I Hate That I Love You

Chapter 4.

Draco keluar dari perapian flat Potter dan Weasley. Flat itu kecil. Hanya ada 2 kamar, 1 kamar mandi, ruang tamu, dan dapur. Draco berusaha tak berjengit melihat sofa kasar di ruang tamu, dimana ada kotak hitam besar menempel di dinding. Flat itu bersih, dan Draco yakin Granger tak akan membiarkan ketidaksterilan di tempat tinggalnya. Jadi, menelan keraguannya, dia menyusul ketiga rekannya duduk.

Potter sedang menempelkan sesuatu berwarna putih dengan tali panjang menjuntai di telinganya dan dia berbicara pelan.

"Ya, satu loyang meat lovers dengan ekstra mozarela, satu loyang bolognese dengan paprika. Yup, okay, trims," kata Potter. Draco menatapnya bingung saat cewek itu meletakkan alat itu ke atas box berisi deretan angka.

"What the hell is that?" Tanya Draco, dan langsung menyesalinya. Baru saja dia baikan dengan Potter, dan dia sudah mencari masalah dengan cewek itu. Draco berusaha tak berjengit, berharap Potter tidak tersinggung.

Potter menoleh, mengernyit sejenak, bingung apa maksud Draco. Untungnya tidak kelihatan tersinggung sama sekali. Weasley terbahak. "Merlin! Sekarang kita bertemu penyihir yang lebih parah dibanding aku soal alat muggle!"

Pemahaman terlihat di wajah Potter, yang nyengir kecil. "Oh, maksudmu telepon?" Dia melambai ke alat di depannya. Draco mengangguk. "Alat muggle untuk berkomunikasi. Seperti panggilan Floo di dunia sihir."

Draco mengangkat kedua alisnya tinggi. "Jadi kau bicara dengan orang lain ribuan kilo dari sini?" Tanyanya ragu.

"Bisa untuk bicara bahkan dengan manusia di Pakistan, atau Australia," kata Potter, matanya berkilat. "Jauh lebih simpel di banding floo, dan lebih bersih."

Draco mengernyit, entah kenapa merasa sangat tertarik. Dia tak pernah mengenal muggle seumur hidupnya, tak pernah bicara dengan satu mugglepun, tak pernah melihat bagaimana mereka bertahan hidup tanpa sihir.

"Kau mau mencoba?" Tanya Potter.

Draco tertegun, menatap Potter. Cewek itu jelas masih agak canggung, punggungnya kaku seolah kehadiran Draco membebaninya. Tapi dia berusaha. Potter berusaha ramah padanya.

Draco menelan ludah, menatap horor 'telepon'. Potter, Weasley, dan White terkekeh. "Rileks Draco, kami tahu yang mulia darah murni tak akan mau bersentuhan dengan alat muggle," kata White, dia duduk santai di sofa tunggal, kakinya terangkat di atas meja. Jelas ini bukan kali pertama dia di flat ini.

"Atau kau takut?" Lanjut Potter, senyumnya menggoda.

Draco mengerjap, berharap wajahnya tidak merona bodoh. Potter memberikan senyum itu padanya. Pada Draco.

Potter benar-benar berusaha.

Draco mengusap rambutnya, mendadak gugup. Tapi untungnya yang lain menganggapnya gugup karena prospek 'bersentuhan' dengan alat muggle.

"Aku tidak takut pada alat muggle bodoh, Potter," tukasnya akhirnya.

Potter mengangkat sebelah alisnya, tanpa kata menyodorkan 'telepon' itu pada Draco, yang berusaha keras tidak berjengit. Draco memelototi Weasley dan White yang tertawa terbahak-bahak, tahu persis bahwa dirinya sedang dikerjain.

Draco menarik napas, mengambil telepon itu, tapi langsung menjatuhkannya saat mendengar suara mendengung, memekik kaget. Potter, Weasley, dan White tertawa terbahak-bahak sampai tak bisa bernapas.

"Fuck-you," tandas Draco, memelototi mereka, bersedekap kesal, membuat ketiga rekannya itu makin terbahak. Tapi dalam hati dia tak sungguhan kesal. Bagaimana bisa dia marah melihat Potter tertawa seperti itu di dekatnya, hal yang sebelumnya tak pernah dia lakukan? Draco hanya memutar bola matanya saat Weasley memeragakan ulang adegan Draco terkesiap oleh telepon yang malang.

