Chapter 3
Disclaimer : I don't own Metal Fight Beyblade. Just plot.
Rating : T
Warning : OOC, nggak jelas, agak lebay -_-;" , banyak typo, ngebosenin, dan abal-abal yang lainnya.
AN : This is my first fanfic, but I'm too lazy to translate, so, I use Indonesian languange.
Pertama-tama gomen banget buat update siput, nya! m(-_-)m Maklum, orang sibuk (ceilah, sok sibuk nih!). Serius! Ini saja baru habis UTS! -_-;"
Gomen juga, nggak bisa balas review langsung bagi yang user login, pakai PM. Hanya membalas bagi review non-login secara langsung di chapter ini. Soalnya chapter ini memiliki word sampai 8,6K. Ini chapter terpanjang, lho! *bangga*
Ok, I hope you all enjoy and read it! #REVIEWplease! ^_^
The Endless Love
Chapter 3
TAK! TAK! KLANG!
Dua beyblade beradu dengan sangat sengit di atas arena bey-stadium. Keduanya saling serang, berbenturan cukup keras. Tiba-tiba, salah satu beyblade yang tengah bertarung itu putarannya mulai goyah.
"B-B-B... BULL!" Benkei mulai panik melihat Dark Bull-nya mulai kehilangan keseimbangan. Lawannya tersenyum penuh kemenangan, melihat sang banteng mulai menyerah.
Tsubasa memejamkan kedua matanya, "sudah kuduga yang menang itu dia," ucapnya sembari melipat tangannya. Kami semua duduk untuk menyaksikan pertandingan (baca : traning) di kursi penonton stadium Metal Bey City.
"Iya, lawannya 'Legend Bladers' lagi!" timpal Kenta, memperhatikan battle yang cukup seru ini, "ayo kalian semua! Berjuanglah!"
"AYO KING! KALAHKAN DIA DEMI KITA SEMUA! NUMBER ONE!" sorak Masamune dengan jari telunjuk terangkat ke atas, mendukung lawan Benkei tersebut. Gingka dan Yuu tak kalah heboh dibanding Masamune, sedangkan Madoka sedang mengamati bey-battle tersebut lewat laptop mininya.
"Huh! Membosankan!" dengus Kyouya, melakukan hal yang sama dengan Tsubasa. Aku mengangguk setuju, meskipun tak sepenuhnya pendapatku sama dengannya.
Rambut biru donker milik King telah berubah menjadi putih, pertanda dia mengeluarkan kekuatan yang sesungguhnya. "Tenang saja Masamune! Aku tak akan kalah darinya!" ujar King penuh semangat, mengepalkan salah satu tangannya.
"Aku tak peduli kau 'Legend Bladers' atau bukan! Bull takkan kalah! " seru Benkei tak mau kalah, menunjuk-nunjuk lawannya yang tetap tenang. Kekuatan Bull kembali meningkat, melesat kearah Variares, "BULL! SERANG DIA!"
Sang banteng muncul dari metal face Bull, menubruk lawannya sekuat tenaga. Apa yang terjadi? Semua itu tak mempan oleh Variares yang menggunakan defense mode. Wujud Ares muncul, dengan perisai menahan serudukan banteng tersebut.
"APA?" mata Benkei terbelalak melihat Bull kembali goyah, bahkan lebih parah dari sebelumnya. King tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk menundukkan banteng yang semakin melemah itu.
King mengambil ancang-ancang, "VARIARES SERANG DIA! IKKE...!" serunya, melayangkan kepalan tangannya, seakan meninju lawannya. Kini Variares menggunakan attack mode, gantian melesat kearah Bull dan menabraknya dengan begitu keras sehingga menyebabkan direct hit. Wujud Ares kini menggunakan pedang dan menebas Bull. Muncul sebuah cahaya yang makin membesar hingga akhirnya terjadi ledakan.
"UWAAAA...!" kami semua melindungi diri dari ledakan itu. Hening sesaat begitu ledakan baru usai hingga kami sadar setengah menit kemudian.
Ketika kami melihat kembali bey-stadium, terlihat Benkei bangkit dari jatuhnya sembari tengok kanan-kiri mencari Bull-nya, sedangkan King tetap berdiri tegak, memandangi bey-stadium.
Bull ditemukan tergeletak di atas bey-stadium, dihadapan Variares yang tengah berputar dengat rotasi yang tetap stabil. Benkei berlari, mengambil Dark Bull yang kalah tersebut, "B-B-Bull," gumamnya lemas ketika kedua tangannya meraih beyblade malang tersebut.
Kami semua menghambur kearah mereka. King, yang jelas-jelas namanya berarti 'No.1 Person Who Rules' itu dikerumuni oleh semua yang tengah memberinya selamat.
"Kau hebat banget King!" sanjung Masamune. King mengangguk, rambut putihnya berubah menjadi sediakala.
"Siapa dulu dong? Aku!" bangga King sembari menunjuk dadanya, "nah, ayo lakukan yang biasanya! NUMBER ONE!" serunya, mengacungkan telunjuknya setinggi mungkin. Masamune mengikutinya, menunjukan kekompakan mereka dan tekad mereka untuk menjadi 'No.1' , sesuai dengan semboyan hidup mereka.
Master Bull masih tertunduk dan berlutut, menatap kekalahannya. "B-Bull," sesalnya. King menyeruak dari kerumunan, menghampiri Benkei dan berjongkok di depannya, "hei! Sudahlah! Kau hebat juga!" hiburnya dengan nada semangat. Wajah Benkei terangkat setelah King menepuk bahunya agak keras.
"King... kau...," mata Benkei memandangi wajah sang juara, tak percaya King akan berlaku seperti itu. Semenit kemudian mereka berdiri. Benkei memasukan Dark Bull ke dalam saku celananya. Senyum King makin lebar, disusul oleh senyum hampir semua orang yang ada di stadium tersebut. Perasaan Benkei mulai tidak enak ketika King dan Masamune menyikut pinggangnya pelan.
"Nah, sesuai janji 'kan...," King mengarahkan pembicaraan dengan senyumnya yang mencurigakan, "kalau kalah harus traktir kita semua sepuasnya. Nah, yuk kita ke kedai ramen yang terkenal itu!" ajak King, disusul oleh anggukan sebagian besar insan. Benkei shock dan tentu saja menggeleng.
"Hhhh," King berkacak pinggang, "ayolah Benkei! Masa kau lupa sama taruhan kita tadi!" ujarnya, bernada mengancam. Yang lain mendesak Benkei agar menepati janjinya, demi satu tujuan : makan ramen sepuasnya GRATIS!
Benkei memandangi saku celananya yang berisi dompet dengan uang yang amat sedikit dengan wajah memelas. Makanya, jangan taruhan kalau tidak bisa menepatinya... timpalku dalam hati, walaupun sebenarnya aku sangat kasihan pada banteng apes tersebut.
"Ba... baiklah," ucap Benkei yang mulai melangkah dengan gontai, berbalik keadaan dengan semuanya tak sabar mencicipi rasa ramen yang terkenal lezat itu.
Ryuusei-san beserta Hikaru memandangi layar monitor besar yang berada di depan mereka. Sang asisten terdiam, tampak keraguan terpancar di wajahnya. "Hikaru!" lelaki paruh baya itu menepuk bahunya, "kenapa kau terdiam begitu?" tanyanya, memperhatikan gadis itu.
"Ngng, manajer... Ryuusei-san, apa benar aku boleh ikut?" Hikaru balas menatap Ryuusei-san yang tersenyum penuh wibawa.
"Hum, kan sudah kubilang, jangan panggil aku begitu! Panggil aku Phoenix si burung aba-"
"Iya, iya! Manajer!" potong Hikaru cepat. Ryuusei-san menepuk bahunya pelan, seolah mengerti masalah apa yang tersimpan pada Hikaru. "Kau yakin dengan ucapanmu tadi, Hikaru?"
"Ngngng..." Hikaru menimbang-nimbang. Mata sang Phoenix itu menemukan kegelisahan di dalam sepasang mata milik Hikaru.
"Aku tahu itu, Hikaru, masalahmu. Aku tahu kau masih bingung bukan? Kau tak tahu memilih arah ke mana." ucap Ryuusei-san, disertai anggukan Hikaru setelahnya. Gadis itu masih terlihat tengah berpikir, membuat ruang itu sepi sejenak.
"Begini, Hikaru," Ryuusei-san mencairkan suasana diam, "hidup itu harus memilih. Ikutilah alur yang ada pada hatimu, nikmatilah perasaanmu. Aku yakin kau dapat memilih yang terbaik." nasihat pria itu, masih menatap Hikaru dalam-dalam.
"Aku tahu semua itu," Hikaru melepaskan tatapannya dari Ryuusei-san. "Aku tahu aku harus memilih. Tapi itu semua menyesakkan diriku. Aku tak bisa mengikuti apa yang kau katakan..."
Ryuusei-san menggelengkan kepalanya, pandangannya kembali ke arah layar monitor. "Jawabannya memang tidak mudah. Tetapi, aku yakin kau bisa Hikaru! Aku tak berhak ikut campur dalam kehidupanmu. Maka itu, kaulah yang harus menentukannya." nasihat Ryuusei begitu dalam, membuat Hikaru tersentak pelan.
"Bagaimana caranya?"
"Lihatlah jalur bintang yang berkilauan. Kau akan mengetahui hal itu, suatu saat nanti. Para bintang akan menuntunmu, mengeluarkanmu dari segala kebimbangan."
"Aku tak mengerti, manajer..."
"Lambat laun kau pasti mengerti. Percayalah, kau akan mengerti segala makna yang tersimpan pada cahaya bintang." senyum Ryuusei terkesan misterius, namun itu menghangatkan Hikaru yang masih belum mendapatkan arti dari ucapannya.
"Seperti yang kubilang, nikmati saja perasaan yang bergejolak itu. Jangan terburu-buru."
Hikaru kembali melihat sosok pria itu, membenarkan segala ucapannya walau ia masih belum mendapatkan petunjuk darinya. "Arigatou, Ryuusei-san... akan kupikirkan lagi nanti..." lirih Hikaru.
