"My Lovely, Fernandes"
By: Uchiha-Cla/Karura-Clarera
FAIRY TAIL FANFICTION
Disclaimer: Mashima Hiro-sama
Warnings: OOC, Abal, Tidak Menarik, Hasil seorang amatir.
TADA! Author sudah berusaha untuk update kilat loh, tapi tetap lama, gomen... Terimakasih untuk review di chap sebelumnya, yaa. Review dari semuanya menjadi penyemangat untukku *meski hanya sedikit*:')) *terharu*
BALASAN:
(*) Kasumi Yukimura: Sudah diupdate yaa... chapter ini lebih panjang dari chap sebelumnya lohhh *sepertinya* Hehe, thanks ((:
(*) GummyZone: Hehe, penasaran, ya... -,- sesuai pesanan, dibanyakin Jerza-nya loh di chap ini... meski ada hal sedikit mustahil *maaf author suka mengkhayal ketinggian soalnya jadi kalau ada yang sedikit membingungkan maaf, ya.. hehe thanks ((:
(*) synstropezia: Waah senangnya dapat reader bersemangat membaca fict-ku. (: hehe, maaf ya sedikit lama update-nya. Ada dong.. Jangan menyesal jika kurang puas di chap ini tentang kutukan gelapnya, sebentar lagi akan terungkap semua kok! Hehe, thanks yaa ((:
Aha, di chap ini beneran ada tentang kutukan kegelapannya loh! ga bohong! dan yang terpenting kali ini author akan langsung update dua chapter karena chapter 4 dibagi jadi 4A dan 4B. maaf, ya jika di chap ini ada yang tidak menarik. Pokoknya, HAPPY READING HAPPY REVIEW! (:
Masa skorsing untuk Jellal telah berakhir, dengan begitu Jellal kembali bersekolah dengan mendongak angkuh di auditorium itu. Saat ini ia tengah berdiri di atas panggung auditorium bersama keempat anggota Fairy Tail lainnya.
"Anggota Fairy Tail ke-5 periode ini, Jellal Fernandes!" kata Natsu dengan mic yang dipegangnya. Gray menyematkan pin tanda keanggotaan resmi Fairy Tail di kerah Jellal. "mari kita beri tepuk tangan!" tambah Natsu dengan nada bersemangat namun tetap bernuansa formal karena sang kepala sekolah, Makarov menyaksikan acara pelantikan ini.
Seluruh murid dan guru yang menyaksikan acara pelantikan anggota osis dan Fairy Tail ini bertepuk tangan dengan riuhnya. Memenuhi seluruh ruang auditorium ini.
Jellal melirik pada Erza yang berdiri bersebelahan dengan Natsu itu. Erza menyadari lirikan Jellal dan ikut melirik tajam pada Jellal. Gemuruh tepuk tangan dari penonton itu seolah menjadi suara latar belakang untuk perang dingin antara Jellal dan Erza.
'Asisten, siapkan dirimu.' Batin Jellal sambil menyeringai lebar. Membuat Erza muak.
'Kau yang akan menyesal.' Batin Erza seolah dapat bertelepati dengan Jellal.
CHAPTER 4A
'Jellal Fernandes Kembali Bersekolah'
Di lorong koridor, dimana komunitas penggosip berkumpul, disitulah Erza berjalan dengan gontai saat ini. Entah mengapa ia merasa gontai tidak jelas.
"Jellal menjadi anggota Fairy Tail? Yang benar saja?!" ujar Levy, sang ketua komunitas penggosip itu.
"Dia memang kuat, aku tidak akan mengatakan apa-apa." Sahut Gajeel, anggota Fairy Tail ke-1, sambil mengibaskan tangannya di udara. Levy menggembungkan pipinya karena kesal dan penasaran.
"Entah, sepertinya Jellal-san memang sangat kuat. Aku juga tidak begitu keberatan jika ia menjadi anggota Fairy Tail." Tambah Wendy, anggota Fairy Tail ke-3, dengan nada lemah. Tidak bersemangat seperti biasanya.
