Part 3

Kris sama sekali tidak mendengarkan wejangan-wejangan dari paman Hwang-nya yang mana menurutnya justru merugikan dirinya. Adik dari ayahnya itu memang gila harta, ia-pun mempekerjakan pamannya itu di Woonam hanya karena ia kasian melihat keluarga pamannya jatuh miskin sehabis perusahaan kecil milik pamannya itu pailit.

Alih-alih, Kris malah terus memandang kaca ruangannya yang terhubung langsung dengan balkon favoritnya. Ia sangat-sangat bersyukur karena orang yang dipandangnya dibalik kaca besar itu, sama sekali tidak menyadari keberadaannya. Ya, kaca itu memang tidak tembus pandang, seperti kaca-kaca yang banyak kita jumpai di ruang interograsi kepolisian.

Sadar akan Kris yang sama sekali tidak menghiraukan perkataannya, paman Hwang akhirnya undur diri. Ini sudah lewat lima belas menit, dan Kris lega akhirnya paman gila hartanya itu membiarkannya seorang diri menikmati makan siangnya. Errr, sebenarnya tak sepenuhnya sendiri, karena di balik kaca itu, Junmyeon juga sedang menikmati makan siangnya.

Kris sama sekali tak paham mengapa ia bersikap seperti ini. Bahkan kemarin ia sengaja memasang penghangat di balkonnya agar Junmyeon bisa makan tanpa kedinginan.

Melihat Junmyeon yang sudah memakan hampir setengah dari makan siangnya, sang CEO-pun segera menempati tempat duduk yang sudah ia setting tempat di samping Junmyeon—yang tentu saja tidak disadari oleh Junmyeon. Lalu ia membuka kotak makan siangnya dan mulai melahap isinya. Katakan saja Kris bodoh, tapi hanya dengan ini ia tidak kesepian lagi.

Cinta itu lahir dari rasa nyaman setelah kesepian melanda.

.

.

.

Di hari sepagi ini, Kris sudah sudah bersiap di jok belakang Bentley-nya, lengkap dengan Sehun yang sibuk mempresentasikan aplikasi baru yang akan dibuatnya. Sehun berulang kali mengomel saat ia bercerita perihal paman Hwang yang sangat-sangat tidak menyetujui proposal yang ia ajukan kemarin.

"Aku heran, sampai kapan paman Hwang akan mendesak kita? Perusahaan ini milikmu dan Jessica kan, bukan miliknya."

"Biarkan saja ia melakukan hal yang ia suka."

"Kalau aku jadi kau, sudah kupecat dia. Bagaimanapun, dia tidak ada hak di Woonam."

"Dia mungkin masih menganggap dia adalah waliku."

"The hell, Kris. Kau bahkan sudah lebih dari dua puluh lima tahun sekarang."

"Dua puluh lima tahun, masih cukup untuk dianggap kecil olehnya. Lagipula ia lebih berpengalaman dalam bisnis daripada aku."

"Dia kehilangan perusahaannya sendiri, dan kau menganggap ia berpengalaman?!"

Kris menoleh dengan seringainya.

"Berpengalaman, bukan berarti lihai, kan?"

Sehun tertawa. "Sudah kuduga kau akan tetap mengatainya."

"Paman Hwang tidak akan pernah puas dengan harta yang ia miliki, makanya ia seperti itu.." Kris menatap jalanan dari balik kaca mobil. "Melihat paman Hwang, kadang aku berpikir, apakah jaman sekarang, susah untuk mencari orang sederhana yang bisa bahagia meski tanpa harta berlimpah. Namun baru-baru ini aku menemukan orang sederhana itu, dan kembali berpikir, sebenarnya apa maksud paman Hwang yang selalu terobsesi dengan uang, apabila kebahagiannya itu bisa diraih dengan kesederhanaan?"

"Hey, kita kan membicarakan pekerjaan, tapi kenapa kau jadi melankolis begini?"

Kris tak menjawab.

"Ada yang kau sembunyikan dariku, ya?!"

"Jangan ngawur, Sehun-ahh."

"Aku benar kan? Lihat saja, cepat atau lambat, aku pasti akan menemukan itu!"

"Coba saja. Faktanya aku tak menyembunyikan apa-apa. Hentikan perkataan ngawurmu itu."

"Arasso, arasso. Kalau itu maumu. Tapi ingat, sepandai-pandainya orang menutup bangkai, toh pada akhirnya akan tercium juga, iya kan, Kris?"

