Oh My Rival part 4 : The Gloomy Chamber
.
.
"Fyuuh."
Ino meregangkan tubuhnya, sedikit stratching untuk melemaskan ototnya sembari membuang nafas. Mata biru langitnya kemudian menatap sahabatnya—Sakura, yang kini sedang terlelap di kasurnya, surai merah mudanya tersibak kontras dengan warna spreinya. Terbentuk kurva melengkung—sebuah senyuman lebar, saat pikirannya melayang melihat kondisi kamarnya yang berantakan tidak karuan karena pillow fight mereka beberapa jam yang lalu. Sakura memang sering menginap di rumah Ino untuk sekedar bermain atau belajar bersama, begitupun sebaliknya.
"Si pink itu ileran, haha." Ino tertawa kecil setelah sadar akan objeknya mengeluarkan sedikit aliran air dari mulut mungilnya. Namun tak lama Ino menggelengkan kepala, merasa kantuknya sudah hilang berkat hiburan tidak sadar dari Sakura. Mata birunya kembali fokus pada objek utamanya—buku pemberian Shikamaru. Dibuka lagi buku itu, lembar demi lembar. Memang butuh lebih dari lima menit untuk mencerna tiap lembarnya. Bukan masalah, selama nilai remedialnya bisa mencapai nilai A dan bukan masalah juga dia tidak tidur hingga pagi, selama eksistensinya sebagai siswa biasa dari kelas biasa akan mulai diperhitungkan oleh Kurenai-sensei.
Ino mengepalkan tangannya kemudian mengeratkan ikat kepalanya yang bertulis, 'PANTANG TIDUR SEBELUM PAHAM!' "Semangat, Ino!" gumam Ino meyakinkan dirinya.
.
"Spongebob! Bagaimana? Bagaimana? Kau lancar kan?" Belum sempat Ino melangkah keluar kelas, Sakura menghujaninya pertanyaan. Ino hanya tersenyum lebar, selebar-lebar otot wajahnya mampu. Sakura yang paham akan senyuman Ino langsung memeluk sahabatnya itu ringan. Kemudian mencubit pipi Ino sambil tertawa.
"Haha, siapa dulu gurunya? Sakura Haruno!" pernyataan canda Sakura hanya mendapat dengusan kencang dari Ino yang masih tertawa. Benar juga, Sakura adalah gurunya maupun sahabatnya. Guru yang mengajari bahwa cinta dan kecerdasan harus seimbang—mengajari untuk meraih sesuatu yang mungkin tampak mustahil dengan menggunakan intuisi hati dan percaya. TAPI, kalau untuk pelajaran, jujur Ino akan lebih memilih Shikamaru daripada sahabatnya yang bernama alias Patrick itu.
"Romantisnya, kurasa buku dari Shikamaru itu sangat membantumu, ya?" goda Sakura.
"Kurasa begitu. Buku ini lumayan keren," jawab Ino jujur. Kemudian menggenggam erat buku pemberian Shikamaru. Benar kata Sakura, buku itu benar-benar membantunya memahami soal rumit yang diberikan Kurenai-sensei tadi, dan untuk itu Ino perlu berterima kasih. Untuk sekarang Ino cukup percaya diri meraih nilai terbaik, dan untuk seterusnya Ino akan berusaha sekuat tenaga agar bisa menyaingi Shikamaru.
"Hai, Sakura-chan, Ino-chan!" sapa Naruto.
"Hai Naruto!" ujar Ino sambil membalas senyuman Naruto. Sesekali gadis berambut pirang itu melirik sahabat pinknya yang terlihat bingung itu. lucu memang, sampai sekarang saja Ino masih bingung sebenarnya Sakura itu suka pada Naruto atau ya mungkin gadis manis bernama bunga khas jepang itu masih menyimpan rasa pada seorang Uchiha Sasuke.
"Ujian perbaikannya bagaimana?" tanya Naruto sebelum pria muda berambut kuning pirang itu berceloteh ini-itu. Ino paham betul saat bercengkrama, mata biru Naruto sesekali mencari perhatian dari sahabatnya—Sakura.
