Chapter 4

Dalam perjalanan menuju rumah sakit, tak lupa Suho mengabarkan member lain seraya mendiskusikan apakah sebaiknya Chanyeol diinfokan atau tidak mengenai kondisi An Rui. Kondisi Chanyeol tak kalah memprihatinkan. Ia tetap menolak untuk makan dan tidak ada yang dapat membujuknya.

Di sisi lain, Baekhyun benar-benar tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Yang Ia tahu, ini adalah kesalahannya. Tapi Ia tak memiliki pilihan selain ikut mengantarkan An Rui ke rumah sakit dan menceritakan seluruh perbincangan dirinya dengan An Rui, termasuk kesangsiannya terhadap pernyataan An Rui.

Baekhyun merasa tidak sanggup untuk menanggung perasaan bersalahnya. Di satu sisi, Ia juga merasa telah membantu keberlangsungan hubungan Chanyeol dan An Rui. Namun disisi lain, seandainya Ia tidak mendatangi An Rui beberapa saat lalu, mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi, pikirnya.

Sebisa mungkin Suho menenangkan Baekhyun, "tenanglah, Baek. An Rui memang sedang sakit. Sepertinya An Rui sudah cukup lega dengan semua fakta ini, bukankah begitu? Ia hanya terlalu cemas sehingga berdampak pada fisiknya. Beristirahatlah sejenak, tenangkan pikiranmu. Kita membawanya ke rumah sakit karena kita sama-sama lelaki. Memangnya apa yang dapat kau lakukan dengan wanita yang sedang datang bulan dan sedang sakit? Ia bahkan tidak kuat menopang tubuhnya untuk berdiri. Bagaimana dia bisa berjalan ke kamar mandi dan …", Suho menggantungkan pertanyaannya.

Baekhyun secara tidak sadar pun akhirnya ikut tersenyum. "Kau benar, Hyung. Sepertinya aku memang terlalu cemas sehingga sulit untuk berpikir jernih. Apa yang harus kita perbuat jika An Rui tetap berada di rumah? Ah, aku tiak dapat memikirkannya, Hyung!", tutup Baekhyun dengan sedikit rona merah di pipinya. Beruntung hari sudah malam sehingga Suho tak dapat melihatnya. "Ya ya yaa.. apa yang kau pikirkan hah? Jangan berpikiran yang tidak-tidak!", seraya memberikan tinjuan ringan ke lengan Baekhyun dan diiringi dengan tawa renyah keduanya. "Ya, setidaknya satu per satu dari masalah ini menemui titik terang.", batin Suho seraya tersenyum melihat Baekhyun yang akhirnya bisa tertawa.

Segala kebutuhan An Rui sudah dipersiapkan oleh Suho, termasuk menghubungi Manajer Hyung dan dokter Ahn untuk segera mempersiapkan kebutuhan An Rui. Tentu bukan hal yang mudah bagi Suho maupun Baekhyun untuk berada dalam situasi tersebut. Keduanya akan menjadi attention center dan dengan cepat menjadi bahan perbincangan, tidak hanya di dalam negeri namun juga di luar negeri.

Sesampainya mereka di emergency unit, semua sudah bersiap sehingga Suho tidak perlu menghentikan kendaraannya terlalu lama disana. Selagi menunggu kabar mengenai An Rui, Suho dan Baekhyun mendatangi Chloris Tea & Coffee, di Kawasan Mapo-gu, sekitar 30 menit dari rumah sakit tempat An Rui ditangani. Mereka sengaja memilih tempat yang tidak terlalu dekat dengan rumah sakit agar tidak ada yang mencium kejadian tersebut.

Keduanya mendiskusikan mengenai cara untuk memberi tahu Chanyeol dan tentunya pemilihan waktu merupakan bagian terpenting. Sedangkan An Rui kelihatannya cukup aman karena akan berada dalam pengawasan pihak medis dalam beberapa hari karena kondisi fisiknya yang masih lemah. Kondisi psikisnya pun menjadi pertimbangan kedua, setidaknya dengan memaksanya untuk bedrest diharapkan pikirannya dapat menjadi lebih tenang.