Oh, betapa Kris ingin meracuni Sehun sekarang juga.

.

.

.

Langkah kaki Sehun berderap kencang ketika ia memasuki ruangan Kris dengan muka kesal. Baru satu jam yang lalu, pria itu menandatangani project Energy Life seri kedua miliknya, tetapi mendadak saja Kris memanggilnya lagi.

"Apa lagi, Tuan Kris?" dumel Sehun.

Kris mengisyaratkan Sehun agar duduk di depannya.

"Aku baru saja memeriksa data karyawan, dan aku mendapati ada satu karyawan yang hingga saat ini baru sekali mengakses aplikasi Energy Life-mu itu."

Sehun menatap bingung, dan dengan cepat ia merebut ipad yang tergeletak di meja kerja atasannya itu. Sayangnya, Sehun kalah cepat dari Kris yang tanpa pikir panjang langsung mengamankan ipadnya.

"Pecat saja karyawan satu itu." kata Sehun, asal.

Kris memandang Sehun dengan tatapan tajam.

Sehun memberengut. "Lalu dimana masalahnya? Karyawan itu sudah menyalahi aturan perusahaan yang mewajibkan untuk memakai semua aplikasi yang telah dibuat oleh Woonam. Di saat semua karyawan sudah memenuhi kewajiban itu, hanya satu karyawan saja yang tidak. Jelas kesalahan itu terletak padanya, kan?"

"Aku tak mau tahu, kau selidiki dulu, apa ada yang salah dengan aplikasimu itu, lalu kau perbaiki proposal Energy Life versi duamu baru kutandatangani lagi."

"Tapi…"

"Lakukan itu, atau kau kupecat, Oh Sehun."

Tetapi Sehun justru tertawa, "Kau kurang waras, oh?"

Kris melotot.

"Seingatku, Energy Lifeku baik-baik saja tadi pagi, tapi kenapa kau mendadak berubah pikiran begini, hmm?" Sehun lalu menyelinap dan merebut ipad yang disembunyikan Kris di sela-sela kursi dan tubuhnya.

"Oh Sehun, kau ingin mati, oh?!"

"Setidaknya beri aku penjelasan siapa orang yang berani-beraninya tidak memakai aplikasiku."

Kris terus mempertahannya ipadnya, namun nasib berkata lain. Sehun dengan senyum penuh kemenangannya sudah lebih dulu berhasil merebut benda pipih tersebut. Dan betapa kagetnya Sehun setelah mengetahui siapa karyawan yang dimaksud Kris tadi.

"Kau benar-benar jatuh cinta padanya, ohng?" cibir Sehun.

"Jaga pikiranmu, Oh Sehun. Aku sedang tidak jatuh cinta dengan siapapun sekarang."

Kris merebut iPadnya lagi sebelum Sehun mengexplore gadget miliknya itu lebih jauh lagi.

.

.

.

Sooyoung sedang menulis laporannya ketika Kris keluar dari ruangannya, dan betapa terkejutnya Kris saat melihat kotak makan siang milik Junmyeon yang masih tergeletak di meja Sooyoung. Sekretarisnya itu segera menyadari keberadaan Kris dan menyapanya dengan penuh hormat.

"Kenapa makan siang Junmyeon masih di sini?"

"Oh ini…" Sooyoung menyentuh permukaan kotak makan Junmyeon. "Junmyeon-ssi sedang berada di ruangan Sehun-ssi, dan saya pikir mereka akan melewati makan siang di sana sembari merapatkan sesuatu. Saya akan mengantarkan kotak makan ini untuk makan malam Junmyeon-ssi di rumah nanti, sajangnim."

Kris termangut dengan muka tertekuk.

Kemudian dengan langkah tergesa, Kris menuju ruangan Sehun. Untung saja ruangan Sehun hanya dilapisi kaca yang tembus pandang. Kris hanya bisa menatap tajam Sehun yang terlihat sangat akrab dengan Junmyeon. Terkadang Kris sebal dengan dirinya sendiri yang tidak pandai bergaul, juga Sehun yang kelewat supel.

Sehun mencibir ketika mengetahui Kris yang memata-matainya. Dan dengan sengaja ia mendekatkan bibirnya ke telinga Junmyeon. Dan tawa Sehun di dalam hati mengeras ketika Kris dengan kesal berbalik menjauhi ruangannya.

"Pria bodoh."