"Tentu saja lancar! Aku yang kemarin mengajarinya!" celetuk Sakura.
"Benarkah? Apa Sakura-chan yang mengajarimu, Ino? Kupikir Sakura-chan sangat lemah dalam bidang biologi?" tanya Naruto polos. Sedangkan Ino hanya bisa tertawa renyah. Yang Ino tahu, Sakura mengajarinya untuk ber-pillow fight dan menjadi penyerang bantal yang tangguh.
"HEI! NARUTO! Kau meragukan kecerdasanku?" geram Sakura yang hanya dibalas oleh wajah polos Naruto. Salah tingkah karena melihat wajah manis Naruto saat pria itu bingung akhirnya Sakura hanya bisa memukul lengan Naruto pelan.
"Aku tidak mungkin meragukan kecerdasanmu, Sakura-chan. Tidak peduli nilai Sakura-chan lebih banyak C nya bagiku Sakura-chan tetaplah wanita yang cerdas dan tangguh." Mendengar ucapan Naruto yang polos itu, Sakura naik pitam lagi dan meninju Naruto. Dan yah…begitulah setiap harinya sejoli yang belum resmi itu bersikap satu sama lain. Karena itu tiap kali Ino bertemu dua perpaduan kuning-pink itu serasa dunia menjadi sangat meriah dan heboh. Bagaimana tidak? Sakura dan Naruto selalu bisa membuat orang lain tersenyum bahkan tertawa acap kali mereka bertemu.
"Oh Ino-chan, aku lupa tadi Shikamaru mengirim pesan singkat agar menyuruhmu ke taman. Cepatlah kesana!"
"Cieee...! Pasti dia ingin menembakmu, Spongebob!" Sakura dengan tanggap menanggapi ucapan Naruto dan menggunakannya sebagai alat untuk menggoda sahabatnya. Sedangkan Ino hanya bisa melirik sinis pada sahabatnya, "Oi, Patrick, kurasa kau harus menerima pinangan Naruto. Sebelum ada wanita yang bisa menggantikan posisimu. Wee!" jawab Ino sambil menjulurkan lidahnya untuk selanjutnya meninggalkan NaruSaku itu.
Naruto hanya bisa melirik Sakura sesaat setelah mendengar ucapan Ino yang cukup membuatnya tersenyum dalam hati. Sementara Sakura hanya bisa terpaku, speechless dan wajahnya sudah berubah semerah jambu rambutnya. Naruto kembali tertawa kecil melihat tingkah Sakura, memegang pundak gadis itu lembut.
"Tenang saja, Sakura-chan, aku rasa tidak ada wanita yang bisa menggantikanmu." Ujar Naruto menghilangkan ketegangan Sakura sebelum akhirnya pergi meninggalkan gadis Pink itu. Tanpa Naruto tahu, rupanya Sakura meloncat-loncat girang. Entah mengapa konfirmasi Naruto barusan cukup untuk membuatnya sangat bahagia.
.
Mata biru Ino sibuk mencari Shikamaru di taman Sekolah. Sudah lima menit dia mencari keberadaan rambut nanas itu, namun nihil, sepertinya dia sudah tidak ada di lokasi. Ino yang lelah kemudian duduk di salah satu bangku panjang di bawah pohon yang rindang, menghela nafasnya lelah. Setelahnya, gadis berambut pirang itu menyadari kalau ada yang duduk di sampingnya. Sekejap saja aura familiar itu menyergap Ino, aura yang mengerikan. Mata gadis itu melirik perlahan dengan ngeri ke arah sampingnya, detak jantungnya kemudian tak lagi karuan.
"Kau tegang sekali, Yamanaka." ucap sang pemilik suara tanpa melirik lawan bicaranya.
"Uchiha? Uchiha Sasuke?" Sang lawan bicara hanya bisa melirik malas ke arahnya, tersenyum kecil mendengar suara terbata-bata yang terkesan berlebihan milik Ino.
