-Surprise-

Chapter 4

-Fourth Surprise-

Disclaimer: Kuroko no Basuke punya Tadatoshi Fujimaki-sensei & Ansatsu Kyoushitsu punya Matsui Yuusei-sensei. Aku cuma pinjem chara mereka aja.

Main Chara: Akashi Seijuurou, Akabane Karma (+ penyamaran sempurna 'temen-temen')

Genre: Friendship-Humor + Horor (maybe?)

Rated: K+

Warning: Typo, OOC, Humor Gagal/Garing, Abal, judul mungkin gak sesuai ama ceritanya, EYD yang amburadul, Duo Aka yang mendadak tsundere, Yaoi nyelip. Gak terima flame (boleh sih, asalkan pakai bahasa yang enak dibaca/didengar ya :D)!

Don't Like, Don't Read

Happy Reading~!

Story by Ni-chan XD

Mind to RnR?

.

.

.

"Jadi?" tanya Akashi.

"JADI APAAN?! Makan di warteg nasi goreng?!" cetus Karma.

"Siapa yang lagi ngidam nasi goreng!" teriak Akashi. "Aku cuma mau tanya kita belok ke mana?!" tanya Akashi sambil menunjuk lorong yang kini bercabang di depan mereka.

"Mencar lagi nggak bisa ya?" tanya Karma.

"JELAS GAK BISA~!" teriak Akashi yang sebenarnya trauma dan takut jalan sendiri lagi kayak tadi. Karma yang masih punya sumber penerangan sih, masih mending. Lah dia? Ponselnya aja low batt dan rusak parah gegara dia banting tadi. Senter bukannya pas dia masuk sama Kise itu senter mati dan itu yang nyebapin dia harus menderita di home-sweet-home ini sendirian? Dan jangan harap Akashi bawa senter cadangan karena ya ... anak muda, ponsel aja kadang lupa di-charge, pas mati lampu bisanya teriak-teriak, apalagi bawa senter (apa hubungannya).

"Iya iya, aku juga tau kok," kata Karma sambi mengelap mukanya yang barusan kena ranjau dari mulut kakaknya.

"Nah, jadi menurutmu kita harus ambil rute mana?" tanya Akashi lagi.

"Kok nanya aku sih?! Katanya Nii-san itu selalu benar, jadi Nii-san yang pilih dong! Gimana sih!" protes Karma. Akashi pun baru connect kalau dia menyebut dirinya itu 'Absolute alias Selalu Benar', kok malah tanya adiknya?

"Maap deh, tadi gue lagi lupa diri dikit," kata Akashi sok cool sambil memegangi dahinya.

"Lupa diri dikit aja udah kayak gini, apalagi kalau lupa diri banget, diiih, Nii-san emang cuma beruntung banget bisa lolos dari hantu-hantu gaje di lorong sebelah," kata Karma dengan kejamnya.

"Udah deh! Diem! Kau nggak tau seberapa perjuanganku melalui hantu-hatu gaje di sebelah sana!" seru Akashi mulai ngamuk. "Sekarang nggak usah banyak bacot! Kita ke lorong kanan!"

"Eh? Serius nih? Lorong kanan yang aku lalui tadi bahaya loh! Dikira asik kah?! Oh, Nii-san trauma lewat lorong kiri ya~?" goda Karma iseng.

"Banyak bacot lo! Kamu kira aku gak parno gegara ingat tadi hampir aja kemakan bakso bajakan (Unknown-person: hiks! Akashi-kun tegaaa~!| Akashi: itu kan kenyataan?), dilahap titan yang pakai aksesoris kecoak (Unknown-person: Aka-chin, udah kubilang dari tadi ini cuma ...| Akashi: hush! Lo pergi dulu sana! Ntar gak seru lagi!), sama digentayangin sama hantu aura 'cowok oke' yang tampangnya datar (Unknown-person: yang ngajarin aku supaya tetap datar dan berhawa tipis siapa?| Akashi: hey! Kalian bertiga~! Bubaaarrr~!)?!" teriak Akashi yang nggak mau dikatai penakut.

"Ih! Nii-san gitu doang aja udah parno! Kayak cewek tau gak? Daripada aku nih ya, digodain sama kepala jeruk (Unknown-person: sialan lo! Gue bukan jeruk!| Karma: sesuka gue! :P), diledakin pake meriam sama godzila (Unknown-person: GUE BUKAN GODZILAAAA~!| Karma: salah lo nakutin gue!), dan digodain sama Nenek Kunti berdada rata (Unknown-person: KARMA JAHAAATTT~! Aku masih muda dan punyaku ukurannya B tau! B!| Karma: siapa peduli! Itona-kun sama Shiro-san aja bilangnya 'Forever 0'! Gimana sih!)!" tangkis Karma.