"Ha-bloody-ha. Sangat lucu, Weasley," tukas Draco.

Untungnya, seteleh itu bel pintu berbunyi dan Potter bangkit untuk membuka pintu, menerima pizza mereka. Mereka pindah ke dapur, duduk di meja makan, makan sambil mengobrol ringan, sangat happy karena lolos tahun kedua mereka.

Potter masih tidak banyak bicara, tapi Draco tak ingin komplain. Cewek itu memaafkannya saja sudah membuat hatinya lebih ringan. Dan Draco sendiri suka bicara, jadi tak ada masalah. Dia tahu bahwa dia beruntung Potter mau menatapnya saat dia bercerita. Draco berusaha keras tidak terus-terusan menatap cewek itu, berusaha keras memberi perhatian yang sama pada Weasley dan White. Tapi setelah 4 tahun yang panjang dan penuh rasa bersalah, sungguh melegakan bisa melihat mata itu dari dekat...

"Oke, karena kita akan menjadi rekan yang saling mempertaruhkan nyawa untuk satu sama lain," kata Ruugas riang. "Kurasa ada baiknya kita mengenal satu sama lain lebih dekat."

"Maksudmu?" Tanya Draco, mengambil pizza nya yang kelima. Jujur, ini pertama kalinya dia makan pizza. Dia selalu menganggap pizza makanan rakyat jelata. Dia tak mengatakannya pada rekan-rekannya tentang fakta ini karena sungguh memakukan. Tapi betapa bodohnya dia, pizza adalah makanan paling luar biasa sedunia. Draco berusaha keras tidak menjilat jarinya, dia tak mau terjerumus sejauh itu, dan berjengit saat Weasley dan Potter dengan santainya menjilat jari mereka. Menjijikan.

Mata Ruugas berkilat. "Ini saatnya bermain Game Kebenaran!"

"Ide bagus!" Kata Weasley, melompat berdiri menuju kulkasnya, dan mengeluarkan 4 kaleng bir.

"Maksudmu Truth or Dare?" Tanya Potter, tampak tak nyaman. Draco tahu perasaannya. Dia tak ingin membeberkan rahasianya di depan orang-orang yang baru dikenalnya.

"Sejenis. Tapi kita buat pertanyaan yang simpel, dengan jawaban yang simpel. Hanya untuk saling mengenal, mungkin bisa jadi inspirasi untuk hadia natal atau ulang tahun? Ngomong-ngomong, ultahku 2 Februari, dan aku mengharapkan kado oke?"

Weasley dan Potter saling memutar bola mata mereka.

"Okay," kata Potter akhirnya, membuka kaleng bir nya dan menenggaknya. "Lets do it."

Draco mendengus, tapi mengambil kaleng bir bagiannya juga.

"Oke kalau kita sepakat. Dimulai dari aku. Tanggal lahir?"

"5 juni."

"23 Maret."

"31 Juli," kata Potter. Draco nyengir.

"Jadi kau adalah baby di grup ini Potter. Selamat," katanya menggoda.

Potter mengernyit. "Hanya beda sebulan darimu," protesnya.

"Nyaris 2 bulan," kata Draco tak mau kalah.

Potter memutar bola matanya, tapi tak menjawab lagi. Draco merasa menang.

"Giliranku. Warna favorit," kata Weasley. "Aku marun."

"Emerald," kata Draco. Weasley mendengus.

"Sangat original," ledeknya. Draco mengangkat sebelah alis.

"Perlukah kuingatkan kalau warna favoritmu juga warna asramamu?" Tandasnya.

Weasley mengangkat bahu. "Yeah yeah."

"Aku suka merah," kata Ruugas, menatap Weasley penuh arti. "Apalagi dengan bintik-bintik."

Potter dan Draco mendengus kompak. Tapi Weasley tampak tak sadar, karena dia mengernyit dan berkata, "warna macam apa itu?"

"Aku suka biru," kata Potter, nyengir geli menatap Ruugas yang cemberut karena aksi flirtingnya di tolak mentah-mentah. "Oke giliranku. Makanan favorit. Treacle tart."

"Hmm, pertanyaan bagus. Dan menjebak," kata Weasley serius. "Aku bisa bilang spageti favoritku. Tapi aku juga suka telur rebus. Atau sosis yang dipanggang dengan minyak yang menetes-netes. Hm. Tapi aku juga tak akan menolak burger. Atau..."

