Hai minnaaaa…

Gomen, Natsu telat update! Soalnya laptop Natsu rusak, dan harus diperbaiki selama beberapa minggu!

Makasih buat para readers yang udah me-review chapter sebelumnyaaa… X3

Yosh! tanpa basa-basi, Natsu persilahkan para readers sekalian untuk membaca fic GaJe ini…^^

Happy read…


Cerita sebelumnya :

Namun di sebelah ruangan Kurapika, yang merupakan ruang persalinan juga, Kuroro dapat mendengar jeritan yang sangat keras dari seorang ibu yang ada di sana. Kuroro langsung tahu, bahwa Kurapika sengaja menahan suaranya agar ia tak khawatir.

Tapi bagaimana bisa? Melahirkan itu adalah perjuangan antara hidup dan mati. Kemungkinannya hanya 50 berbanding 50.

.

Setelah kurang lebih setengah jam menunggu, Kuroro melihat dokter beserta suster-suster keluar dari ruangan itu. Tapi anehnya, kenapa tak ada suara tangisan bayi yang terdengar?


.

.

Disclaimer : Togashi Yoshihiro

Title : Wareware No Ryōhō

Story by : Natsu Hiru Chan

Rated : T, -semi M mungkin?

Genre : Romance and Family

Pairing : Kuroro nii-kun cuman buat Kurapika nee-chan

WARNING : Abal, norak, GaJe, OOC, kalo fic ini, bisa dibilang AU gak yah? jelek, typo bertebaran bagaikan debu di kamar author, pokoknya fic ini hancur-sehancur-hancurnya!

Summary : Setelah menikah, Mungkin, untuk kedepan, mereka akan menerima banyak masalah. Tapi Kurapika tahu, kalau dia bisa mengatasinya bersama Kuroro, yang telah resmi menjadi suaminya dalam suka, maupun duka

.

.

.

.

Don't like, don't read…

.


Chapter 4 : Ritsuka Lucifer

.

"APA? DIA LAHIR TANPA MENANGIS SEKALIPUN?" teriak Leorio tak percaya.

"Kau tidak perlu pakai teriak 'kan?" protes Kurapika kesal.

Yah, saat ini, di kamar vip no 421, terlihat Kurapika sedang duduk sambil bersandar di ranjangnya. Di samping kirinya, terlihat Leorio dan Killua sedang terduduk di kursi. Sedangkan Senritsu duduk di kursi sebelah kanan Kurapika. Gon nampak duduk di sisi ranjang, dekat Killua.

Dan di samping kanan Kurapika… terbaring lah sesosok kecil tak berdaya, yang hanya bisa diam tak bergeming sedikitpun. Sesosok bayi terbungkus kain berwarna pink, kulitnya masih merah… dan rambutnya berwarna hitam. Mata bayi itu masih terpejam. Siapa lagi, kalau bukan bayi Kuroro dan Kurapika yang baru saja lahir beberapa jam yang lalu.

"Tapi setiap bayi yang lahir 'kan seharusnya menangis sekencang-kencangnya! Kenapa dia tidak?" tanggap Killua dengan tampang polos.

Kurapika menatap bayinya dengan lembut. Di elusnya rambut hitam bayi itu. "Awalnya aku dan Kuroro juga terkejut, terutama Kuroro. Ia hampir saja membunuh dokter, beserta suster-suster yang menanganiku saking emosinya. Kami kira bayi ini tak selamat. Namun aneh-nya bayi itu masih hidup, dengan organ-organ tubuh yang normal dan sehat. Yah, aku pun memaksa Kuroro untuk minta maaf,"

Keempat tamu Kurapika itu hanya bisa ber-oh-ria. Sebenarnya mereka masih khawatir, tapi saat ini mereka tak ingin membebani kepala Kurapika dulu.

"Ngomong-ngomong soal Kuroro, dia ada di mana?" tanya Gon.

Kurapika menghela nafas. "Dia sedang kuhukum! Karena seenaknya ingin membunuh orang. Saat ini dia sedang membantu dokter-dokter di rumah sakit ini!" kesal Kurapika sambil mengerucutkan bibirnya. Keempatnya langsung sweat drop mendengar perkataan Kurapika.

"Bayinya perempuan… cantik…" gumam Senritsu lembut. Kurapika hanya tersenyum lembut pada bayi yang saat ini terbaring tak bergerak sedikitpun di sampingnya.

Hari ini… tanggal 11 Desember… lahirlah seorang bayi perempuan dari pasangan, yang seharusnya bermusuhan ini. Tanpa tangisan atau suara sedikitpun… mungkinkah itu suatu pertanda?

Tak lama setelah itu, masuklah Kuroro dengan kemeja hitam, serta celana hitam. Pemuda berpenampilan serba hitam itu masuk dengan santai, dan menatap semuanya datar. Pandangannya langsung tertuju pada wanita pirang yang saat ini sedang terduduk ranjang. Ia pun berjalan dengan santai masuk ke dalam.