"Ya sudah! SUIT!" teriak Akashi setress saking nggak bisa mikir lagi apa kata yang bisa dia pakai buat ngebales perkataan adiknya yang kecerdasannya nggak jauh beda dari dia.

"JAN-KEN-PON!" Akashi menjulurkan ibu jarinya sedangkan Karma menjulurkan jari kelingkingnya.

"Lho?! Kok malah jadi gajah-semut sih!?" protes Akashi.

"Peringatan kali, kalau Seijuurou-nii-san beratnya naik. Disuruh diet," kata Karma asal yang langsung di-glare Akashi.

"Udah deh! Ayo sekali lagi!" ajak Akashi lalu pasang ancang-ancang suit.

"JAN-KEN-PON!" Tangan kanan Akashi memperlihatkan telapaknya, sedangkan tangan kanan Karma memperlihatkan permukaannya (bukannya sama aja ya).

"Loh?! Kok malah jadi Hompimpah sih?! Nii-san gak becus ah!" kata Karma.

"Kok gue yang disalahin?! Kau juga ikut-ikut! Udah ah! Cepet ulang lagi! Aku nggak mau lama-lama di sini! Lagian nggak ada jaminan hantu-hantu gaje itu nggak bakal menemukan kita di sini!" seru Akashi yang mulai takut (Ni-chan: udah takut dari tadi keles| Akashi: DIEM!).

"JAN-KEN-PON!" O'onnya Duo Aka itu emang nggak ketolongan, bukannya Jan-Ken-Pon alias Gunting-Kertas-Batu, tapi malah main "Cah kacang panjang siapa panjang ajak!"

"KOK MALAH NGOMONGIN KACANG~?!" teriak Karma setress karena dari tadi kok pada nggak bener semua. "Nii-san, yang serius kek!"

"Ini juga udah serius! Kau yang nggak serius kok! Udah deh! Kali ini yang bener-bener ya!" lengking Akashi disambut dengan anggukan mantap adiknya.

"JAN-KEN-PON!" Akashi mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya bersamaan yang menandakan gunting, sedangkan Karma menggenggam erat jari-jarinya yang menandakan batu. Gunting VS Batu. Jadi yang menang adalah ... SANG ADIK! Aka(bane) Karma~!

"Yeeeyyy~! Arigatou~! Arigatou~!" kata Karma sambil membungkuk-bungkuk tanda hormat ngebuat kakaknya yang ngeliat sweatdrop sambil mikir 'Adikku kesurupan badut sirkus ya?'

"Oi! Karma, jangan lebay gih! Buruan! Sekarang kita ke lorong mana?" tanya Akashi to the point.

"Eh ... janjinya tadi kalau aku menang ke lorong mana?" tanya Karma balik nanya.

"Kok malah tanya aku sih?! Suka-suka lo lah!" kata Akashi greget tapi justru Karma makin bingung.

"Suka-suka gimana? Heemm ... kalau gitu Nii-san aja deh, yang pilih," kata Karma ngalah.

"Kok malah jadi aku yang pilih?! Kan lo yang menang!" seru Akashi.

"Lah, meneketehe kalau begini jadinya dong? Ya sudah, kita voting aja!" ajak Karma.

"Oh, boleh-boleh, ide bagus," sambut Akashi. "Kalau gitu aku pilih lorong kanan." ucap Akashi sambil menunjuk ke arah kanan tempat lorong yang dipilihnya.

"Aku lorong kiri," sambung Karma juga sambil menunjuk lorong kiri. Semenit kakak-beradik kece itu cengo.

"KOK JADI GINIII~?!" teriak mereka berdua dengan begonya.

"Ya sudah, kita musyawarah dulu!"

"Karma, aku tahu kau itu pintar di kelas, tapi liat tempat dan waktunya dong! Masa mau musyawarah di tempat kayak gini? Musyawarah tentang apa coba? Pemilihan insiden?!" tanya Akashi dengan nada tinggi.

"Maksud Nii-san 'Pemilihan Presiden'?" tanya Karma membenarkan.

"Ya, pokoknya itulah! Ahhh~! Beda-beda dikit aja nggak apa kan? Musyawarah di tempat kayak gini tuh, susah tau! Mana anggotanya cuma kita berdua aja! Mending kalau ada temen-temenku (baca: budak-budakku) yang gaje itu! Ya mungkin bakal ketemu jalan keluarnya! Hah, coba si Peramal Sialan itu tadi ngasih tau kita harus lewat mana," gerutu Akashi.