"Oke Weasley, kami paham. Kau suka semua makanan," kata Draco. Weasley mau memprotes, tapi Draco berkata cepat, "Aku suka pie apel," bohongnya. Jelas makanan favoritnya di dunia adalah pizza yang baru selesai dimakannya, tapi dia tak akan mengakuinya.

"Kau sungguh simpel Draco," kata Ruugas kaget. "Aku selalu berpikir kau suka makanan Perancis yang pengucapannya super sulit. Tapi pie apel! Aku terkesan!"

Draco nyengir malas. "Banyak hal tentangku yang akan membuatmu terkejut, White. Just you see," katanya penuh misteri. Ruugas dan Weasley mendengus tak percaya.

"Oke. Aku percaya. Dan, pilihanku jatuh pada chinese food. Terutama dengan MSG yang banyak," kata Ruugas lagi.

Draco menatapnya jijik, tapi memilih berkata, "Giliranku. Ciuman pertama, siapa dan kapan. Linda Myer, saat kelas 2."

Weasley dan White bersiul. "No way!" Seru Weasley tak percaya. "Aku tahu Myer. Cewek super cantik Ravenclaw tiga tahun di atas kita!"

Draco nyengir puas. "Kau bicara dengan cowok terpopuler di Hogwarts Weasley. Dan kuyakinkan kau, aku sama terkejutnya denganmu. Dia mengajariku Transfigurasi, dan aku bahkan belum tahu apa artinya flirting! Dia sedang menjelaskan sesuatu di perpus, dan boom! Dia menciumku!" Katanya riang, tahu bahwa Weasley dan white sangat terkesan. Draco melirik Potter, penasaran reaksinya. Cewek itu menatap jari-jarinya seolah bosan. Draco cemberut.

"Well, thats good Malfoy," desah Weasley, kalah. . "Aku pertama berciuman di kelas 6. Dengan Lavender Brown."

"Merlin! Kau sungguh telat tumbuh!"

"Fuck you," tukas Weasley, membuat Draco tertawa terbahak sampai memegangi perutnya. White menatap Weasley terkesan.

"Kurasa itu imut. Kutebak kau tipe yang tak memikirkan percintaan," katanya riang.

Potter nyengir. "Oh dia memikirkan. Hanya saja dia tak cukup berani," katanya.

Weasley memelototinya. "Shut up Har! Aku tahu siapa ciuman pertamamu. Dean Thomas, kelas 4!"

Wajah Potter merona. "Well," katanya, tak menatap ketiga rekannya, yang mengerjap.

"Maksudmu ciuman pertamamu bukan Dean Thomas?" Tanya Weasley bingung.

Potter mengangkat bahu. "Anggap saja Dean ciuman pertamaku..."

"No way!" Seru White. "Ini Game of truth! Jangan kau nodai dengan kebohonganmu Potter!"

Draco menatap Potter penasaran. "Ayolah Potter, tak mungkin separah itu kan ciuman pertamamu?"

wajah Potter makin merona. "Well, oke," desahnya. "Pier Polkis."

"Who?"

"Nama ciuman pertamaku," tandas Potter, memelototi Draco, seolah salah cowok itu dia berciuman dengan cowok bermama Pier Polkis. Draco otomatis melawan.

"Who is Pier Polkis?"

Potter menggeram. "Sahabat baik sepupuku Dudley. Aku sempat pacaran dengannya tiga bulan penuh, sebelum Dudley tahu dan menghajar Pier habis-habisan. Kurasa setelah itu tak akan ada teman Dudley yang naksir aku lagi," desahnya, mengernyit mengenang.

Wealsey dan draco bertukar lirikan.

"Dan umur berapa kau saat mencium Polkis?" Tanya Weasley.

Wajah Potter merona. "Well... dia menciumku saat aku berulang tahun yang ke-10," gumamnya akhirnya.

Hening panjang.

"Merlin!" Seru Weasley, bangkit, melotot garang. "Harry!"

"Aku tahu aku tahu! Please jangan bilang pada Molly?" Kata Potter, menangkupkan tangannya memohon. "Aku bersumpah aku tak tahu. Itu ulangtahunku, dan aku dan Pier sudah sebulan jadian. Dia mengajakku ke belakang kompleks rumah untuk memberikan kado untukku. Lalu dia menciumku. Hanya sekilas, aku bersumpah. Kurasa dia hanya penasaran bagaimana rasanya..."

