Kompor, lemari dapur, kulkas dan meja makan. Pemuda manis berambut hitam itu hanya berjalan mondar-mandir mengambil sesuatu dan menatanya di meja kayu bertaplak hijau daun.
Hanya berbalutkan kemeja yang hanya menutupi hingga bokongnya, sehelai benangpun tak ada yang menempel di kaki panjangnya. Membiarkan sebelah punggungnya terlihat karna hanya dua kancing bagian bawah yang pemuda itu kaitkan.
Pemuda manis yang baru beberapa bulan lalu menjadi istri orang ini tersenyum jenaka melihat pemuda abu-abu yang sedari tadi diam seperti memikirkan sesuatu.
Selalu seperti ini, selama tiga bulan ini mereka berdua menyandang status sebagai pasangan yang sudah menikah, setiap malam setelah kegiatan ekhem suami istri yang Wonwoo rancang, paginya suami kekanak-kanakannya itu pasti duduk dengan ekspresi blank dengan bibir tebalnya yang sedikit terbuka sambil menunggu Wonwoo menata sarapan.
Walaupun lucu melihat Mingyu seperti kebingungan dan pastinya otak bocahnya itu memutar ulang setiap kejadian ekhem- itu, tapi kadang Wonwoo merasa bersalah sudah meracuni fikiran polos suaminya dengan fikiran dewasa miliknya. Sebenarnya Mingyu sudah mulai terbiasa melakukan hubungan badan itu kalau saja Wonwoo tak menambahkan hal macam-macam di dalamnya.
Minggu-minggu pertama walaupun masih takut dan menolak tapi Mingyu mulai terbiasa melakukan proses pembuatan adik bayi (Kata Wonwoo), tapi semakin kesini Wonwoo mulai menambahkan hal yang sebenarnya biasa saja jika otak Mingyu sama dengan isi otak Wonwoo.
"Wonu... " Panggil Mingyu lirih, matanya masih berekspresi bingung. Wonwoo tersenyum mendengar panggilan Mingyu, pemuda manis itu lalu duduk manis di hadapan suaminya.
"Iya Gyu sayang... "
"Semalam kenapa bukan Gyu yang jadi kudanya? "
"Em- karna Wonu yang harus jadi kudanya, Gyu kan cowboy~ "
"Tapi kan kasihan Wonu Gyu naiki, Gyu kan berat~ "Matanya menatap Wonwoo sedih.
"Tidak berat kok, kuda-kudaan yang seperti itu tidak berat... "Jawab Wonwoo.
"Tapi Wonu bilang itu gaya anjing... "
"Eh- em- it-itu "
'Ctak!
"Itu gaya srigala Gyu, jangan mau! Nanti Gyu berubah jadi Srigala! Aauuu "
"Yak Lee Jihoon! Jangan racuni Mingyu! "Protes Wonwoo, pemuda itu memijat keningnya yang terkena sentilan Jihoon.
"Kau yang racun! Lagipula apa-apaan ini? mentang-mentang tak ada Nyonya Min Yoong kau seenaknya berpakaian seperti ini? Kau pamer paha dan bokongmu hah?! "Omel Jihoon, pemuda imut itu mendudukan bokongnya dengan kasar di kursi meja makan, lalu melirik Wonwoo sinis.
"Bilang saja kau tergoda dengan bokongku! "Gumam Wonwoo diakhiri dengan lirikan mengejeknya ke Jihoon.
"Ya, but not your dick " Balas Wonwoo.
"Jihoon jorok! Jihoon tidak sopan! "Omel Mingyu menunjuk-nunjuk Jihoon dengan telunjuknya seolah menghakiminya.
"Gyu? Gyu tau dari mana?! Siapa yang mengajari Gyu?! Memang Gyu tau artinya "Tanya Wonwoo kebingungan, siapa yang memberitahu suaminya tentang arti dari ucapan Jihoon itu?
"Tentu saja Gyu tau, Wonu sering menyebutnya tiap malam, Wonu juga sering pegang i- "
"Jeon Wonwoo racun! Dasar! Jalang! Sialan! Kau menodai bocah polos! Wonwoo pedhoplie! "Omel Jihoon, dengan brutal pemuda imut itu memukuli Wonwoo dengan sarung tangan oven.
Sedangkan Wonwoo berteriak kesal, sepertinya menyuruh Jihoon menginap di rumahnya adalah kesalahan.
Sebenarnya ini salah Wonwoo yang tak masuk kuliah beberapa hari karna tidak enak badan, sehingga Jihoon membantunya mengerjakan tugas dan skripsi milik Wonwoo hingga pemuda bertubuh kecil itu sampai mengenap di rumah Nyonya Min Yoong yang kini juga menjadi rumah Wonwoo.