"Ah, aku rasa aku ada keperluan. Aku duluan ya, Uchiha-san ! Semoga harimu menyenangkan!" Kalau boleh jujur Ino ingin sekali duduk di situ lebih lama. Siapa tahu dia bisa berteman dengan orang yang paling peduli terhadap kedisiplinan siswa di sekolahnya, orang yang paling dingin tapi paling tampan. Ah~ tapi sayang sekali, Ino merasa tidak ada yang perlu dibicarakan dengan orang semacam Sasuke. Jadi bukankah lebih baik untuk pergi dan kembali mencari tujuannya ke taman ini yakni mencari Shikamaru.
"Kenapa kau terburu-buru? Bukankah kau baru saja duduk." Ino terpaku di tempat saat mendengarnya. Melihat aura-aura es yang membekukan bergelimangan di antara mereka yang membuat Ino kehilangan suara, dan lebih memilih untuk kembali duduk di samping Uchiha itu. "Baiklah…hehe, Bagaimana kabarmu, Sasuke?" ucap Ino memecah keheningan di antara mereka, sedangkan yang ditanya hanya bisa tersenyum sinis mendengarnya. Secara tiba-tiba, tangan pucat Uchiha itu meraih tangan Ino dan menempatkannya di jantungnya. Ino terkejut! Tapi, tangannya bisa merespon bagaimana detak jantung milik Uchiha itu sangat tenang dan stabil.
"Kabarku? Menurutmu bagaimana?" Tangan dingin itu kemudian perlahan melepaskan tangan mungil Ino. Kemudian menatap mata gadis itu dalam, Ino yang merasa risih kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lingkungan taman di sekelilingnya. Dan…rupanya, tindakan Sasuke tadi cukup membuat seisi taman jadi memperhatikan mereka semua. Mata-mata bingung, ada yang sinis, ada yang seperti membicarakannya, mata-mata itu bertebaran di mana-mana membuat Ino cukup kesal dan spontan berdiri. Menatap Sasuke geram karena tindakan mendadaknya yang aneh itu, namun balasan Sasuke atas dengus geram Ino hanyalah senyuman dingin, sebuah senyuman yang punya ratusan makna mengerikan.
"Aku pergi dulu!"
"Aku ingin membawamu ke suatu tempat." Eh? Ino terkejut.
"Maaf, Sasuke-san. Shikamaru menungguku. Sudah ya!" Namun sebelum gadis itu melangkah, tangan dingin Sasuke menangkap pergelangan tangannya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Ino panik, melihat tatapan Sasuke yang kembali menjadi dingin itu. "Bukankah kau ingin bertemu Shikamaru? Aku akan membawamu menemuinya." Jawaban Sasuke membuat Ino kembali terkejut, pegangan Sasuke pun semakin kuat, sehingga sekuat apapun Ino berusaha melepasnya seolah pegangan Sasuke itu tidak akan bisa lepas. Tanpa basa-basi, Sasuke membawa Ino ke suatu tempat. Pria itu tampak tidak peduli rintihan Ino yang memintanya untuk melepas pegangannya, ataupun pertanyaan Ino kenapa dia diperlakukan seperti ini. Yang Sasuke tahu, ini adalah bagian dari alur cerita, dia ingin menyeret gadis itu masuk ke dalam lubang hitam. Menyeretnya bersamanya, ada harapan besar gadis itu bisa menjadi solusi dari masalah 'mereka'...
.
"Jadi?"
"Jadi? Jadi…aku rasa rencana itu pasti akan gagal. Sudahlah, Hyuuga, hentikan semua rencanamu. Aku ingin ini terakhir kalinya kau memanggilku ke sini."
