Hati2 typo betebaran dimana2'-'
.
.
.
"Masih sangat pagi, kita masih punya waktu" ujar mingyu dan menyeringai.
"Waktu untuk apa?" Tanya wonwoo pura pura.
"Melanjutkan yang kemarin sore. Sudah lama kita tak melakukannya semenjak seks pertama kita, karena kau yang sibuk dengan mengajar dan laporan ke kampusmu—" mingyu menggantungkan kata katanya, mendekatkan wajahnya ke telinga wonwoo.
"-Dan sekarang aku ingin Seks keduaku" bisiknya menggoda.
.
"Hheu-nghh" wonwoo melenguh tertahan, merasakan geli saat jari jari mingyu berpindah ke kedua pantatnya, menelusup kedalam celana dalamnya, satu jarinya tengah mengelus elus sisi belahan pantatnya, dan terakhir jari tersebut mendarat mengelus hole pintu masuk wonwoo yang bisa membuat mingyu muncrat mengeluarkan cairannya sebanyak mungkin.
"Ahhh" wonwoo melepas mulutnya dari mulut mingyu karena mingyu yang tiba tiba jari telunjuknya yang tadi mengelus lubangnya telah masuk kemulut wonwoo.
"Ssssh-ahh" Mingyu mendesis saat meng In-Out kan telunjuknya di mulut wonwoo. Ia semakin terangsang melihat ulahnya sendiri. Membayangkan kejantanannya yang sedang menyodok mulut wonwoo. Kedua mata wonwoo yang menutup, kedua pipinya sedikit merona dengan peluh yang keluar dari pelipisnya, kedua bibir merahnya yang dilecehkan pasrah oleh jari telunjuk mingyu.
Tangan wonwoo tak tinggal diam, tangan kanannya bergerak turun ke selangkangan mingyu yang sudah mengembung besar, mengelus dan meremas gundukan tersebut dan sukses membuat desahan mingyu terus keluar.
-Kriing
Suara panggilan dari ponsel wonwoo membuat wonwoo membuka kedua matanya, mingyu menghentikan 'aktifitas'nya dengan menatap geram pada ponsel wonwoo yang tergeletak disamping bantalnya dimana wonwoo tadi tertidur. Kedua nya saling bertatapan, mingyu memutar bola matanya malas dan mengeluarkan jarinya dari mulut wonwoo.
Wonwoo bangun dari atas tubuh mingyu, memakai kembali celana dalamnya yang tadi sudah setengah melorot dan tersangkut dipahanya. Wonwoo mengambil ponselnya dan duduk dipinggiran ranjang. Mingyu masih terlentang, ia menatap kedaerah selangkangannya yang telah mengembung, dan menatap wonwoo yang membelakanginya.
"Ada apa, jihoon-ah?"
"Jeon wonwoo, kau tidak pulang ke apartemenmu?" sahut suara panggilan disana dengan suaranya yang sedikit keras.
"Ah, iya tidak. Aku menginap dirumah temanku, memangnya kenapa?"
"Ha? Temanmu siapa? Buku tugas kelompok kita kau yang simpan kan? Kuharap kau tidak lupa kalau hari ini jam 8 pagi tugas itu harus diserahkan ke dosen, dan tugas kita belum selesai, Jeon-Won-Woo" tekan jihoon mengingatkan.
"Yatuhan! Aku lupa, maafkan aku. Aku akan ke apartemenmu sekarang juga!" ujar wonwoo tergesa gesa. Ia menutup sambungannya, memakai celana jeans nya kembali, merapihkan kemeja nya, dan memakai blazernya. Ia melirik kearah ranjang dimana mingyu masih tidur menyamping, membelakangi wonwoo.
"Kau tidak ingin mengantarku?" sahut wonwoo.
Wonwoo menghela napasnya panjang. Ia tahu mingyu-nya marah.
