Warning : T rate semi M (for swearing and bad words), OC, OOC maybe.

Genres : Friendship/Humor/Romance/Hurt-comfort.

Disclaimer : Naruto belong to Masashi Kishimoto.

Guest star : Kaito Shion (Kyte Shion) from Vocaloid by Yamaha corp.

Guest star : Byakuya Kuchiki from Bleaceh by Tite Kubo.

Pairing : Gado-gado (some yaoi and some straight).

This story belong to Lucky and Riku.

Wish you've enjoyed this chapter.

XX HAPPY READ MINNA! XX

.

Aishiteru, Sensei!

Chapter three

(Duo arrogant!)

.

.

Sejak hari itu Naruto jadi rajin membaca buku pelajaran inggrisnya, pemuda itu tampak begitu serius sekali dalam taruhan ini. Dia ingin dan harus menang, kalau tidak dia pasti akan kehilangan kebebasannya dan diatur-atur oleh guru baru yang sok itu.

Dengan hari ini berarti sudah empat hari setelah dia dan Kaito melakukan taruhan dan itu artinya sudah empat hari juga dia menyibukkan diri untuk belajar dan belajar. Yang biasanya tiap pulang sekolah dia selalu ngerusuh gak jelas di depan sama akatsuki jadi tidak dia lakukan. Pemuda itu sedikit menghela napas saat melihat beberapa kalimat inggris yang sepertinya tidak begitu dia pahami.

"ARGHHHH! APA SIH INI ARTINYA!" akhirnya lolongan depresi Naruto keluar juga. Semua anak yang ada di kelas langsung menatapnya dengan tatapan ngeri sambil berpikir Naruto kerasukan jin iprit.

"Berisik lu duren!" omel Sasori sambil melemparkan penghapus papan tulis ke arah kepala Naruto.

"Anjrit! Setan lo!" balas Naruto balas melempar penghapus ke arah muka Sasori.

Bletak!

Penghapus itu dengan sukses mendarat di muka mulus Sasori. Sasori yang terkena lemparan tentu tak mau tinggal diam saja. Pemuda berambut merah itu bergegas mencari-cari penghapusan itu untuk membalas Naruto.

"Pusssh… ck ck ck ck… " Sasori yang autisnya kumat malah nyariin itu penghapus persis kayak nyari anak kucing ilang.

"Pussshhh… Miaw, miaw! Ayo kemari pusss! Tobi bawa ikan nih!" Tobi yang kebetulan nongol langsung bantuin Sasori yang lagi celingukan nyariin penghapus. Dengan gaya ajaib tingkat dewa, mahkluk bertopeng super duper aneh itu manggilin sang 'kucing' sambil pamerin ikan yang dia bawa (yang sebenarnya itu adalah taiyaki).

"Elo ngapain ngekorin gue?" tanya Sasori sambil mengernyit ke arah Tobi yang sukses buntutin Sasori.

"Bantuin cari anak kucing!" balas Tobi dengan gaya khas anak-anaknya dan terlihat begitu bersemangat sambil pamerin taiyaki yang dia bawa.

"Dodol lo! Yang gue cari bukan anak kucing, tapi penghapusan!" balas Sasori sedikit sewot gara-gara penghapusan yang dia cari gak ketemu-ketemu, gak tau deh mental kemana itu benda.

"Eh? Sejak kapan penghapusan bisa jadi kucing?" tanya Tobi dengan tingkat dodol akut.

Krik… Krik… Krik…

.

.

Sementara Sasori sibuk nyariin itu penghapusan, Naruto udah sukses kabur ke perpustakaan buat meditasi plus mengasingkan diri ala petapa genit. Sekalian dia kesana mau cari kamus bahasa inggris.

"Haaah… Akhirnya bisa tenang juga!" kata Naruto dengan lega begitu dilihatnya di perpustakaan tampak begitu sepi.

"Sedang apa kau disini, Naruto?" seorang pemuda menepuk bahu Naruto dan menyapanya, membuat Naruto sedikit terlonjak kaget.

"Gyaaa! Itachi! Kau mengagetkanku saja!" dengus Naruto menggerutu pada sosok Itachi yang sedang berdiri di sampingnya saat ini. "Aku ini kemari untuk belajar tauk!" jawab Naruto yang sukses bikin Itachi kejang-kejang sesaat.

