Order of the Obscurillity/Ch 4
Disclaimer : Kuroshitsuji milik Yana Toboso
Warning : AU, Shounen-ai, OOC (semoga nggak), misstype, cerita ngawur dan banyak ngayal, DLDR
.
Vee telat update, Vee telat update! Padahal rencananya Vee mau update lima hari sekali, gomen ne? Kemarin Vee kesasar(?) ke fandom sebelah, jadi yang ini belum selesai-selesai.
Di sini iblisnya nggak punya taring XD
Langsung aja kalau gitu. Enjoy!
.
Ternyata orang yang menggebrak pintu adalah Druitt. Dia berdiri di depan pintu. "Ya ampun, Ciel," katanya seraya masuk dan berdiri di depan Ciel, lalu mengacak rambut remaja itu.
"Ada apa, Druitt?" tanya Sebastian tak suka. *sepertinya terasa hawa menyeramkan *abaikan
Viscount berhenti dari kegiatannya dan berbalik. "Ada yang menyerang asrama lagi. Sepertinya kita tak bisa mempertahankan dia," katanya sambil melirik Ciel.
Ciel yang pada saat itu melihat ke arah Viscount hanya bisa mengerjap tak mengerti.
Sebastian menarik Viscount keluar, meninggalkan Ciel dan Lau di dalam kamar.
"Jadi Ciel, kau tak keberatan dengan keadaanmu sekarang?" tanya Lau sambil lalu.
"Tidak kalau ini bisa membuatku kembali ke rumah lebih cepat."
Lau mematikan televisi. "Kau salah Ciel. Kau tak akan bisa kembali lagi."
"Apa maksudmu Lau?"
Pertanyaan Ciel tak terjawab lantaran Sebastian kembali masuk dengan menggebrak pintu. "Lau, kembali ke kamarmu. Dan Ciel, kau tetap di sana!" kata Sebastian dengan nada khawatir.
Sebastian kalut? Hal yang paling tidak mungkin terjadi bisa terjadi juga. Entah masalah apa yang sedang melanda. Dari pertama Ciel bertemu Sebastian sampai sekarang, yang biasa didapatinya hanya Sebastian yang setia dengan wajahnya yang tenang.
"Ada apa, Sebastian?"
"Tak ada apa-apa, Ciel. Kau istirahatlah saja."
Tak mungkin tak ada apa-apa. Lihat saja tatapan mata Sebastian.
"Aku akan menjagamu di sini."
Suasana hening. Sebastian sibuk dengan pikirannya sendiri, sedang Ciel enggan membuka mulutnya. Beberapa jam setelahnya, terdengar suara pintu digebrak dengan paksa. "Aku tau dia ada di dalam!" teriak suara di depan pintu yang terdengar tak familiar di telinga Ciel.
"Siapa dia Sebas—"
Ucapan Ciel terpotong saat Sebastian membungkam mulutnya dengan sebelah tangan, sedang tangan lainnya di letakan di depan bibirnya sendiri. "Psst... jangan berisik dulu."
Datik detik berlalu dengan ketegangan yang mulai menyusup ke dalam diri Ciel. Sebastian mengangkatnya, lalu meletakan Ciel dalam gendongannya.
Wajah Ciel merona. "S-sebastian, apa yang—"
"Sssttt," lagi-lagi Sebastian berdesis.
Brak!
Daun pintu kini telah lepas. Diakibatkan oleh sosok serba putih yang menyeringai di depan pintu. "Kudengar titisan iblis spesial itu telah dipilih. Aku kemari secepat yang kubisa, kau tau? Tapi ternyata banyak sekali anjing penjaganya."
"Untuk apa kau datang kemari, Angela? Apa yang dilakukan 'iblis murni' sepertimu di sini?" tanya Sebastian berbasa-basi sambil menekankan kata 'iblis murni'. Sebenarnya dia tau apa tujuan Angela. Sangat jelas... untuk mengambil Ciel.
Sosok yang dipanggil Angela menyeringai. "Untuk mengambilnya," katanya menunjuk Ciel yang bergelung di dalam gendongan Sebastian.