"Sama-sama. Lagipula, bagus 'kan kalau kau ikut? Anggap saja ini liburan buatmu!" balas Ryuusei, mengacungkan salah satu jempolnya.
"Tapi bagaimana dengan-"
"Sudahlah! Aku bisa bekerja sendiri di sini, tak usah khawatir dengan hal ini!" Ryuusei seolah memamerkan otot yang ada dilengannya dengan nyengir khas miliknya. Hikaru sweatdrop, namun akhirnya tawa kecil keluar di balik telapak tangan yang menutupi mulutnya.
Kedai ramen ini sangat ramai dikunjungi pembeli. Beruntung, kami semua dapat tempat di bagian bar. Aku melahap ramenku pelan-pelan, sungguh terbalik dibandingkan Gingka-Masamune-King yang tengah berlomba mengabiskan ramen paling banyak.
Lain halnya dengan Benkei yang meratapi dompetnya yang kosong melompong, melihat teman-temannya yang tega memerasnya hingga 'miskin'. Itupun sebagian besar terselamatkan oleh subsidi dari Tategami Kyouya. Nafsu makannya lenyap begitu saja.
Pusing kembali terasa di kepalaku. Aku merogoh saku jaketku dan kutemukan satu strip berisi tablet putih berbentuk elips, kemudian kubuka segelnya yang berwana perak. Mataku melirik kanan-kiri, memastikan tak ada yang melihatku minum obat. Setelah dipastikan aman, aku mulai memasukan tablet itu...
"Hyouma," panggilan itu disertai sebuah colekan di punggungku. Kutengok belakangku, menemukan sumbernya yang berasal dari seorang bocah lelaki beriris emerald.
"Oh, ada apa Yuu?" tanyaku pada bocah lugu tersebut. Yuu menunjuk ke parasetamol yang kupegang.
"Apa itu, Hyouma?"
Deg! Tentu saja aku tak bisa bilang bahwa itu adalah obat. Khawatir Yuu akan bertanya macam-macam dan beresiko ketahuan oleh yang lain, maka dengan singkat aku menjawab : "ini vitamin."
Seakan Yuu belum puas dengan jawabanku, dipandanginya obat yang hampir kuminum, "vitamin? Aku boleh minta satu nggak?" pintanya dengan begitu polos.
"Jangan! Ini bukan buat anak seumuranmu!" larangku cepat, dan segera menelan obat itu. Yuu tetap melongo, memperhatikanku saat meminum parasetamol tersebut. Beruntung, sebelum anak itu mewawancaraiku macam-macam, Madoka meminta semuanya untuk segera mengakhiri acara traktiran .
Aku terduduk di atas tempat tidurku, memperhatikan Gingka menyiapkan isi kopernya tergesa-gesa, sesuai checklist yang ia buat. "Ini udah, ini juga udah, yang ini... waduh! Aku lupa!" Gingka berlarian sana-sini, membuat gaduh ruangan ini.
"Santai saja Gingka," ucapku tenang, "lagipula kenapa tidak kamu siapkan sejak malam seperti yang kubilang," lanjutku terkikik kecil, Gingka mendelik ke arahku.
"Semalam 'kan aku ketiduran! Lagian kamu nggak bangunin sih!" protesnya kesal, dengan pipi yang menggembung mirip ikan buntal. Tawa geliku terlepas sudah.
"Haha, gomenasai kalau soal itu. Tapi... pfft..." aku membekap mulutku yang masih cekikikan melihat tingkah 'The Champion'. Gingka makin sebal pada kelakuanku kali ini.
"Apa?"
"Pfft... ahaha... hh, mukamu itu..." kataku, ekspresi Gingka tak berubah. "Pfft, ahaha, mirip ikan buntal!" ceplosku, disusul ledakan tawaku. Gingka langsung menyambar bantalnya dan melemparnya kearahku, "dasar! Awas kau ya!" ujarnya sembari melayangkan bantal kedua. Tentu saja, dengan sigap aku menangkap dan melempar balik.
Pintu kamar kami diketuk, "Gingka! Hyouma! Sudah selesai belum? Yang lain sudah selesai, tuh!" terdengar suara seorang perempuan dibalik pintu. Dengan sigap Gingka kembali menghadapi tas dan isinya, "iya Madoka! Sebentar lagi selesai!" sahutnya.
"Ya ampun! Kukira kau sudah selesai tadi!" kataku, menepuk jidat sendiri.
"Belum!" ujarnya, mengambil beberapa barang yang belum dimasukkan. Gingka kini tak acuh denganku, sibuk dengan urusannya.
Dan dia baru selesai mengepak barangnya setelah sepuluh menit berlalu.
"Itu minibusnya! Ayo kita kesana!" Gingka menunjuk ke arah minibus biru tua, dengan dua garis horizontal merah dan lambang WBBA. Aku kewalahan mengejar Gingka yang berlari dengan kecepatan melebihi rata-rata.
"Nah, itu mereka!" seru Masamune, telunjuknya mengarah pada kami yang baru saja sampai di depan kerumunan orang yang menunggui kami. Benar seperti dugaanku, kami disambut dengan keluhan serta omelan dari semua yang sudah menunggu keterlambatanku dan Gingka.
"Kalian ini lama banget sih! Udah tahu yang lain pada nunggu!" omel Madoka sangat kesal sampai bagian rambutnya yang menyerupai nekomimi naik turun.
"Betul! Nyusahin orang aja!" timpal Masamune frontal, ditambah anggukan King dengan raut wajah keki.
"Makan waktu lama saja kalian ini!" ujar Kyouya jengkel yang melipat tanganya, "benar Kyouya-san! Kalian berdua lelet banget, sih!" Benkei mendukung sohib sejatinya.
"Bosen tau nungguin kalian!" keluh Yuu, "untung kalian nggak ditinggalin!" sambung Kenta . Orang yang tak ikut komentar hanya Tsubasa dan Hikaru, yang mengenakan jaket merah dengan dalaman putih... penampilannya waktu sebelum menjadi asisten Ryuusei-san.
"Ah, gomen semuanya! Tadi ada masalah sedikit," aku membungkukan tubuhku bak butler, disusul dengan cengiran bersalah milik Gingka.
"Nah, karena kalian terlambat, hukumannya adalah mengangkut barang bawaan semuanya ke bagasi bus. Bagaimana minna-san? Setuju?" usul Tsubasa, menunjuk semua barang yang harus dibawa. "SETUJU!" sambut semuanya kompak bagaikan koor paduan suara.
Aku dan Gingka menghela napas bersamaan.
"Selesai!" punggung tanganku menyeka keringat di dahiku, "Gingka! Kau sudah selesai, kan? Ayo naik!" ajakku, sebelum menemukan Gingka mengangkat sebuah kardus berukuran sedang ke dalam bagasi minibus. Gingka hanya mengangguk, kemudian meletakkan kardus terakhir dan menutup bagasi bus.
Setelah kami memasuki minibus berdua, akhirnya kami mencari tempat duduk. Kursi minibus ini memiliki dua deret (kiri-kanan) dan masing-masing memiliki dua kursi. Masing-masing deret memiliki lima baris, serta satu kursi panjang di paling belakang dekat pintu belakang yang sudah dikuasai Kyouya, Benkei dan Tsubasa.
"Yosh! Disini saja!" Gingka mengarahkan kakinya menuju tempat duduk yang bersebelahan dengan Masamune dan King yang tengah ribut memperebutkan snack, tepatnya di barisan kedua. Aku menuruti sang 'Legend Blader' itu untuk duduk di sampingnya.
"Ah, Gingin! Hyouma! Kalian mau cemilan?" tawar Yuu ramah, menaiki kursi dan menyodorkan sebungkus choco chip cookies. "Mau! Bagi, ya!" sambut Gingka, tangannya merogoh bungkus cookies tersebut. Aku mengikutinya dan mengambil salah satu cookies.
"Arigatou, Yuu!" ucapku, kemudian mengarahkan pandanganku pada Masamune-King yang masih saja berebut snack dengan hebohnya, "kenapa kau tak tawarkan pada mereka?" tanyaku, dengan sweatdrop melihat duo itu tentu saja.
Yuu menggeleng, "nggak mau, ah! Mereka kalau ngambil nggak kira-kira! Palingan kayak dulu ..."tolaknya dengan raut muka sebal.
"He~? Memangnya mereka ngabisin cemilanmu?"tanya Gingka.
Yuu mengangguk. "Dulu aku pernah nawarin butter cookies kesukaanku sama mereka...,"pandangannya kini mengarah pada duo Masamune-King. "Tapi, tau nggak? Masa mereka langsung ngabisin kayak ikan piranha di sungai Amazon! Udah gitu disisainnya cuma remah-remahnya doang lagi! Padahal aku yang punya! Dan itu aku beli hasil nabung selama tiga hari...," Yuu mengakhiri curhat colongannya , diiringi dengan gelengan kepala dan sweatdrop jumbo aku dan Gingka.
"Malang banget nasibmu, Nak! Sabar, ya... tabahkan hati damaikan jiwa." tanggap Gingka dengan sweatdrop yang masih tersisa di kepalanya. Duo sebelah kami terus saja memperebutkan snack dengan super gigih.
"Nggak bisa! Ini kan punyaku! Punyamu yang ini aja!" protes sang kuda hijau - err, ralat! Masamune maksudnya- mempertahankan snack 'kekuasannya' dari penjajah –eh, salah! Itu King!- dengan mengangkat cemilannya setinggi mungkin agar tak diraih King. Tapi bukan King namanya kalau ia menyerah begitu saja.
"O, tidak bisa!" bantah King dengan semangat '45, berusaha menggapai snack yang dipertahankan sohibnya itu. Mereka membuat suasana bus menjadi sangat semarak (baca : ribut), hingga semua orang menoleh kearah mereka.
"BERISIK!"
Serentak semuanya terdiam begitu mendengar suara bentakan Kyouya, yang kini menatap tajam semuanya. Tsubasa dan Benkei segera menenangkan Sang Singa tersebut.
