" Justice" Chapt. 4
*Sebelumnya*
"Kyungsoo, coba kau baca ini" Kang Jun menunjukkan sebuah artikel mengenai salah satu penyakit yang berhubungan dengan syaraf dari ponselnya.
"Apa ini?"
"Ini artikel mengenai penyakit Ataksia, salah satu penyakit yang menyerang sistem syaraf pada bagian otak juga mengganggu gerak anggota tubuh lainnya" Kang Jun menjelaskan artikel itu padanya.
"Iya , aku tahu. Tapi...apa hubungannya denganku?" tanya Kyungsoo bingung
"Aku hanya takut, jika apa yang kau alami sama seperti gejala penyakit Ataksia"
"Kyungsoo sakit?, Ataksia?" batin Suho. Dirinya sangat terkejut mendengar perkataan Kang Jun, hingga ia meremas ujung jas hitam yang dikenakannya.
*Selanjutnya*
"Kau jangan menakut-nakutiku, Kang Jun."
"Aku tidak menakutimu, tapi cobalah kau baca dulu artikel ini"
Kyungsoo menghela nafas sejenak, kemudian ia menerima ponsel yang disodorkan Kang Jun padanya. Mata bulatnya membaca dengan seksama bagian penting terutama dibagian gejala dan diagnosisnya. Jantungnya berdebar karena sedikit rasa cemas membuat hatinya tidak tenang. Terlebih lagi Suho mendengar perkataan Kang Jun mengenai dirinya.
"Bagaimana jika Suho hyung tahu aku sakit?" batinnya
Suho beranjak dari posisi duduk saat namanya dipanggil oleh seorang perawat.
"Kim Suho~ssi"
"Ne" sahutnya dan berjalan mengikuti perawat tersebut menuju salah satu ruang Dokter. Sedangkan Kyungsoo memandang lekat dari balik punggung Suho yang pergi bersama perawat tersebut.
"Kyungsoo, kau kenapa?"
"Ne?"
Kang Jun bingung dengan sikap Kyungsoo pada Suho yang tidak dikenalnya, "Kenapa kau memandangi namja itu?" tanyanya penasaran
"Ah...tidak apa-apa. Aku hanya teringat pada seseorang"
"Siapa?"
"Tidak apa-apa" ucapnya yang enggan membahas mengenai Suho padanya.
"O iya, apa...pemeriksaannya akan berlangsung lama?" tanya Kyungsoo
"Mm...sepertinya lumayan, karena kita juga harus mengantri dengan pasien yang lain"
"Apa...aku boleh periksanya nanti saja? Aku merasa lelah hari ini"
"Tidak bisa Kyungsoo. Kita sudah berada di sini, meski akan memakan waktu yang cukup lama. Kau harus periksa kesehatanmu hari ini juga. Jangan menundanya, dan kau tidak perlu khawatir, karena aku akan menemanimu hingga pemeriksaan yang kau jalani selesai."
"Tapi Kang Jun..."
"Kau harus melakukannya sekarang!" tegasnya
~ J ~
Jam pelajaran telah usai. Sehun, Tao dan Kai pulang bersama-sama menggunakan kendaraan pribadi mereka. Hanya saja, sepulang Sekolah Tao mengajak kedua adiknya untuk makan bersama di sebuah Restaurant Jepang.
Sehun yang enggan banyak bicara, dirinya hanya duduk diam sembari melipat kedua tangannya di depan dadanya. Sedangkan Kai sembari memainkan game di ponselnya, ia mendengarkan apa yang dikatakan Tao pada mereka.
"Apa yang ingin hyung sampaikan pada kami?" tanya Kai
"Begini...tadi Taeyeong menemuiku saat bermain Basket. Katanya, Lee Saengnim meminta kita bertiga untuk menjadi salah satu bintang tamu untuk menyambut kedatangan Mahasiswa dari salah satu Universitas jurusan Seni, dan kita diminta untuk melakukan Dancer "
"Dancer?" Kai cukup terkejut mendengarnya
"Nde"
"Tapi hyung tahu sendirikan bagaimana appa? Aku yakin, appa pasti tidak akan setuju" ucap Kai
"Cukup Kyungsoo hyung yang dikucilkan di rumah, karena keras kepala dengan pilihannya. Jika kita melakukan seperti permintaan Lee Saengnim, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada kita." Sambung Kai lagi dan meletakkan ponselnya di atas meja.
