Sweet Scandal
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Happy Reading
.
.
.
[Chapter 4: Suddenly Kiss]
Seusai mencuci piring, ia kembali ke ruangan itu dengan dua cangkir teh herbal hangat. Didapatinya Sasuke duduk di sofa seraya menonton video boat racing. Ino memerhatikan video yang sepertinya sudah lama itu.
Sasuke melirik Ino yang tengah berdiri memerhatikan video yang ditontonnya.
"Kemarilah! Video ini sangat menarik! Kau harus menontonnya!" Sasuke menggeser tubuhnya ke samping, memberi tempat untuk Ino duduk.
Ino ragu untuk duduk bersebelahan dengan pemuda itu tapi akhirnya dia duduk juga di pinggir sofa dan menyisakkan ruang di antara mereka.
Sasuke menoleh pada Ino yang mulai menonton video itu seusai meletakkan cangkir teh di atas meja.
"Kau tidak bisa melihat video ini dari sana. Kemarilah!"
"Apa—?" Ino belum sempat berbicara lagi karena Sasuke sudah menariknya mendekat hingga tubuh mereka bersentuhan. Ino shock. Sementara itu Sasuke cuek dan tetap menonton video.
Saat itu juga Ino ingin pergi saja dari sana. Sedekat ini dengan Uchiha Sasuke? Yang benar saja!
.
.
.
Video yang Sasuke dan Ino tonton merupakan video dokumentasi boat racing bertahun-tahun lalu. Pertandingan tersebut direkam dalam jarak yang cukup dekat dengan arena pertandingan sehingga pergerakan para pembalap terlihat jelas dalam video tersebut. Ino menangkap cukup banyak informasi dari video itu. Ia mencoba berkonsentrasi sepenuhnya pada layar televisi. Penasaran, video tersebut sukses membuatnya ingin memelajari lebih lanjut mengenai boat racing. Namun posisinya saat ini, membuatnya sulit fokus dan terus berdebar karena ia berada dalam jarak sedekat itu dengan Sasuke terlebih tubuh Ino kini dirangkul dengan cueknya oleh Sasuke. Indera penghidu Ino dengan jelas merasakan aroma pinewoods dari tubuh Sasuke belum juga hilang sejak tadi sore pemuda itu mandi padahal ia sempat berkutat di depan properti dan mesin speedboat cukup lama. Ino mendadak teringat kejadian memalukannya sore tadi seketika menghirup aroma pinewoods itu. Gadis itu menghela napas berat. Ia tidak dapat mengontrol semu merah yang kini mewarnai pipinya. Ino menepuk kedua pipinya, mencoba kembali fokus pada video. Setidaknya usaha Ino untuk tidak memikirkan kembali kejadian sebelumnya berhasil. Ia menjadi kian berkonsentrasi ketika komentator balapan itu menyebutkan nama Uchiha.
"Uchiha?" Pandangan gadis itu teralihkan sepenuhnya pada Sasuke, "kau balapan semuda itu?" Ino melihat tanggal balapan yang tertera pada papan pengumuman elektrik yang sempat tertangkap kamera. Balapan itu ternyata terjadi 10 tahun lalu.
"Tentu tidak. Itu kakakku."
"Kakakmu boat racer juga?" Tanya Ino polos.
"Ya, tapi dia kurang terkenal." Sasuke mengangguk sembari tersenyum lemah.
Ino merasa Sasuke menepuk punggungnya, menyuruh Ino untuk kembali menonton video. Dan menunjuk salah satu peserta yang memakai jaket balapan warna biru tua yang sama seperti milik Sasuke.
"Itu kakakku," ujar Sasuke. Ino mengangguk dan memfokuskan dirinya pada video itu.
Pada video, para pembalap terlihat berada di starting line—akan mulai balapan. Melihat pemandangan itu, Ino merasa kembali saat pertama kali ia menonton Sasuke bertanding. Secara tidak sadar, Ino merasa bersemangat dan memajukan tubuhnya sedikit sembari mengepalkan tangannya. Pada layar televisi, terlihat penonton bersorak sangat ramai ketika pertandingan dimulai.