Neji hanya tersenyum mendengar jawaban Shikamaru. Sudah tertebak olehnya jawabannya akan berupa penolakan. Hyuuga Neji paham betul dengan prinsip kuat seorang Nara—memaksanya hanya akan berdampak pada kegagalan. Dengan memejamkan mata, Neji berkata dengan tenang, "Apa Yamanaka itu pacarmu?" sekilas Shikamaru tidak peduli, namun setelah telinganya berhasil mengoreksi kembali pertanyaan Neji, langkah panjangnya terhenti. Otak jeniusnya mulai mempertimbangkan ratusan premis yang mungkin akan terjadi ketika Neji menyinggung nama Ino.
"Jangan macam-macam dengannya, Hyuuga! Dia hanyalah siswa biasa yang tidak perlu kau seret ke masalah ini." Ucap Shikamaru tegas, tersembunyi dengan rapih memang kerapuhan dari suaranya. Jujur saja, Shikamaru takut kalau Neji akan melibatkan Ino pada masalah mereka. Neji yang mendengar pernyataan Shikamaru hanya bisa tersenyum pasrah.
"Aku hanya bertanya, Nara. Kau tidak perlu sewot, karena aku tidak terlalu tertarik pada wanita pirang." Shikamaru menghela nafas lega, setidaknya tidak ada niat berbohong di intonasi suara milik mantan sahabatnya itu. Dengan begitu, Shikamaru berbalik arah, mengarahkan badannya ke lawan bicaranya itu. "Hyuuga, kau adalah pemimpin di sini, aku rasa kejadian itu sudah cukup untuk membuatmu menyelesaikan semua kericuhan yang sudah mereka dan kita mulai. Selesaikan semua ini, karena itu membuatku muak jika kau masih mempertahankan eksistensi bawaan mereka."
Neji kembali tersenyum. Miris. Mata putihnya meredup lagi, mungkin memang benar apa yang dikatakan oleh seorang Nara itu. Tapi, bagaimana mungkin menghentikan sebuah tindakan yang sudah bisa dianalogikan sebagai ekspansi virus. Bagaimana menghentikan sesuatu yang sudah dimulai sejak sepuluh tahun yang lalu? Karena jika ditebas satu, lahir dua. Entahlah…
.
"Ini di mana?" suara Ino terdengar rapuh. Kelopak matanya mengerjap, menyesuaikan jumlah cahaya yang minim agar penglihatannya tetap jelas.
Lawan bicaranya terdiam sesaat, melepas genggaman tangannya dari Ino dan melangkah perlahan maju ke depan menyalakan lampu yang sudah redup, namun cukup untuk Ino dan dirinya untuk melihat jelas lingkungan di mana mereka berada. Ino kemudian mendongakan kepalanya takjub melihat dinding tinggi itu penuh berisikan foto-foto dan tulisan-tulisan yang tersusun secara acak. Semua itu tersusun secara acak tapi Ino tetap saja takjub, jumlah foto dan coretan dinding maupun tulisan itu pasti sudah di kumpulkan sejak lama sekali hingga sekarang berjumlah sebanyak itu—menghiasi dinding tua itu secara sempurna.
"Ini markas KE…
Sasuke kemudian menghela nafas. Seolah membuang tekanan yang tadi menghinggapinya sejak ia tiba ke tempat itu. Kemudian melanjutkan ucapannya,
…dulu" Dulu? Ino bergumam. Jadi dulu ada tempat semacam ini di sekolahnya? Jadi di balik ketiga gedung besar sekolahnya terdapat satu gedung tersembunyi yang gelap dan besar semacam ini. 'Tunggu…Jika dia bilang ini markas mereka dulu. Lalu sekarang bagaimana?' Ino terus menggumamkan pertanyaan-pertanyaan membingungkan dalam hatinya.
"Kenapa kau membawaku ke sini?" tanya Ino bingung. Menatap Sasuke, kemudian yang ditatap menoleh pelan ke arahnya. Tatapannya masih tajam dan tidak ada tanda ekspresi apapun di sana.
"Shikamaru." Jawab Sasuke tenang. "Bukankah kau mencari Nara Shikamaru?"
