Summary : Kurosaki Ichigo, pengusaha muda, sukses dan handal yang tak pernah mengenal cinta Ketika akhirnya seorang gadis mampu mencuri hatinya, dia akan berbuat apa saja untuk mendapatkannya. Rukia boleh saja diirikan oleh jutaan wanita karena menjadi seorang calon istri dari seorang pria tampan, kaya dan setia, namun tahukah mereka? Pertunangan yang dipaksakan tanpa cinta tetaplah menyakitkan.

.

.

Title : Prisoner of Love

.

.

Pair : Kurosaki Ichigo & Kuchiki Rukia

.

.

Disclaimer : Tite Kubo

.

.

Cicitan burung bersahut-sahutan mengiringi suasana pagi hari di kediaman Kurosaki. Dalam salah satu kamar yang disusupi cahaya terang sang mentari, terdapat sepasang anak manusia yang tengah terlelap, bergelung dalam balik selimut. Seorang pria berambut matahari senja dengan erat memeluk figur wanita mungil tanpa busana setelah semalaman dirinya menjadikan dara manis tersebut sebagai miliknya secara utuh.

Ingatannya terbayang pada kejadian di malam sebelumnya. Bagaimana hasrat kelelakiannya kemudian membuatnya liar dan tak terkendali. Dirinya agak menyesali saat gadis polos itu menolak sentuhannya, namun pada akhirnya tak berdaya karena Ichigo terus memaksa.

Tapi sungguh, direktur muda ini tak menyangka. Betapa nikmatnya bersetubuh dengan Rukia. Mantan gadis bertubuh lemah, kecil dan kurus sepertinya ternyata menyembunyikan lekukan surgawi yang mengalahkan maha karya mana pun dengan pakaian sederhananya. Lalu perasaan saat Ichigo berhasil menyatukan raganya dengan calon tunangannya. Begitu luar biasa!

Karena keusilan sinar yang menyilaukan matanya, Ichigo mulai mengerjap-ngerjap kelopak matanya untuk melihat dunia dengan iris berwarna musim gugurnya. Di lengannya tertidur sang pujaan hati dengan lelap. Mahkota gelapnya berkilauan tertimpa cahaya mentari, dan bahunya yang seputih pualam lalu dikecup sayang oleh Ichigo.

Lengannya mengeratkan dekapannya pada Rukia. Lalu mengelus lembut permukaan kulit yang terekspos dari balik selimut tebal yang melindungi sepasang insan yang tak mengenakan pakaian tersebut.

Karena gangguan-gangguan kecil itu, pemudi bermata indah ini akhirnya ikut terbangun juga. Tubuh ringkihnya menggeliat tak nyaman karena pelukan yang mengurung dirinya. Gumaman halus meluncur dari bibirnya tak kala lengan yang memenjarakannya tak jua mengendur.

Bukannya melepaskan tubuh calon tunangannya, malah Ichigo mulai menggigit dan menjilat leher wanitanya. Maklum, di pagi hari seperti ini justru libido seorang pria lebih memuncak. Yah, lagipula Rukia sudah tidak akan kehilangan apa-apa lagi.

Masih setengah mengantuk, Rukia tidak bisa melawan saat calon tunangannya dengan bersemangat melanjutkan aktifitas semalam menuju babak ke dua.

.

.

.

.

"Hah..." desahan terlontar dari mulut Kurosaki Ichigo sementara dirinya berdiri di bawah guyuran air pancuran di kamar mandi mewahnya. Memang dia menikmati momen-momen istimewanya dengan Rukia, akan tetapi sepertinya tidak demikian dengan calon tunangan yang amat dicintainya tersebut.

Gestur sikap wanita mungil yang menghindari sentuhannya setelah kegiatan panas mereka tadi jelas-jelas menunjukkan bahwa Rukia tidak menyukai apa yang terjadi. Mungkin malah dia menyesalinya.

DUK!

"Kurosaki Ichigo, kau bodoh sekali!" kutuk pria bersurai orange itu pada dirinya sendiri.

Ukitake Rukia tidak mencintainya seperti Ichigo mencintai calon tunangannya ini. Tentu saja dara jelita tersebut tidak menginginkan Ichigo merebut kegadisannya.

Ya. Merebut secara paksa. Semalam dan juga pagi ini, Ichigo secara sepihak memaksakan hasratnya yang bergejolak padahal pujaan hatinya itu sudah menitikkan air mata dan memohonkan untuk tidak mengambil kesuciannya yang berharga tersebut.