"Lewat kanan aja Shounen," ucap seseorang dengan suara parau.

"Oh? Gitu ya. Yok, Karma!" ajak Akashi.

"Kemana?"

"Lorong kanan."

"Nii-san tau dari mana itu yang bener?" tanya Karma lagi.

"Itu tuh, barusan ada yang ngasih tau. Eh, aku lupa bilang 'makasih'. Arigatou ya, siapa entah-di-mana-dan-entah-berentah~!" ucap Akashi ngawur.

"Tunggu dulu Shounen ... bukannya sedikit nggak sopan kalau tiba-tiba pergi tanpa memberitahu nama atau sedikit informasi tentang kalian terlebih dulu?" tanyanya lagi.

"Eh iya, lupa, aku Akashi Seijuurou!" ucap Akashi memaklumi karena kayaknya 'orang' itu lagi pengen SKSD sama dia dan Karma.

"Dan aku adik dari orang aneh dan kejam ini (Ni-chan: Karma, kau nggak mirror| Karma: namanya juga kakak-adek! Nggak perlu dijelasin lagi kan? *smirk*), Akashi Karma!" sambung Karma.

"Oh, kalau begitu, salam kenal ya. Ah, maaf kalau aku sedikit tidak sopan, tapi boleh kan aku melihat wajah kalian? Emm ... bersama adikku juga tentunya," ucapnya lagi.

"Oh, kau punya adik? Pasti dia orangnya baik ya. Nggak kayak adikku ini," kata Akashi setengah nyindir. Karma berniat menginjak kaki kakaknya dengan keras, tapi batal karena Akashi dengan sigap menghindari kaki 'keramat' itu.

"Ahahaha, nggak gitu juga kok. Dia juga terkadang nakal dan usil, seperti adikmu. Adikku banyak bercerita soal adikmu di kelasnya, Akashi, kelas 3-E, dia bilang hari-hari di sana sangat menyenangkan, dan katanya adikmu itu paling pintar dan 'TINGGI' di kelas," jelas orang itu yang secara tidak langsung bikin hati Akashi 'goar goar'.

"Oh ... hmm ... gitu?" kata Akashi berusaha biar nggak marah, sementara Karma sudah cekakakan dari tadi. Akashi pun menginjak kaki adiknya dengan keras sampai Karma meraung-raung. "Oh, jadi adikmu sekelas dengan adik (sialan yang lebih tinggi dari) ku ini?"

"Iya. Tapi kita nggak satu sekolah, Akashi. Aku justru tau kau dan adikmu dari adikku dan si Peramal. Eh, ngomong-ngomong, setahuku marga adikmu itu Akabane," katanya.

"Peramal? Yang tadi? Dia siapamu? Eh, oh iya, aku terpaksa menyamarkan margaku karena suatu alasan," ucap Karma.

"Oh, dia rekan dan ace di timku. Yah, kurasa itu tidak penting sekarang. Jadi, bolehkah aku menunjukkan wajahku dengan adikku sebagai wujud 'terima kasih' telah memperkenalkan diri kalian?" pintanya lagi.

"Eh, oh, silakan. Yah, meski kami nggak melakukan apa-apa sih. Kalian justru yang membantu kami," kata Akashi sok sopan.

"Baiklah, sekali lagi, makasih ya!" Suara normal itu berakhir di kalimat itu, karena seorang atau lebih tepatnya dua orang kakak-beradik dengan rambut cokelat muda, berbodi oke, eits! Ingat, yang 'oke' hanya bodi-nya saja! Yah, dengan kata lain ... kepalanya ... KAYAK NENAS DUA-DUANYAAA~! Oh, dan tak lupa disertai bonus kapak tajam dan runcing yang melekat di kepala mereka berdua.

"Aaaaa-!" seru Akashi dan Karma tertahan. Muka kece mereka berdua memucat.

"A-ano ne, kalian sebenarnya ..," ujar Karma tertahan sambil menunjuk kakak-beradik nenas di depannya.

"Oh, kami? Ya, hantu." jawab sang 'Kak Nenas' santai.

"GYAAAA~!" Karma udah lari tapi Akashi langsung menarik kerah bajunya dari belakang. "Nii-san ngapain sih?! Buruan cepet kita lari! Nii-san mau dikutukin jadi Nenas seumur hidup?!"

"Tunggu dulu, Karma, mereka nggak keliatan seperti hantu pada umumnya kok!" kata Akashi yang bikin Karma heran plus takut setengah mati.

"Maksud Nii-san apaan sih!? Please, Nii-san! Jangan gila di sinii~!" raung Karma.