Senritsu menyingkir, dan duduk di kursi dekat Killua, membiarkan Kuroro untuk duduk di sana. Kuroro pun mengecup lembut dahi Kurapika, sebelum ia duduk di kursi yang disediakan Senritsu. Ditatapnya bayinya di atas ranjang.

Keheningan menyelimuti ruangan itu…

"Selamat yah Kuroro, aku harap kau bisa menjadi ayah yang baik…" ujar Leorio memecah keheningan. Kuroro hanya membalasnya dengan senyuman super tipis.

"Ohya, siapa namanya?" tanya Kurapika pada Kuroro. Yang lain pun terkejut dengan itu.

"Ah benar juga! Siapa namanya, Kuroro?" tanya Gon tak sabaran.

Tanpa pikir panjang, Kuroro langsung menjawab singkat. "Ritsuka… Ritsuka Lucifer…"

"Wah, nama yang bagus…" puji Senritsu tersenyum lembut.

"Ritsuka…" gumam Kurapika menatap lembut bayinya itu

.

~Wareware No Ryōhō

.

Kurapika dan Kuroro pun sampai di apartemen mereka. Kurapika baru saja keluar dari rumah sakit baru-baru ini. Ia tak mau memberi tahu teman-temannya dulu, karena ia rasanya ingin istirahat. Selain itu saat ini, Kurapika ingin bersama dengan anak serta suaminya.

Kurapika merebahkan tubuhnya di sofa, dengan Ritsuka yang ada di gendongannya. Kuroro pun ikut duduk di samping Kurapika, sambil merangkul pundak wanita cantik itu.

"Akhirnya…" gumam Kuroro.

Kurapika menatap Kuroro dengan pandangan bingung, "hn?"

"Tidak…"

"Oh…"

"Baiklah! Aku akan masak…" ujar Kuroro seraya berdiri, hendak menuju dapur, kalau Kurapika tak menahan tangannya.

Wajah Kurapika sedikit merona. "Kau di sini saja…" lirihhya memalingkan wajahnya.

Kuroro tersenyum tipis. Dia pun kembali duduk di samping Kurapika, dan kembali ke posisinya semula. Dielusnya dahi bayi yang ada di gendongan Kurapika. "Mirip aku…"

"Enak saja! Mirip aku dong!" protes Kurapika langsung.

"Hei! Lihat rambutnya hitam sepertiku!"

"Tapi peranakannya lebih seperti aku!"

"Tapi, lihat lehernya…" Kuroro sedikit membuka kerah baju Ritsuka, memperlihatkan tanda salip seperti yang ada di dahinya. Tanda salip itu terdapat di pangkal leher bagian kanan Ritsuka.

"Huuh! Pokoknya dia mirip aku!" Kurapika tak ingin kalah.

"Oke, oke… dia mirip kita berdua!"

"Hmmm… baiklah!" Kuroro tersenyum simpul melihat tingkah polos Kurapika.

Ia juga agak bingung, mengapa tanda itu bisa ada di tubuh putrinya. Apa kelak nanti Ritsuka memiliki kemampuan seperti dirinya?

"Emh… Kuroro…" ucap Kurapika lirih. Kuroro dapat melihat Kurapika semakin mengeratkan pelukannya pada Ritsuka.

"Hm?"

"Aku… ingin Ritsu menjadi anak biasa… meskipun kau adalah kriminal dan petarung yang hebat, dan aku seorang Hunter dan seorang bodyguard, tapi… aku tak ingin Ritsuka terlibat dalam semua itu. Aku ingin dia menjadi anak seperti anak-anak lainnya. Bermain, belajar, dan melakukan apa yang dia suka…" lirih Kurapika.

Kuroro sedikit tertegun mendengar pernyataan Kurapika. Ia lalu mengecup lembut pelipis Kurapika. "Tentu saja… aku juga menginginkan seperti itu…" ujarnya lembut. Kurapika hanya membalasnya dengan senyuman tipis.

"Baiklah! Kalau begitu aku ingin masak!" ujar Kurapika seraya menyerahkan Ritsuka pada Kuroro.

"Tapi Kurapika, kau 'kan baru keluar dari rumah sakit?" cegah Kuroro mengambil Ritsuka.

"Aku baik-baik saja! Selain itu… kau berani melarangku?" Kurapika langsung melemparkan death glare-nya pada Kuroro, sukses membuat Kuroro bungkam.

"Tidak…"

Kurapika pun menuju dapur, meninggalkan Kuroro yang sweat drop. 'Setelah melahirkan, sifat pemarahnya kembali lagi…' pikir Kuroro.

.

~Wareware No Ryōhō~

.

Malamnya, diadakan pesta untuk keluarnya Kurapika dari rumah sakit, serta lahirnya seorang Lucifer baru.

Kurapika mengundang seluruh teman bodyguard-nya, serta sahabat-sahabatnya. Sedangkan Kuroro hanya mengundang Gen'ei Ryodan saja. Pesta itu pun berlangsung meriah. Setiap orang bergantian untuk menggendong Ritsuka. Namun bukannya menangis atau tertawa, Ritsuka malah berekspresi datar dan bingung, membuat siapapun yang melihatnya menjadi gemas.