Kakak Sasuke menguasai pertandingan dengan berada di garis terdepan, meninggalkan peserta lain yang tertinggal jauh di belakangnya. Menyusul seorang pembalap lagi yang melaju tepat di depannya.
Singkatnya, kakak Sasuke berhasil menyamakan lajunya dengan pembalap yang berusaha disusulnya. Pertandingan begitu sengit terlebih ketika keduanya saling susul-menyusul hingga mendekati garis finish. Penonton bersorak ramai memekik nama kedua peserta terdepan yang saling memacu speedboatnya yang kini sudah mendekati garis finish. Ino merasa tegang menonton pertandingan itu, baginya aksi saling pacu itu membuat jantungnya berdebar dan penasaran. Kedua matanya seakan tidak berkedip menyaksikan pertarungan sengit itu. Terlebih ketika kakak Sasuke meningkatkan lajunya saat benar-benar mendekati garis finish dan kemudian berhasil melewati garis finish mendahului saingannya.
"YAAY!" Teriak Ino antusias sembari mengepalkan kedua tangannya ke udara, "dia menang! Dia menang! Kamisama! Dia hebat sekali!"
Sasuke menaikkan sebelah alisnya, "ayolah, ini bukan pertandingan live. Kau pikir sudah berapa ratus kali aku menonton video ini?"
"Oh, i-iya sih." Ino mendadak salah tingkah ketika menyadari bahwa dia sudah over-semangat hingga mengepalkan kedua tangannya ke udara dan berkeringat banyak. Ia kemudian menolehkan pandangannya ke sembarang tempat. Malu. Tapi Sasuke dengan cueknya menoleh ke arah Ino dan menatapnya dengan tatapan menyelidik.
"Tapi jika kuperhatikan sepertinya kau tidak tahu-menahu soal boat racing."
"Aku malu mengakuinya, tapi—kau benar," Ino mengaku.
"Pantas saja selama di pesta waktu itu kau bertanya banyak hal konyol," ujar Sasuke seraya menilik koleksi videonya yang lain.
Mendengar Sasuke berkata demikian, Ino langsung teringat kejadian bodohnya saat di pesta waktu itu—pertama kali bertemu Sasuke. Uchiha muda itu terus memandangi Ino seakan-akan penasaran dengan gadis itu. Sementara Ino terus membuang muka.
"Kalau dipikir-pikir jika kau tidak ada ketertarikan apapun terhadap boat racing, mengapa kau bersikap seperti itu?"
"Seperti ... apa?"
Sasuke menunjuk tangan Ino yang masih terkepal selama menonton video tadi. Kelereng biru laut Ino melihat ke arah yang di maksud dan segera menyembunyikan tangannya di samping badannya. Ino menghirup napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Sasuke.
"Sebenarnya saat pertama, bisa dibilang aku hanya tertarik untuk mewawancaraimu tapi aku tidak tahu kenapa merasa sangat tertarik dengan boat racing setelah menontonnya secara langsung dan ku akui. Boat racing sangat menyenangkan."
Sasuke masih diam, mendengarkan Ino berbicara.
"Aku belum pernah menonton pertandingan balapan lain seperti horse racing atau cycle racing tapi untuk beberapa alasan, boat racing membuatku merasa sangat bersemangat dan merasa ingin terus memelajarinya, lalu juga berteriak seperti penonton lainnya selama pertandingan untuk menyemangatimu."
Pembalap muda berbakat itu terpekur mendengar penjelasan Ino.
"Maaf, aku tidak bisa menjelaskannya dengan benar. Tapi bagiku boat racing sangat keren! Aku bahkan masih bisa membayangkan suara mesin yang beresonansi, benar-benar membuatku merasa bersemangat! A-ah aku ingat! Pada wawancaramu sebelumnya, kau pernah bilang ingin menjadi pemenang Konoha Boat Championship kan? Untuk melihatmu menang aku akan—"
Ino berhenti berbicara kemudian melirik Sasuke yang masih terdiam mendengar ocehannya.
—akan melakukan apapun untukmu.
