A Sunflower

Rated: T

Genre: Romance

Pairing: Naruto.U & Hinata.H

Naruto by Masashi Kishimoto

A sunflower by Haruchii-Yazumi

Enjoy reading

"Jika Jiraya-san itu mempunyai anak bernama Minato Namikaze, berarti Jiraya-san itu kakek dari pihak ayah Naruto Uzumaki?" Tanya Ino, Sakura dan Tenten hanya mengangguk. Mereka terus berjalan hingga menemukan seorang gadis yang mereka kenal sedang tergeletak di tanah dengan luka yang banyak.

"Hinata?!" Ujar Sakura, Tenten dan Ino bersamaan.


"Kita sebaiknya membawanya ke penginapan kak Shizune saja, lagi." Ujar Sakura. Ino dan Tenten'pun hanya mengangguk singkat lalu membawa Hinata ke penginapan Shizune yang belum begitu jauh. Sampai di depan penginapan tersebut mereka melihat penginapan itu sangat sepi. Mereka berempat pun masuk ke dalam penginapan tersebut.

"Kak Shizune! Kami ingin meminta bantuanmu! Apa kau bisa membantu kami?" Ucap Sakura dengan suara yang sedikit dikeraskan.

"Aneh, tidak ada kak Shizune dimana pun." Ucap Ino saat keluar dari sebuah ruangan.

"Hhh, apa boleh buat kita rawat Hinata di sini. Mungkin kak Shizune sedang pergi ke desa." Ucap Sakura. Tenten dan Ino pun hanya mengangguk. Mereka menaruh Hinata di sebuah sofa tua.

"Ini, tadi aku menemukan kotak P3Kdengan isi obat, perekat luka dan perban. Kurasa ini bisa di gunakan." Ujar Ino sambil menyerahkan sebuah kotak kepada Sakura. Sakura pun langsung menerima kotak itu dan mulai mengobati luka-luka di sekujur tubuh Hinata. Sudah 1 jam Hinata pingsan dan sampai sekarang ia belum sadar-sadar juga. Sakura, Ino dan Tenten pun tertidur.

'Cklek!'

Sakura yang mendengar suatu suara pun terbangun. Ia membuka matanya dan melihat seorang wanita berambut pirang sedang menengok ke kiri kanan.

"Siapa kau?!" Tanya Sakura ketika seluruh kesadaran nya terkumpul. Tampak wanita itu sedikit terkejut ketika tiba-tiba mendengar suara Sakura. Wanita itu terdiam di tempatnya.

"Bukan urusanmu." Jawab wanita itu mulai berjalan ke arah salah satu kamar.

"Kau maling ya?!" Tanya Sakura membuat wanita itu terdiam kembali.

"Apa maksudmu bocah? Aku ini pemilik penginapan ini!" Ujar wanita pirang itu dengan kesal.

"Bohong! Kalau begitu dimana kak Shizune?! Kau pasti menyembunyikannya, 'kan?!" Ucap Sakura dengan suara yang sangat keras, membuat Ino dan Tenten terbangun.

"Ada apa ini?" Ucap Tenten dengan suara sedikit serak.

"Hoam, aku masih ingin tidur." Gumam Ino sambil menguap.

"Tsunade-sama? Anda sudah pulang?" Tanya Shizune yang muncul dari pintu depan sambil menenteng beberapa kantong belanjaan.

"Kak Shizune?!" Ucap Sakura terkejut ketika melihat Shizune muncul dari pintu depan sambil menenteng kantong belanjaan.

"Iya. Siapa bocah ini, Shizune?" Tanya Tsunade, wanita pirang itu, sambil menunjuk ke arah Sakura.

"Ah, Sakura maksud Tsunade-sama? Dia tamu di sini." Jawab Shizune sambil menaruh belanjaan nya di meja yang terdapat di situ.

"Oh, jadi bocah ini namanya Sakura." Ucap Tsunade. Shizune mengangguk.

"Kak Shizune kenal dengan wanita ini?" Tanya Sakura.

"Iya, Tsunade-sama itu pemilik penginapan ini." Jawab Shizune sambil tersenyum pada Sakura. Sakura pun hanya bisa terdiam.

"Jadi sebenarnya aku salah paham?" Pikir Sakura dengan muka yang memerah karena malu.

"Sudah lah, apa tujuan kalian kesini? Kulihat seperti nya kalian ingin meminta tolong." Ujar Tsunade. Tenten pun mengangguk.

"Iya, apa kami bisa menginap lagi di sini?" Tanya Tenten. Kali ini giliran Shizune yang mengangguk.

"Ya, silahkan." Ucap Shizune.