Pesta itu semakin meriah saja, ketika Leorio meneriaki Kurapika untuk berciuman dengan Kuroro di depan umum, di dukung oleh para tamu lainnya. Namun itu malah sukses menimbulkan benjolan besar di kepala Leorio, oleh Kurapika tentunya.

"Ayolah Kurapikaaaa…!" teriak Killua tersenyum jahil.

"Cium! Cium! Cium! Cium!" teriakan itu semakin membuat Kurapika panas saja. Rasanya ia terlalu malu untuk berciuman dengan Kuroro di depan umum.

Keraguan Kurapika langsung terhenti, ketika merasakan seseorang langsung memeluk pinggangnya. Kericuhan makin menjadi-jadi saat itu. Kuroro memeluk pinggang Kurapika dengan satu tangannya, dan sebelah tangannya lagi memegang dagu wanita itu. Kurapika langsung merona di tempat, sedangkan Kuroro malah menyeringai.

"Dari pada tambah ribut… lebih baik lakukan saja…" bisik Kuroro semakin memperdekat jarak antara wajah mereka.

"Kur—"

Cup!

Perkataan Kurapika terpotong ketika Kuroro berhasil menempelkan bibirnya di bibir Kurapika. Semuanya pun teriak histeris dengan senang. Sedangkan Senritsu yang saat ini sedang menggendong Ritsuka hanya tersenyum lembut melihat tingkah orang-orang di sana.

Kurapika segera mendorong lemah tubuh Kuroro hingga Kuroro harus mundur beberapa langkah. Saat ini wajahnya sudah semerah tomat.

"Kalian sudah puas?" kesal Kurapika memalingkan wajahnya. Ia lalu melemparkan death glare untuk yang kesekian kalinya hari ini pada Kuroro, seolah berkata, 'lihat saja nanti!' namun Kuroro hanya memberikan senyum tanpa dosanya pada Kurapika, sukses membuat Kurapika semakin kesal saja.

Kurapika mengedarkan pandangannya, mencari seseorang. Namun yang dicari malah tidak ada di sana. Padahal Kurapika yakin, bahwa tadi dia melihatnya. Ia pun memutuskan untuk mencari orang itu.

Kurapika sampai pada taman belakang apartemennya. Dimana terdapat danau buatan yang cukup luas, pohon-pohon rindang, bunga-bunga yang indah, serta lampu-lampu kecil yang menyala di sekitar kolam itu. Matanya membulat sempurna, ketika pandangannya tertuju pada sebuah bangku panjang yang ada di dekat kolam itu.

Dilihatnya orang yang sedari tadi dicarinya, Neon Nostrad, saat ini sedang berduaan bersama dengan sahabatnya, Leorio! Leorio nampak merangkul pundak Neon, sedangkan Neon hanya tersenyum manis pada Leorio.

Lama Kurapika baru tersadar dari keterjukannya, ia lalu tersenyum tipis, melihat dua orang yang MUNGKIN pacaran itu. "Syukurlah…" gumamnya, seraya berlalu meninggalkan tempat itu, tanpa meninmbulkan suara sedikitpun, membiarkan pasangan tersebut bahagia dengan urusan mereka masing-masing.

.

"Kau dari mana?" tanya kuroro pada Kurapika, ketika melihat istrinya baru saja memasuki ruang tamu tersebut.

"Ah, tidak… aku hanya dari cari angin sebentar…" jawab Kurapika santai, seraya mengambil tempat, duduk di samping Kuroro.

Mereka lalu terdiam, dan memperhatikan putri mereka, Ritsuka, saat ini sedang bermain bersama anggota Ryodan. Shalnark nampak menggendong Ritsuka, sedangkan Nobunaga memperlihatkan wajah-wajah konyolnya pada Ritsuka. Namun Ritsuka malah mencubit pipi Nobunaga dengan keras. Nobunaga hanya bisa meringis kesakitan, sedangkan yang lainnya hanya tertawa gemas.

'Aku tak menyangka, Ryodan yang kukira pembunuh berdarah dingin ternyata bisa sehangat ini…' pikir Kurapika menatap mereka dengan lembut. Kuroro yang melihat tatapan Kurapika seakan tahu maksud dari tatapan itu. Ia hanya bisa tersenyum tipis.

Pesta pun berlangsung dengan meriah.


Kurapika menidurkan Ritsuka di ranjang kecil khusus bayi, yang terbuat dari kayu serta berwarna biru muda itu. Di tatapnya sikecil cantik itu dengan lembut. "Selamat malam, Ritsu-chan…" gumam Kurapika, seraya mengecup lembut putrinya itu.

Ia lalu keluar dari kamar. Dilihatnya Kuroro sedang menonton tv. Kurapika pun duduk di samping Kuroro.

"Ritsu sudah tidur?" tanya Kuroro tanpa menoleh pada istrinya itu.

