Naruto milik Masashi Kishimoto
Warning : Femnaru
Makan malam di keluarga Namikaze dipenuhi oleh keheningan.
Semua anggota keluarga begitu larut dalam pikiran masing-masing. Kecuali Deidara mungkin? Dia satu-satunya yang masih adem ayem menikmati hidangannya.
Sementara Minato sang kepala keluarga sedang memikirkan putri keduanya, yang pergi entah kemana.
Di awal kepergian Naruto, Minato memang sempat sangat murka bahkan dia berpikir untuk membunuh putrinya itu jika pulang.
Tapi itu lima tahun lalu, kalau sekarang Minato rela menukar semua miliknya agar sang putri tercinta pulang. Dirinya juga berjanji jika Naruto pulang, dia akan memaafkannya dan tak akan menyalahkannya.
Minato sangat merindukan putrinya.
Jika Minato memikirkan Naruto, lain halnya dengan Kushina.
Ia malah memikirkan bagaimana caranya agar putrinya Naruko bisa segera menikah dengan Sasuke. Ini sudah terlalu lama putrinya digantung tidak jelas. Pikirnya sepihak. Namun secara pribadi sendiri Sasuke tidak pernah berjanji akan menikahi Naruko. Semua ini adalah rencana sepihaknya dan Mikoto.
Sepertinya Kushina harus lebih mendesak Mikoto demi memuluskan jalan putrinya.
Setali tiga uang, Naruko-pun memikirkan hal yang sama dengan ibunya.
Dia merasa kesal karena jawaban Sasuke tempo hari, yang mengatakan hanya akan menceraikan Naruto jika dia kembali.
"Tapi bagaimana caranya, Naruto akan kembali jika dia saja sudah membusuk di Neraka sana." Pikirnya sinis.
Deidara rasanya ingin mendengus melihat kekompakkan keluarga pamannya dalam hal diam.
Membosankan! Itulah pikiran Deidara.
Wanita dewasa yang masih hobi bermain kembang api dan koleksi dinamit itu mengalihkan perhatiannya pada sepupu tertuanya. Kurama.
Tumben sekali sepupunya yang satu ini pulang ke rumah. Dalam benak Deidara.
"Paman!" panggil Deidara pada Minato.
"Ya, kenapa Dei?"
"Itu, rencana kerja sama kita dengan Raikiri Corp. apakah nanti Sasuke jadi terlibat?"
"Ya! kebetulan paman sudah meminta Sasuke untuk mempersiapkan surat kontrak kerja samanya. Tak apa kan Dei?"
"Iya paman, aku mengerti."
Tiga orang lainnya di meja makan itu hanya diam. Selain karena mereka sama sekali tak terlibat dalam perusahan, merekapun tak tahu-menahu tentang apa yang dua pirang itu bicarakan.
Kushina sebenarnya tak terlalu suka melihat Deidara terlalu jauh terlibat dengan perusahaan keluarga.
Itu karena dalam beberapa tahun terakhir, media masa begitu gencar memberitakan kemungkinan bahwa Deidara-lah yang akan meneruskan posisi CEO utama di Perusahaan mereka kelak, menggantikan Minato.
Spekulasi itu berkembang lantaran tak ada satupun dari anak Kushina yang bisa dihandalkan untuk mengambil alih Perusahaan.
Kurama anak lelaki sulungnya, tak tertarik untuk bekerja di Perusahaan. Dia lebih memilih bekerja pada orang lain dari pada menjadi pewaris Perusahaan.
Naruko. Dari kecil dia sudah di didik untuk menjadi seorang model.
Anak bungsunya itu terlalu fokus untuk menjadi model papan atas hingga tak ada waktu dan kesempatan untuk belajar bisnis.
Ya, meski Naruko akhirnya memutuskan bergabung dengan perusahaan sejak dua tahun lalu.
Tapi jika Naruko harus dibandingkan dengan Deidara, jelas Naruko kalah jauh dari sepupu nyentriknya itu.
