Title : Reincarnation

.

Genre :

Romance, Drama.

.

Main Cast :

Choi Junhong

Jung Daehyun

.

Other Cast :

Oh Sehun

B.A.P's Members

.

.

.

STAR

.

.

.

Junhong memandang langit malam kota Seoul dibalik jendela kamar miliknya. Ia tersenyum tipis saat matanya menangkap taburan bintang yang sangat indah diatas sana. Cuaca malam ini sangat bagus dan cocok untuk berjalan-jalan. Sayangnya ia sedang tidak dalam keadaan mood untuk pergi keluar dan berjalan-jalan.

Matanya terpejam beberapa saat dan kembali ia buka. Kembali, kilasan bayangan-bayangan yang entah datang dari mana berkeliaran didalam fikirannya. Entah mengapa sekarang ia sudah terbiasa dengan semua bayangan itu.

"Aku adalah dirimu dikehidupan sebelumnya, Junhong-ah"

"Diriku dikehidupan sebelumnya?" Junhong bergumam pelan. ia menggigit bibir bawahnya pelan sembari berfikir. Jika memang sosok gadis yang ada dibayangannya itu adalah dirinya dikehidupan sebelumnya, apa mungkin renkarnasi itu benar-benar ada?

Junhong menggeleng. Berusaha menepis pemikiran konyol yang tadi terlintas diotaknya. Renkarnasi? Junhong rasa itu hanyalah bualan orang bodoh yang tidak punya otak. Mana mungkin orang yang sudah meninggal bisa terlahir kembali? Jika memang benar, apa kakek dan neneknya juga terlahir kembali dan nyatanya lebih muda dari dirinya?

Tidak mungkin..

Otaknya yang pintar dan selalu berfikir rasional ini menolak dengan keras tahayul seperti itu.

"Aku terlahir kembali.. walaupun fisik kita berbeda dan kau tidak mengingat kejadian dirimu dikehidupan sebelumnya.. satu hal yang harus kau ketahui..."

TOK TOK TOK

"Junhong-ah, cepat keluar dan segera makan malam" Suara nyonya Choi memecah keheningan didalam kamar Junhong. Wanita cantik itu menyembulkan kepalanya dan tersenyum kearah anak kesayangannya. "Cepat keluar eoh!"

Junhong mengangguk dan balas tersenyum. "Ne eomma! Sebentar lagi aku akan keluar"

Setelah mendapatkan jawaban dari anaknya, Nyonya Choi kembali ke meja makan menemui anak sulungnya dan sang suami, meninggalkan sosok Junhong yang kini kembali memandang langit-langit kota Seoul.

"... Perasaanmu terhadapnya tidak pernah berubah..."

Perasaan ku terhadapnya? Siapa? Apakah yang dimaksud adalah Jung Daehyun?

Satu tangan Junhong terulur menyentuh dadanya yang berdetak tidak beraturan. Ia bisa merasakannya.. ya.. ia bisa merasakan ada hal yang berbeda jika dirinya berdekatan dengan gurunya itu..

"... Karna kau sangat mencintainya"

Pandangan mata Junhong mendadak kosong. Jantungnya semakin berdetak tidak karuan seakan-akan sebentar lagi jantungnya itu akan melompat keluar. "Aku.. mencintainya?"

.

~Rencarnation~

.

Daehyun menatap sendu langit kota Seoul. Ia tersenyum kecil saat melihat ada satu bintang yang sejak tadi menarik perhatiannya. Walaupun bintang itu terlihat sendirian dan kesepian, tapi ia merasa ada hal yang spesial didalam bintang itu.

"Wuaahh! Kau memberikanku sebuah teleskop? Kau serius Jekyung-ah?!" Daehyun menatap tidak percaya pada alat yang memang sudah lama ingin ia miliki. "Kau menabung?"

Jekyung menepuk dadanya bangga dan mengangguk. "Tentu saja! aku ini pandai sekali menabung!" Ucapnya.

"Berapa lama kau menabung?benda ini kan sangat mahal" Daehyun menyipitkan matanya kearah Jekyung. "Kau tidak mencuri uang kan?"

