Siapa Saya?
Disclaimer : NARUTO - Masashi Kishimoto
Pairing : Shikamaru N & Hinata H
WARNING : OOC, TYPO BERTEBARAN, GAJE NGGAK KARUAN, ANCUR, DLL, DSB.
IF YOU DON'T LIKE MY STORY, DON'T READ!
...
...
...
..
.
"Aku menyukimu."
"E—eh?" Kedua amethyst indah milik Hinata membulat dengan sempurna saat mendengar pengakuan dari pemuda tampan di depannya. kaget? tentu saja kaget. Seingatnya, dia baru saja keluar dari ruang olah raga ketika pemuda di depannya ini tiba-tiba muncul dan meminta ijin untuk berbicara di taman belakang sekolah.
"Kenapa kau diam? Apa kau tidak menyukaiku?" Pemuda bersurai merah tersebut bertanya dengan wajah murung.
"B—bukan begitu."
"Berarti kau juga menyukaiku bukan?" Pusing, itulah yang dirasakan Hinata karena merasa ucapannya disalah artikan. Hinata memang mengidolakan pemuda di depannya ini sejak kali pertama masuk ke Senior High tapi untuk berpikir menjalin hubungan rasanya Hinata tidak pernah memikirkannya, apalagi perasaan yang dimiliki Hinata untuk pemuda di depannya ini hanya sebatas mengidolakan.
Dan disnilah Hinata merutuki ke absenan dua sahabatnya yang berisik.
"A—ano Senpai, bisa beri aku waktu untuk m—menjawabnya?" Merasa terus di pandangi sedemikian oleh sang Senpai membuat Hinata tidak nyaman sendiri. Dia butuh waktu untuk berpikir tentang jawaban apa yang akan dia berikan nanti.
"Aku tunggu jawabanmu nanti sore sepulang sekolah! Temui aku kembali disini mengerti?" Menatap wajah sang Senpai yang kini tengah mengembangkan senyum mautnya, Hinata hanya bisa mengangguk dengan rona merah yang tiba-tiba menjalari pipi chubby nya.
"Jaa, Hinata-chan!" Pemuda itu berlari meninggalkan Hinata yang tampak mematung. Seingatnya, Ini kali pertama ada seorang laki-laki yang menyatakan suka padanya setelah 15 tahun hidupnya. Salahkan Neji yang terlalu Protektif pada Hinata hingga membuat laki-laki di sekolahnya tidak ada yang berani melirik Hinata.
Tersenyum kecil, Hinata menutup kedua mata indahnya menikmati hembusan angin yang membelai wajah cantiknya. Mengingat sang kakak yang kelewat protektif pada dirinya malah membuatnya teringat kembali bagaimana saat dirinya berada di Amegakure land, bertemu Deidara salah satu personil Akatsuki dan juga Arashi yang terus menempel padanya seperti layaknya bodyguard. Tidak menyadari sepasang netra yang menatapnya tajam dari balik pohon.
**Asyah**
"Terus saja tatap poto itu sampai matamu iritasi!" Ketus Tenten, menatap kesal gadis berambut pendek di depannya.
"Jangan iri Tenten." sahutnya ringan yang malah memancing kedutan kekesalan muncul di pelipis kanan Tenten. "Siapa yang iri, Matsuri?" balas Tenten tak terima.
"Kau."
" Apa?"
"Kau lihat? Bahkan Dei-kun mengusap kepalaku, kau tidak akan tahu seperti apa rasanya saat itu. Yang jelas aku sangat senang!" Celoteh Matsuri seraya memamerkan ponsel miliknya yang menampilkan poto dirinya dengan Deidara anggota Akatsuki tepat di depan wajah Tenten yang makin terlihat masam. "Kau mau pamer padaku?" Sengit Tenten.
"Aku hanya memberitahumu saja, jangan dibawa serius." Berujar ringan, Matsuri mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah dengan ekspresi yang menurut Tenten ingin di timpuk dengan sepatu yang di pakainya.
"Cih, dasar tukang pamer!"
Suara cempreng itu jelas sangat dikenali oleh Matsuri dan juga Tenten. Suara seseorang yang memang sudah menabuh genderang perang sejak acara penerimaan murid baru, dimana pada saat itu Tenten, Hinata dan Matsuri tengah di hukum membersihkan Ruang Perpustakaan karena terlambat datang.
"Apa katamu?" Sembur Matsuri ketus, namun nampaknya tak di hiraukan oleh si gadis dengan warna rambut merah menyala yang berada di depan muka pintu masuk kelas.
