Disclaimer : I do not own Naruto and any other characters.

Warning : OOC. Gaje. Bahasa tidak baku, semi formal, suka-suka tergantung sikon. Lebay. Humor garing. Touchy feely. LIME!

Tidak bermaksud untuk menyinggung pihak mana pun.


LOVE BITE

oleh VikaKyura.

Ketidak-pekaan Ino dan reaksinya yang terlalu random saat menanggapi godaan Sasuke, kadang membuat si bungsu Uchiha jadi emosi sendiri. Sasuke... akhirnya hilang kendali.


Cuaca sedang cerah sekali.

Sepasang onyx milik Uchiha Sasuke tengah betah memandang ke arah luar jendela. Di halaman sana, tampak segerombolan siswi sedang mengikuti jam olahraga. Mereka berkumpul di lapangan sekolah untuk bermain bisbol khusus wanita.

Mukanya serius, Sasuke menopang sebelah pipi dengan satu tangan. Tatapan mata vampirnya yang tajam sedari tadi tertuju pada sesosok gadis yang sedang mengayun-ayunkan pemukul bisbol di pinggir lapangan.

WUT. SIUT.

Yamanaka Ino memang sedang bersiap memukul bola. Pentungan bisbol dalam genggamannya sedang diayunkan secara barbar ke arah kiri dan kanan. Ekspresinya watados. Barangkali Ino sedang pemanasan sebelum beneran mukul bola, tapi entah bagaimana, gerakannya yang barbar malah jadi terlihat kaya mau nebas orang.

Anehnya, teman-teman sesama gadisnya mulai bersorak kesenengan, seperti sedang nge-fangirling-in Ino. Ah, wajar saja para gadis itu girang, Sasuke juga seneng liatnya. Ino sedang tampak kece dan badass sekali.

SILAU! Nggghhhh~ Sasuke melindungi matanya. Lagi-lagi dia kelilipan cinta.

Manisnya... Apa dia benar-benar manusia? Ditujukan untuk Ino.

Dengan wajah tetap datar kaya papan, Sasuke menelan ludah. Kalau di-zoom 99 persen, rona pipi tersipu sedang terselip di muka batu pemuda vampir itu.

Hanya dia sendiri yang bersinar. Pikir Sasuke, hatinya mulai deg-deg-per. Ah, matahari saja kalah terang~

KYAAAAAA! Ino-san so cooool so beautifuuul!

Aaaaaawwww wonder woman~ PANUTANQUE~!

Teriak membahana gadis-gadis di lapangan, ikut-ikutan ngagumin Ino.

Melonjak, Sasuke keselek ludah sendiri. Lamunannya pecah, meletus, nguap. Benaknya langsung terjun bebas dari khayangan.

Ekamvret, GANGGU ORANG LAGI NGELAMUN AJA! Sasuke langsung teriak sewot, tapi dalam hati. Perlu disembur juga tuh wanita-wanita zaman now pake baygon, biar pada menggelepar mabok sambil berbusa sekalian! Tambah sibuk sumpah serapah.

Tapi terus, Sasuke mendadak terdiam. Dia kicep.

Omong-omong, pemuda itu jadi dibuat sadar. Ternyata Ino... punya banyak fans cewek ya? Ah, sial. Sasuke jadi banyak saingan—Ngek. Dia salah tangkap.

WOY! Malah salfok.

Ambil napas, buang. Sasuke berusaha tenang. Mukanya yang barusan sempat kedutan, kembali datar. Bibirnya yang sempat monyong lima senti, kembali pada keadaan semula.

Sigh.

Oke. Kembali ke kaca jendela.

Sasuke nengok lagi ke luar, kembali natap Ino lekat-lekat.

Ekspresi pemuda itu serius, seperti sedang berpikir keras. Dipikir-pikir, Sasuke jadi dibuat berpikir, apa sebenarnya... Ino gak doyan lelaki ya?

Glek.

Readers tepuk jidat.

Habisnya, sudah diserang habis-habisan sama dia pun... gadis itu tetap selow-selow saja. Apa sebenarnya... Ino sukanya sama cewek?

Ergh— Sasuke membatu. Wajahnya membiru. Refleks dia gigitin kuku.

Salah sendiri pikirannya melenceng ekstrim ke mana-mana.

Aaaarghh! Kini tangan Sasuke pindah buat acak-acakin rambut. Mana mungkin kan gadis seimut dan seunyu Ino ternyata... Nelen ludah, dia geleng-geleng kepala. Ngeri sendiri.