"Hn,"

"Ya sudah, kalau begitu, kita juga tidur…" ujar Kuroro seraya mematikan tv itu, dan berdiri.

"Emh… Kuroro…"

"Hm?"

"Boleh, kita tidur bersama Ritsu?" tanya Kurapika malu-malu.

Kuroro berpikir sejenak. Ia pun tersenyum tipis. "Tentu saja, kenapa tidak?" ucapan Kuroro barusan sukses mengembangkan senyuman di wajah cantik Kurapika.

Kurapika pun segera menuju kamar Ritsu, mengambilnya dengan lembut tanpa bermaksud membangunkannya. Mereka bertiga pun menuju kamar Kuroro dan Kurapika.

Di kamar,

Kurapika dan Kuroro tidur berhadapan, dengan ritsuka yang ada di tengahnya. Mata mereka belum terpejam sedikitpun.

"Kau belum mengantuk?" tanya Kuroro mengelus pipi Kurapika.

"Aku akan tidur, kalau kau sudah tidur!"

"Kau tidur saja duluan! Kau pasti lelah…"

"Hm, baiklah…" detik selanjutnya, Kurapika pun memejamkan matanya, disusul oleh Kuroro. Mereka tidur, dengan berpegangan tangan, di atas perut Ritsuka.

.

~Wareware No Ryōhō~

.

"Kurapika, kau sudah siap?" tanya Kuroro yang saat ini memakai sepatunya. Saat ini Kuroro memakai pakaian yang lebih santai dari biasanya, yaitu jelana jeans hitam, serta kemeja biru tua. Rambutnya dibiarkan jatuh, serta dahinya terbalut perban putih untuk menutupi tanda yang ada di sana.

"Hm, tunggu sebentar!"

Kurapika pun keluar dengan membawa kereta dorong bayi, yang di dalamnya ada bayi mereka berdua. Kurapika memakai jeans biru, dan kemeja berlengan panjang berwarna merah.

Kuroro memutar bola matanya melihat penampilan Kurapika. "Kurapika, kita ingin berjalan-jalan di taman. Kalau kau berpakaian seperti itu, orang-orang malah akan mengira kita itu hanya kakak beradik, dan Ritsu adik bungsunya!"

"Memangnya kenapa? Aku tidak mengerti…"

Kuroro sekali lagi memutar bola matanya. Ia pun mendekati Kurapika, dan menunjukkan senyuman menawannya. Dipegangnya tangan Kurapika dengan lembut. "Aku ingin, orang-orang melihat kita sebagai satu keluarga! Ayah, ibu, dan anak!"

Wajah Kurapika sontak merona mendengarnya. "T—tapi…"

"Jangan banyak bicara! Cepayt ganti bajumu itu!"

"Huuuhh! Aku tidak tahu harus pakai yang mana!"

"Baiklah, biar aku yang pilihkan!" Kuroro pun menggendong Ritsuka dengan tangan kanannya, dan menggandeng Kurapika dengan tangan kirinya.

Yah, saat ini Ritsuka sudah berumur tiga bulan sejak dia lahir. Matanya pun sudah terbuka, menampakkan iris sapphire yang sama seperti yang dimiliki ibunya, Kurapika. Dan seperti yang mungkin diduga, sejak lahir Ritsuka memang tidak pernah menangis sekalipun. Bahkan ketika ia jatuh dari tempat tidur, ia hanya berekspresi bingung, meski luka bersarang di kepalanya.

.

"Emh… Kuroro! Rasanya aku aneh, memakai pakaian ini!" protes Kurapika menunduk, sambil berjalan di samping Kuroro. Dia mendorong kereta bayi berwarna hijau itu.

Yah, saat ini Kurapika sedang memakai dress biru tua selutut yang sewarna dengan kemeja Kuroro. Dress tanpa lengan itu juga dihiasi dengan renda biru muda di bawahnya, serta pita pink besar di belakang Kurapika. di lehernya terbalut syal rajutan berwarna biru muda pula. Rambutnya yang sudah agak panjang di bawah bahu itu dikuncir ke samping, namun ada beberapa helai yang terjatuh. Itu membuatnya semakin terlihat manis. Sepatu boat di bawah lutut berwarna coklat tanpa hak itu pun menghiasi kakinya.

"Kenapa? Kau sangat manis, menggunakannya! Bahkan Ritsu senag melihatmu!" ujar Kuroro tersenyum pada Kurapika. Kurapika hanya menunduk malu.

Mereka lalu sampai pada sebuah taman tengah kota, yang dikunjungi beberapa orang itu. Ada yang bersama dengan kekasihnya, ada yang bersama teman-teman, dan adapula yang satu keluargaa, seperti hal-nya keluarga Lucifer yang satu ini.

"Baiklah, kau tunggu di sini! Aku mau membeli makanan dulu," ujar Kuroro seraya meninggalkan Kurapika dan Ritsuka yang saat ini duduk di bangku taman. Sedangkan Ritsuka berada di pangkuan Kurapika. Mereka berdua nampak bermain bersama. Kuroro hanya tersenyum tipis, seraya meninggalkan keduanya.