"Tidak suka julukan baruku untukmu?" Senyum mengejek tercetak di bibirnya yang dipoles lipgloss berwarna merah seperti warna rambutnya.
"Jangan hiraukan si mata empat itu, Matsuri." Ucap Tenten acuh.
"Siapa yang kau sebut mata empat? Dasar kau telinga tikus!"
"Hah? Kau mau mencari gara-gara denganku rupanya."
Tenten dan Matsuri sudah berdiri dari duduknya. Menatap sengit gadis berambut merah yang berdiri angkuh menatap balik mereka.
"Ck, bilang saja kau iri padaku karena bisa berpoto bersama Dei-kun. Benar begitu kan, Karin?" Ucapan Matsuri tak pelak membuat gadis bernama Karin itu berjengit. Siapa yang tidak tahu? Hampir seluruh siswa kelas satu tahu kalau Karin adalah fans berat Akatsuki.
"Kau!"
"Apa?'
Melihat Karin yang mulai terdesak membuat senyum kemenangan muncul dicelah bibir Matsuri. Begitu pun Tenten yang kini tengah menahan tawanya.
"Untuk apa Karin iri padamu?"
"Ya! Amaru benar!"
Lagi, muncul dua orang-orangan sawah yang membuat sudut siku-siku muncul di pelipis Tenten dan Matsuri. Bukankah baru beberapa saat yang lalu mereka disuruh berlari mengelilingi lapangan saat jam pelajaran Olah Raga? Tapi kenapa lelahnya baru terasa sekarang? Menghela nafas, Tenten yang merasa ini tidak akan cepat berakhir menatap malas keduanya. Tidak mengindahkan kelas yang mulai ramai karena murid-murid yang lain mulai berdatangan.
"Karin pasti bisa berpoto bersama kelima anggota Akatsuki! Jadi untuk apa Karin iri padamu?" Ujar gadis berambut oranye sambil menunjuk wajah Matsuri.
"Jangan menunjuk wajahku sembarangan!"
"Kenapa? Kau tidak suka?" balas gadis satunya yang bernama Amaru seakan menantang.
"Buahahaha! Yaampun!"
Tak ada angin juga tak ada hujan, Tenten yang tiba-tiba saja tertawa terbahak membuat seisi kelas yang mulai ramai menatapnya aneh. Bukankah mereka sedang mempertengkarkan masalah tidak penting seperti biasanya? Kenapa Tenten malah tertawa terbahak-bahak?
"Kenapa kau tertawa?" Tanya Matsuri yang penasaran, melihat sahabatnya yang biasanya gampang tersulut emosi jika berhadapan dengan Karin kini malah tertawa sepeti sedang mendapat hadiah lotre.
"Matsuri, kau ingat Arashi?" ucap Tenten disela tawanya.
Matsuri terlihat bingung pada awalnya, berpikir akan apa hubungan Arashi dengan pertengkaran mereka kali ini. Bukankah ini masalah Akatsuki? Atau lebih tepatnya Deidara, namun sedetik kemudian Matsuri yang mulai paham akan apa yang mungkin Tenten Maksud ikut tertawa terbahak. "Buahaha, kenapa aku baru ingat!"
Melihat kedua musuhnya tertawa layaknya orang gila tanpa di ketahui apa sebabnya membuat Karin semakin kesal. Rasa penasaran dengan seseorang bernama Arashi pun semakin menggerogoti kesabarannya yang memang sudah tipis.
"Apa yang kalian bicarakan!" Seru Karin mulai tak sabaran.
"Fiuh! Ini berkat Neji-nii." Ujar Matsuri menyebut nama mantan pangeran sekolah sekaligus kakak kandung dari Hinata.
Merasa semakin tidak mengerti arah perbincangan Matsuri dan Tenten membuat Karin uring-uringan. Begitu juga Amaru dan Moegi yang mengerucutkan bibir layaknya ikan lohan.
"Apa yang kalian bicarakan disana hah? Jawab aku! Jawab aku!" Seru Moegi sambil tangannya menunjuk-nunjuk Matsuri dan Tenten secara bergantian.
"Kalian tidak perlu tahu." Tenten menyahut ketus, dan jangan lupakan senyum aneh yang bertengger di wajah Tenten.
"Kalia—"
"Ada apa ini?"
