"Bukankah game kali ini memiliki banyak sekali orang yang menarik, ketua?" Masih tertutup dalam bayangan, sosok yang dipanggil ketua itu masih terdiam sambil mengatupkan kedua tangannya, memikirkan tentang suatu hal sebelum akhirnya dia mendesahkan nafas dengan kasar.
Apa yang dipikirkannya?
Chapter 04
Island of Truth
Death Hut
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rated : T
Genre : Sci-fi, Romance, Angst, Crime, Adventure
Langit mulai menghitam, gumpalan awan gelap mulai terlihat sedang digiring dari ufuk barat. Cahaya kekuningan tampak terlihat di tepi awan tersebut, menunjukkan bahwa sinar matahari bahkan tidak bisa menembus gelapnya gumpalan awal itu. Ombak mulai datang bersahut-sahutan disertai dengan naiknya permukaan laut menghantam beberapa batuan di pantai yang terjal, dan meninggalkan bekas basah di pasir putih yang tersebar di pantai yang landai dimana sepuluh orang itu berada beberapa waku yang lalu.
Sedangkan di dalam rimbun pohon yang bahkan lebih gelap daripada pantai itu, sepuluh orang sedang berusaha untuk membuka jalan setapak menembus rimba yang nampaknya belum pernah di jamah manusia itu.
"Hahhh...! Mendung itu mengganggu aja sih, kita jadi gak bisa menikmati sunset kan?" Keluh seorang dengan kulit putih pucat sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar melirik ke arah belakang mereka. Sembilan orang yang lainnya tampak terdiam sambil terus berjalan menembus hutan.
"Wow...! Kau benar-benar memprediksi cuaca, Sasuke-kun" Celetuk Orochimaru dengan raut wajah kagum sambil menengadahkan tangannya. Beberapa tetes air mulai berjatuhan dari langit seiring dengan angin kencang yang tiba-tiba bertiup dari arah laut di belakang mereka.
"Meskipun masih hebat aku sih yang bisa memprediksi kebohongan" Lanjut Orochimaru. Cowok berambut raven yang dipanggilnya Sasuke itu hanya memutar bola matanya mendengar penuturan Orochimaru, sementara cewek berambut indigo yang berjalan di sebelah Sasuke hanya tertawa canggung.
"Ga usah sombong deh. Pediksi cuaca yang kayak gitu sih, amatir juga bisa kali" Kata seseorang dengan rambut pirang yang berada di belakang Orochimaru dengan nada angkuh. Pria berambut hitam panjang itu pun menolehkan kepalanya ke arah cowok pirang yang bernama Deidara itu.
"Kalo mau prediksi yang lebih akurat, kau bisa tanya pada seseorang yang bekerja di Badan Meteorologi dan Geofisika, Deidara" Katanya dengan nada angkuh.
"Hah...! Kau bekerja di sana, Deidara-san? Tapi, siapapun bisa menduga terjadinya badai jika tiba-tiba ada angin kencang seperti itu kan, tapi tidak semua orang bisa memprediksi kebohongan seperti diriku. S3 dari jurusan psikologi dari Universitas Tokyo" Kata Orochimaru dengan rasa bangga dalam suaranya.
"Berisik...! Prediksi cuaca memiliki seni tersendiri. Tentang arah angin, awan kumulus, kumulonimbus, bla...! bla...! bla...!" Tidak ada yang mendengarkan sisa dari omongan Deidara.
"Tapi, kenapa kau tidak membicarakan tentang badai itu ketika kau sudah melihat awan blablabla mu itu diatas?" Celetuk seseorang berambut merah dengan nada datar pada Deidara. Pemuda berambut pirang itu pun menoleh pada Nagato yang berjalan di barisan belakang. Apa yang dipikirkan oleh cowok berambut merah itu? Apakah dia akan memaksanya berbohong sama seperti dia memaksa ceweknya?
"Yah...! Prediksi tetaplah prediksi, pasti ada kesalahan atau sesuatu yang tidak terduga kan?" Kata Deidara menyerah menghadapi ucapan datar dari Nagato daripada dia terpaksa berbohong entar. Dari depan, tampak onyx dengan tatapan tajamnya menatap mereka berdua dari ekor matanya.
"Hal tidak terduga?" Batin Sasuke.
