Disclaimer : Death Note isn't mine. I'm sure you've known it.

Warning : Tidak nyambung. OOC. Violence. Bloody-scene. Bahasa kasar. Etc.


CHAPTER 03

MEMORIES


"Lawli-chan!!"

Seorang gadis belasan tahun berambut hitam panjang menoleh ke arah asalnya suara. Dia tersenyum melihat dua anak laki-laki berlari mendekatinya. Buku yang dia baca, dia taruh di pangkuannya.

"Yes, Tsuki?" tanyanya tersenyum.

Anak laki-laki berambut cokelat cemberut. "I told you to not call me 'Tsuki'! I don't like it! It makes me feel like I'm a girl!"

Anak laki-laki berambut hitam di sampingnya mendengus mengejek. "Heh. You said that, but your attitude like so."

Si rambut cokelat langsung menuding marah. "You... you bas- mmmprhp!!!" Sebuah tangan membekap mulutnya, membuatnya tak bisa menyelesaikan ucapannya.

"There, there..." kata gadis remaja itu, tangannya masih menutup mulut anak berambut cokelat. "Don't quarrel. And, haven't you promise to not swear again, Night God?"

Si rambut cokelat menunduk malu. "Sorry, Lawli..."

Gadis itu tersenyum. "Now, that's okay." Dia menepuk kepala anak berambut cokelat itu. Dia lalu menoleh ke arah anak laki-laki berambut hitam. "And, you, Beyond. Stop teasing him. As friends, you must treat at each others well. Understand?"

Kedua anak laki-laki itu mengangguk menyesal. "Yes, sis..."

Senyum gadis itu semakin lebar, dia mengelus kepala kedua anak itu. "Good boys..." Dia memeluk lututnya, mengangkat tangannya untuk menggigiti jarinya. "Now explain, why did you make noises with called me so loud?" tanyanya.

Anak berambut cokelat mengadah menatap wajah putih pucat gadis di depannya. "Is that true? Are you really going to leave this place?" tanyanya, kekhawatiran terlihat di wajahnya.

Gadis itu terdiam sesaat sebelum mengangguk. "Yes..."

Beyond terbelalak, begitu pun anak berambut cokelat di sebelahnya. "Why?! Can't you stay here with us?!" sahut Beyond terkejut, mata merahnya membara.

"Both of you know well that I can't." Gadis itu tersenyum sedih, dia menarik kedua anak laki-laki tersebut ke dalam pelukannya. "Even so... I will never forget you... you two very important to me, Beyond, Night God."

Anak berambut cokelat menyurukkan kepalanya di lehernya. "I also will never forget you, Lawli-chan. So..." Dia mengulurkan kedua tangannya untuk memegang pipi gadis tersebut, pandangan matanya serius. "When we grow up... will you marry me?"

Mata gadis itu melebar, begitu pun mata anak laki-laki berambut hitam. "He-hey! That's not fair!! Propose her isn't included in our agreement!!" protes Beyond.

Anak yang dipanggil 'Night God' menjulurkan lidahnya. "Fuck with that! Lawli is mine! Right..." Dia mencium bibir gadis itu, membuat orang yang bersangkutan dan anak di sampingnya semakin terbelalak. "...Lawli-chan?"

Beyond langsung menarik anak berambut cokelat itu menjauh dari 'sang korban'. "You son of a bitch! Don't touch MY Lawli!!" bentaknya, lalu menarik leher gadis itu dan mencium bibirnya dengan keras. "She's mine! So fuck off!!"

Night God menatapnya marah. Alisnya menaut, tangannya terkepal. "Teme..."

Suara deheman menghentikan pertengkaran dua anak kecil yang bahkan masih belum cukup umur untuk melamar dan mengakui seseorang sebagai miliknya. Mereka berdua menoleh ke arah gadis yang menjadi bahan pertengkaran mereka.