Malam hari nya.

Sakura, Tenten dan Ino kini sudah tertidur pulas di sebuah kamar penginapan milik Tsunade, tapi lain dengan Hinata. Kelopak mata nya kini terbuka memperlihatkan mata lavender nya yang indah. Ia pun langsung duduk di pinggir kasur nya dan memegang kepala nya yang di perban. Hinata merasa kepala nya sangat pusing, mungkin karena ia sudah tidur dalam jangka waktu yang cukup lama. Setelah merasa rasa kepala nya sudah tidak begitu sakit, ia langsung turun dari kasur tersebut dan berjalan dengan pelan ke arah pintu agar tidak membangunkan ketiga teman nya yang sudah menyelamatkan nya tadi.

"Naruto..." Gumam Hinata sambil keluar dari kamar tersebut dan berjalan keluar dari penginapan tersebut.

"Bagaimana caranya aku bisa menolongmu dengan sendirian?" Tanya Hinata pada dirinya sendiri. Tiba-tiba Hinata merasa pundaknya di tepuk oleh seseorang, otomatis ia segera menengok ke belakang dan melihat seorang pria berambut putih yang terlihat sedang tersenyum lebar.

"Apa tadi kau menyebut nama 'Naruto'?" Tanya pria itu, Hinata hanya mengangguk lemas.

"Bagaimana ciri-cirinya?" Tanya pria itu lagi, Hinata terdiam. Ia heran mengapa pria itu menanyakan ciri-ciri Naruto, tetapi karena tubuhnya masih lemas dan pikiran nya kacau ia hanya bisa terdiam.

"Tenang saja, Aku bukan orang yang jahat, kok!" Ujar pria tersebut, ketika menyadari tatapan heran Hinata.

"...Dia berambut pirang dan bermata biru laut juga berkulit tan." Jawab Hinata, ketika yakin pria tersebut bukanlah musuh.

"..."

Pria tersebut terdiam beberapa saat lalu kembali tersenyum lebar.

"Aku akan membantumu untuk menolong teman mu itu." Ujar pria tersebut.

Di lain tempat.

"Lepaskan aku, brengsek!" Teriak seorang pemuda bermata biru laut terhadap pemuda di depan nya. Rambut pirang nya yang biasa mencuat kini menjadi lurus karena basah. Kulit tan nya juga terdapat beberapa luka sayatan. Kedua pergelangan tangan nya di ikat dengan kencang, begitu pula dengan kedua kakinya.

"Tidak akan sampai kau menyerahkan Kyuubi pada ku." Ucap pemuda tersebut.

"Tak akan!" Ucap Naruto, nama pemuda pirang tersebut dengan kesal.

"Heh, apa boleh buat. Kalau begitu kau tunggu saja hingga gadis lavender itu menolongmu. Tapi aku yakin gadis itu tidak akan bisa bertemu dengan mu lagi." Ujar pemuda berkacamata, Kabuto, sambil pergi dari situ. Mendengar kalimat-kalimat terakhir Kabuto membuat Naruto teringat pada Hinata. Sebelum Naruto di bawa ke sini, ia dan Hinata sempat melawan Kabuto dkk. Tetapi sayang nya mereka kalah dan tertangkap, sebenarnya hanya Naruto yang di tangkap dan di bawa ke tempat laknat ini. Sedangkan Hinata dibiarkan pingsan di situ dengan kondisi parah. Mengapa mereka kalah? Itu karena Kabuto membawa hampir seluruh bawahan nya.

"Sialan kau, Kabuto, Orochimaru!" Geram Naruto, kesal. Kabuto yang belum terlalu jauh dari tempat Naruto mendengar geraman Naruto. Ia hanya menyeringai.

"..." Sepi, itu yang dirasakan Naruto. Rasa perih akibat luka sayatan Kabuto semakin terasa ketika udara malam yang dingin menusuk kulit tan Naruto yang tak terbalut apapun. Ia hanya memakai sebuah celana jeans sebagai penghangat tubuhnya. Baju yang tadi ia pakai kini sudah menjadi potongan-potongan kain yang berada di bawah kaki Naruto. Mata biru laut nya menatap ke sebuah jendela kecil yang berada di atas ruangan gelap tersebut. Satu-satu nya jendela sebagai penerang ruangan tersebut dan satu-satu nya akses keluar masuk udara. Bayang-bayang Hinata, gadis cantik bermata lavender dan berambut indigo panjang tersebut kini selalu berada di pikiran Naruto. Naruto memejamkan mata nya.

"Hinata..." Naruto menggumamkan nama gadis bermata lavender tersebut.

"Naruto-kun! Naruto-kun! Apa kau baik-baik saja?" .