Pada akhirnya, Ichigo lebih mementingkan egonya sendiri. Kalaupun suatu saat nanti Rukia menemukan pria yang dicintainya... pemilik marga Kurosaki ini tidak akan melepaskan wanita pilihannya itu. Meski harus mengingkari sumpahnya pada Jushirou.

Yah... karena Ichigo tidak akan sanggup melepaskan wanita tercintanya tersebut.

Direktur hebat yang memiliki perusahaan raksasa berskala internasional itu membutuhkan Rukia sama seperti dia membutuhkan udara. Ichigo lebih memilih mati daripada membiarkan calon tunangannya ini pergi dari sisinya.

Duk!

Sekali lagi Ichigo menghantam dahinya pada dinding kamar mandi. Menyesal sekarang pun tidak dapat merubah apa pun. Nasi telah menjadi bubur. Yang bisa dia lakukan saat ini adalah memastikan bahwa Rukia akan bahagia di sampingnya untuk selamanya.

.

.

.

.

Di jantung kota Tokyo terdapat hotel raksasa yang tengah mengadakan pesta meriah di ballroom utamanya. Tamu undangan satu per satu hadir dengan busana terbaik mereka sebagai ajang memamerkan kekayaan masing-masing. Saat saling bertegur sapa, para pengusaha sukses dan milyuner tersebut berbasa-basi untuk bersosialisasi namun ada juga yang mulai bergosip terutama nyonya-nyonya bergaun ketat dengan dandanan menor yang sebenarnya menyakitkan mata.

Para ibu yang memiliki anak perempuan menyayangkan pertunangan salah satu pria lajang yang paling diincar menjadi menantu itu. Berita ini cukup mendadak, sebagaimana tidak ada yang tahu-menahu bahwa direktur muda Kurosaki tersebut memiliki seorang kekasih. Menurut kabar burung, wanita yang beruntung itu adalah anak dari pegawainya sendiri. Wah... betul-betul seperti kisah cinderella, bukan? Seorang gadis dari kalangan biasa tiba-tiba akan bersanding dengan seorang pengusaha kaya, tampan, sukses dan banyak menaklukan hati wanita.

Suara ribut-ribut segera mereda begitu pembaca acara mengumumkan bahwa sang bintang utama pesta ini akan segera tiba. Berpasang-pasang mata segera beralih menuju mimbar pintu yang terbuka untuk menampakkan sosok sepasang insan yang akan melangsungkan pertunangannya.

Decak kagum serta-merta terloncar dari bibir para undangan.

"Kurosaki-sama terlihat sangat tampan!"

"Pantas saja Kurosaki-sama mau bertunangan. Wanitanya sangat cantik dan ideal."

"Wah, jadi gadis itu tunangan Kurosaki-sama? Ternyata lumayan juga."

Berbagai komentar mulai dibisikkan pada orang-orang di sekitarnya. Sedangkan mata mereka masih awas memantau gerak-gerik sepasang anak manusia yang berjalan beriringan tersebut. Keduanya dibalut dengan pakaian serba putih, tuxedo dan gaun yang dibuat secara khusus agar serasi dan sepadan dengan bahan super lembut dan pastinya berharga selangit. Tatanan rambut si wanita dijalin untuk membuat simpul manis di samping kiri kepalanya, dihiasi sedikit ikal di sekeliling wajahnya yang dipoles secara sederhana sekaligus apik. Memancarkan pesona yang sanggup menyihir para pria dan wanita. Tak lupa seulas senyum tipis bertengger di bibirnya yang dilukis dengan warna merah jambu.

Sedangkan sang pria tersenyum lebar sembari menggandeng lengan calon tunangannya. Kadang kala menyambut uluran dan jabat tangan dari orang-orang yang berada di depan barisan untuk mengucapkan selamat. Wajahnya berseri-seri dan tak hentinya dia mengucapkan terima kasih pada para tamu.

Berikutnya upacara prosesi pertunangan Kurosaki Ichigo dan Ukitake Rukia akan segera dimulai

.

.

.

.

Dalam hatinya, Rukia menjerit dalam tangisnya. Telinganya bisa menangkap sayup-sayup suara orang-orang yang menuji kecantikan palsunya karena make-up dan beberapa wanita bahkan iri padanya! Iri!

Batinnya begitu tersiksa karena harus bertunangan dengan pria yang sama sekali tidak dicintainya. Bagaimana mungkin ada orang yang iri padanya?

Namun di luar, Rukia harus tetap memasang topengnya. Tersenyum seolah dia adalah wanita paling bahagia di seluruh dunia. Mungkinkah di antara pada undangan ada yang menyadari betapa hampa dan kosong sinar di iris violetnya?

