Scarlet Elixir

A Sword Art Online Fanfiction, written by Riza Ailhard

AN: Bagian bab Prolog penulis ganti jadi Link Start! biar... biar asik aja.

Disclaimer: SAO milik Reki Kawahara


Level 3

Iya, dia mirip Kirito...

Pagi-pagi sekali, Nova dan Esmee mengunjungi toko milik Lisbeth. Nova mengambil beberapa anak panah pesanannya yang dibuatkan Lisbeth semalam suntuk. Esmee melihat-lihat etalase toko itu. Sebuah pedang bergagang hijau membuatnya tertarik. Mirip katana milik Silver, batin Esmee.

"Ini berapa, Lisbeth-san?"

Lisbeth yang tampak melamun sejak tadi terkejut. Entah mengapa, wajahnya terasa hangat saat ia ketahuan sedang memandang Esmee dari meja kerjanya. Tapi gadis itu buru-buru mengusir imajinasi dalam pikirannya.

Kamu sedang berdagang dan ada pelanggan di tokomu. Kamu harus profesional, Lisbeth! Gadis itu menyemangati dirinya sendiri.

"Kalau Esmee-san mau, aku bisa memberikannya gratis saja. Tidak usah dibayar," ujar Lisbeth. Gratis? Entah mengapa, motivasi profesionalnya tidak sampai ke tindakannya.

"Ah, aku tidak mau merugikanmu, Lisbeth-san. Bagaimana kalau..." Esmee mencoba menawar harga pedang itu. Setelah sepakat, Esmee membelinya sebagai senjata cadangan.

Tiba-tiba bunyi notifikasi masuk ke profil Nova. Pesan dari Asuna.

Aku dan Kirito sudah siap. Kami akan tiba di Animus Tower Teleportation Plaza, lantai 52, dalam 20 menit.

Gadis itu memberitahukan ke kakaknya agar mereka bisa segera pergi ke Lindarth Teleportation Plaza dan menyusul Asuna dan juga Kirito. Setelah menyelesaikan urusan pembayaran, kakak adik itu pamit dari toko Lisbeth.

Cahaya berbentuk lingkaran itu bersinar di tengah-tengah gerbang teleportasi Animus Tower. Beberapa detik kemudian, dua orang muncul dari sana. Orang pertama berpakaian hampir seluruhnya merah. Ia memakai kaus merah yang dilapisi zirah perak yang menutupi dada dan pergelangan tangannya. Rambutnya cepak menyerupai anak laki-laki. Tubuhnya tinggi daripada orang yang ada disampingnya. Orang yang kedua adalah gadis berambut oranye yang bergelombang dengan jubah panjang biru dongker tanpa zirah. Di pinggangnya ada tali pinggang yang dibagian kanannya terdapat sebuah tabung berisi anak panah. Mata mereka melirik kesana kemari mencari gadis berbaju putih dan anak laki-laki berjaket hitam.

"Asuna!"

"Nova!" Seorang gadis berbaju putih dan rok merah berlari kearahnya. "Akhirnya kalian sampai juga."

"Apa kalian sudah lama menunggu kami?" tanya si gadis berjubah biru, Nova.

"Nggak, kok. Baru saja sampai," ujar Asuna.

Tak lama kemudian, gerbang teleportasi di belakang kedua kakak adik itu bercahaya lagi. Ada seseorang atau mungkin sekelompok orang yang tiba di Animus Tower. Beberapa detik kemudian, cahaya menyilaukan itu perlahan menghilang dan memperlihatkan siapa yang baru tiba di lantai 52 itu. Kirito melihat sekelompok orang yang dikenalinya. Apalagi orang yang paling depan yang memimpin kelompok itu.

"Klein?"

"Ha? Kirito? Lama nggak jumpa, ya? Eh, enggak. Seminggu yang lalu." Pemuda bernama Klein itu berjalan mendekati Kirito dan Asuna. Sementara itu, Esmee dan Nova minggir ke samping Asuna, memberikan jalan agar kelompok Fuurinkazan itu bisa menyapa kedua player hebat itu.

"Sedang apa disini?" tanya Klein kepada kedua orang itu.

"Kami mau menemani mereka berdua mencari sesuatu," jawab Kirito sambil menoleh ke Esmee dan Nova. Mata Klein mengikuti kemana arah mata Kirito. Pemuda itu terdiam sejenak. Begitu juga kedua orang yang baru dilihatnya itu. Beberapa detik kemudian, Klein melebarkan matanya, untuk melihat dengan jelas siapa yang dilihatnya. Dan pemuda itu yakin penglihatannya tidak salah maupun tidak ada bug pada reseptor indera penglihatannya. Hal yang sama pun terjadi pada gadis berjubah biru. Kemudian mereka saling menunjuk satu sama lain.

