Ya-Ha!
Wah…senangnya bisa ngapdet lagi…makasih ya yang sudah mbaca dan juga yang sudah ninggalin review di chappie sebelumnya! Ada: Vhy Otome Saoz, Cielheart Ie' chan, Maido Akasuna Renarai, Salma no Ghe-Force sudah kubalas lewat PM yah!
Terus yang ngga log in:
ShiroNeko: cocok kan? Cocok kan? Hehe. Ksatrianya…liat aja nanti yah… Oh iya, di cerita ini memang nama beberapa tokoh di-jadul-kan. Entahlah, aku merasa megumi lebih jadul daripada megu. Terima kasih!
Okay! Mari kita lanjutkan dulu cerita di kerajaan kemarin! Penasihat Kerajaan Dataaang!
An Eyeshield 21 Fanfiction
The Montarou Tales
Written by: undine-yaha
Story by: Nadia Akuma & undine-yaha
Disclaimer: Riichiro Inagaki and Murata Yuusuke
Warning: abal, gaje, OOC!
"Panggilkan Penasihat Taka," perintah Yamato, "Aku punya ide bagus…"
Wakana segera melaksanakan perintah kaisar. Tak lama datanglah seorang pria berambut pirang panjang dengan ekspresi kalem. Sebuah buku ia bawa di tangan kanannya.
"Penasihat Kerajaan dataaaang!" ujar para dayang yang berada di depan pintu.
"Silakan masuk, Penasihat Taka," ujar Yamato. Taka mengangguk dan mengambil tempat duduk di depan kaisar dan permaisuri.
"Ada apakah Yang Mulia memanggil saya kemari?" tanya Taka.
"Begini…aku dan permaisuri baru saja pulang setelah berkeliling kota. Kami menemukan ada pedagang kimono tradisional yang hidup tak berkecukupan...dan kami ingin melakukan sesuatu untuk itu," jelas Yamato.
"Saya siap mendengarkan ide Anda, Yang Mulia," ujar Taka sopan.
"Begini. Aku ingin mengadakan lomba kimono tradisional, dan nanti yang menjadi juara, kimono buatannya akan dipamerkan ke seluruh kota dan dipakai oleh keluarga kerajaan. Akan ada hadiah uang, tapi bagi peserta yang sudah ikut juga akan mendapatkan modal tambahan untuk mengembangkan usaha mereka. Bagaimana?" tanya Yamato.
"Ide yang sangat cemerlang, Yang Mulia. Saya mungkin bisa menyarankan untuk mengelompokkan kimono yang akan dilombakan dalam beberapa kategori supaya lebih mudah dalam melakukan penilaian nantinya. Apakah Anda setuju?" tanya Taka.
"Kurasa itu bagus, Penasihat," Karin berujar. Yamato mengangguk semangat.
"Baiklah, sekarang mari kita diskusikan kategori apa sajakah yang akan dilombakan," ujarnya.
-XxX-
Keesokan paginya, Kuroi Sakura
Suasana terlihat sepi, para geisha yang tinggal di dalam asrama belum ada yang beraktifitas di luar. Hawa pagi ini sangat sejuk, dengan sinar mentari yang mulai menghangat dan kicau burung-burung di atas pepohonan, hingga…
DUAR!
"Aku ingin bertemu dengan Anezaki Mamori!" sentak seorang pria tinggi berambut spike pirang dengan kimono hitam-merah. Sebuah senjata api terlihat mengkilat dalam genggamannya.
"A-Anda ada perlu apa Tuan?" tanya ibu-ibu penjaga asrama dengan gemetaran.
"Suruh saja dia keluar," jawab Hiruma lebih lunak tapi cengirannya menyeramkan.
"B-baik! Saya akan panggilkan dia!" ibu penjaga asrama langsung berlari ke dalam untuk memanggil Mamori.
Tak lama Mamori datang dengan wajah segar tanpa riasan, serta yukata untuk tidur berwarna putih.
Hiruma berusaha memasang wajah sedatar dan secuek mungkin padahal ia terpesona sekali.
"Mou, Youichi-kun! Sudah kuduga kau yang bikin ribut tadi!" omel Mamori.
"Kau sedang nganggur 'kan? Kalau begitu ikut aku," ujar (perintah) Hiruma cepat tanpa mempedulikan omelan Mamori.
"Hah?" Mamori tercengang, "Ke mana?"