Setelah Manajer Hyung mengabarkan bahwa An Rui sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa, barulah Suho dan Baekhyun kembali ke dorm kemudian melanjutkan diskusinya bersama member lain. Saat itu, Chanyeol sudah kembali tidur setelah dibuatkan teh serai untuk menghangatkan tubuh serta menenangkan pikirannya, paling tidak ketegangan syarafnya dapat sedikit berkurang.

.

.

.

Pagi telah menjemput dan Sehun mendatangi kamar Chanyeol untuk membangunkannya. Chanyeol masih tertidur meski waktu telah menunjukkan pukul 9 pagi. Sehun segera mendatangi sisi tempat tidur Chanyeol, berniat untuk membangunkannya. Betapa terkejutnya Sehun ketika melihat kondisi Chanyeol yang tak berdaya. Keringat sudah membasahi seluruh tubuh Chanyeol. Badannya menggigil, tampak gelisah, dan terus menggumamkan nama An Rui. Sehun berusaha untuk membangunkannya, namun hasilnya nihil. Ia segera menghubungi Manajer Hyung untuk mengabarkan kondisi Chanyeol dan sepakat untuk membawa Chanyeol ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Tentunya dengan treatment khusus agar media tidak mencium kabar ini.

.

.

Severance Hospital

Manajer Hyung telah mengatur segalanya untuk mencegah media maupun fans, terutama para sasaeng, tidak dapat mengakses kondisi Chanyeol dan juga An Rui. Bagaimana pun juga, mereka tidak diperkenankan untuk mencium kabar apapun mengenai pernikahan keduanya. Chanyeol mendapatkan perawatan intensif untuk diberikan cairan intravena karena dehidrasi yang dialaminya sehingga mengakibatkan penurunan kesadaran.

Chanyeol terus saja berkeringat sepanjang malam, namun asupan cairan dan makanan yang dikonsumsinya sangat minim. Tak lama setelah Chanyeol siuman, Ibu Chanyeol datang. Manajer serta beberapa member yang awalnya berada di dalam kamar perawatan Chanyeol segera undur diri. Bukan ingin mengurangi rasa hormat kepada Nyonya Park, namun mereka tidak ingin terlalu mencampuri urusan keluarga Park. Mereka hanya tidak ingin hal yang tidak diinginkan kembali terjadi.

Manajer Hyung sudah mengatur agar kamar perawatan Chanyeol bersebelahan dnegan kamar perawatan An Rui sehingga tidak sulit bagi mereka untuk menjaga keduanya. Kini mereka berpindah untuk singgah di kamar perawatan An Rui. Belum terlalu banyak perubahan pada An Rui, namun kini intensitas munculnya dysmenorrhea-nya mulai berkurang.

Selagi An Rui tidur, Manajer Hyung dan beberapa member lain mencari cara agar dapat mempertahankan hubungan Chanyeol dan An Rui karena sepertinya suasana kini kembali memanas. Tampak raut wajah Nyonya Park yang tidak terlalu bersahabat ketika memasuki ruang perawatan Chanyeol.

.

.

Flashback

Seluruh member sedang mendapat jatah libur selama satu bulan dari manajemen, sebelum menggarap album baru dan kembali disibukkan dengan serangkaian promosi dan konser selama satu tahun ke depan. Selain mengunjungi rumah masing-masing, menghabiskan waktu untuk berlibur bersama merupakan hal yang langka bagi mereka sehingga kali ini adalah waktu yang tepat.

Semua sepakat untuk mengajak seluruh Manajer Hyung beserta pasangan masing-masing agar dapat lebih mengenal dekat satu sama lain. Krabi, Thailand menjadi pilihan destinasinya. Hangatnya cuaca di Krabi menjadi salah satu alasan, mengingat musim dingin yang belum kunjung menemui akhir di pertengahan Februari. Sebetulnya ini bukan kali pertama mereka berkunjung ke Thailand, namun sering kali hanya disibukkan dengan berbagai pekerjaan.

Bersantai kurang lebih enam hari lima malam sekiranya cukup membantu mereka melepas kepenatan dalam bekerja. Begitu banyak aktivitas yang mereka lakukan disana, mulai dari menikmati laut tentunya, bermain di pantai, snorkeling, diving, water sports, rock climbing, sekolah memasak makanan khas Thailand, mengikuti shark watching tour, serta menikmati cruise.