"YAK! Enak saja!"

Daehyun tertawa sembari menghindari lemparan sandal dari Jekyung. Sedangkan Jekyung masih sibuk mengomel dan menyumpahi Daehyun dengan berbagai macam sumpah serapah. Kenapa temannya ini tidak mau menghargai pemberiannya sih? Ckck.

"Aduh.."

Gerakan Daehyun berhenti saat ia melihat Jekyung mengaduh kesakitan sambil mengelus kakinya. "Jekyung-ah kau baik-baik saja?" Tanyanya khawatir. Dengan cepat Daehun segera menghampiri Jekyung. "Kau kenapa?"

Jekyung tertunduk dan menggeleng pelan. "Aku baik-baik saja"

"Aku tahu kau sedang berbohong!" Daehyun mulai menggeram kesal. "Ada apa dengan kakimu?! Apa kau benar-benar mencuri dan kakimu terkilir saat sedang berlari?"

"YAK!"

"Ayo naik!"

Jekyung mengerjabkan matanya bingung. "Naik?"

"Tentu saja! ayo cepat naik kepunggungku! Lebih baik kita pulang dan segera mengobati kakimu" Daehyun menoleh kebelakang dan ia mengernyit saat mendapati Jekyung malah menggeleng. "Kenapa?"

"Aku mau melihat bintang! Kita sudah jauh-jauh keatas bukit dan aku tidak mau membuat perjuanganku sia-sia!"

Dengan langkah terseok Jekyung mulai menghampiri teleskop yang sudah berdiri kokoh dan siap untuk digunakan. Ia mengernyit bingung. "Bagaimana cara menggunakannya?" gumam Jekyung.

Daehyun terkekeh dan menghampiri Jekyung. "Caranya seperti ini.." Daehyun mulai menjelaskan bagaimana cara menggunakan teleskop pada Jekyung. Walaupun ia baru pertama kali memegang teleskop, tapi cara-cara yang ia baca di buku lumayan membantunya. "Bagaimana?"

Jekyung tersenyum lebar. "Indah!"

"Kau menyukai bintang yang mana?"

"Yang itu!" Jekyung menunjukkannya pada Daehyun, ia kembali tersenyum saat melihat raut bingung diwajah Daehyun. "Walaupun dia terlihat sendirian dan kesepian, tapi aku bisa merasakan ada hal yang spesial dari bintang itu.. aku merasa.. bintang itu seperti diriku"

"Dirimu?"

"Ya.." Diam sebentar. "Bintang itu hanya mempunyai satu teman didekatnya.. kau lihat bintang yang sangat terang disampingnya itu? Bintang itu seperti dirimu"

"..."

"Walaupun hanya memiliki satu teman.. tapi itu sudah cukup untuk menemani malam-malamnya.. begitupun dengan aku, aku tidak butuh teman yang lain karna kau saja sudah cukup bagiku.. terimakasih"

Daehyun tertegun. ia terharu? Tentu saja! ia merasa hari ulang tahun diumurnya yang ke 14 ini adalah yang paling spesial dan ia berjanji tidak akan pernah melupakan hari ini.

Daehyun mengusap kasar air matanya yang sempat mengalir keluar. Dengan napas yang masih memburu Daehyun segera berjalan menuju tempat tidur dan merebahkan tubuhnya. Sungguh, ingatannya tentang Jekyung selalu saja membuat emosinya jadi tidak stabil.

Matanya terpejam untuk beberapa saat dan kembali terbuka. Daehyun melirik kearah sudut ruangan dimana teleskop kesayangannya berada. Ia tersenyum miris. Daehyun merindukan Jekyung. Sosok yang sangat berharga baginya.. Sosok yang sampai saat ini masih sangat ia cintai..

"Jekyung..."

.

~Reincarnation~

.

"Wajahmu menyeramkan!"

Junhong menguap dan melirik Jongup dengan malas. "Bilang saja kalau kau iri dengan ketampananku ini pendek!"