"Nanti kau juga tahu. Sekarang ganti baju dengan yang lebih pantas," kata Hiruma tegas sambil berbalik badan, tanda tak mau dibantah lagi.
Mamori menghela nafas heran dan akhirnya melaksanakan perintah Hiruma.
-XxX-
Semua mata memandang ketika setan berwajah tampan berjalan beriringan dengan malaikat berparas cantik. Geta milik Mamori beradu cepat dengan tanah karena Hiruma jalannya cepat sekali.
"Kita mau ke mana?" tanya Mamori.
"Menagih pajak," jawab Hiruma santai.
"Ya ampun," Mamori menepuk dahi, "Sampai sekarang aku heran dengan profesimu. Kau ini polisi tapi suka menarik pajak!"
"Kekeke!" Hiruma terkekeh, "Terserah aku!"
Mereka kembali berjalan melewati pemukiman yang mulai ramai. Seorang pengantar surat kabar melintas dengan sepeda.
"Oi, tukang koran sialan!" panggil Hiruma. Tukang koran itu berhenti. Wajahnya plain dengan senyum yang tak kalah plain.
"Selamat pagi, Polisi Hiruma," sapanya ramah, "Ada yang bisa kubantu?"
"Youichi-kun! Siapa dia?" tanya Mamori penasaran.
"Dia Tetsuo Ishimaru, tukang koran sekaligus antek-antekku," jawab Hiruma. Ia lalu menoleh ke arah Ishimaru, "Apa dua bersaudara itu—Satake dan Yamaoka, ada di rumahnya?"
"A-ada!" jawab Ishimaru, "Langsung saja ke sana!"
Hiruma terkekeh dan mempersilakan Ishimaru pergi. Mamori mengikuti langkahnya ke sebuah rumah sederhana yang tak jauh dari tempat tadi.
DUOR!
"KELUAR KALIAN!" bentak Hiruma. Dua orang pemuda langsung keluar dari dalam rumah itu.
"G-gyaaa! Polisi Hiruma!" pemuda berambut pendek berwarna cokelat berteriak panik.
"Bayar pajak kalian bulan lalu dan bulan ini. Aku sudah cukup memberi kelonggaran…," kata Hiruma tegas.
Tapi Satake dan Yamaoka malah memperhatikan gadis yang ada di samping Hiruma.
"Wah…mbak cantik banget…namanya siapaaaa?" tanya Satake genit. Yamaoka juga ikutan,"Kenalan dooong…"
Mamori melangkah mundur karena jijay bajaj dengan tingkah lebay mereka.
DARDERDORDARDERDOR!
"TUKANG NUNGGAK PAJAK SIALAN! BAYAR PAJAK KALIAN ATAU KUBUNUH!" Hiruma berteriak-teriak marah.
"HIIIIIIIIIIIIY!"
Satake dan Yamaoka langsung mengeluarkan semua uang yang tadinya mereka simpan buat bersenang-senang. Hiruma terkekeh puas.
"Bagus, bagus…," ujarnya, "Kalian bisa hidup tenang untuk sementara waktu. Tapi ingat…"
Hiruma nyengir pada Mamori dan merangkul pinggangnya. Mamori blushing.
"Kalian akan hidup sengsara kalau berani mengganggu dia. Dia milikku, jadi jangan macam-macam," ujar Hiruma tegas.
Satake dan Yamaoka jawdrop mendengarnya.
"Ya-ha!"
Hiruma mengajak Mamori pergi dari sana. Mamori merasa bingung sekaligus senang.
"Kau ini…galak sekali, Youichi," omelnya.
"Biarin," jawab Hiruma seadanya.
"L-lalu…seenaknya saja kau bilang aku milikmu! Memangnya aku barang?" protes Mamori.
"Kekeke! Apa kau tidak mau jadi milikku, geisha sialan?" tanya Hiruma dengan senyum paling jahil (dan juga ganteng) yang dimilikinya.
Wajah Mamori memerah tidak karuan,"P-pertanyaan macam apa itu?"
"Kekeke!"
Mereka berdua melewati deretan pedagang pasar yang mulai berjualan.
"TAIYAKI SMAAAAAART!" Kotaro berteriak-teriak, "Taiyaki smart! Beli tiga bonus sisir!"
"Wah…," Mamori berbinar melihat Taiyaki itu. Hiruma mengangkat alis.
"Kau mau makanan manis sialan itu?" tanyanya.