"Hooo? Ciyus? Miapah? Maca cih, Naruto-kun belajar?" Itachi nista langsung beraksi ala remaja ababil sambil kedip-kedipin matanya. Naruto tanpa berpikir dua kali langsung menggampar Itachi biar sadar.

"Gak usah bergaya alay kale!" sembur Naruto yang udah merinding ngeliat gaya Itachi yang nyaingin gaya banci taman lawang yang sering dia lewatin tiap malem (mangkal juga? *gampared*).

"Aduh, Naruto. Gak bisa diajak bercanda ya?" balas Itachi sambil tekekeh melihat wajah Naruto yang sedang cemberut. Naruto memang benar-benar lucu saat berwajah masam begitu, pantas saja adiknya menyukai pemuda pirang itu.

"Hmph, lo sendiri ngapain disini?" tanya Naruto yang juga heran liat Itachi di perpustakaan. Yah, maklumlah Itachi itu termasuk pinter jadi aneh aja kalau pemuda itu nangkring di perpustakaan. Udah pinter ngapain belajar lagi?

"Oh, lagi cari buku!" jawab Itachi yang kayaknya lagi menyembunyikan sebuah buku bertuliskan 'Cara menghilangkan keriput dengan cepat dan aman' di balik punggungnya. "Sudah dulu ya Naruto!" Itachi dengan terburu-buru segera meninggalkan perpustakaan sebelum Naruto menyadari buku yang ada di belakangnya itu.

"Dasar aneh… " gumam Naruto sambil garuk-garuk kepala. Setelah itu dia kembali fokus untuk mencari kamus besar bahasa inggris yang berada di bagian pojok belakang. Naruto berjalan ke arah belakang sambil memperhatikan tiap-tiap buku yang berjajar rapih. Tapi nasibnya benar-benar sial sekali karena ternyata di belakang situ ada Sasuke dan Neji yang sedang duduk membaca buku. Kedua mahkluk yang sangat Naruto benci dan tak ingin dia temui. Pemuda itu memutuskan untuk meninggalkan tempat itu sebelum kedua orang tersebut menyadari kehadirannya disana.

"Eh, ada Naruto?" baru saja Naruto berpikir untuk minggat, ternyata Neji sudah melihatnya dan menyapa pemuda itu dengan nada yang sedikit mengejek. Mungkin terlihat aneh dimatanya kalau seorang preman seperti Naruto bisa sampai berada di perpustakaan.

"Tch, maaf kalau aku mengganggu!" balas Naruto sambil berdecak kesal. Rasanya dia ingin cepat-cepat menemukan buku yang dicari lalu segera kabur dari sana. Dia sangat benci dengan tatapan dingin Sasuke dan tatapan menghina dari Neji.

"Ceritanya kau sudah tobat dan memutuskan untuk menjadi anak pintar sekarang?" tanya Sasuke yang sedikit menggunakan nada hinaan pada pemuda itu membuat ubun-ubunan Naruto jadi memanas. "Anak bodoh sepertimu, mau belajar seperti apapun akan percuma," sambungnya lagi sambil menyeringai.

"Jangan ganggu aku!" balas Naruto yang berusaha untuk cuek dengan hinaan dari Sasuke. Dengan cepat dia mengambil sebuah buku besar yang ada di atas sana lalu memasukkannya ke dalam tas.

"Dasar kelas buangan," gumam Neji dengan pelan tapi masih dapat terdengar oleh Naruto yang berada beberapa langkah di depannya. Tentu saja pernyataan Neji membuat hati pemuda pirang itu menjadi panas.

"Bilang apa kau barusan?" Naruto yang tadinya mau beranjak pergi dari sana akhirnya tidak jadi gara-gara mendengar perkataan Neji barusan. Pemuda itu memundurkan langkahnya dan berdiri di depan Neji dengan tatapan sengit.

"Kelas buangan, tidak berguna, sampah!" Neji malah semakin menjadi-jadi menghina Naruto dan kelasnya sambil menyeringai.

"Kau! Berani-beraninya kau menghina kelas 2-C!" Naruto menghardik Neji sambil menunjuk-nunjuk pemuda berambut panjang itu dengan jari tengahnya.