Beruntung Min Yoong sibuk mengurus perusahaannya di China, karna sudah pasti Min Yoong terganggu dengan Wonwoo dan Jihoon yang selalu ribut itu.
Dan beruntung juga karna Wonwoo bisa berbuat aneh-aneh kepada putra semata wayang Min Yoong, keke.
~000~
Wonwoo hamil, setidaknya itu yang di dengarnya dari dokter. Wonwoo kembali mengeluarkan kertas dari amplop putih yang diterimanya dari rumah sakit. Dua minggu, usia kandungannya baru dua minggu. Wonwoo masih tak percaya dengan ini, ia tak percaya bahwa ia di percaya oleh Tuhan untuk secepat ini mendapatkan momongan, hanya tiga bulan waktu pernikahannya.
Tak terasa matanya basah menahan haru, ia harus memberi kabar bahagia ini pada Mingyu dan Min Yoong. Pemuda manis itu menghapus air matanya, lalu dengan menggemaskan pemuda itu menahan tawanya. Tak sia-sia kerja kerasnya dengan Mingyu selama ini.
~000~
Min Yoong menatap aneh menantunya yang sedari tadi tersenyum sendiri, bahkan Mingyu menghentikan aktivitas makan malamnya untuk menatap Wonwoo.
"Wonwoo? Kau baik-baik saja? " Tanya Min Yoong setelah meletakan sumpit ke samping mangkok di hadapannya.
"Wonu aneh~ " Komentar Mingyu
"Tentu saja aku baik Mama! Sangat baik! Ahhh~ aku sangat bahagia? "Ucap Wonwoo antusias, membuat Min Yoong dan Mingyu semakin bingung.
Menyadari tatapan bingung yang diterimanya, Wonwoo mengeluarkan amplop putih yang sedari tadi di simpannya di kantung celana piyamanya.
"Mama! Baca ini! "Dengan semangat Wonwoo menyerahkan amplop itu pada Min Yoong.
Min Yoong membca kertas dalam amplop itu, Mingyu yang tak tau pun jadi penasaran, sedangkan Wonwoo menunggu dengan semangat reaksi ibu mertuanya itu.
Min Yoong menghembuskan nafasnya, lalu memijat keningnya.
"Mingyu, makannya sudah selesai kan? Masuk kamar sekarang... "Min Yoong menatap Mingyu lembut.
"Itu apa Mama? Beri tahu Gyu~ "Rengek Mingyu.
"Bukan apa-apa, nah sekarang masuk kamar, Mama mau bicara dengan Wonwoo"
Wonwoo mengerjap bingung menatap kepergian Mingyu, pemuda manis itu duduk gelisah di kursi meja makan. Kenapa seperti ini? Reaksinya tidak sesuai bayangannya.
"Wonwoo, kau hamil? "
"... "
"Dua minggu? " Lanjut Min Yoong karena tak dapat respon dari Wonwoo, dengan lembut tangan hangat wanita itu menggenggam tangan menantunya, membuat Wonwok berjengit kaget dan menatap Min Yoong.
"Bukankah ini berita bagus? " Tanya Wonwoo hati-hati.
Min yoong melepaskan tautan tangan mereka, wanita itu kembali menghembuskan nafasnya dan memijat pangkal hidungnya.
"Ayah Mingyu, Kim Gyu Han meninggal saat Mingyu masih berumur lima tahun dalam sebuah kecelakaan. Gyu Han meninggal karna menyelamatkan adik perempuannya yang tertabrak truk saat menyebrangi jalan. Namun sayang, jarak truk sudah terlalu dekat dan Gyu Han yang kurang cepat, akhirnya mereka berdua tertabrak dan meninggal di tempat... "
"... " Wonwoo terdiam, pemuda itu memandang sedih binar mata Min yoong yang berkaca-kaca mengingat kilas memori masa lalu itu.
"Wonwoo, Gyu Seul adik suamiku itu sama seperti Mingyu, dia mengidap autisme dan itu juga yang di idap kakek Ayah suamiku. Itu genetik Won. Aku tak mau membayangkan ini ataupun menduga-duga, tapi aku takut cucuku akan menuruninya... "
'Deg
Lemas, Wonwoo bahkan sempat limbung ke depan dan hampir mendaratkan wajahnya ke meja kaca itu jika saja tangannya tak segera menyangga berat tubuhnya, pemuda itu menggeleng, menggeleng cepat dan menghapus air mata yang entah kapan sudah jatuh membasahi pipinya yang merona alami.