"Sudahlah, Kyouya. Biarkan saja mereka, toh mereka tak bermaksud mengganggumu, kan? Lagipula bukankah kau sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini?" Tsubasa berusaha meredamkan emosi Kyouya. Master Leone tersebut hanya menggeram pelan. "Apa kau punya masalah, Kyouya?"
Pertanyaan tersebut dijawab dengan gelengan. "Ya sudah, terserah kalian saja!" ucap Kyouya berat dengan raut muka yang tak sejengkel tadi. Suasana minibus yang awalnya sepi, kini mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Masamune dan King suit untuk menentukan siapa yang berhak mendapatkan jatah cemilan, Yuu yang tengah mengemut cookies kesayangannya bersama Kenta, Kyouya juga sedang menenangkan dirinya dengan Tsubasa dan Benkei, Gingka mengecek Pegasis-nya. Lalu aku? Aku memperhatikan Hikaru yang bercengkrama dengan Madoka yang duduk bersama di depan Masamune – King.
TV minibus yang mati sedari tadi tiba-tiba menyala sendiri, membuat Masamune dan King sempat terperanjat sesaat sebelum wajah cengiran Ryuusei-san terpampang di layar kaca tersebut. Ya... 'like father like son'...
"Nah, minna-san," Ryuusei-san membuka pembicaraan, kemudian dilanjutkan dengan pidato panjang lebar kali yang membangkitkan rasa mengantuk.
"Lama banget, nih! Kapan perginya?" keluh King pada Ryuusei-san yang menyebabkan perjalanan tertunda selama dua puluh menit. Gingka sukses tidur nyenyak dengan iler dari mulut menganga beserta balon tiup dari hidung, Benkei dan Masamune adu sahut-sahutan mengorok. Yuu, Kenta dan Madoka sukses tidur nyenyak. Sedangkan aku, Hikaru, Tsubasa dan Kyouya hanya menguap berjama'ah dengan sweatdrop.
"Minna, cukup segini saja pesan-pesannya," Ryuusei-san mengakhiri petuah-petuah garing, sontak semua orang langsung bangun dari kubur... maksudku bangun dari tidur mereka.
"HOAHEMMM, baru mau berangkat, ya?" tanya Masamune. Semua yang tidur tadi langsung stretching bersamaan. Gingka menguap, " ayah, kapan kita berangkat? Bosan...!" protes Gingka pada Sang Ayah.
"Ah! Maaf, ada yang kelupaan!" seru Ryuusei tanpa merasa berdosa. Sontak, semangat semuanya langsung down.
"Apa lagi, sih? Cepetan 'napa! Bosen tau!" Masamune mengungkapkan kejengekelannya, disusul bisik-bisik tak jelas bak suasana arisan.
"Tau, nih! Paman Ryuusei, cepetan dong! Kelamaan, nih!" rengek Yuu dengan anggukan Kenta.
"Ayah! Kapan kita jalannya kalau begini terus?"
"Ryuusei-san, jangan buang waktu lama-lama," aku ikut menimpali.
"Ahaha, maaf semuanya," Ryuusei-san nyengir kuda, persis seperti putranya. "Jangan lupa oleh-oleh!" lanjutnya dengan thumbs up.
"HUUUUUU~~~~!" semua sorakan riuh membahana dari dalam minibus, suasana menjadi rusuh dalam sekejap.
"Ngarep nih, ye!" ujar Masamune.
"Maunya!" seloroh King.
"Idih! Beli saja sendiri!"
Iya kalau ada tempat oleh-oleh... kalau tidak...
"Harap tenang semuanya! Minna, berhati-hatilah dalam perjalanan kali ini. Sampaikan pesanku pada Yuki! Sampai jumpa!" pesan Ryuusei-san. TV yang menyala otomatis mati dengan sendirinya. Mobil yang dikendarai oleh supir anggota khusus WBBA mulai berjalan.
Kini kami mulai memasuki sebuah desa yang terletak di puncak bukit. Jalan yang berlubang ditambah dengan batu-batu kerikil membuat minibus berguncang. Sinar mentari menelusup tajam ke dalam jendela.
Sebuah sakit tak tertahankan kembali di kepalaku. Aku tak kuat dengan guncangan dan sinar matahari yang menyilaukan. Tangan kananku memegangi dahiku yang terasa pusing luar biasa. Keringat dingin bercucuran mulai membasahi diriku.
"MATILAH KAU... DOMBA MALANG! MATILAH!"
Suara dalam mimpi buruk itu! Suara yang tak pernah ingin kudengar lagi, tak ingin kuingat lagi. Kedua tanganku mencengkram kepalaku, sekaligus menutup kedua telingaku, berharap suara itu pergi.
"MATILAH KAU... DOMBA MALANG! MATILAH!"
Bukannya menghilang, suara misterius itu semakin menggema dengan keras di otakku. "Tidak... hentikan... hentikan...!" lirihku. Tetapi, suara itu menolak permohonanku, terus menerorku. Tubuhku mulai bergetar, tanganku semakin erat mencengkram kepalaku. Jantungku berdebar kencang. Perlahan mataku melirik Gingka yang tengah memperhatikan pemandangan di luar jendela. Kusipitkan mataku, menghindari sengatan sinar matahari.
"Gingka... bisakah kau menutup jendelanya...?" pintaku, terdengar parau. Gingka menoleh kepadaku, memperhatikan keadaaanku yang bertambah lemah. Ia menarik gorden hingga menutupi jendela lalu kembali menatapku.
"Hyouma, daijobu ka? Sakit kepalamu kumat lagi?" tanyanya cemas. Aku tak menjawab pertanyaannya, hanya terdiam. Gingka meraba pergelangan tanganku sampai siku. "Tubuhmu dingin! Kau yakin kau tidak apa-apa?" nada Gingka terdengar sedikit panik. Kugelengkan kepalaku pelan, yang justru berakhir dengan bertambah parah.
Tuhan... mengapa akhirnya aku menyusahkan orang lain? Mengapa keadaan ini terus terjadi? Ada apa sebenarnya? Mengapa, Tuhan?
Keadaan minibus sunyi senyap. Beruntung semua orang selain kami berdua tengah terlelap, tak mempedulikan keadaanku. "Kalau kau begini, mengapa kau ikut? Seharusnya kau istirahat atau berobat... tapi kenapa kau-"
"DIAM!" bentakku, tanpa sadar. Entah mengapa emosiku tiba-tiba memuncak sendiri tanpa sebab. Rasa sesal menyusup dalam hatiku. Tak seharusnya aku mebentak Gingka yang justru memperhatikan keadaanku, apalagi dia sahabatku dari kecil.
Gingka mengangkat wajahnya yang sempat tertunduk, "gomen, Hyouma... aku tak bermaksud membuatmu marah... aku hanya mengkhawatirkan keadaanmu..." ucapnya pelan. Perasaanku semakin tak enak melihat Gingka yang merasa bersalah. Kugelengkan kembali kepalaku.
"Tidak... justru aku yang harus minta maaf... telah membentakmu..." suaraku terdengar pelan, namun terdengar oleh Gingka. 'The Champion' itu mengangguk.
"Sebaiknya kau minum obatmu, lalu tidur..." saran Gingka. Terakhir aku meminum obatku tiga jam yang lalu, berarti aku boleh meminum parasetamolku lagi. Akhir-akhir ini aku begitu bergantung pada obat tersebut, meskipun tak membawa pengaruh yang berarti .
Kurogoh saku jaketku, dan kuambil parasetamol itu, membuka bungkusnya kemudian kumasukan pil itu ke dalam mulutku. "Ini," Gingka menyodorkan botol air mineral yang sudah terbuka. Kuterima ulurannya dan meneguk air itu hingga habis seperempatnya.
"Bagaimana?" tanya Gingka sembari menutup botol minuman yang kukembalikan.
"Tidak apa. Arigatou Gingka..." balasku, disusul senyuman lega seorang Hagane Gingka. Kupejamkan kedua mataku, berusaha menuju dunia mimpi. Awalnya sulit, namun akhirnya aku berhasil menidurkan diriku.
"Yuhuuuuuu~~~! Sampai~~~!" suara riang Yuu membuatku terjaga dari lelap. Kusapukan pandanganku, semua orang tengah bersiap-siap turun dari minibus yang terparkir di suatu tempat di bawah sebuah pohon rindang. Di sekelilingnya terdapat hamparan rumput . Aku merasa segar sekarang, sakit yang tadi menderaku tak berasa lagi. Kulirik Gingka yang masih saja terlelap.
"Gingka, bangun! Sudah sampai," aku mengguncang tubuhnya pelan. Gingka membuka matanya, menguap, kemudian melakukan stretching.
"Sudah sampai, ya?" Gingka merenggangkan kedua tangannya keatas, "sekarang bagaimana keadaanmu? Enakan?"
Bibirku menyunggingkan senyuman, "iya. Sebaiknya kita siap-siap sekarang!" ujarku, mengambil tas kantung yang berwarna coklat. Gingka bangkit, menyusulku untuk meraih tasnya. Setelah kami memastikan tak ada barang yang tertinggal, kami turun dari minibus.
Setelah meninggalkan minibus, terlihat semuanya yang telah berkumpul . Kami berdua berlari kecil, menyusul mereka.
"Paling belakangan lagi," sindir Kyouya dingin. "Gomenasai minna! Aku ketiduran! Hehehe..." balas Gingka, memamerkan tawanya.
"Mana Yuki? Kita 'kan janjian disini!" gumam Madoka sembari menatap layar laptop mininya.
"Iya, ya! Lama sekali!" keluh King sambil menengok kiri-kanan, mencari sosok bernama Mizusawa Yuki.
"Sampai kapan kita harus menunggu?" tanya Masamune yang mulai gerah meskipun angin sepoi-sepoi bertiup kearahnya. Semua orang menunggu tuan rumah, dan aku semakin penasaran dan menerka seperti apa sosok Mizusawa Yuki , 'Legend Bladers' yang sering diceritakan itu.