Levy melipat tangannya di depan dada, "Apa maksud kalian? Bukan soal kekuatan, tetapi soal kehormatan dan kebanggaan Fairy Tail di SMA Fairy ini, tahu! Jellal seorang berandalan, mengapa bisa diterima sebagai anggota Fairy Tail?!" serunya dengan nada tinggi. Erza dapat mendengar perbincangan itu dengan sangat jelas.
Begitu Erza sedikit terfokus pada perbincangan ketiga penggosip handal di sekolah ini, ia melupakan langkah kakinya dan malah terjungkal ke depan karena ia terjerat tali sepatunya sendiri. Untung sebuah tangan menarik lengan kiri Erza dan menahannya agar tidak terjatuh.
Erza mendongak ke sang pemilik tangan. Ekspresinya berubah begitu ia mengetahui siapa orang itu. Erza langsung menepis tangan itu dan menatapnya sinis, "Tidak usah membantuku!" ujar Erza dengan ketus.
"Huh, galaknya. Bersyukurlah karena wajahmu tidak jadi rata dengan lantai." Sahut Jellal dengan datar.
Erza mendengus dan beranjak pergi meninggalkan Jellal, namun langkahnya dihalangi oleh Jellal yang telah berdiri di hadapan Erza itu. "Mau pergi kemana, asisten?" tanya Jellal menyeringai.
"Asisten?" ulang Erza, lalu Erza memukul keningnya pelan karena teringat perjanjian itu.
Lagi-lagi Jellal menyeringai karena melihat tingkah gadis itu. Dengan kasar, Jellal melemparkan jas yang tadi ia pakai saat pelantikan pada gadis itu. Erza langsung menangkap jas itu dengan kikuk dan heran. "Bawakan jas itu ke ruang Fairy Tail! Aku ingin ke kantin untuk membeli makanan." Ujar Jellal dengan seenaknya lalu berlalu begitu saja.
Erza bersungut-sungut kesal sambil berjalan ke ruang Fairy Tail. Ia membuka pintu ruangan itu dan memasukinya. Menaruh jas abu-abu itu di sebuah punggung kursi dalam ruangan yang sedang kosong itu. Lalu Erza segera kembali ke kelas untuk bersiap-siap memulai pelajaran.
Di tengah perjalanan menuju kelasnya, tepatnya di lorong sebelah tangga, Erza merasa berkunang-kunang tanpa sebab. Pandangannya kabur untuk beberapa saat. Akhirnya Erza memutuskan untuk berhenti sesaat sambil menyandarkan tubuhnya pada tembok. "Seharusnya aku mendengarkan Baachan untuk sarapan." Gumamnya sambil memegang kepalanya.
Ia memejamkan matanya untuk sesaat dan berdoa semoga sakit kepalanya segera berakhir. Setelah merasa cukup membaik, Erza berjalan cepat menuju kelasnya.
Sialnya, Erza terlambat 15 menit begitu sampai di kelas dan sialnya lagi, guru yang mengajar adalah guru paling sensi dan menyebalkan sedunia, Jura-sensei.
"ERZA!" seru Jura dengan suara menggelegar, "beraninya kau datang terlambat di jam pelajaran saya!" tambahnya dengan wajah menyeramkan.
Seluruh murid di kelas itu membeku dan tidak berani mengatakan apa-apa untuk membela Erza. "A-ano, sensei. Tadi aku..."
"Saya tidak mau mendengar alasan kamu! Cepat ke lapangan dan lari sepuluh keliling!" perintah Jura dengan nada tinggi. Lalu ia mendorong Erza keluar dan menutup pintu kelas dengan kasar.
Erza yang merasa lemah hanya menyeret kakinya dengan sebal. Sungguh sialnya hari ini. Erza mengumpat pada dirinya sendiri karena tadi pagi ia dengan entengnya menolak sarapan yang telah dibuatkan neneknya sendiri. Akibatnya sekarang ia merasa tidak memiliki tenaga sama sekali.