" Ais! Terserah apa katamu!" Cibir Jongup. " Apa kau tidak tidur semalaman? Kantung matamu itu sungguh mengganggu dan wajahmu juga sangat pucat. kau mau ku antar pulang?" Jongup menatap wajah pucat Junhong khawatir.

"Tidak usah, aku sudah besar dan bisa pulang sendiri"

"Kau yakin?"

"Hm" Junhong mengangguk dan mendorong tubuh Jongup agar menjauh darinya. "Pulanglah!"

"Kau tidak akan tersesat kan Choi Junhong?"

"Ais! Moon Jongup!"

Dengan kecepatan kilat Jongup segera melesat pergi menjauhi sosok Junhong. Hey tentu saja ia tidak mau mengalami hal mengerikan kalau dirinya masih saja betah disana. Ingatkan dia seberapa mengerikannya Choi Junhong.

Seperginya Jongup ia segera melangkahkan kakinya pelan menyusuri jalan menuju rumahnya. Matanya menerawang, sejak semalam ia tidak bisa tidur sama sekali. Fikirannya selalu saja melayang memikirkan sosok gurunya yang seharian ini belum ia lihat sama sekali.

Tunggu..

Sejak kapan dirinya harus melihat gurunya yang menyebalkan itu? Ckck Junhong rasa otaknya benar-benar rusak sekarang.

"Hiks eommaaa"

Pandangan Junhong teralih pada tubuh anak kecil yang sekarang tengah meringkuk ditengah taman. Ia menyatukan kedua alisnya saat melihat bahu anak itu bergetar dan jangan lupakan isakan-isakan kecil yang keluar dari bibir mungilnya. Apa anak itu tersesat?

Tanpa sadar kini Junhong sudah berada dihadapan bocah kecil itu. Ia menyamakan tingginya dengan bocah kecil yang kini tengah menatapnya. "Hyung siapa? Hiks.. apa hyung tahu eomma dimana?"

Junhong tersenyum. Tangannya terulur untuk mengelus pucuk kepala bocah kecil itu. "Maaf, hyung tidak tahu dimana eommamu.. tapi hyung bisa membantumu menemukannya" Ucapnya selembut mungkin. "Siapa namamu?"

Bocah kecil itu sekilas tampak ragu untuk menyebutkan namanya, dan Junhong memaklumi hal itu. Tangannya tak henti mengelus kepala bocah itu dan senyumannya masih setia terlukis diwajah manisnya.

"Jehyun.. Jehyun imnida" Bocah kecil yang bernama Daehyun itu menunduk sekilas. "Jehyun tidak bisa menemukan eomma, hiks Jehyun takut.."

"Sstt.. Tenanglah dulu. Hyung kan sudah bilang akan membantumu menemukan eommamu, Jadi sekarang berdirilah, kita cari bersama-sama" Junhong berdiri dan mengulurkan tangannya kearah jehyun.

Jehyun menggeleng dan ia malah semakin terisak. "Bagaimana kalau eomma ternyata membuang Jehyun dan tidak mau bertemu Jehyun lagi? huweeee eommaaa"

Mata Junhong terbelalak saat melihat bocah dihadapannya ini malah semakin menangis. Ia bergerak gelisah saat orang-orang yang melintas melihat dirinya dengan pandangan bertanya.

Saat Junhong masih sibuk dengan fikirannya sendiri. sosok pria muncul dan langsung memeluk bocah kecil itu. "Tenanglah dulu, hyung juga akan membantumu!"

"Eh?"

"Hyung juga akan membantu Jehyun?" Jehyun mengerjab imut.

"Iya! Jadi berhenti menangis dan jadilah laki-laki yang kuat. Kau tidak boleh cengeng mengerti?"

Jehyun berhenti menangis dan menghapus kasar air matanya yang masih tersisa. "Jehyun tidak cengeng!"

"Seongsaengnim?" Junhong menatap Daehyun bingung. Sedang yang ditatap hanya mengendikkan bahu masa bodo.

"Ayo naik kepunggungku! Kita akan mulai mencari" Daehyun menyiapkan punggungnya, ia tersenyum saat merasakan Jehyun mulai naik dan memeluk lehernya. Kakinya mulai melangkah pergi, namun saat baru beberapa langkah ia menghentikan langkahnya dan menatap sang murid.