Tak lama kemudian, tampak sosok lelaki yang berlari menuju rombongan kami. Ia melambaikan tangannya sampai akhirnya berhenti di hadapan Gingka. "Go... gomen minna-san! Maaf membuat kalian menunggu," mohonnya, kemudian membungkukan punggungnya. Kami semua langsung cerah dan aku memperhatikan anak itu seksama.
Anak itu mengenakan kacamata yang membingkai matanya yang beriris biru keabuan, memakai setelan jas berwarna biru muda yang membungkus kemeja putihnya dengan dasi merah bergambar bintang. Terlihat dari penampilan, sepertinya dia anak baik-baik.
"Ah, tidak apa-apa!" bantah Gingka. Yuki mengabsen semuanya satu-persatu, dan seperti yang kuduga, tatapan matanya berhenti padaku.
"Gingka-san, kalau tidak salah ini teman masa kecilmu yang pernah kau ceritakan, bukan? Namanya..." Yuki menerawang, mengingat-ingat, kemudian kembali melihatku.
"Yup!" ujar Gingka. Jadi ini yang bernama Mizusawa Yuki? Pikirku. Gingka menyikut pinggangku pelan, "nah, Hyouma!" bisik Gingka.
"Watashi no namae wa Mizusawa Yuki, desu." Yuki membungkukan tubuhnya, melakukan perkenalan secara formal dan rapi. Aku sendiri sampai tertegun melihat kesantunannya.
"Ah... hai', Hyouma desu, yoroshiku." balasku tersenyum simpul, ikut melakukan hal yang sama.
Yuki tersenyum simpul, " yoroshiku, Hyouma-san. Minna-san, bagaimana kalau langsung saja ke rumahku? Ayo, silahkan!" undangnya, lalu menuntun kami yang mengikutinya, sampai akhirnya tiba di sebuah tempat beratap kubah dengan teropong besar menjulur ke langit.
"Yuki, rumahmu itu Planetarium?" tanya King yang tak melepas kekagumannya.
"Iya. Jadi ini rumahku sekaligus Planetarium tempat penelitian mengenai luar angkasa. Disini juga tempatku untuk meneliti mengenai Beyblade," terang Yuki, membuka pintu masuk yang berbahan kayu.
Rumah itu tampak lowong, sederhana dan sangat bersih. Langit-langitnya sangat tinggi, berwarna sama dengan dindingnya yang berwarna putih polos. Ruang tamu terdiri dari dua sofa kulit berwarna putih yang saling berhadapan, dibatasi sebuah meja ebony panjang yang diatasnya terdapat kaca, dan satu kursi berbagan kulit berwarna hitam. Di belakang ruang tamu, tampak tangga besi berwarna abu-abu yang melingkar dengan beberapa ruangan menuju halaman belakang.
"Nggak nyangka kalau ini rumah, ya!" kata Masamune, masih memperhatikan seisi rumah.
"Rumahnya gaya minimalis! Sugoii!" puji Madoka.
"Haha, benarkah? Arigatou gozaimasu! Maaf kalau rumahnya jelek, berantakan," Yuki merendah, "kalian duduk saja dulu disini, akan kubuatkan minuman untuk kalian," Yuki meninggalkan ruang tamu dan pergi menuju dapurnya yang sepertinya terletak di ruang belakang.
Aku duduk di sebelah Gingka dan Tsubasa. Hikaru dan Madoka duduk di sofa seberang. Yuu dan Kenta asyik tertawa dan bercanda, tak ikut duduk. Kyouya keluar ke halaman diikuti Benkei, Masamune dan King.
Tak lama kemudian, Yuki datang dengan nampan dengan gelas-gelas macha diatasnya. "Di rumahku hanya ada ini. Silahkan dinikmati," Yuki meletakkan nampan dengan hati-hati. "Aku mau ambil cemilan dulu, permisi," laki-laki berkacamata itu kembali menuju dapurnya.
Aku beranjak, "Yuki-san, boleh aku bantu?" aku menawarkan diri.
Yuki terdiam sejenak, "apa ini tidak merepotkanmu, Hyouma-san?" tanyanya ragu.
"Tidak, kok! Boleh 'kan?" aku mengeluarkan 'senjata'ku : sebuah senyuman. Yuki menimbang-nimbang, dan akhirnya mengizinkanku untuk membantunya.
Dinding ruang keluarga Mizusawa dipenuhi oleh frame-frame foto yang terpampang rapi. Menggambarkan kenangan dan kehangatan yang terjadi dalam keluarga itu. langkahku terhenti, menatap semua foto satu-persatu. Rasa iri muncul dan memenuhi pikiranku. Yuki terlihat begitu bahagia dengan keluarganya. Sedangkan aku?
"Ada apa, Hyouma-san?" tanya Sang Empu rumah. Kuhela napasku, mengambil sebuah bingkai foto kecil yang terletak di atas meja mungil. Tampak Yuki kecil dengan seorang pria lansia berpose begitu akrab.
"Ini kakekmu, Yuki-san?" aku memperhatikan foto itu. Tampak keakraban antara kakek dan cucunya. Keakraban yang amat kudambakan. Keakraban yang tak menghampiri hidupku.
"Eh, iya. Memangnya kenapa?" Yuki balik bertanya. "Setiap aku melihat foto-foto ini aku jadi merindukan keluargaku... yang berada jauh disana..." mata Yuki menerawang, ada kesedihan dibalik senyumannya. "Tapi aku percaya, suatu saat kami akan bertemu lagi..."
Lihat! Betapa beruntungnya Yuki! Ia masih mengenal keluarganya! Sedangkan aku? Aku tak tahu siapa keluargaku, apa asal-usul kelahiranku...
Aku tak mengenal keluarga kandungku...
"Ah, Hyouma-san! Kau kenapa? Apa ada ucapanku yang salah?"
Aku tak merespon pertanyaannya. Hanya terdiam.
"Hyouma-san, kau..." air muka Yuki menunjukan rasa bersalah. Ah, Hyouma! Baka! Bukan saatnya mengenang masa lalu yang 'itu', bukan? Baka!Dasar Hyouma baka!
Aku memandang balik Yuki, "tidak, bukan apa-apa! Ayo ke dapur!"
Setelah menghabiskan macha dan cemilan, kami langsung diantar Yuki menuju kamar kami.
"Gomen, kamarnya tidak nyaman. Hanya ini saja yang kumiliki." ucap Yuki sembari membungkukan sedikit punggungnya.
"Tidak apa-apa! Toh kami masih bisa refreshing!" ujar Gingka bersemangat. Sahabatku yang satu ini memang selalu positive thinking.
"Hahaha, baiklah, kalau ada apa-apa bilang aku saja, ya! Aku ingin menyelesaikan sesuatu dulu! Boleh?" mohon Yuki.
"Tidak masalah! Jangan khawatir!"
Yuki langsung meninggalkan kami semua. Rumah ini memiliki sepuluh kamar, tiga diantaranya menjadi tempat menginap kami. Aku sekamar dengan Gingka, Kenta, Tsubasa dan Yuu. Kyouya, Benkei, Masamune dan King tinggal di kamar sebelah kami. Hikaru dan Madoka di kamar seberang, yang sisi kanan kamar mereka adalah kamar kosong.
Kami berlima langsung mengambil futon dan menggelarnya di tempat yang diinginkan.
"Kenchi, kamu sebelah aku saja! Sini!" ajak Yuu. Kenta mengangguk, dan menggelar futonnya di sisi kiri futon milik Yuu. Tsubasa menggelar futonnya di dekat pintu dan Gingka di sebelahnya.
"Hyouma, kau mau yang di pojok? Di sebelahku!" tawar Gingka, melihat aku yang masih bingung untuk menempatkan futonku.
"Baiklah!" aku meletakkan futonku di sisi kanan Gingka. Tak sampai lima menit aku membereskan futon lengkap dengan bantalnya, sedangkan yang lain masih saja sibuk merapikan futon masing-masing.
"Uwaaaa~~~! Futonnya empuk!" ungkap Yuu sambil meloncat-loncat diatas futon.
"Yuu, awas! Nanti kalau kau ja-" peringatan Tsubasa terputus begitu Yuu terjatuh, dengan kaki membentur lantai kayu yang cukup keras. "Ya ampun! Baru saja kubilang!" Tsubasa segera menghampiri Yuu yang meringis kesakitan.
"Yuu! Daijobu ka?" tanya Kenta, melihat sobat kenalnya itu menggeleng lalu merengut.
"Sakiii~~~t!" keluh sang pemilk iris emerald tersebut, memegangi kaki kirinya yang terdapat ruam kemerahan. Tsubasa mencari-cari sesuatu di dalam tasnya, dan mengambil sebuah gulungan perban.
"Makanya! Dengarkan dulu orang berbicara! Kalau sakit tidak enak 'kan!" omel Tsubasa , kemudian menghampiri bocah malang tersebut dan mencari bagian yang sakit. "Nah, aku perban dulu! Tahan, ya!" lelaki berambut kelabu keperakan itu mulai menempelkan perban.
"Sa.. sakit! "
"Sabar! Tahan dulu!" perintah Tsubasa, tak mempedulikan rengekan Yuu yang menolak untuk diperban. Aku jadi blushing sendiri... mengingat kejadian 'memalukan' yang kulakukan di depan Hikaru...
"Hyouma, kok kau bengong begitu?" Gingka menyadarkan lamunanku.
"Jadi ingat itu..." gumamku tanpa sadar. Gingka terlihat penasaran, menengok kearahku.
"Itu? 'Itu' apa, Hyouma?"
Aku menggeleng. Mana mungkin kuceritakan pada Gingka tentang kejadian di dapur itu? Dimana aku yang berusaha menyelamatkan Hikaru yang terpeleset, malah kakiku yang terbentur meja. Dan itu memalukan, mengingat justru Hikaru yang mengobati kakiku.
"Selesai! Bagaimana, Yuu?" Tsubasa mengikat perban tersebut.
"Arigatou Tsubasa..." ucap Yuu, "Tsubasa~~~ aku kan haus, tolong ambilin minum, dong! Hehe..." rengek bocah berambut oranye tersebut dengan manja.
