Chapter 4
"Aku pikir aku bukan gay."
Mengangkat kepalanya. Pandangan kosong mengarah pada langit.
Di sini, tempat mereka sering menghabiskan waktu. Mencari ide. Hanbin tidak punya bayak pengalaman. Maka imajinasi menjadi solusi dari inspirasi musiknya. Dan Jiwon hadir seperti satu dari sekian potongan puzzle. Ia melengkapinya.
Dan di sini, biarkan semuanya menjadi hitam atau putih. Jika Hanbin bisa membuat scenario, Jiwon mengajaknya pada suatu tempat yang baru dan asing. Lantas meninggalkannya. Ia tidak tahu arah. Ia takut salah mengambil jalan. Ia meminta Jiwon pertanggungjawaban.
Dan di sini, Jiwon tahu kemana arah perbincangan.
"Kau brengsek, Kim Jiwon."
Tangannya menggenggam kencang lengan Hanbin. Kulitnya memerah.
Jiwon tidak menjawab. Dirinya tidak mengelak, dirinya tidak menyetujui pula. Mata tajamnya tidak lepas dari gerak bibir Hanbin yang seperti menahan segalanya. Hanbin terlihat frustasi dan manik matanya bergerak cepat dan berkaca-kaca.
Hanbin ingin memecahkan kaca –jendela pesawat- di sampingnya ketika ia mengingat saat saat itu. Mereka sedang dalam perjalanan untuk menghadiri fanmeeting di China, tempat dimana pertama kali ia tahu penggemarnya sendiri bahkan memasang-masangkannya dengan Jiwon.
Earphone-nya sudah jatuh di atas lehernya sejak tadi. Ia tidak tahu harus mengisi 1 jam kedepan dengan apa. Ia melemaskan pundaknya yang kaku, lantas berdiri. Ia melihat sekeliling dan orang orang terlihat memerhatikannya. Ia tidak tahu apakah karena iKon begitu populer atau orang orang hanya memperhatikan fashionnya yang tragis. Ia hanya bisa menyunggingkan senyum kecil yang canggung dan berjalan ke toilet.
Hanbin masuk ke toilet setelah mengecek tidak ada orang di dalam. Ia melihat pantulan dirinya pada cermin, melamun cukup lama sampai ketika ia membasuh wajahnya, seseorang diluar mengetok pintu. Hanbin cepat-cepat membereskan tata rambutnya yang terkena air dan membuka pintu.
Hanbin terlonjak. Jiwon ada di depannya. Dengan mata sayu khas bangun tidur dan rambutnya yang memang sedari tadi berantakan. Jiwon juga terlihat sama kagetnya dengan dia. Namun saat Hanbin menggeser tubuhnya ke samping –memberi jalan masuk untuk Jiwon- Jiwon justru mendorongnya masuk kembali. Dan menutup pintu di belakangnya.
"Ada apa?" Jiwon memberi tanda untuk diam, lantas membasuh wajahnya juga.
"Kau kenapa?" Hanbin bertanya kembali.
"Tidak apa, hanya ingin waktu sebentar, tentu bisa kan?" Dengan itu Jiwon memajukan wajahnya mendekat ke wajah Hanbin.
Jiwon memberi kecupan polos di bibir Hanbin. Hanbin diam, memerhatikan wajah Jiwon yang sedang tersenyum.
"Sudah selesai?"
"Sudah."
Perkiraannya seratus persen benar. Hanbin akan melihat penggemarnya membawa benda ini –banner- dan ada gambarnya dengan Jiwon yang sangat lucu, fanart. Ia melambai dan tersenyum lebar pada mereka. Hanbin menoleh ke samping, Jiwon melihatnya juga, banner itu. Dan Hanbin semakin gugup.
Saat lagu My type nanti, Hanbin akan bertingkah seolah ia berempuan, parahnya ia akan digoda oleh Kim Jiwon. Ulang, ia akan digoda sebagai wanita oleh Kim f*cking Jiwon. Ia tidak tahu detailnya. Tapi managernya yang membuat ide buruk itu. Bagaimana ini akan terjadi, ia akan melakukan improvisasi.