Lawliet menutup mata, helaan nafas keluar dari mulutnya. Apa yang telah dia lakukan di masa lalu sehingga membuat dua lelaki bertengkar memperebutkannya? Terutama jika kedua lelaki yang dimaksud masih berumur di bawah sepuluh tahun. Dia bukan pedophile.

"That's enough, kids." lerainya datar, dia menekan-nekan dahinya. "You twerps... Aren't you too young to propose someone? Moreover, you don't understand about it." Kedua bocah itu mau membantah, tetapi Lawliet menghentikannya. "And I'm not interested in children. I'm not a pedophile, you know."

"That's why I said that we'll get married when we grown! It's not matter again, right!" kata Night God.

Beyond mengangguk setuju. "Yes, he's right. And I'll do anything to get you, Lawli." Mata merahnya mengeluarkan tatapan menusuk.

Kedua lelaki itu saling menatap satu sama lain dengan tatapan kematian, sebelum menoleh lagi ke arah gadis yang lebih tua dari mereka itu dan berteriak.

"I love you, Lawliet!! Marry me!!"


Sepasang mata hitam kelam terbuka perlahan. Suara-suara dalam mimpinya masih terngiang di telinganya. Pandangannya menelusuri langit-langit seakan itu menarik untuk dilihat.

Helaan nafas keluar dari mulutnya. Sudah lama sekali dia tidak memimpikan hal itu. Masa lalu di mana dia bahagia sebagai remaja, mengasuh dua anak paling brilian di Wammy's House.

Beyond...

Night God...

Mengapa dia memimpikan mereka lagi? Wajar jika hanya ada Beyond di mimpinya. Tetapi, kenapa Night God juga ada di mimpinya?

Terlebih lagi...

...kenapa – dari semua saat-saat yang dia habiskan bersama mereka – saat itu yang menghantui pikirannya?

Sesuatu yang hangat menyapu wajahnya. Dia bisa mendengar deru nafas di telinganya. Kedua mata hitam itu melirik perlahan, dan sesuatu yang dia lihat membuatnya sangat terkejut.

Light...

Wajahnya sangat dekat. L berusaha menjauh dari lelaki itu, tetapi sesuatu menahannya.

Dan dia menyadari bahwa kedua tangan Light memeluknya.

Apa yang...

L menunduk, matanya melebar ketika melihat tubuhnya yang telanjang di dalam selimut.

Apa yang sebenarnya terjadi?! Bagaimana bisa dia telanja-

Bayangan-bayangan akan kejadian semalam terlintas di dalam pikirannya. Bibir lelaki itu yang melumat kasar bibirnya. Sentuhan-sentuhan hangat di tubuhnya. Kata-kata lembut yang keluar dari mulut Light. Dan sensasi luar biasa yang menjalar di dalam tubuhnya...

Ya, Tuhan...

Dia telah memberikan tubuhnya pada Light...

Telah mempersembahkan tubuhnya sendiri pada musuh di hadapannya...

...tanpa adanya perlawanan sedikit pun.

Dia benar-benar telah melanggar janjinya pada Watari...

Kenapa?! Apa dia sebegitu mabuknya sehingga dia bisa membiarkan Light menyentuhnya?!

Suara erangan membuatnya kembali ke dunia nyata. Mata Light berkedut sesaat sebelum kembali tenang dan nafasnya kembali datar. L menggeser lengan lelaki yang tertidur itu dari tubuhnya, perlahan bangkit dari ranjang, berhati-hati untuk tidak membangunkan Light.

Dia memungut pakaiannya yang tercecer di lantai, segera memakai pakaiannya, pikirannya kacau. Light... Kira telah menyentuhnya, dan dia membiarkan hal itu terjadi. Dia membiarkan tersangka utama melewati garis batas.

L berjalan keluar kamar menunduk, poni menutupi kedua matanya, menutup pintu dalam diam, meninggalkan Light tertidur sendiri di ranjangnya.