Dengan langkah yang berat, Erza menuju lapangan yang mana ia harus melewati jembatan kecil yang menghubungkan gedung kelas dengan taman, lapangan dan kantin. Sial, Erza merasakan sakit kepala itu lagi di saat yang tidak tepat. Ia berjalan terhuyung. Tak disadari siapapun, Erza jatuh ke dalam sungai di bawah jembatan kecil itu dalam keadaan pingsan.
'Maaf, Laxus-niisan. Mungkin aku hanya dapat bertahan sampai di sini...' pikir Erza yang sudah tenggelam di dalam sungai dengan kedalaman sekitar 2 meter itu.
Apakah ini akhir hidup Erza? *lebay ah -.-*
.
.
Seorang pemuda berambut biru berantakan, Jellal Fernandes, berjalan dengan bahagianya di sepanjang kantin itu. Ia berhenti di sebuah counter yang menjual roti croissant kesukaannya.
"Bibi, aku mau 1 Lava Chocolate Croissant, 1 Apple Pie, 1 Sweet Red Bean Bread, dan 2 Kiwi Yoghurt, ya." Pesan Jellal dengan beruntun. Sang bibi mengangguk karena sudah terbiasa dengan pesanan Jellal yang banyak itu.
Satu menit kemudian, sang bibi memberikan seplastik berisi pesanan Jellal dengan tersenyum. "Total 10,000 Jewel." Ujar si bibi kemudian.
Jellal mengangguk dan memberikan 10,000 Jewel pada bibi pelayan itu. "Terimakasih, Jellal-chan." Ujar si bibi kemudian.
Tanpa menunggu waktu lama, Jellal meninggalkan kantin dan memakan Croissant-nya di dekat pohon sakura dekat lapangan itu. Pohon sakura itu terlihat mengering karena sebentar lagi akan musim gugur. "Meski kering seperti ini, kau tetap indah." Gumam Jellal pada pohon itu. Ia begitu menyukai pohon sakura itu, entah mengapa. Mungkin karena pohon itu adalah tempatnya untuk berteduh dan makan selama ini di sekolah.
Jellal memakan rotinya dengan rakus, lalu ia menyesap kiwi yoghurt kesukaannya. Begitu kedua santapannya itu telah habis tak bersisa, ia membuang pembungkusnya ke tong sampah terdekat. Kemudian Jellal beranjak kembali ke kelas dengan membawa sisa roti dan yoghurt yang belum dimakannya.
Ia melewati lapangan dan jembatan kecil untuk ke gedung kelas. Begitu di tengah jembatan, ia menatap sungai di bawahnya dengan heran. Banyak gelembung bermunculan di permukaan sungai itu. Jellal awalnya tidak peduli, namun Jellal akhirnya cemas tanpa sebab karena gelembung itu terasa seperti bukan gelembung biasa. Lalu Jellal berjongkok di pinggir jembatan dan menerawang ke dalam sungai yang cukup dalam itu.
Matanya melebar begitu menemukan sesosok gadis berambut merah panjang ada di dalam sungai itu. "Erza?!" pekik Jellal sedikit terkejut. "Hoi, ERZA!" panggil Jellal sambil menggerak-gerakkan tangannya di atas sungai, namun sia-sia. Tak ada jawaban dari Erza.
Mendadak Jellal diselimuti oleh rasa takut. Ia melempar plastik roti dan sepatunya, lalu menyebur ke sungai itu. Menyelamatkan Erza yang sudah tak sadarkan diri itu.
Begitu berhasil merengkuh Erza di dalam air, Jellal menepuk-nepuk pipi gadis itu dengan cukup keras. Sayangnya Erza tidak membuka matanya. Akhirnya Jellal merangkul gadis itu dan membawanya ke atas permukaan lalu membaringkan gadis itu di tepi sungai yang berumput.
"Hey, Erza! Erza!" Jellal menepuk-nepuk pipi gadis itu hingga memerah dan gadis itu tetap tak sadarkan diri. Jellal menaruh dua jarinya di bawah hidung Erza dan Erza tidak bernapas. Lalu ia mengecek nadi gadis itu dan dirasakannya denyut yang sedikit lemah.
Jellal menjadi sedikit panik. Ia yang basah kuyup sama seperti Erza menoleh ke sana kemari untuk mencari orang yang dapat menolongnya, namun luar gedung sekolah saat ini sangat sepi karena sedang jam pelajaran.