"Saori?!"

"Senpai!"

Mereka berseru bersamaan. Refleks, Nova meraih rapier Twilight Diamond-nya untuk menyerang pemuda itu. Seperti Klein telah menyebut sesuatu yang salah. Pemuda itu mengangkat tangannya dan melambai-lambai.

"Maaf, maaf, maaf. Nggak seharusnya aku menyebut nama aslimu di SAO," ujar Klein. Ia keceplosan dan memang tidak tahu nama karakter gadis yang dipanggilnya dengan nama Saori.

"Oh, great! Kau baru saja menyebut nama asli Nova, Klein-san," celetuk Esmee tidak senang. Menyebutkan nama asli maupun data pribadi lainnya adalah hal yang tidak dianjurkan dalam game SAO maupun game lainnya. Hal ini semacam kode etik tidak tertulis demi keamanan, harus dirahasiakan walaupun seorang player bertemu dengan player lainnya yang benar-benar dikenal di dunia nyata ataupun sudah kenal dekat dengan sesama player lainnya.

"Klein, kau sudah kenal mereka?" tanya Kirito.

"Yaah, semacam itulah," jawab Klein sambil menggaruk kepalanya.

Esmee melipat tangan di dadanya. "Klein adalah seniorku di dunia nyata. Dia lebih tua setahun dariku. Dan pemuda ini pernah memacari adikku," ujarnya sambil memandang remeh Klein.

"Aneue!" seru Nova marah sekaligus malu. Seharusnya kakaknya itu tidak usah bilang hal-hal yang tidak penting seperti itu.

"Mantan," goda Esmee dengan senyum nakal. Nova menyikut pinggang kakaknya dengan cukup keras agar Esmee berhenti menggodanya.

"Aneue?" tanya Asuna. Gadis itu berharap pendengarannya salah. Nova memanggil Esmee dengan sapaan aneue yang berarti kakak perempuan. Tapi dengan rambut cepak dan style laki-laki seperti itu, "Esmee-san, Anda... perempuan?"

Esmee menoleh ke Asuna dan melihat gadis yang lebih muda 6 tahun darinya itu kebingungan. Gadis tomboy itu berkacak pinggang. "Yes, I am a girl, girl. Jangan bilang sejak awal kau salah sangka, Asuna the Flash," ujar Esmee. Ia tidak marah sama sekali. Malah, gadis tomboy itu tertawa.

Yah, Nova memang belum pernah menyebutkan kalau kakaknya itu sebenarnya perempuan walaupun tampilannya laki-laki banget. Asuna pun menyadari kalau dada gadis tomboy itu rata. Nggak kelihatan cewek. Asuna teringat dengan chat-nya bersama Lisbeth tadi malam. Gadis itu bisa menerjemahkan deretan pesan yang ia terima dari Lisbeth kalau pemandai besi itu naksir pada Esmee, walaupun kesan pertama jumpa waktu minum teh kemarin bukanlah kesan yang bisa dibilang baik. Ini akan jadi berita patah hati jika Lisbeth tahu kalau Esmee adalah wanita.

Sementara itu, Klein memperhatikan keadaan Nova.

"Nova, bagaimana dengan kakimu?"

"Kakiku?" tanya Nova balik, kebingungan. Tapi sedetik kemudian, ia menyadari maksud pertanyaan Klein. "Ah, ya. Aku nggak tau juga, senpai. Bahkan aku lupa soal kakiku sendiri. Hampir dua tahun juga aku nggak check up."

"Memangnya kaki Nova kenapa?" tanya Asuna penasaran. Apalagi dengan kata check up.

"Di dunia nyata, kaki kanan Nova bukanlah kaki normal. Ia pakai prosthetic," jelas Esmee. Saat Murasaki Saori login di VRMMORPG ini, kakinya terlihat seperti kaki normal bahkan lebih mudah digerakkan daripada kaki palsunya di dunia nyata. Ternyata sinyal indera peraba dan sistem motoriknya bisa diterjemahkan oleh NerveGear walaupun gadis itu tidak benar-benar memiliki kaki kanan.

"Anyway, kalian darimana dan mau kemana?" tanya Kirito pada Klein.