"Ayolah Kim Mingyu, jangan marah seperti itu. Aku benar benar harus mengurus tugas kelompok laporanku dikampus. Setelah selesai, kau bisa lakukan apapun sesukamu padaku" akhir kalimat wonwoo seolah mantra guna guna ditelinga mingyu. Dengan secepat kilat mingyu langsung terbangun dari ranjangnya dan memakai jaket denim hitam dari dalam lemari.
"Aku antar" ucapnya dengan mengambil kunci mobilnya dinakas samping ranjang dan keluar kamar diikuti wonwoo dibelakangnya yang tersenyum kecil melihat mingyu yang seketika bersemangat walau terlihat wajahnya yang masih masam.
.
Kini wonwoo dan mingyu telah sampai di lobi apartemen, sepanjang perjalanan mereka tak mengucapkan sepatah kata pun, tidak ada mingyu yang bawel, merajuk manja seperti anak kecil.
"Kau mau menunggu disini?" Tanya wonwoo setelah membuka seat belt nya tapi mingyu tak kunjung membukanya dan hanya diam.
Mingyu menoleh kearah jam tangannya yang menunjukan jam setengah 6 pagi.
"Berapa lama kau akan mengerjakan tugas itu?" Tanyanya balik tanpa menatap wonwoo disampingnya.
"Entahlah. Mungkin 2 jam dari sekarang, karena tugasku harus dikumpulkan jam 8 pagi nanti"
Mingyu menghela nafasnya panjang dan berat mendengar jawaban wonwoo.
"Aku pulang saja" ucap mingyu lemas. Wonwoo cemberut. Wonwoo menangkup kedua sisi pipi mingyu, menghadapkan wajah mingyu untuk menghadapnya, dan merekapun bertatapan.
"Jangan marah um?" ujar wonwoo pelan dan mengecup bibir mingyu lembut. Terus mengecupnya berkali kali, dan menyudahinya. Menarik wajahnya menjauh beberapa centi.
"Jangan menggodaku, atau aku akan menguncimu denganku disini" ancam mingyu pelan.
"Wuaaa~ aku takut~" ucap wonwoo dengan nada yang sengaja ditakut takutkan. Dan wonwoo mengecup sekali lagi bibir mingyu. Dan melepas kedua tangan nya dari pipi mingyu.
"Kau boleh pulang, kau lupa? Ini hari minggu, istirahat saja dirumah. Nanti—"
"Aku tunggu disini" mingyu memutus ucapan wonwoo.
"Mengertilah hyung, aku benar benar ingin berdua denganmu sehari saja. Kita sama sama sibuk, kapan lagi kita bisa berduaan selama 1 hari saja?" lanjutnya.
Wonwoo pun berfikir demikian. Memangnya hanya mingyu saja yang mau? Memangnya wonwoo tidak?
"Akan kuselesaikan dengan cepat" ujar wonwoo, mengacak lembut rambut mingyu sebelum keluar dari mobilnya.
.
.
1 jam mingyu diam didalam mobil sambil mendengarkan music R&B dengan earphone yang menggantung di kedua telinganya. Ia melirik jam ditangannya dan menunjukan pukul setengah 7 pagi.
"1 jam lagi..sial lama sekali" gerutunya. Mingyu pun bosan, ia keluar dari mobilnya, membuka earphone tersebut dari kedua telinganya dan melempar earphone tersebut sembarangan kedalam mobil. Ia berdiri dan bersandar ke pintu mobilnya.
Mingyu mencari kontak wonwoo diponsel nya untuk memanggil kekasihnya tersebut. Terdengar suara operator didalam sambungan tersebut.
"Sial! Tidak diangkat" mingyu terus mengoceh dan terus berulang ulang menelpon wonwoo dan nihil. Wonwoo tidak kunjung mengangkat sambungannya sampai mingyu mendengar samar samar suara yang aneh.
"A-ah" mingyu menajamkan pendengarannya. Dan seperti itulah suara yang ia dengar.