Mamori tidak menjawab, tapi matanya yang biru itu tidak berhenti menatap taiyaki hangat yang baru matang.
"Nona manis! Mau beli taiyaki rasa apa?" tanya Julie ramah. Kotaro nyisir-nyisir.
Hiruma berdecak kesal. Akhirnya ia bertanya,"Kau mau beli rasa apa?"
Mamori terkejut,"Youichi? Kau…?"
"Cepetan!" sentak Hiruma.
"B-baik!" Mamori melihat taiyaki-taiyaki itu sekali lagi, "Aku mau…rasa cokelat!"
"Beli taiyaki sialan rasa cokelat sialan lima buah!" perintah Hiruma.
"Baik!" jawab Julie.
"Smart sekali!" celetuk Kotaro. Hiruma lalu menatapnya tajam.
"Smart?" ia nyengir sinis, "Kau selalu ngomong smart. Memangnya, kau tahu apa itu smart?"
"Tentu saja!" jawab Kotaro, "Smart itu artinya pintar!"
"Oh? Kau yakin?" pancing Hiruma.
Kotaro jadi gugup,"T-tentu saja! Pintar bisa, cerdas juga bisa!"
"Benarkah?" Hiruma memperlihatkan taring-taringnya, "Kau yakin itu artinya?"
Aura Hiruma begitu mengintimidasi sampai Kotaro keringat dingin.
"Lalu, atas dasar apa kau terus mengatakan kata itu? Artinya saja kau belum tahu pasti. Lalu apa itu yang bisa dibilang smart? Kau bilang smart itu untuk siapa? Apa kau mau memuji dirimu sendiri? Memangnya tahu darimana kalau kau itu smart?" ujar Hiruma panjang lebar.
"Tentu saja aku smart, karena aku pintar dan aku orang yang selalu berusaha keras! Kau tidak lihat rambutku ini? Keren banget 'kan? Itulah mengapa aku smart! Dan orang yang membeli taiyakiku juga orang yang smart! Dan sisirku ini juga smart!" balas Kotaro.
"Lagi-lagi seenaknya kaubilang smart! Smart bukan hanya smart yang berarti pintar tapi juga merupakan bagian dari sistem monitoring komputer yang kepanjangannya adalah Self-Monitoring, Analysis, and Reporting Technology yang berfungsi mendeteksi dan melaporkan jika ada keganjilan pada saat pengoperasian hardware untuk mengantisipasi terjadinya kerusakan pada komputer yang mana blablablablablablabla…"
Kotaro jawdrop mendengar omongan Hiruma yang sama sekali tidak ia mengerti.
"Orang ini…," gumamnya, "Terlalu smart…"
Hampir saja ia pingsan dengan mulut berbusa.
"Ini taiyakinya. Terima kasih!" ujar Julie sambil memberikan taiyaki pada Mamori.
"Douitashimashite!" ujar Mamori ramah.
"Ya sudah, ayo kita pergi," ajak Hiruma. Mamori mengangguk.
"Kotaro?" Julie tercengang melihat Kotaro yang masih memasang wajah tolol, "Kotaro? Kau kenapa?"
-XxX-
Taki's Dango
Monta's POV
Hari hampir menjelang siang. Kurasa sudah saatnya pulang kembali ke rumah. Semua barang bawaanku sudah rapi dan siap dibawa. Sena memang berjanji membantuku untuk membuat kimono, makanya ia akan ikut denganku pulang ke rumah keluargaku. Tapi, ada satu masalah…
"Pulang?" Suzuna terkaget-kaget, "Kalian sudah mau pulang?"
"Iya," jawabku, "Terima kasih atas bantuannya selama ini, ya…"
Suzuna lalu menatap Sena dengan tatapan sedih sekali. Sena juga menatapnya dengan rasa bersalah.
Oh, astaga.
"Sena…jangan pergi…," pinta Suzuna manja.
"Maaf, tapi tugasku untuk mengantar pesan ke Kuroi Sakura sudah selesai, jadi, aku harus—"
Jawaban Sena terhenti karena Suzuna memeluknya dengan mata berkaca-kaca.
"Sena jangan pergi…kau di sini saja…," ujarnya sedih, lalu berbalik dan melihatku.
"Apa?" tanyaku heran.
"Monmon, kau pulanglah! Sena akan tinggal di sini…," ujarnya santai.
"MUKYA?"
