan memenuhi panggilan Sakura. Sesekali dia melirik ke belakang, tapi kemudian ia kembali memfokuskan atensinya pada Sakura. Yang jadi pikiranku, bolehkah aku berharap lirikannya barusan..mempunyai arti tertentu..padaku?

"Bwondi," panggilan Rika sukses membuatku menoleh padanya. Ia tengah merangkak menujuku dengan ekspresi yang tidak bisa disebut ekspresi senang.

Kuulurkan tanganku padanya kemudian kugendong ia. Ah..dia benar benar manja.

"Ji-tan..ji-tan," celotehnya. Tangan mungilnya ia arahkan pada pintu yang beberapa saat lalu dilewati Sasuke dan.. Sakura.

"Ji-chan sedang ada urusan sebentar, nanti ia juga akan kembali. Ok?" aku berusaha membujuknya.

"Ji-tan, Ji-tan," Rika terus saja merengek. Tangan mungilnya menarik narik kerah bajuku.

Dengan berat hati, kuangkat ia dalam gendonganku dan membawanya pada Sasuke. Sebenarnya, aku merasa tak enak harus mengganggu keduanya bicara pribadi, tapi tingkah Rika membuatku harus melakukannya. Di sisi lain.. ada juga sebersit keinginan untuk mengganggu momen mereka.

Aku menggelengkan kepalaku cepat. Aku tak boleh berpikiran jahat seperti itu. Aku tak sejahat itu.

Begitu keluar ruangan, kuamati lorong kecil sekitar kami, mencari keberadaan mereka berdua.
Tak perlu waktu lama, kudapati dua buah bayangan hitam -yang mungkin milik Sasuke dan Sakura- di ujung lorong, pertanda mereka tak jauh di balik ujung lorong ini.

Aku mulai melangkah. Pandanganku tak lepas dari kedua bayangan.. -yang saling berdekatan- itu. Membayangkan apa yang dilakukan pemilik bayangan itu saja, membuatku sesak nafas seketika. Rasa perih yang belum sempat hilang, kini justru semakin bertambah perih. Kuatkah aku menatap mereka berdua?

Tanpa sadar, gendonganku pada Rika semakin erat, seakan Rika adalah sesuatu yang begitu licin yang siap terjatuh kapan saja.

Samar samar terdengar pembicaraan mereka begitu kami mendekat. Lebih tepatnya, suara Sakura yang terdengar memohon.

Namun, belum sempat aku berjalan lebih dekat, seseorang memanggilku dari belakang.
"Ino-chan!"

Sontak aku menoleh pada pemilik suara itu.
Shizune, istri Itachi menghampiri kami dengan senyumnya. Ternyata ia sudah pulang.

Begitu ia sampai di depanku, Rika yang berada di gendonganku langsung diambilnya.

"Lho? Sasuke-kun? Siapa gadis di sebelahmu itu? Sakura kah?"

Pertanyaan Shizune sukses membuatku terkejut. Aku pun segera berbalik dan mendapati dua sosok yang dimaksud Shizune tepat di belakangku. Mungkin mereka mendengar teriakan Shizune barusan, hingga ikut menengok sumber suara teriakan tadi.

Kulihat Sakura yang membalas Shizune dengan senyumnya, kedua tangannya ia katupkan di depan dada sambil sedikit mengangguk. Ah, sopan sekali, seperti didikan tuan puteri.

"Nee.. Ino-chan. Aku ingin minta bantuanmu sedikit saja. Mau kan?"

Aku kembali mengalihkan atensiku pada Shizune.

"Tentu saja," jawabku menunduk.

Shizune menarik tanganku pergi setelah sebelumnya mengucapkan salam pada Sasuke dan Sakura. Aku hanya diam saja, tak melakukan hal sama yang dilakukan Shizune. Entahlah, aku terlalu sakit hati melihat mereka berdua berdekatan seperti itu saja.

Tak berapa lama, aku dan Shizune sampai di ruang kamar pribadi sepasang suami istri Uchiha ini.

Baru pertama kali aku masuk ruang pribadi ini, ruangannya begitu klasik dan biasa, nyaman dan rapi.

"Ino-chan. Duduklah!"

Shizune memberiku gestur untuk duduk di ranjang besar miliknya. Rika diletakkan di tengah-tengah ranjang itu.