Bola mata merah mengamati keramaian yang lalu-lalang di depannya. Tulisan dan angka terlihat di atas kepala orang-orang yang lewat. Matanya kemudian menangkap sesuatu, seringaian licik terlihat di bibirnya. Dia bangkit berdiri, berjalan mengikuti seorang pria berpakaian santai keluar dari hotel.

Malam semakin larut. Semakin jauh berjalan, keramaian semakin berkurang, dan dia senang karena dengan begini semuanya menjadi lebih mudah. Dia dan pria incarannya masuk ke dalam wilayah lampu merah. Mengikuti pria itu masuk ke dalam sebuah gang kecil. Seringaiannya semakin lebar.

It's show time.

Dia mengeluarkan pisau dari lengan bajunya. Berlari secepat kilat, membekap mulut pria itu dari belakang, menusuk perutnya dan menariknya ke bawah hingga lukanya semakin lebar. Darah mengucur deras, usus terburai.

Tatapan horor menghiasi wajah pria itu, dan itu membuat sang pembunuh semakin senang. Dia menekan tubuh sang korban yang masih bisa memberontak di tanah kotor, menusuk tenggorokkannya, membuatnya tidak bisa bersuara.

Kekehan keluar dari mulut lelaki yang masih terhitung remaja itu. Cipratan darah di pipinya. "Kau tahu apa yang paling mengasyikan dan memacu adrenalin di dunia ini?" tanyanya, suaranya bernada dingin penuh kegilaan.

Pria itu tidak menjawab. Bukannya dia tidak mau menjawab, tetapi tidak bisa. Sang pembunuh itu menyeringai. "Oh, aku lupa. Kau tidak bisa bicara." Dia mengarahkan pisau itu ke wajah korbannya. "Kalau begitu, mulut ini tidak berguna lagi." Dia membuka paksa mulut pria itu, memasukkan pisau ke dalamnya, merobek dinding mulut. Tatapan ketakutan dan kesakitan tersirat di mata lebar pria itu.

Tangan pria itu perlahan terangkat, dengan tenaganya yang semakin lemah dia memukul pelipis sang pembunuh, membuatnya jatuh dari atas tubuh korban. Pembunuh itu terdiam, meludah darah sebelum menggosok darah yang mengalir di sisi bibirnya dengan punggung tangannya. Tatapan mata merah itu semakin membara.

"Brengsek." Dia beranjak berjalan mendekati korban yang tak berdaya itu, berdiri menjulang di sampingnya. "Tadinya aku ingin menikmati permainan kita, tapi terpaksa kuakhiri..." Seringaian sadis terlihat. "Karena kau telah membuatku marah."

Dia mengayunkan tangannya yang memegang pisau, mengarahkannya ke tangan yang tadi memukulnya. Darah menyembur bersamaan dengan terpotongnya anggota tubuh itu. dia beralih ke tangan satunya, lalu memotong kedua kakinya. Tawa gilanya teredam oleh suara keramaian kegiatan malam. Telinga ditebasnya. Mata dicongkel. Dada dicabik-cabik. Dan terakhir jantung, dia hadiahkan pada penguasa malam.

Angka di atas kepala korban berubah drastis sampai akhirnya menjadi nol.

Walau begitu, dia masih tidak puas.

Dia mengukir sesuatu di tubuh korbannya yang tercerai berai.

Pesan untuk sang terkasih.


Hari ini benar-benar menyebalkan.

Itulah apa yang ada dalam pikiran Light Yagami saat ini.

Bukan hanya kepalanya terasa sangat menyakitkan saat dia bangun, tapi juga dia dijauhi oleh lelaki-yang-bukan-lelaki-yang-merupakan-detektif-terhebat-seluruh-dunia.

Dan itu bukan hanya perasaannya saja. Ayahnya, dan penyelidik lainnya juga menyadarinya.

Memangnya apa yang terjadi kemarin? Sampai-sampai L begitu marah hingga sangat dingin padanya.