"Dasar!" tanggap Tsubasa, namun ia segera mencari soft drink di kulkas mini untuk Yuu. "Kau mau yang mana? Strawberry atau orange?"
"Orange saja! Kenchi mau tidak?"
"Ngng, aku yang rasa melon. Ada tidak?"
"Iya, iya! Ini untuk kalian!" Tsubasa memberikan dua kaleng soft drink untuk dua bocah manis tersebut. "Gingka, Hyouma, kalian mau juga?"
"Aku yang chocolate! Hyouma, kau pasti teh, kan?"
"Ehem, baiklah! Tolong machanya satu!"
Setelah Tsubasa memberikan minuman untuk kami, tak lupa kami mengucapkan terima kasih. "Woi! Buka pintunya, dong!" terdengar suara dari luar dan disertai ketukan pintu.
"Buka saja sendiri! Nggak dikunci, kok!" ujar Gingka. Setelah pintu terbuka, terlihat sosok Masamune.
"Kalian mau ikutan main di kamarku, nggak? Seru, lho!" tawar Masamune, heboh. kami semua mendongak, ingin tahu permainan yang dimaksud Masamune.
"Main apaan?"
Masamune tersenyum misterius, "main Truth or Dare!"
Permainan Truth or Dare yang dilaksanakan di kamar Masamune berlangsung seru sekali. Semua laki-laki, tak terkecuali Yuki ikut serta dalam permainan ini. Sayang, para gadis tidak ikut.
"Benkei! Tadi kamu pilih dare, kan?" tanya King, lalu kasak-kusuk berdiskusi dengan Masamune. "Benkei, sebagai hukumannya, coba kamu gedor-gedor kamar anak cewek!" perintah King, mengeluarkan senyum jahilnya.
"A... apa nggak ada yang lain?" Benkei berusaha mengalihkan perintah King.
"O, tidak bisa!" tolak King, "cepetan sana! Jangan sampai ketahuan, lho! Hihihi..."
Benkei langsung keluar kamar , menggedor-gedor pintu kamar Madoka dan Hikaru super kencang. Gingka, Masamune, King dan Yuu tak dapat menahan tawa mereka.
"SIAPA ITU! KURANG AJAR!" terdengar suara jeritan jengkel dari Madoka, kemudian gadis itu membuka pintu. Sayang, Madoka terlambat karena Benkei sudah lebih dulu kabur dan kembali ke kamarnya. Masamune dan King masih tertawa, sedangkan Gingka merasa tak tega dengan Madoka segera menghentikan tawanya.
"Ayo, lagi! Hom pim pa!" kami segera melakukan hom pim pa. Aturan mainnya, jika dalam hom pim pa putih lebih banyak daripada hitam, maka putih keluar. Begitupun sebaliknya. Lalu yang hitam terus menentukan lewat hom pim pa, sehingga tersisih maksimal dua orang. Kalau yang terakhir beda sendiri, dialah yang menerima hukuman Truth or Dare. Lalu, kalau yang tersisa hanya dua orang, maka harus mengambil keputusan melalui suit batu-gunting-kertas. Yang menerima Truth or Dare tentu saja orang yang kalah suit.
"Nah, sekarang Tsubasa sama aku! Ayo suit... batu-gunting-kertas!" Yuu mengangkat tangannya, bersamaan dengan Tsubasa. Sekarang hasilnya adalah... Tsubasa batu dan Yuu kertas.
"Tsubasa kena! Hayoooo~~~, pilih truth atau dare?" tanya Masamune, melihat Tsubasa memilih diantara dua pilihan yang membingungkan. Jika ia memilih dare, dia tak mau mengerjai para gadis seperti halnya yang dilakukan Benkei. Jika memilih truth, dia harus jujur menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sangat pribadi.
"Sial!" umpat Tsubasa, memejamkan matanya dan berpikir. "Ok, truth!" jawabnya pasrah. Gingka, Masamune dan King langsung melakukan rapat mengenai pertanyaan yang akan diajukan kepada Tsubasa.
"Ahem!" Masamune berdehem, "ok! Tsubasa. Kamu lagi naksir seseorang nggak?" tanya Masamune, polos. Jleb! Tsubasa langsung terdiam begitu mendengar pertanyaan dari Masamune, tampak seperti tepat mengenai sesuatu yang disembunyikannya.
"Nggak boleh bohong, lho!" King menimpali. Tsubasa langsung memejamkan matanya, tampak sangat keberatan dengan pertanyaan yang bersifat privasi itu.
"Baiklah..." Tsubasa menarik napas dan membuangnya kembali, "aku... memang sedang menyukai seseorang..." ucapnya, rona merah tampak dari wajahnya meskipun terlihat tenang. Sontak, satu kamar mulai gempar.
"APA? SERIUS KAMU! Kamu naksir siapa?" Tsubasa langsung dicecar oleh pertanyaan seperti itu.
"Rahasia."
"Eits! Kau harus jawab dulu!"
"Tidak!"
"KALAU MAU RIBUT BUBAR SANA!" suara bentakan Kyouya menggelegar sampai ke luar rumah. Semua orang menutup telinganya dan memilih untuk 'mengheningkan cipta' sejenak.
"Ya udah! Ayo hom pim pa lagi!" Gingka mengalihkan perhatian. Semuanya melakukan hom pim pa. Aku tak fokus pada Truth or Dare, benakku terbayang oleh perkataan Tsubasa...
Tsubasa yang cool dan gentle tersebut bisa menyukai seseorang? Siapa orang yang dicintainya? Pikiran buruk mulai menguasai diriku. Tsubasa tidak pernah terlihat kalau ia menyukai seseorang. Apa jangan-jangan Tsubasa menyukai...
Aku berusaha mengenyahkan pikiran jelekku, namun pikiran itu terus menggangguku. Tuhan, apakah ini yang disebut sebuah persaingan? Persaingan memperebutkan suatu hal yang disebut...
Cinta...
Tidak! Tidak! Aku menampar pelan sendiri wajahku. Bisa saja Tsubasa menyukai Madoka, atau gadis lain. Akan tetapi, kecurigaanku terus berlanjut... apakah Tsubasa menyukai seorang gadis yang bernama...
Hazama Hikaru...?
Ah, dasar Hyouma! Belum tentu Tsubasa juga menyukai Hikaru, kan? Baka!
Tapi kalau memang jawabannya adalah: 'IYA'...
Berarti... kami terlibat dalam suatu hal yang bernama...
Cinta segitiga...
Dan pasti ada rasa cemburu yang menyakitkan...
Bulan purnama menampakan dirinya, berbaur dengan jutaan kilauan bintang yang bersinar amat terang di tengah hamparan kegelapan malam. Semua itu terlihat dari jendela kamar yang terbuka, dengan angin yang menyibakkan tirai.
Bayang-bayang cinta segitiga masih melekat dalam otakku. Meski seharusnya aku tak boleh berprasangka buruk, namun kecurigaan terus menghantuiku.
Kuputuskan untuk beranjak dari ruangan ini. Langkah kakiku mengendap-endap, agar tak diketahui penghuni kamar yang sudah terlelap. Ingin kuhilangkan keresahan dalam pikiranku.
"Hyouma," panggil seseorang. Aku menoleh, dan mendapati sosok Gingka yang masih membuka matanya dengan selimut yang membalut tubuhnya yang berbaring di futon. "Mau kemana kau? "
"Aku bosan, ingin mencari udara segar..." kuutarakan alasanku. Aku yakin, Gingka tahu kebiasaanku sejak dulu, memandangi langit malam. Gingka tersenyum, mengizinkanku keluar.
Kubuka pintu Planetarium, menjejaki lapangan rumput yang luas. Semilir angin malam mengiringiku, membuat pikiranku sedikit terbuka. Beruntung tempat ini berada di puncak bukit, sehingga aku dapat leluasa menatap bentangan langit malam yang begitu indah.
Mataku menemukan sesosok yang duduk di sebuah bangku, di bawah pohon besar nan rindang. Begitu sosok itu kudekati, ia seperti tak mempercayai keberadaanku.
"Lho, Hyouma-san! Bukannya kau sudah tidur duluan?" tanya sosok yang ternyata Mizusawa Yuki, dengan teleskop bintang, beberapa buku yang cukup tebal dan sebuah tas berukuran lumayan besar.
"Aku sedang bosan. Kau sendiri sedang apa disini?" aku balik bertanya.
"Sedang meneliti pergerakan bintang," jawab Yuki, matanya mendekati teleskop yang dicondongkan ke arah langit, lalu mencatat sesuatu di buku yang di atas pangkuannya.
"Kau tertarik dengan sesuatu yang berbau astronomi?"
"Tentu saja! Lagipula..." Yuki melepaskan pandangannya dari teleskop, bergantian memandangi diriku, "konon pergerakan bintang berpengaruh terhadap kekuatan seluruh beyblade... bahkan beyblade legendaris sekalipun."
Tampak keseriusan dari ekspresi lelaki berkacamata tersebut. "Eh, aku mengganggu, ya? Kalau begitu aku pergi dulu," aku menyingkir dari hadapannya.
"Tunggu! Jangan pergi dulu! Aku malah senang kalau ada yang menemani," cegah Yuki, menarik pergelangan tanganku. Kuurungkan niatku untuk pergi dan duduk di sampingnya. Yuki kembali serius menekuni teleskopnya, lalu mencatat hasilnya ke dalam jurnalnya. "Selesai! Nanti datanya bisa kupindahkan ke iPad!" serunya pada diri sendiri dan menutup jurnalnya.
"Sejak kapan kau menekuni bidang astronomi?" aku berbasa-basi.
"Dari kecil. Kakekku yang menularkan hal ini," Yuki membetulkan letak kacamatanya. Iri kembali merasuki hatiku. Betapa beruntungnya ia mendapatkan kasih sayang dari keluarga kandungnya...
"Kakekmu... maksudku keluargamu pasti sangat menyayangimu, ya..."
Yuki melihat ekspresiku yang menggalau, "eh, memangnya ada apa dengan keluargamu?"
Aku hening sejenak, menarik napas dalam kemudian mengeluarkannya. Bayang-bayang kenangan membawaku pada sesuatu yang buruk... memori mengenai keluargaku yang pernah diceritakan Ryuusei-san...