"Eh? Siapa?" tanya Junmyeon dengan mata membesar. Ia kemudian menengok ke segala penjuru, mencari pria yang dimaksud oleh atasannya itu.

"Tidak ada siapa-siapa, Junmyeon-ahh. Ayo, kita makan siang. Kutraktir kau siang ini."

"Kau serius, Cool Hun?"

Sehun mengangguk.

Katakan Junmyeon gila karena ia mengira Sehun mengajaknya kencan sekarang.

.

.

.

Kris kembali ke kantornya dan tanpa menyadari bahwa ia memukul meja sekretarisnya dengan kencang. Sooyoung yang kebetulan siang itu membawa bekal tentu saja kaget dan hampir saja memuntahkan makanan yang ada di mulutnya.

"Nde, sajangnim?" tanya Sooyoung setelah ia meminum seteguk air.

"Berikan aku undangan pesta kelahiran bayi Jessica sekarang juga.

"Ne?"

"Berikan sekarang juga, atau kupecat kau!"

Sooyoung bahkan melupakan makan siangnya begitu saja dan sibuk mencari undangan yang dimaksud oleh atasannya itu.

.

.

.

Junmyeon berjalan riang, menyenandungkan kidung gembira, karena siang tadi ia berhasil melepaskan diri dari kutukan hati babi—yang membuatnya menjadi bulan-bulanan seluruh karyawan kantor selama dua minggu ini. Dan lagi, makan siangnya bersama Sehun berjalan dengan sangat-sangat menyenangkan.

Semula, Junmyeon mengira Sehun akan memarahinya perihal aplikasi Energy Life, namun nyatanya pria tinggi, tampan, dan ramah—satu-satunya hal yang membedakan Kris dan Sehun, itu justru mengajaknya berdiskusi untuk memperbarui versi Energy Life yang lebih gampang dan mudah ditelaah oleh orang gagap tekhnologi sepertinya.

Tapi tunggu dulu, bukan Kim Junmyeon namanya bila ia tidak mendapatkan kesialan, kan? Junmyeon hampir saja tidak melihat Sooyoung yang sedari tadi menungguinya di pintu keluar. Di tangannya terdapat sebuah rantang—Junmyeon mengenalinya sebagai kotak makan siang dari sajangnimnya—juga seamplop surat. SURAT?! Mata Junmyeon membola, apa itu surat pemecatannya? Apa sajangnimnya akan memecatkan karena ia melewatkan makan siangnya dengan Cool Hun dan melupakan bekal hati babi itu?

Di tengah kemelut itu, Sooyoung datang menyapa Junmyeon—yang bahkan lebih pendek dari Sooyoung, yang memakai heels 10 centinya itu—dengan senyum dan muka ramah.

"Junmyeon-ahh!" Sooyoung mengibas-ngibaskan amplop di tangannya.

Junmyeon juga terpaksa tersenyum dan membalas sapaan Sooyoung.

"Hai…"

"Tadi kau melewatkan siangmu di ruang Sehun-ssi, dan aku sudah mengira akan makan siang bersama sembari membahas pekerjaan. Jadi, bekal hari ini, bisa dijadikan untuk makan malammu!" gadis semampai itu menyodorkan rantang bekalnya, diikuti dengan erangan kecewa Junmyeon di dalam hati.

"Terima kasih. Maaf merepotkan." Junmyeon membungkuk, masih dengan senyum terpaksanya.

"Oh, dan ini ada titipan dari sajangnim." Sooyoung juga menyodorkan amplop yang ada di tangannya.

Junmyeon yang berkeringat dingin segera mengambil amplop itu dari tangan Sooyoung. Dibukanya perlahan amplop itu, dengan hati berkomat-kamit mengucapkan doa-doa positif. Dan alangkah terkejutnya Junmyeon, setelah membaca nama Jessica dan Shim Changmin di dalam amplop tersebut.

"Ehh?" Junmyeon tak dapat menyembunyikan raut kagetnya. "Perayaan kelahiran Shim Yoojung?"ia kemudian menatap Sooyoung yang masih setia dengan senyum ramahnya.

"Ya. Sajangnim mengundangmu secara langsung pada acara itu. Dan sajangnim sangat mengharapkan kedatangnmu, Junmyeon-ahh" jelas Sooyoung.

Junmyeon sangat ingin menenggelamkan tubuh bantatnya di sungai Han sekarang juga, kalau saja teriakan namanya yang dikeluarkan oleh Oh Sehun tidak sampai ke telinganya. Yah, Oh Sehun. Yang baru saja turun dari elevator dan segera menghampirinya, juga Sooyoung.