Yang bener aje nih cewe? Masa' gua diusir! Dan lagi logat gua kok jadi Betawi begini?
"Suzuna…kau tidak boleh seperti itu," tegur Sena, "Aku harus pergi dengan Monta…"
Tapi Sena jadi salting melihat tatapan Suzuna yang puppy eyes MAX…
"Aa…Konnichiwa!"
Adegan drama 'Kepergian Sena' terpaksa terhenti karena ada yang datang. Seseorang bertubuh tinggi dan berambut hitam. Agak botak, sepertinya. Atau dahinya kelebaran sampai memantulkan sinar matahari…
"A-ha-haaa! Monsieur Yukimitsuuuu!" Taki berputar menyapanya.
"Hai, Taki!" pria yang dipanggil Yukimitsu itu menyapa balik.
"Yukimicchi! Ada perlu apa?" tanya Suzuna. Aku dan Sena mengikuti.
"Aku ingin menyampaikan kabar bagus!" katanya, "Maaf, kau dari keluarga perajin kimono tradisional Raimon, bukan?"
Mukya? Dia kenal aku?
…
Aku terkenal, MAX!
"Iya, benar! Ada apa Yukimitsu-san?" tanyaku.
"Kerajaan akan mengadakan kompetisi kimono!" ujar Yuki semangat.
Apa?
"BENERAN, MAX?" aku tercengang. B-benarkah ini kenyataan?
"Tentu saja!" Suzuna mengiyakan, "Yukimicchi 'kan temennya Penasihat Kerajaan Taka-jou!"
"HIE? Sugoi…," puji Sena.
"Ah, kami hanya sering ke perpustakaan bersama," jawab Yuki merendah, "Lalu soal kompetisi itu, akan diumumkan satu jam lagi! Ayo kita ke kota untuk melihat pengumumannya secara langsung! Bagaimana?"
"A-ha-haaaaaaaaaa! Tentuuuu!" Taki langsung berputar dengan semangat.
"Jadi, Monmon," Suzuna berbinar-binar, "Kau tidak jadi pulang sekarang, 'kan?"
Aku menghela nafas. Tapi, aku juga senang.
"Iya. Ayo, kita ke kota sekarang!" ajakku.
"YA~!" Suzuna melompat-lompat saking senangnya. Kulihat Sena juga senang.
-XxX-
Normal POV
Di depan kerajaan telah berdiri sebuah panggung megah tempat diadakannya pengumuman. Para pengawal telah bersiap untuk mengamankan situasi karena warga yang datang makin ramai dan memadati sekitar panggung.
"Pengawal Shin!"
Seorang pengawal berbadan tegap dan tinggi serta berambut hitam pendek menoleh. Wajahnya serius sekali.
"Semua bilang kalau kau yang akan memimpin pasukan pengawal yang bertugas hari ini," gadis yang memanggil Shin, Wakana, tersenyum manis.
"Begitulah," jawab Shin singkat.
"Ini kubawakan minuman kesehatan, supaya kau semangat!" ujar Wakana sambil menyerahkan secangkir minuman yang terlihat seperti teh.
"Ng. Terima kasih," Shin mengangguk dan mengambil cangkir itu dari Wakana.
"Ini khusus kubuatkan untukmu saja, jangan bilang-bilang sama pengawal yang lain ya!" kata Wakana riang dengan pipi bersemu merah.
"Tentu," jawab Shin sambil tersenyum tipis. Tipiiiiiiiiiiiiiiiiis!
Wakana tertawa senang lalu berlalu dari sana. Sudah ada tugas yang harus dikerjakannya.
"Hari ini bakalan sibuuuk!"
Seorang pengawal rekan Shin yang bertampang sangar dan dengan rantai yang melilit badannya—mungkin aksesoris, datang.
"Ya'kan Shin?" sentaknya, "Seharusnya kau pakai senjata!"
Shin hanya diam sambil menikmati minuman dari Wakana.
"Lihat nih, tombakku! Keren 'kan?" kata teman Shin itu.
"Pengawal Ikari Daigo!"
Terlihat pria tua berambut putih yang wajahnya tak kalah serius dari Shin.
"Pak Shogun!" Ikari menghampiri.
"Ikut aku sebentar. Tinggalkan tombak itu di sini," ujar Shogun.
"Baiiiik!" jawab Ikari, "Shin! Aku titip tombakku ya!"