"Sampai kapan kau mau berdiri seperti orang bodoh disana?" Ucapnya datar namun menusuk.

Junhong mengerucutkan bibirnya dan mulai mensejajarkan jalannya dengan Daehyun. "Jehyun-ah, seharusnya kau memanggil pria ini ahjussi bukannya hyung!"

Daehyun melirik tajam Junhong. "Setidaknya wajahku masih tetap muda, bukan seperti dirimu yang terlihat boros seperti itu"

"Mwo?! Jadi kau bilang kalau wajahku ini tua?" Junhong balas menatap tajam Daehyun. "Ahjussi menyebalkan!"

"Bocah tua"

"Ahjussi jelek!"

"Bocah bodoh"

"Kau!"

"Hyungdeul kalian terlihat serasi sekali~" Jehyun terkekeh pelan. Ia benar-benar merasa terhibur melihat kedua orang ini terus saja bertengkar.

Mendengar hal itu Junhong sibuk mengumpat, sedangkan Daehyun hanya bersikap tenang. "Sebutkan ciri-ciri eommamu Jehyun.."

Jehyun tersenyum dan mulai menyebutkan ciri-ciri sang ibu..

.

.

.

"Sebenarnya eommamu itu pergi kemana sih?" Junhong menghapus keringat yang membasahi dahinya. Sungguh, mencari ibu anak itu sama saja seperti mencari jarum didalam tumpukan jerami!

"Jehyun tidak tahu" Jehyun ikut menghapus peluhnya. "Kaki Jehyun pegallll sekali"

Junhong mendelik kearah Jehyun. "Kakimu itu pendek jadinya kau cepat kelelahan, makanlah yang banyak agar cepat tinggi seperti hyung!"

"Jehyun tidak mau setinggi hyung!" Jehyun menggelengkan kepalanya.

"Kenapa?" Tanya Junhong bingung.

Jehyun terlihat berfikir sebentar. Setelah mendapatkan jawaban yang pas ia mulai berkata."Karna tinggi hyung terlihat seperti monster!"

"MWO?!"

"Hyung tiang hwee~"

Pandangan mata Daehyun tidak pernah lepas dari kedua sosok yang masih asik bertengkar dihadapannya. Sudut bibirnya sedikit tertarik membuat wajahnya yang tampan semakin bertambah tampan.

Ia merasa bahagia. Entahlah.. melihat Junhong yang tengah berbicara–atau lebih tepatnya bertengkar– dengan Jehyun membuat hatinya terasa menghangat. Di dalam fikirannya kini, ia seperti tengah bersantai dengan keluarga kecilnya.

Daehyun terkekeh dan menggeleng. Sejak kapan otaknya bisa berfikiran seperti itu?

"Apa kau kerasukan setan seongsaengnim?"

Daehyun tersadar dari dunianya sendiri dan buru-buru memasang wajah sok dinginnya. Membuat Junhong mencibir saat melihat hal itu. "Kalian sudah selesai istirahatnya? Sebaiknya kita kembali mencari karna hari sudah hampir malam"

Jehyun memasang wajah imutnya kearah Daehyun. "Hyung aku mau eskrim~"

Daehyun mengerjab. "Baiklah.. Tunggu disini sebentar, aku akan membelikannya untukmu" Ia berdiri namun terhenti saat bajunya sedikit ditarik oleh seseorang. "Ap– "

Kata-kata Daehyun berhenti saat matanya menangkap pemandangan tidak biasa. Choi Junhong kini tengah mengeluarkan wajah imutnya. Dan oh lihat, mata itu seakan tengah memohon kepadanya. "Belikan aku eskrim juga ya Daehyunnie hyung?"

Daehyun berusaha menenangkan dirinya. Ia mengangguk kaku dan setelah itu segera melesat pergi untuk membeli eskrim.