Terus, bagaimana nasib perasaannya yang udah karatan bin lumutan bin jamuran ini?

Percumaaaaa dong punya wajah ganteng dan bodi seseksi ini kalau ga guna buat nyetrum gadis ituuuuu? Duh, tulung.

Sasuke lemas, pengen pingsan.

Sekedar mengingatkan. Jadi begini. Singkat cerita, Sasuke ngeceng banget sama Ino. Udah sepuluh tahun, catat. Dia udah ngemodusin Ino sejak lama banget, mungkin dari zaman mereka lepas popok kali ya. Sejauh yang Sasuke ingat dari memorinya yang hanya dipenuhin Ino, Ino dan Ino saja, berbagai cara udah dia lakuin.

Mulai dari colek-colek polos zaman TK, peluk-peluk manja semasa SD, curi-curi kecupan penasaran pas SMP, sampai akhirnya sekarang dia udah berani grepe-grepein nakal body aduhainya Ino. Sengaja, cari-cari kesempatan. Maksa.

Yah, ibarat kata, Sasuke udah naksir Ino semenjak otaknya yang brilian itu masih murni kebilang polos, dan rasa itu awet sampe pikirannya sudah penuh dosa macem tokek belang kaya sekarang.

Tapi kenapa... gadis cantik itu nggak paham-paham juga sih sama kode-kode cintanya? Apa dia kurang frontal?

Sasuke sempat frustasi. Saking gregetnya dia pengen cakar-cakarin papan tulis saat itu juga. Atau minimal, ngunyahin ujung meja. Tapi, ga jadi. Karena itu akan sangat OOC.

Buang napas, Sasuke mengerahkan seluruh fokusnya pada semliwir angin AC kelas yang sedang lewat. Mencoba kembali mendinginkan jidatnya yang sempat keringetan akibat stres. Satu, lompat. Dua, lompat. Tiga... dst. Pemuda itu mulai menghitung domba khayalan di benaknya dari satu sampai dua puluh. Saran Ino sih, buat ngatasin penyakit gajenya kalau lagi kumat.

Malangnya Sasuke. Dia merasa, sudah cukup sabar. Dan cukup umur, plak! Tapi ketidak-pekaan Ino dan reaksinya yang terlalu random saat menanggapi godaan Sasuke, kadang membuat si bungsu Uchiha itu emosi sendiri.

Jadi gimana caranya biar bisa menggaet cinta dedeq unyu itu, coba? Uhuhuhu. Penuh misteri. Ceritanya kaya lagi nyari harta karun yang isinya kunci master buat membuka gembok hati gadis itu yang tertutup rapat tanpa celah.

Dalam hati, Sasuke nangis darah sambil nahan keinginan buat cabutin helaian rambut model pantat ayamnya sampe botak tak tersisa.

Aaah, galau mulu! Sasuke sibuk banting kepalanya ke meja. Sebegitu depresinya dia.

GROSAK! WAAAAA...

Keadaan tiba-tiba berubah ribut. Jeritan kaget dan suara-suara panik berhamburan dari arah luar.

"Ino-san, kau tidak apa-apa? Kacanya—"

Roboh di atas tanah, Ino hanya menjawab kalem. "Tidak apa, bukan hal besar."

"Cepat diobati... lukanya..."

Ternyata kaca ruangan terdekat pecah, tadi Ino lupa mengontrol pukulannya. Lengannya berdarah, terkena langsung serpihan pecahan kaca.

Telinga Sasuke yang jeli dan sensitif langsung bisa menangkap percakapan tersebut.

"Apa yang kau katakan? Bagaimana kalau nanti sampai infeksi?!" terdengar lagi jeritan gadis lain.

SRAK.

Jendela kelas digeser keras. Satu kaki Sasuke sudah dalam posisi naik, bersiap untuk meloncat keluar jendela tersebut.

Sontak satu kelas melonjak kaget, dan mencoba menghentikan.

"Eh?" / "Eeehh?" / "Tunggu Sasuke-sama, ini lantai empat—"

Tapi Sasuke keburu melompat.

Blugh.

Gadis-gadis terperanjat. Ino melebarkan mata. Sasuke tiba-tiba saja muncul, mendarat tepat di sampingnya.

"Sa-Sasuke-sama!" para gadis menjerit lagi.