Ikari dan Shogun pergi. Shin menatap tombak Ikari di tangannya dengan wajah datar.
"Tombak ini…"
KREK!
-XxX-
"Wah…ramai sekali…!"
Mamori melihat sekeliling kerajaan dengan takjub. Hiruma berjalan cuek disampingnya.
"Kerajaan akan mengumumkan sesuatu," ujar Hiruma.
"Ooh, begituu….," Mamori mengangguk-angguk.
Setelah itu suasana sunyi senyap. Para pengawal berseru,"Yang Mulia Kaisar dan Yang Mulia Permaisuri tibaaa!"
Yamato dan Karin berdampingan menaiki panggung untuk memberikan pengumuman kompetisi kimono yang diadakan oleh kerajaan.
"Shin! Shiiiin!" Ikari berlari cepat ke arah Shin yang menjaga di bawah panggung bagian depan, "Aku akan bertugas! Mana tombakku?"
Shin menoleh dan memberikan benda yang dimaksud.
"Ini."
"Terima ka—"
Ikari jawdrop saat melihat tombaknya telah patah menjadi dua.
"APA YANG KAULAKUKAAAAN?" serunya marah.
"Aku hanya memegangnya," jawab Shin datar. Karena sudah dipanggil untuk bertugas, Ikari batal mengamuk di sana.
Penasihat Taka telah naik ke panggung dan berdiri di belakang Kaisar Yamato yang telah siap dengan gulungan kertas di tangannya.
"Rakyatku sekalian!" Yamato memulai pengumumannya. Warga yang telah berkumpul langsung mendengarkan dengan seksama, termasuk Monta dkk, Hiruma dan Mamori, serta Kotaro dan Julie yang kebetulan sedang jalan-jalan sehabis berjualan.
"Kerajaan akan mengadakan kompetisi membuat kimono bagi para perajin kimono tradisional yang ada di seluruh negeri," lanjutnya, "Akan ada beberapa kategori yang dilombakan, yaitu…"
1. Kimono Pria
2. Kimono Wanita
3. Kimono Pasangan
4. Kimono Raja dan Permaisuri
"Setiap peserta diberi waktu pengerjaan selama empat bulan!" ujar Yamato, "Setelah itu, para peserta wajib membawa kimono mereka ke Kerajaan dan akan dipertunjukkan kepada para juri."
Yamato tersenyum dan menggulung kembali kertas pengumumannya.
"Aku sebagai kaisar negeri ini mengharapkan partisipasi dan persaingan yang sportif dari kalian semua. Aku menaruh harapan besar untuk kemajuan para perajin kimono tradisional. Sampai bertemu empat bulan lagi!"
Pengumuman itu ditutup dengan tepuk tangan meriah para warga. Para pejabat kerajaan turun dari panggung dan kembali masuk ke istana.
"Wah…lomba kimono…pasti keren," ujar Julie dengan mata berbinar.
"Julie…suka ya?" tanya Kotaro sambil tersenyum. Julie mengangguk.
"Emmm…Julie…sebenarnya…," Kotaro berkata, "Selama ini, aku sudah menabung uang hasil jualan taiyaki…"
"Menabung?" Julie mengernyit. "Untuk apa?"
"Kebetulan…ada kompetisi kimono," jawab Kotaro, "Kimono yang tidak memenangkan lomba pasti akan dijual di bazaar istana. Aku ingin…membelikan satu…untukmu…"
Julie terkejut,"Kotaro…benarkah?"
"Iya," jawab Kotaro singkat.
Julie kembali berbinar dan spontan memeluk Kotaro,"Doumo arigatou gozaimasu! Aku senang sekali Kotaro!"
"E-eh…iya!" Kotaro jadi gugup dengan pipi memerah, "SMART!"
Pengumuman itu juga mengundang reaksi heboh Monta dkk.
"YA~! SUGOI!" kata Suzuna sambil meloncat, "Ayo kita mulai bekerja sekarang Monmon!"
Monta hanya diam.
"Monmon? Monmon?" Suzuna memanggilnya lagi. Tapi Monta masih tak bergerak.
"Monta?" kali ini Sena yang memanggil.
Semua jadi bingung. Kenapa Monta membatu begitu?
Tapi tiba-tiba…
"Ini kesempatan emas…," desis Monta, "Ini…kesempatan emas…."
"Monta? Kau sudah sadar?" tanya Sena.
"INI KESEMPATAN EMAS! AKU AKAN BERJUANG, MAAAAAAX!"