"Oh?" Sehun melotot, dan dengan cepat merebut amplop undangan yang dipegang oleh Junmyeon. "Kris dan Jessica juga mengundangmu?"

Junmyeon hanya bisa mengangguk.

"Acaranya akhir minggu ini kan." gumam Sehun yang membolak-baliknya undangan itu.

Junmyeon menatap Sehun dengan mata anjingnya—berharap Sehun menemukan cara agar ia terhindar dari sajangnimnya, yang membuatnya dikelilingi oleh rumor-rumor aneh di kantor.

"Mau pergi bersama?" Sehun menatap Junmyeon, pada akhirnya.

Dan Junmyeon, tak dapat lebih bahagia dari sekarang.

.

.

.

Junmyeon merutuki kebodohannya yang tadi malam membeli bebek-bebek plasti dungu—bermerk terkenal namun harganya bisa saja menyamai jatah makan siangnya selama dua minggu itu, tanpa memikirkan membeli baju yang akan dipakainya hari ini. Junmyeon buka lelaki yang hobby berbelanja—berbeda tiga ratus enam puluh derajat dengan Baekhyun yang dengan mudahnya memenuhi lemari pakaiannya. Bukannya ia tak memiliki pakaian resmi, namun ia merasa tak pantas memakai jas jahitan ibunya pada pesta keluarga Woo yang bisa ditebaknya sangat mewah.

Maka dari itu, pada pagi buta di hari sabtu ini, ia dengan muka memelas membangunkan Baekhyun. Ia tahu persis, kemarin siang Baekhyun baru saja bertemu editornya—dan bisa dipastikan, beberapa malam sebelumnya Baekhyun pasti begadang hingga larut malam. Dan ini adalah pagi pertama dimana Baekhyun seharusnya menikmati hibernasinya. Namun Junmyeon seakaan tak peduli lagi dengan Baekhyun yang mungkin akan memarahinya, bahkan menendang bokongnya. Ia harus bisa merayu Baekhyun demi pinjaman jas resmi yang akan dipakainya nanti.

"Baekhyun-ahhhhh" Junmyeon mulai menggedor pintu kamar Baekhyun, berkali-kali, dan cukup kencang untuk membangunkan sahabatnya itu.

Tanpa diduga, Baekhyun langsung menjawab panggilannya dengan suara segar. "Ohng, masuk saja Junmyeon-ahh. Aku tidak mengunci pintu."

Tanpa buang waktu, Junmyeon bergegas masuk, dan mendapati Baekhyun yang nampak sibuk dengan iPadnya.

"Tumben kau bangun sepagi ini di hari sabtu?" kali ini Baekhyun yang justru terkaget.

"Baekhyun-ahhhhhhh…" Junmyeon mengerucutkan bibirnya dan segera menyundul-nyundulkan keningnya pada bahu sahabatnya itu. Baekhyun merinding geli, mengira Junmyeon kerasukan setan, atau parahnya, menjadi gila karena terlalu lama bekerja di perusahaan sinting semacam Woonam.

"Kau sakit?" Baekhyun menempalkan tangannya di kening Junmyeon. "Aneh, kau tidak demam kok. Tapi jelas ini bukan Kim Junmyeon yg kukenal."

Junmyeon berdecak.

"Aku akan datang ke pesta perayaan kelahiran si jabang bayi milik Jessica."

"Jessica?" tanya Baekhyun, memiringkan kepalanya kebingungan.

Junmyeon mengangguk, masih dengan bibir mengerucut. "Dia, adik Kris Woo, yang darahnya sama denganmu."

"Ohhhhhhh!" Baekhyun menganggukan kepalanya, juga. "Lalu?"

Kali ini Junmyeon meringis dan memasang mode anak anjingnya. Butuh waktu agak lama untuk Baekhyun yang lebih dulu terdiam dan berpikir, sebelum ia menebak maksud sikap aneh sahabatnya itu.

"Kau butuh kurias hari ini?"

Junmyeon mengangguk dengan semangat, yang dibalas decakan oleh bibir Baekhyun.

"Aku akan berpamitan dengan Dobby dulu, okay? Dan kau bisa memilih baju sesukamu di lemariku, sembari menungguku." Dobby adalah teman Baekhyun yang dikenalnya lewat game online. Ia sendiri pernah bertemu dengan Dobby, namun yang ia tahu, Dobby adalah seorang pria gay sepertinya.