Draco menatap Potter dengan sangat tertegun. Siapa sangka, Harria Potter, cewek polos, lugu, pendiam dari Gryffindor, adalah yang duluan mendapatkan ciuman pertama. Bahkan mengalahkan Draco, yang merupakan cowok paling playboy se-Slytherin!

White terbahak. "Merlin Harry, kau jelas tak sesuai penampilanmu!"

Potter memelototinya. "Itu hanya ciuman, bukan berarti aku dan Pier melakukan seks atau apa!" Tandasnya kesal.

Draco mengangkat sebelah alisnya tinggi. "Well, kutebak Pier Polkis sangat parah sampai kau begitu malu," katanya akhirnya.

Potter cemberut. "Pier bajingan. Dia langsung berkencan dengan Matilda Spiers tiga hari setelah Dudley menghajarnya," ketusnya. "Bukan sesuatu yang ingin kuingat."

"Oke, dan kau tak pernah bertemu lagi dengan dia?" Tanya Ruugas tertarik. "Pier Polkis terdengar seperti cowok populer yang tampan..."

Potter mendengus keras. "Merlin! Tidak sama sekali. Dia kurus, kecil... yah, sekarang dia tidak lagi kurus dan kecil," kata Potter, nyengir sendiri.

"Jadi kau masih sering bertemu dia?!" Pekik Weasley.

"Stop overreacting, Ron. Dia sahabat sepupuku. Aku selalu bertemu dengannya tiap musim panas sampai umur 17 tahun," kata Potter memutar bola matanya. "Tapi kuyakinkan kau, aku tak pernah menciumnya lagi."

"Bagus," tandas Weasley. Draco entah kenapa sama leganya dengan Weasley saat mendengar fakta ini. Potter memutar bola matanya lagi.

Ruugas menggeleng. "Ciuman pertamaku, saat umur 14 tahun, dengan sahabatku Damian," katanya santai.

"Damian," ulang Weasley, mengernyit. "Dan selama ini kukira Damian nama cowok." Dia terkekeh sendiri.

Draco, White, dan Potter menatapnya seolah dia mendadak mendapat kepala tambahan. Bagaimana bisa cowok yang paling jago strategi di antara mereka tidak tahu bahwa Ruugas White suka cowok?! Seluruh anak pelatihan tahu fakta itu!

"Well," kata White, nadanya penuh ketidakpercayaan. "Damian nama cowok."

Weasley mengerjap. Sekali. Dua kali. Lalu. "Oh," katanya tertegun. "Well oke."

"Oke?"

Weasley mengangkat bahu. "Oke. Walaupun aku agak kaget, kukira kau naksir Harry," katanya, nyengir.

White cemberut. "Pertanyaan selanjutnya," katanya akhirnya. "Pacar pertama."

"Pier Polkis pastinya," kata Potter tegas, seolah ada yang meragukan bahwa dia berkencan dengan orang sebelum Pier Polkis. Draco tak akan bertaruh, karena mendadak dia memandang Potter dengan kacamata yang berbeda. Ciuman pertama saat umur 10! Potter!

"Mandy Brockelhurst, Ravenclaw, saat kelas 3," kata Draco enteng.

"Lucky bastard," tandas Weasley, membuat Draco nyengir lebar. "Oke, pacar pertamaku juga Lavender Brown, saat kelas 6."

Ruugas mengangkat bahu. "Damian juga pacar pertamaku." Dia menatap Draco. "Dan itu artinya, hanya kau yang berciuman dengan seseorang tanpa status."

"Hei, cewek itu yang menciumku duluan!"protes Draco. "Lagipula, aku tak pernah masalah mencium cewek tanpa status pacaran. Ciuman adalah ciuman, pacaran adalah pacaran. Dua hal terpisah." Draco menerima tatapan jijik dari tiga orang di depannya. "What? Aku berkata jujur. Masa kalian tak pernah berciuman hanya sekedar karena hormon?" Tanyanya tak percaya. Siapa anak muda jaman sekarang yang masih sekolot itu?

Weasley rupanya iya. "Aku tak pernah," tandasnya tak terkesan.

Ruugas megernyit. "Aku tak pernah juga."

Lalu semua menatap Potter, yang sekali lagi nampak sangat tak nyaman dengan kursinya.

"Merlin! Yang benar saja!" Seru Weasley tak percaya, memelototi Potter, yang mengkerut ngeri. Ruugas dan Draco menganga syok. Potter sekali lagi membuktikan bahwa dirinya bukan gadis lugu Gryffindor.