"Ma-mama A-anakku "
"Won... "
"Aku tak berharap itu terjadi, tapi bagaimanapun aku harus siap dengan kemungkinan terburuk itu. Dan aku akan tetap merawatnya karna dia tetap anakku "
~000~
Wonwoo benar-benar menjaga kandungannya dengan baik sesuai saran dokter, pemuda itu sangat rajin dan tepat waktu jika harus kontrol kandungan, Wonwoo yang tak terlalu suka dengan sayuran dengan giat pemuda itu memakannya dan mengatur pola makannya. Dokter bilang Wonwoo tidak boleh stress, pemuda itu bahkan berhenti kuliah sementara, bahkan Wonwoo yang tadinya ikut membantu perusahaan Min Yoong karna kondisi Mingyu yang tidak memungkinkan, kini menarik diri dari dunia bisnis itu.
Usia kandungannya sudah memasuki empat bulan, perutnya sudah mulai membesar. Wonwoo sudah menjelaskan pada suaminya kalau ia sedang hamil, tapi sepertinya Mingyu tidak mengerti, pemuda tampan itu hanya tau kalau di dalam perut Wonwoo ada bayi, dan Mingyu takut karna ukuran perut Wonwoo yang membesar, Mingyu merasa Wonwoo seperti badut.
"Gyu sedang apa? "
"... "
"Gyu... "Ulang Wonwoo.
"... "
Wonwoo menghembuskan nafasnya, jika Mingyu sudah ada di dunianya sendiri pemuda itu benar-benar tak bisa diganggu, Mingyu saat ini sedang menggambar, menggambar salah satu hobi Mingyu. Ya walaupun gambarnya memang tak sepada dengan posenya yang serius seperti Pablo Picasso.
Wonwoo pun memutuskan duduk di lantai dengan hati-hati karna bentuk perutnya, pemuda manis itu dengan semangat mengikuti Mingyu menggambar di meja bermain itu, mencoba mengira-ngira gambar apa yang sedang digambar suaminya.
"Gyu menggambar Buaya? " Komentar Wonwoo melirik gambaran Mingyu, Mingyu yang sudah selesai dari dunianyapun menatap Wonwoo.
"Wonu sendiri menggambar apa? " Tanya Mingyu balik.
"Tentu saja menggambar buaya seperti milik Gyu, lihat bagus gambar milik Wonu 'kan? "Ucap Wonwoo bangga menunjukan hasil karyanya.
"Itu kadal! "Protes Mingyu.
"Loh?! Kalau ini kadal, berarti yang Gyu gambar juga kadal! Wonu kan meniru gambar Gyu! "
"Gyu menggambar naga! Wonu mau ejek gambaran Gyu ya?! "Rajuk Mingyu, pemuda itu merenggut kesal.
"Loh Kok Gyu marah?! Wonu kan hanya meniru! Salah sendiri gambar Gyu - "
"Itu cicak "Komentar Jihoon melintas di belakang pasangan yang sedang ribut itu. Semenjak Wonwoo hamil, Jihoon memang sering menginap untuk membantu sahabatnya itu.
"JIHOON! "
Jihoon tertawa di dapur mendengar teriakan pasangan itu, salah sendiri lagi pula Wonwoo harus sadar bahwa skill menggambarnya 11-12 seperti Mingyu.
~000~
Wonwoo sedang duduk santai sambil menonton televisi, kehamilannya sudah memasuki delapan bulan. Sebenarnya Wonwoo semakin cemas karna proses bersalin tidak lama lagi, tetapi pemuda manis itu selalu mengalihkan perhatiannya agar tidak stress, seperti saat ini, menonton acara komedi sambil menikmati biskuit yang terbuat dari sayuran hasil racikannya dengan Jihoon tadi sore.
Wonwoo terkikik saat melihat suaminya mengintip dari balik tembok tiga meter dari posisinya, Wonwoo mengenalinya karna Rambut abu-abu suaminya itu terlihat dengan jelas.
Semenjak perutnya semakin besar, Mingyu benar-benar menjauh darinya, bahkan kini Mingyu tidur di kamar tamu karna tak mau sekamar dengan Wonwoo.
"Gyu sini~ "Ajak Wonwoo, namun suaminya itu masih kekeuh bersembunyi di balik tembok.
"Kenapa sih? Wonu jadi sedih kalau Gyu seperti itu~ "Rajuk Wonwoo.
"Tidak mau! Wonu seperti badut! "Tolak Mingyu.