"Itu dia yang menjadi pikiranku juga. Kita bertiga memiliki hoby yang sama, tetapi kita tidak bisa menyalurkanya, karena appa tidak akan menyukainya."
"Hyung...tidak bisakah sesekali kita, melakukan hoby kita?! Jujur hyung...aku lelah dengan semua peraturan yang appa buat untuk kita, termasuk mengucilkan Kyungsoo hyung! Jika eomma masih hidup. Eomma pasti akan marah pada appa" Sehun mulai angkat bicara dan mengungkapkan keluhannya selama ini yang ia pendam
"Sehun. Apa kau ingin saudara yang lain mengucilkanmu seperti yang mereka lakukan pada Kyungsoo hyung?! Apa kau tidak memikirkan masa depanmu?! Apa kau ingin appa mengambil semua fasilitas mewah yang appa berikan padamu sekarang? Apa kau ingin hidup seperti Kyungsoo hyung yang harus mencari uang sendiri? Kau sanggup?!" Tao sedikit meninggikan suaranya karena perkataan Sehun yang tidak ia sukai.
"Aku tahu hyung! Tapi aku kasihan pada Kyungsoo hyung. Setiap hari selalu pulang malam, dan pagi-pagi sekali sudah harus pergi ke Kampus tanpa pernah sarapan. Saat hujan, Kyungsoo hyung juga sering pulang dalam kondisi basah kuyup! Hyung tahu sendirikan, rumah kita hingga menuju halte cukup jauh jaraknya! Dan Kyungsoo hyung harus berjalan sejauh itu untuk pergi Kuliah. Tiap kali Kyungsoo hyung pulang malam, appa bahkan tidak pernah menanyakan kabarnya. Jangankan appa! Aku! Hyung! Juga saudara yang lain bersikap seolah-olah sangat acuh padanya! Sampai kapan hyung?! Kita harus melakukan ini semua padanya? Tidak bisakah kita bersikap adil padanya?!" air mata Sehun mengalir begitu saja di depan mereka.
Pembicaraan mereka membuat pengunjung Restaurant itu menoleh sejenak kearah mereka. Sehun menundukkan wajahnya , pundaknya bergetar dan kini suara isak tangisnya membuat Kai juga Tao menitikkan air mata, karena semua ucapan Sehun mengenai Kyungsoo.
"Aku menyayangi Kyungsoo hyung. Tapi aku tidak bisa mengatakannya, karena aku takut...aku pengecut hyung... " ucap Sehun sesenggukkan
Kai yang duduk disebelahnya, kini memeluk erat adik bungsunya sembari mengusap lembut punggungnya untuk menenangkannya.
"Dulu sewaktu Kyungsoo hyung tidak dikucilkan. Kyungsoo hyung selalu ada untukku juga untuk kalian. Tapi apa yang kita lakukan sekarang padanya?"
"Hatiku sakit hyung. Bahkan kini Kyungsoo hyung terlihat sedikit kurusan. Makannya tidak teratur seperti kita. "
Sehun meluapkan semua yang mengganjal dihatinya selama ini pada kedua saudaranya. Tao tidak bisa berkata-kata, karena ia juga sama seperti Sehun dan Kai. Hanya air mata yang berbicara.
~ J ~
Seorang namja tampan juga terlihat cantik. Ia melangkah pelan menyusuri salah satu lorong menuju sebuah ruangan yang berisi banyak sekali nisan beruba abu dari setiap jenazah yang sudah di kremasi, dan disusun rapi disetiap loker kaca.
Namja tampan tersebut membawa sebuket bunga krisan. Langkah kakinya terhenti tepat disebuah guci berisi abu milik ibunya yang sudah lama tiada. Namja itu membuka loker kaca lalu meletakkan buket bunga tersebut di sisi guci dan pigura berisi foto ibunya.
Bibir tipis merahnya terukir membuat sebuah senyuman yang menghiasi wajah tampannya, walau senyuman itu hanya sebuah senyuman kesedihan.