Junmyeon menurut layaknya seekor anak anjing. Dengan langkah cepat ia berjalan menjauhi Baekhyun dan mendekati lemari besar berwarna putih itu. Dibukanya pintu lemari tersebut, dan ia tak heran lagi dengan ratusan baju yang tersusun di sana. Bahkan ada belasan kantong belanjaan yang sepertinya belum disentuh oleh Baekhyun. Junmyeon lebih tertarik pada kantong-kantong belanjaan itu, dan membawanya ke ranjang Baekhyun yang juga berwarna putih.

"Aku tak tahu kau banyak menyimpan barang-barang yang bahkan belum kau sentuh di lemarimu." Junmyeon membuka salah satu kantong kertas berwarna biru tua dengan label empat huruf, dan mendapati coat coklat berkerah bulu sintetis yang tak terlalu panjang. "Astaga, coat ini bagus sekali, Baekhyun-ahh!" serunya kemudian.

Baekhyun menoleh. "Oh, itu. Aku membelinya pada musim panas dengan setengah harga aslinya. Dan setelah kupikir-pikir, coat itu bukan styleku. Jadi kutaruh begitu saja di lemari. Ambil saja kalau kau mau."

"Bahkan label harganya pun belum juga kau lepas."

Baekhyun menaruh iPadnya dan akhirnya membantu Junmyeon membuka kantong-kantong itu. Ia kemudian mendapati kemeja biru laut dengan aksen polkadot warna putih yang menurutnya kan cocok sekali di tubuh Junmyeon.

"Ini bagus sekali bila kau pakai, Junmyeon-ahh." Baekhyun menyodorkannya pada Junmyeon. "Oh! Tunggu dulu! Seingatku aku punya jas cream dan celana tiga seperempat berwarna putih yang cocok dipadupadankan dengan kemeja ini." Ia kemudian belari kecil dan membongkar lemarinya sendiri. Untung saja, ia dengan cepat melesat kembali dengan membawa dua items yang ia maksud tadi. "Nah, sekarang mandilah terlebih dahulu, aku akan menyetrika jasnya terlebih dahulu."

Mata Junmyeon seakan bersinar terang saat mengucapkan, "Terima kasih, Baekhyun-ahh!"

.

.

.

Sehun tak menyangka, Kris akan secepat itu jatuh pada jebakannya. Ia memamerkan pesan singkat dari Junmyeon perihal kedatangannya pada acara milik Jessica, dan Kris langsung saja melesat bersama Bentley dan sang supir ke gedung apartement Sehun.

"Wow. Kenapa aku tak terkejut dengan kedatanganmu kali ini." sindir Sehun yang sudah berpakaian rapi.

"Aku hanya tak ingin mendengar ocehan Jessica tentang pendampingku pada pesta kali ini."

Sehun tak bisa menyembunyikan seringainya. "Bukannya kau sudah mendapat pendamping?"

Kris menampakkan pandangan membunuhnya, dan menatap mata Sehun lekat-lekat. Ia kemudian berdiri dari sofa empuk yang berada di ruang tamu sekaligus ruang santai milik Sehun. "Cepatlah bergegas. Aku tak ingin terlambat di pesta Sica, atau aku akan mendengarkan omelan nyaringnya yang membuat telingaku tuli."

Sehun mencibir Kris yang terlebih dulu melangkah keluar. Ia sendiri masih harus membongkar kotak sepatunya untuk mencari Louboutine hitam kesukaanya. "Bilang saja kau tak sabar menemui Kim Junmyeon. Dasar pria sok dingin."

.

.

.

Junmyeon mengira, perjalanannya hari ini akan terasa menyenangkan—ia sudah membayangkan ocehan-ocehan hangat dari Cool Hun yang membuat pipinya merona bukan makin. Nyatanya, ia justru duduk terdiam di samping Kris Woo, yang tanpa ekspresi. Junmyeon jadi bingung. Ia bukan type orang yang akan sudah menghangatkan suasana, tapi pria semacam Kris Woo ini membuatnya kelabakan karena sikapnya yang terlalu dingin.

Sehun menoleh. Sebenarnya, diliat dari kaca spion saja ia dapat menduga bahwa Junmyeon merasa canggung. Sahabatnya-pun tak ada tanda-tanda akan berucap sepatah kata.