Upacara tukar cincin sudah dimulai. Perhiasan yang dihiasi berlian cantik nan mewah itu bagi Rukia lebih nampak seperti rantai yang akan membelengunya seumur hidup. Setelah cincin ini dipasangkan di jarinya, maka tidak akan ada kesempatan untuk melepaskan diri lagi. Selamanya dia akan menjadi milik pria ini... selamanya hingga ajal menjemput.

Sesaat Rukia ragu. Tangan kanannya yang sudah berada dalam genggaman sang direktur mengepal karena ketakutan mulai menggerogoti sanubarinya. Menyulitkan Ichigo untuk meneruskan upacaranya. Alis pria bersurai mentari senja ini tertaut, mata tajamnya melirik wajah wanita yang amat dicintainya itu meringis.

'Tidak!' benak Ichigo berteriak. 'Aku tidak akan melepaskanmu!'

Kasak-kusuk para undangan mulai terjadi. Orang tua Ichigo dan Ukitake yang berada di samping sang bintang utama juga ikutan cemas.

Kemudian Ichigo menarik Rukia ke dalam pelukannya. Menjerit dengan suara lantang, "Rukia, kau baik-baik saja?!"

Oh, rupanya untuk mengelabui tamu-tamu yang sudah sibuk bergosip ria, pemilik mata berwarna musim gugur itu berakting seolah calon tunangannya yang bertubuh lemah tersebut mulai kambuh lagi.

Kaget, Rukia kontan mempertemukan ungu kelabunya dengan bola mata atasan ayahnya ini.

Yah, dia rela melakukan semua ini demi Otou-sannya. Lantas kenapa sekarang dara mungil itu malah ragu?

Bahkan kegadisannya sudah diambil oleh calon tunangannya tersebut. Apalagi yang tersisa bagi Rukia?

Tersadar, remaja belia itu mengangguk serta berkata, "Aku tidak apa-apa. Maafkan aku..."

"Yang penting kau baik-baik saja. Tidak usah memaksakan diri, Rukia. Upacaranya bisa kita tunda dulu. Ingat pesan dokter, kesehatanmu belum pulih total."

"Aku sungguh tidak apa-apa. Kita lanjutkan saja pertunangannya," kukuh Rukia tidak menyadari bahwa Ichigo sedang berakting. Dia hanya berharap segalanya cepat berakhir.

"Kau yakin baik-baik saja, kan, Rukia? Kalau terjadi apa-apa padamu, aku tidak sanggup membayangkannya, Rukia," rupanya rencana Ichigo berhasil. Mengucapkan kalimat yang menyakinkan seperti tadi langsung saja mengundang rasa simpati dari tamu undangan. Terlebih pandangan mata dan sikap protektif dari direktur Kurosaki tersebut betul-betul menunjukkan betapa mereka saling mencintai.

Akhirnya porsesi pertukaran cincin berhasil dilakukan. Meski sempat ada insiden kecil, namun pesta pertunangan tersebut berjalan sukses.

Dengan demikian, Ukitake Rukia telah resmi menjadi tunangan Kurosaki Ichigo.

.

.

.

.

Semenjak hari dilangsungkannya pesta pertunangan itu, kamar pribadi Rukia sering dikunjungi oleh pria berusia kepala tiga tersebut dengan alasan ingin menghabiskan waktu dengan calon istrinya ini.

Telah diputuskan bahwa setelah ulang tahun si remaja yang ke-20, maka persiapan pernikahan akan segera dilaksanakan. Sampai saat itu tiba, Rukia hidup bagai burung dalam sangkar emas.

Kamar luas dengan perabotan yang berkelas, makanan enak buatan koki dapur, pakaian mewah dan mahal, perhiasan serta segala barang-barang yang dibelikan untuknya tidak lantas membuat hati Rukia gembira. Tidak seperti saat di rumah sakit di mana para suster mengajaknya mengobrol. Dokter-dokter yang ramah memeriksa kesehatannya sembari bercerita macam-macam hal.

Di sini, semua pelayan seolah menghindarinya. Tidak ada yang bersedia menjadi teman bicaranya. Kecuali, tentu saja tunangannya yang selalu pulang malam hari karena aktifitasnya dalam mengelola perusahaan besar. Bahkan ayahnya juga jarang menengok kemari dengan alasan sibuk dan sungkan pada si tuan rumah sekaligus atasannya sendiri.

Hari-hari dihabiskan Rukia dengan membaca buku atau berjalan-jalan di taman. Malam harinya ditemani sang tunangan. Biasanya Ichigo akan menceritakan kejadian di kantor dan menanyakan kondisi wanita yang dicintainya itu. Sesekali juga... mereka akan menghabiskan malam bersama.