Akhirnya Jellal memberikan CPR pada Erza. Memberinya napas buatan hingga Jellal kehabisan napas.
"Uhuk, uhuk!" beberapa saat kemudian akhirnya Erza terbatuk dan bernapas kembali. Jellal yang sedikit kelelahan itu tersenyum kecil karena reaksi dari Erza. "Je-jellal?!" seru Erza dengan mata terbuka lebar. Dilihatnya dirinya dan Jellal basah kuyup tanpa diketahui sebabnya.
"Dasar ceroboh." Cetus Jellal sambil menyentil kening Erza. "apa yang kau lakukan di dalam air, baka?" tanyanya kemudian.
"Di dalam air?" ulang Erza tidak mengerti.
"Kau tenggelam, baka."
Erza terdiam. Ia menundukkan kepalanya dan tidak menjawab pertanyaan Jellal barusan. Jellal yang melihat wajah Erza yang pucat itu pun menghentikan pertanyaannya.
Tanpa meminta ijin dari Erza, Jellal mengangkat tubuh Erza ala bridal style. "Je-je-jellal..! apa yang kau lakukan?!" tanya Erza terbata.
"Diam saja." Sahut Jellal dengan dingin.
Mendengar itu, Erza pun pasrah. Membiarkan Jellal menggendongnya hingga UKS. Membuat dokter penjaga UKS itu sedikit terkejut karena Jellal dan Erza yang datang dengan gaya seperti pengantin baru itu.
"Apa yang terjadi?" tanya dokter perempuan paruh baya itu.
"Ia tenggelam ke dalam sungai dan wajahnya pucat. Sepertinya ia sedang sakit, dok." Terang Jellal dengan rinci. Sang dokter mengangguk tanda mengerti.
"Baiklah, aku akan merawat gadis ini. Kau ganti bajulah dengan seragam cadangan yang disediakan di lemari itu." Ujar dokter. Jellal mengangguk dan berjalan menuju lemari yang ditunjuk, sedangkan dokter memeriksa keadaan Erza yang mulai menggigil itu.
Beberapa saat dokter memeriksa, lalu sang dokter pergi sebentar dari ranjang yang ditiduri Erza untuk mengambil stetoskopnya. Erza yang basah kuyup mendapatkan lemparan tidak menyenangkan di wajahnya.
"Kurasa itu cukup untukmu. Jangan sampai mati kedinginan!" ujar Jellal dengan kasar.
Erza menyingkirkan kemeja dan rok seragam yang dilempar Jellal sambil mendengus sebal.
"Kenapa? Kau memintaku untuk mengganti bajumu juga?" balas Jellal menyeringai.
"Jangan mimpi!" timpal Erza dengan cemberut, "pergi! Aku ingin ganti baju! Jangan mengintip!" perintahnya kemudian.
"Aku tidak tertarik pada tubuh berotot sepertimu." gurau Jellal sambil berlalu meninggalkan Erza yang bersungut-sungut kesal itu.
.
.
"ERZA!" dengan gesitnya Lucy meluncur ke UKS begitu mendengar kabar Erza sedang dirawat oleh dokter di UKS. "Bagaimana keadaanmu? Sudah baikan? Ada apa denganmu? Mengapa bisa terjatuh ke dalam sungai? Apa yang kau rasakan?!" tanya Lucy bertubi-tubi. Membuat Erza pusing lagi.
"Hey, hentikan! Kau membuat Erza sakit lagi, tahu!" tepis Natsu sambil menyingkirkan Lucy yang memeluk-meluk Erza dengan brutalnya itu. (?)
Erza tersenyum kecil melihat kedua orang itu meluncur ke UKS ini begitu jam istirahat tiba. "Aku sudah baikan, Lucy." Ujar Erza untuk menenangkan Lucy yang terlihat panik itu.
Gray kemudian memasuki UKS ini setelah Lucy dan Natsu. "Yo, Erza. Kau sudah sadar?" tanya Gray dengan datar dan tenang.
Erza mengangguk pelan.