"Aku tak mengenal siapa keluarga kandungku..."
~ Flashback ~
Malam musim dingin Koma Village, lima belas tahun yang lalu...
Seorang lelaki muda, Hagane Ryuusei, merasakan ada sesuatu yang mencurigakan di halaman rumahnya .
"Ryuusei, suamiku, apa yang kau lakukan di malam seperti ini?" seorang wanita muda, yang merupakan istri Ryuusei, mengamati apa yang dilakukan oleh suami tercintanya tersebut.
"Ah, istriku. Entah mengapa aku merasakan sesuatu yang aneh!" Ryuusei tampak mencari-cari sesuatu. Istrinya hanya menunggu di depan pintu gubuk tempat tinggal mereka, sembari mengelus kandungannya yang baru berumur satu bulan.
"Cepatlah, Ryuusei! Malam ini dingin sekali!" ujar wanita tersebut.
"Tenanglah, Sayang. Aku pasti baik-baik saja," Ryuusei menenangkan istrinya tersebut dan mencari keganjilan yang ia rasakan dalam batinnya.
Tak lama kemudian, Ryuusei menangkap suara tangisan. Ya, tangisan seorang bayi dari balik semak-semak. Ryuusei segera mendatangi sumber tangisan tersebut. Ryuusei melihat ada sebuah kardus, dan begitu melihat isinya...
"Astaga!" desis Ryuusei, matanya membulat begitu menemukan sesosok bayi yang tengah menangis. "Bayi siapa ini? Jahat sekali ada yang membuang bayi di desa ini!" ujar Ryuusei. Tak lama kemudian ia menemukan sepucuk kertas surat yang bertuliskan :
Siapapun yang menemukan bayi ini, tolong jaga dan rawat ia baik-baik.
Ryuusei segera mengantongi surat tersebut, dan menggendong bayi malang tersebut ke dalam rumah. Sang Istripun terkejut begitu melihat bayi itu, dan prihatin begitu mendengar cerita dari suami tercintanya.
"Kejam sekali yang membuang bayi ini!" wanita itu menimang-nimang bayi temuan tersebut. "Kalau begitu, Ryuusei... bagaimana kalau kita merawat bayi ini bersama dengan bayi kita..." iris suami-istri tersebut saling bertemu, lalu Sang Istri mengelus calon bayinya.
"Baiklah... sepertinya bagus juga untuk memiliki dua anak sekaligus..." Ryuusei menerawang ke arah gunung Hagane.
"Lalu, mau kau beri nama siapa untuk bayi ini?"
"Hmmm," Ryuusei memejamkan matanya, lalu kembali menatap gunung Hagane, "gunung... malam bersalju... gunung es... hyouzan..." gumamnya, berpikir keras. "Lalu legenda iblis gunung Hagane... hah! Kenapa harus iblis? Tapi terdengar bagus juga... iblis... mamano..."
"Siapa nama bayi ini?" desak Istri Ryuusei. Ryuusei kembali terdiam.
"Tunggu... hyouzan... mamano... hyouzan mamano itu... aha!" Ryuusei menjentikan jarinya. "Hyouzan mamano! Disingkat namanya menjadi... Hyouma!" seru Ryuusei, seakan menemukan sesuatu yang cemerlang.
"Siapa? Coba kau ulangi lagi!" pinta istrinya. Bibir Ryuusei membentuk senyuman lebar.
"Nama bayi ini adalah Hyouma... yap! Hyouma!"
Entah mengapa, bayi yang sedari tadi menangis tersebut malah tersenyum begitu mendengar nama barunya tersebut. Sejak itu, Sang Bayi yang tak lain adalah aku memiliki sebuah nama: Hyouma.
~ Flashback end ~
Terlihat ketidakpercayaan dari pandangan Yuki, tapi dalam lima detik berubah menjadi pandangan simpatik. Baru kali ini aku sendiri yang menceritakan asal-usulku.
Ya, kuakui terkadang aku iri dengan keadaan anak-anak lain yang memiliki orangtua. Sungguh berbeda dengan realita yang kujalani, hidup tanpa orangtua kandung. Gingka contohnya, meskipun kini ibunya telah tiada, namun ia masih dapat merasakan kasih sayang murni dan tulus dari ayahnya. Melihat Gingka dan ayahnya akrab saja terkadang membuat hatiku pedih.
Terkadang pula aku memaki orangtuaku, menghujat mereka atas perbuatan yang telah mereka lakukan padaku, mereka telah membuang bayi yang tak berdosa. Jika saja waktu itu Ryuusei-san tak membawaku, mungkin saja aku sudah tiada di dunia ini. Apa salahku? Apa dosaku sehingga mereka membuangku? Apakah aku hanya beban? Apakah aku hanya menjadi sampah bagi mereka? Bukankah hak semua anak adalah mendapat kasih sayang dari orangtuanya? Bukankah kewajiban orangtua adalah menjaga dan melindungi anak-anak mereka?
Kuhela lagi napasku, berusaha menghapus rasa iri yang melekat dalam pikiranku. "Namun aku tak sendiri... aku memiliki banyak orang yang mewarnai hidupku, membuat hidupku penuh rasa..." . Bayang-bayang Gingka, Hikaru, Ryuusei-san, Hokuto, dan semuanya memenuhi pikiranku. Mereka semua begitu berarti bagiku.
Kami tenggelam dalam hening. Menikmati atmosfir suasana malam berbintang, seakan yang tadi itu terlupa begitu saja.
Terdengar suara langkah di belakang kami. Aku menoleh. Seseorang menghampiri kami. "Sudah kuduga kalian berkumpul di sini," kata pemilik suara yang sudah sangat kukenal itu.
"Tsubasa!" balasku pada sosok yang baru bergabung. Tsubasa mengangguk, "sedang apa kalian di sini?" tanyanya. Rambut panjang keperakannya sedikit berayun ditiup angin.
"Menikmati pemandangan malam," jawabku santai. Kugeserkan posisi dudukku, membiarkan pemilik Aquilla itu duduk di sampingku. Tsubasa mengadahkan pandangannya ke langit, mengikuti apa yang kulakukan.
"Langit malam ini indah..." ungkap Tsubasa, matanya terus melihat hamparan keindahan malam. Ucapannya tadi mewakili pemikiranku kali ini. Yuki kembali tersenyum.
"Ya..." ucapku. DEG! Kepalaku terasa berdenyut, pening berat mulai kurasakan. Kupegangi kembali dahiku, menahan rasa sakit yang kembali mendera. Yuki dan Tsubasa melihat perubahan sikapku, langsung memegangi tubuhku.
"Hyouma-san, kau kenapa?"
Ingin kujawab 'aku baik-baik saja', namun sakitku semakin menggila. Perutku mulai merasa mual, serasa ingin memuntahkan isinya. Ditambah lagi, tiba-tiba tubuhku menggigil tanpa sebab.
"Hyouma! Kau kenapa?" Tsubasa tak puas dengan sikapku yang hanya membisu menahan sakit. Aku merasa gemetaran hebat. Semua sakit itu mulai berbaur dan menyiksaku tanpa ampun. Tsubasa mengguncang-guncangkan tubuhku, "Hyouma! Kau tidak apa-apa? Jawablah!"
Namun aku tak dapat memenuhi permintaan tersebut. Segala rasa pusing, mual, sesak napas dan nyeri membuatku tak berdaya. Bintang yang awalnya bersinar terang perlahan mulai meredup, pudar, terasa mulai menghilang...
"Hei, kuatkan dirimu!"
Tubuhku serasa melayang, kemudian serasa hanyut tenggelam. Wujud Tsubasa dan Yuki terlihat bagai bayangan...
"HYOUMA! BERTAHANLAH!"
Hanya itu yang dapat kudengar. Selanjutnya pendengaranku menjadi tuli, segalanya lenyap. Duniaku menghitam sempurna.
Secercah sinar merasuki penglihatanku. Pemandangan yang tadinya malam berbintang berubah menjadi tempat yang agak asing untukku. Nampak globe, map, gulungan peta, tumpukan buku dan sebuah set tempat belajar. Sebagian tubuhku sudah berselimut, dan aku baru sadar bahwa aku telah berbaring di suatu tempat.
"Hyouma! Kau sudah sadar? Syukurlah!" seseorang datang kepadaku. Gingka? Sejak kapan dia ada di sini? Kuraba keningku, ada kompresan diatasnya. Kusentuh pakaianku, dan melihat pakaianku sudah berganti dengan sebuah kemeja longgar warna putih.
"Gingka? Aku kenapa?" aku mengingat-ingat apa yang terjadi.
"Kau pingsan dua jam yang lalu, kami semua mencemaskanmu, tahu!" Gingka menunjuk dua orang lainnya, Tsubasa dan Yuki. Jam di depanku menunjukkan angka 2 dan 30.
Sial! Mengapa ujung-ujungnya semua orang mencemaskanku! Bodohnya aku ini! Aku tak ingin membuat mereka cemas, malah berujung seperti ini!
Kusalahkan diriku sendiri. Sungguh, aku benci dikhawatirkan dan dikasihani, tapi justru akulah yang menimbulkan semua itu.
Aku sangat membenci diriku yang payah seperti ini.
"Kau baik-baik saja, Hyouma-san?" tanya Yuki. Pertanyaan yang sering orang lontarkan padaku akhir-akhir ini.
"Tidak masalah," jawabku, memaksakan senyum. Yang lain terlihat lega walau tak sepenuhnya. "Ngomong-ngomong, sekarang aku dimana?"
"Di kamarku," jawab Yuki. Aku merasa makin bersalah, mengetahui orang lain mengorbankan dirinya hanya untukku.
"Boleh aku pindah ke kamarku?"
"JANGAN!" cegah mereka semua bersamaan, "sebaiknya kau beristirahat saja di sini. Tidak apa, aku bisa pindah ke kamar lain," kata Yuki. Akupun hanya bersungut-sungut.
"Lebih baik kau tetap beristirahat di kamar ini sampai keadaanmu benar-benar membaik," Gingka menjelaskan.