"Siapa yang gila?! Kau mulai kurang ajar lagi rupanya. Ehm, gini. Menurutku, hantu itu nggak bisa bersikap baik," kata Akashi sambil menjelaskan dengan tenang layaknya Professor yang sudah terbiasa menangani hal macam ini. "Biasanya mereka kejam dan pemaksa, mereka gentayangan kalau ada sesuatu yang mereka perlukan. Misalnya nah, ngerjain kerjaan lembur kantor belum selesai, padahal mereka mau cuti seumur hidup, atau nagih pesangon dari bos kantor, nah, kita perlu tau tujuan kakak-beradik nenas ini di sini! Apa tujuan mereka datang balik ke dunia sini!"

"Nii-san, mending dan harusnya Nii-san nggak usah masuk SMA Rakuzan deh," timpal Karma tiba-tiba.

"Loh, kenapa?" tanya Akashi heran. Secara SMA Rakuzan yang dipilihnya adalah sekolah elit yang rata-rata muridnya berasal dari kalangan artis, atlet, dan bangsawan, serta murid-muridnya pun pintar dan kuat dari segi fisik dan mental. Malahan dia dipilih jadi 'Ketua OSIS' meski baru kelas 1, membuktikan kalau dia orang yang 'spesial' di sekolah itu. Dan Karma juga disuruh masuk ke SMA itu setahun mendatang.

"Maksudnya, Nii-san nggak usah sekolah aja. Di rumah Nii-san bikin aja ruangan baru, isi sama dupa, air, kembang, sama yang lainnya, terus-." ucapan Karma terhenti karena Akashi menggemplang dengan ikhlas kepala adiknya dengan wajan.

"EMANG KAKAKMU INI 'DUKUN' HAH?!" teriak Akashi. "MANANYA DARI DIRIKU YANG PANTES JADI DUKUN?!"

"Lah, katanya Nii-san selalu benar dalam segalanya, nah, bisa jadi manfaat tuh, buat orang-orang di sekitar kita," kata Karma.

"Gak gitu juga keles! Masa kakakmu yang kece ini harus ngerem telor di ruangan kedap-suara selama 24 jam non-stop! Terus makannya gimana?! Mandinya gimana?! Game-nya gimana?! Berantem sama lo gimana?! GIMANA?! Siapa yang mau tanggung jawab?!" teror Akashi yang pembicaraannya ngalor-ngidul kemana-mana.

"O-oke deh, Nii-san menang," kata Karma sambil menunjukkan jari telunjuk dan tengahnya secara bersamaan. "Jadi, sekarang kita ngapain maksudnya?"

"Hoh, gitu kek, dari tadi, ehm, jadi, Kak dan Dik Nenas, apa mau kalian kembali datang ke dunia ini?" tanya Akashi.

"Oh, itu. Hmm ... tentu saja ..." jawab sang adik.

"Tentu saja?" tanya Karma kepo.

"..."

"?"

"...mau menggentayangi kalian ... hihihi ..," ucap sang kakak dan adik nenas secara bersamaan dengan nada horor yang tidak bisa dan tidak mau Author jelaskan. Maka silakan readers bayangkan dengan sendirinya#dilindesreaders

" #%# ^&$&% $!"

"CABUTTTTT~!" Akashi dan Karma langsung ambil langkah seribu.

Saat Duo Aka itu sudah nggak terlihat lagi...

'Haaah, Aniiki kreatif banget bikin topeng ginian...'

'Hahaha, kan sudah pernah kubilang, kalau soal nenas atau buah-buahan, serahkan saja pada kakakmu ini!'

'O-oke ...'

.

.

.

"Haaaahhh ... haaahhh ..."

"Fuuuhhhh ..."

"GEGARA NII-SAN NIH! Suruh siapa kita diem di situ nungguin mereka ngancem kita?!" gertak Karma. "Duh, jadi nggak bisa tidur kan, malam nih." Karma mendadak merinding.

"Hah, Karma? Segitu aja kamu udah takut?" Akashi mendesis meremehkan.

"Apaan sih?! Nii-san nggak usah sok nggak takut deh! Nii-san sendiri gak mirror! Tuh, liat, kaki Nii-san gemeteran!" seru Karma sambil menunjuk sepasang kaki Akashi yang gemetar disko.

"E-eh, ini gara-gara kakiku lagi nafsu aja kali. Lagi excited maksudnya," kata Akashi sok nge-Inggris. "Kamu juga ya, Karma. Hati-hati nanti kalau kencing di celana."

"HAH!? Kok jadi aku yang kena?!" protes Karma.

"Sssshhtt! Udah, diem!" Akashi menempelkan jari telunjuknya di depan bibir adiknya. "Kita lanjut!"