Ino belum berkata-kata, masih melongo. Sasuke melirik sekilas keadaannya. Siku gadis itu bersimbah darah.

"Perlihatkan," pinta Sasuke, segera meraih lengan Ino. Suaranya terdengar tenang, namun jelas ada kejengkelan sekaligus kecemasan di sana. Ia mendekatkan tangan gadis itu yang terluka ke mulutnya.

"Eh?" Ino baru berkedip ketika merasakan tangannya ditarik. Ia langsung terkesiap, menyadari apa yang akan dilakukan Sasuke. "Tolong jangan, tuan. Ini kotor—" cegah gadis itu, tapi diabaikan.

SRUP.

Sasuke keburu menjilati luka tersebut.

KYAAAAAAAAAAAAAA!

Lapangan langsung heboh. Gadis-gadis yang sedetik lalu sedang panik karena khawatir, kini langsung switch ke mode fangirling.

Ada yang sibuk menjerit, ada yang bekap mulut, ada pula yang nutup mata sambil ngintip. Wajah-wajah merah kaya kepiting rebus, saat menyaksikan adegan jilat-jilat hisap darah tersebut untuk pertama kalinya.

Juga ada yang nunjuk-nunjuk, terkesima. "Lihat... lukanya..."

Sriiing.

Lengan Ino kembali mulus tak bernoda.

"Ino ingatlah," Sasuke akhirnya mangangkat muka. Satu jempolnya mengelapi bibirnya yang masih bernoda darah. "Yang boleh membekas di tubuhmu, hanyalah luka bekas gigitanku saja!"

JLEEEEEEB. Para fangirl jatuh pingsan karena mimisan.

Sementara Ino, masih memegangi tangannya. Dia tak bergerak.

"Ino, kenapa diam saja?" Sasuke bertanya. Tak sabar mendengar jawaban si gadis.

Tak disangka, dilihatnya Ino menunduk sambil menangkup dada. Dengan wajah sedikit merona, gadis itu mengangguk lemah. "Ba...ik."

Hm? Sasuke ngedip. Refleks dia gesek-gesek mata, lalu mandang Ino lagi. Seketika dia meleleh.

Hyaaaaaaaa! Jerit hati Sasuke. Dia tegang. Reaksi Ino berbeda dari biasanya!

Biasanya, gadis itu menjawab 'saya mengerti' dengan muka datar dan nada monoton tanpa dibumbui drama apa pun.

Sekarang, PIPI INO SEDIKIT MEMERAH, PEMIRSA!

Sasuke langsung megap-megap, lupa caranya bernapas. Hidungnya tersumbat. Jantungnya dag-dig-dug-DER! Dia yakin, Ino sedang tersipu karena malu-malu oleh perbuatannya.

Benak Sasuke masih di khayangan. Tak sadar, ia kembali meraih lengan Ino, untuk menarik gadis itu berdiri.

Ino mendongak. Ia tampak ragu-ragu. "Tapi... ini hanya luka kecil. Tuan Sasuke tidak perlu sampai—"

"Bicara apa?" Sasuke langsung memotong. "Kau adalah milikku yang berharga. Mana mungkin aku membiarkanmu terluka! Meski cuma lecet, itu tak dimaafkan. Ngerti?"

Ino sempat tertegun, tapi segera menunduk untuk mengangguk lagi.

Duh, Imutnya. Sasuke nahan diri untuk tidak berlarian ceria keliling lapangan saking girangnya. Ia segera balik badan. Jadi grogi.

"Em, ayo pulang," ajaknya.

"Eh?"

"Sudah tak usah protes."

Sasuke cepat-cepat menarik Ino pergi. Dia terus melanjutkan langkah tanpa menengok lagi. Gak peduli fans-fansnya sedang jungkir balik, kejang-kejang berjamaah di belakang sana. Saking mengilhami ucapan Sasuke pada Ino barusan.

Sembari berjalan, lagi-lagi Sasuke sibuk sendiri di alamnya. Ino... tadi tersipu malu. Manis sekali~

TENG!

Bunyi mirip lonceng jam antik tiba-tiba berdentang di kepalanya. Sasuke mengerjap.

Ja.. Jangan-jangan... AKHIRNYA INO MENYADARI KEBERADAANNYA?

Sasuke langsung girang sendiri. Harapannya kembali melambung tinggi.

Akankah kini cintanya terbalas?