Gadis Yamanaka itu menelan ludah, hampir saja mengucapkan kata-kata yang seharusnya tidak melucur dari mulutnya.
"M-maksudku untuk melihatmu menang aku akan menyemangatimu dan mendukungmu sebaik mungkin." Ino mencoba memperbaiki kesalahannya dengan mengganti kata-kata yang tidak seharusnya dia katakan.
Sementara itu Sasuke tersenyum seakan-akan tidak merasa aneh dengan omongan Ino yang sempat berhenti mendadak.
"Terimakasih. Aku harap kau tetap mendukungku setelah wawancara selesai."
"Ya, tentu saja!" Jawab Ino bersemangat.
Sasuke yang mendadak ikut bersemangat karena Ino, meletakkan tumpukan DVD dokumentasi boat racing yang sedari tadi di pegangnya ke atas meja dan meraih cangkir berisi teh herbalnya.
"Uchiha-san apakah kau menjadi boat racer karena kakakmu?" Tanya Ino secara tidak sadar.
Sasuke meletakkan cangkir tehnya setelah menyesap sedikit isinya kemudian memandang kosong layar televisi yang masih menayangkan video boat racing.
"Itu sebenarya janjiku pada kakak."
"Janji?"
"Dia tidak memenangkan banyak pertandingan dan tidak menjadi boat racer terkenal. Itu karena karirnya terhenti saat dia tewas karena kecelakaan."
Ino terdiam mendengar jawaban Sasuke.
"Bagiku dia tidak beruntung sebagai boat racer, karena itu aku berjanji padanya untuk menjadi pemenang Konoha Boat Championship. Aku berjanji padanya untuk melakukannya tanpa ada kesalahan apapun."
"Aku mengerti." Ino mengangguk.
"Setiap hari, aku memikirkan banyak hal mengenai bagaimana caranya menjadi pemenang Konoha Boat Championship dan menjadi boat racer terbaik di Jepang. Aku berpikir pasti akan sangat menyenangkan jika makin banyak orang tertarik dengan boat racing seperti apa yang kau katakan. Aku juga membayangkan banyak pembalap muda yang ikut bertanding."
Sasuke menjeda sejenak perkataannya sebelum kembali berbicara.
"Aku berpikir bagaimana cara membuat orang lain tertarik dengan boat racing. Aku tidak dapat berhenti memikirkannya setiap saat." Sasuke menoleh sepenuhnya ke arah Ino, dan di saat bersamaan Ino tengah memerhatikan Sasuke hingga pandangan keduanya bertemu. Dapat Ino lihat refleksi dirinya di mata Sasuke dengan jelas.
"Jadi ketika aku berhasil menjadi pemenang Konoha Boat Championship, aku ingin kau menulis mengenai boat racing sehebat mungkin hingga kakakku di surga dapat tertawa."
Ino merasa Sasuke di hadapannya seperti anak kecil yang tengah mengungkapkan seluruh keinginannya. Tanpa sadar, tangan Ino bergerak meraih tangan Sasuke dan menggenggamnya erat—sangat erat kemudian berteriak,
"Aku berjanji akan menulis artikel yang bagus untukmu!"
Sasuke menatap gadis di hadapannya lurus-lurus dengan ekspresi terkejut, kemudian tertawa.
"Kau memang gadis aneh. Berteriak sekencang itu."
"A-aku minta maaf, a-aku hanya—"
"Tenang saja, ada angin puyuh di luar sana. Jadi teriakan mu tadi tidak akan mengganggu tetangga." Sasuke tersenyum simpul, "aku menunggu artikel yang bagus darimu."
Sesaat kemudian Ino merasa ada suara aneh dari luar. Suara yang dikenalinya, seperti suara kamera yang berbunyi saat mengambil foto.
"Kau kenapa?" Tanya Sasuke saat melihat perubahan mendadak pada Ino yang terdiam dan melihat ke arah jendela.
"O-oh itu—" Ino mergegas melepaskan genggaman tangannya kemudian berdiri, "kau tidak keberatan kalau aku pergi ke luar untuk melihat-lihat?"
"Apa? Tidak, itu terlalu berbahaya."