Sementara dari jauh, terlihat sekitar empat orang, tengah mengintai mereka. Kurapika sebenarnya menyadarinya, namun ia memutuskan untuk diam, dan menunggu orang itu keluar dengan sendirinya. Selain itu ia tak ingin bertarung, di keramaian seperti ini.

Kurapika mengambil Ritsuka dari keranjang bayinya, dan memeluknya erat. Semua itu untuk meningkatkan tingkat kewaspadaannya. Ia pun bermain dengan Ritsu, tanpa mengubris orang yang mengintainya.

"Jadi dia, istri dan anak kepala laba-laba itu?" bisik salah seorang yang mengintainya.

"Yah, tak kusangka dia masih punya perasaan cinta…" tanggap orang yang lain.

"Tapi mungkin kepala laba-laba itu hanya memanfaatkannya,"

"Itu tidak penting! Yang jelasnya, sekarang kita menemukan paling tidak dua kelemahannya…"

"Tapi bagaimana kalau nyawa istri dan anaknya itu sama sekali tidak berharga baginya?"

"Tak ada ruginya dicoba 'kan? Selain itu… kita sudah belajar nen, dan lain-lain! Aku yakin kita bisa mengalahkannya!"

Tak lama setelah itu, Kuroro datang dengan membawa sekantung kecil cemilan, dan permen. Dia langsung mengambil tempat di samping Kurapika, dan menggendong Ritsuka.

"Dia cantik yah?" gumam Kuroro.

"Tentu saja! Dia cantik karena ibunya juga cantik!" ucap Kurapika narsis.

"Yah, ayahnya juga tampan!" ujar Kuroro ikutan narsis.

"Hn, tapi lebih mirip aku… hehe!"

"Awas! Nanti ada yang menyaingi kecantiakanmu!" goda Kuroro.

"Siapa?"

"Tentu saja Ritsu!" Kurapika hanya tertawa kecil mendengar candaan Kuroro. Sedangkan Kuroro hanya tersenyum tipis. Sebenarnya dia juga tahu, kalau ada orang yang mengintainya. Namun ia memutuskan untuk diam.

"Kalau bilang Ritsu, sepertinya terdengar seperti anak laki-laki yah?" Kurapika berpendapat sambil memasang 'pose' berpikirnya.

"Biar saja! Aku memang ingin mengasuhnya, agar dia bisa kuat melampaui laki-laki!" ucapan Kuroro barusan sukses menghasilkan benjolan di kepala Kuroro. "Kenapa kau memukulku?"

"Pikir saja sendiri!"

Kuroro hanya mengusap kepalanya, dan menatap Kurapika ketus. Sedangkan Ritsuka hanya menatap kedua orang tuanya dengan tatapan bingung.

"Kuroro, aku mau pulang!" pinta Kurapika.

Ekspresi Kuroro langsung berubah, menjadi serius. "Kau juga merasakannya?"

Kurapika tak menjawabnya, dia langsung berdiri, dan menatap Kuroro serius. Kuroro seolah tahu arti dari tatapan itu. Dia pun ikut berdiri, dan menaruh Ritsuka di keranjangnya. Mereka pun pulang berdua, tanpa mengubris empat orang yang mengintainya.

.

~Wareware No Ryōhō~

.

"Apa? Ada tugas dari Tuan Nostrad?" teriak Kurapika ketika ia sedang bertelpon dengan seseorang.

"Yah Kurapika, tugas ini sangat penting! Tuan Nostrad bilang, dia akan hancur jika kita gagal melaksananakannya," ujar suara dari sebrang.

Kurapika menggenggam telponnya dengan erat. Dia melirik ke arah Ritsuka yang saat ini ini sedang tertidur pulas kasur gulungnya.

"Tapi Senritsu, bagaimana dengan Ritsu? Kuroro saat ini sedang bertugas bersama dengan anggota laba-labanya. Leorio sedang tugas ke luar kota sebagai seorang dokter. Gon dan Killua sedang berkunjung ke rumah Gon dan bibinya! Aku harus menitip Ritsuka di mana? Aku tak mungkin 'kan, membawanya dalam tugas berbahaya ini?" ujar Kurapika bingung.

"Kau bisa menitipnya di tempat penitipan bukan?" ucap Senritsu.

"Senritsu! Ritsuka itu manusia! Bukan barang!"

Senritsu tertawa kecil, membuat Kurapika menjadi bingung dibuatnya. "Kurapika, bukan di tempat penitipan barang! Tapi memang ada khusus tempat penitipan anak! Di sana, selain dititip, anak-anak juga akan diajari sesuatu yang berguna! Mereka juga bisa bermain dengan sesama anak lain!" ujar Senritsu lembut.

Kurapika jadi malu sendiri dengan ucapannya. Ia hanya bisa menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal itu. "Baiklah, aku akan segera ke sana dalam 15 menit! Sampai jumpa!" ucap Kurapika menutup telponnya.