Mingyu berjalan kesamping kiri deretan mobil yang terparkir, mencari asal suara. Langkahnyapun terhenti saat suara tersebut semakin terdengar jelas dan dari dalam mobil yang berjarak tak jauh dari mobilnya terparkir. Mingyu melangkah kembali mendekati mobil berwarna merah ati, dan di balik kaca mobil tersebut kedua matanya samar samar bisa mjelihat punggung seseorang yang tanpa terbalut apapun, badannya turun naik dengan tempo cepat, dan terus mendesah tak karuan. Dan sukses membuat mingyu bergidik, libido nya menaik.
Mingyu berjalan kembali kearah mobilnya, duduk dibibir mobil dengan mengacak rambutnya pelan.
"Disaat seperti ini, ada yang seperti itu.. sialan" ocehnya.
"Mingyu!" Mingyu menolehkan kepalanya cepat keasal suara yang ditunggu tunggu. Dilihatnya wonwoo berjalan kearahnya dengan membawa kantong plastic putih yang sepertinya berisi makanan. Wonwoo berdiri tepat didepan mingyu.
"Aku cepatkan?" sahut wonwoo.
"Ada apa?" lanjut wonwoo bertanya. Mingyu tak menyapanya, ia hanya memandangi wonwoo dengan ekspresi wajahnya yang tak bisa digambarkan.
Kedua mata wonwoo terfokus kebagian selatan mingyu. Bagian itu mengembung tidak seperti biasanya.
"Kau..terangsang? kenapa ereksi seperti itu?" Tanya wonwoo blak blakan.
"Kenapa tak menjawab panggilanku?" Tanya mingyu membuka suara.
"Yatuhan! Ponselku ketinggalan, tunggu sebentar, aku akan mengambilnya" ucap wonwoo sambil menepuk jidatnya sendiri. Baru satu langkah wonwoo berbalik, tangan mingyu sudah menahan pergelangan tangan kurusnya, menariknya kedalam pelukan, kedua tangan besar mingyu mendekap pinggang wonwoo erat.
"Tidak usah, minta antarkan saja nanti pada temanmu itu" bisik mingyu ditelinga wonwoo.
"Sekarang kau harus urus jagoanku, seperti janjimu tadi" lanjut mingyu dan bisikannya membuat bulukuduk nya berdiri.
Mingyu menangkup sebelah pipi kiri wonwoo, melumat bibir wonwoo langsung. Lidah panas mingyu langsung menerobos masuk kedalam mulut wonwoo. menjilat mengajak bermain lidah wonwoo yang belum siap. Wonwoo melotot dengan serangan langsung dari mingyu. Ia mencoba mendorong kedua bahu mingyu untuk menjauh dengan sebelah tangan kirinya yang masih memegang kantong plastic. Ciuman itu terlepas.
"Akh! Kau kenapa tiba tiba begini, bocah? Tiba tiba kau sudah ereksi dan menyerangku begini. Setidaknya kita makan dulu, dan melakukan itu dirumah saja" protes wonwoo.
"Tidak" jawab mingyu telak.
"Simpan dulu makanan itu sampai kita selesai, dan memakannya dirumah" tambahnya. Mingyu berniat untuk meraup kembali bibir wonwoo, tapi kedua tangannya dengan cepat menahan wajah mingyu, mingyu pun berhenti. Mereka bertatapan sejenak, sampai mingyu melepas kedua tangannya dari pinggang wonwoo, tanpa mengucapkan sepatah kata, mingyu langsung masuk kedalam mobilnya dan membanting pintu mobilnya sedikit keras.
Wonwoo masih mematung ditempatnya berdiri. Ia tahu acara berduanya dengan mingyu sudah terganggu beberapa kali semenjak kemarin disaat kedatangan pinky dan tadi pagi dengan jihoon yang menelpon nya untuk mengerjakan tugas.