"Kami dari lantai 54. Kami mau hunting disini. Katanya ada hutan tropis yang penuh monster. Kami mau level up," ujar Klein sambil menunjukkan teman-teman satu guild-nya, Fuurinkazan.

"Kami mau kesana juga," ujar Kirito.

"Kalau gitu, kita bisa hunting bersama," sahut Klein.

"Tidak bisa!" Esmee memotong pembicaraan kedua pemuda itu. "Kalau kau mau hunting, lakukanlah sesuka hatimu. Jangan mengganggu apalagi mengikuti kami." Matanya memandang tajam Klein. Ekspresi gadis tomboy itu serius.

"Hei, kenapa?" tanya Klein.

"Guys, bisa kita pindah ke tempat lain? Orang-orang memperhatikan kita," ujar Asuna. Nova mengangguk setuju dengan usul gadis pemilik Lambent Light itu.

Mereka bergerak menyusuri jalan setapak yang akan mengantar mereka ke Tropical Forest. Rombongan Esmee dan Kirito berjalan di depan, sedangkan Klein dan anggota Fuurinkazan lainnya di belakang mereka. Tidak ada pembicaraan diantara kedua kelompok itu, bahkan masing-masing player sama sekali tidak berbicara. Di sekeliling mereka ada padang rumput yang hanya ditumbuhi beberapa pohon. Terlihat beberapa monster babi kecil yang menghalangi jalan mereka. Dengan sigap, Esmee menghabisi semuanya tanpa sisa. Kemudian Esmee dan yang lainnya melanjutkan perjalanan lagi.

"Hoi, Esmee! Kenapa kami tidak boleh hunting bersama kalian? Lihat, dari tadi kau saja yang menambah poin," ujar Klein tidak senang. Ia juga tidak tahan dengan keheningan diantara rombongan yang memiliki tempat tujuan yang sama itu.

Langkahnya terhenti. Esmee diam tidak menjawab. Nova menggenggam tangan kiri Esmee dengan lembut, kemudian gadis yang lebih muda tiga tahun dari kakaknya itu menatapnya sambil tersenyum walaupun dalam hati ia khawatir.

"Kakak, kurasa sebaiknya Klein dan kawan-kawannya kita ajak saja. Lebih banyak anggota party akan lebih baik, Kak. Kita nggak tau pasti sekuat apa monster disana. Mereka bisa membantu kita dan kita bisa membantu mereka level up lebih tinggi lagi dengan ikut kita. Simbiosis mutualisme, kan?" ujar Nova memberi pengertian. Gadis itu tahu, kakaknya tidak mudah menyetujui usul orang lain, termasuk adiknya sendiri. Ia memang keras kepala. Apalagi memasukkan orang menyebalkan atau orang yang pernah melukai hati adiknya seperti Klein. Padahal Nova tidak masalah dengan hal seperti itu asalkan misi mereka sukses.

"Daripada aku melihat ada player yang game over lagi didepan mataku, lebih baik aku dianggap sebagai orang serakah, Nova!" seru Esmee emosi. Cukup baginya melihat Dr. Wolftail dan Silver, juga beberapa player lain yang rata-rata anak sekolahan yang game over disini sekaligus dunia nyata. Esmee tak mau melihat atau lebih tepatnya mengorbankan nyawa lebih banyak dengan mengundang player lain ke misi berbahaya ini yang ia tidak tahu bagaimana levelnya. "Kalau aku mendapatkannya, sesuai dengan janjiku, aku akan bergabung dengan Clearing Group dan menyelesaikan game sialan ini, dan membalas perbuatan Kayaba Akihiko terhadap Professor dan Jung Ho!"

"Hei, hei, kalian bicara apa? Aku nggak ngerti. Dan itu nggak menjawab pertanyaanku sama sekali," ujar Klein penasaran.

Nova menatap kakaknya, seolah berkata 'Aku mengerti, tapi tolong mengerti juga keadaan kita'. Esmee menangkis tatapan itu. Ada perasaan bergejolak dalam dirinya.

"Apa kau akan terus berdiri disitu tanpa menjelaskan apapun pada kami?" tanya ketua guild Fuurinkazan itu. Suara Klein membuat Esmee menoleh kearah pemuda itu. Kalimat dan tatapan Nova berhasil membuat gadis tomboy itu luluh. Ia menoleh ke kanan dan kiri, memastikan keadaan padang rumput yang luas itu tidak ada orang lain selain dirinya, Nova, Kirito, Asuna dan Fuurinkazan. Tidak ada orang lain selain mereka disana.