"Shizune-nee ingin meminta bantuan apa?" tanyaku setelah mendudukkan diri di pinggiran ranjang. Kalau ada yang tanya, mengapa aku memanggilnya dengan sebutan nee-chan, simpel saja, Shizune tak suka bila aku memanggilnya dengan suffiks -san. Umurnya yang tak terlalu tua dariku itu, mungkin yang menjadi motifnya.

Shizune membuka lemarinya, tangannya memilah milah baju. Terkadang bergumam sendiri.
Cukup lama Shizune melakukan kegiatan itu, aku berniat membantu,

"Boleh kuban-,"

"KETEMU!"
oh, ternyata, ketemu ya.

Shizune langsung mendudukkan diri di pinggiran ranjang tepat di depanku. Di tangannya sebuah dress mini berwarna biru muda transparan dibawanya.

"Nah, Ino-chan. Coba kau pakai ini," kata Shizune seraya mencoba mencocokkan dress itu dengan tubuhku.

"Ta-tapi untuk apa?"

"Beberapa hari lalu, aku memenangkan undian, dan hari ini jadwal pengambilan hadiah itu. Karena aku masih ada urusan lain hari ini, tak apa kan kalau kau yang mengambilnya?"

Aku bingung.

"Tentu saja. Tapi, hubungannya dengan baju ini?"

"Kau pakai saja baju itu waktu mengambilnya. Kau boleh memilikinya. Tak mungkin juga kan kau ke sana memakai seragam sekolah?"

Aku hanya mengangguk mengerti. Kuambil baju itu dari tangan Shizune. Dress mini biru muda dengan setengah lengan transparan.

Sunyi pun menyelimuti. Shizune memainkan Rika di pangkuannya. Rika nampak senang, senang sekali.

"Ngomong-ngomong, Sakura itu cantik ya?"
Shizune tiba-tiba memulai, membuatku menatapnya seketika.

"Ia juga sopan. Wajar bila Tou-san menjodohkan Sasuke dengannya. Bukan begitu Ino-chan?"

Shizune mendelik ke arahku.

"Aah, ya," jawabku lirih. Aku kembali menunduk.

Sakura baik? Ya, ia memang baik. Sopan? Tentu saja, ia dari keluarga terpandang. Sementara aku?

Kini aku sadar, posisiku sebenarnya di sini, di keluarga ini. Aku.. tak lebih dari seorang pelayan. Pelayan kecil keluarga besar Uchiha.

Sasuke cocok dengan Sakura? Yah, siapapun yang mendengar pendapat Shizune pasti langsung menyetujuinya.
Bodohnya aku, yang hanya seorang pelayan ini menyukai seorang Uchiha Sasuke. Harusnya aku sadar. Inilah kehidupanku. Impian bertemu pangeran, hanya sekedar impian. Aku hanya Uzui Ino, bukan Cinderella.

"Kenapa merenung?"

Ah, kalau saja Shizune tak menyadarkanku, mungkin aku sudah akan menangis tadi.

"Tidak kok!"

"Ya sudah, cepat mandi sana!"

Aku pun beranjak berdiri. Kugelengkan kepalaku demi menghilangkan pikiran-pikiran tadi yang hanya membuatku sesak. Mendengar apa pendapat Shizune hanya membuatku ingin menangis, menambah sakit hatiku saat melihat Sasuke hanya berduaan dengan Sakura.
Namun, tak jauh dari ruang kamar Shizune, samar-samar terdengar teriakan Shizune yang memintaku mengajak Rika nantinya.

Aku mengangguk lirih, walau mungkin Shizune tak melihat, ia pasti tahu aku menyetujui perintahnya. Ya, perintah, perintah seorang majikan pada pelayannya. Dan akulah pelayannya, pelayan keluarga Uchiha. Tak lebih, hanya seorang.. pelayan. Hiks..

#...#

Suasana pulang ke rumah tak membuat suasana hatiku membaik.

Shizune memberiku baju yang menurutku lumayan bagus, di toko tempat pengambilan hadiah tadi, aku juga mendapat sedikit bingkisan. Banyak hal baik yang kudapat hari ini, tapi semua itu tak mampu mengobati luka hatiku.

Tiba-tiba muncul kembali bayangan Sasuke dan Sakura yang berjalan beriringan. Hanya berjalan beriringan saja, sudah membuatku tak tahan untuk segera pergi dari hadapan mereka, apalagi esok, ketika mereka resmi bersama, kemana aku akan kabur? Kemana aku akan menyembunyikan diri, hanya tuk menangis?

Aku ingin segera pulang. Aku ingin segera tidur dan melupakan semuanya.

"Kenapa Ino? Kau tak terlihat senang?"