Wonwoo ikut masuk kedalam mobil, menyimpan kantong yang ia pegang dikursi kemudi belakang. Mingyu sedang mengutak atik ponselnya dan sudah memasang earphone dikedua telingannya, sampai music yang ia dengar pun bisa terdengar jelas oleh wonwoo saking volume nya yang keras. Kalau mingyu sudah seperti ini, wonwoo apa boleh buat.. ia harus melakukan sesuatu agar kemarahan kekasihnya itu mereda. Walau harus di lobi parkiran apartemen seperti ini…
Wonwoo bergerak bergeser mendekat kearah mingyu, tangan kiri wonwoo mengalung dibahu mingyu dan tangan kanannya meraih pipi mingyu, mengecup lembut pipi mingyu. Mingyu tak bergeming, ia masih focus pada layar ponselnya, dan wonwoo manyun lucu.
"Hey, jangan marah~" ujar wonwoo tepat ditelinga kanan mingyu, entah mingyu mendengarnya atau tidak.
Wonwoo terus mengecup pipi mingyu dengan tangan kanannya yang berpindah kebawah ke dada mingyu. Mengelus kedua dada mingyu dengan sensual. Mingyu tetap tak merespon, sampai tangan wonwoo berada di daerah selangkangannya yang masih sedikit mengembung, tangan wonwoo yang lihai mengelus lembut gundukan diselangkangannya, mingyu pun mengernyit menahan hasratnya.
Tangan wonwoo membuka resleting celana mingyu, menurunkan celana dalamnya dari resleting yang telah terbuka itu, dan kejantanannya langsung keluar mencuat tegang. Kecupan wonwoo dipipi mingyu berubah menjadi jilatan. Wonwoo menjilati pipi mingyu dengan sesekali mengecupnya.
Kepala wonwoo turun kearah penis mingyu yang berdiri tegak, kedua tangannya memegang penis besar itu. Mata mingyu pun melirik wonwoo yang merunduk diselangkangannya.
"Ahh, sudah lama aku tidak bermain denganmu ya" ucap wonwoo pelan ke kepala penis mingyu. Wonwoo tersenyum kecil, mengecup ujung kepala penisnya yang memerah padam. Ia menjilatnya seolah olah sedang menjilati eskrim, dan membuat mingyu menutup kedua matanya merasakan sensasi geli dan nikmat yang lidah wonwoo berikan pada penisnya.
"Sssshh" lenguhan mingyu lolos dari mulutnya, saat wonwoo memasukkan penis mingyu kedalam mulut panasnya dan kepala penis mingyu yang menyentuh kerongkongan wonwoo. Mingyu kalah, ia melepas earphonenya dan melempar ponselnya kebelakang kemudi. Tangan kanannya meremas rambut wonwoo, menekan kepala wonwoo membuat kejantanannya semakin melesak kedalam. Jemari tangan mingyu menarik pelan rambut wonwoo mengisyaratkannya untuk bergerak. Wonwoo mengikutinya, ia menarik kepalanya dan menyisakan ujung kepala penis mingyu dimulutnya dan menurunkan kepalanya memasukan kembali seluruh batang penis mingyu yang semakin membengkak besar membuat mulut wonwoo semakin terbuka lebar.
Wonwoo terus mengeluar-masuk kan penis mingyu didalam mulutnya dengan tempo sedang. Mingyu mengeluarkan desahan nya yang tak karuan dengan mata yang terpejam erat dan sesekali melirik wonwoo.
"Aaghh wonu-hyungg aghh lebih cepat" rancau mingyu. Wonwoo menurutinya. Menaikan tempo blowjob nya. Selama beberapa menit berlalu, sekitar area pipinya wonwoo merasakan sedikit ngilu karena mulutnya yang terbuka lebar, memasuk dan mengeluarkan penis besar mingyu tanpa henti, sedangkan mingyu belum ada tanda tanda akan memuncratkan cairannya. Tentu saja mingyu tak ingin keluar dengan cepat, dia ingin mengeluarkan cairannya dengan banyak di hole kenikmatan wonwoo.
"Wonu-aah hyung" panggil mingyu terbata bata karena wonwoo masih dengan betah menghisap penisnya. Mendengar namanya dipanggil, wonwoo menghentikan aktifitas di penis mingyu, mendongak menyampingkan kepalanya kearah mingyu tanpa melepas penis mingyu yang masih bersarang dimulutnya.
