Kise's POV~
"Aku pulang." Aku membuka pintu asrama lebar lebar tapi sesosok pria biru yang kuharapkan tak dapat kutemui dimanapun. Aku sudah memeriksa dari sudut kamar hingga ke sudut dapur, namun tetap tak bisa kutemui.
"Sepertinya Kuroko-cchi masi di perpustakaan ssu." Fikirku. Aku berjalan ke dalam kamar mandi dan menyiapkan air hangat.
"Kalau capek capek begini memang paling enak berendam air hangat ssu." Aku memutar keran air panas dan air dingin secara bersamaan membuat uap hangat membubung di udara, membuka seluruh pakaianku secara perlahan dan aku mulai menggosok tubuhku secara perlahan.
CKLEK...Suara pintu depan terdengar terbuka. Aku hanya mengedikan bahu dan kembali menggosok tubuhku.
Tap...tap...tap...aku mengerutkan dahiku saat mendengar suara langkah kaki yang mendekat dan tiba tiba saja berhenti tepat di depan pintu kamar mandi.
"Kuroko-cchi?" Teriakku dari dalam kamar mandi, namun tak ada jawaban. Perasaanku mulai tidak enak saat mendengar suara saklar lampu yang ditekan oleh seseorang dan menyebabkan lampu kamar mandi padam.
"Kuroko-cchi ini tidak lucu ssu, kau tau aku takut gelap, nyalakan lagi lampunya ssu." Tak ada jawaban.
Cklek...Suara pintu kamar mandi yang terbuka menampakan sesosok siluet pria tinggi yang dapat kupastikan itu bukanlah kuroko. Namun sebelum aku sempat menyadari itu sesosok itu menarik rambutku-yang membuat kulit kepalaku terasa perih- dan membantingku ke lantai kamar mandi yang terasa basah dan dingin. Semuanya terjadi begitu cepat hingga rintihanku tak dapat keluar dari mulutku.
"Menjauhlah." Bisiknya dengan nada yang mengancam.
"A-apa maksudmu?"
"Aku bilang menjauhlah." Teriaknya dan lagi lagi membanting kepalaku kelantai kamar mandi. Aku bisa merasakan darah yang mengalir dari pelipisku saat ia menarik kepalaku, dan menatapku dengan tatapannya yang dingin. Mata navy blue itu terasa tidak asing.
"Kau gila." Desisku.
"Menjauhlah."
"Dari apa?"
"Kagami." Aku hanya terdiam dan mencoba untuk tersenyum di tengah rasa sakit kepalaku yang semakin berdenyut denyut.
"Kau benar benar bodoh...Aomine-cchi." Ia berdecak kesal, ia menyentuh anting yang berada di daun telinga kananku.
"Dengar Kise, jika kau tak mematuhi kata kataku-" Ia menarik anting itu dan aku bisa merasakan daun telingaku yang robek saat rasa perih itu menjalar.
"ARGH."
"-aku bisa melakukan hal yang lebih buruk dari ini." Aomine melepaskan cengkramannya dari rambut kuningku. Lampu kembali menyala namun kepalaku terasa pening dan mataku terasa berat.
"Mungkin tidur sebentar tidak apa apa ssu." Pikirku
Something's Happened!
PsychoAomine X InnocentKagami
Author's note : Kamiya masih bingung ini genrenya apa :v
Don't like don't read so here we go
~(*w*~)(~*w*)~
"APA? KISE PINGSAN DI KAMAR MANDI?" Teriak Kagami membuat orang orang di sekitar taman itu menengok kearahnya.
"Kagami-kun kau berisik sekali, dan kau bisa menyebabkan gosip yang tidak benar Kagami-kun."
"Tapi bagaimana bisa?"
"Kise-kun pingsan dalam keadaan yang mengenaskan."
"Mengenaskan?"
"Un." Kuroko mengangguk.
"Mengenaskan bsgaimana."
"Keningnya mengucurkan darah dan sepertinya ia sempat terbentur sesuatu sebelum pingsan, dan daun telinga sebelah kanannya "sedikit" robek."
"Apa maksud dari sedikit robek mu itu? Kenapa kau menekankan kata sedikit robek itu?"
"Kau akan tahu saat kau melihat keadaannya."
"Dan kau meninggalkannya sendirian di kamar?"
"Tidak, ada midorima-kun yang menjaganya."
"Midorima? Dari fakultas kedokteran?"
"Iya, dia teman SMA Kise-kun." Kagami hanya mengangguk angguk.
"Aku akan ajak Aomine untuk menjenguk Kise."
"Baiklah, aku akan kembali ke asrama." Kagami mengangguk dan segera kembali ke kampus untuk nencari Aomine. Ruang kesenian, hanya itu tempat yang pertama kali muncul di dalam kepalanya dan benar saja. Saat Kagami membuka pintu ruang kesenian, Kagami dapat melihat Aomine yang sedang terduduk ditengah ruangan sambil meggoreskan warna demi warna di atas kanvas tersebut. Kagami seakan akan melihat bayangannya di atas kanvas tersebut.