"Kudengar kau tenggelam dan beristirahat di sini." ucap Gray begitu berdiri di sebelah ranjang Erza.
"Ah, siapa yang menyelamatkanmu saat tenggelam, Erza? Seingatku kau tidak bisa berenang, Erza?" tanya Lucy dengan penasaran.
"Siapa lagi, kalau bukan Jellal." Sahut Gray sambil tersenyum pada Erza yang langsung melemparkan ancaman pada Gray setelah itu. Gray pura-pura tidak lihat tatapan mengancam itu.
Lucy menatap Gray dengan tidak percaya, "Jellal? Serigala itu?!" ulang Lucy memastikan, "benar kau diselamatkan Jellal, Erza?" Lucy menoleh pada Erza.
Dan Erza mengangguk dengan setengah hati.
"Wah! Bagaimana dengan yang memberimu napas buatan? Jellal juga melakukannya?!" tanya Lucy lagi.
Mendengar pertanyaan aneh itu, Erza sedikit tersedak. Ia tidak ingat apa-apa selain saat ia membuka matanya dan mendapat kata-kata menyebalkan dari Jellal.
"Ti-tidak ada yang memberiku napas buatan, baka!" terang Erza meluruskan, "aku sadar dengan sendirinya, jadi tidak perlu napas buatan segala!" tambahnya dengan penuh penekanan.
"Hmm, begitu, ya." Gumam Lucy masih ragu.
"Sudahlah, Lucy. Ayo kita kembali ke kelas dan biarkan Erza beristirahat dengan tenang." Ucap Natsu kemudian sambil menarik tangan Lucy, "sampai jumpa lagi, Erza. Cepat sembuh." Tambahnya dengan senyuman pada Erza.
Erza pun membalas senyum Natsu.
"Cepat sembuh, ya, Erza! Jangan sakit lagi, okay?" tambah Lucy sambil memeluk Erza sebelum akhirnya ditarik keluar secara paksa oleh Natsu.
Gray tersenyum tipis pada Erza, "Lekas sembuh, Erza." Ujarnya dengan simpatik. Erza mengangguk dengan seulas senyum.
Begitu semuanya keluar dari UKS, suasana menjadi hening kembali. Sebelum istirahat, Jellal pergi meninggalkan Erza tanpa pamit. Lalu sang dokter juga pergi karena ada praktek di rumah sakit. Jadi Erza dibiarkan tidur sendirian di ruangan serba putih ini.
Erza mencoba untuk mendudukkan dirinya di pinggir ranjang lalu menguatkan dirinya untuk berdiri dan berjalan keluar UKS. Ia berjalan pelan-pelan sambil berpegangan pada dinding sekelilingnya menuju meja piket untuk meminta ijin pulang.
Begitu mendapat surat ijin pulang, Erza mengambil tasnya di kelas dan berjalan ke luar gedung sekolah. Ia berjalan lemah ke rumahnya yang berjarak kurang lebih 5 km dari sekolahnya.
"Kau berhutang padaku karena aku yang telah menyelamatkanmu dari dinginnya air itu." Sebuah suara berat terdengar dari telinga kanannya. Erza menoleh cepat dan didapatinya Jellal yang berjalan santai di sebelahnya itu.
"Je-jellal!" pekik Erza dengan kaget. "sedang apa kau di sini?"
"Hn, dasar asisten ceroboh yang merepotkan." Sahut Jellal dengan dingin. Membuat Erza berjalan lebih cepat dari sebelumnya, namun Jellal terus mengikutinya dan bahkan mengimbangi langkah Erza membuat Erza tambah kesal.
Untung saja Erza sedang lemah saat ini, jadi ia tidak akan melayangkan tendangan mautnya itu lagi.
Jellal terus membuntutinya hingga kompleks B-Fiore. Kompleks rumah Erza di C-Fiore. Di tengah langkah kaki Erza, tiba-tiba saja Jellal menarik pergelangan tangan Erza cukup keras hingga gadis itu terlempar ke belakang dan menubruk tubuh Jellal.