Selain jalur Akademis Naruko yang memang bukanlah bisnis. Pengalamannya pun masih belum mumpuni.
Berbeda dengan Deidara. Deidara sudah bergabung dengan Perusahaan sejak umurnya baru 19 tahun. Dan lagi kakeknya sendirilah yang membawa Deidara masuk ke Perusahaan, dan bukan itu saja beliau juga mendidik Deidara secara langsung mengenai setiap seluk beluk dunia bisnis.
Kushina sendiri terlalu sibuk untuk membantu Naruko untuk meraih impiannya hingga tak terlalu memikirkan siapa yang akan meneruskan Perusahaan.
Selain itu Kushina juga berpikir memangnya pada siapa lagi Perusahaan harus diwariskan kecuali pada kedua anaknya.
Tapi ternyata Kushina salah, ayah mertuanya nyatanya hanya memberikan 17 % saham utama pada kedua anaknya. Jelas tak akan cukup untuk Anak-anaknya mengklaim posisi pewaris Perusahaan.
Lalu pada siapa saham terbesar diberikan?
Jawabannya adalah; pada anak tirinya Naruto. Pada cucu yang selalu digembar-gemborkan oleh ayah Mertuanya sebagai cucu kesayanganya.
"Tou-san! bolehkah aku ikut dalam perjalanan bisnis kali ini?" Tanya Naruko penuh harap.
Naruko sungguh berharap dirinya bisa ikut serta dalam perjalanan bisnis Sasuke dan Deidara ke Konoha. Ini mungkin akan menjadi kesempatannya mendekati Sasuke. Mengingat strateginya masuk ke Perusahaan demi berdekatan sang pujaan hati tak berjalan mulus.
Lamunan Kushina putus saat mendengar pertanyaan putrinya.
"Tidak!"
Mendengar Naruko yang ingin ikut dalam perjalanan bisnis, membuat wajah Minato mengeras. Dia menyadari betul niat putrinya terhadap Sasuke. Minato harus segera menghentikan kegilaan Naruko yang sangat berambisi menjadi istri Sasuke. Dia tidak bisa membiarkan Naruko menghancurkan kebahagiaan putrinya yang lain.
"Tapi kenapa?" Naruko merengek.
"Sudah jelaskan!" Bukan Minato yang menjawab tapi sepupunya. Deidara.
"Dei, apa maksudmu, memangnya kenapa Naruko tidak boleh pergi?" Sela Kushina.
"Bibi, bukankah sudah jelas. Kalau Naruko ikut yang ada aku dan Sasuke tidak akan bisa bekerja dengan baik." Jawab Deidara dengan santai.
"Yang dikatakan oleh Dei itu ada benarnya." Tukas Minato membenarkan.
"Tapi Anata, ini kesempatan bagus bagi Naruko untuk belajar bisnis lebih dalam lagi."
"Kesempatan belajar apanya? menggoda Sasuke iya." Batin Deidara sinis.
"Kushina, kita tahu betul bukan itu tujuan utama Naruko." Balas Minato tajam dan menatap istrinya memperingatkan.
"Apa...tapi-" Kushina tak bisa membalas Kata-kata suaminya.
"Dan kau Naruko, kalau kau ingin belajar, kau bisa melakukannya dari kantor bersama Tou-san. Tousan punya banyak waktu untuk mendidikmu." Setelah mengatakan itu Minato bangkit dari kursinya dan keluar dari ruang makan meninggalkan Kushina maupun Naruko yang menjadi kesal.
Naruko menggenggam sendok dan garpunya dengan erat, hingga buku-buku jarinya terlihat menonjol.
Deidara tersenyum kecil melihatnya tapi tak terlihat karena tersamar oleh gelas minumnya.
Kurama-pun sama saja dia menyeringai tapi juga tak terlihat karena menunduk.
"Semua ini salahmu!" Kushina tiba-tiba menuding anak sulungnya dengan kesal.