"Itu indah sekali." Bisiknya, Aomine menengok kearah Kagami dan tersenyum kearahnya.
"Benar kan? Hasilnya tidak akan mengecewakan?"
"Ah...umm...yeah sebenarnya itu bagus."
"Jadi?"
"Jadi apa? Oh iya hari ini aku akan menjenguk Kise."
"Hmm." Aomine terlihat cuek saat mendengar pernyataan Kagami membuatnya sedikit mengerutkan kening. "Ini aneh, kenapa Aomine terlihat cuek sekali bahkan cenderung tidak perduli padahal Kise kan temannya." Pikir Kagami.
"Kau...tidak berniat menjenguknya?"
"Aku tidak bisa, masih ada tugas yang harus kuselesaikan sampaikan saja salamku padanya." Kagami hanya mengangguk.
"Kalau begitu aku akan kembali ke asrama sekarang."
"Tunggu, kau akan kembali kekamar?"
"Iya."
"Bisa tolong ambilkan laptopku? Kau nanti akan kembali lagi kesini kan?"
"Hmm tidak masalah sih toh nanti siang aku masih ada kelas."
"Kalau begitu tolong ya maaf merepotkan."
"Tidak masalah." Kagami segera beranjak dari tempatnya berdiri dan segera kembali ke kamarnya.
Kagami segera membuka pintu kamarnya dan melemparkan tasnya ke kasurnya.
"Ah laptop." Bisiknya. Kagami segera beralih ke arah meja belajar Aomine dimana sebuah laptop berwarna silver tergeletak diatasnya. Kagami segera membereskan beberapa kabel dan memasukannya kedalam tasnya.
"Ittai." Langkahnya terhenti saat merasakan telapak kakinya menginjak sesuatu. Kagami mengerutkan keningnya saat melihat sebuah anting yang tak sengaja terinjak kakinya tadi.
"anting? Apa ini milik Aomine?" Pikirnya. Kagami memperhatikan anting itu dengan seksama, kecurigaan mulai muncul di dalam benaknya saat melihat sebercak noda kemerahan di anting tersebut. "Apa ini? Darah?" Ia hanya mengedikan bahunya dan memasukan anting tersebut kedalam saku kemejanya. Mungkin itu milik teman Aomine dan mungkin saja Aomine sedang mencarinya saat ini.
Tok...tok...tok...suara pintu yang diketuk kagami dan sedetik kemudian menampilkan sesosok pria berrambut baby blue.
"Kagami-kun, terima kasih sudah mau datang." Kagami hanya mengangguk. Kagami mendapati seorang pria berambut hijau yang sedang berdiri di sebelah ranjang Kise melihat kearah mereka berdua, terutama Kagami.
"Sepertinya aku harus pergi sekarang Kuroko, aku masih ada kelas siang ini."
"Ha'ik terimakasih Midorima-kun." Midorima segera berjalan melewati mereka. Kagami dapat merasakan tatapan Midorima yang menatapnya dari ujung matanya, namun Kagami tidak terlalu menperdulikan itu toh ia juga tidak kenal dengan orang itu. Kagami berjalan mendekat kearah ranjang Kise.
"PERGI, MENJAUHLAH DARIKU." Kise berteriak cukup keras yang membuat Kagami tersentak dan mundur satu langkah.
"K-kuroko apa yang terjadi?"
"Aku tidak tahu Kagami-kun, sejak pagi tadi Kise-kun sama sekali tidak mengatakan apapun padaku." Kagami hanya mengerutkan keningnya sementara itu teriakan Kise semakin menjadi jadi. Kagami tiba tiba teringat sesuatu saat melihat perban di daun telinga Kise.
"Kuroko, kurasa kita perlu berbicara." Kagami segera menarik lengan Kuroko hingga ke ujung lorong yang letaknya cukup jauh dari kamar mereka. Kagami mengeluarkan anting dari saku kemejanya.
"Ini."
"..."
"Ini milik Kise kan?"
"Kagami-kun, di dunia ini ada banyak anting dengan model seperti itu, kau tidak bisa-."
"Iya aku tau, tapi hanya ini anting dengan bercak darah disekitarnya." Kuroko terdiam.
"Sekarang jelaskan semuanya padaku."
"Tidak ada yang perlu dijelaskan."
"Kau mencoba melindunginya?"
"Aku tidak mengerti apa maksudmu Kagami-kun." Kagami hanya menghela nafas.
"Ini ada hubungannya dengan Aomine." Kuroko kembali terdiam.
"Apa ini juga ada hubungannya dengan Momoi?"
"Aku sama sekali tidak bermaksud untuk menyeret Kagami-kun dan Kise-kun kedalam masalah ini."
"Jadi itu benar."
"Tapi kumohon percayalah padaku, Aomine-kun hanya sakit. Dia membutuhkanmu Kagami-kun."
"Kenapa kau mengkhawatirkannya?"