Tentu saja, kan? Ichigo tetaplah pria normal yang memiliki hasrat. Apalagi mereka sudah resmi bertunangan dan Rukia juga tidak lagi menolak untuk berhubungan intim. Memang di saat-saat seperti itu, direktur muda ini harus menekan perasaan bersalahnya kuat-kuat. Jika tidak begitu, dia juga tidak akan tega.

Selain itu, pemilik marga Kurosaki tersebut juga sudah menyiapkan pil pencegah kehamilan yang secara rutin dikonsumsi oleh Rukia. Yah, perencanaannya memang matang. Hanya satu kendala yang masih dihadapi oleh Ichigo.

Bagaimana cara agar membuat Rukia mencintainya?

.

.

.

.

Dua musim semi telah berlalu dalam sekejap mata. Saat ini Rukia telah menginjak usia 19 tahun. Perawakannya yang mungil dan imut masih sama, hanya saja waktu juga telah memahat kecantikan alami yang dipancarkannya sehingga dia juga terlihat lebih dewasa.

Rasanya juga setiap hari, Ichigo semakin memuja sosok tunangannya tersebut. Rasa cintanya melimpah ruah hingga tak terbendung lagi. Ingin rasanya musim semi tahun depan segera datang dan nantinya Rukia resmi menyandang nama keluarganya.

Tak sabar rasanya mempertontonkan pada dunia seorang Kurosaki Rukia.

Musim semi ini... tidak ada yang menyangka badai akan tiba dalam kehidupan mereka.

.

.

.

.

Sebuah pesawat terbang mendarat di bandara Narita, Tokyo. Di dalamnya terdapat seorang pemuda yang sedang melakukan perjalanan bisnisnya. Duduk di salah satu kursi penumpang VIP, pria campuran Swiss dan Jepang tersebut berkulit putih pucat dengan surai hitam legam sebahu. Kacamata hitam setia bertengger di pangkal hidungnya yang mancung. Sekeluarnya ia dari international airport ini, sudah ada mobil yang menjemputnya.

"Kita ke restoran dulu. Makanan di pesawat tidak cocok dengan seleraku," perintah sang businessman pada supir mobilnya.

"Baik."

Perjalanan menuju restoran berkelas yang harus cocok dengan lidah sang majikan ditempuh kurang dari setengah jam. Yah, karena pria berwajah datar itu memang sibuk, mereka mencari restoran yang searah dengan tempat tujuan mereka.

Akhirnya mobil sedan bercat hitam ini berhenti di depan sebuah restoran yang kelihatannya menjanjikan. Kebetulan tempat makan tersebut cukup dekat dengan sebuah tempat perbelanjaan bergengsi. Maka restoran itu cukup dipadati oleh nyonya-nyonya kaya yang menghabiskan uang suaminya dengan membeli barang-barang bermerk.

Pemuda bersetelan jas mahal tersebut memilih sebuah meja di pojokan demi menghindari suara kicau ibu-ibu bergosip. Dengan tenang ia memesan menu makan siang dan menyantap hidangan yang disajikan tanpa satu kalipun melepaskan sunglassesnya.

Sembari melahap makan siangnya yang terlambat dari jadwal, matanya awas mengawasi seluruh restoran dari balik lenca hitam yang membingkai wajahnya.

Eng?

Sepertinya ada seorang tamu restoran yang tampak tak biasa. Pria itu memperhatikan seorang wanita muda dengan setelan blus berwarna coklat duduk dengan secangkir minuman hangat—kopi atau teh?—tanpa menyentuh minumannya sama sekali. Sepertinya sedang menunggu seseorang.

Menit demi menit berlalu hingga akhirnya muncul seorang pria berambut norak mendekati meja si wanita. Seusai mengecup mesra—suara para nyonya di meja sana semakin berisik—wanita berambut gelap tersebut, pria yang terlihat sudah berumur itu duduk di seberangnya kemudian memanggil pelayan untuk memesan makanan.

Mungkin sepasang kekasih yang janjian makan siang?

Tapi kenapa matanya tetap tak bisa lepas dari mata ungu kelam yang nampak sedih itu?

.

.

.

.

Karena terdesak masalah waktu, pemuda berambut kelam tersebut menyisakan makan siangnya begitu saja dan segera melesat menuju tempat pertemuannya dengan direktur besar yang akan bekerja sama dengannya.

