Naruto milik Masashi Kishimoto seorang.
Saya tidak mengambil keuntungan dalam bentuk apa pun dari tulisan ini.
"Kau pulang lebih awal, Sayang."
Aku tersenyum kecut saat mendapati Bibi Kushina menampakkan dirinya dari balik dinding pemisah ruang duduk dan koridor bagian belakang rumah ini. Pasti aku telah menutup pintu terlalu keras hingga dia muncul sebelum aku memberitahukan kehadiranku di rumah ini.
Seperti biasa, dia sekarang sedang memakai apron merah muda favoritnya yang tampak kotor oleh noda tepung di beberapa bagian, dan tubuhnya beraroma kue kering yang manis—coklat dan vanila. Pasti dia sedang melakukan percobaan membuat kue kering lagi.
"Di mana Naruto?" tanyanya saat aku berjalan mendekati tangga menuju lantai dua,
"Pergi karaoke bersama yang lain," jawabku malas.
"Kenapa kau tidak ikut bersamanya? Apa dia tidak mengizinkanmu ikut?—Dasar anak itu," cerocos Bibi Kushina, kesal sendiri.
"Aku yang tidak ingin ikut."
Bibi Kushina menatapku lekat-lekat. "Wajahmu pucat, kau sakit?"
"Entahlah. Tapi sekarang aku ingin segera tidur," jawabku sambil terus meniti tangga. "Oh baiklah, Sayang, semoga setelah bangun nanti kau merasa lebih baik," katanya dari bawah sana. Sayangnya aku tidak punya sedikit lebih banyak minat untuk merespon kalimatnya itu.
Maka dari itu, aku memilih menutup pintu kamarku dengan bantingan yang cukup keras.
Unexpected Love
.
by nopi
Bagian Empat
Karin: Pemuda Itu
Aku menatap langit-langit kamar sambil setengah melamun. Aku tidak ingin tidur seperti yang baru saja kukatakan pada Bibi Kushina—aku berbohong tentu saja. Kalau tidak mengeluarkan kalimat semacam itu, sudah dipastikan sekarang aku sudah berada di ruang duduk, sedang diinterogasi Bibi Kushina.
Cerewet, ingin tahu banyak dan selalu berlebihan, mungkin adalah kata yang tepat untuk menggambarkan Bibi Kushina. Awal-awalnya dia memang terlihat seperti ibu pada umumnya—yang baik dan perhatian, namun lama-kelamaan sikap super perhatiannya itu menyebalkan. Membuatku tidak nyaman, lebih tepatnya.
Tapi aku tetap tidak bisa membencinya. Maksudku, bagaimana kau bisa membenci seorang wanita yang telah mengizinkanmu tinggal di rumahnya dan menyayangimu layaknya anaknya sendiri, selama tiga tahun terakhir ini. Mau tidak mau aku tetap punya banyak hutang terimakasih atas semua hal yang telah dilakukan Bibi Kushina padaku. Paman Minato dan Naruto juga, tentu saja.
Hah. Banyak hal yang terjadi tiga tahun belakangan ini. Dan jika aku harus memaksa memoriku mengingat kejadian-kejadian itu, ingatanku langsung melayang pada satu hari di mana kali pertama aku bertemu pemuda itu. Akhir bulan maret tiga tahun yang lalu.
###
"Karin, ini Sasuke, dia teman sekelasku sekaligus tetanggaku." Naruto menepuk bahu pemuda berumur empat belas tahun di sebelahnya. "Karena mulai hari ini kau tinggal dan sekolah di sini, Sasuke juga jadi teman sekelasmu dan tetanggamu."
Aku menatap pemuda bermarga Uchiha itu. Tatapannya dingin dan menakutkan, padahal tampangnya lumayan. Sekilas melihatnya saja aku bisa menebak bahwa dia adalah tipe orang yang jarang tersenyum. Menyeramkan, sekaligus membuatku penasaran.
"Uzumaki Karin. Senang bertemu denganmu."
Dia mengabaikan uluran tanganku. "Hn."
Jengkel, karena ini kali pertama aku tidak diacuhkan oleh lawan jenisku, terutama ini adalah pertemuan pertama kami. Huh, asal tahu saja, aku ini adalah primadona sekolah—aku tak pernah diabaikan oleh orang-orang terutama laki-laki, bahkan kebanyakan dari mereka sulit mengalihkan pandangan ke arah lain jika sudah menatapku
Akhirnya aku memilih masuk ke dalam rumah Naruto dengan alasan aku masih merasa lelah setelah menempuh perjalanan berjam-jam menuju ke sini.
"Oh baiklah, Karin, kau memang harus menjaga kesehatanmu karena beberapa hari lagi semester baru akan dimulai." Lalu Naruto melambaikan tangannya padaku, dia memilih tetap tinggal dengan pemuda itu di halaman belakang rumah. Sedangkan Uchiha Sasuke itu tetap memasang ekspresi datar—bahkan dia tidak melihatku.
Huh, sombong sekali.