"Kenapa? Memang benar, kan? Kalian itu seperti sampah yang tidak berguna!" Neji membalas dengan santai, sepertinya pemuda itu benar-benar meremehkan anak-anak dari kelas 2-C.

"Diam kau! Akan kubuktikan kalau anak-anak kelas 2-C mampu mengalahkan kalian yang sombong itu!" Naruto benar-benar dibuat darah tinggi, ingin rasanya dia menelan pemuda bernama Neji itu bulat-bulat.

"Kalau begitu buktikan!" sambar Sasuke dengan cepat dan menatap Naruto dengan tatapan remeh. "Minggu besok akan ada lomba bahasa inggris, kalau kau merasa kelas 2-C mampu mengalahkan kami, daftar dan datanglah pada hari itu untuk mengalahkan kami," lanjut Sasuke yang sepertinya sedang menantang anak kelas 2-C untuk mengikuti lomba cerdas cermat.

"Baik! Siapa takut! Kami akan memenangkan lomba itu dan membuat kalian malu!" sambar Naruto yang sudah bernapsu langsung mengiyakan tantangan itu tanpa berpikir lagi.

"Kalau kalian kalah bagaimana?" tanya Sasuke sambil menatap Naruto dengan tajam. Pemuda pirang itu langsung menelan ludah dan baru berpikir apa yang akan terjadi kalau mereka kalah, mengingat Sasuke dan Neji pasti tak akan diam saja tanpa melakukan sesuatu yang dapat membuatnya malu.

"Kalau sampai kalah, kami akan menuruti semua perintah anak kelas 2-A selama satu minggu!" jawab Naruto dengan cepat dan asal nyeletuk. Sasuke dan Neji langsung menyeringai licik.

"Bagus, kalau begitu kita sepakat dan kalian tidak boleh melarikan diri. Tidak datang artinya sama saja dengan kalah!" Sasuke tentu saja sudah mengharapkan Naruto akan bereaksi seperti itu dan dia memang sudah bisa menduganya kalau si pirang itu akan melakukan apapun untuk menyelamatkan harga diri kelas 2-C.

"Kami pasti akan datang! Kalian siap-siap saja menerima kekalahan!" meski dalam keadaan terpojok pemuda pirang itu masih saja bersikap sok yakin. Dengan cepat dia keluar dari perpustakaan dengan membanting pintu.

"Hahahahaha, aku jadi tidak sabar untuk menunggu minggu besok!" celetuk Neji sambil tertawa, rasanya dia sudah tidak sabar ingin melihat wajah Naruto nanti pas mereka kalah.

"Dia masih keras kepala dan ceroboh seperti dulu," kata Sasuke sambil setengah menyeringai puas. Dia sudah yakin kalau Naruto akan bertindak seperti itu. Mereka bertetangga dekat dan hanya dipisahkan satu blok rumah. Enam tahun menjadi teman sepermainan, tiga tahun menjadi rival dan setahun menjadi pasangan kekasih, kalau ditotal Sasuke sudah mengenal Naruto selama 10 tahun. Tentu saja dia sudah mengetahui betul watak dan sikap Naruto.

"Karena hal itulah yang membuatmu menyukainya, bukan?" kata Neji sambil melirik ke arah Sasuke yang sepertinya sedang tenggelam ke dalam dunianya sendiri.

"Aku akan melakukan cara apapun untuk membuatnya kembali padaku," balas Sasuke yang tampak memiliki sebuah rencana tersendiri.


"Arghh, gawat, gawat gawat!" begitu kembali ke dalam kelas Naruto langsung teriak-teriak gak jelas.

"Kenapa lo? Kesurupan?" samber Suigetsu yang heran ngeliat tingkah temen sebangkunya gak pernah beres, kerjaannya teriak-teriak melulu.

"Gawat darurat berjerawat!" Naruto langsung berbalik ke Suigetsu dan mengguncang-guncangkan tubuh pemuda itu dengan keras.

"Gawat sih gawat, tapi jangan bawa-bawa jerawat segala dong!" cibir Suigetsu yang merasa tersindir gara-gara Naruto bawa-bawa jerawat, soalnya jidat dia kebetulan lagi kedatangan tamu yang bernama jerawat.

"Tapi ini serius! Kelas kita dalam keadaan gawat!" balas Naruto sambil menatap teman-teman sekelilingnya dengan tatapan horror. Mau gak mau yang ngeliat muka dia langsung merasa merinding-merinding disko.