Dia berjalan lambat-lambat ke arah Ciel. Sebastian melindunginya dengan pose posesif. "Sepertinya perubahan itu masih dalam proses. Aku beruntung sekali. Jadi, serahkan dia padaku, Sebastian."
"Kembalilah ke tempatmu, Angela. Apa kau tak puas kembali ke sini setiap malam dan selalu gagal?"
Angela menggeleng. "Aku memang gagal tiga hari terakhir ini. Tapi aku tak akan pergi, tidak sebelum aku membawanya."
Sebastian tersenyum, lalu melompat ke atas meja. Entah karena apa, Sebastian kehilangan keseimbangannya dan menjatuhkan Ciel.
Perempuan berambut putih itu melesat dengan cepat ke arah Ciel, nyaris tak tertangkap mata. Beberapa detik dan Ciel telah ada dalam gendongannya. "Lepaskan aku," kata Ciel tanpa bisa melakukan perlawanan.
Sekali lagi, salahkan tubuh Ciel yang tak berbobot sehingga mudah di bawa. Tapi sepertinya, seberat apapun Ciel, Angela tetap bisa membawanya. Semua beban memang dirasanya seringan bulu.
"Sial," kata Sebastian saat melihat Angela berlari melawati pintu dengan kecepatan tinggi.
Tanpa membuang waktu, Sebastian berlari mengejar Ciel. Jika Ciel sampai jatuh ke tangan iblis itu, semua yang dilakukannya selama ini akan sia-sia. Bayangkan saja, para iblis-iblis murni terus berdatangan selama tiga hari ini. Dan Sebastian selalu berusaha agar Ciel menganggap keadaan masih berjalan normal-normal saja. Kepala sekolah bahkan bersedia meliburkan para siswa selama dua minggu dengan alasan renovasi sekolah. Benar, kepala sekolah tau apapun yang terjadi di Obscurillity School ini.
Sosok Angela yang sedang menggendong Ciel mulai terlihat lebih jelas. Sepertinya hasil latihan Sebastian dalam mengendalikan kekuatannya selama ini tak percuma. Setelah dirasa cukup dekat, Sebastian mengarahkan pisau yang ada ditangannya ke punggung sang penculik. Membuat Angela, yang saat itu terlalu fokus berbincang dengan Ciel, berteriak dan tersungkur.
Ciel terhempas. Membuat tubuh lemahnya berguling-guling di tanah. Sebastian menghampirinya dan meletakan remaja itu dipunggungnya. "Kau percaya padaku?"
"Ya. Ayo cepat pergi dari sini, Sebastian."
"Dengan senang hati."
V
Hal yang dibicarakan Ciel dan Angela... *jika kalian ingin tau. Readers : "Gak ingin tau!" *Dideathglare Author
Ciel : "Lepaskan aku, makhluk putih. Kau memuakkan." *menendang-nendang
Angela : *tersenyum ala angel "Kau bisa diam sebentar, tikus kecil?" *tersenyum lagi
Ciel : "Cih."
Angela : "Nah, apa kau tau Ciel. Sebenarnya, sekarang ini kau apa?"
Ciel : "Bukannya kau bilang tikus kecil?" *dijawab dengan nada ketus
Angela : *hampir tertabrak pohon "Kau tau kan aku ini apa?"
Ciel : "Kau menculikku, berarti kau kucing putih."
Angela : *melotot "Apa kau bilang? Makhluk suci sepertiku kau samakan dengan kucing?"
Ciel : "Tentu saja."
Dan begitulah, Angela tak sempat membalas perkataan Ciel karena pisau Sebastian telah menancap di punggungnya. *GJ ya? -
V
Matahari mulai bersinar. Membuat sosok yang terbaring di tempat tidur mengerjapkan mata. Lautan biru itu membuka sempurna, menunjukan keindahan yang ada di dalamnya. Dia menggerakan tangannya.
Bisa!
Kali ini dicobanya menggerakan kaki.
Bisa juga!