###
Aku ingat, saat semester baru di kelas sepuluh, Sasuke duduk di seberang mejaku. Seperti pertemuan sebelumnya, kami bersikap tak saling mengenal. Tapi saat udara semakin panas, tanda musim panas akan segera dimulai, kami—atau lebih tepatnya aku, untuk kali pertama membicarakan suatu topik yang cukup membuat emosiku meledak-ledak.
Saat jam pulang, aku mulai melontarkan ucapan basa basiku. Serius, itu hanya basa basi semata karena aku sudah tidak tahan lagi akan sikapnya yang lama kelamaan bikin jengkel.
"Hei, Sasuke, apa kau punya rencana sepulang sekolah ini?" tanyaku di sela-sela merapikan alat tulisku.
Dia yang saat itu sedang bermain game online di smartphone miliknya, menjawab datar, "Pulang dan menaikan level permainanku adalah satu-satunya rencanaku."
Aku menautkan alis, heran dengan jawabannya tapi bersamaan dengan itu aku juga senang. Setidaknya dia tidak mengabaikanku dan mau menjawab pertanyaanku dengan kalimat yang cukup friendly, menurutku.
"Enak sekali kau," cibirku, pura-pura iri. "Kalau aku sih tidak mau langsung pulang ke rumah." Aku menatapnya, dia masih asyik menatap permainannya. "Ibu Naruto itu terlalu berlebihan, terkadang. Dia akan menanyakan berbagai macam pertanyaan yang membuatku bosan. Makanya aku sering pulang kesorean agar sampai di rumah aku bisa beralasan ingin tidur lebih cepat. Agar terhindar dari perhatiannya yang membuatku kesal."
Dia terdiam beberapa saat lalu menimpal, "Kalau tidak suka, kenapa tinggal di sana?"
Saat itu aku benar-benar senang karena dia akhirnya bertanya sesuatu padaku. Ini benar-benar keajaiban dunia. "Yaah, karena aku memang diharuskan tinggal di situ."
"Orangtuamu? Kenapa tidak tinggal dengan mereka?"
Suasana hatiku mendadak berubah. Dia baru saja bertanya tentang hal yang berada di urutan paling atas yang paling tidak mau kubahas. "Hah, jangan bicarakan tentang mereka. Aku bahkan tidak ingat wajah mereka lagi."
"Hn." Dia kembali diam.
Kelas sudah sepi, hanya tinggal kami berdua. Aku tahu Sasuke terbiasa keluar dari kelas setelah semua murid di kelas pulang. Jadi selama aku masih di sini, dia pasti tak akan keluar. Ini kesempatan bagus untuk berbicara lebih banyak dengannya.
"Apa kau sependapat denganku, jika kukatakan kalau semua orang tua itu egois?" Ck, Karin bodoh, apa yang sedang kau bicarakan?
"Entahlah. Bagaimana menurutmu?"
Aku tertegun sebentar. Dia menanyakan pendapatku? "Menurutku mereka itu egois," kataku. "Mereka selalu menyuruhmu melakukan hal yang tidak kau sukai hanya demi keuntungan mereka sendiri."
"Apa itu yang terjadi padamu?"
Aku terhenyak sejenak, dan begitu saja, semua hal yang sudah lama kupendam dan ingin selalu kucurahkan pada seseorang mengalir begitu saja. Tentang orangtuaku, alasan mengapa aku tinggal di rumah Naruto, juga tentang kakakku—aku menceritakan seluruhnya tanpa terlewat satu bagian pun.
Dan Sasuke berhenti memainkan permainannya dan mendengaranku dengan baik.
"Kata Naruto, kau juga punya kakak, bagaimana jika kau jadi aku? Bagaimana jika kau terpisah dengan kakakmu bertahun-tahun lamanya?" Nada suaraku tinggi. Aku paling sensitif jika sudah berbicara tentang kakakku. "Bagaimana jika kau tidak bisa bertemu dengan kakakmu karena keegoisan orangtuamu?"
Dia diam, menatap kosong ke depan.
"Tapi aku sudah berhasil bertatap muka dengan kakakku." Aku menahan napas, lalu melanjutkan, "Di saat dia sudah berada di peti mati, tiga tahun yang lalu."
Ada hening panjang sebelum Sasuke angkat bicara. "Kenapa kau tidak berontak saja?"
"Berontak?"
"Jika kau memberontak pasti itu tidak akan terjadi," katanya tenang.
Aku merengut. "Bagaimana aku bisa memberontak dari orangtua egois itu!"
"Kau terlalu mengikuti aliran. Kau penakut. Kau lemah."
Aku tersinggung, tentu saja. Tahu apa dia tentang aku? Dia baru mendengarkan ceritaku selama lima belas menit, dia tak berhak menyebutku penakut dan lemah! "Apa katamu?!" Aku marah.
Sasuke tiba-tiba berdiri, kali ini dia menatapku. Tatapannya lebih tajam dari sebelumnya. "Jika aku jadi kau, aku akan bertindak, aku tidak akan menjadi penakut sepertimu. Dan yang paling penting, aku tidak akan membiarkan orang yang aku sayang pergi hanya karena sikap pecundangku."