"Kau tidak akan mengerti perasaanku."
"Kau menyukainya?"
"Tidak, dan ini sungguh tidak ada hubungannya denganmu." Kagami hanya menghela nafas.
"Kau bilang Aomine-sakit, sebenernya penyakit macam ap-." Pertanyaan Kagami terinterupsi saat tiba tiba ia bisa merasakan smartphonenya yang bergetar.
"Wah ada pokemon legend di sekitar sini." Kuroko sweat drop mendengar pernyataan random dari Kagami.
"Pokemon?"
"Iya itu loh, permainan yang lagi nge hits banget masa gk tau sih? Ya sudah aku pergi duluan yah aku harus hunting pokemon lagi aku pergi duluan jaa~" Kagami melambaykan tangannya ke arah Kuroko sementara itu Kuroko masih bersweat drop ria di tempatnya.
Kagami terengah engah saat sampai di depan ruang kesenian tempat Aomine mengerjakan tugasnya, atau sekedar mencari inspirasi untuk lukisan lukisannya. Kagami membuka pintu ruang kesenian dan benar saja, Aomine tengah berada di tengah ruangan sambil menatap sebuah lukisan yang sepertinya baru saja ia selesaikan.
"Apa itu sudah selesai?." Tuturnya, Aomine menengok ke arah Kagami dan membalasnya dengan sebuah senyuman.
"Belum, masih ada beberapa bagian yang pewarnaannya belum selesai." Aomine menyunggingkan senyum penuh kesombongan tapi Kagami akui lukisannya memang benar benar indah.
"Jadi...?'
"Oh iya aku sudah bawa laptopmu, kutaruh mana?"
"Taruh disana saja." Aomine menunjuk sebuah meja di sudut ruangan dan segera dibalas anggukan Kagami. Sedetik kemudian keadaan menjadi hening. Kagami terlarut dalam lamunannya dan Aomine masih serius menatapi lukisan itu. Meski lukisan itu tampak sempurna namun entah kenapa Aomine masih menganggap bahwa lukisan itu belum selesai.
"Kagami." Aomine memecah keheningan.
"Hm?"
"Kemarin...kau bertemu dengan Satsuki?"
Deg..."bagaimana ia bisa tahu" Fikir Kagami.
"Maksudmu...momoi-san?" Aomine mengangguk.
"Iya, kemarin Kuroko mengenalkanku pada momoi-san tapi..."
"Tapi?"
"Sepertinya momoi-san marah padamu, apa terjadi sesuatu?" Aomine terdiam. Matanya masih tak lepas dari lukisan yang berada di hadapannya.
"Tidak, tidak ada. Satsuki mulai menjaga jarak dari kami, terlebih aku."
"Begitu...bukankah kalian teman? Mungkin Momoi-san akan mengerti jika kau menjelaskannya?"
"Tidak, ia tidak akan pernah mau mendengarkan kata kataku lagi."
"Oh begitu...maaf."
"Untuk?"
"Ah tidak."
"Kagami, terimakasih, entah kenapa rasanya aku ingin sekali berterima kasih padamu." Kagami menyunggingkan seringai jahilnya.
"Jika kau ingin berterimakasih padaku, akan lebih mudah jika kau langsung mentraktirku daripada harus mengucapkan lewat kata kata." Aomine tertawa renyah.
"Tapi kenyataannya kau selalu menolak ajakanku kan?"
"Itu karna beberapa waktu ini aku sedang sibuk, sungguh."
"Kalau begitu bagaimana kalau malam ini?"
"Aku-"
"Sibuk? Iya kan?"
"Aku akan coba usahakan."
"Benar kah?"
"Tapi janji ya kau yang traktir." Aomine mengangguk.
"Kalau begitu aku akan kembali ke kelas sekarang."
"Baiklah." Kagami berbalik dan baru saja ia ingin meraih gagang pintu Aomine melontarkan kata kata yang membuat langkah kakinya terhenti.
"Aku menganggapmu lebih dari teman, kau tau?"
To Be Continued~
HUWAAAAH AKHIRNYA BISA UPDATE *NANGES* QwQ) gomene para readers sekalian Kamiya baru update dan bisa dipastikan Untuk beberapa bulan kedepan update-an Kamiya akan semakin lama, kenapa? Pertama...karna hp Kamiya ilang dan Kamiya itu biasa nulis di hp jadi sekarang kalo Kamiya mau nulis musti mohon mohon sama abang biar dipinjemin hp atau laptopnya QwQ) kedua...Kamiya akan semakin sibuk karna harus mulai mulai nyari tempat PKL dan tugas yang numpuk bikin migraine tiap kali Kamiya kerjain -w-) TAPI TENANG SAJA KAMIYA AKAN MENCOBA UNTUK TIDAK MENELANTARKAN FICT FICT KAMIYA *w*)/ satu review sangat berarti untuk Kamiya jadi akhir kata, MIND TO REVIEW? ~(*w*~)(~*w*)~