"Kami kesini bukan sekedar hunting biasa. Kami mencari Scarlet Elixir." Esmee menjelaskan apa tujuan mereka ke Tropical Forest dan apa itu Scarlet Elixir. Tentu saja, informasi yang dikatakan Esmee membuat anggota Fuurinkazan terkejut.

"Apa kau yakin, Esmee? Itu bukan hoax?" tanya Klein.

Esmee mengangguk yakin. "Dengan apa yang sudah Fatamorgana alami selama ini, aku harus percaya kalau informasi ini bukan hoax walaupun memang belum ada yang mendapatkannya. Makanya, aku berencana untuk mendapatkannya karena kristal itu hanya bisa sekali dikumpulkan."

"Tapi bukankah itu hanya trik Game Master untuk menarik perhatian player?" tanya Klein lagi.

"Aku tidak peduli. Professor sudah bertaruh nyawa untuk menemukan console itu dan setengah meretas SAO dari dalam. Aku harus percaya jika informasi itu benar adanya," ujar Esmee. Ia mengepal tangannya.

"Jadi bagaimana? Kau ikut, Klein?" tanya Kirito.

"Hei! Aku tidak bilang kalau aku mengijinkan dia untuk ikut, bocah berjaket hitam!" seru Esmee. Ia masih keras kepala.

"Fuurinkazan adalah guild yang kuat. Mereka bagian dari Clearing Group juga, Esmee," jelas Asuna.

"Oh ya?" Kata 'Clearing Group' membuat keras kepala Esmee makin luluh. Anggota Fuurinkazan berjumlah enam orang, dan sudah ada Asuna, Kirito, Nova dan dirinya sendiri. Scarlet Elixir itu dikabarkan berisi sepuluh kristal, jadi jumlahnya cukup kalau kristal abadi itu dibagikan masing-masing satu buah per orang. "Baiklah. Kau ikut atau tidak, Klein?" ajaknya langsung. Tapi ekspresinya tak berubah.

"Gimana, guys?" Klein berdiskusi dengan teman satu kelompoknya.

"Aku rasa dia nggak ikhlas, Ketua," bisik Kunimittz. Esmee mendengarnya.

"Kalian dapat kristalnya masing-masing satu! Kurasa sepuluh orang pemain immortal itu lebih baik daripada empat orang untuk menyelesaikan 100 lantai Kastil Aincrad sialan ini!" ujar Esmee kesal.

"Hik!" jerit anggota Fuurinkazan lainnya kaget. Cewek galak.

"Baiklah, kita ikut," putus Klein, diikuti anggukan mantap dari anggota Fuurinkazan lainnya.

Setelah mengundang Fuurinkazan ke dalam party-nya, Esmee dan kawan-kawan melanjutkan perjalanan. Tak lama, mereka sampai di depan Tropical Forest. Aura tempat itu terasa angker dan seperti labirin. Tanpa pikir panjang, Esmee langsung masuk ke portal yang memisahkan padang rumput dan hutan. Entah berapa jam yang mereka habiskan untuk mencari rumah kayu di tengah hutan tropis yang lebat dengan pepohonan dan monster babi liar. Beruntung, Kirito mendapat Ragout Rabbit lagi. Mungkin ia akan meminta Asuna memasak daging S-rank itu untuknya seperti beberapa bulan yang lalu.

Kirito mengecek peta di dalam profilnya. Ia tidak menemukan jalan atau petunjuk lain yang mengarah ke rumah kayu yang dimaksud Esmee.

"Esmee-san, kamu yakin disini tempatnya? Tidak ada petunjuk apapun di peta," ujar Kirito. Seperti biasa, anak muda itu teliti terhadap keadaan. Ia merasa hutan ini seperti jebakan.

"Aku juga sudah melihat petaku sendiri, Kirito," kata Esmee. Tangan kanannya memang sudah siap dengan pedangnya dari tadi kalau-kalau ada monster yang menyapa mereka.

"Hei, coba lihat itu!" tunjuk Asuna. Dibalik pepohonan, gadis itu melihat rumah kayu yang letaknya kira-kira lima ratus meter dari tempat mereka berdiri.