Potter meringis. "Hanya ciuman biasa Ron. Please jangan berlebihan," katanya bersalah.

"Dengan siapa?" Tanya White penasaran.

Potter menggigit bibirnya, lalu mendesah. "Logan Jordan, teman Dudley yang lain, saat umur 10. Dan Michael Lewis sesaat sebelum masuk Hogwarts, dia tetanggaku." Dia menatap Ron takut-takut. "Hanya kecupan simpel Ron. Aku bersumpah."

"Dan? Siapa lagi?" Geram Weasley.

Potter tampak sangat tak nyaman. "Er..."

"Harry..."

"Oke, oke. Geez, kalian seperti pasukan cewek remaja saja," ketus Potter. Dia menarik napas, dan berkata lagi. "Oliver Wood, kalian ingat? Kapten Wuidditch Gryffindor. Dan Cedric Diggory, waktu itu dia masih menjadi kapten Hufflepuff. Dan... astaga, aku tak percaya aku bercerita tentang ini pada kalian... Roger Davies, kapten Ravenclaw."

Weasley, White, dan Draco menganga lebar.

"Dan Ginny bilang aku harus mendapat satu set. Kau tahu, satu set umm... kapten Quidditch. Jadi saat Marcus Flint berjalan sendirian di koridor kosong saat kelas 4..."

Draco sungguh sungguh tak percaya. Harria Potter!

"Dan kau melakukan ini semua bahkan sebelum kelas 5!" Pekik Weasley. "Bagaimana bisa aku tidak tahu?!"

Potter mengangkat bahu, wajahnya merah padam. Draco tak tahu harus berpikir apa lagi.

"Tapi setelah itu tak ada lagi," kata Potter buru-buru. "Aku tidak dekat dengan siapapun sampai kelas 7."

Weasley menatapnya tak percaya, tapi sebelum dia berkata apa-apa, White menyelanya, "Kenapa? Kenapa kau berhenti berciuman saat kelas 4?"

Wajah Potter pucat, tangannya mengepal. Weasley berjengit, melirik Draco, lalu mendadak diam sambil menatap jari-jarinya. Dan Draco paham.

Apakah mungkin itu saat Potter mulai menyukai Draco?

Draco menelan ludah. Masa? Masa gadis ini mulai menyukainya sejak kelas 4? Dan dia baru mengajak Draco berkencan saat kelas 6. Dua tahun memendam rasa pada Draco? Yang akhirnya Draco tolak dengan kata-kata kejamnya...

Rasa bersalah kembali menyerangnya.

Tapi Potter sudah memaafkannya kan? Potter sudah melupakannya. Sudah 4 tahun berlalu, dan cewek itu sudah move on dengan Terry Boot saat kelas 7. Tak ada masalah.

"Karena aku tak ingin berkencan," tandas Potter dingin pada White, yang terkejut karena reaksi Ketiga rekannya terhadap pertanyaan simpelnya.

"Oke," kata White tak percaya, tapi dengan bijak berkata, "Ron, pertanyaanmu selanjutnya."

Weasley berdeham, melirik Potter sekilas-yang masih mengepalkan tangannya-dan berkata, "Alat muggle favorit. Aku tv."

Draco mengerang, berusaha mengalihkan pikirannya dari tragedi saat kelas 6 itu. "Aku tak punya jawaban. Aku tak pernah bersinggungan dengan alat muggle. Selain telepon. Dan itu bukan favoritku."

Weasley dan White tertawa terbahak, tapi Potter tampak masih tak nyaman. Draco tak berani menatapnya. Dia takut. Dia takut Potter tidak balas menatapnya lagi. Mengacuhkannya lagi...

Merlin...

"Oke, kurasa aku juga tv," kata White. "Adakah yang mengalahkan itu?"

"Apa itu tv?" Tanya Draco penasaran.

"Kotak muggle untuk melihat drama. Seperti lukisan, tapi lebih kompleks. Aku akan menunjukannya padamu nanti," kata White. Draco tak tahu apakah dia harus waspada atau senang. Dia penasaran dengan alat muggle, tapi jujur dia juga ngeri.

"Aku suka handphone," kata Potter akhirnya. Punggungnya masih kaku, tapi dia berusaha.

Potter berusaha melupakan kenangan buruknya dengan Draco.