"Udah biasa kale!" sambar Tenten dengan cuek. Kelas mereka memang sudah cukup terkenal berada dalam posisi kritis.

"Dengerin gue dulu kenapa sih! Kelas kita ditantang sama kelas 2-A!" kata Naruto udah frustasi karena gak ada satupun yang mau mendengarkan dia. tapi akhirnya karena dia nyebut-nyebut nama kelas keramat yang jadi musuh bebuyutan mereka, semua yang ada disana akhirnya mendengarkan Naruto serius dan begitu mengetahui kelas mereka ditantang, semuanya jadi panas seketika.

"Tinggal katakan saja, dimana dan kapan waktunya, biar gue bejek-bejek mereka!" Sasori napsu membunuhnya kumat. Sekarang dia malah lagi meremas-remas tangannya dengan gaya preman.

"Iya katakan saja!" timpal Chouji dengan semangat sambil meremas-remas bungkus mie *sweatdrop*.

"Disekolah, hari minggu jam 10 pagi," jawab Naruto dan jawabannya sukses membuat mereka menatap Naruto dengan feel gak enak.

"Tunggu dulu deh. Bukannya hari minggu jam 10 pagi itu, ada lomba cerdas cermat dalam pelajaran inggris? Kok waktunya bisa pas banget, emangnya anak 2-A gak ikutan?" tanya Kiba dengan tatapan curiga. Kebetulan dia sempet liat mading pengumuman dan disana tertulis ada lomba cerdas cermat inggris antar kelas yang akan diadakan hari minggu jam sepuluh sampai jam lima sore.

"Uh… Yah, memang kita ditantang untuk ikut lomba cerdas cermat… " balas Naruto takut-takut. Kontan semua murid disana menatap Naruto dengan tatapan angker.

"Gila lo! Buruan batalin!" samber Tenten dengan cepat dan nyuruh Naruto untuk membatalkan tantangan tersebut.

"Tidak bisa… Soalnya udah terlanjur menerima tantangannya… Se-selain itu udah terlanjur buat perjanjian. Kalau kita sampai kalah, kita bakalan jadi pelayan anak kelas 2-A selama satu minggu!" jawab Naruto yang dengan jujur menceritakan semuanya. Lagipula kalau sampai dia membatalkan perjanjian itu, harga dirinya bisa di injak-injak Sasuke dan Neji dan anak-anak kelas 2-A akan mentertawakannya.

"Hah… Kau itu benar-benar merepotkan!" celetuk Shikamaru sambil menepuk kepalanya sendiri. Dia tidak habis pikir ternyata Naruto lebih bodoh dari dugaannya.

"Habis mau bagaimana lagi? Aku kesal melihat mereka terus-menerus menghina kita!" balas Naruto sambil mengerucutkan bibirnya.

"Lagipula apa kau lupa? Hari senin kita ada ulangan inggris tiga bab berkat ulahmu itu? Mana sempat kita semua belajar untuk lomba itu! Lebih baik kau cepat minta maaf dan batalkan tantangan itu!" Shikamaru mengingatkan Naruto mengenai taruhan yang dia buat dengan Kaito dan berkat sikap seenaknya itu seisi kelas jadi ikut-ikutan kena imbasnya.

'Shikamaru benar… Kami tak mungkin mengejar pelajaran untuk lomba dan ulangan sekaligus, tapi kalau harus minta maaf dan membatalkannya… Argggh! Kenapa jadi begini sih! Aku, kan tadinya hanya mau membela harga diri kelas 2-C saja, uh menyebalkan! Semua ini gara-gara Sasuke!'.

"Tapi-tapi-tapi-tapi-tapi-tapi-tapi-tapi… Tapi kenapa harus minta maaf! Kita harus buktikan kalau kita bisa!" kata Naruto yang tetep ngotot, dia ngomong dengan mata berapi-api ala Lee tapi sayang sekali gak ada satupun murid disana yang berminat buat bantuin Naruto.

"Dengar ya, Naruto. Untuk lomba itu dibutuhkan lima orang peserta! Kau pikir di kelas kita ada murid jenius, apa?" Shikamaru tampaknya mulai serius dia menunjuk jidat Naruto dengan jari telunjuknya.