Semuanya sudah terjadwal dengan baik dan berjalan dengan lancar, so far. Disela-sela acara mereka yang cukup banyak disana, mereka tetap menyempatkan beberapa waktu untuk menikmati quality time, bersama-sama ataupun berdua dengan pasangannya masing-masing. Villa yang mereka sewa terbagi menjadi dua macam, yaitu villa utama dengan 8 kamar tidur dan villa dengan ukuran lebih kecil yang berisi 5 kamar tidur. Meski terbagi dua, namun mereka sering berkumpul di villa utama untuk sekedar bermain, berenang, maupun makan bersama.

Seperti saat ini, mereka telah menyiapkan sebuah permainan yang cukup popular di awal abad ke-21, twister. Sebuah permainan yang menggunakan alat bantu sebuah karpet plastik yang memiliki enam baris dari lingkaran-lingkaran besar dan memiliki empat warna berbeda, yaitu merah, biru, kuning, dan hijau. Sebuah spinner berfungsi sebagai alat penentu langkah yang harus diambil oleh kedua pemain yang beradu kelincahan di atas karpet plastik. Kedua pemain harus mengikuti arahan sesuai spinner dan peserta yang jatuh untuk pertama kali yang dinyatakan kalah.

Permainannya cukup menantang. Selain mengadu keluwesan, permainan ini pun cukup memacu adrenalin. Tidak ada yang salah dari permainan ini pada awalnya. Semua saling menyemangati satu sama lain dan tertawa kemudian saat ada peserta yang gugur karena tidak berhasil memenuhi arahan dari spinner. Pasangan dalam permainan ini diacar secara adil sesuai peruntung dari permainan people-to-people.

Satu dua sesi permainan mulai membuat semua orang semakin bersemangat. Minuman segar dan dingin pun sudah disediakan, mengingat tubuh mereka yang notabene berasal dari negara empat musim, kemudian harus menetap cukup lama pada negara bermusim tropis dan melakukan aktivitas fisik yang cukup menguras tenaga.

Kali ini permainan dimainkan oleh Chanyeol dan An Rui. Tubuh An Rui yang jauh lebih kecil dari Chanyeol menjadi keunggulan baginya. Namun jangan lupakan fakta bahwa tangan dan kaki Chanyeol yang panjang juga merupakan keberuntungan baginya. Lima menit pertama berjalannya permainan, suasana masih cukup tenang. Di menit ke tujuh, permainan semakin memanas karena An Rui mulai kewalahan untuk mencapai lingkaran yang jaraknya cukup berjauhan.

Chanyeol tertawa geli melihat An Rui yang berada di bawahnya sedang memasang wajah sebal karena tangannya yang kesulitan mencapai lingkaran merah di depan tangan kiri Chanyeol. Namun sayangnya ketika Chanyeol menaruh tangan kirinya di sebelah kanan tangan An Rui, posisi badan keduanya yang kurang nyaman dan sangat berdekatan membuat keduanya kesulitan mempertahankan posisinya. Akhirnya Chanyeol terjatuh dan menimpa An Rui.

Beruntung An Rui berada dalam posisi yang wajar sehingga hanya bagian dada dan perutnya yang membentur ubin, itu pun tidak terlalu keras. Naasnya, hal serupa tidak dialami oleh Chanyeol. Tangan kirinya yang berada dalam posisi tidak benar tertimpa oleh An Rui dan hal itu membuatnya cedera di pergelangan tangan kirinya.

Wrist pain yang Chanyeol alami akibat trauma sebenarnya tidak terlalu parah. Hanya membutuhkan pemulihan selama beberapa minggu sebelum diperbolehkan untuk beraktivitas dengan normal, terutama untuk melakukan aktivitas berat, termasuk tarian. Beruntung kejadian tersebut terjadi satu hari sebelum kepulangan mereka ke Seoul sehingga mereka tidak perlu mempercepat kepulangannya. Meski ada sedikit kecelakaan, namun liburan kali itu tetap sangat berkesan.