"Aku tak apa-apa, Sai,"

Aku mulai menutup mata, menidurkan diriku di kursi penumpang.

"Sai! Bangunkan aku ketika sudah sampai," ujarku pada Sai yang sedang menyetir.

"Untuk apa tidur, Blondie, sebentar lagi kita sampai," sahut Sasuke tiba-tiba.

Aku hanya diam dan kembali menutup mata. Aku capek, aku malas menanggapinya kali ini. Aku lelah.

#...#

Hari Sabtu ini lumayan cerah. Nenek Chiyo memasak masakan yang begitu enak, masakan favoritku. Dengan senyumnya, ia meletakkan sepiring nasi di depanku. Biasanya sih, aku yang menyiapkan nasi buat nenek, tapi kali ini nenek bersikeras melakukannya untukku. Sayangnya, kejadian di rumah Itachi kemarin belum juga kulupakan membuatku hanya mampu membalas senyum kecut yang dipaksakan pada Nenek.

Sarapan pagi pun terkesan sunyi. Aku lebih banyak diam dan menikmati makananku, walau sebenarnya aku hanya sekedar memenuhi kebutuhan perutku. Tak ada selera makan sama sekali. Aku benar-benar kacau.

Tapi syukurlah, Nenek tak menyadari kelakuan anehku. Kuharap ia tak bertanya, aku tak ingin membuatnya khawatir karena hal sepele seperti ini. Sepele, tapi sulit kuhilangkan.

Waktu pun berlalu. Setelah beres-beres rumah, biasanya di hari libur seperti ini, aku dan Nenek langsung menuju manshion Uchiha untuk menjalankan tugas kami. Dan biasanya juga dengan semangatnya, aku buru-buru menuju kebun Uchiha untuk merawat kebun lebih dulu sambil menunggu Yamato-ji-san untuk datang membantu.

Tapi, sekali lagi kukatakan, itu 'biasanya'. Kini, tak ada semangat sama sekali untuk beranjak ke sana. Aku tak ingin bertemu dengan pemuda itu, sama sekali.

"Ayo Ino-chan! Kita pergi. Nanti keburu dicari ketua pelayan lho," ajak Nenek yang mulai beranjak ke pintu keluar.

"Maaf, Nek. Aku nanti siang saja ke sananya. Masih ada tugas sekolah yang belum kuselesaikan," bohong. Sama sekali tak ada tugas sekolah. Aku hanya berusaha mengelak.

"Sou ne.. Baiklah, Nenek pergi dulu," Nenek terlihat memahami maksudku.

Dengan begitu, Nenek pun pergi. Akhirnya aku sendirian di rumah.
Merasa tak ada lagi yang harus dikerjakan, toh aku juga lagi malas sekarang, aku beranjak ke kamarku.

Kubuka pintu kamarku dan langsung saja kurebahkan diriku di atas kasur empuk kamarku.

Haah.. nyaman. Nyaman sekali.

Kuamati ruangan yang selama sepuluh tahun ini jadi tempat tidurku. Catnya, posisi lemarinya, dan yang lainnya masih sama dengan pertama kali aku kemari saat berumur enam tahun. Entahlah, kenapa ingatanku belum juga muncul di selang waktu yang begitu panjang itu.
Aku ingin bertemu Kaa-san, aku ingin melihat sosok ibuku. Aku.. merindukannya. Seperti apakah sosoknya? Aku ingin tahu. Aku ingin bertemu dengannya, mencurahkan semua kerinduanku dan menceritakan semua pengalamanku selama berpisah dengannya.
Mulai dari aku bertemu dengan orang sebaik Nenek Chiyo, kerja sebagai pelayan dengan orang-orang yang lumayan baik, sekolah gratis, dan.. bagaimana akhirnya aku jatuh cinta pada Tuan Mudaku sendiri.

Aah, aku kembali teringat dia.

Kugelengkan cepat kepalaku dan beranjak duduk. Kuambil bola kaca yang kuletakkan tepat di atas lemari kecil dekat dengan kasurku. Kuamati benda itu. Cantik, masih sama seperti dulu. Tanpa sadar, sebuah senyum kecil muncul di bibirku. Selama bola kaca ini masih kubawa, aku pasti dapat menemukan kedua orang tuaku.

TOK TOK

Suara ketukan pintu mengalihkan perhatianku. Kuletakkan kembali benda transparan itu dan mulai beranjak menuju pintu depan, pintu yang beberapa waktu lalu dilewati Nenek Chiyo.