Penis mingyu semakin berkedut melihat wonwoo-nya sekarang. Bibir merah wonwoo yang disekitaran kejantanannya, dan bersarang disana, mingyu semakin terangsang melihat pemandangan itu.
Mingyu menurunkan kursi kemudinya menjadi terlentang kebelakang, mingyu pun terlentang.
"Buka celanamu dan kemarilah" titah mingyu. Wonwoo menuruti. Ia melepas penis mingyu dari mulutnya, membuka celana dan juga celana dalamnya, ia merangkak ke kursi mingyu dan kini ia diatas tubuh mingyu dengan kedua kakinya yang terbuka lebar dikedua sisi pinggul mingyu. Mingyu meraih kedua tengkuk wonwoo dan membawanya kedalam ciuman panas. Membuat posisi wonwoo menungging diatas tubuhnya. Mungkin orang yang melewati mobil mereka kalau orang tersebut meneliti menajamkan penglihatannya kedalam kaca mobil, akan bisa melihat samar pantat putih wonwoo yang menjulang dan terbuka lebar dan memampangkan hole kemerahannya.
-Kringg
Suara panggilan masuk diponsel mingyu yang tepat disamping kepalanya. Keduanya pun terlonjak kaget dan melepas ciumannya. Sebelum wonwoo buka suara, mingyu meraih kembali tengkuk wonwoo, mencium dan melumat bibir wonwoo. tangan kanannya meraih ponselnya, kedua matanya melihat panggilan masuk dari nomor wonwoo diponsel itu tanpa melepas ciumannya. Mingyu melepas ciumannya, mulut wonwoo turun kedaerah lehernya, mulutnya bermain dengan kulit leher mingyu.
"Ya?" mingyu mengangkat panggilan dari nomor wonwoo.
"Apa ini mingyu?"
"Iya, siapa ini?" Tanya nya heran.
"Ah, aku Jihoon teman wonwoo. Ponselnya tertinggal di apartemenku. Nomormu yang terakhir ada dipanggilan masuk ponselnya karena itu aku menghubungimu" jelas jihoon.
"Oh ya, kebetulan aku dan wonwoo masih ada dilobi parkiran apartemenmu, bisa kau antarkan kemari?"
"Baiklah, aku antar kesana"
"Mobilku terparkir di lobi P-XX. Mobilku berwarna hitam dengan plat XX-93-96, agh!" mingyu mengerang diakhir kalimatnya karena wonwoo yang kini telah bermain dengan kejantanannya lagi. Dilihatnya wonwoo menyeringai, dengan mengedipkan sebelah matanya dan melahap penis mingyu kedalam mulutnya.
"Kau tidak apa apa?" Tanya jihoon yang mendengar suapa pekikan mingyu.
"Ah y-ya tidak apa apa, aku tunggu" ucap mingyu dan menutup panggilannya, melempar kembali ponselnya kesembarang arah.
"Kau berani menggodaku ya, hyung?" mingyu membalas seringaian wonwoo. Mingyu terduduk, menarik kedua lengan wonwoo untuk duduk menghadapnya. Suasana gerah menguar didalam mobil, mingyu menyalakan mobil dan AC nya.
"Akkhh!" wonwoo menjerit tertahan saat lubangnya dimasuki jari telunjuk mingyu dengan tiba tiba. Wonwoo menyandarkan kepalanya di pundak kiri mingyu, kedua tangannya meremas kulit punggung mingyu. Untung saja jari jari wonwoo tak berkuku tajam, bisa robek kulit mingyu saat wonwoo meremas kulitnya kuat.
"Hukumanmu karena kau berani menggodaku barusan, Jeon Wonwoo" bisiknya ditelinga wonwoo dengan sensual. Mingyu mengeluar masukkan jarinya itu yang sebelumnya telah ia lumuri salivanya sendiri.
Dirasakannya otot otot lubang wonwoo yang meregang dengan 3 jari yang sudah bersarang dilubang tersebut, juga erangan sakit yang berubah menjadi desahan nikmat dan menuntut lebih.