"Huh." Karma mengikuti dengan ogah-ogahan.

Srek ... srek ... Bunyi tak dikenal mendadak memenuhi ruangan yang refleks membuat Duo Aka itu merapat satu sama lain.

"Apaan tuh?" bisik Akashi pelan.

"Kok nanya aku sih! Kan Nii-san yang mimpin! Gimana sih!" protes Karma dengan nada yang cuma dua level lebih tinggi dari istilah 'bisikan'.

"Kau ini bisanya cuma menyalahkan kakakmu aja!" desah Akashi. "Yah, gak masalah sih, toh, kalau nggak ada aku, kamu nggak akan bisa sampai di daerah ini dengan kaki yang masih berdiri kokoh."

"Harusnya itu kalimatku, BAkashi Seijuurou Nii-san," bisik Karma, tapi itu tidak cukup pelan untuk didengar oleh kuping Akashi yang tajem setajem silet (Akashi: nyari masalah sama kuping gue lagi?| Ni-chan: maap deh, maap! *kabur*).

"Kau bilang apa?"

"Nggak, resleting celanaku kebuka," jawab Karma seadanya yang bikin Akashi langsung ambigu.

"Ih! Cepet zip balik! Malu-maluin! Untung gak ada kecenganku di sini, bisa malu setengah mati aku kalau adikku kayak gini," kata Akashi.

"Nii-san jahat! Gini-gini aku juga adikmu kan! Rambutnya sama dan sadisnya sama kan!" Karma ngerajuk.

"Udah deh! Jangan manja! Ikutin aja kata-kata Nii-san!"

"Biasanya perkataan Nii-san kan nggak pernah ada yang bener."

"Sssshhttt!" sentak Akashi.

Srek ... srek ... Suara misterius itu terdengar lagi. Mungkin readers berpikir itu adalah suara rumput, atau lebih tepatnya, semak-semak. Ya, benar. Suara itu berasal dari arah semak-semak yang bergoyang.

"Kayaknya asalnya dari situ tuh. Karma, tolong cek dong," kata Akashi asal.

"Kok aku lagi?" kata Karma yang udah jelas-jelas nolak.

"Tch, nurut aja kek! Aku lagi nggak pengen nyari ribut nih!" desis Akashi.

"Iya, iya," dengus Karma lalu pergi dengan maksud mengecek setengah hati.

'Ginikah rasanya punya kakak yang absolut dan selalu benar? Yah, meski aku nggak merasa kalau semua dari dia itu bagus sih, yang bagus cuma nilainya, buktinya aku lebih tinggi dari dia,' batin Karma saat dia berjalan menuju 'medan pertempuran' (lebay ah).

"Hatchuuu~!" bersin Akashi. 'Rasanya ada yang menyebutku 'pendek' tadi. Siapa ya?'

Karma menggeledah semak-semak itu. Nggak ada hal yang mencurigakan di dalam situ sih, normal-normal aja, gitu pikir Karma, secara ya namanya semak-semak, tapi ... Karma melupakan sesuatu kalau itu ... semak-semak ala rumah hantu! Jadi, pasti ada 'surprise' tak terduganya! Saat Karma menyibak lagi semak itu, dia melihat sesuatu. Warnanya pink muda, berpolkadot (atau lebih tepatnya bebercak?) merah, berdegup, dan tiba-tiba Karma langsung teringat pelajaran IPA di sekolahnya, bagian tubuh vital yang bila ditusuk habis sudah hidup manusia dan juga sebenarnya sering digambarkan dengan kata-kata yang romantis di shoujo-manga atau novel-novel romance, tapi yang lebih pas digambarkan sekarang adalah ... menakutkan. Kalian tau pikiran Karma juga pikiranku? Tepat! Itu adalah 'JANTUNG'.

"MAMAAAAA~!" teriak Karma yang langsung cabut.

"Karmaaaa~! Lo kenapaaa?!" tanya Akashi tanpa sadar kalau kejadian tadi sama seperti kejadian saat Karma berniat mengambil kaca awal-awal. "Tch, apa dia nggak bisa lebih agresif lagi ya? Emangnya ada apaan sih? Ada cowok yang lebih ganteng dari aku di sini ya?"

Oh, begonya dirimu, Akashi #ditendangAkashi, harusnya kau nggak usah ngeliat di balik semak-semak itu, alhasil sepasang manik ruby yang indah itu melotot begitu melihat 'benda' itu di depannya.

"Oh, maaf Akashi-nii. Bisa ambilkan 'itu' untukku tidak?" pinta seseorang.

"'Itu'? Maksudmu, 'ini'?" tanya Akashi sambil menunjuk 'benda' yang berhasil membuat matanya melotot tadi.