"Tapi tidak ada orang di sini, tidak ada Shikamaru! Apa maksudmu membawaku ke sini, Sasuke?" Ino yang bingung kemudian menghujani Sasuke dengan pertanyaan. Namun sang Uchiha hanya terdiam, menatap gadis itu sama tajamnya seperti saat pertama kali. Mungkin lelah dengan suara mengganggu Ino, Sasuke langsung mengunci mulut Ino dengan tangannya dan mendorong gadis itu perlahan ke dinding. Skak Mat Ino!
"Jangan terlalu kasar padanya, Sasuke!" Suara ini? Mata biru Ino terbelalak, suara ini sungguh tidak asing bagi Ino. Dengan perlahan Ino berusaha mendireksikan matanya ke arah sumber suara yang berada tepat di belakang Sasuke. 'Oh tuhan ini tidak mungkin. Bagaimana bisa?'
Melihat ekspresi kaget Ino, Sasuke kemudian tersenyum. Mendekatkan dirinya ke telinga Ino, sangat dekat sehingga gadis itu bisa merasakan hangat dari hembusan nafas Sasuke. Kemudian pria berambut hitam kebiruan itu berbisik pelan, "Kau tampak sangat kaget, Ino? Sudah kubilang, aku membawamu ke sini karena Shikamaru."
'Oh tuhan! Apakah ini mimpi?' gumam Ino menutup matanya, berharap pemilik sumber suara itu bukanlah orang yang sangat dikenalnya. Tapi sayangnya, ini bukanlah mimpi. It's freakin real, Ino!
.
Jam keempat sudah lewat setengah jam yang lalu. Kebetulan Kurenai-sensei sedang ada keperluan di luar Sekolah sehingga jam tersebut kosong. Shikamaru yang baru saja kembali kemudian duduk dengan santainya di tempatnya. Mata gelapnya melirik sesaat ke bangku Ino, kosong? Tumben sekali, biasanya gadis itu kalau telat dari jam pelajaran paling hanya telat sekitar 10 menit tidak mungkin sampai 30 menit.
"Sakura? Apa kau melihat Ino?" Sakura yang sedang sibuk bercengkrama dengan teman-temannya kemudian menoleh, wajahnya langsung menunjukan mimik bingung.
"Bukannya kau habis bersamanya tadi?" tanya balik Sakura.
"Apa maksudmu? Aku bahkan belum bertemu dengannya semenjak istirahat tadi."
"Eh? Bukannya kau yang bilang ingin menemuinya di taman?" Shikamaru terdiam. Dan seketika kepanikan menjalari pikirannya. Karena semenjak jam ketiga dia sudah bolos karena harus mengurus sesuatu karena itu mustahil dia menemui Ino. Setelah jam ketiga itu adalah jam istirahat dan demi Kami manapun, dia tidak bilang kalau dia ingin menemui Ino di taman.
"Siapa yang bilang begitu, Sakura?" intonasi Shikamaru mulai menunjukan kepanikan. Sakura terdiam—ikut terbawa suasana menanggapi suara panik Shikamaru, kemudian mata hijau emeraldnya menoleh ke tempat 'dia' Tempat di mana seharusnya dia duduk. Benar saja! Dia tidak ada di tempat duduknya.
"Naruto… Naruto yang bilang." jawab Sakura pelan.
"Na..Naruto?"
Dan… serasa langit-langit kelas saat itu juga runtuh di atas kepala Shikamaru.
-tbc-
akhirnya selesai juga, berkat mojok di toilet beberapa jam akhirnya dapet beberapa pencerahan. tadinya ngestak banget cerita ini, bingung mau lanjutinnya (ketahuan kalo bukan author sejati, karena semua cerita saya kerangka ceritanya kagak ada alias tergantung mood ama khayalan-_-) haha.
oya, terima kasih banyak bagi yang sudah mampir (juga review kalo ada waktu dan ingin fik ini berlanjut) :)ofc, my lovely CSIF yang tak pernah lelah datang berkunjung dan bercengkrama. ayo kita jaga SHIKAINO bersama my lovely family! :)
salam,
hard-tothedamn-core-SHIKAINO-fans
-nufze-