Ah... Sasuke jadi ngarep lagi, kan.

. . .

—love bite—

Feeling is a word that used to describe the physical sensation of touch through either experience or perception (feel, hear or smell), and is usually reserved for conscious subjective experience of emotion. (source : wikipedia)

Perasaan adalah kata yang digunakan untuk menggambarkan sensasi fisik dari sentuhan, baik melalui pengalaman atau persepsi (merasakan, mendengar atau mencium), dan biasanya diperuntukkan bagi pengalaman emosi yang dirasakan secara sadar.

—love bite—

. . .

Bulan purnama muncul dari balik awan. Cahayanya menyapu bayangan gelap malam dalam perlahan.

Tapi sayang, Sasuke menatap pemandangan indah di luar tanpa ada minat. Benaknya belum bisa move on dari kejadian tadi siang.

Selama ini, Sasuke tak pernah mau meminum darah Ino di tempat umum. Ritual itu privasi baginya. Dia tidak ingin membiarkan wajah Ino yang sedang bersemu merah karena sensasi gigitannya, jadi tontonan sembarang orang. Biar cuma Sasuke saja, yang boleh menyaksikannya.

Tapi tak disangka, sepertinya gadis itu malah suka diperlakukan demikian.

Buktinya, kejadian tadi. Ino-nya merona karena malu-malu...

Jadi, Sasuke langsung bertapa seharian. Dan hasil analisisnya mencapai kesimpulan bahwa... sumber dari rona malu di wajah Ino berasal dari hati gadis itu yang tergetar setelah Sasuke memaksa merawat bekas lukanya di hadapan orang-orang.

Jangan-jangan gadis itu... sebenarnya tipe-tipe yang suka dipaksa di depan umum? Menikmati rasa saat ditaklukan, tipe-tipe cewek maso? Wow. Itu sensual sekali!

Melenceng lagi deh, pikirannya.

Sasuke nangkup dada. Jantungnya masih nyut-nyutan.

sedetik, diam. Dua detik, masih kalem. Tiga detik, mulai loading. Empat detik, pecah. Asap mengepul dari kepala Sasuke.

Aakkhh. Sasuke hilang arah.

Tiba-tiba dia menengadah sambil meremas kepala dengan dua tangan. Ino sangat manis!

Apa yang harus aku lakukan? Jingkrak-jingkrak di atas karpet, Sasuke panik. Biasanya Ino memang sudah manis, tapi tadi dia tambah imut saja. Aku jadi jatuh cinta lagi.

Sasuke membesarkan lobang hidungnya. Well—dia memang selalu yakin dan percaya, jika Ino sedang tersipu karena jatuh cinta, gadis itu akan terlihat dua ribu kali lipat lebih manis!

Tapi si pemuda tak pernah menduga efeknya akan se-lethal ini bagi kesehatan jantungnya.

Dia nepuk-nepuk muka, sambil komat-kamit dalam hati. Jangan deg-degan. Jangan deg-degan. Harus tenang, karena sebentar lagi Ino akan datang. Untuk memberinya makan malam.

Benar saja. Instingnya memang tajam, tak pernah salah.

Semenit kemudian, pintu kamar terbuka dari luar.

Ino melangkah masuk, sambil berkata pelan... dan hati-hati. "Tuan Sasuke, waktunya makan."

"Aah, iya," timpal Sasuke. Berlagak so cool, buku yang sedang pura-pura dibacanya langsung ditutup. Dilempar ke atas nakas.

Jadi, Sasuke sudah menyiapkan rencana untuk malam ini.

Pertama, menghisap darah Ino dengan kalem dan cool seperti biasanya. Kedua, merawat luka bekas gigitannya dengan paksaan yang terkendali. Lalu, menciptakan suasana yang lembut untuk menaklukan gadis itu.

Sasuke mengepalkan tangannya penuh tekad. Keringat dingin mengucur keluar dari sela-sela hidungnya.

Menunggu sebentar. Terus, dia sadar. Kenapa suasananya hening sekali?

"Hm? Ino..."

Heran, Sasuke menemukan Ino sedang nyempil di pojokan, hendak buka baju sambil memunggunginya. "Kenapa kau sembunyi-sembunyi begitu?"

Sasuke menyadari Ino berjengit. Alis hitamnya jadi naik. "Biasanya kau santai-santai saja," komentar pemuda itu.