"Sekarang, tidurlah. Kau butuh istirahat, bukan?" tawar Tsubasa. Memang benar apa yang diucapkan mereka, tapi...
"Gomen semuanya..." ucapku pelan, "gomen sudah merepotkan kalian semua..."
"Ngomong apa kau ini? Ini tidak seberapa!" bantah Gingka, "Kau tidak menyusahkan sama sekali!"
"Tapi..."
"Sudahlah, kau tidur saja!" tegas Tsubasa. Aku tak dapat membantah mereka semua, memilih untuk menuruti mereka. Kutarik selimutku dan merilekskan diri.
"Oyasumi. Kami pergi dulu, ya!" Gingka, Tsubasa dan Yuki menyingkir dari pembaringanku, membuka pintu dan segera keluar dari kamar yang kutempati.
Rasa kantuk mendatangiku. Kupejamkan kedua mataku.
Dan mulai tertidur.
BRAK!
Mataku terbuka berkat pintu yang dibanting keras itu, namun rasa lelah belum menghilang hingga...
"HYOUMAAAAA~~~...!"
Astaga! Suaranya keras sekali! Dengan berat hati kubuka kedua mataku, menguceknya, dan fokus pada pelaku yang terlihat tak berdosa tersebut, Gingka dan Masamune.
"Berisik! Bisakah kalian tenang sedikit?" gerutuku. Herannya, berbeda dengan Gingka, Masamune malah terlihat cengar-cengir tak bersalah.
"Ahaha... sumimasen Hyouma. Masamune, kau ini keterlaluan deh!" omel Gingka pada mantan partnernya di Gan Gan Galaxy tersebut. Masamune mengeluarkan gaya cengirnya yang khas, ditambah dengan menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
"Sorry, deh! Memang udah kebiasaan kayak gini!" ucap Masamune dengan mata kesana kemari.
"Kumaafkan," ucapku singkat. "Ngomong-ngomong, ngapain kalian datang ke sini?"
"Ya ngajak sarapan, lah! Memangnya kamu nggak mau makan?" tanya sang pemilik Ray Unicorno tersebut dengan sumringah, membuat sweatdrop muncul padaku dan gelengan kepala dari Gingka.
"Ehm, ya." jawabku, berusaha tetap stay cool. "Siapa yang membuat sarapan? Madoka?" tebakku. Tanpa diperintah, Gingka langsung menganguk.
"Ayo! Nanti sarapannya keburu habis, lho!" ujar Masamune tak sabar. Aku segera bangkit dari tempat tidurku, kemudian pergi keluar kamar bersama mereka tanpa mengganti pakaianku terlebih dahulu.
Setibanya di ruang makan, ternyata Madoka belum selesai membuatkan sarapan. Iseng-iseng aku pergi menuju ruang keluarga yang terdapat di sebelah ruang makan tersebut.
"Ohayou minna-san!" sapaku pada semua orang yang berada di ruang tersebut, entah karena bosan sehingga semuanya (kecuali Madoka, Hikaru dan Yuki) berkumpul di sini.
"Ohayou Hyouma!" balas mereka semua bersamaan. "Hyouma, mengapa bajumu jadi begitu?" Benkei menunjuk kemeja putih yang kukenakan. Deg! Jujur, aku tak tahu harus berbohong seperti apa lagi. Jika kuceritakan kejadian pingsanku semalam, sudah dapat ditebak semuanya bakal mengkahawatirkan keadaanku, dan aku akan menyusahkan mereka semua.
"Tidak apa, aku hanya meminjam baju ini untuk tidur," jelasku. Dalam hati aku menenangkan diriku yang jelas-jelas berbohong.
"Hyouma, bukannya semalam itu kau-" tanganku segera membekap mulut Gingka yang hampir menceploskan kejadian semalam. Gingka meronta, namun aku tak mungkin melepasnya langsung.
"Ssst! Jangan bilang soal yang pingsan itu pada mereka!" bisikku pada 'The Champion' tersebut. Gingka pasrah, memilih untuk mengangguk kalau tak ingin kubekap lebih kencang lagi.
"Kenapa?" bisik Gingka setelah aku berhenti membekapnya. "Aku tak ingin ada orang lain yang tahu soal itu...," jawabku, tentu saja dengan berbisik. Kupandangi Tsubasa yang hanya diam, tak merespon, seakan tahu aku tak ingin menceritakan hal itu pada publik. Semua orang, kecuali Kyouya hanya ber-oh ria dan kembali tenang.
Kyouya menatap tajam diriku, "kau tak bohong lagi, Hyouma?" pertanyaan tersebut dilontarkan dengan agak sinis.
"Tidak!" kilahku, meyakinkan Sang Singa itu.
"Huh! Terserah kau saja!" Kyouya memalingkan wajahnya. Kuhela napasku, merasa lega karena semuanya tertutupi.
Kuperhatikan ruang keluarga Mizusawa. Selain memiliki pajangan foto pada dindingnya, ruangan ini memiliki televisi plasma 32 inch yang terpasang di atas meja sekaligus lemari kayu berwarna dark brown dan sebuah sofa kain berwarna hitam, serta sebuah karpet yang terbuat dari rotan tipis.
"Hyouma!" panggil Yuu, menarik tanganku kuat agar aku dapat bergabung dengannya dan Kenta.
"Ada apa?" aku mengikutinya, duduk lesehan di atas karpet bersama duo bocah innocent . Yuu terlihat semakin riang dengan responku.
"Lihat, deh! Kamu pasti suka!" Yuu menunjuk ke televisi dengan wajah ceria. Kulihat isi tayangan di layar kaca. Sepertinya aku pernah mengenal acara animasi itu... .
Terlihat para domba yang tengah berenang di kolam renang, dan seekor anjing penjaga yang mengawasi mereka. Para domba itu beraktivitas layaknya manusia, seperti mendengarkan radio hingga piknik dadakan. Sesekali mereka waspada akan kehadiran'tuan' mereka, karena bisa gawat apabila pengembala itu tahu apa yang mereka lakukan.
Ya Tuhan... bukannya itu... .
"Shaun The Sheep..." desisku menyebutkan judul kartun tersebut.
"Kamu suka, kan?" Yuu terlihat makin girang. Tuhan... apa karena beyblade milikku adalah 'Aries' berwujud domba... makanya Yuu mengajakku menonton Shaun The Sheep?
Aku hanya diam, bingung untuk menjawab apa. Maka kuputuskan untuk menemani duo bocah innocent tersebut menonton bersama. Tetapi, setelah sekian menit terlewati... .
Lama-lama aku jadi menyukai kartun ini... pikirku sembari menghayati ceritanya yang makin lama terlihat makin seru dalam benakku. Bahkan ketika Madoka memanggil semuanya untuk sarapan, aku agak kecewa karena kalaupun aku kembali lagi sehabis sarapan, pasti acaranya sudah habis.
Setelah sarapan berakhir, kami semua bersiap untuk piknik ke sebuah tempat yang direkomendasikan oleh Yuki. Aku sudah selesai bersiap, termasuk mengganti kemeja putih itu dengan pakaian yang biasa kupakai. Kini kami menunggu para gadis yang belum selesai berias. Tak lama kemudian, mereka datang. Tetapi, Yang membuat kami surprise, Madoka dan Hikaru tak berpenampilan seperti biasanya.
Madoka mengenakan dress soft pink tanpa lengan yang panjangnya sedikit di atas lutut dan di ujungnya terdapat renda putih, sebuah pita kecil menghiasi bagian dada pada dress tersebut. Madoka menambahkan aksesori seperti bando pita satin warna putih dan wedges kayu dengan pita berwarna senada. Simple tetapi manis sekali.
Dan penampilan Hikaru kali ini membuatku terkesima. Hikaru mengenakan dress putih gading tanpa lengan seperti Madoka, namun panjangnya semata kaki. Kakinya yang jenjang dihiasi oleh wedges kayu dengan hiasan bunga dandelion berwarna putih. Terlihat bak putri yang anggun sekali. Hikaru mengambil sebuah keranjang piknik, kemudian memandangi para lelaki yang hanya terdiam, terpana dengan penampilan mereka. "Kenapa kalian bengong begitu? " tanya Hikaru yang tak mengerti bahwa dirinya penyebab semua itu.
"Ah, tidak!" aku meringis, berusaha menahan agar wajah tersipuku tak terlihat oleh Hikaru. Gingka masih terpesona oleh Madoka yang terlihat semakin cantik dari biasanya.
"Ya sudah! Ayo berangkat!" Kyouya mengalihkan perhatian para lelaki yang mulai tersadar.
Singkatnya, setelah kami semua ready dan mengikuti Yuki yang mengajak kami ke sebuah tempat, yang katanya terbaik di desa itu. Perjalanannya memang agak merepotkan dengan adanya ilalang tinggi yang menghalangi jalan kami. Namun, semua itu terbayar dengan udara segar yang tak kami dapatkan di Metal Bey City.
Terakhir kami melewati kebun bunga matahari yang tak begitu tinggi. Yuki menyibakkan bunga matahari terakhir dan menemukan sebuah pemandangan yang... menakjubkan!
Sebuah sungai kecil dengan airnya yang masih bening, di seberang sungai ada hamparan luas yang terdiri berbagai jenis bunga yang tertata indah sekali. Matahari menyebarkan sinarnya, hingga percikan air sungai tersebut terlihat berkilauan.
"Wah, indahnya!" puji Madoka dengan mata berbinar, menyatukan jari kedua tangannya dan mendekapkannya di dada.
"Kalian bisa ke padang bunga dengan menyebrangi sungai itu. Tenang saja, sungainya dangkal, kok!" terang Yuki dengan tangan terarah ke padang bunga.
"Wah, aku mau ke sana!" Madoka langsung berlari ke depan sungai dan melepaskan wedgesnya.
"Tunggu!" seru Gingka, mengejar Madoka yang sudah berada di tengah hamparan bunga.