Lagu My type dimulai. Semua menari dengan sinkronisasi. Tapi hanbin tidak bisa berkonsentrasi. Ia mengumpat dalam hati yang malah membuatnya semakin nervous. Terima kasih pada profesionalismenya ia dengan mudah menutupinya. Tapi tidak, hanbin berteriak, sebentar lagi, beberapa detik lagi.
Bagian Jiwon tiba, dan Hanbin berjalan ke arah kanan pangggung. Lantas berpose. Masa bodoh, ia tidak peduli pose macam apa yang sedang ia peragakan -ia mungkin terlihat seperti monyet yang menggaruk kepala- tapi itu tidak penting. Yang penting fakta bahwa Jiwon berjalan ke arahnya.
'Sial' Jiwon menyentuh pinggangnya. Hanbin meniru gerakan wanita dan berjalan. Jiwon mengikuti langkahnya di belakang.
'Sh*t' Apakah Jiwon baru saja menepuk pantatnya karena YA ia pikir begitu.
Hanbin berjalan ke tengah panggung, mendekati Jinhwan dan ia sama sekali tidak memikirkan bahwa, Jiwon -sekali lagi seseorang yang ia habiskan masa pubertasnya bersama- melakukan gerakan seperti ia sedang menyetubuhi Hanbin. Hanbin tetap memasang senyum bodohnya saat ia merasakan milik Jiwon bergesekan dengan bokongnya. Tidak ingin terlihat jelas bagaimana perasaannya. Ia melingkarkan tangannya pada Jinhwan. Dan Jinhwan tidak terlihat membantu keadaan -ia bahkan mengelus wajah Hanbin- maka Hanbin memutuskan pergi dari keduanya ke arah kiri panggung. Ia menyelamatkan dirinya dari pelecehan seksual.
Hanbin mengeringkan rambutnya. Malam ini, ia tidur sekamar dengan Chanwoo. Biasanya Hanbin akan tidur sekamar dengan Jinhwan, Junhoe atau Jiwon di hotel saat mereka berpergian. Tapi member termuda itu menjadi sasaran empuknya karena ia sedang dalam mood untuk berteriak, merengek, atau bahkan menyuruh siapapun untuk menjadi pembantunya. Hanbin tersenyum licik.
"Chanwoo-yaaah," Ia melempar handuknya ke lantai. Dan Chanwoo, di tempat tidurnya dan sedang memegang ponselnya terlihat bergidik. Ia mulai menebak-nebak apakah tidurnya akan nyenyak atau tidak.
Hanbin berjalan mendekat dan merebut bantal yang dipeluk Chanwoo, dan tidur di atasnya.
"Aku sangat pegal, Chanwoo-yaaah." Hanbin menggerakkan kakinya di udara. Lantas tangannya memeluk paha Chanwoo. Chanwoo memejamkan matanya. Ia akan dibuat menjadi tukang pijit untuk beberapa menit kedepan.
"Chanwoo, pijiti aku. Sekarang." Hanbin memerintah dan mencubit-cubit paha Chanwoo. Entah sakit atau geli yang pasti membuat Chanwoo menurut. Chanwoo menaruh ponselnya di meja nakas dan berbalik.
"Baiklah, baiklah." Hanbin tersenyum mengejek melihat Chanwoo memutar bola matanya. Lantas membalikkan posisi tubuhnya menjadi tengkurap. Chanwoo merangkak naik dan duduk di atas paha Hanbin. Chanwoo tidak bertanya pada Hanbin bagian mana yang harus ia pijat. Saat Chanwoo mulai memijat pundak Hanbin, Hanbin mulai mengeluarkan suara ini. Suara menikmati. Ya, Hanbin menikmati pijatan Chanwoo bagaimanapun. Tapi bagi Chanwoo, suara itu terdengar aneh? Yang Chanwoo pikir, suara itu begitu memprovokasi.