Monta bersorak dan meloncat tinggi ke udara. Semua juga ikut bersorak menyemangatinya.
"Ayo kita buat kimono terbaik yang pernah adaa! A-ha-haaa!" kata Taki sambil berputar.
Saat itu tiba-tiba Monta dikagetkan dengan kedatangan seseorang di hadapannya.
"Kau…," ujar Monta, "Hosokawa Ikkyu?"
Rupanya orang itu adalah Ikkyu. Ikkyu menatap Monta santai dan bertanya,"Maaf, apa aku kenal kau?"
"MUKYA?" Monta tersentak, "KURANG AJAR!"
Ikkyu mengernyit,"Hmm…sepertinya aku ingat. Anak monyet dari keluarga Raimon ya?"
Monta menggeram marah. Ia mengepalkan tangan kirinya dan menunjuk Ikkyu tepat dihadapan wajahnya.
"Ingat, Hosokawa Ikkyu!" sentak Monta, "Akulah yang akan mengalahkanmu dalam kompetisi ini! Dan saat itulah, kau tidak akan pernah melupakan namaku seumur hidupmu!"
"Hmmm," Ikkyu tersenyum sinis, "Coba saja kalau kau bisa. Ingatlah, kimono keluarga Hosokawa adalah yang terhebat di negeri ini."
"Persaingan…sudah dimulai…," ujar Sena pelan.
-XxX-
Kompetisi Kimono yang diadakan Kerajaan langsung membangkitkan semangat para perajin kimono di seantero negeri. Tak terkecuali Monta yang kini dibantu oleh Sena, Suzuna, Taki, Musashi, Kurita, dan juga Yukimitsu untuk membuat kimono yang akan dilombakan.
-XxX-
Monta's POV
"Bagaimana kalau kita tentukan modelnya dulu?" saran Sena, "Kalau sudah ada modelnya, 'kan lebih mudah menentukan ukuran kain yang akan dipakai, juga bentuk dan motif kimononya…"
"Kau benar, MAX!" aku mengangguk setuju. Kami sedang berkumpul di rumah Taki untuk mendiskusikan kimono yang akan dibuat. Aku sudah menyiapkan beberapa rancangan untuk dijahit, tapi kalau ada modelnya, pasti akan lebih mudah.
"Baiklah, sekarang siapa yang mau jadi model untuk kimono pria?" tanyaku pada semuanya.
"Sena saja! Sena saja!" jerit Suzuna.
"HIEEEEEEEEEE?"
Hmm…ide bagus!
"Kalau begitu, model untuk kimono wanitanya adalah kau, Suzuna! Dan model untuk kimono berpasangannya adalah kalian berdua! Setuju, tidak?" tanyaku.
"YA~!" Suzuna kembali menjerit dan merangkul Sena. Sena hanya bisa pasrah.
"Setuju," ujar Musashi, "Mereka cocok, kok."
"Tapi, siapa yang akan menjadi model untuk kimono raja dan permaisuri? Kalau mereka berdua lagi, nanti bisa kerepotan," ujar Yuki.
"Waduuuh…kita kekurangan orang, MAX!" aku menggerutu sambil mengacak rambut jabrikku.
"Minasan!"
Aku menoleh.
…
A-ada malaikat, MAX…
"Mamori-neechan!" sapa Sena, "Silakan masuk!"
"Permisi ya…," malaikat yang kumaksud, Mamori, memasuki tempat kumpul kami. Pikiranku yang sempat kacau langsung terang…
"Ah, Hiruma!" panggil Kurita, "Sini, sini!"
"Mukya…setan itu lagi, Sena…," bisikku.
"I-iya…," Sena mengangguk dengan gugup.
"Persiapan lomba ya?" tanya Hiruma sambil duduk di sebelah Musashi. Aku mengangguk.
"A-anoo…kami sedang mendiskusikan model yang akan menampilkan k-kimononya…," jelas Sena gagap.
"Dan kami kekurangan orang," kata Suzuna. Ia lalu menoleh ke Mamori.
"Kakak cantik? Namanya siapa?" tanyanya.
"Ah, maaf belum kuperkenalkan," kata Sena, "Ini temanku, Mamori."
"Senang berkenalan," ujar Mamori sambil menunduk.
"Wah…Mamo-nee kok datang dengan Yo-nii? Jangan-jangan pacarnya, ya?"