"Kalau Gyu tak mau mendekat, Wonu akan pulang ke Changwon sekarang! "Ancam Wonwoo, dan berhasil. Dengan ragu-ragu pemuda tampan itu mendekat.
"Sini, duduk di samping Wonu~ " titah Wonwoo, walaupun ragu pemuda itu duduk di samping Wonwoo.
"Gyu tak perlu takut, Di sini ada adik bayi, Bayinya tampan seperti Gyu. Adik bayi akan panggil Gyu appa karna Gyu akan menjadi appa... "
"Tidak mau! "
"Ke- "
"Gyu maunya Daddy! Appa tidak keren! "Protes Mingyu.
"Berarti dedek Bayi akan panggil Gyu Daddy, Gyu akan jadi daddy "
"Tetapi kenapa di perut Wonu?! Menyeramkan! Nanti kalau perut Wonu meledak bagaimana? "Ucap Mingyu khawatir, membuat Wonwoo tertawa Jadi ini yang ditakutkan suaminya.
"Tidak Gyu. Bayinya kan sayang Wonu, jadi tidak akan meledak "Jelas Wonwoo.
Jihoon yang hendak menemani Wonwoo ditarik oleh Min Yoong yang bersembunyi di balik tembok, melihat gestur Min Yoong, pemuda imut itu mengerti dan mengikuti Min Yoong, ternyata wanita itu sedang mengintip Wonwoo dan Mingyu.
"Apa adik bayi bisa mendengar? Gyu mau bicara... "Tanya Mingyu.
"Tentu saja, sini kepala Gyu di paha Wonu "
Setelah menyamankan posisinya dengan kepalanya yang ada di pangkuan Wonwoo, pemuda tampan itu dengan hati-hati memiringkan kepalanya untuk menghadap perut besar Wonwoo dan mengusapnya lembut.
"Apa adik bayi dengar daddy? "
'Duk~ Duk~
Dua tendangan, Wonwoo bahkan kaget saat merasakan respon cepat bayinya, sedangkan Mingyu menatap Wonwoo bingung.
"Tadi apa Wonu? "
"Bayinya menendang, berarti adik bayi mendengar Gyu~ "
"Adik bayi cepat keluar ya~ Kasihan Mommy jadi seperti badut, nanti kalau sudah keluar panggil Gyu Daddy, dan panggil Wonu Mommy oke? "
'Duk~ duk~
"Hehe, adik bayinya menendang lagi~ "Ucap Mingyu kesenangan.
Mingyu terus saja berbicara, bahkan pemuda itu dengan semangat menceritakan kesehariannya di sekolah, Bayinya pun dengan semangat menendang-nendang seolah ikut berbincang dengan Ayahnya, Mata Wonwoo basah, bahkan Jihoon dan Min yoong tersenyum haru dari balik tembok.
"Gyu sudah tidak sabar! Keluarkan adik bayinya sekarang! "Ucap Mingyu semangat!
"JANGAN! "Teriak Min Yoong dan Jihoon yang langsung muncul dari balik tembok.
~000~
Bayinya laki—laki, lahir dengan bobot empat kilogram, sehat, tampan dan Normal.
Wonwoo sangat bahagia mengetahui anaknya lahir dengan sehat. Dan kedepannya, Wonwoo tetap harus memperhatikan dan merawatnya dengan baik untuk mencegah sesuatu yang tidak di inginkan.
~000~
Mingyu sangat bahagia, bahkan pemuda itu mengajak guru serta teman—temannya untuk datang kerumahnya, memamerkan bahwa dirinya sudah jadi Ayah.
Para gurupun memuji Wonwoo dan tak lupa membawa bingkisan seperti perlengkapan bayi. Sedangkan Mingyu terus saja bercerita panjang lebar kepada teman—temannya dari berbagai ukuran dan umur itu, sstttt— Mingyu baru saja naik kelas dua Smp.
Pada minggu awal Mingyu memang senang, bahkan suaminya itu akan langsung bermain dengan Samuel—nama anak mereka, meski Samuel sedang tidur.
Tapi akhir—akhir ini Mingyu terlihat menjauh, setelah membicarakannya dengan Seungcheol dan Junghan, sepertinya Mingyu mengalami kecemburuan, dirinya yang biasa mendapatkan perhatian lebih dari Wonwoo, kini berkurang karna kehadiran Samuel.
Bahkan Mingyu sering menatap Samuel tak suka saat Wonwoo menggendong Samuel, dan berakhir dengan merajuk pada Min Yoong.