Ino masih belum membalik badannya. "Ah... tidak. Hari ini... umm," gumamnya pelan, nyaris bisik-bisik.

SRIIING!

Sepasang Sharingan langsung aktif sekaligus. Pasti gadis itu sedang merasa malu! Dia yakin.

Sasuke bahkan belum terbangun dari syoknya sehabis menyaksikan langsung perubahan ekspresi Ino tadi siang, ditambah kini fantasi liar mulai lari-lari ceria di dalam benaknya. Otaknya yang panas sepertinya sanggup membuatnya jadi dendeng vampir dalam hitungan detik saja.

Kyaaaaa. Inner Sasuke jerit-jerit kaya baru liat kecoak terbang.

Seketika itu... dia hilang kendali.

Gyut.

Ino terkesiap. Sasuke mendadak memeluknya erat dari arah belakang.

Gawat... tubuhku bergerak dengan sendirinya. Batin Sasuke merutuk. Tapi ia tak bisa menghentikan. Kesadarannya terlanjur hilang. Kini insting kelelakiannya yang sedang bertindak.

"Tu-tuan Sasuke?"

Sial... Rencana yang sudah sempurna, melayang dari kepala Sasuke.

Ino bisa merasakan belakang kepalanya memberat, saat Sasuke menyenderkan wajahnya.

"Kalau sulit," Sasuke berbisik tepat di telinga Ino. Napasnya yang lembut nan hangat membuat si gadis kegelian. "Aku yang akan melakukannya..."

"Eh?" Ino mengerjap.

Rub, plek.

Tanpa dipersilakan, jari-jemari Sasuke mulai meraba dada Ino. Lalu segera membuka kancing bajunya.

"Ap—" Ino menggeliat. "T-tuan Sasuke... Ti—" Langsung ditangkupnya satu tangan besar yang sedang bekerja itu, berusaha mencegah agar tak bertindak lebih jauh.

Namun tangan besar Sasuke yang lain menangkap dua tangannya, menghalangi niat Ino. Menundukkan kepala, pemuda itu mulai mengecupi tengkuk si gadis.

"Ah..." Satu kancing bajunya terbuka lagi. Ino bisa merasakan kehangatan ujung jari sang tuan membelai belah dadanya yang sudah mulai terekspos.

Terbuai aroma manis menggairahkan yang menguar dari tubuh Ino, Sasuke rileks. Pelukannya sedikit melonggar.

Kesempatan. Kembali menggeliat, akhirnya Ino bisa bebas dari dekapan sang tuan. "Tidak perlu, saya bisa sendiri..." ujarnya, cepat-cepat berjalan ke arah jendela dan meraih gorden. Seolah minta tolong pada kain gorden itu untuk segera menyembunyikannya.

Tapi satu pergelangan tangan si gadis kembali ditangkap Sasuke.

Pemuda itu berjalan mendekat, langsung memeluk erat tubuh semampai Ino lagi. Mendorongnya, memepetnya ke bingkai jendela.

Ino terperanjat. Makin panik.

Kini benak Sasuke sedang kabur. Yang dia ingat, di kepalanya selalu terpikir... ingin memeluk, dan mencium gadis itu.

"Jangan menghindar," bisik Sasuke, tepat berdesis di telinga Ino. Bibirnya mulai mencumbu daun telinga gadis itu.

"Mmm," respon Ino, menggigit bibir. Cumbuan tersebut memberikan sensasi panas yang menggelitiki seluruh tubuhnya.

Tangan Sasuke kembali berulah. Jemarinya terus membukai kancing gaun gadis itu satu per satu. Membelai kulit sensitif Ino. Dia bisa merasakan tubuh si gadis bergetar. Dia tahu ini adalah hal yang curang dan memalukan yang dilakukan seorang pecundang. Tapi Sasuke tak bisa berhenti... dan tak mau berhenti...

Ino tak bisa menghindar lagi. Dia sedang dipeluk sangat erat, tak ada celah untuk lepas. Lalu tiba-tiba, tubuhnya diputar, agar wajahnya menghadap sang tuan. Dirasakannya tangan-tangan Sasuke membelai lembut rambut dan wajahnya.

"Tuan Sasuke..." desis Ino, melongok heran. Napasnya terasa panas, suaranya bergetar. Jantungnya ikut berdebar.

Sasuke tersenyum tipis. Ino sedang bersemu merah sekali, entah karena apa. Dia bisa merasakan kehangatan pipi gadis itu di telapak tangannya. Dibelainya lembut.