"Iya, maaf ya, itu tadi jantungku jatuh waktu ngeliat 'Adik Nenas' hehehe ... saking gantengnya," katanya nyengir-nyengir.

"Oh iya, silakan," kata Akashi sambil menyerahkan 'itu' dengan tangannya yang gemeteran. "Eh? 'Adik Nenas'?"

"Iya, yang rambutnya oranye tadi itu lho!"

"Rambutnya oranye?" ulang Akashi heran. Seingatnya, orang tadi gak punya rambut, well, punya sih tapi warna hijau, secara rambut nenas, iyalah, soalnya orang tadi kan, kepalanya nenas. Sepertinya 'orang' di depan Akashi mendadak teringat akan sesuatu dan dia langsung mengalihkan pembicaraan.

"Eh iya, ngomong-ngomong, maaf lho, aku ngebelakangin kau terus dari tadi," katanya. Ya, memang. Sejak bertemu tadi, 'orang' itu terus membelakangi Akashi. Jadi Akashi hanya bisa mendeskripsikan tampak belakangnya. Dia berambut pendek berwarna hitam, memakai jas seragam sekolah... tunggu! Kayaknya Akashi kenal dengan jas seragam yang dipakai 'orang' itu.

"Ah, nggak apa-apa. Aku juga lagi buru-buru nih. Duluan ya! Hati-hati loh, di sini bahaya!" kata Akashi memperingati.

"Tidak apa-apa kok. Ah, sebelum itu, aku ingin memberimu sesuatu karena sudah menemukan jantungku ini. Entah kalau ini hilang, pasti aku nggak bisa berdegup lagi selamanya. Kan nggak seru nanti kalau Authornya misal bikin fic MaeIso, tapi jantungku nggak bisa berdegup, gak ada kesan romance-nya dong," katanya yang mendadak curhat.

"Emm, iya. Sama-sama. Aku boleh pergi sekarang?" Akashi meminta diri.

"Eh! Tunggu dulu! Etto," 'Orang' itu menampakkan diri. Matanya berwarna kuning cerah, wajahnya ikemen yang bisa membuat cewek maupun cowok klepek-klepek, dan senyumnya ... gak kuaaattt! (Author mimisan).

"Oh, kau, rasanya aku pernah lihat deh. Di mana ya..." pikir Akashi yang membuat orang di depannya kaget.

"Ah, pasti kau hanya salah orang. Ini, sebagai tanda terima kasihku," katanya sambil memberikan 'sesuatu' yang membuat muka kece Akashi jadi shock berat. 'Sesuatu' itu panjang, tebal dan berisi, tapi sudah agak mengempis, mungkin efek karena 'dia' dikeluarkan dari tempat yang seharusnya. Warnanya agak kecokelatan, dan bentuknya agak-agak mirip kacang panjang... itu ... andai saja kalau itu punyanya ayam tetangga, pasti enak kalau dibakar. Iya, itu kan punya ayam. Tapi kalau manusia ...

"TIDAAAAAAKKKK~!" teriak Akashi sambil membuang jauh-jauh bayangan 'hadiah' yang berupa 'USUS' (besar) tersebut. Dan hal yang baru Akashi sadari, saat 'orang' itu membalikkan badannya sepenuhnya, perutnya terbuka sehingga terlihatlah organ dalam tubuhnya, ususnya terburai, dan berbagai macam organ-organ lainnya yang Ni-chan pun tak sanggup lagi menjelaskannya karena takut nafsu makan kalian ilang (All: udah ilang dari tadi keles| Ni-chan: SUMIMASEEENN~!). 'Orang' ikemen berambut hitam itu hanya tersenyum manis alanya sambil melambaikan tangan.

.

.

.

"Seijuurou-nii-san lama banget!" kata Karma greget.

"Haaahhh ... haaahh ... berisik ah! Ini semua juga gara-gara kamu, Karma!" kata Akashi sambil berusaha mengontrol nafasnya.

"Ini kan salahnya Nii-san! Kok jadi aku lagi yang salah? Kan Nii-san yang nyuruh-nyuruh aku ngecek-ngecek semak-semak ntuh! Jadi ini berarti salahnya Nii-san dong!" ucap Karma.

"Salahku?" Kening Akashi berkerut dengan muka watadosnya, yang langsung bikin Karma naik pitam.

"Terus salah siapa lagi coba?! BAkashi Nii-san!" kata Karma.

"Hey! Harusnya kau nggak lupa kalau kau juga 'Akashi', BaKarma! Kamu nggak sadar juga ngehina diri sendiri hah?" tuding Akashi. "Kau lupa ya, selama di SMP ini kau kan cuma pakai marga sama-!"