Mingyu mengeluarkan jarinya dari lubang wonwoo, wonwoo mendesah kecewa. Mingyu tersenyum melihat wajah wonwoo yang kecewa.
Mingyu menuntun wonwoo untuk merubah posisinya menjadi membelakangi mingyu, dan kembali terduduk diantara dua paha mingyu. Kejantanan mingyu tepat dibelakang pantat wonwoo, menyentuh belahan pantat wonwoo.
Tangan kiri mingyu mengalung di perut wonwoo, dan tangan kanannya memegangi kejantanannya untuk memasukkannya kedalam lubang wonwoo. Kedua tangan wonwoo berpegangan ke stir mobil, meremasnya saat merasakan kepala penis mingyu yang melesak masuk kedalam lubangnya.
"Aaaah" mulut wonwoo terbuka lebar dengan matanya yang terpejam erat merasakan sensasi penuh dilubangnya. Sebelah tangan wonwoo memegangi perutnya sendiri, perutnya terasa penuh, kejantanan mingyu terasa sampai ke perutnya.
Mingyu menciumi punggung wonwoo yang masih terbalut kemeja nya yang sudah basah karena keringat.
"Bergeraklah hyung" bisik mingyu, wonwoo mengangguk. Wonwoo menaik turunkan badannya dengan tempo pelan, ia menggigit bibir bawahnya merasakan sensasi nikmat dari gesekkan masuk dan keluar nya penis mingyu dengan lubangnya. Lubang wonwoo mengetat membuat mingyu mendesis. Penisnya terasa dihisap dan dipijat oleh dinding lubang wonwoo.
Kedua tangan mingyu memegangi samping pinggul wonwoo, membantunya bergerak naik dan turun.
"Wonwoo?"
Wonwoo membuka lebar matanya mendengar ketukkan suara kaca mobil disampingnya dengan jihoon yang berdiri disana membawa ponselnya. Entah jihoon melihat wonwoo atau tidak yang sedang bercinta didalam mobil tersebut.
"Ji-jihoon? Akhh—mingyu hentikan" serunya pelan dan menampar paha mingyu. Mingyu pun berhenti. Wonwoo dengan hati hati membuka kaca mobilnya sedikit, hanya sedikit. Jihoon hanya bisa melihat kedua mata wonwoo. Terlihat dari matanya, wonwoo tersenyumj kikuk kepada jihoon.
"Ponselmu tertinggal, nih" jihoon menyodorkan ponselnya kedalam kaca mobil yang hanya terbuka sedikit itu, wonwoo meraihnya bersamaan dengan pinggul mingyu yang bergerak memutar, membuat wonwoo menundukan wajahnya dan ponselnya pun terlepas dari genggamannya, merasakan sensasi penis mingyu yang bergerak memutar didalam lubangnya. Mingyu hanya menyeringai puas mengerjai kekasihnya itu.
"Wonwoo-ya, kau tidak apa apa?" Tanya jihoon bingung. Wonwoo mengangkat kepalanya dengan berat.
"Ti-tidak apa apa, terima kasih jihoon-ah-akhh s-sampai bertemu nanti dikampus" ucapnya terputus putus karena mingyu yang menyodok lubangnya dengan perlahan. Wonwoo menutup rapat keca mobilnya, menoleh kebelakangnya, menatap tajam mingyu dan mingyu hanya tersenyum bodoh sembari menaikan tempo genjotannya.
Jihoon berjalan menjauh dari mobil mingyu dengan mengetik sesuatu di layar ponselnya.
Wonwoo mengambil ponselnya yang bordering ditengah lanjutan aktifitasnya, dan membaca pesan tersebut.
Setelah itu melempar ponselnya kesamping kursi kemudi dan kedua telapak tangannya yang menutupi wajahnya.
"Setidaknya melakukan Seks itu dirumah, jangan ditempat parkiran seperti itu, Jeon Wonwoo" begitulah isi pesan masuk dari sahabatnya, Lee Jihoon.
.
.
.
END