Lalu dia menyambar tasnya dan keluar dari kelas.
Meninggalkanku sendirian dengan rasa campur aduk.
Esoknya, pemuda itu pindah tempat duduk.
###
Untuk hari-hari berikutnya, kami kembali ke keadaan tidak saling mengenal. Ada rasa takut setiap melihatnya, tapi bersamaan dengan itu aku ingin berbicara lagi dengannya—entah apa alasannya.
Maka dari itu, aku memilih membuang jauh diriku yang lama jika sedang berada di dekatnya. Menjadi sedikit centil dan sok akrab, itulah aku saat sedang bersama Sasuke. Persetan jika dia risih atau bahkan jijik padaku, aku hanya ingin berada di dekatnya tanpa perlu mengingat percakapan tidak enak kami saat itu. Aku tidak ingin dia menganggapku sebagai gadis pecundang lagi.
Dan sepertinya itu berhasil—setidaknya dari pandanganku.
Sasuke masih seperti dulu. Pendiam dan anti sosial. Bahkan, makin ke sini dia makin irit bicara—aku bisa menghitung berapa kali suaranya terdengar di kelas, oh ya ampun.
Tapi, asal tahu saja, walau pun nampaknya Sasuke seperti itu, tak sedikit murid perempuan yang tertarik padanya. Yah, walau Sasuke kerap diabaikan oleh penjuru kelas, tapi sebenarnya dia punya beberapa penggemar dari kelas lain.
Saat jam istirahat contohnya, beberapa dari mereka datang ke kelas kami hanya untuk melihat Sasuke yang sedang serius bermain game atau mencatat pelajaran. Hanya saja Sasuke terlalu cuek untuk menyadari kehadiran mereka yang sudah rela meluangkan waktu.
Untukku, yang hampir empat tahun mengenal Sasuke sekaligus menjadi teman sekelasnya—terus terang saja, dari tahun ke tahun dia semakin tampan. Ada aura misterius yang membuat dirinya menarik. Dan juga, rasa penasaran yang kurasakan saat kali pertama bertemu dengannya, sampai saat ini belum hilang juga.
Mungkin aku menyukainya? Entahlah, aku juga tidak tahu. Satu-satunya rasa suka yang kuketahui adalah saat dulu aku menyukai kakakku. Semenjak kakakku meninggal, aku tidak pernah merasakan suka pada lawan jenis lagi—atau mungkin sekarang aku sudah lupa.
Tapi, jika benar rasa ini adalah rasa suka, itu berarti aku adalah gadis yang beruntung. Tinggal di sebelah rumah pemuda yang kau suka dengan kamar yang berseberangan; kau bisa melihatnya setiap saat dengan jelas jika tirai kamar pemuda itu disibak—bagaimana itu tidak disebut beruntung?
Namun sore ini, sejak kami berpisah di depan rumahnya, aku belum melihatnya lagi. Tirai kamarnya terbuka, tapi tak ada siapa pun di sana. Karena itu aku sekarang berada di meja belajarku yang berada di sebelah jendela, mungkin aku bisa mengintipnya sedikit.
Lima menit, sepuluh menit, dua puluh menit berlalu. Tak ada tanda-tanda dia akan memasuki kamar, aku juga tak dapat melihat ruang duduk rumahnya dari sini. Ah, mungkin dia sedang main game di ruang tengah. Aku pun menyandarkan kepalaku ke punggung kursi, menatap apa saja yang ada di meja belajarku. Tanpa sadar mataku menangkap pigura foto yang didirikan agak sudut, di antara novel-novel yang akan kubaca dikala bosan.
Ada wajah tampan di sana, sedang tersenyum bersama gadis kecil di pangkuannya. Kakak dan aku.
"Apa kabar? Pasti Kakak bahagia di surga sana."
Tiba-tiba ada bunyi keras terdengar, seperti pintu yang dibanting. Aku melongok ke luar jendela. Menemukan Sasuke sedang berlari dari perkarangan rumahnya menuju jalan raya. Dia kelihatan terburu-buru.
Aku tersenyum, kembali melihat pigura foto di genggamanku. "Sepertinya aku jatuh cinta," kataku sambil mengelus wajahnya yang tercetak di kertas foto itu. Ah, aku begitu merindukan kakak.
"Bagaimana menurutmu tentang pemuda itu, Kak Sasori?"
.
.
.
tbc...
.
.
.
Bacotan Penulis: karena saya mengikutsertakan Karin sebagai karakter cukup penting di sini, saya juga menulis cerita dari sudut pandang dia. yaa menurut saya kurang afdol aja kalo sudut pandangnya berasal dari SasuSaku doang, hoho.
btw, saya lanjut nulis dan update chap ini karena saya nggak bisa tidur. saya mikirin gimana nasib rapor saya yang akan dibagikan hari ini T_T iya, sekolah saya baru bagi rapor sekarang, mantep emang, sukses bikin hati doki doki.
Review?
09.01.2016