"Tapi tadi sepertinya aku mendengar sesuatu," jelas Ino.
"Sudahlah, sepertinya itu hanya suara angin."
Tapi—
Ino menghela napas berat dan menuruti perkataan Sasuke.
—yang tadi itu seperti suara jepretan kamera.
Khawatir, gadis pirang itu mengecek kameranya sendiri berpikir mungkin suara tadi berasal dari kameranya yang mengalami gangguan. Tapi setelah mengeceknya, ia tidak menemukan adanya kerusakan. Ino merasa gelisah, tidak bisa tenang.
"Kau kenapa?" Tanya Sasuke.
"A-ah tidak." Ino tersenyum kering. Ia mencoba melupakan yang tadi didengarnya dan berpikir bahwa suara tadi hanya imajinasinya saja.
"Kalau begitu sudah saatnya aku kembali bekerja." Sasuke beranjak dari tempat duduknya, "kau bersantailah di sini."
"Baiklah, tapi jika kau memerlukan bantuan, bilang saja padaku," ujar Ino menawarkan diri.
"Kau pikir aku akan melakukan itu? Ini sudah waktunya perempuan dan anak-anak tidur." Sasuke menghela napas sembari melirik jam dinding yang sudah menunjukkan waktu larut malam.
Saat akan kembali ke tempat kerjanya, Sasuke mengusir Ino yang mengekor kemudan tertawa saat gadis itu cemberut karena Sasuke menolak diberi bantuan.
Ino mengempaskan bokongnya ke sofa. Ia merasa angin puyuh berikut badai di luar sana belum juga berhenti. Gadis belia itu membalut dirinya dengan selimut yang didapatnya dari Sasuke dan menulis apa saja yang sudah dipatkannya selama wawancara tadi ke dalam notebooknya. Ia sesekali menoleh ke jendela yang tertutup gorden, memperkirakan bahwa badai tersebut akan berhenti esok hari kemudian bertekad untuk pulang secepatnya ketika hari sudah pagi.
"Haaah—" Ino menutup mulutnya yang menguap. Ia merasa dirinya sudah mengantuk dan lelah terlebih ia sudah berjalan cukup jauh dan tersesat tadi. Ino melihat Sasuke yang masih bekerja di ruangannya. Uchiha muda itu masih setia berkutat dengan pekerjaannya.
"Sepertinya aku harus mengatur ulang jadwal wawancara untuk beberapa hari ke depan. Semoga untuk bulan-bulan berikutnya baik-baik saja dan tidak ada perubahan jadwal signifikan," katanya berbicara pada dirinya sendiri.
"Sasuke masih belum bersedia diwawancara mengenai kehidupan pribadinya, apa nanti dia mau ku wawancarai tentang itu ya?" gumamnya.
Ia sekali lagi melirik Sasuke di ruangan sebelahnya dari pintu yang sengaja dibiarkan terbuka.
Tanpa berpikir, Ino berdiri dan berjalan ke depan pintu ruangan kerja Sasuke yang terbuka dan memerhatikan pemuda yang membelakanginya itu.
Merasa diperhatikan, Sasuke membalikan tubuhnya.
"Apa?"
"Oh, M-maaf—" Ino menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "aku tidak bermaksud mengganggumu."
"Kenapa? Apa punggungku sangat memesona?" Goda Sasuke.
"Ap—"
"Bercanda." Uchiha itu kembali berbalik dan mengutak-atik mesin di depannya, "aku menyimpan beberapa pakaian untukmu di buffet dekat kamar mandi. Bagaimana kalau kau mandi dulu?" Tanyanya tanpa berbalik menghadap Ino.
Yang ditanya menelengkan kepalanya dan tetap diam di tempat.
Merasa gadis di belakangnya tidak jua beranjak, Sasuke mengambil handuk dan melemparkannya pada Ino.
"Pergilah mandi. Aku tidak akan mengintipmu." Setelah melemparkan handuk pada Ino, Sasuke kembali bekerja.
Ino yang terlanjur diberi handuk berjalan gontai ke kamar mandi dan mengambil beberapa lembar pakaian milik Sasuke yang sebelumnya sudah Sasuke persiapkan untuknya.