Sasuke ingin Ino bisa mengerti... bahwa dia suka... dia menyukai gadis itu. Sangat.

Ah... Melihat ekspresi manis Ino... Sasuke jadi tidak tahan.

Lantas pemuda itu menunduk untuk mendekatkan wajahnya pada Ino. Si gadis pirang sempat menghindarinya dengan memundurkan kepala sampai belakang kepalanya menempel pada bingkai jendela. Tapi Sasuke kembali mengejar, dan segera menutup jarak di antara wajah mereka.

Cup.

Terasa lembut, bibir yang sedang diklaimnya. Membuatnya terbuai, terlena, terhanyut. Tanpa ragu Sasuke memperdalam ciumannya.

Ino menghela napas. Matanya melebar. Otaknya memproses apa yang sedang diperbuat sang tuan sekarang. Saat merasakan Sasuke semakin menggerakkan bibirnya, Ino jadi tidak tahan. Dia segera memejamkan matanya rapat. Melenguh pelan.

Sampai sentuhan yang menyengat bibirnya berakhir. Ino membuka matanya pelan-pelan.

"Tu-tuan," Ino mendesah, wajahnya panas. "Apa ya—"

Kembali dibungkam.

"Mmm,"

Bibir-bibir yang bertaut. Sentuhan yang menyulut. Ciuman yang semakin menuntut.

Ino sedikit meronta. Terkejut, bingung. Menahan napas ketika merasakan lidah Sasuke mulai melesak masuk ke dalam mulutnya, dan membelai lembut lidahnya.

Gemetaran. Tangan mungilnya mencengkram kuat kerah baju yang sedang Sasuke kenakan.

"Haaaa,"

Berakhir. Terengah, Ino mengambil napas dalam-dalam. Udara dihirupnya banyak-banyak. Matanya berair. Seutas saliva menjuntai dari ujung bibirnya yang basah. Dia mendongak dan kembali melempari Sasuke dengan tatapan heran, meminta jawaban.

Namun Sasuke hanya menggeser sentuhan tangannya, meraih lembut rahangnya. Jemari pemuda itu mulai menguncup dagunya. Tatapan ruby sang vampir mengunci aquanya.

"Ino..." Sasuke berbisik dengan suara dalam yang terdengar lembut, namun mengintimidasi. Membuat Ino tak sanggup berpaling dari kukungannya. "Aku menyukaimu."

Ino membeku. Matanya melebar lagi. Masih memandangi sharingan Sasuke yang sedang berpendar merah, lekat-lekat. Warna darah yang tampak seindah biasanya. Begitu memikat.

Berkedip, tersadar. Gadis itu segera memalingkan muka ke samping. "Tu-tuan, tolong hentikan—Unn,"

Sasuke kembali menyondongkan wajah. Menempelkan mulutnya di pipi ranum si gadis. Lidahnya beralih membasahi garis rahang Ino, dan turun menjilati lehernya. Dirasakannya gadis itu menggeliat, mulut Sasuke kini sudah mencapai belahan dadanya.

Ino meghela napas dalam. Dia bisa terjatuh kapan saja, bila Sasuke tidak sedang merengkuh erat pundaknya.

Sepasang taring mencuat keluar. Sang vampir sudah tak bisa menahan keinginan untuk menusukkannya di dada Ino. Merasakan halus kulitnya, mencicipi manis darahnya.

Memilikinya seutuhnya.

SLUURP.

"Ah,"

Sasuke membenamkan wajah di dada gadisnya. Debaran jantung Ino terdengar tidak stabil dan kacau, seperti miliknya. Hatinya berkata. Ino... Kau bukanlah 'makanan'. Bagiku... menghisap darahmu, adalah hal yang spesial...

Ino menggigit bibir, menahan lenguhan demi lenguhan yang berusaha lolos dari mulutnya. Dia sudah tidak tahan lagi. Sensasi yang sedang melandanya sekarang, menyulut sesuatu dalam dirinya, mengacaukannya, membakarnya, membuatnya tidak karuan. Ino memejamkan safir birunya kuat-kuat, sebelum kegelapan mulai menelannya.

"Tuan... Sasuke..." bisiknya... jatuh pada ketidaksadaran.

.

.

Sasuke duduk bersandar pada headboard ranjang. Membiarkan kepala Ino tidur nyaman dalam pangkuan pahanya.

