Forbidden Loving a Human © trimaSkentir 69

Naruto © Masashi Kishimoto

WARNING! OOCness, wagu, de el el de es te

Enjoy! :D


Chapter 4

Naruto tidak mengerti kenapa semuanya harus begini. Kenapa ia harus terjebak dalam kisah cinta yang membingungkan. Di satu sisi ia sebetulnya sangat mencintai Sasuke. Tapi hatinya kembali bimbang saat ia melepas paksa ciuman dari sang kakak. Ia tahu kakaknya begitu menyayanginya. Bahkan mencintainya. Ia juga menyayangi kakaknya. Ia tidak mau meninggalkan kakaknya. Lantas pria mana yang harus ia pilih? Ia bingung.

Mata biru safirnya menoleh kearah lain, menghindar dari tatapan Naruki. Seketika itu pula, ia menangkap sosok lelaki bertubuh tinggi tegap yang sangat dikenalinya sedang berdiri tak jauh dari tempat mereka berada.

"Eh? Sasuke?" gumam Naruto panik. Sasuke pasti memergokinya sedang berciuman dengan Naruki tadi. Sial! Alasan apalagi yang harus ia berikan pada Sasuke kali ini? Sementara itu, Sasuke yang merasa sudah tidak tahan untuk tetap berada di sana memilih pergi menjauh dari tempat itu.

"Sasuke! Tunggu!" teriak Naruto pada sosok berambut hitam itu. Tapi Sasuke hanya mengabaikannya.

Pemuda yang begitu ia cintai itu pun pergi meninggalkannya tanpa berkata apa pun. Membuat Naruto menjadi semakin bingung harus bagaimana.


UKS Konoha International High School

2.30 a.m.


"Duduklah, Sakura," tawar Kakashi sambil menepuk-nepuk kursi di sebelahnya. Sementara itu yang ditawari duduk malah berdiri kaku di tempat. Tubuhnya serasa membeku seketika begitu mendengar tuturan sang guru tadi. Guru tampan berambut perak yang ter-perfect di sekolahnya itu memanggilnya langsung dengan nama kecilnya? Pasti ada yang salah disini.

Sakura tiba-tiba jadi salah tingkah. Ia mendudukkan diri ke kursi yang ada di sisi kiri sang guru dengan gugup. "Err.. Baik, Sensei," katanya sambil mencoba menutupi wajahnya yang memerah.

"Kau sedang ada masalah?" Tanya Kakashi to the point.

"Eh?" Sakura memandang mata beriris hitam yang menatapnya malas itu bingung. Bagaimana ia bisa tahu? Apa kelihatan dari raut wajahnya? Tapi walaupun memang kelihatan, buat apa juga sensei-nya ini harus peduli?

"Ti-tidak. Memang kenapa, Sensei?"

"Jangan berbohong."

Deg!

Sakura sudah tidak bisa kabur lagi dari situasi ini. Mata itu menatap dalam ke matanya dan memaksanya untuk berkata jujur seakan ia mengetahui semuanya.

"Memang apa urusan Sensei menanyakan hal seperti itu?" Sakura mencoba berkilah. Masih tidak mau menyerah.

Untuk saat-saat singkat itu, Sakura merasa tatapan Kakashi melembut. Sejenak terdengar helaan napas berat dari mulut pria di sampingnya itu. Kemudian mata hitam itu kembali menghujam kedua iris emerald Sakura dengan tatapan intimidasinya.

"Aku sudah lama mengawasimu, Sakura," jawabnya lirih. Mata emerald Sakura terbelalak tak percaya. "Aku selalu mengawasimu," ulangnya lagi dengan nada yang lebih pelan.

"Untuk apa Sensei melakukan hal seperti itu?" tanya Sakura penasaran.

"Sakura," Kakashi mengambil napas, memberi jeda pada kalimatnya. Ia memejamkan matanya, kemudian membukanya kembali dan menatap Sakura dalam. Ada banyak emosi dalam tatapan matanya itu.

"Aku menyukaimu, sejak dulu."

Akhirnya kalimat yang selama ini selalu ia simpan dalam-dalam di hatinya pun keluar juga.

"Sensei…" Sakura menatap Kakashi tak percaya. Matanya terbelalak menatap sang guru nanar. Tubuhnya tiba-tiba menggigil dan seketika terasa sulit untuk digerakkan. "Aku minta maaf," bisiknya penuh penyesalan.

Pria berambut keperakan itu segera merenggut kedua bahu Sakura, membuat Sakura tersentak kaget. Ia mendongak menatap Kakashi. Mata jadenya berkaca-kaca.