Ciel mencoba turun dari tempat tidur dan melangkah. Baru beberapa langkah, dia terduduk di karpet dan tersungkur ke depan. "Cih."
"Sepertinya kondisimu mulai membaik. Sebentar lagi kau akan bangkit seutuhnya. Mungkin besok."
Sebastian datang sambil membawa nampan dengan mangkuk di atasnya. Mangkuk itu mengeluarkan aroma yang sukses membuat Ciel menatapnya penuh perasaan(?). Dia meletakan mangkuk itu di meja dan membantu Ciel mendudukan badannya.
"Bangkit?"
"Ya, saat itu tiba, tak akan ada lagi yang memburumu. Untuk sementara ini kita akan bersembunyi di sini."
Ciel memandang sekeliling. Kamar ini hanya berisi tempat satu tidur kingsize, lemari, dan sofa. Tak ada televisi. Ruangan ini terkesang kosong, tak ada kehidupan. "Dimana ini?"
"Rumahku."
Muka Ciel memerah. "R-rumah...mu? K-kenapa tak kembali ke asrama? Untuk apa kita di sini?" tanyanya tanpa jeda. Dia menoleh ke samping kiri untuk menyembunyikan wajahnya. Menghindarkan diri dari Sebastian yang sedang memegang pundaknya agar tak tersungkur lagi.
Seharusnya kau ingat Ciel. Semua iblis murni itu telah tau keberadaanmu di sana. Kau harus ingat kalau kau sedang menjadi sasaran empuk sekarang. Well, menjadi sasaran empuk memang bukan kebiasaan Ciel. Biasanya, dia yang akan mencari sasaran empuk untuk produk-produknya. Tapi sekarang, dia sendiri yang menjadi sasaran. Hal itu sedikit banyak membuat Ciel tidak terima.
Sebastian mengangkat Ciel, lalu mendudukannya di sofa. Dia membiarkan Ciel menyendarkan tubuhnya ke bahunya. "Sebastian, aku bisa duduk sendiri," katanya tak sesuai dengan fakta yang terjadi.
Konyol sekali.
Kekehan pelan terdengar dari Sebastian. "Kau bahkan tak bisa menopang badanmu sendiri, Ciel. Tunggu besok dan kau boleh mengatakan itu."
"Besok? Kenapa tak sekarang saja. Aku bisa duduk sendiri," katanya yang sepertinya masih buta akan fakta.
Sebastian berusaha meraih mangkuk sepelan yang dia bisa. Dia tak ingin sosok yang bersandar padanya tersungkur dua kali. Dipegangnya mangkuk yang telah menghangat itu dengan tangan kanan. Sedang tangan kirinya berusaha menahan Ciel yang sepertinya masih tetap dalam kondisinya. Tangannya mencoba menggapai sendok di nampan. "Buka mulutmu, Ciel."
Ciel membuka mulutnya tanpa protes. Hal ini sudah menjadi kesehariannya. Sebastian selalu menyuapinya beberapa hari terakhir ini, meskipun terkadang Lau datang dan menggantikan Sebastian.
"Tak enak, Sebastian," kata Ciel setelah menelan sedikit sup itu. Dia mencoba mengelak saat Sebastian memberikan suapan ke dua. Memang benar kalau bau dari masakan itu sangat mengiurkan, tapi ternyata rasanya jauh berbeda. Mengingatkan Ciel dengan pribahasa, jangan menilai masakan dari baunya *salah tuh salah pribahasanya
"Kau harus memakannya, Ciel. Sup ini memang tidak enak, tapi bermanfaat melemahkan daya imun tubuhmu."
Ciel menoleh ke kiri, lagi-lagi menghindari sendok yang dipenuhi sup kental tidak enak itu. Kalau saja Ciel bisa bergerak seperti tadi, mungkin dia telah pergi meninggalkan Sebastian. Tidak duduk bersandar di sini dan menerima saja saat Sebastian menyuapinya.