Kurosaki Group memang bukan sekedar perusahaan. Namanya kian melambung setelah direktur muda yang baru menjabat sejak 7-8 tahun yang lalu semakin memperluas daerah bisnisnya. Saat ini, pemuda yang menjabat sebagai manager promosi itu harus menjadi perwakilan untuk memperluas jaringan penjualan produk mereka.

Niatnya mereka akan memperkenalkan produk perusahaan ke Jepang tentu saja dengan bantuan dari pihak yang akan mempermulus usaha mereka.

Setelah sampai di gedung pencakar langit dengan dinding kaca nan menjulang itu, empunya kulit pucat seputih kertas tersebut dituntun ke lantai 30. Namun ternyata, direktur muda yang akan ditemuinya sedang keluar.

Mungkin ini cobaan yang harus dilaluinya terlebih dahulu sebelum berhasil mengikat kontrak dengan Kurosaki Group itu. Akhirnya waktu satu jam dilaluinya dengan menunggu.

"Maaf terlambat. Aku tak menyangka Anda akan langsung datang ke sini dari bandara," panggil sebuah suara dari arah pintu. Ketika menoleh, pemuda bersurai hitam tersebut membulatkan matanya dari balik lensa kacamata hitamnya. Pria dengan rambut jingga ini yang tadi dilihatnya di restoran bersama wanita berperawakan kecil itu.

"Sama sekali tidak masalah. Anda pasti sibuk sekali, bukan?" basa-basi si pria padahal mengetahui kegiatan yang dilakukan sang direktur.

"Ah, aku ada janji makan siang dengan tunanganku. Biasanya dia tidak suka janjian di luar, kebetulan hari ini aku mengajaknya untuk melihat-lihat cincin."

'Oh... jadi wanita itu adalah tunangannya dan mereka sedang mempersiapkan pernikahan mereka?' batin si pemuda. Entah mengapa ada sedikit perasaan kecewa menyusup masuk ke relung hatinya.

"Ah, maafkan ketidaksopananku. Perkenalkan, namaku Kurosaki Ichigo. Dan anda?" ucap Ichigo mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan.

"Perkenalkan, Namaku Schiffer. Ulquiorra Schiffer," dan pemuda bernama Ulquiorra itu menjabat tangan milik tunangannya dari Ukitake Rukia.

.

.

TBC

.

.

Holaa minna heheh akhirnya bisa juga diupdate, karena bukan saya yang bikin, jadi saya langsung bales review aja yaa hehehe

Ichirukilover30 : Makasih udah review senpai... kayaknya iya deh Ichi anak tunggal soalnya saya juga gak tahu karena bukan saya yang bikin hehehe

Arisa Narahashi – Aimee : Makasih udah review senpai... iya kayaknya Voidy nee lupa sama pembatasnya. Ini udah ada kok hehehe ini udah update hehehe

Anemone Jie : Makasih udah review senpai... hehehe aduh saya gak bisa jelasin banyak karena bukan saya yang bikin. Ini aja saya Cuma dikirimi chapternya aja jadi saya gak tahu apa bakal sedih terus ato nggak hehehe

Natsumi Kyoko : Makasih udah review senpai... iyaa makasih ya ini udah lanjut hehehe makasih semangatnya.

15 Hendrik Widyawati : Makasih udah review senpai... heheh ini udah update heheh

Darries : Makasih udah review senpai... hehehe mirip ya? Tapi keseluruhan yang bikin Voidy nee kok, saya Cuma publish aja hehehe

Lhylia Kiryu : Makasih udah review senpai... heheh iya ini udah update ehheh

Tiwie Okaza : Makasih udah review senpai... heheh iya ini udah update. Kin aja yaaa...

Naruzhea AiChi : Makasih udah review senpai... heehehe saya juga gak tahu harus apa karena bukan saya yang bikin, doain aja endingnya bagus ya hehehe

Hanna Hoshiko : Makasih udah review senpai... iyaa ini udah lanjut hehhe

Azura Kuchiki : Makasih udah review senpai... hehehe semoga aja yaa hehehe

Amexki chan : Makasih udah review senpai... hmm ini masih bisa ditangani ke T sih, walaupun menurut saya ini juga bukan M. Mungkin memang T+ heheheh...

Riyuzaky L ichiruki : Makasih udah review senpai... iya ini udah lanjut hehehe

Purple and Blue : Makasih udah review senpai... heehehhe karena ini rate T jadi masih belum bisa naik ke M hehhe...

Chelsea : Makasih udah review senpai... ya ini memang targetnya masih T kok, belum masuk ke M hehehe...

Makasih yang udah baca dan review.

Masih mau lanjut? Bolee review?

Jaa Nee!