"Apa yang kau lakukan, baka?!" tanya Erza dengan dongkol. Jellal tidak mempedulikannya, mata Jellal terpaku pada sosok yang ada di depannya.
"Sudah lama tidak bertemu, Jellal..." sebuah suara asing bagi Erza terdengar. Dengan cepat Erza menoleh ke pemilik suara dan ia mengerutkan dahinya begitu melihat si pemilik suara itu.
Seorang pemuda berambut pirang, berbadan besar dan memakai seragam dengan acak-acakkan *lebih acak-acakkan dari Jellal*. Erza tidak mengenal pemuda itu.
"Sting..." desis Jellal. kedengkian dapat ditangkap Erza melalui nada bicara Jellal. ketegangan dirasakan kedua belah pihak.
"Oh, kali ini membawa pacar, ya? Tak kusangka kau lelaki populer juga, ya." Ujar Sting, pemuda berandalan itu. "yo, gadis berambut api, putus saja dengan Jellal. Lebih baik denganku, aku lebih berandal darinya. Kau suka dengan yang berandal, bukan?!" sambung Sting sambil menyeringai pada Erza.
Erza merinding mendengar Sting yang berbicara layaknya orang terberandal sedunia itu. "Tidak usah didengar. Dia hanya orang gila dari Sabertooth." Bisik Jellal yang bermaksud menenangkan Erza.
"Hm," gumam Erza tanda mengerti.
"Hoi, Sting, ada apa?" orang lainnya datang mendekati Sting yang sedang menatap intens pada Erza dan Jellal itu. "wah, wah, wah, ada Jellal, the Blue Wolf, ya?" kata orang berambut hitam yang baru datang itu. "Wah, kali ini dengan pacarnya, ya? Wah wah..." sambung Rogue, orang berambut hitam itu.
"Diamlah kau, aniki! Aku tak akan membiarkanmu merebut gadis incaranku!" ancam Sting dengan lantang. Membuat Rogue menyeringai ngeri.
"Hm, begitu, ya? Jadi, kali ini kita sedang memperebutkan gadis manis berambut merah itu, ya?" tanya Rogue masih dengan senyuman ngerinya.
Sting mengangguk keras.
"Jangan mimpi mendapatkannya!" balas Jellal datar dengan menunjuk Erza, "kau akan menyesal!" tambahnya. 'menyesal karena tendangan gadis ini benar-benar menyakitkan.' Batinnya.
"Hah? Jellal, kau mengancam kami, ya?" sahut Sting tidak terima.
"Wah, kau sungguh mencintai gadis itu, ya, sepertinya." Tambah Rogue.
Erza mendadak malah merasa malu dan canggung entah mengapa. Semburat merah menaungi seluruh kulit wajahnya yang putih. Degup jantungnya sungguh tak karuan, terlebih saat ini Jellal membiarkan Erza untuk bersandar di dada bidangnya.
"Enyahlah. Aku tidak ingin mempersulit keadaan." Ujar Jellal kemudian dengan aura gelap menyelubunginya, "kalau ingin berurusan denganku, jangan libatkan gadis rambut merah ini." Sambil menunjuk Erza lagi.
Sting dan Rogue tertawa renyah mendengar perkataan Jellal barusan itu. Erza menautkan keningnya karena bingung dengan kedua pemuda dari Sabertooth itu.
"Heh, kau sungguh tidak menyenangkan." Kata Sting masih dengan tawaan renyah.
"Kau yang mengatakannya, Jellal. Kami pasti akan membunuhmu, setelah Minerva kembali ke Fiore!" ucap Rogue kemudian dengan dingin. Atmosfer sekitarnya berubah menjadi ketegangan. Erza merasa tidak dapat bernapas untuk sesaat karena tercekik oleh ketegangan ini.
Setelah mengatakan itu, Rogue dan Sting pergi meninggalkan Erza dan Jellal yang kembali berjalan menuju rumah Erza itu.
"Sorano!" panggil Rogue kepada salah satu anak buahnya, "kau mendapatkan fotonya?" tanyanya kemudian.