"Oke giliranku," kata Potter lagi. "Pelajaran favorit. Pertahanan terhadap ilmu hitam."

"Merlin, kau seperti Hermione," sindir Weasley, menenggak bir-nya. "Aku suka Pemeliharaan satwa gaib, kurasa."

"Ramuan," kata White riang, membuat Potter dan Weasley menatapnya jijik. "What? Aku suka ramuan, dan kupastikan guru ramuan di Durmstrang bukan brengsek seperti yang kalian dapat..."

Draco mengangkat sebelah alisnya. "Prof Snape oke, kurasa."

"Jelas saja, kau anak asramanya," ketus Weasley. Draco nyengir.

"Well, aku suka Mantra," katanya simpel. "Dan Ramuan juga oke. Aritmancy juga tak buruk."

Weasley menggeleng-geleng, bergumam, "kutubuku," yang tidak Draco acuhkan.

"Oke giliranku. Pacar saat ini. Lisa Turpin," kata Draco.

Weasley mendengus. "Kau membual."

Draco nyengir lebar. "Aku berkencan dengan Lisa sejak akhir kelas 7. Dua tahun," katanya. "Jalan mulus menuju pernikahan."

Weasley melongo. "Kau serius? Tapi Lisa Turpin... dia sangat cantik!"

Draco terbahak. "Absolutely my type," katanya tanpa berpikir, dan dia merasakan Potter berjengit di sebelahnya, entah karena apa. Draco menoleh, dan hatinya mencelos saat Potter menghindari tatapannya. Draco mengernyit. Apa dia salah bicara? Apa Potter masih menyukainya? Tidak mungkin. Potter sudah move on bahkan saat mereka masih di Hogwarts. Apa Draco bicara sesuatu yang menyinggungnya lagi?

"Aku single," kata White, mendesah sedih. Weasley menepuk pundaknya.

"Tak ada yang salah dengan single, man," katanya menghibur, membuat White meringis. "Aku tentu saja berkencan dengan Hermione Granger."

Potter menenggak bir-nya. "Yeah, kurasa aku dan Terry masih on."

Weasley mengernyit. "Kau jelas tampak antusias," sindirnya. Potter nyengir, melempar kaleng kosongnya ke keranjang sampah, dan berjalan ke kulkas untuk mengambil 4 kaleng bir lagi. Saat kembali duduk, Weasley masih menatapnya, menunggu jawabannya. Potter mendesah.

"LDR ini membunuhku. Terakhir bertemu tiga bulan yang lalu, dan entahlah," dia mengangkat bahu. "Kurasa aku hanya harus bertahan 2 tahun lagi, saat dia selesai sekolah..."

"Dimana dia?" Tanya Draco penasaran. Potter mau tak mau menatapnya, membuat Draco mendesah lega dalam hati.

"Spanyol. Belajar Transfigurasi selama 4 tahun. Lalu dia akan melanjutkan 2 tahun di sini bersama McGonagall, dan siap menggantikan guru itu sebagai master Transfigurasi."

White bersiul. "Sounds too smart to me," kekehnya. "And to you," tambahnya impresif. Potter nyengir.

"Selalu bertanya-tanya apa yang dia lihat dariku, tenang saja," katanya, membuat Whiter terbahak.

Tapi Draco tidak tertawa. Potter, walaupun bukan gadis yang super cantik, pintar, dan kaya seperti Lisa, punya karisma tersendiri. Dia bisa bergaul dengan siapa saja. Bisa membuat seseorang merasa diterima, merasa nyaman dengan keberadaannya. Senyumnya tulus sampai matanya, dan tawanya menular bagai cacar naga. Dia punya bentuk tubuh yang luar biasa bagus, dan sangat sangat rendah hati. Walaupun Potter bukan tipe pilihan Draco, tapi dia tahu bahwa siapapun yang mendapatkan cewek itu adalah cowok yang beruntung...

Draco mendesah, berusaha tidak memikirkan bahwa dia tadinya punya kesempatan...

"Oke lanjut," kata White. "First sex."

"Astaga! Ruugas!"

"What?"

Potter terkikik, wajah Weasley merona dahsyat. Draco nyengir lebar.

"Oke. Pansy Parkinson, kelas 4," katanya santai.

"Empat belas tahun?!"

"yup," kata Draco santai, lalu menatap curiga Potter. "Kau? Tidak melakukannya sebelum Hogwarts kan?!" Tuduhnya.