Sambil berjalan, 'Ngomong-ngomong siapa yang datang kemari? Mencari Nenekkah? Tapi, selama tinggal bersama Nenek, aku sama sekali tak pernah melihat Nenek berhubungan dengan orang luar. Jadi siapa?'

Begitu sampai di depan pintu, kupegang kenop pintu. Kubuka pintu itu perlahan.

CKLEK

Sontak, aku mematung. Mataku melebar sempurna.

"Ukh," Sosok yang tak kusangka-sangka berdiri tepat di depanku. Matanya berkilat layaknya orang marah. Sosok yang ingin kuhindari hari ini.

Ya, aku ingin menghindar darinya.

Tanganku yang masih memegang kenop pintu bersiap kembali untuk menutupnya. Dengan rasa kesal yang sangat, kugerakkan daun pintu itu dengan cepat.

SRET

Hampir saja pintu itu tertutup, tiba-tiba Sasuke lebih dulu menahannya. Dengan kekuatan yang masih ada, kudorong pintu itu lebih kuat. Aku benar-benar tak ingin bertemu dengannya, ia harus pergi.

Namun, memang dasarnya kekuatan laki-laki lebih besar, akhirnya aku beringsut minggir, mengalah darinya.

BRAK

Pintu itu sukses bertatapan keras dengan dinding. Sasuke pun kini berdiri tepat di depanku, masih dengan ekspresi yang sama.

"Apa urusanmu?" tanyaku sinis. Entah mengapa, melihat ekspresi marahnya, justru membuatku bertambah kesal.

"Ada apa denganmu?" ia justru bertanya balik.

"Kheh, ada apa denganku? Tumben sekali kau peduli padaku?"

Lucu sekali sikapnya.

"Ck, kenapa tak datang ke manshion? Kenapa tiba-tiba kau aneh begini?" ia sedikit berteriak.
Apa katanya? Aneh? Oh ya, aku baru sadar aku bersikap aneh hari ini.

Aku sedikit menunduk. Kusentuh pelipisku yang tiba-tiba jadi pusing. Aku tahu, munkinkah demi menyembunyikan kecemburuanku, aku bersikap kesal padanya? Sebesar inikah efek sakit hati?

"Sudahlah! Kalau kau datang hanya untuk memperingatkanku, lebih baik kau pergi. Nanti siang aku juga bakal pergi ke sana sendiri!" bantahku.

Selang beberapa saat, ia hanya bergeming di depanku. Matanya masih menatapku marah. Ia sendiri juga aneh. Biasanya ia berseringai di depanku, kini ia justru marah padaku. Apa salahku memang?

Begitu tak mendapat respon -karena aku menyuruhnya pergi, nyatanya ia masih bergeming-, aku berbalik menuju ke dalam rumah. Lagi-lagi, belum sempat aku melangkah lebih jauh, ia terlanjur menahanku.

GREB

Ia menarik lenganku.

Kami pun kembali saling bertatapan.

"Ikut denganku!" perintahnya.

Belum sempat aku melawan, ia sudah membawaku keluar rumah.
Kami berhenti tepat di samping mobil sedan miliknya. Masih memegang pergelangan tanganku, ia membukakan pintu penumpang depan dengan tangannya yang terbebas.

"Masuklah!" perintahnya.

Entah mengapa aku bisa menurut padanya semudah ini. Akhirnya, dengan ekspresi yang masih kubuat kesal, aku masuk ke kursi penumpang depan.

Begitu aku sudah masuk, Sasuke tak langsung beranjak ke kursi kemudi. Ia berbalik kembali menuju rumahku untuk menutup pintu yang masih terbuka. Oh, bahkan aku lupa dengan rumahku sendiri. Untung, ia masih ingat.

#...#

Perjalanan kami -yang entah kemana, aku tak ingin menanyakannya- terkesan sunyi. Yah tentu saja. Aku sengaja terdiam, memandangi pemandangan luar yang entah mengapa menjadi lebih menarik.

Kalau dipikir, kemana kira-kira Sasuke mengajakku pergi? Dan.. kenapa tak mengajak Sai?

Hampir setengah jam perjalanan kami, akhirnya Sasuke menghentikan mobilnya. Ia turun dari mobilnya, begitupun denganku.

Kuedarkan pandanganku. Tak ada satu bangunan pun yang tertangkap inderaku, hanya beberapa pohon rindang yang tak seberapa banyak. Tanah yang kuinjak juga tidak langsung menyentuh tanah, alias rerumputan kecil seperti lapangan yang menjadi alas tempat ini. Satu tempat asing lagi bagiku.