"Uwaaaaa~~~! Asyiknya! Ikutan, dong!" Yuu berlari menyusul mereka. "Yuu! Tunggu! Lepas dulu sepatumu!" Kenta mengingatkan sohibnya yang hampir memasukan kakinya yang bersepatu ke dalam sungai. Yuu cengengesan, lalu melepas sepatunya bersama Kenta dan menyebrangi sungai.
"Tsubasa," panggilku pada Tsubasa yang ada di sampingku. "Kau mau ikutan ke sana?"
"Tidak, aku mau memancing saja di sini. Tapi... Yuu..." Tsubasa tampak ragu, "lebih baik aku memancing di seberang saja! Yuu membuatku cemas!" ujarnya, lalu membawa semua alat pancingnya. Kami melewati sungai, tentu saja setelah melepas sepatu kami.
Sesampainya di padang bunga, aku memandangi kegiatan orang-orang di seberang. Hikaru dan Yuki terlihat baru selesai menggelar tikar dan meletakan makanan yang di bawa dari dalam keranjang piknik, serta Kyouya yang sedang tidur-tiduran di atas tikar yang berbeda.
Tsubasa tengah mempersiapkan alat-alat pancingannya, duduk di kursi mini dengan anteng. Lalu kuarahkan pandanganku pada Gingka dan Madoka yang duduk bersama. Kebahagiaan terpancar dari wajah mereka. Gingka memetik sekuntum bunga dan menyematkannya ke helai rambut Madoka. Madoka sempat terkejut oleh perlakuan itu, namun ia terlihat begitu senang.
"Gingka romantis juga, ya..." gumamku. Aku duduk di tempat yang tak jauh dari Tsubasa. Kuambil buku harianku yang sengaja kubawa, dan mulai menulisi salah satu lembar di dalamnya.
xx (tanggal) Juni 20xx
Pagi ini cerah. Kami pergi berlibur menuju suatu desa, tempat tinggal salah satu temannya Gingka yang 'Legend Bladers', Mizusawa Yuki.
Sekarang kami berada di suatu tempat dengan pemandangan yang menakjubkan! Tempat ini memiliki padang bunga yang cantik, kebun bunga matahari yang indah. Kedua tempat itu terpisahkan oleh sungai kecil dengan airnya yang menyegarkan. Udara di sini juga sangat sejuk. Aku sangat betah untuk tinggal di sini. Sayangnya itu hanya sementara, karena setelah itu kami harus kembali lagi ke Metal Bey City.
Aku berhenti menulis, lalu melihat kembali keadaan di sekelilingku. Tsubasa sibuk memancing dan sepertinya sudah mendapat beberapa ikan. Gingka dan Madoka asyik bercengkrama. Kuambil kamera milik Madoka yang tahu-tahu berada di sampingku, menjadikan mereka target foto. Klik! Klik!
Kenta dan Yuu saling berkejaran dengan seru di tengah bunga-bunga bermekaran.
"Tunggu Kenchi!" Yuu membawa salah satu ilalang untuk menggelitiki Kenta.
"Kejar aku, Yuu!" Kenta terus berlari, menghindari Yuu yang pantang menyerah untuk mengejar Kenta. Mereka berdua tertawa lepas, khas anak-anak.
"Kenchiiii~~~!"
Melihat Yuu dan Kenta yang saling berkejaran, membuatku bernostalgia tentang masa kecilku bersama Gingka di Koma vilage. Persis seperti itu, dimana Kenta adalah aku dan Yuu adalah Gingka.
"Tunggu Hyou-chan!"
"Kejar aku, Gin-chan!"
"Hyou-chan!"
Masa kecil yang indah dan tak terlupakan.
Kuambil kembali kamera dan memotret mereka, kemudian aku kembali menulis.
Gingka menyematkan sekuntum bunga untuk Madoka. Sangat romantis. Mereka seperti pasangan yang berbahagia dan aku harap begitu, mengingat Gingka menyukai Madoka. Kupikir mereka adalah pasangan yang sangat serasi.
Yuu dan Kenta berkejaran diantara bunga mengingatkanku pada masa kecilku bersama Gingka di desa kelahiranku tercinta. Melihat mereka, ingin rasanya kembali ke masa lalu.
Kuhentikan tulisanku, memandang kembali sekitar. Aku berdiri, merentangkan tangan dan memejamkan mataku. Merasakan semilir angin segar yang berhembus. Kutarik napasku dan menghembuskannya perlahan.
"Menyenangkan juga kalau bisa tinggal di sini..." aku berbicara sendiri. Desa ini tak kalah bagus dengan Koma vilage.
Perasaanku semakin rileks. Akupun duduk lagi, dan diam-diam aku memandangi Hikaru di seberang sungai.
Hikaru memeluk bunga matahari. Angin berhembus kepadanya, sehingga bawahannya terlihat sedikit berkibar. Hikaru terlihat bagaikan bidadari yang begitu memukau kaum adam sepertiku. Kuraih kamera dan memotret 'bidadari yang turun dari surga'. Setelah mendapatkan foto Hikaru, kupandangi hasil jepretanku itu dengan seulas senyum.
"Hayooo! Lagi lihat apa! Kok senyam-senyum sendiri?" seseorang menepuk bahuku dari belakang. Aku gelagapan, berusaha menyembunyikan kamera. Ketika menengok belakang, tampaklah lelaki dengan rambut jabrik berwarna merah, memandangiku dengan senyam-senyum.
"Gingka!" ujarku, masih terkejut. "Kaget, tahu! Kukira apaan!" protesku kesal.
"Hehehe! Lagi senyam-senyum sendiri! Lagi lihat apaan, sih?" Gingka memandangi kamera yang kusembunyikan di belakangku.
"Mau tahu aja!" jawabku asal.
"Gingka! Kesini!" Madoka melambai-lambaikan tangannya, memanggil Gingka yang masih penasaran dengan apa yang kulihat tadi. Tentu saja Gingka menuruti permintaan Madoka. Beruntung Gingka tak melanjutkan investigasinya padaku!
Kugenggam dan kugerakan penaku, melanjutkan untuk menulis lagi.
Oh, Tuhan. Apakah bidadari itu turun ke Bumi? Apakah bidadari itu menampakkan sosoknya untukku? Baru saja aku memotret Hikaru yang bak bidadari itu. Dia tersenyum, memeluk bunga matahari bagaikan malaikat yang menjaga bunga itu. Tuhan, aku rasa aku tak berlebihan untuk mengatakan bahwa Hikaru terlihat seperti bidadariMu.
Tuhan, aku ingin selalu seperti ini. Merasakan kebahagiaan bersama teman-teman, sahabat dan cinta. Selamanya.
Kututup kedua mataku. Tiba-tiba pikiranku terbawa pada mimpi buruk itu. Mimpi yang menyatakan akan... .
Kematianku.
Dan seluruh rasa sakit yang menderaku.
Dan bayang-bayang akan ketakutanku.
Tuhan, semoga mimpi itu tak terwujud.
Aku tak ingin pergi dari dunia ini.
Jika aku mati, apakah semua ini harus kutinggalkan?
Aku tak mau mati sendiri.
Tuhan, aku tak ingin kebahagiaan ini berhenti.
Biarkan aku bisa terus merasakan kebahagiaan ini.
Tuhan, inilah segala harapku.
Kututup buku harianku. Kini bergantian aku memandangi langit biru dengan awan putih yang berarak.
Hikaru duduk di atas tikar. Gadis itu melipat tangannya, menatap pemandangan di seberangnya. Perkataan Ryuusei-san tempo waktu lalu terngiang-ngiang dalam otaknya.
"Hidup itu harus memilih. Ikutilah alur yang ada pada hatimu, nikmatilah perasaanmu. Aku yakin kau dapat memilih yang terbaik."
Hikaru memandangi sosok pemuda yang tengah memancing. Jantungnya terpacu begitu cepat. Dengan cepat, Hikaru mengalihkan ke arah pemuda yang tengah mendekap sebuah buku. Alhasil, jantungnya tetap berdebar sangat kencang.
Hikaru tengah bimbang diantara dua pilihan dalam hidupnya.
"Lihatlah jalur bintang yang berkilauan. Kau akan mengetahui hal itu, suatu saat nanti. Para bintang akan menuntunmu, mengeluarkanmu dari segala kebimbangan."
Dimana para bintang itu? Batin Hikaru bertanya.
"Lambat laun kau pasti mengerti. Percayalah, kau akan mengerti segala makna yang tersimpan pada cahaya bintang."
Aku tak mengerti apa yang anda maksud, Ryuusei-san... Hikaru terus membatin.
Hikaru mengalami kebimbangan berat yang belum pernah ia alami sebelumnya. Dan tahukah apa yang dia risaukan?
Masalah cinta.
Hikaru bukanlah seorang playgirl. Dia hanya belum mampu memilih diantara dua pilihan akan orang yang dia cintai. Hikaru sendiri tak tahu apa perasaan kedua lelaki yang dia sukai.
Dimanakah Hikaru akan melabuhkan cintanya?
Apakah itu jatuh pada seorang pemuda cool and gentle, master Earth Aquilla?
Atau... .
Pilihannya tepat pada pemuda berkepribadian soft and warm hearted, pemilik Clay Aries?
To Be Continued (to chapter 4)
Nah, sesuai yang diatas tadi, aku hanya membalas untuk review user non-login. Untuk yang login, nanti aku balas lewat PM.
Sayuki Momoko :
Arigatou gozaimasu sudah mereview fanfic ancur seperti ini. He? Bagus? Makasih lho buat pujiannya! *dicakar kucing lewat*
Aku juga mau bikin fanfic baru cuma masih bingung ama idenya... heu~~~... -_-
Fumiya Ninna & Me Gusta :
Arigatou gozaimasu buat review fanfic yang ancur ini... makasih buat pujiannya... ^_^
Ok, demikian balasan review untuk chapter ini. Terima kasih banyak buat yang udah review, nge-fave cerita ini, dan nge-fave author ngawur ini...
Pokoknya buat yang login, tunggu saja PM dariku.
Jangan lupa buat kritik, saran dan pujian *ngarep!* di REVIEW! DON'T FLAME! SeeU di chapter berikutnya~~~! ^_^