Wonwoo, Min Yoong, Jihoon, bahkan Seungcheol dan Junghan turun tangan untuk mengatasi Mingyu, tapi sepertinya pemuda itu memang tak mau mengerti.
Merekapun khawatir, khawatir jika akan memunculkan sifat nekat Mingyu pada Samuel karena pola fikirnya yang menyalahkan Samuel merebut Wonwoo darinya.
Malam itu teman—teman Wonwoo datang, Jun, Minghao, Seungkwan, Soonyoong, Junghan, Seungcheol, dan Jihoon yang memang sudah lama tinggal bersama Wonwoo.
Semuanya berkumpul di kamar untuk menjenguk Wonwoo dan Samuel.
Mingyu yang melihat dari jauh pun merasa kesal karna semuanya hanya perhatian pada Samuel.
Dengan kesal Mingyu masuk ke kamar sambil membawa kantung plastik besar.
"SINI! "Triak Mingyu, membuat semuanya kaget.
"Ada apa Mingyu? "Tanya Soonyoong.
"Samuel taruh sini! Buang! buang tempat sampah! "Omel Mingyu, membuat mereka semua kaget, Wonwoo pun mengeratkan gendongannya.
"Mingyu! Tidak boleh seperti itu! "Bentak Min Yoong mengomeli putranya itu.
"Tapi Samuel merebut semuanya dari Gyu! Buang tempat sampah saja! " Kesal Mingyu, pemuda itu membuang kantung plastiknya dan berlari keluar diikuti Min Yoong.
Sedangkan teman_—temannya mengusap bahu Wonwoo dan menyemangatinya.
"Kau harus mengerti keadaanya Won... "Lirih Jun.
~000~
Wonwoo kira satu bulan cukup untuk membuat Mingyu terbiasa, tapi sudah dua bulan berlalu pemuda itu belum bisa beradaptasi dengan kehadiran Samuem, walaupun terkadang Mingyu tetap bermain dan bercanda dengan Samuel, tapi jika sudah kambuh suaminya itu akan mengamuk dan menyuruhnya membuang Samuel ke tempat sampah.
Apalagi Mingyu sudah bisa menggendong Samuel, Wonwoo takut kalau tiba—tiba Mingyu membuang Samuel ke tempat sampah, walaupun terdengar lucu saat Mingyu merajuk dan menyuruhnya membuang Samuel ke tempat sampah, tapi itu benar—benar mengkhawatirkan jika terjadi.
Seperti malam ini, pukul sembilan malam, cuaca sangat dingin karna baru saja turun hujan.
Hanya ada Wonwoo, Mingyu dan Samuel. Ibu mertuanya sedang ada urusan di Singapore, hanya ada Bibi Han yang kebetulan sedang flu dan sepertinya sudah tidur, pelayan Kim ikut Ibu mertuanya ke Singapore, sedangkan Jihoon sedang kencan dengan Soonyoong karna malam ini malam minggu.
Wonwoo kesal karna ia juga terkena flu, Kepalanya pusing dan sangat sakit, apa lagi suhu badannya meningkat, ia demam.
"WONU! AYO KITA NONTON FILM! "Teriak Mingyu semangat memasuki kamar mereka, Samuel, bayi dua bulan yang baru saja tertidur itupun kaget dan langsung menangis.
"Oweekk~ owekkk "Wonwoo memijat pangkal hidungnya, baru saja ia menidurkan Samuel dan sekarang anaknya itu menangis, jika sudah menangis karna kaget begini biasanya membutuhkan waktu lama untuk menenangkannya.
"Wonu! Ayo nonton film! "Paksa Mingyu sambil menunjukan keping dvd di tangannya.
"Owekk~ oweek~ "
"... "
"Won~ "
"... " sakit.
"Wonu dengar tidak sih?! "
"Owek~ oweek~ "
"... " kepalanya berdenyut.
"Samuel! Diam! Daddy lagi bicara sama mommy! "
"Oweekk~ owwekk~ "
"... "semakin sakit.
"Samuel di— "
"DIAM! GYU YANG DIAM! SAMUEL ITU ANAK GYU! GYU HARUSNYA MEMBUAT SAMUEL BERHENTI MENANGIS! KALAU TIDAK BERGUNA DAN TIDAK BISA BIKIN SAMUEL DIAM! GYU YANG DIAM! GYU ITU BUKAN BAYI! BIKIN PALA WONU SAKIT SAJA! "Bentak Wonwoo, kepalanya benar—benar sakit mendengar rengekan Mingyu dan tangisan Samu, bahkan untuk bengun dan membuatkan susu untuk Samuel pun Wonwoo tak bisa.