"Kau membawa hadiah juga untuk Yoojung, Junmyeon-ahh?" Sehun akhirnya membuka mulutnya karena tak tahan melihat kecanggungan itu.

"Oh?" Junmyeon sontak girang, dan dengan menggebu ia membuka kotak hadiahnya yang dibelinya dengan separuh uang makan siangnya itu. "Aku membawa bebek-bebek mainan untuk putri Jessica-ssi! Lihatlah, lucu kan?"

Sehun yang disodori sebuah bebek plastik berwarna kuning itupun akhirnya ikut memainkan bebek itu. Menciptakan bunyi nyaring seperti bebek yang sedang bernyanyi di tepi danau. "Wah, aku saja tidak berpikiran akan mainan-mainan lucu ini, Junmyeon-ah!"

Kesal diacuhkan, Kris-pun ikut mengambil bebek berwarna merah yang ada di kotak yang digenggam oleh Junmyeon. "Hanya bebek biasa, apa spesialnya?"

Sontak saja Junmyeon menatap CEOnya itu dengan sebal. "Bebek ini lucu, tau! Mereka memiliki bunyi yang berbeda. Dan saat kau memainkannya secara bersamaan, akan muncul paduan suara bebek." jelas Junmyeon, membela diri.

Kris menatap bebek merah yang ada di tangannya itu dengan pandangan datar. Huh, bahkan ia cemburu pada sebuah bebek mainan murahan seperti ini. Tanpa sadar, Kris menggenggam bebek merah dengan terlalu kencang, dan membuatnya terlonjak kaget—kebetulan saja bebek berwarna merah tersebut adalah bebek dengan suara ternyaring—juga langsung melemparkan bebek merah itu kembali ke kotaknya.

"Jauhkan benda itu dariku sekarang juga!" hardik Kris tanpa sadar.

Junmyeon tentu saja tak terima, dan dengan muka masam ia menata bebek-bebek itu kembali ke asalnya.

"Kalau tak mau lihat ya sudah. Toh aku memberikan ini kepada Jessica, bukan padamu." omel Junmyeon dengan cicitan pelan.

.

.

.

Jessica mondar-mandir ke seluruh penjuru ruangan yang dikhususkan untuknya, Yoojung dan Changmin itu. Taeyeon, pembantu Jessica juga ikut bingung dibuatnya. Jessica sendiri kuatir akan kakaknya yang tiba-tiba saja menghilang saat mereka akan beranjak ke tempat pesta.

"Sudahlah sayang, kau tak capek apa berjalan terus-terusan dengan heels dua puluh centimu itu?" Changmin-pun akhirnya membuka mulut.

Jessica menghentakkan kakinya dengan kesal. "Kau tak mengertiku perasaanku, oppa!"

Changmin menggeleng. Dipeluknya bahu mungil istrinya itu. "Aku mengerti. Dan kurasa, Kris juga memiliki alasan untuk pergi terpisah dengan kita. Siapa tahu, ia menjemput pendampingnya terlebih dahulu?"

"Mana mungkin?! Dia bahkan menolak gadis-gadis yang kusodorkan padanya. Mau mencari pendamping kemana lagi, pria bodoh itu?!"

Suara decitan pintu terdengar. Membuat Jessica menghentikan racauannya, dan menoleh penasaran, siapa yang membuka pintu ruangan khusus ini? Dan matanya membola ketika mendapati kakak laki-lakinya menyeret paksa lelaki lainnya—yang lebih pendek dan sedikit lebih berisi dari kakaknya. Lelaki itu berkuliat putih, dan Jessica hampir mengenalinya sebagai wanita tomboy—karena bibir lelaki itu berwarna merah, hasil pahatan dari lipbalm.

"Kau tak perlu khawatir, Jess. Aku sudah membawa pendamping pestaku hari ini." ujar Kris dengan penuh kemenangan.

TBC

DORRRRRRRRRRRRRRRRRRRR!

Pada nungguin ya updateannya? Hehehehehe ~

Maafin, kemarin dua minggu tugas numpuk

Btw makasih reviewnya yg berjibunnnn!

Aku baca loh semua, tapi ga bisa ngebalesin satu2

Btw aku punya fanfic Krisho satunya jg, bisa kalian check di kategori EXO Next Door ~

NB: Kalo misal aku mindah ff ini ke EXO Next Door, pada setuju ga?

PYOOOOOOOOOONNNNNNNNNNNNNGGGGGGGGGGGGGGGGGGG ~