Dia menangis untuk orang itu?

Seketika kemarahan dalam hati Kakashi menyentak keluar begitu sosok pemuda berambut hitam yang dibencinya itu mengisi pikirannya.

Pegangannya pada kedua bahu Sakura mengencang, membuat sang gadis mengerang sakit. "Jangan katakan kau masih mencintai Uchiha brengsek itu?" tanyanya, matanya menyorotkan kebencian yang mendalam pada sang emerald.

"Saya..." Air mata Sakura yang sudah tak bisa lagi terbendung pun akhirnya meluncur keluar dari matanya, menetes membasahi rok seragam yang dikenakannya. "..Saya tidak tahu sensei. Saya..," ia berkata terbata-bata. Setengah takut dan setengah merasa bersalah.

Melihat cairan bening yang mengalir keluar dari kedua mata emerald itu, Kakashi menyadari bahwa ia sudah melakukan hal yang salah pada Sakura. Ia menyakitinya.

Pegangan kedua tangannya di bahu Sakura melonggar. Matanya menatap Sakura dengan penuh rasa bersalah karena telah membuatnya menangis.

"Kemarilah," ujarnya, seraya menuntun Sakura untuk lebih mendekat padanya, kemudian merengkuhnya dalam satu pelukan hangat.

Kepala Sakura beristirahat di dada Kakashi. Telinga dapat dengan jelas mendengar suara detak jantung Kakashi yang stabil, membuatnya merasa sedikit lebih rileks. Tapi air matanya masih tak kunjung dapat berhenti. Sakura terisak-isak di dalam pelukan gurunya itu.

Tiga jam berlalu dengan Sakura yang menangis tanpa henti. Kakashi masih disana memeluknya, berusaha menenangkannya. Ia dengan sabar menunggu.

Setelah dirasanya isakan Sakura sudah berkurang—dan sepertinya gadis itu juga sudah berhenti menangis, malah sepertinya ia jadi mengantuk dan tertidur di pelukannya—Kakashi pun melepaskan pelukannya. Ia menjauhkan tubuh Sakura darinya. Ia menatap Sakura lembut sementara mata hijau bening itu juga membalas menatapnya. Tangan kanannya bergerak menuju wajahnya, kemudian jari-jarinya ia selipkan ke dalam masker biru yang menutupi wajahnya.

Dengan satu gerakan, ia menarik masker itu dan merobeknya hingga wajahnya pun kini terlihat.

Mulut Sakura ternganga begitu menatap wajah tampan sang guru yang ada di depannya. Matanya terpaku pada sosok itu. Ia terpesona.

Bibir sang pria bermata hitam kelam itu bergerak dan membentuk ucapan, "Aku mencintaimu."

Sakura tidak bisa mendengar suaranya kala itu—ia berkata lirih sekali—tapi Sakura bisa merasakannya. Raut wajahnya dan segala gestur tubuhnya menunjukkan semuanya.

Kedua tangannya secara tak sadar ia lingkarkan ke leher Kakashi. Wajahnya bergerak mendekat dan semakin dekat hingga hidung dan dagu mereka bersentuhan. Dan sekarang Sakura sudah mulai memiringkan kepalanya…

Deg!

"…Tidak." Kakashi bergerak mundur, menghindari Sakura. "Jangan."

"Kenapa, Sensei?" Sakura masih berusaha menatap Kakashi, tapi pria itu selalu menghindari tatapannya.

"Aku tidak bisa, Sakura," ujar Kakashi lirih.

"Katakan," Sakura merengkuh tangan Kakashi dan menggenggamnya erat. Matanya selalu terpaku pada mata hitam pria itu. "Kenapa?" tanyanya, dengan kekecewaan di hatinya.

Kedua alis pria itu mengernyit, membuat keningnya tampak berkerut. Kemudian ia membuka mulutnya, berusaha menjawab pertanyaan Sakura meski terbata, "Karena aku… adalah…"

"Adalah?" Tanya Sakura penasaran.

Kakashi menatapnya horor.

"—seekor bekicot."

"HAH?" Mulut Sakura menganga superlebar begitu mendenagr jawaban super-tidak-masuk-akal dari Kakashi. Sebelah alisnya terangkat tinggi.

"BUH—" Ujung bibir Sakura terangkat tinggi, nahan ketawa.

"BUHAHAHAHAHAHA!"

Tapi toh akhirnya keluar juga.

"Sensei jangan ngaco deh. Jelas manusia begini masa ngaku-ngaku bekicot? Hahaha," kata Sakura sambil mengipas-ngipaskan tangannya di depan Kakashi.