Mingyu terdiam menatap Wonwoo takut, pemuda tampan itu bahkan menjatuhkan keping dvd yang sedari tadi digenggamnya.
"Wonu galak! "Teriak Mingyu dan langsung berlari keluar sambil membanting pintu.
Wonwoo terdiam, pemuda manis itu tak percaya apa yang baru saja ia lakukan, tapi kepalanya yang terlalu sakit tak bisa di ajak kompromi, dengan menyesal, Wonwoo menatap Samu yang masih menangis dengan sedih. Wonwoo pun meminum obat yang sudah ia sediakan di meja samping ranjangnya. perasaan bersalah masih menyelimuti hatinya, dan dengan lembut ia menenangkan putranya yang masih menangis.
Setelah menangis dan meringkuk di pojok ruang tamu, Mingyu menghapus air matanya, kata—kata Wonwoo berputar—putar di otaknya.
Menarik nafas dalam, pemuda itu bangkit dari posisi meringkuknya dan berjalan menuju dapur, mencari botol susu, berniat membuatkan susu untuk anaknya. Namun pemuda bersurai abu-abu itu mendengus lesu saat persedian susu untuk Samuel habis, ini pasti juga karena dirinya, Mingyu memang sering meminta dibuatkan susu seperti milik Samuel.
Mengingat sesuatu, pemuda tinggi itu berlari ke kamar Ibunya, Mingyu mengambil celengan babi miliknya yang Min Yoong simpan di kamarnya, karna jika di simpan di kamar Mingyu, Mingyu akan berusaha membobolnya untuk di gunakan membeli Coklat.
Mingyu menggoyangkan celengannya, berat dan penuh, pasti uangnya banyak dan bisa digunakan untuk membeli susu.
Dengan semangat Mingyu mengambil Jacketnya yang ada di ruang tamu, dan memakai spatunya.
Pemuda itu berlari keluar rumah sambil menenteng celengan babinya.
Sayangnya mini market terdekat dengan rumahnya tutup karna sedang di renovasi, Mingyu pun terpaksa menuju mini market yang berada dekat sekolahnya, jaraknya cukup jauh apalagi ia berjalan kaki, sedangkan Mingyu tak tahu harus naik kendaraan apa. Beruntung sekarang ia sudah bisa menyebrang, karna ia harus menyebrang beberapa kali.
Mingyu kaget dan menghentikan langkahnya saat melihat pemuda dengan jacket kulit hitam yang sedang merokok itu berdiri di depannya, Mingyu kenal laki—laki ini, ini Seokmin, pemuda yang bertengkar dengannya di cafe milik Jun.
"Sendirian? "
Mingyu menunduk, suara Seokmin terdengar menyebalkan, Mingyu menyesal memilih jalan pintas ini yang berupa gang kecil, ia jadi bertemu Seokmin, apalagi keadaan saat ini sepi.
"Permisi~ "
"Hei! Kenapa buru—buru? Kita masih punya urusan "Tahan Seokmin dengan mendorong bahu Mingyu.
"Mingyu ingin le— "
"Pfft Babi? Apa itu celengan babi? "
"Permisi Seokmin, Mingyu harus segera pe— "
'Prang
"Idiot! gara—gara kau hubunganku memburuk dengan Dino dan aku batal bertunangan dengan Dino! Dan gara—gara kau juga aku tak mendapatkan Wonwoo! Kau menghancurkan hidupku! Tolol! Idiot! " Kesal Seokmin setelah membanting celengan babi di tangan Mingyu, membuat semua isinya berhamburan
Sedangkan Mingyu tak perduli, ia langsung berlutut dan memungut uangnya yang berserakan.
"Otakmu itu sama seperti celenganmu! Otak babi! "
"... "
Seokmin membuang rokoknya, pemuda itu menunduk menatap pemuda berambut abu-abu yang terus saja memunguti uangnya.
'Kreekk
"AAHKKK~ "
"Hahhh, aku akan melepaskanmu jika kau memohon padaku... "Senyum Seokmin sinis.
"Tidak mau! "
'Krekkk 'Seokmin semakin menekan injakan kakinya di kedua telaoak tangan Mingyu.
"Kau ini memang keras kepala ya?! Cepat memohon padaku! "
"Tidak sudi! "
"Fuc— "
Seokmin hendak saja menendang wajah Mingyu kalau saja ia tak mendengar suara sirine mobil patroli polisi, pemuda berkulit tan itu mendengus kesal.
"Kau beruntung kali ini! "Ucap Seokmin dan langsung pergi meninggalkan pemuda berambut abu-abu itu.