Sudah berselang beberapa menit sampai akhirnya Chanwoo memberitahu Hanbin ia pegal, ia juga ingin Hanbin memijat balik.
"Kau beruntung mempunya hyung sepertiku, bukan?" Chanwoo tertawa pada Hanbin yang sudah ada di atas pahanya dan dirinya tengkurap. Hanbin benar-benar payah dalam hal ini. Ia bahkan tidak merasa apapun dari pijatan Hanbin.
"Hyung, berhenti merasa bangga dan lakukan dengan benar." Seketika kepala Chanwoo ditekan dan wajahnya terbenam di bantal. Hanbin benar-benar jengkel. Siapa yang mengajarkan Chanwoo seperti itu.
"Kau, tidak ingat akulah raja di sini. Sekarang kau seperti pelayan yang sedang diberi pelayanan oleh Rajanya, kau tahu?" Hanbin mengelitiki pinggang Chanwoo dan Chanwoo memberontak, mukanya memerah karena tawanya.
"Iya, aku mengerti." Hanbin sedikit menaikkkan tubuhnya saat Chanwoo membalikkan badannya menjadi telentang dan Hanbin duduk di atas paha Chanwoo. Chanwoo ikut cemberut menyadari ternyata Hanbin sedari tadi memasang wajah jengkel khasnya. Chanwoo menunjuk tempat tidur di samping.
"Tidurlah, hyung." Chanwoo memposisikan dirinya menjadi duduk. Dan Hanbin merengek dengan sangat menyebalkan. Tidak diketahui Hanbin, posisinya membuat Chanwoo memerah. Walaupun keduanya laki-laki, ia berpikir mungkin ini terlihat sedikit intim? Chanwoo menepuk tempat di sampingnya sambil berkata "Hyung, posisi kita sangat aneh, duduk di sini, ya?".
Hanbin menatap Chanwoo dan menyipitkan matanya. Di benak jahatnya, ia sedang merencanakan rencana ibu tiri. Chanwoo yang merasa diperhatikan menatap balik pada Hanbin.
"The f*ck, guys?" Hanbin dan Chanwoo menoleh ke arah pintu.
"Apa yang kalian lakukan, huh?" Jiwon mendekati ranjang. Hanbin langsung turun dari tempat tidur dan berdiri membelakangi Jiwon. Seolah tidak mendengar apa-apa.
"Kami baru saja memijat satu sama lain-" Jiwon menatap sinis Chanwoo untuk membalas "-Kau tidak memanggilku 'hyung'?"
"Aish aku baru saja ingin memanggilmu 'hyung'"
Pandangan Jiwon jatuh pada Hanbin yang sedang sibuk pada ponselnya.
"Chanwoo, bisakah kau pindah ke tempatku? Malam ini aku tidur disini."
Chanwoo hanya bisa memasang wajah memelas dan mengangkat tubuhnya malas. Ia melayangkan pandangannya pada Hanbin yang tidak bergerak sama sekali. Ia tidak tahu apa yang terjadi antara keduanya. Mungkin mereka berkelahi. Mungkin mereka jatuh cinta. Ia sedikit tidak menaruh peduli karena ia sangat lelah. Ia pergi meninggalkan dua orang menyeramkan itu di kamar yang menyeramkan itu pula. Setelah Chanwoo menghilang dari pandangannya, Jiwon merebahkan tubuhnya pada tempat tidur yang baru saja ditiduri Chanwoo. Tangannya bergerak untuk melepas kaos yang dipakainya.
"Hanbin" Hanbin menggumam. Tapi tidak menoleh. Jiwon menaruh kaosnya asal dan menghela nafas.
"Hanbin" Jiwon sudah lelah untuk mengangkat tubuhnya dari ranjang. Tapi Hanbin bertingkah seperti seorang brengsek yang susah untuk didapat. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan Hanbin langsung mengunci dan menaruh ponselnya.
