Disclaimer: I don't own KHR. KHR belongs to Akira Amano.
Peringatan ini berlaku untuk semua chapter di ff ini; OOC, AU, typo(s), sometimes drabble, alur kecepetan, aneh, abal, gaje, nggak nyambung. Don't like don't read. Like? Review. Multichap abal!
First A/N: ceritanya gak sesuai sama judul chapternya. Abal pula. Nyaa~ Yamamoto seme nya lho :3 #shot
Now is Yamamoto POV.
Pairing: Yamamoto x Gokudera
Chapter IV: D for Destination
XXXxxxXXX
Hei,
Apa itu takdir?
Takdir bisa diubah tidak?
Apa pertemuan kita sudah ditakdirkan?
Apa perasaan kita sudah ditakdirkan?
Dan apa kita akan terus bersama?
Semoga takdir kita baik.
Semoga kita bisa terus bersama.
Dalam bimbingan takdir baik.
XXXxxxXXX
Pertemuan kita berdua telah ditakdirkan. Kau tau itu kan?
Suatu hari yang cerah...
Disaat pertama kali aku melihatmu. Kau berdiri disebelahnya, disebelah Tsunayoshi Sawada. Saat pertama melihatnya, aku hanya terdiam. Aku merasa biasa saja, perasaan aneh belum tumbuh. Sampai... aku merasakan segalanya.
Mulai dari perasaan jealous terhadap Tsunayoshi. Tsuna selalu terlihat begitu dijaga olehnya. Begitu dijaganya.
Lalu saat perasaan rindu jika beberapa hari tidak bertemu dengannya.
Dan sampai akhirnya perasaanku berubah menjadi perasaan... suka? Mungkin.
Dan siapa orang itu? Dia adalah... Gokudera Hayato.
Seorang lelaki berambut abu-abu yang senang sekali bermain dengan dinamit. Mudah naik darah, dan unik. Cukup terkenal dikalangan para gadis. Dan sekalipun berandalan, dia itu cukup pintar.
.
"Ah." Tsuna tiba-tiba muncul. Dia melihatku bersama Gokudera. "Hei." Sapanya. Aku tersenyum. "Yo." Balasku. Ah, dan tentu saja, seperti dugaanku, Gokudera langsung bergerak menuju Tsuna. Aku sudah terbiasa.
Dan aku selalu merasa aku tidak bisa menang dari Tsuna untuk mendapatkan hati Gokudera.
Oh, well. Apa boleh buat?
Ini takdir... aku tidak bisa berbuat apapun. Aku hanya bisa pasrah dan berusaha mendapatkanmu. Itu saja.
XXXxxxXXX
Aku bertemu denganmu,
Itu takdir.
Aku berkenalan denganmu,
Itu takdir.
Aku bersahabat denganmu,
Itu takdir.
Dan aku menyukaimu,
Itu tentu saja juga takdir,
Ya kan?
Tapi,
Takdirku selanjutnya apa?
Apa aku akan mendapatmu?
Atau malah harus melepasmu?
XXXxxxXXX
Aku hanya memerhatikan Tsuna dan Gokudera dari jauh hari ini. Entah kenapa, aku tidak mau mendekati mereka hari ini. Aku... entah kenapa ingin menjauhi mereka beberapa hari ini. Aku sedang ingin menjauhi... Gokudera. Dan kupikir lebih baik membiarkan dia terus bersama Tsuna tanpa perlu kuganggu.
Perbuatan yang aneh, kan?
.
"Ya–" panggil Gokudera. Aku berdiri. "Yamamoto!"
"Ya? Ah, Gokudera. Maaf, aku harus keluar dulu." Kataku sambil berjalan meninggalkan Gokudera. Ah, memang agak kejam, tapi aku sedang tidak ingin berurusan dengannya.
Gokudera hanya terdiam. Bingung dengan sikapku mungkin.
.
Hei, sudah berapa lama, ya, aku berusaha menghindari Gokudera dan Tsuna? Wah, aku bahkan lupa sudah berapa lama. Mungkin sudah beberapa bulan. Yang pasti belum beberapa tahun. Genap satu tahun saja belum.
.
"Hei, Yamamoto!" tiba-tiba Gokudera datang dan menghalangi jalanku. Aku berbalik kembali, tapi Gokudera telah mencengkeram tanganku dengan tangan kanannya. Tangan kirinya menggenggam dinamit. Tatapan matanya tampak tajam. "Dengarkan aku, Yamamoto. Atau kau mau kuledakkan?" tanyanya. Aku langsung terdiam patuh.
"Jadi... ada apa?" tanyaku sambil berusaha agar tidak menatap Gokudera.
"Jadi kenapa... kau menjauhiku?" tanyanya. Sial, dia menyadarinya. Aku diam saja. "Jawab aku, Yamamoto." Katanya sambil mengguncang pelan bahuku.
"Padahal aku mencintaimu dan ingin kau ada disisiku, tapi kenapa kau menjauhiku?"
Eh...?
Mencintaiku...?
"Apa?" tanyaku. "Ulang sekali lagi." pintaku. Wajah Gokudera bersemu merah. "Kubilang... aku mencintaimu." Katanya. "Dan kau malah menjauhiku. Sebenarnya ada apa?" tanyanya.
Aku menundukkan kepala. "Kupikir... kau mencintai Tsuna. Dan kupikir lebih baik membiarkanmu bersama Tsuna, tanpa perlu kuganggu. Soalnya... aku juga mencintaimu."
Wajah kami berdua bersemu merah.
"Jadi... kita saling suka?" tanya Gokudera pelan. Aku diam lalu mengangguk pelan.
"Takdirnya begini. Kita saling suka. Perasaan kita sama. Jadi... tidak ada masalah kan?" aku tersenyum. Gokudera juga tersenyum.
"Aku mencintaimu, Yamamoto."
Inilah akhirnya. Takdirku. Takdir cintaku. Dan takdir cinta ini sangat baik dan indah.
Sekarang aku percaya... takdir selalu indah.
-Fin-
A/N:
Udah beneran gak sesuai alurnya sama judulnya =A= ah sudahlah. Review dong~ :3 *pasang puppy eyes gagal* #slap