JDEERRRRR!
"HAH? NGGAK MUNGKIN MAX!" teriakku spontan dan shock. Polisi sadis dengan geisha baik hati kayaknya nggak cocok MAX!
"B-bukan!" jawab Mamori yang membuatku bersyukur, "Aku hanya kebetulan ingin mampir dan kami bertemu di jalan…"
"Maasaaaaaaaa?" Suzuna bertanya dengan nada jahil. Antena rambutnya bergerak-gerak.
"Kembali ke topik pembicaraan!" kataku, "Kita kekurangan orang untuk jadi model!"
"Mamo-nee saja!" kata Suzuna riang, "Mamo-nee tinggi semampai dan cantik, cocok sekaliii!"
Wah…iya….
Aku jadi terpesona lagi…
"T-tapi…aku malu…," kata Mamori.
"Tolonglah, Mamori-neechan!" kata Sena. Aku mengangguk.
"Baiklah…," Mamori mengangguk. Akhirnya!
"Kalau begitu, untuk kimono rajanya, akulah yang akan tampil!" kataku pede.
"Maaf, tapi…kau 'kan desainernya…kau tidak boleh merangkap jadi model…," kata Yuki mengingatkan.
Oh, iya…aku langsung lemas. Batal deh tampil berdua dengan Mamori-san…
"Kalau begitu…tinggal Yo-nii!"
JDERRR!
Sepertinya setelah ini aku akan perang dingin dengan Suzuna.
"Keh!" Hiruma mencibir, "Kurang kerjaan sekali aku jadi model kimono! Apalagi dengan si geisha sialan!"
"Yah…," Sena melengos kecewa, "Terus siapa lagi? Kurita-san?"
"Dia bakal ngabisin kain…," bisikku.
"Yuki-san? Musashi-san?" tanya Sena. Mereka berdua menolak.
"Kenapa menolak, Yo-nii? Takut wajahmu terlalu seram untuk jadi model? Fufufufufu!" sindir Suzuna.
"HIE! Suzuna! Jangan begitu!" tegur Sena karena mengkhawatirkan kelangsungan hidup Suzuna.
"Tch. Tidak usah bicara macam-macam penjual dango sialan!" sentak Hiruma.
Duh, masalah lagi. Sepertinya aku sendiri yang harus meminta pada polisi itu.
"Hiruma-san…," aku menatapnya serius, "Aku mau minta tolong sekali lagi, kumohon jadilah model untuk lomba nanti, kumohon!" kataku.
Hiruma mengangkat alis.
"Keh, malang sekali kau anak jelek. Baiklah, dengan amat sangat terpaksa aku akan jadi modelmu. Tapi…," seringai setan muncul, "Ada syaratnya…"
Oh, tidak.
"Pajak lagi? Bayar lagi?" Sena bertanya.
"Kekeke! Boleh juga, tapi bukan….," lanjut Hiruma, "Bentuk dan warna kimonoku dan si geisha sialan, aku yang menentukan. Bagaimana?"
"Gimana, Monta?" tanya Sena pelan.
"Baiklah, aku terima persyaratanmu," kataku dengan berat hati. Jangan-jangan dia akan berulah…tapi mau gimana lagi?
"Kekeke! Bagus," ia nyengir horor, "Kalau begitu, ayo mulai bekerja!"
-XxX-
Raimon's Kimono Theme
Catatan Monta
-Kimono berpasangan: Loli, dengan warna pastel dan renda. Motif polkadot dan hati boleh juga. Mungkin aku beri aksen Victorian untuk Sena.
-Kimono Raja dan Permaisuri: Gothic emo. Entahlah, Hiruma-san yang minta. Dengan warna gelap dan nuansa…err…horor? Semoga Mamori-san tetap selamat…
[To be continued…]
Undine: nadia! Setelah ini fashion show lo! Ayo pikirkan alurnya!
Nadia: aku lagi nonton Logan Lerman…
Undine: dasar! Sebetulnya cerita ini punya siapaaaa?
Nadia: *mikir* punya…kita berdua, undine! Kekekeek~!
Undine: huuuhhhhh
Nadia: kau 'kan yang lebih besar, jadi soal desain kimononya tolong buatkan ya…
Undine: *sigh* baiklah. Readers…makasih udah baca cerita ini. Maaf kalo ada salah-salah ya! Oh iya….review dong? Anonymous juga boleh kok!
See ya!