Potter memelototinya. "Jangan samakan aku dengan jalang Parkinsonmu," tandasnya, bersedekap. Draco dan Weasley mendesah lega.

"Lega mendengar kau masih perawan," kata Weasley, Draco mengangguk riang dalam hati, entah kenapa.

Potter berjengit. "Aku tak bilang begitu," gumamnya.

Weasley dan Draco tergagap. "Tapi tadi kau bilang..."

Potter memutar bola matanya, wajahnya merah padam. "Aku tidak melakukannya sampai lulus Hogwarts oke? 18 tahun, dan sudah setahun penuh berkencan dengan Terry..."

"Kau menyerahkan keperawananmu pada si aneh itu?" Pekik Draco tak percaya.

Potter memelototinya. "Aku akan sangat berterima kasih kalau kau tak menghina pacarku..."

Weasley tampak seperti habis kejambretan, membuat White tertawa terbahak.

"Merlin. Sudahlah Ron, kasihan Harry. Kau ingin dia jadi perawab tua?"

"lebih baik jadi perawan tua daripada jalang!"

"Beraninya kau Ron! Kau dan Lavender melakukan seks di ruang rekreasi dan kau bisa bilang aku jalang!"

"Itu jelas berbeda! Aku cowok! Tak akan ada bedanya kalau aku melakukannya saat umur 12! Tapi kau cewek..."

"Dan aku melakukannya saat 18 tahun, umur yang rasional..."

"Kau harusnya menunggu sampai menikah!"

Draco mengangguk setuju dengan Weasley. "Kau harus bisa menolak jika tak ingin melakukannya. Kutebak Boot memaksamu kan?"

"Apa? Tentu saja tidak! Kami sudah setahun berkencan!"

"Bukan alasan," kata Draco kesal entah karena apa. Dia hanya tak bisa membayangkan gadis istimewa macam Potter berakhir dengan cowok aneh macam Terry Boot. Potter berhak mendapat yang lebih baik-dan lebih sopan-dari Boot!

"Oke, kurasa ini sudah kelewatan," tukas Potter, bangkit murka, wajahnya masih merah padam. "Dan kukatakan dengan tegas: apa yang terjadi di kehidupan pribadiku bukan urusan kalian!" Lalu dia berbalik, masuk ke salah satu kamar, dan membanting pintunya.

Para cowok saling bertukar pandang.

"Well," kata Weasley akhirnya. "Kurasa sesi gosip kita sudah selesai. Kini saatnya pesta para gentleman." Dia membuka kulkas lagi, mengeluarkan seluruh persediaan alkoholnya.

-dhdhdhdh-

Draco pulang ke flatnya sendiri sore itu dengan hati seringan bulu dan senyum lebar, tiga per empat mabuk.

"Draco? Apakah itu kau?" Terdengar suara dari dapur. Lisa Turpin, pacar Draco, sedang membuat teh.

Lisa sangat sangat cantik, dengan rambut pirang sepinggang, mata biru terang, bibir penuh, dan tubuh bagai super model. Ditambah dia adalah Ravenclaw, sangat cerdas dan berwawasan. Ayah dan ibu Draco bahkan tak menemukan cacat dari cewek itu, mendukung Draco seratus persen. Jalan mulus menuju pernikahan.

"Hai," kata Draco, memeluk Lisa dari belakang, menenggelamkan wajahnya di pundak Lisa, yang terkikik. "Mau dinner di luar? Merayakan diterimanya calon auror baru?"

Lisa terkesiap, meloncat, memeluk Draco erat. "Draco! Congratulation! Aku tahu kau akan diterima!"

Draco terkekeh, balas memeluk pacarnya itu. "Trims Babe." Lalu dia mencium gadis itu mesra, dan tentu saja mereka berakhir di tempat tidur.

Draco merasa sangat puas dengan hidupnya.

Dia kaya, hidup nyaman,mendapatkan pekerjaan yang dia inginkan, dan tentu saja pacar yang mempesona luar dan dalam. Tak ada yang kurang.

Tapi dia tak bisa menyingkirkan fakta bahwa, yang membuatnya tidur nyenyak malam itu bukanlah kasur super mahal, atau cewek cantik di sebelahnya, tapi mata emerald yang akhirnya balas menatapnya.

-bersambuung-

haiii akhirnya update lagi! I love this story, kuharap kalian suka dengan alurnya. Feel free untuk memberikan kritik dan saran yaa

muaaachhh