"Kau ingin aku semakin tak berdaya dari sekarang. Mungkin saat sup itu habis, kau akan melihatku terbujur kaku. Itu yang kau inginkan?" kata Ciel emosi. Perubahannya yang hampir mencapi puncak membuatnya gegabah dan emosi. Fase perubahan Ciel memang lebih cepat karena Sebastian selalu mencampurkan bahan-bahan aneh yang berfungsi agar imunitas tubuh Ciel melemah. Dengan bagitu, darah iblisnya akan menguasai tubuh Ciel lebih cepat dari seharusnya. Kini, fase yang seharusnya satu minggu itu menjadi kira-kira empat hari saja.
"Ini akan menpercepat prosesnya. Memang kau masih mau terbaring begitu saja untuk beberapa hari ke depan?"
Tanpa berkata apapun, Ciel membuka mulut dengan rona samar di pipinya.
V
Hari sudah menjelang pagi, tapi Ciel tak kunjung bisa menutup matanya. Alasannya satu, karena dari tadi terdengar bunyi aneh di sekitar rumah itu. Sebelumnya dia telah bertanya pada Sebastian. Tapi Sebastian hanya menjawab, "tak usah dipikirkan, kau tidur saja."
Bagiamana Ciel bisa tidur dengan suara-suara itu?
Dua hari Ciel tidur di rumah Sebastian. Well, sepertinya dugaan Sebastian tentang dia yang akan bangkit kemarin ternyata sedikit meleset. Bahkan saat jam dua belas malam tadi (tepat saat 'kemarin' habis) dia hanya bisa menggerakan tangannya saja. Dengan itu, dia telah bisa menggerakan dua anggota badannya, tangan dan kepala. Sejak dua hari setelah prosesi, Ciel sudah bisa menggerakan kepalanya. Memang terkadang dia bisa menggerakan kaki. Tapi saat dipaksakannya berjalan, tubuhnya mendadak lemas. Rupanya fase kebangkitan ini bertahap.
"Kau belum tidur?" tanya Sebastian dari arah sofa. Sebastian memang sering tidur di kamar yang ditempati Ciel (yang sebenarnya kamar Sebastian) hanya untuk memastikan Ciel tak melakukan hal-hal konyol. Toh Ciel sendiri mengizinkan. Dengan catatan Sebastian tidak berisik dan bersedia tidur di sofa.
"Ya. Aku sudah tidur kalau saja 'suasana tenang' ini tidak ada," katanya sarkastis. Ciel menyibak selimutnya sampai sebatas pinggang, kemudian menutup matanya dengan tangan. Matanya terasa panas, lagi. Setelah menyibak poninya ke belakang, dia meletakan tangannya kembali.
Sebastian mendekat. "Matamu sakit lagi?" tanyanya. Tanpa diberitahupun, Sebastian tau kalau mata Ciel memang sakit. Hey, dia kan pernah merasakan semua itu. Jadi wajar, kan?
"Aku tak tau Sebastian, akhir-akhir ini sakitnya semakin menusuk."
Tangan pucat Sebastian menyentuh pipi Ciel, kemudian mengusapnya sebentar. "Bersabarlah, fase ini akan segera berakhir."
Apa yang barusan dilakukan Sebastian sukses membuat rona samar di pipi Ciel. "Lepaskan tanganmu, aku bukan anak kecil," katanya sambil menyingkirkan tangan Sebastian.
Sebastian terkekeh pelan.
Prang!
"Apa itu Sebas—"
Kata-kata Ciel terputus saat Sebastian meraupnya dan meletakan Ciel dalam gendongannya. "SSttt... jangan bicara dulu. Apapun yang terjadi, jangan melihat ke belakang."
Sebastian keluar dengan jalan meloncat dari jendela kamar. Dia segera berlari ke arah hutan. Ciel bungkam, sedang Sebastian masih fokus dengan medan sulit yang ada di hadapannya. Ciel berpikir, kalau Sebastian lari, berarti ada hal yang tidak beres. Remaja itu mencoba menoleh ke belakang.
"Jangan menoleh ke belakang," desis Sebastian.
Ketahuan.
Ciel kembali menutup matanya, menyandarkan kepalanya ke dada Sebastian.
"Dan jangan coba-coba untuk tertidur."