"Hei! Aku gini-gini kalau belajar pintar juga loh! Selain itu ada Gaara, Sasori dan kau sendiri, kan! Satu orang lagi bisa kita ambil secara acak! Ayolah Shikamaru, masa kau tidak mau membela kehormatan kelas sendiri?" Naruto tampak tidak puas dan membujuk pemuda berambut nanas itu untuk menyetujui idenya. Sebenarnya di kelas ini ada aturan tidak tertulis dimana setiap persetujuan selalu melewati Shikamaru karena pemuda itu dianggap paling bijaksana dan mampu melihat situasi. Tak jarang banyak murid di kelas mereka yang meminta solusi dari pemuda yang sekilas seperti orang idiot itu *digampar Shikamaru*.

"Mungkin kau pintar kalau belajar tapi tidak mungkin kau bisa menjadi jenius tiba-tiba hanya dalam waktu dua hari! Setelah itu Gaara? Yang ada dia akan berbuat konyol! Lalu Sasori? Dia tidak akan mau kalau tidak diberi bayaran, sedangkan aku sendiri lebih memilih tidur siang di rumah!" balas Shikamaru sambil menjelaskan kalau keadaannya sangat mustahil bagi mereka untuk ikut, orang-orang yang disebutkan Naruto tidak ada satupun yang bisa diharapkan.

"Jadi bagaimana? Aku sudah terlanjur… " Naruto menghela napas pasrah merutuki nasib.

"Tak ada cara lain, kau harus minta maaf dan batalkan pertaruhan konyolmu itu!" Shikamaru menjawab dengan mutlak kalau perjanjian yang dia buat harus dibatalkan. Naruto merenggut dengan kesal, sekarang mau ditaruh dimana mukanya kalau sampai berhadapan dengan Sasuke dan Neji. Menolak sama saja membenarkan perkataan kedua orang sombong itu.

"Baiklah… Aku akan minta maaf pada mereka dan membatalkan taruhan itu sehabis pulang sekolah… " kata Naruto yang akhirnya pasrah. Yang dikatakan Shikamaru memang benar, belajar dalam waktu dua hari itu sangat tidak mungkin.

Apa yang akan dikatakan Naruto pada Sasuke dan Neji, nantinya?

TBC…


A/N : chapter ini hasil persilangan pikiran antara gue dan Luki. Akhirnya jadi meskipun pendek, soalnay itu bocah gak bisa lama-lama kalau nulis kepalanya pasti ngepul. Disini Sasori digambarkan sedikit matre (tenang aja dia gak sematre Kakuzu kok). Untuk OC yang masuk nanti bakalan ada prosesnya kenapa para OC masuk ke sekolah Konoha. Yap, dengan ini dinyatakan sudah kalau Naruto dan Sasuke itu mantan kekasih, alasan kenapa mereka putus bakalan dijelasin.

Untuk Akatsukinya akan dijelaskan satu-persatu nanti, dimulai dari Sasori dan Deidara dulu. Yang masih mau kirimin lagu, ide, saran, kritik dan pendapat silahkan.

Author's pain :

Luki : Gue pengen bikin judulnya ini aja!

Riku : Terserah...

Besoknya...

Luki : Ganti judul ya! Suruh Yuki gantiin *puppy eyes*.

Riku : Sigh... Oke...

Besoknya...

Luki : Ganti lagi! Bagusan yang ini! Eh, kalau judulnya ini gimana? Ini juga bagus! *nunjukin sederet judul*.

Riku : Lo ganti sekali lagi, siap-siap ucapin selamat datang sama kandang kucing!

Luki : lo gak serius, kan? *menatap horror*.

Riku : Serius *natep dengan serius*.

Sedetik kemudian...

Luki : Bahahahahahahahahahaha! Tampang lo malah kocak!

Riku : *pundung*.

Yuki : Gak usah diganti lagi judulnya atau nasib stok persediaan mie di dapur tidak akan selamat.

Luki : Mie-mie gue! *sembah sujud dan berjanji gak merubah judul lagi*.

A/N : Begitulah kira-kira tragedi pergantian judul di fic ini sampai lima kali gara-gara si Luki stress kebanyakan maunya. Akhirnya dengan ancaman mie nurut juga. Well, thanks for review dan dukungannya. Semoga bisa terhibur di chapter ini.

.

.

"Thanks for reading".