Menddak seisi kelas menjadi hening, begitu pun Matsuri dan Tenten yang entah sejak kapan sudah duduk manis di bangkunya masing-masing.
"kenapa kalian berteriak di tengah pintu?"
"A—ano Sense—"
"Kembali ketempat duduk kalian sekarang!"
"Baik Sensei!"
Itu adalah sebuah titah yang harus segera di patuhi jika tidak ingin berurusan dengan Mitarashi Anko salah satu Sensei yang memegang gelar Killer di sekolah. Dibelakangnya terlihat Hinata tengah membawa tumpukan buku, berjalan pelan mengikuti Anko-sensei yang kini suda duduk di bangkunya. Memberi hormat setelah berhasil menaruh tumpukan buku di gendongannya ke atas meja. Hinata berjalan pelan menuju bangkunya yang tepat berada di pinggir jendela di apit Tenten yang duduk di depannya juga Matsuri yang duduk di bangku sebelah kirinya.
Hinata yang baru datang tidak mengerti kenapa hawa di dalam kelasnya begitu berbeda dengan hawa di luar kelas tadi. Mengedarkan pandangan ke penjuru kelas, Hinata baru paham setelah melihat Matsuri memeletkan lidahnya pada Karin yang terlihat kesal. Jangan lupakan Tenten dengan senyuman anehnya yang juga tengah menatap Karin dan gengnya.
'Pasti bertengkar lagi.' Batin Hinata menebak dengan tepat.
**Asyah**
"Selesai atau tidak selesai. Lembar jawaban kalian harus sudah ada diatas mejaku, paham?" Anko Mitarashi memperingati murid-muridnya yang tampak tegang. Tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, sang Sensei yang cantik namun killer itu mengadakan ulangan dadakan yang membuat jantung seisi penghuni kelas bertabuh layaknya genderang. Keringat sebesar biji jagung menghiasi masing-masing dahi murid yang belum siap menghadapi ulangan dadakan tersebut. Minus beberapa murid yang tampak tenang-tenang saja.
"Berhenti menoleh ke bangku belakangmu, Amaru!"
"Maaf Sensei!"
"Lima menit lagi!"
"Celaka!"
Panik kembali melanda seisi kelas. Yang mengenal betul akan sosok Mitarashi Anko pasti akan gigit jari dan memohon pada Kami-sama agar diberi nilai bagus. Sebab jika nilai ulangan di mata pelajaran ini jelek, sudah pasti mereka akan mengucapkan selamat tinggal pada ketenangan dan selamat datang pada hari-hari berat dimana tiap pulang sekolah mereka masih akan bertemu Anko-Sensei di jam tambahan selama seminggu.
-TEEET TEEET-
"Gyaaaah!/Tungu sebentar lagi!"
"Idate! Kumpulkan lembar ulangan milik teman-temanmu!"
"Tu—tunggu Idate! Aku tinggal menulis jawaban ter—"
"Tidak bisa Tenten, kemarikan lembar jawabanmu." Tenten hanya bisa menunduk lesu. Toh menurut Tenten, meski dia berhasil menulis jawaban terakhir belum tentu juga jawabannya akan benar. Berbeda dengan Tenten, Matsuri Terlihat biasa saja seakan tak perduli pada lembar jawabannya.
'Tentu saja Matsuri tenang, dia kan adiknya Anko-Sensei.' Batin Tenten semakin nelangsa.
"Apa kau kesusahan mengerjakan soalnya, Hinata?" Tanya Idate setelah sampai di bangku Hinata.
"Umn! Tidak juga." Balas Hinata pelan seraya memberikan lembar jawabannya pada Idate.
"Baguslah kau tidak kesulitan mengerjakannya." Tersenyum kecil menatap Hinata. Idate kembali berkeliling mengambil lembar jawaban dari murid yang tersisa dan berjalan keluar kelas guna memberikannya pada Anko-Sensei yang terlebih dahulu keluar kelas.
"Huff! Aku jadi lapar." Desah Matsuri pelan.
"Ayo ke kantin! Aku ingin membicarakan sesuatu pada kalian." Ucap Hinata sambil menggandeng lengan Matsuri dan Tenten meninggalkan kelas.
"Eh? Bicara apa?" Tenten menyahut selagi sebelah tangannya yang bebas mengambil ponsel miliknya di dalam saku rok nya.
"E—eh! Nanti saja k—kalau sudah sampai di kantin."
"Jangan membuatku penasaran, Hinata!" Ujar Matsuri yang memang penasaran.