Kurama yang merasa dituding oleh ibunya. Mengangkat kepalanya yang sejak tadi menunduk. Ia memandang ibunya dengan satu alis terangkat santai seolah bertanya; kenapa aku?
Kushina rasanya semakin naik darah melihat reaksi putra pertamanya yang seolah mengejeknya.
Deidara merasa pasti akan lebih baik jika menonton drama keluarga ini dengan semangkuk popcorn.
"Sudah puas, apa kau sudah puas mempermalukan aku di depan Tou-san?" Kali ini Naruko yang melampiaskan kemarahannya pada sepupunya.
"Apa maksudmu? Bukankah itu benar? Kau memang hanya akan mengusik Sasuke dengan semua rengekanmu yang tak berguna!"
Deidara sama sekali tak terpancing dengan kemarahan sepupunya. Ia malah semakin memojokkan Naruko. Deidara tidak membenci sepupunya, dia hanya sebal. Karena Naruko bertingkah kelewatan dengan merayu suami kakaknya sendiri.
Naruko hendak kembali menghardik sepupunya itu tapi segera dihentikan oleh ibunya, sebelum mengatakan apa-pun.
"Dei, tidakkah kau berpikir untuk menikah? kau sudah menghabiskan masa mudamu untuk mengabdi pada Perusahaan. Apa kau tahu kalau bibi punya banyak kenalan yang ingin sekali menjadikanmu menantu? Kalau kau mau, bibi bisa membantu untuk mengenalkan mereka." Ujar Kushina setengah mengejek.
Wajah Deidara mengeras dan dalam sekejap berubah datar mendengar ejekan bibinya. Dia juga tak sungkan menatap tajam pada Kushina yang sekarang pura-pura tersenyum manis padanya.
Satu kata, memuakkan!
Beraninya Bibinya berkata seperti itu pada dirinya!!
Dan Naruko yang melihat Deidara mulai kehilangan ketenangan dirinya juga ikut tersenyum penuh kemenangan.
Ibunya memang pintar. Pernikahan adalah topik yang sangat sensitif bagi sepupunya.
Berkali-kali sepupunya gagal menikah tentu saja hal ini adalah senjata paling ampuh untuk menjatuhkan mental sepupunya.
"Tidak usah. Lagi pula kalau aku menikah, lalu siapa yang akan membantu paman untuk mengurus Perusahaan." Deidara berhasil mengendalikan emosinya dan menjawab dengan datar.
"Baik Kurama maupun Naruko, Sama-sama tak ada yang bisa diharapkan.
Coba kalau kedua sepupuku bisa dihandalkan. Aku pasti akan dengan senang hati menerima tawaran bibi." Tuturnya dingin.
"Ah~satu lagi, dari pada bibi repot-repot mengurusi perjodohanku, lebih baik carikan saja jodoh Baik-baik untuk Naruko biar dia berhenti berharap bisa bersanding dengan suami kakaknya sendiri." Sindir Deidara.
Kali ini wajah Naruko memerah karena marah dan malu atas sindiran Deidara
Deidara berhasil membalikkan situasi. Ia lalu bangkit dan ikut keluar dari ruang makan.
Dia pergi dengan perasaan yang masih kesal dan tangannya gatal ingin menyumpal mulut bibi dan sepupunya menggunakan kaos kaki.
SasuFemNaru
Minato duduk termenung di kursi kerjanya sambil memegang photo putri keduanya.
Matanya berkaca-kaca memandang sendu sekaligus rindu pada potret Naruto.
"Naruto." Panggilnya dalam hati.
Minato memeluk photo naruto seakan memeluk tubuh putrinya sendiri.
Tok-tok-tok
Suara ketukan pintu membuat Minato menghapus setetes air mata yang sempat lolos dari netra Cobaltnya.
"Ya, masuk!"
Saat pintu terbuka masuklah Kurama, anak sulungnya.
"Ku," sapanya ramah sambil tersenyum saat tahu Kurama yang datang.
"Otousan! Aku datang untuk pamit." Ujar Kurama.