.
.
.
"Segarnyaaa~" Ino mengeringkan rambutnya sesuai mandi menggunakan handuk sembari berjalan ke ruang kerja Sasuke. Pemuda bermarga Uchiha itu masih berada di sana. Gadis itu khawatir keberadaannya akan mengganggu Sasuke, jadi dia berusaha berbicara sepelan mungkin.
"Jika kau mau aku akan membuatkanmu teh," tawar Ino. "Bisakah kau berhenti sejenak?"
Sasuke menoleh pada Ino kemudian melihat jam di dinding, "oh ternyata sudah selarut ini?" Ia meregangkan tubuhnya dan menguap. Ino dapat menyimpulkan bahwa Sasuke sudah lelah dan mengantuk dari ekspresi lelah pada wajah pemuda tampan itu.
"Kau benar, sepertinya aku butuh teh," kata Sasuke sembari melangkahkan kaki memasuki ruang tengah.
Ino mengangguk, "baiklah aku akan menyiapkan air panasnya dulu."
.
.
.
Setelah membuatkan teh, Ino kembali ke ruang tengah. Didapatinya Sasuke mendudukan dirinya di sofa dengan kedua tangan terentang dan kepala menengadah, lelah. Melihat pemandangan itu, Ino tersenyum.
"Hey kenapa kau berdiri terus di sana? Cepatlah bawa tehnya ke mari sebelum dingin!"
"Ah! Maaf—" Gadis itu segera sadar dari lamunannya dan segera menaruh dua cangkir teh di atas meja dan duduk di sofa berhadapan dengan pembalap muda itu.
Selagi menyesap teh, pandangan Sasuke terpaku pada notebook Ino yang terbuka di atas meja.
"Kau mengerjakan artikel itu sejak tadi? Kau memang pekerja keras," ujarnya sembari menunjuk notebook Ino.
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk membuat barang-barangku berantakan seperti ini." Ino segera menaruh cangkir tehnya sebelum meminumnya dan membereskan barang-barangnya yang bercecer di atas meja.
"Tenang saja, aku tidak mempermasalahkan itu."
Sasuke meneguk cairan keruh itu sebelum kembali berbicara.
"Aku sudah berbicara banyak tentangku hari ini. Sekarang giliranmu."
"Apa?" Ino setengah tidak percaya.
"Bagaimana denganmu? Kenapa kau ingin menjadi reporter?"
Ino tersenyum, "menjadi reporter adalah salah satu mimpiku, dan tujuan utamaku adalah menjadi reporter khusus rubrik Total Coverage pada majalah QUEEN sejak aku masih SMA dulu karena aku sangat menyukai majalah itu. Karenanya aku putuskan untuk bergabung dengan perusahaan ini."
"Jadi kau sudah mendapatkan apa yang kau impikan." Sasuke mengangguk.
"Tentu, aku bersyukur untuk itu. Editorku selalu berkata pada kami selaku reporter untuk tidak menulis artikel biasa, melainkan tulislah artikel yang luar biasa karena itu adalah pekerjaan kami."
Ino menghela napas.
"Saat pertama kali aku bekerja sebagai reporter, aku sangat payah dan membuat banyak kesalahan."
"Benarkah? Seperti apa?" Tanya Sasuke, tertarik.
"Menurutku itu sangat memalukan dan tidak seharusnya kukatakan padamu."
"Justru itu yang membuatku tertarik," sahut Sasuke. Ino menelengkan kepalanya.
"Ayolah katakan padaku kesalahan apa yang kau perbuat?"
"Aku mengerjakan artikel suatu subjek terlalu cepat namun tidak mendapatkan esensinya dan tidak berkonsentrasi sepenuhnya pada subjek. Jadi editorku sempat menegurku, dan mengatakan aku harus berkerja dengan hati, bukan asal selesai." Jawab Ino sembari mengingat saat-saat pertama ia bekerja sebagai reporter.
"Aku bisa membayangkannya. Aku rasa yang kau lalukan sudah cukup bagus. Itu membuktikan bahwa kau serius menjadi seorang reporter."