Sret.

Dielusnya puncak rambut si gadis pelan-pelan.

Sudah lama sekali, semenjak terakhir kali Sasuke bisa memandangi wajah damai gadis itu ketika tertidur.

Haaaahh... Buang napas panjang.

Tiba-tiba Sasuke membekap muka gantengnya. Ditepuk-tepuknya kasar. Aku melakukannya... terlalu berlebihan. Sampai mencium gadis itu segala. Sasuke merona sambil pegang bibir. Pengen jompalitan, tapi ditahan. Ah, mulutnya.. bibirnya... lidahnya... lembut sekali... dia mau lagi— PLEK!

Gampar muka sendiri.

MAAFKAN AKU. Uhuhuhu. Sasuke pengen nangis, ngutuk ke-khilaf-annya. Apa dia sudah keterlaluan?

Sasuke nelan ludah, nerves.

Tapi, apakah perasaannya sudah tersampaikan?

Sasuke kembali menunduk untuk memandang Ino. Tangannya sibuk, mengelus bibir penuh si gadis yang sedang merenggang terbuka. Sasuke kembali merona, merasakan kelembutan bibir itu dalam belaian jemarinya.

Ino, apakah kau... akhirnya bisa memandangku sebagai seorang lelaki?

"Mmh," sentuhan itu menggugah si gadis dari tidurnya.

Klip. Sepasang aquamarine mulai terbuka. Wajah Sasuke langsung muncul dalam refleksi penglihatan Ino.

"Sudah bangun?" Tersenyum, Sasuke bertanya lembut. "Maaf, tadi aku menghisap sedikit lebih banyak—"

ZRAT!

Terkejut, seketika Ino bangkit duduk. Sasuke mengerjap.

"Tubuhmu baik-baik saja?" Sang vampir mengangkat tangannya mendekati wajah Ino, cemas. Hendak memeriksa keadaan gadis itu.

SRET.

Tapi Ino segera menghindar. Dia berbalik badan, meringsut menjauh, dan segera turun dari atas kasur.

Sasuke berkedip kaget. Satu tangannya masih terulur, kini meraih ruang kosong di depannya. "Ino?"

"Tuan Sasuke."

Si pemuda berjengit, Ino masih memunggunginya. Tapi dia bisa yakin, suara gadis itu ketika memanggil namanya barusan, terdengar datar dan tegas.

"Berbeda dari dulu, sekarang Anda sudah dewasa." Ino lanjut berkata dengan nada monoton. "Bagaimana kalau Anda, mulai mencari makanan lain selain saya?"

Sasuke membatu.

Ino masih belum mau membalik badan untuk menghadap ke arahnya.

"Lain kali, mungkin ada saatnya saya tidak bisa memberikan darah saya karena terluka atau lain sebagainya," sambung si gadis, masih tak beremosi.

Apa-apaan itu... apa maksudnya? Sasuke tetap bergeming. Kenapa sikap Ino tiba-tiba berubah sedingin ini?

"Jika ada beberapa orang lain, maka tubuh saya pun akan lebih sehat," Ino kembali melanjutkan. "Kualitas dan kuantitas darah saya juga akan meningkat."

Dalam diam, Sasuke berjengit. Kau... ingin aku meminum darah orang lain? Kenapa...

Pemuda itu menunggu dan memperhatikan, namun tampaknya Ino tidak sedang bercanda. Inikah jawaban yang dia dapatkan, atas ungkapan perasaannya?

Seketika hangus.

Sasuke merasa kosong, retak, hancur. Tapi entah kenapa... sekarang mulutnya malah sedang menyunggingkan sebuah... seringaian?

"Aku mengerti," balas Sasuke, sinis. Tangannya mengepal, jemari meremas kuat satu sama lain. "Aku tidak akan menghisap darahmu lagi."

Bahu Ino berdenyut.

"Aku akan mencari makanan lain!" balas Sasuke, dingin.

Hening.

Sunyi.

Senyap.

Tidak ada yang bicara lagi.

Menghela napas. Ino memejamkan mata. Perasaannya sedang... campur aduk. Dia sempat menyamping untuk membungkuk singkat, sebelum mulai berjalan ke luar kamar. Tanpa menengok pada sang tuan.

Ini... Buruk sekali.

-TBC-


Happy new year. May God bless you with happiness through the whole year.

See you in the next chap.

Review? Thanks.

03.01.2018