Salah lagi.
"Lalu, apa yang harus kulakukan?"
Sebastian nampak berpikir sejenak sebelum menjawabnya. "Apapun yang kau mau. Asal jangan memandang ke belakang atau memejamkan matamu. Usahakan kau tetap terjaga."
Ciel mendengus kesal sebelum mengangguk. Sebastian tersenyum saat dirasakannya Ciel mengangguk dalam gendongannya. "Jadi, kita akan kemana?" tanya Ciel pelan.
"Kembali ke asrama. Fasenya akan segera berakhir. Saat itu, kita harus ada di sekolah."
Sebastian terus saja berlari tanpa merasa lelah, sampai Ciel dapat melihat bangunan putih menjulang tak jauh di depannya.
Saat hampir mencapai pagar sekolah, sosok Angela mencegat Sebastian. "Aku tak akan membiarkannya bangkit," katanya sambil menuding Ciel.
Angela melesat ke arah Sebastian. Hampir saja menubruk kalau saja Sebastian tak menghindar. Angela menggeram, lalu kembali mencoba merebut Ciel dari gendongan Sebastian. Kali ini, matanya berubah sewarna dengan crimson Sebastian, bahkan lebih pekat. Perubahan warna mata Angela yang sebelumnya ungu membuat kewaspadaan Sebastian meningkat. Sebastian mencoba berlari ke arah Sekolah, tapi sosok lain mencegatya.
Perlahan, kesadaran Ciel mulai berkurang. Matanya tak dapat melihat sekeliling dengan jelas lagi. Tak berapa lama, tangan mungil itu telah terklulai lemas di samping tubuhnya. Hal itu membuat Sebastian Khawatir.
"Ciel," kata Sebastian sambil menepuk pipi Ciel. Sebastian terus membatin, 'ini bohong kan?' Dia bahkan belum sampai sekolah tapi Ciel telah kehilangan kesadarannya. Apa yang akan dilakukannya kalau Ciel bangkit di sini? Di temapat ini?
"Harusnya aku tau," kata Sebastian sambil menatap sosok di depannya.
Sosok itu tertawa geli. Rambut perak dan mata ungunya berkilat-kilat gembira, dia adalah Ash. Sebastian semakin merapatkan Ciel dengannya, membuat Ciel semakin terbenam dalam dada Sebastian. Sebastian menyusupkan tangannya ke dalam saku dan mengambil beberapa pisau perak.
"Aha, Sebastian. Sekarang sasaran telah ada di depan mata. Sebelumnya aku berpikir apa aku harus mencarinya? Tapi ternyata, kau sendiri yang mengantarkan anak itu padaku. Yang mulia Angela akan menerimanya dengan tangan terbuka. Oh~ alangkah beruntungnya aku."
Sebastian meloncat kebelakang ketika Ash meloncat ke arahnya. Tak jauh dari sana, Viscount Druitt tangah menonton semua itu sambil sesekali tersenyum. "Oh tuhan, mereka manis sekali. Saling menari di tangah cahaya rembulan yang redup. Membagi emosi yang setiap detik semakin menguat," katanya.
Kembali ke Sebastian. Beberapa jarum telah menancap di punggungnya. Hal itu karena dia selalu berbalik saat Ash menyerang. Alasannya satu, dia tak ingin Ciel tertusuk jarum itu.
"Sepertinya kau mulai lelah dengan semua dansa ini, Sebastian. Kalau kau mau, aku bisa menggantikanmu berdansa dengan Ciel, tikus abu-abu itu. Kau bisa beristirahat sejenak."
Perkataan Ash tak lebih dari bisikan angin. Sebastian tersenyum, meskipun dia sedikit geram saat Ash menyebut Ciel dengan 'tikus abu-abu'. Disibaknya poni yang menutupi mata kanan Ciel dan ditatapnya wajah remaja itu. "Tidak, aku akan berdansa hingga dia terbangun."
Ash mengeram jengkel. Tak jauh dari sana, Angela berdiri sambil menyeringai. "Gerakan bagus, Ash. Dengan ini, sang gagak akan tersudut. Dan kita bisa mengambil tikus dalam cengkramannya itu."