"Itu sama sekali tidak bagus." Ino menggeleng, "aku membuat masalah untuk bosku dan kolegaku dan kadang-kadang membuatku mewawancarai ulang subjekku."
"Tapi menurutku begitu. Justru yang seperti itu akan membuatmu menjadi reporter yang hebat." Sasuke tersenyum pada Ino. Pandangan mata Sasuke melembut, membuat Ino merona seketika.
"Ketika aku mendengarkanmu berbicara, aku akhirnya mengerti."
"Apa?" Tanya Ino polos.
"Banyak reporter wanita yang mencoba mewawancaraiku sebelum kau. Tapi mereka hanya bertanya tentang kehidupan pribadiku dan boat racing dijadikan opsi kedua."
Ino mendengarkan Sasuke dengan saksama.
"Aku bosan dengan pertanyaan klise mereka seperti apakah aku punya pacar? Bagaimana pengalaman cintaku? Jika aku berkencan, tempat mana yang aku tuju? Dan apa yang biasanya aku pakai? Ketika aku ditanyai pertanyaan terakhir itu, aku akan seperti ini," ucapnya sembari berdiri dan menarik jerseynya kemudian berlalu.
"Dan akhirnya reporter wanita itu berkata bahwa maksudnya ia ingin tahu apa yang aku pakai selain pakaian ini."
Sasuke kembali duduk di kursi di depan Ino dan meneguk tehnya lagi sebelum berbicara lagi.
"Kau sudah mewawancaraiku, jadi aku rasa kau mengerti mengapa aku tidak terlalu suka ditanyai seperti itu karena bagiku, tidak ada waktu untuk jatuh cinta. Dan saat ini, boat racing adalah segalanya untukku."
Ino mengangguk mendengar curhat colongan Sasuke, "ya. Aku sangat mengerti."
Pembalap muda itu terdiam dan menatap Ino lurus-lurus.
"Kau belum pernah bertanya padaku mengenai percintaanku. Selama wawancara ini kau menanyaiku tentang hobi dan kemampuanku. Kau tidak berbicara hal-hal klise macam tadi dan kau bertanya dengan serius soal boat racing."
"Aku memang bilang padamu untuk tidak menghalangiku saat pertama kau ingin mewawancaraiku. Kuakui kau memang agak sedikit mengganggu pekerjaanku. Tapi karena kau masih pemula mengenai boat racing aku memakluminya," lanjut Sasuke.
Ino menunduk, "m-maaf—"
"Aku tidak marah, jadi kau tidak usah minta maaf," sahut Sasuke seraya meraih sebuah majalah di atas meja, "aku memang tahu tentang majalah QUEEN yang diterbitkan perusahaanmu. Majalah yang sangat poluler di kalangan wanita, tapi karena aku belum pernah membacanya, aku sempat berasumsi kalau isinya sama saja seperti sampah bahkan lebih buruk dibanding majalah lain."
Sasuke membolak-balikan halaman majalah yang dipegangnya kemudiah terhenti dan menatap gadis di depannya.
"Aku minta maaf karena berpikir demikian."
Jantung Ino berdebar. Entah karena Sasuke yang meminta maaf padanya atau karena ekspresi serius Sasuke yang menatapnya dengan lembut—tidak seperti sebelum-sebelumnya.
"Tidak apa-apa. Kenapa kau tiba-tiba berubah pikiran?" Tanya Ino.
"Kau selalu menyimpan notebook di kantongmu kan? Kau pernah menjatuhkannya dan tidak menyadarinya. Karena penasaran dengan apa yang kau tulis, aku membacanya."
"O-oh.."
"Aku tidak menyangka reporter sepertimu menulis hasil wawancara begitu detail dan tepat pada subjeknya dibandingkan reporter lain yang pernah mewawancaraiku. Saat aku membaca artikel yang ditulisnya, ia ternyata banyak memasukan hal-hal tidak penting yang kurasa seharusnya tidak ia masukan pada artikelnya."
Hening sesaat, keduanya masih saling memandang. Saat itu juga Ino merasa atmosfir di ruangan itu menjadi aneh. Ino tahu ia seharusnya mengatakan sesuatu untuk memecah keheningan tapi ia tidak dapat memikirkan apapun.