"Ah, berisik deh. Ini gegara kita nggak ada yang mau tau kalau kita ini sodaraan kan! Ntar seisi negara ribut!" kata Karma. "Dan kenapa harus Nii-san yang pakai marga asli sih?"

"Yeee~ salahmu pas mau masuk SMP dulu setuju!"

"Ini kan salah Nii-san yang populer waktu SMP! Jadi aku terpaksa pakai marga samaran kan!" kata Karma. "Harusnya Nii-san tabok muka Nii-san pakai wajan biar ancur dan biar kalau aku pakai marga asli pun, kan nggak pada ribut."

"Lah kau juga populer di SD-mu kan? Berarti kau juga salah dong!" kata Akashi agak kesal. "Udahan deh, soal masalah ini. Ntar kita suruh Tou-san saja yang mikirin cara biar seisi negara nggak gaduh dan rumah kita kedempet wartawan. Yok, kita lanjut. Lagian kalau kita mati di sini juga, di nisan kita yang tertulis marga asli kan."

"AKU NGGAK MAU MATI DISINI!" teriak Karma berang.

"Bagus! Karena kita sama-sama nggak mau mati di sini, ayo lanjut!" perintah Akashi.

"Huft, iya, iya," kata Karma lunglai lalu mengikuti kakaknya.

Setelah lima menit berjalan, udara mulai terasa mencekam kembali. Atmosfer yang tadinya cukup tenang pun berubah. Tiba-tiba saja, sebuah bayangan hitam meloncat dari kiri ke kanan di depan kakak-beradik itu.

"Ha! Apaan tuh?!" tanya Akashi takut-takut. "Karma, coba perik-!"

"OGAH!" potong Karma keras.

"Eh, lho kok?"

"Seijuurou-nii-san aja yang periksa! Kau pikir aku nggak trauma gegara ngeliat jantung tadi?!" teriak Karma berang.

"Huh, iya deh. Seijuu-nii ngalah," kata Akashi merengut sok dewasa lalu beralih ke kanan untuk memeriksa. "Penakut banget kau, gini aja nggak berani."

"BAWEL!" teriak Karma.

Akashi menghela nafas melihat tingkah adiknya yang kekanakan itu (Ni-chan: Sei-kun gak mirror| Akashi: berisik! Kau juga gak mirror!). Di depannya saat ini adalah semak-semak sama seperti tadi, namun sepertinya 'sesuatu' di balik semak-semak itu berbeda dari sebelumnya.

"Hhh, ternyata memang cuma buang-buang waktu aja," desah Akashi lalu berniat kembali ke tempat Karma, namun sebelum dia sempat melangkah, Akashi mendengar dengusan, bukan dari arah Karma, melainkan dari belakangnya. Akashi memberanikan diri menoleh ke belakang ...

Sebuah, seorang, sebutir, seonggok, sesisir (?), atau lebih tepatnya seekor harimau yang bukan sembarang hariamau, tapi harimau jadi-jadiah #plak -ralat- ehm, sebenarnya harimau ini kece banget dalam wujud manusianya, tapi eh ya, kalau dalam tekanan kayak gini mau gak mau dia harus jadi liar (All: aslinya dia emang liar kok). Dan mungkin sekarang dalam hatinya dia sedang menyumpah-nyumpahi seseorang (?). Kalian tau kan, biasanya harimau itu bulunya berwarna oranye dengan garis-garis hitam? Tapi harimau kali ini berbeda. Bulunya yang kasar namun menggoda (?) berwarna merah pekat dengan garis-garis hitam. Nafasnya memburu dan terlihat kesal bukan karena wajah Akashi yang nyeremin juga nyebelin#plak, tapi karena sepertinya dia teringat akan kata-kata kejam yang ditujukan untuknya dari seseorang (kalau kau tau apa maksudku, kalian hebat XD).

"Ah-!" ucap Akashi yang menyadari kalau seekor harimau mendengus kesal seperti hendak menerkamnya. "Eh, eh ..."

"Grrrhhh~!" geram harimau itu.

"A-,a-," ucap Akashi terbata-bata dengan muka pucat.

"GROAARRRR~!"

"HHHAAAAAAA~! teriak Akashi kalang kabut lalu langsung cabut ke tempat asalnya tadi, di sana terlihat seorang berambut merah yang tengah menunggu, tanpa ba-bi-bu, saking gak bisa mikir lagi gegara parno, Akashi langsung refleks memeluk orang itu erat.

"EHHH! NII-SAN~! Apaan nih?!" teriak Karma dengan muka merah plus pucet.