Angela mendekat dan bergabung dengan Ash. Sial! Bagaimana ini? Sebastian sendiri, yang pergerakannya dibatasi oleh Ciel dalam gendongannya, hanya bisa merutuk. Dia tak bisa bergerak bebas. Terlebih lagi sekarang Angela bergabung dengan Ash. Sebastian tak habis pikir, bagaimana William tak tau kalau Ash ternyata salah satu keturunan murni? Atau jangan-jangan William sudah tau dan menyimpan rahasia itu sendiri. Masa bodoh dengan itu. Sekarang yang terpenting, dia harus secepatnya membereskan dua orang ini.
"Dasar keturunan murni sialan," desis Sebastian yang saat ini sudah tersudut. Raut mukanya menunjukan kalau dia sedang khawatir sekaligus gelisah. Sebastian memutar otak. Bagaimana dia bisa mengalahkan mereka berdua. Matanya mengamati sosok Ash dan Angela. Ash berdiri di depan, sedang Angela ada satu meter di belakangnya. Fokusnya terarah pada mata Angela yang kemerahan.
Sebastian tersenyum.
Secepat kilat dia berlari ke arah Ash. Tapi tepat pada saat Ash mengeluarkan jarumnya, dia memutar dan berlari ke arah Angela sambil menghujamkan pisaunya.
Meleset.
Dengan mudah Angela menangkis pisau itu. "Sepertinya kau meremehkanku karena warna mataku sudah berubah. Mungkin kau pikir penguasaan diriku lemah," katanya sambil tertawa. "Kau salah. Justru penguasaan dirimulah yang lemah. Aku tau warna matamu berubah lebih gelap di hutan tadi."
Sebastian membeku. Orang ini, menyadari perubahan matanya. Bagaimana bisa? William saja tak bisa membedakan warna mata aslinya dan mata iblisnya. Perbedaan itu hanya setipis benang karena dia sudah bisa menekan aura iblisnya.
"Kau kira keturunan murni sepertiku tak bisa melihat hal sepele seperti itu?" Angela tertawa. "Menyerahlah saja kau Sebastian. Tak ada harapan untukmu." Dihujamkannya tangannya ke arah perut Sebastian.
"Aaaaaa..."
.
"Aku terlahir sebagai iblis. Bukan iblis yang berubah menjadi manusia."
.
"Aku iblis tingkat atas, tapi bukan iblis murni yang darahnya tak terkontaminasi oleh darah manusia."
.
"Ibuku manusia, ayahku iblis."
.
"Katanya, penerus dari iblis campuran akan mempunyai jiwa yang sangat kuat. Karena jiwa yang kuat itu, para iblis murni memburunya untuk meningkatkan kekuatan."
.
"Tapi, bukan penerus itu saja yang diincar."
.
"Aku juga."
.
"Memuakan bukan?"
.
"Aku hanya ingin seperti iblis yang lain. Bisa hidup bebas, tanpa dibayang-bayangi ketakutan akan iblis murni yang mengincar. Atau kalau bisa..."
.
"AKU INGIN JADI MANUSIA BIASA"
TBC
.
Fiuh... Chapter ini pendek banget ya (nggak sampai 3rb)? Gomen, Vee lagi nggak mood ngetik. Saking frustasinya sama wordsnya yang sedikit, Vee malah menyusupkan obrolan tidak jelas di tengah-tangah cerita, yang isinya juga nggak penting banget. Jadi maaf banget kalau mengecewakan.
.
Buat yang review pake akun Vee bales pake PM aja ya...
Aria Mamon: Terima kasih udah baca ^^. Ini udah dilanjut...
Mika Chuwi : Gomen ne kalau melenceng? Vee sendiri juga ngak tau kok bisa melenceng kayak gini *dibantai. Syukurlah kalau Mika-san tetap suka ^^. Ini udah dilanjut...
.
Terima kasih sudah membaca :D... Dimohon kritik dan sarannya... ^^