"Sasuke-san?" Suara lembut seseorang merasuk ke dalam telinga Sasuke yang sedang memikirkan sesuatu. Pria berambut raven itu pun menolehkan kepalanya menuju sumber suara yang berada di sampingnya, seorang gadis berambut indigo yang sedang memainkan jarinya di depan dadanya.
"Uh, oh. Terima kasih atas waktu itu" Kata Sasuke sambil tersenyum lembut ke arah Hinata. Mendengar hal itu, cewek berambut indigo itu tampak melebarkan lavendernya dengan ekspresi terkejut.
"Eh, waktu itu, e... etto, a... aku hanya ti...tidak mau ada yang mati lagi. Uhm, so... sono..." Hinata tampak menjawab ucapan Sasuke dengan wajah merona dan ekspresi gugup. Gadis itu terus saja menundukkan kepalanya, tidak berani menatap onyx yang sekarang sedang menatapnya dengan tatapan lembut. Sasuke hanya bisa tersenyum kecil melihat tingkah Hinata. Pria itu pun melebarkan telapak tangannya dan kemudian mengelus pelan puncak kepala Hinata.
"Hai, hai. Kejadian antara Nagato dan Konan pasti akan membuat shock cewek manapun, jadi aku tidak akan membiarkan..."
"Sasuke-kun, ini sudah malam" Ucapan Sasuke tadi di potong oleh kehadiran makhluk bertopeng spiral yang tiba-tiba menepuk pundaknya dari belakang.
"Hmm...! Kau benar. Jadi, apakah kau ingin membuat perlindungan atau apa?" Tanya Sasuke sambil melepaskan tangannya dari puncak kepala Hinata. Pemuda bertopeng itu mengangguk pelan. Langit semakin menghitam dengan air yang mulai turun dengan deras. Pucuk daun dari pepohonan raksasa itu juga mulai basah, dan pepohonan yang terlihat rindang itu sudah mulai tertembus oleh air hujan yang datang bertubi-tubi.
"Bahkan jika kita meneruskan perjalanan, kita tidak tahu seberapa besar pulau ini" Kata pemuda bertopeng bernama Tobi itu.
"Pulau ini tidak begitu besar. Aku telah melihat sepanjang horizon di pantai tadi dan melihat adanya sedikit perubahan arah arus. Itu artinya garis pantai nya berbelok hanya dalam beberapa kilometer. Dan juga, harusnya angin laut sudah berhenti dan tidak sekeras ini ketika menjelang malam" Jelas Sasuke. Tobi tampak manggut-manggut mengerti dengan ucapan yang di lontarkan oleh Sasuke tadi.
"Jadi kau mau bilang bahwa pulau ini tidak memberikan perubahan tekanan yang cukup untuk menjadi angin laut sekeras itu. Berarti, ada daratan yang lebih luas di barat sana? Kenapa kau tidak bilang dari tadi?" Tanya Tobi.
"Ada kemungkinan juga bahwa disana juga pulau tidak berpenghuni. Kita tidak melihat seorang pun nelayan yang berlayar melewati pulau ini kan?" Kata Sasuke. Tobi hanya menganggukan kepalanya, mengerti dengan analisis dari Sasuke barusan.
"Pokoknya, yang penting sekarang adalah mencari tempat perlindungan untuk malam ini" Kata Sasuke.
"Kalo mau cari perlindungan, mungkin di daerah bukit sana ada gua. Jika di lihat sih, mungkin sekitar satu kilometer, kita sudah akan memasuki kaki bukit. Dan biasanya di ketinggian beberapa ratus meter ada gua yang bisa kita jadikan tempat perlindungan" Celetuk seseorang yang tiba-tiba berdiri di antara Sasuke dan Hinata. Sasuke pun menolehkan kepalanya ke arah pemuda berambut merah acak-acakan itu.
"Aku seorang pendaki gunung, jadi aku tahu banyak soal kayak ginian. Gak kayak kamu yang cuma teori doang" Kata pemuda yang ternyata adalah Sasori tersebut dengan nada meremehkan.
"Hai, hai. Sekarang kau bisa jalan di depan" Kata Sasuke santai sambil mendorong Sasori untuk berjalan di depannya.
"Deidara-san, bisa kau temani Sasori-san untuk berjalan di depan? Kita butuh tempat perlindungan, dan kalian berdua adalah pedaki gunung dan peramal cuaca yang hebat. Jadi..." Sasuke pun menarik Deidara dari belakang dan menyuruhnya untuk berjalan bersama dengan Sasori.
"Semuanya jadi seperti membanggakan dirinya sendiri ya?" Gumam Hinata. Sasuke yang mendengar ucapan Hinata langsung menoleh ke arah cewek berambut indigo itu dan menatapnya dengan tatapan heran sebelum akhirnya tersenyum lembut.
"Yap...! Semua manusia memang gitu kan? Mereka bangga pada dirinya sendiri" Kata Sasuke menjawab gumaman Hinata.
"Mereka juga menggunakan kata-kata yang menyedihkan dan terdengar jahat" Lanjut Hinata. Sasuke hanya menatap Hinata dengan tatapan heran mendengar ucapannya.
"Ten..tentu saja, Sa...Sasuke-san ti...tidak sep...seperti itu kan?" Kata Hinata ketika melirik tatapan heran Sasuke. Sasuke hanya tersenyum kecil melihat tingkah malu-malu dari Hinata.
"Yah...! Bagaimana ya? Aku memang tidak menyukai kata-kata jahat yang melukai orang lain" Kata Sasuke sambil menatap ke arah langit yang masih menghitam.
"Tapi, bagaimana pun juga, mengatakan hal yang sebenarnya dan melukai orang lain itu lebih baik daripada berbohong dan membiarkan orang itu menemukan kebenaran yang lebih menyakitkan. Bukankah begitu?" Lanjut Sasuke sambil tersenyum lemah ke arah Hinata.
"Semua orang berkata bahwa mereka ingin menjadi diri sendiri, tetapi mereka semua mengatakan hal yang tidak sesuai dengan pikiran mereka. Bukankah itu artinya membohongi diri sendiri?" Kata Sasuke sambil menatap ke arah langit dengan tatapan lembut. Hinata tampak terdiam mendengar ucapan dari Sasuke.
"Membohongi diri sendiri, kah?" Gumam gadis itu tanpa terdengar oleh Sasuke.
"Ne, Hinata. Kamu bilang bahwa kamu tertarik padaku kan?" Kata Sasuke. Hinata tampak sedikit kaget dengan ucapan Sasuke tadi dan memandang cowok itu dengan tatapan heran sebelum menundukkan kepalanya yang tampak merah merona.
"Umm...!" Katanya sambil mengangguk malu. Sasuke yang tampaknya teringat beberapa kisah cintanya di masa lalu tampak tersenyum miris. Tampaknya dia sedang mengumpulkan keberanian untuk menanyakan hal yang menurutnya berada pada level percaya diri yang sangat tinggi.
"Jadi, apakah kamu suka padaku?"
"Heii...! Kalian semua, kemari...! Aku menemukan gubuk untuk berlindung" Sasuke pun langsung menoleh ke arah belakang dimana seorang cowok berkulit putih pucah sedang berlari menembus rimba yang berada di sebelah kanan kelompok tersebut. Sasuke pun memicingkan matanya untuk melihat kemana tujuan dari cowok bernama Shirozetsu itu.
Cahaya...! Ada sebuah cahaya di sana...! Dan itu...
"Sebuah gubuk... bagaimana bisa? Jangan-jangan..." Batin Sasuke mulai merasa was was. Beberapa spekulasi mulai bermunculan di benaknya, tetapi hanya ada satu yang cocok dengan keadaan yang dialaminya sekarang. Dan itu...
"Bahaya, hentikan dia" Teriak Sasuke sambil berlari menuju ke arah Shirozetsu. Tapi tampaknya bocah putih pucat itu tidak mendengar teriakan Sasuke sehingga dia terus berlari menuju gubuk tersebut. Sasuke pun berlari mengejar Shirozetsu di ikuti oleh Orochimaru yang nampaknya tahu kalo bocah berambut ayam itu sedang panik.
"Hei...! Jangan masuk...!" Terlambat, Shirozetsu sudah memasuki gubuk tersebut dan...
"Arrrrrgggghhhh...!" Teriakan memilukan itu terputus begitu saja. Sasuke pun secara otomatis berhenti. Pintu gubuk itu masih terbuka dan belum sempat di tutup oleh Shirozetsu. Ketujuh sisa dari rombongan itu datang dan langsung berhenti begitu melihat Sasuke dan Orochimaru di depan mereka. Kesembilan orang itu hanya berdiri disana sambil menatap dengan perasaan campur aduk antara takut, senang, dan khawatir.
Krieetttt...!
Sebuah tangan berlumuran darah tampak di daun pintu yang berderit terbuka tersebut. Seorang wanita yang tampak lusuh keluar dari gubuk tersebut. Tangan kanan berlumuran darah yang tadi membuka pintu, tampak membawa sebilah pisau daging yang mengkilat seolah sudah diasah ratusan kali. Dan yang lebih mengejutkan adalah, tangan kirinya yang memegang sebuah benda bulat berwarna putih dengan rambut hijau diatasnya.
"Aku tidak suka dengan kepala, tidak ada dagingnya" Katanya sambil membuang kepala Shirozetsu yang di pegangnya. Kedelapan pasang mata itu secara otomatis fokus ke arah kepala yang melayang sebelum akhirnya jatuh di hadapan Kurozetsu.
"Dasar, keberisikanmu membantumu menggali liang kuburmu sendiri. Huh...! Itu pun kalo kami menemukan tubuhmu untuk menguburkanmu" Kata Kurozetsu. Orang macam apa yang tertawa ketika melihat kepala saudaranya dilemparkan seperti sampah di hadapannya.
"Wah...! Hari ini pesta daging ya?" Kata perempuan itu sambil menyeringai seram ke arah delapan orang tersebut. Orang yang pertama kali sadar dengan bahaya yang mengancam adalah Sasori yang berada di barisan belakang. Pemuda berambut merah itu langsung berlari dengan sekuat tenaga menjauhi gubuk kematian itu.
"Run for your life"
~o0o~
Island of Truth
~o0o~
Hujan semakin deras mengguyur hutan yang semakin gelap tanpa adanya cahaya yang menerangi malam kelam itu. Bahkan bulan yang biasanya menjadi lentera di malam hari pun harus rela untuk mengalah dengan mendung tebal yang masih menggantung di atas hutan tersebut. Sembari menunggu butiran air di mendung itu habis, secercah cahaya tampak berjalan menembus malam gelap di hutan itu.
Tetapi, itu bukanlah cahaya yang akan membimbingmu menuju jalan keluar. Justru sebaliknya, dia hanya akan membimbingmu melewati gerbang kematian.
Dan, kesembilan orang yang sekarang berlari mengetahui hal itu. Tak peduli dengan tetesan hujan yang menghujani wajah mereka layaknya pukulan bertubi-tubi, tak peduli dengan jalanan licin yang sudah beberapa kali hampir membuat mereka tergelincir, tak peduli dengan kemana mereka berlari ditengah gelapnya malam tanpa petunjuk yang jelas, mereka terus berlari demi kehidupan mereka. Berlari dari seorang perempuan tua yang nampak seperti penyihir dengan pisau daging di tangan kanannya dan lampu minyak di tangan kirinya.
"Hosh...! Hosh...! Hosh...! Ak.. aku pu...nya i...de" Dengan nafas senin kamis, salah seorang pemuda dalam rombongan itu tampak berusaha berbicara. Sambil tetap berlari dengan sekuat tenaga, dia mencoba untuk membicarakan strategi yang da pikirkan tadi.
"Kita akan berpencar" Kata pemuda berambut raven tadi dalam sekali nafas. Delapan orang dalam kelompok itu langsung terkejut dengan ucapan dari pemuda yang bernama Sasuke itu.
"Bukannya hosh...! kita tidak boleh hosh...! terpisah" Kata Tobi terpatah-patah.
"Hanya satu kilometer hosh...! Kita gunakan gubuk hosh...! itu sebagai pusat hosh...! Kita berpencar menjadi dua bagian hosh...! Yang tidak dikejar maka akan hosh...! kembali. Tetapi hosh...! yang dikejar harus hosh...! melakukan teknik itu lagi" Sasuke tampak terpatah-patah menjelaskan strateginya pada kedelapan orang sisanya.
"Ide bagus. Kita akan berkumpul di gubuk itu untuk membuat jebakan" Timpal Nagato dengan ekspresi datarnya. Kesembilan orang itu pun mengangguk secara bersamaan dan mulai memisahkan diri. Lima Empat, Sasuke bersama dengan Tobi, Orochimaru, Hinata, dan Sasori ke arah kiri sedangkan sisanya berpencar menuju ke kanan. Dengan radius beberapa ratus meter dari gubuk yang terlihat mencolok itu, mereka mencoba memutar balik dengan mengelilingi gubuk itu dari dua sisi. Sementara penyihir kelaparan yang mengejar mereka sekarang tanpa bingung mau milih kemana, langsung berlari ke kiri, menuju ke arah rombongan yang lebih banyak.
"Cih...! Dia kemari" Decih Sasori pelan ketika melihat cahaya itu masih berlari di belakangnya.
"Aku akan berpencar bersama Tobi" Kata Orochimaru tanpa persetujuan langsung berlari menuju gubuk melewati garis lurus, meninggalkan Sasuke yang masih berjalan tetap pada radius mengelilingi gubuk.
"Hei...! Aku saja yang ikut" Teriak Sasori ketika melihat Tobi berlari mengikuti Orochimaru. Bocah berambut merah itu tampak akan mengubah haluan dan mengikuti Orochimaru dan Tobi, tapi sebuah tangan kekar menariknya.
"Kau belok di depan saja hosh...! Dia akan mengikutimu jika kau belok disini" Kata Sasuke yang tampaknya sudah mengerti bahwa perempuan tua itu akan mengikuti siapa yang lebih banyak rombongannya. Sasori pun mengurungkan niatnya dan kemudian terus berlari bersama Sasuke menyusuri busur lingkaran itu.
Beberapa meter mereka lalui dengan nafas seperti orang yang terkena asma dan tidak berobat selama berbulan-bulan. Keringat dan tetesan hujan mengucur deras dari puncak kepala mereka. Baju yang mereka pakai pun basah oleh keringat, celana mereka kotor oleh lumpur. Kaki telanjang mereka telah lecet oleh duri dan batu yang tidak henti-hentinya menggores kulit mereka. Tetapi, mereka hanya harus berlari, karena opsi yang lainnya akan lebih buruk lagi.
"Sasori, kau bisa berpencar sekarang" Kata Sasuke, tetapi bocah berambut merah itu tampak tidak bergeming dan tetap berlari mengikuti Sasuke.
"Tidak, kau saja yang berpencar. Aku dan Hinata akan menjadi umpan" Kata Sasori dengan wajah datar setelah terdiam beberapa detik. Sasuke yang mendengar hal itu tampak terdiam sambil terus berlari di samping Hinata.
"Hei...! Aku yang akan bersama dengan Hinata. Kau menyingkirlah"
"Ini bukan saat yang tepat untuk berkelahi" Bentak Sasuke dengan sekuat tenanganya yang sudah ngos-ngosan.
"Aku yang akan melindungi Hinata. Kau bisa berlari menuju gubuk itu, aku akan menyusulmu bersama Hinata nanti" Kata Sasuke. Sasori tampak terdiam sejenak mendengar ucapan Sasuke.
"Aku... cih...!" Bocah berambut merah itu hanya berdecih pelan tanpa melanjutkan ucapannya sebelum akhirnya dia berbelok dan meninggalkan Sasuke bersama Hinata untuk berlari menjadi umpan untuk penyihir itu.
Meanwhile...
"Apa ini tidak apa-apa?" Tanya Deidara ketika dia di suruh untuk berlari memutar. Menurut strategi dari Sasuke, mereka seharusnya tidak berjalan memutari gubuk, tetapi mereka harus lurus terus menuju gubuk.
"Sebenernya ini sedikit berbahaya. Kelompok tadi terdiri dari lima orang sehingga mereka akan berpencar menjadi dua dan tiga. Penyihir itu pastinya akan mengejar tiga orang, dan dua orang akan kembali ke gubuk. Dengan begitu, akan ada enam orang yang akan berlari ke gubuk dan tiga orang jadi umpan" Jelas Kakuzu. Deidara tampaknya masih belum paham dengan penjelasan Kakuzu yang tampak menggantung itu.
"Kita punya keuntungan disini, jika kita berlari menjaga jarak sampai satu kilometer jauhnya dari tiga orang itu. Maka tiga orang itu pasti akan mati. Membunuh tiga burung hanya dengan satu lemparan batu" Kata Nagato dengan wajah datarnya.
"Tapi, kelemahan dari rencana ini adalah kita tidak tahu apakah mereka akan berpisah atau tidak. Jika mereka tidak berpisah, maka rencana ini akan berbalik pada kita yang hanya empat orang" Lanjut Kurozetso.
"Kita tahu jalur pelarian Sasuke sehingga yang perlu kita lakukan hanyalah menunggu di titik terjauh yang paling aman sambil mengawasi gubuk itu. Ketika ada yang kembali, maka kita akan bergerak sedikit untuk membuat orang yang mereka tinggalkan terpisah sejauh satu kilometer dengan kita, dan boom...!" Lanjut Kakuzu.
"Setelah itu kita bisa buat jebakan di gubuk itu seolah tidak terjadi apa-apa" Nagato pun mengakhiri rapat strategi miliknya. Deidara hanya bisa melebarkan matanya yang penuh dengan keterkejutan mendengar strategi mengerikan dari tiga orang yang dia ikuti tadi. Dalam hati dia benar-benar bersyukur bisa ikut dengan Nagato dkk, meskipun perasaannya benar-benar takut dengan kekejaman mereka.
"Kau menyukai seni kan? Ini adalah seni membunuh tanpa mengotori tanganmu"
Kembali bersama Sasuke….
Brukh...!
"Hinata...!" Sasuke pun langsung berhenti begitu melihat Hinata jatuh terjerembab. Dia pun berjalan menghampiri Hinata dan mengangkat wajahnya. Wajah cantik itu tampak memejamkan mata, bibirnya membiru dan bergetar kedinginan, tapi tangan putih ramping miliknya masih mencoba untuk menahan beban tubuhnya untuk berdiri.
"A...Ak...ku, mas...sih kuat, Sa...ssu...ke-san" Katanya terpatah-patah. Sasuke pun memeluk tubuh ringkih Hinata yang sudah lemas tersebut.
"Aku akan melindungimu Hinata. Bagaimana pun caranya" Kata Sasuke pelan sambil mengangkat Hinata diatas punggungnya.
"Untuk sementara ini, istirahatlah dulu di punggungku" Gumam Sasuke lirih. Wajah tampan itu juga tampak pucat, bibirnya pun mulai membiru. Garis-garis air yang jatuh dari helaian raven miliknya tampak seperti tetesan air mata yang menghiasi wajahnya yang tampak sedih. Biji onyx yang biasanya tajam itu sekarang mulai tampak suram dan di penuhi oleh keputusasaan.
Tapi, bunyi gigi yang bergemertak di bibirnya menggambarkan betapa kuat tekadnya untuk melindungi gadis berambut indigo yang sekarang sedang pingsan di punggungnya.
"Semoga ucapan Sasori benar"
TBC
Huft…! Ini masih lebaran kan? Masif belum telat buat ngucapin permintaan maaf ya XD?
Apabila author punya salah, mohon maaf ya ^_^. Oh, iya…! Untuk jawaban beberapa review, mungkin author singkat aja deh.
Hyugahime, Sasori kelihatan senewen sama Sasuke yah XD? Ada alasannya kok, baca aja diatas. Kira-kira apa ya?
Lovely sasuhina, Udah tau kan kalo otak Nagato penuh dengan ide pembunuhan?
Ajisu Ramuri, The Deathly Lavender, yang nonton bakuman pasti tahu Darimana author dapet inspirasi fic ini. Tapi karena author kurang suka fantasy yang gak sci-fi (?) maka jadilah author bumbui seperti anime Btooom XD. Moga berkenan aja deh
AAN males login, konsepnya sama kaya Hunger Game, Death Race (tapi saya belum liat), Dice (udah ga ngikutin), tapi mereka ga boleh nge bunuh. Dan aturan seseorang boong kaya gitu, nanti ada sendiri kok hehe. Dan kenapa Sasuke berubah jadi 'hangat'? Hmm…! Kenapa ya XD?
Yosh…! Minna, sehabis ini mungkin banyak hal tidak terduga yang akan muncul. Juga… ingat peringatan author di chapter sebelumnya? Chapter depan juga memberikan adegan berdarah yang (mungkin sih) lebih seru lagi XD.
Happy Read.