Sasuke berjalan ke arahku dan langsung menarikku seperti sebelumnya. Aku hanya diam dan menurut.

Selang beberapa meter kami ambil, akhirnya Sasuke berhenti di balik sebuah pohon besar yang sangat rindang. Mirip dengan pepohonan di hutan Nara dulu. Sama seperti Sasuke, aku pun berhenti.

Tiba-tiba saja mataku melebar. Di depan kami sebuah padang bunga yang begitu luas. Aku kagum. Sangat kagum. Dataran padang bunga itu lebih landai dari pada tempat awal kakiku menginjak tempat ini. Itulah mengapa aku tak melihat padang bunga ini sebelumnya. Indah. Indah sekali.

"Tidak ada yang tahu tempat tak kasat mata seperti ini," kata Sasuke tiba-tiba. Tapi sama sekali tak kuhiraukan.

Masih terkagum dengan tempat seindah ini, tanpa sadar, kakiku berjalan pelan ke padang bunga itu. Harum bunga telah tercium bahkan sebelum aku sampai di antara bebungaan itu. Harum sekali. Rasanya beban pikiranku terasa hilang seketika hanya dengan melihat indahnya bunga-bunga sebanyak ini. Senyum kecil berkembang di bibirku..

Aku berjalan melewati kumpulan bunga-bunga. Kedua tanganku menyapu setiap bunga di samping kanan-kiriku. Mawar, aster, poeny, dan edelwise? Ne, ada juga bunga itu di sini.

Ukh.. ada lagi. Lili! Lili putih, lili merah, dan.. lili kuning. Ah, aku tahu arti bunga itu, bunga itu berarti patah hati.

Aku berhenti tepat di depan kumpulan lili kuning itu, memetiknya satu dan memandanginya. Baunya harum sih, tapi artinya tak seharum wanginya, mengingatkanku pada keadaanku sendiri saat ini.
Patah hati, bahkan sebelum menyatakan cintanya. Lagipula, apakah pemuda itu, pemuda yang kusukai itu juga menyukaiku?

Haah, untuk apa aku terus memikirkan hal ini?

Aku pun mendudukkan diriku di depan lili kuning itu. Lalu, aku menoleh pada seseorang yang membawaku kemari. Ia masih bergeming di bawah pohon itu. Sepertinya ia melihat ke arahku. Tapi, aku tak tahu ekspresi apa yang dipakainya sekarang. Baru kusadari, ternyata aku sudah berjalan terlalu dalam ke padang bunga ini, mungkin justru di tengah-tengahnya.

Dengan tangan yang masih memegang lili kuning itu, aku memeluk sendiri lututku. Pemuda stoic itu mulai beranjak ke arahku.

Tapi, ekspresi apa yang harus kugunakan bila ia sampai kemari?

Semakin lama, pemuda itu semakin dekat. Wajahnya mulai terlihat jelas. Wajah maskulinnya, wajah yang mendapat banyak pujian di kalangan siswi sekolah, dan wajah seseorang yang terus mengerjaiku, tapi aku menikmatinya.

Kuakui, wajahnya tampan, tampan sekali bah keturunan dewa.
Hingga membuat seorang pelayannya jatuh hati padanya. Dan wajah tampan itu yang akan menjadi milik seorang gadis merah jambu yang cantik. Hiks..aku kembali teringat. Bodohnya aku yang berharap terlalu tinggi. Air mata tanpa sadar mengalir di pipiku. Bodohnya aku. Sebenarnya apa sih yang membuatku tertarik padanya?

"Ck, apa sih yang kau pikirkan? Duduk di tengah padang seperti ini? Huh?" tanyanya sinis.

Aku hanya menoleh ke arah lain selainnya. Apapun, yang penting bukan dia. Aku tak boleh menatap sosoknya, sosok yang hanya membuatku semakin terpikat dan sosok yang hanya akan membuatku terluka.

Perlahan, kuhapus air mataku. Aku tak boleh menangis. Aku tak boleh cengeng seperti ini.

"Hei! Berdiri!"

Aku pun berdiri. Dengan sekali tarikan nafas aku berbalik menghadap ke arahnya. Senyum manis pun kuusahakan keluar.

"Tuan Muda, sebenarnya kenapa anda membawaku kemari?" tanyaku se-normal mungkin. Alisnya terpaut bingung.