Kurama memang tidak tinggal serumah dengan keluarganya. Sebagai pria dewasa yang mapan sudah sewajarnya jika dia sudah punya rumah sendiri.
Minato mendesah mengingat keluarganya yang hampir tercerai-berai. Naruto yang pergi entah kemana? Lalu Kurama yang tidak pernah akur dengan ibu dan adiknya. Hal ini sungguh membuat hati pria paru baya itu pilu.
Kurama merasa cemas sekali melihat wajah pucat ayahnya. Sebenarnya hari ini Kurama sengaja berkunjung setelah Iruka sang kepala pelayan di rumah ini menghubunginya dan melaporkan kondisi kesehatan ayahnya yang menurun.
Kurama sebenarnya sangat malas berkunjung mengingat hubungannya dengan sang ibu yang begitu dingin.
Namun walau begitu pria 30-an tahun itu tak sampai hati mengabaikan ayahnya.
"Tousan kau baik-baik saja?"
Minato tersenyum sendu. "Tousan baik-baik saja."
Kurama tidak percaya ayahnya baik-baik saja. Kalau baik-baik saja lalu kenapa suaranya terdengar begitu menyayat hati?
"Ku..! Bisakah kau menginap malam ini?"
SasuFemNaru
Cekitt...
Sebuah mobil jenis Range Rover berwarna putih berhenti mendadak di depan sebuah rumah sakit dengan suara ban mendecit.
Seorang pria kemudian keluar tergesa-gesa. Dan berlari masuk ke dalam rumah sakit, meninggalkan mobilnya yang di parkir asal.
"Permisi! ruang rawat atas nama Hatake Kakashi di mana?" Pria itu bertanya cepat.
"Maaf apa anda keluarganya?" balas Suster itu ramah.
"Iya, benar aku kerabatnya!" Jawab pria itu.
"Ah~iya pasien atas nama Hatake Kakashi dirawat dilantai 4 kamar no. 29."
Setelah mendapatkan Info yang diinginkannya. Pria itu kembali berjalan tergesa-gesa menuju ke lift hendak ke tempat rawat Kakashi.
1
2
3
Matahari sudah mulai terbit ketika Kyuubi pulang dari rumah sakit. Semalaman dia menunggu pria yang ditolongnya di Rumah Sakit. Kyuubi memilih pulang saat seseorang yang mengaku sebagai kerabat pria itu datang. Tapi dia pulang tanpa permisi ataupun menyapa kerabat pria yang di tolongnya itu.
Itu karena Kyuubi sudah sangat lelah dan juga sangat mengantuk karena telah terjaga semalaman.
Selain itu, orang yang baru datang tersebut juga sedang sibuk berbicara pada Dokter.
Itulah kenapa dia pergi begitu saja, dan biarkan saja orang itu berpikir Kyuubi adalah orang yang tidak sopan karena pergi tak permisi. Toh, tidak mungkin mereka akan bertemu lagi!
Kyuubi sampai di flat kecilnya, dengan kepala terantuk-antuk, dia mencari kunci di tas selempangnya dan saat menemukannya Kyuubi membuka pintu flatnya.
Clekk...
"Huff..."
"Ahhrgg..." baru juga Kyuubi mau masuk ke rumahnya, tiba-tiba seseorang meniup lehernya hingga membuatnya terkejut karena geli.
"Khe~khe~khe..."
Kyuubi mengalihkan perhatiannya kebelakang saat mendengar suara terkekeh di belakangnya.
"Sai..." Erang Kyuubi saat melihat Sai terkekeh kecil sambil menutup mulutnya dengan salah satu telapak tangannya.
"Ohayou Ne-chan ku yang cantik!"
Sapa Sai dengan ceria pada Kyuubi.
T . B . C
Note :
Akasuna Kyuubi dan Namikaze Naruto adalah orang yang sama.
karena Naruto hilang ingatan makanya dia nggak ingat nama aslinya. Nama Kyuuby sendiri adalah nama pemberian dari orang yang sudah merawat Naruto selama hilang ingatan.