Terakhir yang dia ingat adalah mereka menyanyikan lagu "Whiskey Lullaby". Lagu yang sering dimainkan oleh temannya dan 'entah-siapa-itu' teman L dulu.

Kelanjutannya? Dia tidak ingat.

Memang masih samar-samar dia ingat mereka membicarakan sesuatu. Entah apa itu dia tidak tahu. Dan sepertinya saat itu dia juga menangis – wajahnya langsung merah ketika teringat hal itu. Tapi, berikutnya buram. Tidak ingat sama sekali.

Bekerja sampai malam tanpa ada orang yang bisa diajak debat itu tidak asyik.

Karenanya Light merasa hari ini sangat menyebalkan.

Dia melirik wanita di sampingnya, pandangannya perlahan menelusuri borgol yang mengikat tangan mereka berdua.

Entah cuma perasaannya saja, atau memang rantai borgolnya lebih panjang dari sebelumnya?

Kesampingkan soal sepele itu, yang penting sekarang buat Ryuuzaki mau bicara dengannya.

Dia telah memantapkan hatinya. "Anu... Ryuuzaki."

Suara roda kursi bergeser terdengar.

"Hari ini selesai. Silahkan anda semua pulang. Terima kasih atas kerja keras kalian."

L beranjak dari kursinya, menarik Light yang melongo, dan meninggalkan para penyelidik lainnya bingung.

Sepertinya akan membutuhkan kesabaran dan waktu yang lama bagi Light untuk membuat L bicara padanya lagi.


Walau teman-temannya menganggapnya bodoh, Matsuda tahu bahwa dia tidak bodoh. Karena itulah dia bisa menjadi penyelidik kepolisian. Dia hanya tidak tahu harus melakukan apa untuk membantu rekan-rekannya, karena dalam penyelidikan Kira ini ada dua orang jenius yang menanganinya. Dan sifatnya yang ceroboh telah membuat imejnya buruk di mata rekannya.

Dia tidak bodoh, tapi juga tidak sepintar L ataupun Light.

Tapi, jika berhubungan dengan kepribadian dan perasaan manusia, dia tahu dia berada di atas L dan Light.

Bukan maksudnya untuk menyombong, sih.

Dan kali ini pun dia merasakan adanya ketegangan yang terjadi antara dua mastermind penyelidikan ini.

Sepertinya Light sangat kebingungan dan kesal mengenai hal itu.

Juga tidak ingat.

Gambaran yang dia tonton di monitor semalam terlintas di kepalanya. Wajahnya berubah merah, sehingga ditatap aneh oleh orang-orang disekitarnya.

Hapus... hapus... hapus... jangan diingat lagi. Dia mengulangi kata-kata itu sambil menggeleng-geleng kepala, membuat orang disekitarnya semakin menatapnya aneh

Niatnya kemarin malam kembali ke ruang penyelidikan untuk mengambil berkas yang ketinggalan, malah menjadi menonton suatu skandal dari monitor yang terhubung dengan kamera di kamar... entah kamar siapa itu, sepertinya cuma kamar kosong.

Mungkin bagi kebanyakan orang itu sudah biasa (yah... pemikiran orang zaman sekarang), tapi kasusnya, yang melakukannya adalah Light dan L.

L.

Detektif antisosial itu.

Mungkin yang namanya alkohol itu benar-benar bisa mengubah seseorang, ya.

Ya... dia tahu mereka berdua mabuk ketika melakukan itu. Karena kalau tidak mabuk pastinya hal itu tidak akan pernah terjadi.

Entah apa yang akan terjadi jika Komandan Yagami melihat rekaman itu.

Mungkin beliau akan masuk rumah sakit lagi.

Dan Watari. Apa Watari melihatnya?

Tapi, yang membuatnya gelisah adalah...

Misa.

Bagaimana jika Misa mengetahui hal itu. Mungkin dia akan marah dan menangis.

Dia heran kenapa Light menjadikannya pacar, dia tahu bahwa anak komandannya itu tidak mencintainya.