Mingyu meringis kesakitan menatap jemari dan telapak tangannya, bengkak, lecet dan penuh luka karna di injak Seokmin, walau sakit Mingyu terus saja memungut uangnya yang berserakan, tak perduli jemari lukanya bergesekan dengan kasarnya aspal jalan, yang ada dalam fikirannya hanya membeli susu untuk Samuel.
~000~
Wonwoo bingung, pemuda itu sekarang sedang mondar—mandir sambil menggendong Samuel di ruang tamu, setelah sakit kepalanya reda Wonwoo segera mencari Mingyu untuk minta maaf karna sudah membentaknya. Tapi mencari ke setiap sudut rumah, bahkan sampai halaman belakang rumah Mingyu tak ada.
Wonwoo khawatir, apalagi jacket baseball Mingyu yang selalu di letakan di ruang tamu tak ada, jangan—jagan Mingyu keluar dari rumah karna kata—katanya. Sedangkan Samuel terus saja merengek, Wonwoo tak bisa membuatkan susu karna susu Samuel habis, ini membuat Wonwoo semakin kewalahan.
Saat mendengar decitan suara pintu, Wonwoo langsung melangkahkan kakinya cepat ke depan. Mingyu pulang, pemuda itu menunduk tak berani menatap Wonwoo sambil memegangi perutnya yang tertutup jacket.
Saat Wonwoo hendak bicara, Mingyu langsung pergi melewati Wonwoo. Menghembuskan nafasnya, Wonwoo memilih membiarkan Mingyu untuk sementara, jika sudah seperti ini suaminya itu tak bisa di dekati. Tapi Wonwoo setidaknya lega sekarang, karna suaminya sudah kembali kerumah.
Memilih duduk di Sofa Wonwoo menenangkan Samuel yang kini jauh lebih baik karna hanya merengek lirih.
Wonwoo hanya mendengar suara ribut dari arah dapur, hahh mungkin Mingyu melampiaskan kekesalannya dengan membanting prabotan dapur. Biar nanti Wonwoo bersihkan pagi hari.
Wonwoo bingung saat Mingyu berdiri di hadapannya dengan satu tangannya disembunyikan di belakang tubuhnya. Mingyu langsung duduk di samping Wonwoo, menunjuk Samuel dan pahanya. Wonwoo mengerti maksud Mingyu yang menyuruhnya memberikan Samuel pada Mingyu. Walau ragu, dengan hati—hati Wonwoo meyerahkan Samuel dalam pangkuan Mingyu.
Wonwoo terperanjat saat Mingyu mengeluarkan tangan yang disembunyikannya, botol susu milik Samuel lengkap dengan isinya.
"Gyu... "
"Susu Samuel yang ini kan? Yang dusnya warna merah ada angka nolnya? Wonu, panasnya pas tidak? "Tanya Mingyu setelah mengeluarkan kantung kresek yang di sembunyikan Mingyu di balik tubuhnya, menunjukan dus susu bewarna merah itu pada Wonwoo.
Wonwoo mengangguk, dan memegang botol susu milik Samuel yang kini sedang dinikmati anaknya untuk mengecek suhunya.
"Ini pas Gyu, bagaimana k— "
"Tadi Gyu keluar buat beli susu pakai celengan yang Gyu simpan di kamar mama, oh iya, Gyu juga beli susu sendiri seperti yang di tv, supaya badan Gyu besar dan berotot, dan tidak minta susu Samuel lagi... "Tunjuk Mingyu pada dus susu lainnya yang bewarna hitam.
Wonwoo mengerenyit saat melihat tangan Mingyu, jemari suaminya terlihat kotor.
"Gyu, tangan Gyu... "
"Tidak apa—apa... "Elak Mingyu menjauhkan tangannya yang hendak Wonwoo sentuh.
"GYU! Jangan berbohong! "Tuduh Wonwoo tak percaya.
"Tadi Gyu bertemu Seokmin di jalan, Seokmin banting celengan Gyu, saat Gyu ambil uang yang jatuh, dia injak tangan Gyu... "Cerita Mingyu akhirnya, Mingyu tak mau Wonwoo marah lagi.
"Ya ampun Gyu... "Wonwoo tak kuasa menahan harunya, dengan hati—hati ia segera memeluk Mingyu karna suaminya itu kini sedang memangku Samuel yang sedang menyusu.