"Diem deh! Aku lagi parno tau!" teriak Akashi sambil memeluk adiknya dengan erat yang bikin sang adik megeh-megeh gegara tenaga kakaknya yang innalillahi yang mungkin bisa bikin dia koid di tempat kalau Akashi mengerahkan seluruh tenaganya untuk memeluk adiknya tercinta seperti ini.

'Yaelah, dasar Akashi, Kapten apaan, kok malah dia yang manja ama adeknya,'

'Ckck, Kagami-nii nyantai aja kali, mereka berdua kan emang kalau barengan kita-kita ini jaim, tapi kalau cuma berduaan aja gitu, baru keliatan deh, sifat aslinya.'

'Hiroto, sopan-sopan sama dia ya. Salah-salah nanti kamu di Meteor Jam loh...'

'Iya, Kiyoshi-nii.'

'Iya, aku nggak mau kamu meninggal gegara kena bolbas dari Kagami-nii! Aku masih sayang sama kamu, Maehara! Jangan pergi tinggalkan aku sendiri! Aku tak bisa hidup tanpamu!'

'Kok jadi MaeIso gini sih?'

.

.

.

"Yok Karma, kita lanjut," kata Akashi saat takutnya sudah agak mereda.

"Iya iya," kata Karma yang masih lemes gegara dipeluk kuat-kuat sama kakaknya.

"Kok kamu gak semangat sih?!"

"Gimana mau semangat! Dari tadi aku ditindas Seijuurou-nii-san terus!" kata Karma kesal sambil memalingkan muka.

"Ih, Karma, jangan ngambek dong, kamu jadi nggak lucu lho, kalau ngambek," kata Akashi sambil tertawa kecil ngeliat tingkah adiknya.

"Terserah deh," kata Karma.

Mereka pun kembali menyelusuri rumah hantu tersebut. Heran deh, ini rumah hantu panjangnya berapa kilo sih? Dari tadi gak nyampe-nyampe pintu keluar, itulah pikir mereka yang secara otomatis sama (Ni-chan: panjangnya adalah sepanjang cintaku pada kalian berdua #plak| Akashi ft. Karma: cinta apaan?! Dari tadi kita disiksa terus gitu dibilang cinta?!). Tanpa mereka sadari beberapa bayangan hitam mengintai mereka dari belakang dan terdengan bisik-bisik dengan suara yang tidak asing, namun cukup pelan untuk tidak didengar Duo Aka itu.

'Ahahaha, ternyata Akashi gitu ya, kalau sama adeknya. Hihi, bagus nih, buat nambah-nambah isi dompet. Ntar besok di mading pasti bakal ada hot news tentang Ketua OSIS kita yang katanya kece itu.'

'Hei, salah-salah kalau Sei-chan liat dia bakal balik gentayangin kamu lho!'

'Ih, kan gak bakal digentayangi kalau gak ketahuan. Tadi aku juga udah ambil fotonya. Ah, Kuroko sama Nagisa baik banget, aku diberi kesempatan untuk menjaili Duo Aka ini. Hihihi.'

'Dewasa sedikit dong.'

'Mereka beneran kakak-kakak SMA ya?'

'Sifatnya nggak jauh-jauh beda dari kita, tapi yah, aku nggak begitu peduli sih, aku mau cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan ini. Dasar, Nagisa dan kakaknya itu bikin repot aja. Kenapa sih, harus susah-susah bikin rumah hantu kayak gini demi menjaili mereka?'

'Hei, Duo Sniper 'Sandal' kelas 3-E, mohon kerja samanya buat ngerjain mereka ya!'

'Iya, sama untuk Raijuu-nii dan Bang Banci. Dan yang bener 'HANDAL' tau! Bukan 'SANDAL'! Emangnya kita ini maling sandal di masjid-masjid apa? Ih, sori ya, gak level! Jangan samain kita sama situ dong!'

'Hehehe, julukan bagus untukmu ya, Raijuu-chan.'

'Ah! Julukanku masih lebih mending darimu, Bang Banci!'

.

.

.

~To Be Continued~

Huwaaaa~! Maafkan Ni-chan karena lama update ya #netesinairmatapalsu! Sebagai gantinya, chapter kali ini Ni-chan buat lebih panjang dari biasanya. Hehe, maaf kalau (tetap) gaje yah! Oke, karena sudah sampai di sini waktunya kalian untuk ... review ya! XD

To Yuuki (Guest):

Iya, Duo Aka itu emang koplak sekaligus OOC (Akashi ft. Karma: yang koplak dan buat kita OOC itu elo kan?! Tunggu aja lo ya~! *ngasah-gunting-&-pisau*). Ni-chan sudah update, arigatou XD