"Ck, apalagi sekarang? Pura-pura lupa kalau sedang kesal? Huh?"

"Tidak. Saya hanya ingin minta maaf, saya baru menyadari, sikap saya pada anda tak bisa disebut sikap sopan. Setelah sekian lama ini, saya gagal sebagai seorang pelayan. Seorang pelayan harus bersikap sopan di depan majikannya bukan?" dengan sedikit menunduk, aku minta maaf padanya.

Bodoh, kau bodoh Ino. Inikah caramu menyelesaikan masalah? Menyerah begitu saja dan membiarkan dirimu disakiti?

Tapi, bukankah aku memang bodoh?

"Haha.. HAHAHAHA. Lelucon apa lagi ini? HUH?" teriak Sasuke frustasi. Kedua tangannya menggoncang-goncangkan bahuku setelah sebelumnya mengacak-acak rambutnya sendiri. Tapi, aku tetap menunduk. Aku tak akan menatapnya. Dan membiarkannya melakukan apa saja yang ia mau. Ingat! Aku pelayan. Harus menuruti kemauan majikan, bukan? Hiks..perih rasanya mengingat perbedaan status kami.

"Katakan padaku, kau pura-pura kan? Kutegaskan! Ini tidak lucu," teriaknya.

Masih menunduk, aku menggigit bibir bawahku keras. Kalau aku membuka mata, aku takkan kuat melihat Sasuke seperti ini.

"KATAKAN!" teriaknya sekali lagi, membuatku sontak menutup mata takut. Aku takut ia marah padaku. Aku takut ia membenciku. Aku takut dirinya yang seperti ini. Tapi, aku lebih takut untuk melihat sosoknya. Aku takut berharap padanya. Aku sudah menyerah.

Kurasakan tarikan Sasuke yang tiba-tiba.

GREB

Sontak saja aku membuka mataku, tak percaya dengan apa yang dilakukannya. Ia..ia memelukku. Ta-tapi..tapi kenapa?

"Bodoh! Aku tak peduli kau pelayan atau bukan. Kau tetap Ino,"

Ukh. Nafasku tercekat seketika. Benarkah apa yang kudengar ini? Tak salah kah? Ia memanggil nama kecilku. Baru kali ini ia memanggil nama kecilku. Jujur, rasanya senang. Aku tersentuh.
Tapi, bukan hanya itu.

Sasuke mulai memelankan suaranya.

"Kau tetap Ino. Blondie-ku. Milikku, hanya milikku,"

Pelukan Sasuke semakin erat. Tangannya mengelus lembut rambutku. Air mata yang sedari tadi kutahan keluar begitu saja, senang. Lebih dari itu, aku bahagia. Ucapannya membuatku merasa melayang. Aku membalas pelukannya seketika. Tanpa sadar, lili yang kugenggam tadi telah jatuh entah kapan.

Sekali lagi, benarkah apa yang kudengar ini? Tidak salahkah? Apakah itu artinya cintaku terbalas?

Saking bahagianya atau apa, aku tak merasa apa-apa lagi. Ruangan di sekitarku tiba-tiba menggelap. Dan aku tak ingat apa-apa lagi, selain tubuhku yang seakan terjatuh dalam pelukan pemuda itu.

TBC

Haduh, padahal rencananya mau dipanjangin sampai even itu. Tapi, nyatanya malah sampai segini saja. Gomen-ne Minna kalau gk berkesan. Ann mau UTS dulu, jadi nyicilnya dikit en hiatus lagi dah.

Buat Who's My True Love, bentar lagi habis ujian Ann update, tentu saja kalau tak ada rintangan yang datang menghadang…

Waktunya balas review :

jenny eun-chan : first, thanks dah mau review jenny-chan. Ingatan masa lalu Ino belum keungkap. Tenang saja, ntar juga keungkap sendiri kok.

Rainhard Geo : Sakuranya dah dikurangi nih…thanks dah review Ren ^.^

UlinKyuWonSonElf : Menarik? Oh terimakasih…ini udah update, walau gk kilat #dibantai#

Endymutiara : Hoho, tentu saja, abang Sasu kan cakep, bayi pun klepek-klepek(?)

minami22 : thanks dah review Minami-san. Sasu saya buat manis di sini, cumin ama Rikanya aja, hehe.

VeeA : thanks dah mampir VeeA-san. Nih, dah update nih.

Mia : tenang Mia-san, nih dah dilanjutin.

Reader lewat : thanks dah lewat. Lewat lagi yah(?)

The last : thanks for All