Gadis pirang itu gelisah terlebih saat itu ia malah diam dan pemuda di hadapannya masih menatapnya. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, salah tingkah.
"A-aku ... terimakasih," gumamnya tidak nyambung dengan tujuan memecah keheningan.
Kembali hening. Ino merasa dapat mendengar jantungnya yang berdetak berikut suara angin dan hujan yang berkolaborasi malam itu. Ia tegang, tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Untungnya Sasuke tiba-tiba berdiri.
"Aku akan kembali bekerja. Kau bisa tidur di sini, pakai saja selimut yang kuberikan padamu."
Ino mendongak, memerhatikan Sasuke.
"Kau juga harus bangun pagi kan? Aku juga tidak mau menghalangi dan mengganggu pekerjaanmu."
Gadis itu tersenyum canggung, "ya, tentu saja!" Bersaamaan dengan itu, ia juga ikut berdiri namun dicegah Sasuke.
"Kau duduk saja," ujar Sasuke yang tersenyum simpul kemudian berlalu ke ruangan kerjanya yang kali ini tidak membiarkan pintunya terbuka lagi.
Ino menghela napas. Baginya meskipun Sasuke kasar, seenaknya dan dingin, sebenarnya ia tidak seperti itu.
"Sebenarnya dia itu orang baik," gumam Ino yang selanjutnya merapikan sofa yang sebelumnya diberi bantal dan selimut oleh Sasuke kemudian mematikan lampu ruangan. Ia berbaring di sofa menghadap ruang kerja Sasuke, memerhatikan cahaya yang masuk dari celah pintu kemudian menutup matanya.
Selama mencoba untuk tidur, Ino merasa suara yang ditimbulkan saat Sasuke bekerja tidak se-berisik sebelumnya. Kali ini lebih tenang, seakan berusaha untuk tidak mengganggu Ino istirahat.
Ditemani suara hujan yang mulai mereda, Ino terlelap.
.
.
.
"Ngg—" Gadis itu terduduk, ia melihat ke arah jendela yang masih gelap—tanda masih malam. Dan disaat bersamaan, ia tersadar sudah ada selimut yang membungkus tubuhnya yang semula terlelap tanpa menggunakan selimut.
Sepertinya Sasuke menyelimutiku saat tidur, ujarnya dalam hati.
Ia berdiri untuk melihat keadaan Sasuke di ruang kerjanya. Saat berada di sana, ia menemukan Sasuke tertidur di kursi dan menempatkan kepalanya di atas lengan yang disilangkannya di atas meja kerjanya yang telah dirapikan sebelumnya.
Ino mencelos, Sasuke membiarkannya tidur di tempat ia biasa istirahat sedangkan Sasuke sendiri tertidur di ruang kerjanya. Merasa bersalah, ia bertekad untuk membangunkan Sasuke dan menyuruhnya tidur di sofa ruang tengah.
Ino menepuk pundak Sasuke.
"Uchiha-san, tidak baik kalau kau tidur seperti ini. Aku sudah bangun, kau tidur di sofa saja."
"Ngg—"
"Uchiha-san, bangun!"
Ketika Ino melihat mata Sasuke setengah terbuka, ia segera menarik lengan Sasuke dan membuatnya berdiri lalu menopangnya untuk kembali ke ruang tengah. Sasuke yang berat, membuatnya jadi sedikit tidak seimbang dan terjatuh saat sudah berada tepat di depan sofa.
"Ah!"
Mereka terjatuh dengan posisi Ino membelakangi sofa yang otomatis membuat Sasuke terjatuh tepat di atasnya. Dan saat itu juga tidak sengaja bibir keduanya bertemu.
Ino membeku sesaat.
I-ini.. ciuman?!
TBC
Thanks to: pinkkeu, Mell Hinaga Kuran, shinji r (jadi Shinobu), el Cierto, Yamanaka Vale, Inori Chan, amay, Inuzukarei15 (thanks, Rei~ ada kok tindih-tindihannya *wink)