Apa karena kasihan? Kalau begitu, tidak adil bagi Misa.

Aaaah...!!! Matsuda mengacak-acak rambutnya frustasi. Mungkin lebih baik jika dia rahasiakan saja mengenai hal itu. Dengan begitu tidak akan ada korban jiwa.

Matanya tanpa sengaja menangkap seseorang yang tengah berjalan di taman yang akan dia lewati.

Ryuuzaki?

Kenapa dia ada di sini?

Dia berlari mendekati orang itu. Tangannya terangkat, siap untuk menepuk bahunya.

"Hei, Ry-!" sapaannya terhenti ketika orang itu berbalik. Tatapan mata merah yang tajam menyambutnya. Saat itulah instingnya berteriak.

Lari! Dia berbahaya!

Orang itu terdiam menatap Matsuda sesaat sebelum tersenyum. "Maaf, ada apa?"

Matsuda tersentak kembali ke dunia nyata. Dia menarik tangannya dari bahu orang itu. Saat itulah dia menyadari bahwa tubuh orang itu terlalu bidang, walau wajahnya agak mirip dengan L.

Dia tertawa gugup, menggaruk belakang kepalanya. "Ah... ma-maaf. Salah orang. Saya pikir anda Ryo, teman saya."

Ryo? Kenapa dia tidak bilang "Ryuuzaki"? Dalam hati dia bingung.

"Hm..."

Matsuda membungkuk. "Gomen."

"Tidak apa-apa."

Matsuda menegakkan tubuhnya setelah mendengar ucapan orang itu.

"Baiklah. Kalau begitu saya pergi." Matsuda berlari pergi. Dia berbalik, masih sambil berlari, mengangkat satu tangannya. "Sekali lagi, Maaf!!" teriaknya.

Dia berbalik lagi, dan berlari menuju ujung taman. Tapi, kali ini dia merasakan ketakutan yang teramat sangat karena bisikan samar dari lelaki itu.

"Sampai bertemu lagi, Matsuda-kun."

Karena dia tidak pernah memberitahu namanya.

TBC...

A/N :

Author : (tepar dengan kepala di atas meja)

Malaikat Light : HELP!!! AUTHOR KO'IT!!!

Kira&Mello : SUMPE LO!!! (memeriksa Author. Sembah ke arah kiblat) SUJUD SYUKUR PADA SHINIGAMI!!!!

Semua : (sweatdrop)

BAKA! BAKA! BAKA! BAKA! BAKA! BAKAAAAA!!!!

Kira&Mello : (terbang sampai ke langit ketujuh karena serangan telak Baka Gun™)

Malaikat Light : A-apa itu tadi?

Author : (duduk, tangan memegang Baka Gun + death glare) Thanks, Imai. (Memberikan segepok uang pada Hotaru Imai©Gakuen Alice) Berandal itu memang harus dikirim ke Mars.

Hotaru : (stoic) No prob.

Author : (berdehem) Maaf atas gangguannya. Dan di bawah ini adalah jawaban dari review anda semua.

-

To Death Angel : Arigatou gozaimasu.

Matt : Wow... pereview pertama.

Author : Begitulah... lagu "Whiskey Lullaby" memang enak. Oh! Saya lupa menulisnya di disclaimer chapter sebelumnya. "Whiskey Lullaby" milik dan telah dicopyright Brad Paisley. Juga... mengenai siapa teman Light dan L yang menyanyikan lagu itu... bisa ditebak, kan?

-

To Li Chylee : Thanx a lot.

Malaikat Light : Hei!! Gw nggak pervert!! Si jahanam itu yang pervert!!

Author&Matt : (melirik Light) Terus, yang elo lakuin ke L antara chapter sekarang dan chapter sebelumnya itu bukan termasuk perbuatan pervert?

Malaikat Light : (speechless)

Author : Tidak apa-apa anda membayangkannya ini adegan yaoi. Saya tidak keberatan. Anda bebas membayangkan apa L itu lelaki atau perempuan.