"Apa?" Hanbin bahkan menolak untuk menatap matanya dan langsung melempar tubuhnya ke ranjangnya, wajahnya terbenam di bantal. Ia terlihat seperti remaja labil –ia memang remaja dan ia memang labil. Disisi lain, Jiwon merasa kesal. Apa yang telah ia lakukan sehingga ia pantas mendapat perlakuan seperti ini?.
Jiwon menaruh bokongnya di sisi ranjang Hanbin dan menempatkan tangannya di atas punggung Hanbin. "Tatap aku." Jiwon mengelus punggung Hanbin. Akhirnya yang termuda membalikkan posisi tubuhnya -jiwon mengira ia akan terus mengelus punggung Hanbin hingga pagi. Saat Hanbin melihat ke arahnya, Jiwon dapat melihat jelas raut kelelahan. Seketika Jiwon merasa tidak enak.
"Kalau kau tidak segera mengatakan apapun, aku akan tidur." Jiwon cepat-cepat memegang tangan Hanbin. Sial, galak sekali dia.
"Kau tahu, kalau aku melakukan kesalahan, katakan saja." Jiwon menggigit bibir bawahnya. Hanbin memejamkan matanya.
"Tidak. Kau tidak melakukan kesalahan apapun, sejauh ini-" "Lalu kenapa kau terus mengabaikanku?". Hanbin memutar bola matanya "Itu hanya perasaanmu." Dan Hanbin memposisikan dirinya membelakanginya.
Jiwon mengacak-acak rambutnya frustasi. Lantas terus menatap punggung Hanbin. Ia tidak suka ketika punggung Hanbin yang menghadap ke arahnya. Dan mata itu, seolah tidak mau bertemu dengan matanya. Jiwon merangkak naik dan membalikkan tubuh Hanbin. Untuk mendapat tatapan kaget darinya. Tangan kanan Jiwon menggenggam tangan kiri Hanbin. Dahinya bersentuhan dengan dahi Hanbin. Hanbin memejamkan matanya. Ia tahu apa yang akan dilakukan Jiwon.
"Aku sedang tidak ingin." Hanbin membuang muka ke kanan.
"Tapi aku ingin." Jiwon mencium pipi kiri Hanbin.
Hanbin merasa frustasi. Hanbin mungkin dapat memimpin grup, ia mungkin dapat menundukkan trainee lain semasa hari sebelum debutnya. Tapi Jiwonlah yang memipin hubungan mereka.
Hanbin merasa sakit. Walaupun ia akhirnya melewati masa denial, ia tahu apa yang selama ini rasakan. Dan ia juga tahu apa yang Jiwon rasakan juga. Ini berbeda. Ia mencintai Jiwon karena sifatnya, Jiwon mencintainya karena tubuhnya.
Ia mulai mengetahuinya sejak Jiwon sering mengajaknya untuk mandi bersama. Walaupun ada perasaan lega karena setidaknya Jiwon memiliki ketertarikan terhadap laki-laki –atau ia adalah bisex, seperti dirinya-, ia juga menemukan Jiwon menjadi lebih aggressive. Ia suka mendominasinya dan Hanbin tidak bisa mengelak. Ia mengaku menikmatinya.
Jiwon mulai mengecup dagu Hanbin lantas turun ke leher. Hanbin harusnya tidak mengharap banyak. Inilah guna hubungannya dengan Jiwon. Friends with benefits.
i cant believe it took years for me to continue this fic. i really am sorry because im bad at managing my time between my school life and my fangirl life. i really really am sorry and big thanks for the amazing feedbacks i received. you guys are amazing.
Thanks to
p-light01-DoubleBae-kimm bii-Dibawah batu-bringmetolife-pd-riani98-Queendope-dae-CYF625-daethameerame-Double BobB.I-Ibob-kimbabiai- -Jikooki-miracle2210-risky1806-hanbin-hmmm hmmm-itssQueenBee-climaxnolimit-parkcheonsafujoshi-menboong-vchim-Esteryanti738
and Happy Birthday to our King of the Youth, none but Kim Jiwon!