Belum juga melewati Perpustakaan, langkah Hinata terhenti ketika pendengarannya menangkap suara dari seseorang yang dikenalinya.
"Bagaimana? Kau berhasil membuat Hyuuga itu menerimamu?"
"Belum."
"Hah? Ternyata ada juga gadis yang mampu menolakmu di sekolah ini, hahaha."
"Jangan berisisk Suigetsu!"
"Kau terlalu berlebihan Jugo! Lagipula perpustakaan saat ini sepi dan tidak ada yang menjaganya juga!"
"Tetap saja suaramu terlalu keras bodoh!"
"Siapa yang kau sebut bodoh hah?"
"Aku merasa tidak nyaman dengan ini."
"Apa maksudmu Sasori?"
"Menerima tantangan kalian untuk menjadikan Hinata pacarku, aku merasa buruk."
-Deg-
Jantung Hinata seakan tengah di cubit sesuatu yang tak kasat mata. Memang benar dirinya hanya sebatas mengidolakan sang Senpai, tidak ada perasaan lebih bahkan ingin memiliki sang Senpai, namun apa berhak seseorang memainkan perasaannya seperti ini? Mengaku menyukainya, membuatnya merasakan perasaan aneh yang menyenangkan untuk kali pertama tapi juga membuatnya merasakan perasaan sesak secara bersamaan. Membutnya nampak seperti orang bodoh yang mudah untuk ditipu. Menipu dirinya, perasaannya.
"Kenapa merasa buruk? Jika dia menerimamu ya tinggal kau jalani saja, bukankah gampang?"
"Kalau kau pikir ini gampang, kenapa bukan kau saja yang ada di posisiku sekarang Suigetsu?"
"Kau seperti sedang menyalahkanku Sasori."
"Bukan aku yang mengatakannya."
"Kau!"
-Brukk-
Terdengar bunyi gaduh dari balik pintu perpustakaan yang tidak tertutup sempurna itu, memberikan celah kecil bagi Tenten dan Matsuri yang ingin melihat.
"Sudah cukup! Jangan mencari masalah disini!"
"Diam kau Jugo! Aku tidak suka disalahkan! Kalau kau tidak mau bukankah kau bisa menolak tantangan ini dari awal hah? Bukannya menyalahkanku setelah kau menerima tantangan ini dengan gayamu yang sok keren itu sialan!"
"Jauhkan tanganmu dari kerah bajuku brengsek!"
"Apa kau bilang?"
"Cukup! Tingkah kalian sangat konyol!"
"Tidak ada gunanya terus meladenimu Suiget—"
"—Hinata?"
"Apa maksudmu Hinata?"
Kedua pemuda dengan warna rambut yang berbeda itu menoleh tepat kearah pandangan pemuda berambut merah yang kini melebarkan iris hazelnya menghadap pintu perpustaak yang terbuka, memperlihatkan wajah dingin Tenten dan Matsuri. Namun yang menyita pandangan pemuda berambut merah tersebut adalah sosok Hinata yang tengah menunduk.
"Hinata! Ini tidak seperti yang kau pi—"
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Hinata begitu saja berlari meninggalkan tempatnya berdiri.
"Tunggu Hina—"
""Kalian pikir apa yang sudah kalian lakukan pada Hinata hah?" Ucap Tenten dingin, memotong ucapan pemuda bersurai merah.
"Ini bukan urusanmu." Sahut pemuda bersurai putih kebiruan enteng.
"Suigetsu!" Pemuda bersurai orange kecoklatan memperingati.
**Asyah**
Hinata terus berlari dengan perasaan kecewa. Bukan kecewa karena ternyata Sasori tidak benar-benar menyukainya, namun kecewa akan dirinya yang mudah di bodohi. Berpkir kenapa Sasori bisa setega itu mempermainkan perasaannya. Pertanyaan demi pertanyaan berputar di dalam pikirannya yang kini seakan buntu dan membuatnya tanpa sadar berakhir di bukit belakang sekolahnya.
Jemari putihnya mengepal erat serta bibir bawahnya yang berwarna plum digigitnya seakan tengah menahan sesuatu yang siap meledak.
"Kenapa selalu aku yang disakiti? Kenapa selalu aku yang harus mengalah? Kenapa hanya aku yang belum pernah punya pacar? Aku juga ingin seperti teman-temanku! Aku ingin memiliki seseorang yang benar-benar perduli padaku! Menyayangiku! Apa sesulit itu mengabulkan keinginanku? Kumohon jawab aku!" Teriak Hinata frustasi entah pada siapa.