Seorang gadis yang dipanggil Sorano mendekat kepada Rogue dan memperlihatkan selembar foto hasil jepretan kamera polaroidnya. "Seperti yang kau inginkan, Rogue-sama." Ucapnya.
Rogue tersenyum puas, "Cantiknya..." gumam Rogue menatap foto wajah Erza, "sayang, kau juga lahir di Fase Eight... sama sepertiku..."
Apakah Fase Eight gerangan?
Apakah ini ada hubungannya dengan Kutukan Gelap yang merundung Erza dan saudaranya?
DI SISI ERZA DAN JELLAL...
Erza berjalan pelan diikuti Jellal di belakangnya. Sebenarnya Erza merasa sedikit risih, apa sih maunya pemuda ini? Gumam Erza berkali-kali setiap kali ia menoleh ke belakang dan masih melihat paras pemuda berambut biru berantakan itu.
Tak terasa, Erza tiba di kompleks rumahnya. Ia pun melangkah lebih cepat agar Jellal kehilangan jejaknya, namun Erza gagal, karena Jellal masih dapat mengejarnya meskipun Erza telah berlari.
Sampailah di depan rumah minimalis dengan cat berwarna hijau muda dan dipenuhi oleh pot-pot bunga mawar di halaman depannya.
"Ini rumahku, enyahlah! Jangan harap kau boleh masuk ke rumahku!" cetus Erza dengan ketus pada Jellal yang sedang memandang rumah Erza itu.
"Hm, jadi di sini rumahmu?" tanya Jellal tanpa menghiraukan perkataan Erza sebelumnya. "ah, ya. Asisten, berikan nomor ponselmu." Pintanya kemudian.
Erza memiringkan kepalanya sambil menautkan sepasang alisnya, "A-apa?" tanyanya dengan bingung.
Tanpa menjawab, Jellal malah mengambil ponsel yang digenggam Erza dan mengetikkan nomor ponselnya di ponsel Erza. Lalu Jellal memanggil nomor itu dan Jellal mengecek ponselnya yang bergetar di sakunya itu.
"Hm, aku sudah dapat nomormu." Ujar Jellal dengan datar. "yang kuhubungi barusan dengan ponselmu itu adalah nomorku. Simpan baik-baik. Jangan sampai kau melewatkannya." Tambah Jellal yang kedengaran seperti memerintah.
"Hn." Dengus Erza dengan sebal begitu menatap ponselnya yang dikembalikan oleh Jellal.
"Asisten, jika aku menelponmu, segera angkat, okey?" perintah Jellal dengan menyeringai, "ingat! Sekali asisten, tetap asisten!" sambungnya dengan nada mengancam.
Tapi Erza sama sekali tidak gentar akan nada mengancam itu. Erza hanya terdiam dengan melengos, muak dengan wajah Jellal. Detik berikutnya, Jellal berdeham pelan dan berlalu meninggalkan Erza.
Menatap punggung Jellal yang mulai menjauh itu, Erza menggertakan giginya karena dengki, "AKU SUNGGUH MEMBENCIMU, JELLAL! SANGAT MEMBENCIMU!" seru Erza dengan sekeras-kerasnya hingga terdengar jelas di telinga Jellal.
"KUHARAP KAU TIDAK MENYESAL DI KEMUDIAN HARI KARENA TELAH MENGATAKAN ITU, ASISTEN!" balas Jellal dengan suara yang tak kalah kerasnya. Mendengar itu Erza makin dongkol.
"TIDAK AKAAAANNNN!" balas Erza lagi dengan panjang. Hingga Evergreen, neneknya, yang mendengar itu keluar dari dalam rumah dan melempar Erza dengan sandalnya.
"BERHENTI TERIAK-TERIAK PADA PACARMU SEPERTI ITU, BAKA!" seru Evergreen dengan nada mencekam. Erza mengelus kepalanya karena sandal yang melayang tepat di kepala Erza.
"Ma-maaf, baachan..." gumam Erza dengan mata berkaca-kaca, karena tidak tahan lagi dengan semua ini.
Hari ini sungguh menyebalkan! Batin Erza berulang kali.
CHAPTER 4A END!
YAAAP, lanjut ke chap 4B! (:
