.

.

.

Title: The name of the curse is...

Genre: Romance

Rating: T

Summary: Spin-off dari Years of Youth milik tasyatazzu. Albafica percaya bahwa ia dikutuk Minos, Slytherin binal yang senang menggodainya. Dan nama kutukan itu adalah...

Warnings: OOC. Parah. Shounen-ai bordering yaoi. Canon HP yang diporak-porandakan karena lebur dengan canon SS. Possible typo(s).

Tribute: Untuk budota, manusia gamang yang menginspirasi pembuatan fanfic ini. Untuk Sisil dan Wina, yang roleplay konyol MinosAlba-nya juga menjadi sumber inspirasi.

Disclaimer: Harry Potter © J.K. Rowling, Saint Seiya © Kurumada Masami, Saint Seiya: the Lost Canvas © Teshirogi Shiori, Years of Youth © tasyatazzu

.

.

.

IV. Epilogue

.

.

.

Rumah Sakit St. Mungo untuk Penyakit dan Luka-Luka Sihir seperti biasa penuh oleh penyihir-penyihir yang hilir mudik di koridor-koridornya, baik itu yang memang bekerja di sana sebagai penyembuh atau orang-orang yang hendak menyambangi kerabat dan kenalan masing-masing. Memasuki waktu makan siang seharusnya tempat itu berubah lebih sunyi karena beberapa pegawainya pergi untuk beristirahat atau ganti shift, namun kehadiran seseorang membuat mereka bertahan di pos masing-masing, sekedar untuk memandangi ataupun bergosip tentang seseorang tersebut.

Seseorang yang dimaksud tanpa mengetuk pintu apalagi mengucap "Permisi" terlebih dahulu melenggang masuk ke dalam sebuah ruangan di ujung lantai tiga, menemukan seseorang dengan surai sewarna jerami berdiri memunggungi pintu masuk.

"Selamat siang, Kepala Penyembuh Albafica. Bisa minta check-up sebelum Anda pergi makan siang?"

Tidak perlu membalikkan badan pun Albafica tahu siapa yang menyapanya itu. Hanya ada satu orang yang cukup kurang ajar untuk masuk ke dalam ruangannya tanpa izin. "Boleh saja. Sepertinya otak Anda kehilangan beberapa mur, hei Bapak Calon Hakim Ketua Wizengamot, jadi nanti minta Sir Shion yang bertugas di lantai empat untuk mengetuk kepala Anda dengan palu saja, ya."

"Kayaknya bakal sakit, ya, diketuk palu. Kira-kira, pacar si Calon Hakim Ketua mau menemani selama proses pembenahan otak itu berlangsung, tidak, ya?"

"Bermimpilah, Minos."

Minos tertawa, lalu merangkul Albafica, menenggelamkan wajahnya di dalam rambut tebal sang kekasih, mencium wangi syampo aroma mawar dari helaian-helaian kecokelatan itu. "Sudah selesai, 'kan? Ayo kita makan siang bersama."

"Sebentar, biar kurapikan ini dulu."

Terdengar dua suara tuk pelan saat Albafica merapikan berkas-berkas di mejanya, dan setelah ia meletakan tumpukan kertas tersebut dan yakin bahwa ruang kerjanya sudah tertata rapi, penyembuh muda itu menggenggam tangan Minos yang masih melingkar di bahunya, membawanya turun agar mereka bisa bergandengan.

"Ayo."

Keduanya sama sekali tidak menggubris tatapan iri yang dilempar oleh para staf rumah sakit yang mereka lewati. Sudah jadi makanan sehari-sehari, karena semenjak Albafica bekerja di sana Minos selalu menyempatkan diri setidaknya sekali seminggu untuk makan siang bersama atau menjemput Albafica pulang setelah shift kekasihnya itu selesai. Herannya, para penyembuh itu tidak pernah bisa menerima fakta bahwa kolega tercantik mereka statusnya sudah taken, dan yang mereservasi pun orangnya tidak bisa dengan mudah ditandingi—salah satu lulusan terbaik Sekolah Sihir Hogwarts dan populer di kalangan pejabat Kementerian Sihir.

Kini mereka berada di salah satu restoran Muggle terdekat dari Purge and Dowse, Ltd. Malas berjalan jauh untuk sekedar makan siang, mereka beralasan.

"Kudengar pagi ini Kardia check-in lagi?" Minos memutar garpunya, membuat spaghetti Naepolitan pesanannya melilit di sana. "Heran juga, kenapa dia tidak sekalian memboyong semua barang bawaannya dan tinggal di sana? Pacarnya yang Ketua Penyembuh di lantai empat pasti akan senang sekali."

Albafica tertawa, masih mengaduk es batu di dalam gelas limun pesanannya. "Apa mau dikata; pekerjaannya sebagai Auror membuatnya sering berhadapan dengan bahaya. Yah, walau aku setuju ia terlalu sering terluka... kudengar, ia sengaja mengejar target-target berhaya. Seolah-olah dia mengejar malaikat maut."

"Harusnya dia menawarkan diri untuk bekerja jadi sipir tahanan di Azkaban kalau memang ingin bertemu malaikat maut. Atau cari saja Rhadamanthys—pasti dia akan dengan senang hati membantu Kardia."

"Rhadamanthys belum mengubah ambisinya?"

"Belum, kalau dari ceritanya minggu lalu, saat kami hang out bersama Aiacos setelah sekian lama."

Meneguk sedikit minumannya, Albafica lalu berujar sambil tersenyum, "Kalian bertiga juga tidak banyak berubah. Masih lengket satu sama lain."

Kali ini, Minos yang tertawa, membuat Albafica tercenung selama beberapa detik, lalu kembali tersenyum.

"Ternyata memang benar."

Sembari memasukan gulungan spaghetti ke dalam mulut, Minos memberi tatapan bertanya kepada Albafica, yang segera direspon dengan, "Ingat kejadian sepuluh tahun yang lalu? Saat aku 'disesatkan' oleh Sir Apollo."

"Oh." Menelan makanannya, pejabat kementerian satu itu lalu menyeringai lebar. "Tentu saja ingat. Kau benar-benar polos dan imut waktu itu, Albafica. Dengan mudahnya kau percaya bahwa yang kau rasakan waktu itu adalah kutukan."

"Sebenarnya, sampai sekarang pun aku masih percaya bahwa kita memang mengutuk satu sama lain."

Dahi Minos berkerut, tapi setelah lama ia memandangi senyum penuh arti yang tak juga pergi dari wajah Albafica, baru ia mengerti dan menimpali.

"Kau benar. Karena sampai sekarang pun kita masih tidak bisa terlepas dari efeknya, ya?"

Keduanya tertawa bersamaan dan, tanpa memedulikan tatapan aneh yang dilempar oleh orang-orang di sekeliling mereka, menggenggam tangan dan menyentuhkan dahi satu sama lain, berbagi pengaruh kutukan yang telah menempel permanen pada diri mereka semenjak sepuluh tahun silam.

.

.

.

Tamat

.

.

.

I seriously can't stop loving this pair. Tangan saya sampai nyaris nggak bisa berhenti bikin fanart Albafica dalam balutan jubah seragam Hogwarts dan jubah penyembuh karena roleplay makhluk-makhluk sinting asal MSN itu beneran konyol tapi fluffy gimanaaaaa gitu. Sil, Win, biarpun kalian hobi banget nge-bully saya, I love you guyyys (kapan kita bikin HP AU Day lagi? Shion belum sempat dibuat merana itu! :p).

Maaf untuk budota yang sudah sering direpotin dan dihujat karena versi blognya suka pendek-pendek begitu, dan terima kasih karena sudah sering bikin saya fangirling ("DEDEEEEP!", "ECIE AKHIRNYA ALBA MUNCUL", dsb) macam orang gila di kosan. Jangan sering galau, ya, bu. Kasian itu Kardidi disiksa mulu batinnya, padahal zodiak sendiri. Ehehe.

Ada pertanyaan atau kritikan? Silahkan dilayangkan ke laptop saya melalui review. Tapi jangan anon, ya, soalnya nggak mungkin saya balas.

Terima kasih sudah mau membaca dari awal sampai akhir. Sampai ketemu di fanfiksi saya yang lain! *bows*