"Merepotkan!" Ujar sebuah suara bariton dari arah belakang Hinata.
Mendengar suara bariton dibelakangnya sontak membuat Hinata menoleh kearah belakang untuk melihat seseorang yang baru saja mengintrupsinya.
"Kau tahu? Kau sudah menyakitiki hatiku." Lanjut seorang pria tinggi yang muncul dari balik pohon sakura besar dibelakang Hinata. Pria tesebut tampak keren dengan kaos putih yang dibalut jaket berwarna biru tua yang begitu pas ditubuhnya yang tegap. Jeans berwarna senada dengan warna jaketnya membalut kaki panjangnya yang mengenakan sepatu kets berwana putih. Rambut hitam sebahu pria tampan itu melambai-lambai tertiup angin.
"S—siapa anda?" Ujar Hinata gugup. Wajar jika Hinata gugup. Tiba-tiba ada pria asing muncul mengintrupsi dirinya dan berkata bahwa ia sudah menyakiti hati pria itu. Satu kata yang saat ini ada di dalam pikiran Hinata. Aneh.
"Aku? Kau menyakiti hati calon suamimu dengan tidak mengingatnya." Ujarnya pelan.
"A—apa maksud anda? J—jangan sembarangan! Saya tidak mengenal anda!" Hinata berujar ketus dan berbalik berniat pergi meninggalkan pria asing itu.
Merasa tidak dihiraukan, pria asing itu menarik sebelah tangan Hinata hingga kini keduanya berhadapan. Ditariknya dagu Hinata hingga hazel dan amethyst itu saling bertemu. Hinata terpana melihat hazel itu menatapnya begitu tajam.
"T—tampan sekali." Gumam Hinata dalam hati saat melihat wajah pria itu dengan jarak yang begitu dekat.
"Akan sangat merepotkan jika hanya aku yang mengingat semuanya disini." Ucap pria itu sambil terus menatap amethyst dibawahnya tajam dan dalam. Ada sesuatu didalam tatapan tajam pria itu yang membuat Hinata penasaran dan berdebar.
Tinggi Hinata yang bahkan tak mencapai dagu pria itu memaksanya berjinjit. Jangan lupakan jemari pria itu yang masih setia berada di dagu putih Hinata. Dekat, semakin dekat. Hinata yang sadar bahwa jarak wajahnya semakin dekat dengan wajah tampan itu berusaha melepaskan diri. "A—anda pasti salah orang, ahhk." Berhasil melepaskan diri dari pria tampan yang di capnya aneh. Hinata lantas segera berbalik kembali dan berniat lari secepat yang ia bisa.
"Matamu sangat indah."
-Deg-
Menoleh cepat dengan jantung yang berdetak begitu kencang saat mendengar kalimat yang baru saja diucap pria asing itu. Kalimat yang sama persis dengan kalimat yang sering di dengar Hinata dari seseorang didalam mimpi samarnya.
Pria itu mendekat kearah Hinata yang terlihat membeku di tempat dengan amethyst yang melebar. Mengangkat tangan kanannya dan dielusnya lembut pipi chubby Hinata. "Bisa ku maklumi jika kau lupa karena itu sudah lama berlalu. Tapi aku tidak bisa memaklumi jika kau melanggar janjimu padaku. Dan untungnya kau tidak sampai benar-benar melanggarnya. Aku senang mengetahui kau belum pernah berpacaran Hinata.." Ucap pria itu lembut di telinga Hinata.
" Mulai sekarang, aku tidak ingin melihatmu dekat dengan pria manapun. Kau paham? Kau harus ingat kalau kau punya calon suami." Lanjutnya pelan dan begitu saja pergi meninggalkan Hinata yang masih membeku di tempat.
...
...
...
..
.
**TO BE CONTINUED**
Aloha, ada yg ingat dengan saya..?
nggak ada..?
Yaudah sih gpp, saya pasrah.. :'v
*digampar*
Buat yg nunggu Siapa Saya? Saya minta maaf krna terlalu lama melupakan ff ini..
Bukan krna saya mau, tpi emng saya lagi ada masalah di duta jdi saya blum smpat mampir ngetik..
*Bilang aja u males thor! Alasan aja u!*
Nah, sekian cuap-cuap dri saya..
Oea, ada yg bisa menebak siapa pria asing tampan itu..?
Dia suami saya lho.. :'v
*digampar*