Setelah sosok Daehyun menghilang dari pandangannya ia segera melepaskan tawanya yang sejak tadi ia tahan. "Astaga lihat wajahnya itu hahaha aduh menggelikan sekali"

Jehyun terdiam sambil menggelengkan kepalanya. "Dasar bocah" Ucapnya sok dewasa, melupakan kenyataan siapakah bocah yang sebenarnya disana.

.

~Reincarnation~

.

"Haahhh~ benar-benar melelahkan, untung saja Jehyun sudah bertemu dengan ibunya"

Daehyun melirik sekilas kearah sampingnya. Ia tetap melanjutkan jalannya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.

Suasana kembali hening. Mereka berdua berjalan beriringan tanpa berbicara sedikitpun. Hal itu membuat Junhong menjadi sangat bosan. Setidaknya ia butuh teman mengobrol saat ini.

"Seongsaengnim?"

"Hm.."

"Apa seongsaengnim suka melihat bintang?"

Daehyun tidak menyahut. Ia menatap Junhong yang kini tengah memandang langit.

"Wuaahh~ Malam ini bintangnya sangat banyak!" Junhong berucap senang, ia terus memandangi langit malam yang sangat indah hari ini.

Tatapan Daehyun mulai teralihkan. Ia ikut menatap langit.

Junhong berhenti berjalan. "Seongsaengnim suka bintang yang mana?" Tanyanya.

Langkah kaki Daehyun terhenti. "Yang paling terang" ucapnya asal.

"Kalau aku suka bintang yang menyendiri itu~" Junhong tersenyum sambil menunjuk bintang yang ia maksud. Tidak menyadari tatapan penuh arti yang Daehyun layangkan padanya.

"Kenapa?"

Junhong menunjukkan senyuman manisnya. Ia menatap Daehyun dengan pandangan lembut. "Karena aku merasa bintang itu seperti diriku.. Bintang itu hanya dekat dengan satu bintang yang paling terang, dan kurasa itu sudah cukup baginya–"

Daehyun tertegun. Pandangan matanya mendadak tidak jelas. Ia pernah mendengar kata-kata seperti itu..

"Aku berharap bisa menjadi bintang itu, punya satu orang yang benar-benar bisa menemani hari-hariku.." Junhong menghentikan kata-katanya dan buru-buru melanjutkan langkahnya. Tidak memperdulikan Daehyun yang tertinggal dibelakang sana. Ia hanya ingin cepat sampai rumah dan menenangkan hatinya.

Junhong semakin mempercepat langkah kakinyanya dan menangis dalam diam.

Sedangkan Daehyun masih berdiri disana. Dengan pandangan yang semakin mengabur karna air mulai menumpuk dipelupuk matanya.

TES

Sebutir kristal bening mulai menetes turun membasahi pipinya.

"Sebenarnya dia itu siapa.."

.

.

.

TBC

.

.

.

BIG THANKS FOR

Xldeer, Kim Rae Sun, daelogvrl, Cold City Girl, Pink Bunny, Guest, jimae407203, Park Jin Hye, Daehyunniebaby, daejun, Guest, RaHae AngElFishy Dae, DAELOves B.A.P, Daelo Shipper, Guest, kimparkshi1, triian28, ayu51198, december28

HOHOHO.. Akhirnya saya kembali setelah hiatus sekian lama~ adakah yang menunggu ff ini? Sebenarnya selain saya sibuk sekolah, saya juga tidak mendapat ide untuk melanjutkan ff ini XD Haahh.. Tapi akhirnya chapter ini selesai juga kkk.. Saya kembali dengan beberapa ff baru, ada DaeLo ada juga HunHan ~ silahkan dibaca dan jangan lupa tinggalkan jejak :)

Untuk yang penasaran kapan Sehun muncul di ff ini, saya akan memberi bocoran sedikit. Sehun akan muncul sebagai guru disekolah Junhong dan hubungan mereka berdua ada kaitannya. Mulai chapter depan kemungkinan akan diulas masa lalu keluarga Jekyung(Junhong). Jadi bagi yang penasaran silahkan tinggalkan jejak wkwk kalau review tidak memuaskan saya akan update lama /plak/ bercanda ~

Akhir kata..

Review Please? ^^