Wonwoo tak menyangka Mingyu akan melakukan semua ini, ini adalah sebuah tindakan besar untuk Mingyu. Wonwoo benar—benar terharu, dibalik kekurangan suaminya, ada sesuatu yang besar yang Mingyu miliki. Mingyu yang takut, dan tak suka berada dalam keadaan ramai, apalagi dengan orang asing. Tapi dia rela pergi malam—malam keluar sendiri untuk membeli susu anaknya. Dan Seokmim si brengsek itu! Wonwoo akan bercerita pada Seungcheol dan Soonyoong agar memberi perhitungan kepada lelaki itu.
"Gyu, Gyu itu daddy yang hebat. Gyu tidak boleh merasa bersaing dengan Samuel, karena Samuel anak Gyu. Wonu sayang pada Samuel dan Gyu. Jadi jangan berfikir kalau Wonu tidak sayang lagi pada Gyu.
"Tapi Wonu hanya perhatian pada Samuel... "Protes Mingyu.
"Itu karna Samuel masih kecil, Gyu kan sudah besar. Harus mandiri... "
"Tapi Gyu juga ingin dekat dengan Wonu, Samuel harusnya punya teman biar tidak main terus dengan Wonu "rajuk Mingyu.
"Em... teman ya "Lirih Wonwoo , sebuah senyum terlukis di bibirnya.
Pemuda manis itu mengambil alih Samuel yang entah kapan sudah tertidur, dan meletakannya di Box bayi yang khusus di sediakan di ruang tamu.
"Mungkin Samuel kesepian, kita harus cari teman untuk Samuel... "Usul Wonwoo, setelah kembali duduk di samping Mingyu, pemuda itu sebelumnya mengambil ponselnya dan menuliskan sesuatu, sebelum kembali menatap Mingyu.
"Iya, kita harus buat teman untuk Samuel, buat Adik untuk Samuel agar tdak kesepian... "Ucap Wonwoo.
"Wo... Wonu... "lirih Mingyu dan bringsut mendur, karna Wonwoo melepaskan jacketnya.
~000~
Jihoon baru saja pulang dari kencannya, di depan gerbang Soonyoung masih menunggu dari balik kemudinya. Kekasihnya itu memang terbiasa menunggunya hingga masuk ke dalam rumah.
'Bruukk
Jihoon, menghentikan kegiatannya yang hendak menekan password pintu saat suara benda jatuh itu mengagetkannya. Pemuda cantik itu segera menekan dengan cepat deretan angka kombinasi yang sialnya gagal karna mungkin saking gugupnya ia salah menekan. Jihoon khawatir terjadi sesuatu.
"Ahh— Wonu, pakai bajunya, nanti Wonu dingin... "
'Srekk
"Jangan di robek! Wonu mffhhhh jangan di makan. Tangan Gyu kotor!
"Wonu "
"Wonu"
"Wonu "
"Ahhhhhh Wonu, jangan melompat —lompat! Nanti sofanya rusak! "
"Gyu diam saja! Gyu bilang ingin kasih teman untuk Samuel! "
Jihoom terdiam mematung, Soonyoung pun menatap bingung karna kekasihnya itu tak kunjung memasuki rumah.
Merasa ponselnya bergetar, Jihoon merohoh saku jacketnya. Ada pesan masuk, dari Wonwoo.
'From :Wonwoo
Jangan pulang! Menginap saja di tempat Soonyoung! '
Jihoon terkikik membaca pesan pendek dari sahabatnya yang sepertinya mengalami delay untuk diterimanya.
'To: Wonwoo
Setidaknya jangan di ruang tamu! Suaranya terdengar sampai luar! ' Balas Jihoon.
Dan pemuda bersurai pink itu, berjalan keluar menuju mobil kekasihnya.
"Kenapa? "Tanya Soonyoung bingung, karna kekasihnya kembali duduk di samping kemudinya.
"A— "
"WONU GYU MAU KE KAMAR MANDI! "
'BRAKK
"WONU! SOFANYA TERBALIK! "
"OWEEEKKKK "
"Kau dengar? "Tanya Jihoon, menunjukan suara ribut itu yang di susul tangisan bayi.
"I—itu "Lirih Soonyoung
"Mereka sedang kerja keras, dengar kan? Sofanya sampai terbalik... "
END
Yeayyyy finally ini ff akhirmya selesai juga ya.
1. Thanks untuk semua pihak yg terlibat baik author Ko Cheun Tong (kok gue bacanya centong ya /abaikan/, readers yg udah setia nunggu, dan yg udah vote + review.
2. Thanks juga buat yang udah baca + review atau yang cuma baca doang tapi gak review.
3. Jangan lupa tunggu karya abal2 terbaru dari author ya..
4. Udah itu aja
Salam Meanie!