Di tempat penitipan anak, Kurapika merasa berat juga untuk meninggalkan Ritsuka. Dia pun mengantar anaknya masuk ke dalam. Di sana dia menemukan ibu-ibu yang lain. Kurapika jadi merasa sedikit lebih lega.

Diperhatikannnya sekeliling. Ada banyak anak-anak yang sedang bermain bersama. Ada juga para pengasuh-pengasuh yang mengajar anak-anak untuk membuat origami, menari, dan lain-lain. Kurapika pun merasa lebih aman, menitip Ritsuka di sini.

"Hei nak! Apa dia adikmu?" tanya seorang ibu ramah padanya.

"Eh? Bukan! Dia bukan adikku!" jawab Kurapika sopan, sambil memeluk Ritsuka dalam gendongannya.

"Waaah! Soalnya kalian sangat mirip! Ohya, ngomong-ngomong, ini tempat penitipan anak terbaik yang ada di kota ini lho…" Kurapika hanya bisa tersenyum kecil melihat tingkah ibu-ibu itu. Rasanya dia belum terbiasa dengan sifatnya sebagai seorang ibu. Tadi saja dia dikira kakak beradik dengan Kurapika. Sadarkah kau Kurapika, wajah cantik dan polosmu itu benar-benar pandai menipu orang!

Tak lama setelah itu, datanglah seorang pengasuh bercelmek pink yang terlihat manis, pada Kurapika. "Hai dik! Mau menitip adikmu yah?" tanya pengasuh itu yang ternyata ikut tertipu juga dengan wajah innocent Kurapika.

Kurapika hanya ber-hn-ria. Rasanya ia malas untuk menjelaskan semuanya.

Pengasuh itu pun mengambil Ritsuka dengan lembut dari gendongan Kurapika. Kurapika dengan BERAT HATI melepaskan Ritsuka.

Diluar dugaan pengasuh itu, biasanya jika ia mengambil gendongan bayi yang baru datang seperti Kurapika dan Ritsuka, bayi itu pasti akan menangis. Namun Ritsuka tidak, dia malah menatap keduanya dengan tatapan bingung sambil memasukkan jempolnya di mulutnya.

"Waaahh… lucu sekali!" puji pelayan itu gemas. "Siapa namanya? Dan berapa umurnya? Ohya! Sifatnya pada orang asing bagaimana?"

"Namanya Ritsuka Lucifer, dia baru berumur tiga setengah bulan. Sifatnya pada orang lain biasa-biasa saja, namun dia sangat sensitif, kalau dia marah atau terganggu, dia tidak akan menangis. Biasanya langsung saja memukul apapun yang di dekatnya!" pengasuh itu hanya ber-oh-ria.

Kurapika lalu menatap Rtsuka lembut. Dengar yah Ritsu, kau tidak boleh nakal! Mengerti?" pesan Kurapika, sebelum ia mengecup lembut kening Ritsuka, dan meninggalkan tempat itu.

"Baiklah Rikka-chan, ayo kita bermain bersama teman-temanmu yang lain!" ucap pengasuh itu dengan nada manja, dan membawa Ritsuka masuk ke dalam ruangan yang memang khusus bayi seumurannya.

Senyuman tipis tersungging di bibir Kurapika. dia merasa bahwa putrinya akan aman di sana. Selain itu, dia juga merasa agak cemburu dengan pengasuh tadi. Bagaimana mungkin, pengasuh itu, yang tidak punya ikatan batin pada Ritsuka bisa bersifat dekat dan sehangat itu? Sedangkan dia yang ibunya sendiri benar-benar tidak tahu apa yang diinginkan oleh anaknya itu.

Biasanya juga, jika Ritsuka meraung-raung, ataupun mengamuk (tanpa menangis), Kurapika tak tahu harus bagaimana. Namun Kuroro ataupun Senritsu mengerti apa yang diinginkan oleh si kecil itu. Kurapika menghela nafas panjang. Rasanya dia telah gagal menjadi seorang ibu. Namun saat ini ia tak ingin memikirkan itu dulu.

Ia pun mempercepat jalannya, hingga ia berlari dengan sangat cepat, meninggalkan tempat itu.

.

~Wareware No Ryōhō~

.

Seiring berjalannya waktu, tugas Kurapika semakin banyak saja, karena saat ini Light Nostrad sedang berada dalam krisis sekarang. Kurapika dan bodyguard lainnya semakin sibuk saja.

Hal yang sama terjadi pada Kuroro. Ia juga mempunyai sangat banyak misi dengan anggota laba-laba. Ia juga sangat sibuk, karena banyak orang yang pernah ia usik (mengerti saja apa maksud dari kata 'usik' itu) hendak membalas dendam padanya, seperti hal-nya Kurapika dulu.

Kurapika tak punya pilihan lain, selain menitip Ritsuka pada sahabatnya, Gon Killua dan Leorio, ataupun di tempat penitipan anak, yang pernah ia datangi, dan sekarang sudah menjadi langganannya.