Naruto kini mendengar suara Hinata yang lembut tersebut bertanya padanya. Hhh, mungkin saja Naruto terlalu memikirkan Hinata hingga berhalusinasi mendengar suara Hinata.

"Naruto-kun!"

Oke, kini Naruto merasa suara tersebut bukanlah halusinasinya melainkan suara asli Hinata!

"Hi-Hinata...?" Tanya Naruto ketika melihat Hinata yang sedang berdiri di depan pintu terali ruangan tersebut.

"Naruto-kun... Tunggu sebentar aku akan masuk ke dalam!" Ujar Hinata sambil membuka pintu terali tersebut. Hinata masuk ke ruangan tersebut dan langsung memeluk erat Naruto. Butiran-butiran air mata berjatuhan dari mata lavender Hinata.

"Hiks.. Hiks.." Isakan-isakan Hinata terdengar jelas di ruangan yang sunyi dan lembab tersebut. Seorang pria berambut putih ikut masuk ke dalam ruangan tersebut dan membuka ikatan tali pada pergelangan tangan dan kaki Naruto. Ketika merasa tangan dan kaki nya sudah bisa bebas bergerak, ia balas memeluk Hinata dengan erat. Seolah jika ia melepaskan Hinata, ia akan berpisah dengan Hinata selama nya.

"Kenapa kau bisa ada di sini?" Tanya Naruto ketika merasa Hinata sudah mulai tenang dan sudah tidak terisak lagi meskipun air mata Hinata masih mengalir pelan.

"A-aku dibantu oleh Pa-paman itu.." Jawab Hinata sambil menunjuk pria berambut putih. Naruto menengok ke arah pria berambut putih dan tersenyum lebar.

"Terimakasih, Paman!" Seru Naruto. Pria tersebut ikut tersenyum lebar.

Mirip! Senyuman itu sangat mirip.

"Sama-sama, kurasa sebaiknya kita cepat-cepat pergi dari sini. Karena Orochimaru pasti akan membunuh kita jika melihat kita." Ujar pria tersebut, Naruto dan Hinata pun mengangguk. Mereka segera keluar dari tempat itu dan menuju hutan bagian terdalam yang jauh dari tempat Orochimaru.

Tak lama setelah mereka pergi, Orochimaru dan Kabuto menuju ruangan tersebut dan mendapati ruangan kosong. Potongan-potongan tali yang dipakai Naruto tadi, kini sudah berada di lantai ruangan gelap tersebut yang lembab.

"Sialan, dia kabur!" Desih Kabuto.

"Bagaimana ini, tuan Orochimaru?" Tanya Kabuto. Orochimaru hanya terdiam, lalu ia menyeringai.

"Tidak apa, kita biarkan saja mereka untuk saat ini." Ucap Orochimaru.

Di sebuah rumah

Tampak Naruto dan Hinata sedang duduk di sebuah bangku. Hinata sedang membantu Naruto untuk mengobati luka nya, sedangkan pria berambut putih itu sedang memasak sesuatu.

"Ini, silahkan dimakan. Kurasa kalian belum makan." Ucap nya sambil tersenyum pada Naruto dan Hinata.

"Terimakasih banyak, Paman." Ujar Naruto dan Hinata bersamaan.

"Sama-sama... Namaku Jiraya, kalian?" Pria berambut putih tersebut mulai memperkenalkan diri.

"Aku Hinata Hyuuga dan dia Naruto Uzumaki," Hinata memperkenalkan dirinya dan Naruto.

"Jiraya...? Haha, seperti nama kakek ku." Ucap Naruto sambil tertawa.

"Oh, ya? Haha, aku juga punya cucu bernama Naruto." Ucap Jiraya sambil tertawa pelan.

"..."

"HAH?!"

.

.

.

TBC

A/N: Halo, semua! Lama tak berjumpa, kini Haruchii kembali lagi. Maaf saya baru bisa update sekarang. Saat membuat chapter ini, Haruchii kena banyak gangguan. Pertama, Haruchii sudah mulai ujian dan yang kedua saya kehabisan ide untuk membuat kelanjutan chapter ini. Tapi saya merasa sangat senang membaca review dari para reader's yang masih mau membaca fic yang bertaburan banyak Typo dimana-mana.

Special thank's for:

dewasetia, kirei- neko, Daehyuk Shin, Kaze no Nachi, orchideeumi, Kazenokami123, livylaval, Bayern munchen, Munchen, Nitya-chan .

Terimakasih banyak atas review kalian dan maaf jika ada kesalahan dalam penulisan nama.

Sampai jumpa di chapter selanjut nya ya..