"Itu dia tempatnya," gumam Esmee. Rombongan itu langsung bergerak kesana. Langkah mereka berhenti begitu sudah cukup dekat, sekitar lima puluh meter dari mereka. Di depan mereka terdapat rumah kayu sederhana. Asap putih membumbung ke udara dari cerobongnya. Dari atas, ada seberkas sinar matahari yang menyinari rumah itu di hutan yang lebat ini. Rumah itu tampak temaram, dari jendelanya hanya terlihat cahaya kuning seperti cahaya lilin di dunia nyata. Rumah itu di kelilingi danau rawa kecil dengan jalan terbuat dari kumpulan bebatuan alam yang memberi akses jalan kepada pengunjung sekaligus membelah danau rawa itu menjadi dua.

"Kalian siap?" tanya Esmee. Ia sudah siap dengan Volcanic Claymore miliknya. Kirito dan Asuna juga sudah siap dengan Eludicator dan Lambent Light milik mereka masing-masing. Begitupun Fuurinkazan. Sementara itu, Nova mengeluarkan Archangel Wooden Bow, busur panahnya, dari kotak inventory beserta kotak yang penuh anak panah yang otomatis terpasang di pinggang kanannya.

"Ayo," perintah Esmee sambil memimpin langkah mereka menyeberangi danau rawa itu. Tapi Kirito menghentikannya. Tangan kirinya menghalangi Esmee yang hendak maju.

"Tunggu dulu, Esmee-san. Nova, coba kau tembak dulu pintu rumah itu. Kita harus tahu apakah ada window atau malah semacam cursed barrier disitu," perintah Kirito. Nova mengangguk. Ia membidik pintu rumah kayu itu dengan anak panahnya. Anak panah itu bersinar merah muda, tanda Nova sedang memperkuat tembakan dengan mana atau tenaganya. Beberapa detik kemudian, anak panah itu melesat dan menancap pintu kayu itu. Akibatnya, pintu kayu itu terlepas dari engselnya, rusak. Anak panah dan pintu itupun menjadi kabur dan berubah menjadi pecahan piksel.

Beberapa detik menunggu, tidak ada yang terjadi. Tidak ada perubahan disana. Perlahan, Kirito maju menuju rumah itu diikuti dengan Esmee dan lainnya.

Kenapa bocah ini jadi leader-nya, batin Esmee sewot sambil mengamati punggung Kirito yang terus berjalan ke depan. Kemudian, Asuna, Klein dan Fuurinkazan-nya, Nova dan dirinya pun mengikuti langkah Kirito.

Mereka memasuki rumah kayu itu dan membentuk formasi seperti busur panah. Kirito berdiri ditengah-tengah. Di sebelah kanannya Klein dan tiga anggota Fuurinkazan. Sementara itu, di sebelah kiri Kirito ada Asuna, Esmee dan dua anggota Fuurinkazan lainnya. Nova berdiri di belakang mereka, di tengah-tengah, siap dengan busur dan anak panahnya sambil berjaga-jaga jika ada player di belakang mereka yang mengikutinya.

Cahaya rumah itu remang-remang. Rumah itu terlihat aneh, dari luar tampak kecil namun ketika mereka di dalam, rumah itu luas, bahkan tiga kali lebih luas dari tampak luarnya. Ruang depan rumah itu tampak dilapisi sekat tripleks yang membagi ruangan setinggi dua meter. Sekat itu tidak sepenuhnya menutupi, ada celah selebar pintu di sisi kanan ruangan. Asap yang membumbung di cerobong asap tadi menandakan bahwa ada orang- atau mungkin NPC berwujud orang atau apapun yang sedang menjaga tempat itu. Tiba-tiba, terdengar langkah kaki berat dari balik sekat itu. Kirito dan yang lain menghentikan langkahnya. Dari dinding belakang, muncul bayangan, tidak jelas, sesosok dengan pose membungkuk yang berduri di punggungnya. Bayangan itu berjalan kearah kanan, menuju celah sekat. Bulu kuduk Asuna merinding melihatnya, namun ia meyakinkan dirinya bahwa itu bukanlah hantu. Langkah itu terdengar semakin dekat. Esmee memegang erat rapier-nya, sementara itu Nova membidik anak panahnya ke arah celah sekat. Mereka semua mengambil sikap siap menyerang.


Bersambung.

AN: Istirahat dulu, ya. Ambil minum sejenak sebelum baca level selanjutnya. Karena penulis juga sering istirahat untuk ngambil brownies yang ada di kulkas saat menulis cerita ini. Terima kasih telah membaca dan bertahan sampai disini. Menerima komentar dan saran di kolom review. Note: Penulis tidak menganjurkan untuk memutar lagu ending karena in the next chapter we probably end our game, jadi lebih baik lagunya diputar setelah membaca chapter selanjutnya saja. Hihihi. *nggak penting amat*