Sama seperti hari ini. Kuroro sedang ada misi, dan Kurapika langsung ada tugas mendadak. Ia juga merasa tidak enak pada sahabat-sahabatnya, karena sudah banyak merepotkan mereka. Ia pun memutuskan untuk membawa Ritsuka ke tempat penitipan untuk yang kelima kalinya dalam dua bulan ini.

"Apa kau yakin, Ritsu aman di sana?" tanya Kuroro.

"Yah, di sana para pengasuhnya sangat baik! Ritsuka lebih ceria sekarang!" jawab Kurapika berusaha meyakinkan Kuroro. Kuroro hanya tersenyum kecil pada istrinya itu.

Ia lalu meraih pinggang dan dagu Kurapika, lalu menciumnya dengan sangat lembut. Kurapika hanya membalas ciuman Kuroro tak kalah lembutnya. Sedangkan Ritsuka yang saat ini sedang asyik bermain di bawah mereka hanya terus bermain mobil-mobilan tanpa mengubris orang tuanya itu.

Kurapika meletakkan tangannya di bahu Kuroro dan berjinjit, berusaha menyamai tinggi Kuroro. Kuroro pun semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Kurapika. Tangan yang sedari tadi menyentuh dagu Kurapika pun berpindah ke pinggang wanita itu dan semakin memeluknya erat.

Ciuman masra (bagi author) itu pun berakhir setelah berlangsung selama kurang lebih tiga menit.

"Aku pergi," ucap Kuroro memegang lembut pipi Kurapika, dan mengecup lembut puncak kepalanya. Ia pun berjalan, dan langsung mengilang begitu saja. Kurapika hanya tersenyum lembut menatap kepergian Kuroro.

Ia pun menggendong Ritsuka, lalu meninggalkan tempat itu.


"Benar, Rikka-chan manis sekaliii!" puji pengasuh anak yang ada di tempat penitipan anak tersebut.

"Terima kasih…" ucap Kurapika senang. "Ngomong-ngomong, dimana yang lain? Kenapa sepi sekali?"

"Ini 'kan masih pagi sekali. Belum ada yang datang, baik pelanggan, maupun pegawai." Kurapika hanya ber-oh-ria mendengarnya.

Kurapika pun menyerahkan Ritsuka pada pengasuh itu. Ia lalu mencium lembut dahi Ritsuka, dan meninggalkan tempat itu dengan tenang.

Baru lima langkah Kurapika meninggalkan tempat itu,

DWARRRRR!

Suara ledakan yang memekakan telinga yang berasal dari belakangnya sukses mengagetkan Kurapika. Dia sontak menoleh ke belakang, melihat apa yang terjadi.

Iris sapphire-nya membulat sempurna, ketika melihat tempat penitipan anak itu, sudah runtuh, dengan keadaan terbakar. Tubuhnya langsung bergetar hebat.

"RITSUKA!" teriaknya langsung berlari ke tempat itu.

Matanya lalu menangkap sosok pengasuh itu, berdiri di antara asap-asap reruntuhan. Dia menggendong Ritsuka yang dalam kondisi baik-baik saja. Perasaan lega di hati Kurapika yang berlangsung hanya beberapa detik itu langsung sirna, ketika menyadari tatapan pengasuh yang bernama Yumeko itu berbeda dari biasanya. Yumeko nampak menyeringai.

"Yumeko! Apa yang terjadi?" tanya Kurapika tegas.

"Hahahahahaha!" Yumeko nampak tertawa mengerikan, membuat perasaan khawatir di hati Kurapika makin bertambah saja. "Aku akan… membunuh kalian bertiga…"

Perkataan itu sukses mengagetkan Kurapika. Dia segera mengeluarkan rantainya, hendak menyerang Yumeko. Namun dengan mudahnya wanita pemilik rambut coklat yang dikuncir satu ke belakang itu menghindar.

Yumeko menaikkan satu tangannya. Detik selanjutnya keluarlah segerombolan orang yang menghadang Kurapika. Wanita pirang bermarga Lucifer itu pun semakin bingung dengan kejadian ini. Namun ia memiliki feeling, bahwa mereka semua bermaksud untuk menculik Ritsuka.

"Ada apa ini? Kembalikan Ritsu padaku!" teriak Kurapika mengambil ancang-ancang.

"Serang," satu kata yang keluar dari bibir Yumeko pun membuat semua orang yang tadi mengepung Kurapika langsung menyerangnya secara bersamaan.

'Sebenarnya apa yang terjadi?' batin Kurapika seraya menghindari serangan kedua puluh orang itu, dan hendak mengambil Ritsuka dari gendongan Yumeko.

Namun Yumeko segera melompat dengan kecepatan tinggi, meninggalkan tempat itu. Kurapika langsung mengejarnya, namun dua puluh pria kuat yang diketahui juga pengguna nen langsung menghadangnya.

"Minggir!"perkataan Kurapika tak diubris. Meleka malah menyerang wanita itu tanpa ampun.

"RITSUKAAAAA!"

.

.

.

~TO BE CONTINUED~


.