"Aku ini seorang pangeran mahkota. Kerajaan bekicot, tentu saja. Aku ini seekor bekicot," jelasnya. Sakura menatapnya tak yakin. Gadis ini masih tidak percaya, eluh Kakashi dalam hati. "Aku serius," katanya penuh penekanan.

"Aku nggak percaya."

"Apa perlu kubuktikan?"

"Terserah sensei, hahaha," ujar Sakura sambil tertawa. Ia belum bisa berhenti tertawa. Kalau menahannya rasanya terlalu sulit.

Bodoh, kenapa kau malah tertawa? Ujar Kakashi dalam hati, kesal.

Pria bermabut keperakan itu pun menghela napas pasrah.

"Baiklah, kalau begitu," katanya. "Sakura, cium aku."

"Eh? Apa?" Tanya Sakura terkaget-kaget. Wajahnya memerah seketika.

"Kalau aku mencium orang yang kucintai, sihir yang ada pada tubuhku akan langsung menghilang," jelasnya dengan serius. "Dan aku akan kembali menjadi bekicot."

"Hah?"

"Cium aku. Sekarang," ujar Kakashi. Terdengar seperti memerintah.

Baiklah, ujar Sakura dalam hati.

Keduanya saling mendekat satu sama lain, mengulang lagi apa yang mereka lakukan beberapa menit sebelumnya. Keduanya sama-sama memejamkan mata mereka. Lagi, kening dan hidung Kakashi dan Sakura saling bersentuhan. Kemudian…

Disusul dengan bibir mereka yang akhirnya menyatu.

BUUM!

Sakura merasa tubuhnya tiba-tiba dikelilingi kumpulan asap yang mengepul, membuat paru-parunya yang sedaritadi berhenti bernapas semakin terasa sesak. Ditambah dengan sensasi aneh yang ia rasakan dibibirnya. Rasanya basah.

Merasa semakin risih dan penasaran, Sakura pun membuka matanya perlahan dan...

...

Matanya terbelalak melihat seekor bekicot berukuran besar bergerak-gerak di bibirnya dan sekitar mulutnya. Seekor bekicot berukuran besar bergerak-gerak di bibirnya dan sekitar mulutnya.

"…!"

Sakura buru-buru menarik bekicot yang menempel di bibirnya itu dan melemparnya asal.

"WHOT THE HECK?" teriaknya syok. Mata emeraldnya menatap horor sosok bekicot yang sekarang bergerak menuju ke arahnya. "Kakashi-sensei beneran bekicot? Hiiiih~"

Sakura mengusap-usap bibirnya dengan jijik, lalu berlari menuju pintu keluar. Ia membuka pintu itu dengan membantingnya keras-keras ke dinding, kemudian berlari pergi dari tempat itu sambil menutupi mulutnya dan memegangi perutnya.

Sepertinya gadis itu mau muntah.

"Sakura, jangan tinggalkan aku!" Kakashi bergerak perlahan-lahan dari tempatnya berdiri. Sayang, tubuhnya sudah kembali ke bentuk semula. Kembali ke sosok becikotnya. Untuk berlari mengejar Sakura, tentu itu sudah tidak mungkin lagi.

Air mata mengalir dari kedua pelupuk matanya, bercampur dengan lender-lendir yang ada pada sekujur tubuhnya.

"Aku tahu seharusnya aku tidak boleh, bahkan dilarang mencintai manusia. Tapi aku jatuh cinta padamu. Aku rela menjadi manusia demi kau, Sakura. Sejak saat aku melihatmu jatuh terperosok dan terjepit got 1 tahun yang lalu, aku tidak sengaja mengintip celana dalammu, dan sejak saat itu, entah mengapa aku jatuh cinta padamu. Aku… memang merasa pantas ditolak. Tapi… tapi.."

"Tapi nggak harus gini juga kan cara nolaknya? SAKURA, JANGAN JIJIK PADAKU!"

Tangisan sang pangeran bekicot ajaib pun menghiasi malam yang dingin di dalam ruang kesehatan sekolah itu. Diiringi dengan ke-OOC-an yang semakin menjadi.


To Be Continued


Halo. :D

Maaf membuat para pembaca menunggu terlalu lama. Saya memang penulis yang paling sering terkena WB diantara member yang lain. ._.

Yah, begitulah. Btw, ceritanya aneh ya? Hahaha. *ketawa garing*

Terimakasih atas apresiasi kalian selama ini. Errr.. review lagi ya? :D

- trimaSkentir 69 -