Meski sudah sempat diberikan pertolongan pertama di Krabi Hospital, namun sesampainya di Seoul Chanyeol tetap menjalani perawatan di rumah sakit karena permintaan dari pihak manjemen. Hal ini bertujuan untuk menghindari terciumnya pergerakan Chanyeol yang setiap hari akan mendatangi rumah sakit untuk kebutuhan observasi lanjut serta terapi non-operatif dan juga untuk mempercepat pemulihannya. Tiga minggu yang akan datang EXO akan melakukan comeback dan tidak ada yang ingin melihat Chanyeol menggunakan elastic bandage di pergelangan tangannya, bukan?

Hari pertama Chanyeol berada di rumah sakit, Ibu Chanyeol hanya meminta An Rui serta member lain dan para Manajer untuk beristirahat karena Beliau lah yang akan menjaganya. Keesokan harinya, An Rui sudah membuatkan tonkatsu kesukaan Chanyeol, lengkap dengan miso soup dan salad. Tak lupa An Rui juga membuatkan fruid salad untuk Ibu Chanyeol. Chanyeol memang mengatakan ingin menyantap makanan tersebut sepulangnya mereka ke Seoul.

Ketika An Rui sampai di rumah sakit, Ibu Chanyeol sedang berada di lorong depan kamar Chanyeol. Ia sedang menelepon Yoora, Kakak Chanyeol dan memintanya untuk segera datang ke rumah sakit. Entah mengapa An Rui merasa kurang nyaman dengan tatapan Ibu Chanyeol dan mempertanyakan dalam hati mengapa Ibu Chanyeol memintanya untuk menjaga Chanyeol. An Rui hanya tersenyum kikuk dan menunduk sembari menunggu Ibu Chanyeol selesai dengan ponselnya.

Posisi Ibu Chanyeol yang saat ini berada tepat di sebelah pintu kamar perawatan Chanyeol membuat An Rui semakin salah tingkah dan tidak tahu harus melangkah kemana. Ia hanya berdiri kaku di dekat perpotongan jalan karena posisi kamar perawatannya berada di dekat pertigaan jalan.

Setelah Ibu Chanyeol menutup sambungan teleponnya, An Rui segera membungkukkan badan dan menyapanya dengan sopan. Namun yang terjadi adalah Ibu Chanyeol segera berbalik badan dan memegang handle pintu tanpa melihat ataupun menjawab sapaan An Rui. Tak ada senyuman atau pun pelukan hangat. Tidak seperti biasanya Ibu Chanyeol bersikap seperti ini.

Meski dalam keadaan bingung, An Rui memberanikan diri untuk memanggil Ibu Chanyeol. "Seomeoni..", titahnya dengan suara yang nyaris hilang dan masih menunduk. Ibu Chanyeol membalikkan badan, "untuk apa kau datang kesini? Tidakkah kau memiliki rasa bersalah? Atau jangan-jangan selama ini kau berniat untuk menjilat kami? Silahkan pergi. Kehadiranmu tidak dinantikan disini. Jangan pernah menampakkan batang hidungmu lagi!". Suaranya tidak keras, namun nadanya sangat tegas dan dipenuhi dengan emosi negatif.

An Rui yang terkejut hanya dapat menatap nanar calon mertuanya tersebut. Ia terperangah mendengar rentetan pertanyaan dan pernyataan yang tidak pernah Ia bayangkan sebelumnya. Satu dua langkah mundur Ia ambil bersamaan dengan beberapa bulir air mata yang mulai membasahi pipinya.

Kedua tangannya yang penuh dengan barang bawaan tidak dapat Ia gunakan untuk menyeka air mata yang mengalir semakin deras. Banyak kata yang ingin Ia ucapkan sebagai pembelaan, namun tak ada satu kata pun yang berhasil terlontar dari bibirnya yang bergetar. Ibu Chanyeol membentak, "pergi sebelum aku kehabisan kesabaran! Chanyeol tidak membutuhkan wanita sepertimu!".

.

.

TBC

.

.

.

How is it? A little bit dramatic hehe..

Any comments or suggestions?

The flashback part is the hardest part so far :")

Too much ideas in my mind but don't know how to write it down..

So yea, this is what I can do.. I've tried my best

Thank you for reading!