Akhirnya Natsu update juga chapter empat…^^

Sebenarnya sih, laptop Natsu belum selesai diperbaikinya, tapi karena tangan Natsu udah gatal banget pingin update, akhirnya Natsu memutuskan untuk ngetik ulang fic ini di warnet!^^

Susah juga! Karena waktu Natsu di warnet tuh cuman tiga jam doank! Jadi gomen, kalau ceritanya terkesan terburu-buru, selain itu typo berserakan kemana-mana! Tapi Natsu sudah berusaha sebaik mungkin buat menghasilkan fic yang berkualitas!

Ohya, makasih buat para readers, dan reviewer sekalian! Juga makasih yang sebesar-besarnya buat yang udah fave fic ini (kalo ada)! Natsu seneeeng banget!

Ohya, gomen yang sebesar-besarnya, soalnya Natsu gak sempet bales review kalian semua lewat PM! Jadi Natsu balas di sini aja yah!

Okay!


Balasan review :

.M404 :
Makasih udah R&R M-saaaaann… XD
Nih, Natsu udah update! ^^

. Kay Inizaki-chan :
Makasih udah R&R Kay-chaaaann… XD
Iyah! Natsu emang tolol!
Tapi, makasih udah bilang Natsu jenius…^^ jadi malu… =v=
Hahahaha! Natsu juga gak kebayang Machi-san ngakak! *ditampar Machi*
Kyaaaa! Gomeeeenn… D'X *ngelus2 kepala yang udah kejitak Kay*
Natsu emang pingin ngebuat para readers penasaran… *jahat mode : on* *dihajar readers*

. ToneIvonne Katsura :
Makasih udah R&R Ivon-san…^^
Makasih juga udah bilang keren^^
hahahahaha… gomen, Hisoka-saaaan… X3 *sembunyi dibelakang Kuroro*

. zakeera :
Makasih udah R&R yah Zakeera-san… XD
Salam kenal juga… XD
Kyaaaa! Jangan manggil Natsu 'senpai' dooonnkk… DX soalnya Natsu masih newbie, belum pantas dipanggil senpai… :3
Makasih atas pujiannya… XD
Gak apa kok!
KuroKura emang no.1 ! Hahahahaahaha… *tawa laknat*

. Scarlet85 :
Makasih udah R&R Scarlet-saaaaann… X3
Makasih juga atas saran2 Scarlet…
1. Ah! Itu maksudnya… *plakk!*
2. Hahahaha… mereka emang sabar! Kakak-kakak Natsu gituloh! *digampar karena egois* makasih Scarlet-san… XD
3. Hahahaha… gak apa beda, yg penting KuroKura tetap bersama! Selain itu, bagusan nothingness kok! Soalnya alurnya susah ketebak, dan adegan romance-nya keren! Hehehe… *plakk!*
4. Hahahahaha… Kuroro nii-kun emang sabar! Pantas jadi Onii-san Natsu! *dikeroyok karena serakah*
5. Pertanyaan Scarlet-san udah kejawab 'kan?^^
Hehehehehe… Natsu emang anak yang rajin! *bohoooongg!*
Nggak nyinggung kok, Scarlet-san! Natsu malah seneng banget!^^b

. Racchy-sora :
Makasih udah R&R Racchy-saaan…
Kyaaaa! Natsu gak ngapa-ngapain koookkk… DX *sembunyi balik Kurapika*
Makasih udah bilang bagus…^^
Hahahahaha… Natsu sengaja bikin ngidamnya Kurapika nee-chan se-dahsyat mungkin! *digampar Kuroro nii*

. whitypearl :
Makasih udah R&R Pearl-chaaaann… XD
Hahahahaha… pasti lucu banget! *plakkk!*
Makasih atas pujiannya Pearl-chaaann… XD

. Airin Aizawa :
Makasih udah R&R Airin-chaaann…^^
Hahahaha…
Pertanyaan Airin-chan udah kejawab di chappy ini 'kan?^^

. Shana-chan :
Makasih udah R&R Shana-chaaaann… XD
Salam kenal jugaaa..^^
Kyaaaa! Jangan manggil Natsu dengan sebutan 'senpai' dooonkk… DX
Natsu 'kan masih newbie! Belum pantes dipanggil senpai…^^"
Kyaaaa! Gome, kalo alurnya kecepatan… TT_TT
Natsu bakal berusaha lebih giat lagi! *semangat 45*

. RedMahlova :
Makasih udah R&R Lova-san…XD
Dendam? Hahahahaha!

. UL-chan :
Makasih udah R&R… Aul-chaaaann… XD
Kyaaaa! *lari bawa ember*
INSYA ALLAH, gak bakal sad ending kookk…^^


.

Yosh! itu aja! Sekali lagi makasih banyak yaaaahh…^^

Sekarang, bolehlah Natsu minta review anda lagi? Mau ngasih konkrit, kritik, saran, bahkan flame sekalipun, Natsu terima dengan senang hati…^^

Akhir kata, REVIEW PLEASE…

.

~ARIGATO~

NATSU HIRU CHAN