Matt : Jelas aja kalo dia ngebayangin L itu cowok, emang aslinya gitu.

-

To Hinaruto Youichi : Thank you very much.

Author : Ya, ya. Akan saya rubah fic ini menjadi rate M di chapter depan karena menurut saya memang lebih mudah menulis adegan pembunuhan secara detail bila begitu. (BB smirk)

Matt&Light : (melirik Author) Dasar psycho...

-

To kazuazul : Terima kasih banyak.

Author : Yah... saya juga menyadari bahwa chapter tidak nyambung. Dan terima kasih atas pujian anda.

Matt : Sama sekali nggak nyangka banyak yang suka sama fic jadul gini.

Author : (panah nancep di kepala)

-

To cassie-HAIKU : Terima kasih.

Matt : (merokok, melirik Author yang sulking di pojokan) Kenapa dia?

Malaikat Light : (sweatdrop, ketawa garing) Ahaha... dia habis download dan membaca Chocotini Rendezvous.

Matt : Terus?

Malaikat Light : Dia syok berat karena memang adegannya agak nyerempet.

Matt : Hum...

-

To Ichimaru Akito : Thank you so much.

Matt : (melirik Light) Light...

Malaikat Light : A-apa?

Matt : Dia tanya apa maksud kata-kata "Kumohon... izinkan aku menyentuhmu... tolong peluk aku... singkirkan bekas-bekasnya dari tubuhku..." yang elo ucapin.

Malaikat Light : (mengangkat sebelah alis) Kapan aku bilang begitu?

Matt : Waktu lu mabuk kemarin.

Malaikat Light : He? Kapan?

-

To Hana Hirogaru : Sankyuu.

Malaikat Light : Siapa menyiksa siapa?

Matt : (stoic) L nyiksa elo.

Malaikat Light : Whut?

-

To CCloveRuki : Gracias.

Malaikat Light : (mengguncang bahu Author) Hei... ada pertanyaan tuh...

Author : Adegan itu tidak diperlihatkan karena rating fic ini masih T. Dan saya senang bila anda menyukainya.

-

To Grey13 : Thanx.

Matt : Singkat, padat, dan jelas.

-

To jyasumin-sama : Thank you very much.

Malaikat Light : Siapa itu Ulquiorra?

Matt : (shrugged) Dunno.

-

To MihaelChocolate : Terima kasih.

Author : Tenang. Sebelum Kira melakukannya, Light yang embat duluan. (melirik Light yang blushing) Untuk anak-anak Wammy... saya baru munculkan dua di chapter ini dan mungkin akan bertambah seiring berlalunya waktu dan chapter. (ditabok Light dari belakang)

Malaikat Light : Balik lagi jadi Scarlet, gih! Nggak mood ngeliat lu, Noir.

Author : (Gaya cowok narsis) Gimana lu tau kalo ini gw?

Malaikat Light : Tampang lu bikin sumpek.

Author : (mata lebar) Gimana bisa lu bilang gitu?!! Wajah gw ini wajah yang nggak kalah cakep dari Athrun Zala en nggak kalah adorable dari si detektif panda, L!!

BAKA! BAKA! BAKA!!

Author : (tepar)

Matt : (megang Baka Gun) Lumayan juga, nih.

-

Malaikat Light : (bows) Terima kasih telah membaca fic yang tidak ada apa-apanya ini. Author sangat menghargainya.

WUUAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!

BRUK!! GEDUBRAK!!! SIIIIING!!!!!!!! BUUUUUM!!!!!!! BRAK!!!!!

Light&Matt : (terdiam terpaku menatap adegan jatuh Kira&Mello dari Mars yang melibatkan Author yang tepar di bumi. sweatdrop)

Hotaru&Mikan : (memegang spanduk bertuliskan "Please Review if don't mind")

...

....

.....

With crimson camelia,

-

Scarlet Natsume.