"Eomma" sapanya
"Bagaimana kabar eomma? Apa di sana eomma baik-baik saja? Atau di sana eomma sedih karena keluarga kita?" ucapnya terdengar sedikit menggantung, lalu ia menghela nafas.
"Aku tahu...eomma di atas sana selalu menangis karena kami. Aku benarkan eomma?"
"Jika eomma masih hidup. Pasti tidak akan pernah terjadi hal seperti ini. Sudah 3 tahun berlalu eomma. Jika saja Kyungsoo tidak keras kepala dengan pilihannya, appa pasti tidak akan mengusirnya dan membuat kami mengucilkannya"
" Eomma...aku merindukan eomma"
Air matanya mengalir membasahi wajah tampannya. Sesekali ia menyeka air matanya dan berusaha tersenyum di depan pigura foto ibunya.
"Eomma pernah mengatakan, bahwa aku harus menjaga semua saudaraku. Apa pun yang terjadi. Tapi...aku benar-benar minta maaf padamu, eomma. Aku gagal...aku gagal melakukannya..."
"Maafkan aku eomma...maafkan aku..."
Drt...Drt...
Ponselnya bergetar, dan ia segera merogoh saku jasnya untuk menjawab panggilan masuk yang berasal dari ayahnya. Sejenak ia menghela nafas lalu menjawab teleponnya, "Ne appa?"
"Xiumin~ah, kau dimana? Appa menemuimu di kantor, tapi Sekretarismu mengatakan kau pergi ke luar"
"Mian appa, aku pergi ke luar karena ingin membeli sesuatu" bohongnya
"Ya sudah. Cepat kau kembali ke kantor, karena appa ingin mempertemukanmu dengan seseorang." Perintahnya
"Ne appa. Aku akan segera ke sana"
Namja bernama Xiumin tersebut memasukkan kembali ponsel ke dalam saku jasnya. Kemudian ia pergi meninggalkan rumah pemakaman tersebut.
~ J ~
Setelah menemui Dokter yang memeriksa kondisinya, kini Suho berencana pergi ke luar. Sorot matanya menerawang mencari keberadaan Kyungsoo yang tidak ia temukan. Karena harus menemui salah satu klien yang sudah menunggunya di Perusahaan. Suho kini pergi lebih dulu. Sedangkan Kyungsoo berada di ruang pemeriksaan, dan Kang Jun hanya diperbolehkan untuk menunggu di luar ruangan.
Kyungsoo menatap lekat seorang Dokter muda yang memeriksanya. Dokter tersebut tampak fokus membaca keluhan Kyungsoo yang ditulis oleh perawat mengenai apa yang dialaminya. Dokter tampan berkacamata tersebut, meletakkan file itu , lalu menatap Kyungsoo.
"Apa...kau sudah lama mengalaminya?" tanyanya
"Nde. Beberapa hari belakangan ini lebih sering saya rasakan, Dok. Saya tidak tahu apa yang terjadi pada saya."
"Begini saran saya, untuk memastikan penyakit dari keluhan yang kau rasakan. Saya akan memberikanmu surat rujukan untuk melakukan beberapa test, agar dapat diketahui jenis penyakitnya."ucapnya sembari menulis sebuah surat rujukan untuknya.
"Ne" sahutnya
Dokter muda bernama Cho Kyuhyun itu menelpon salah satu perawat. Tidak berapa lama perawat tersebut datang, lalu mengajak Kyungsoo untuk ke bagian pemeriksaaan. Kyungsoo hanya mengikuti kemana perawat itu mengantarnya.
Kyungsoo cukup lelah karena ternyata beberapa test yang harus dilakukannya cukup memakan waktu beberapa jam, seperti test urine, scan otak dan tulang, test EMG untuk mengukur aktivitas kelistrikan dalam otot pada saat otot berkontraksi dan pada saat rileks, juga test Nerve Conduction untuk menguji seberapa cepat dan baik syaraf meneruskan impuls listrik.
Setelah serangkaian test tersebut dilakukan, Kyungsoo harus kembali dalam beberapa hari kemudian.
"Kami akan menghubungi anda, jika hasil testnya sudah ke luar" ucap perawat itu padanya
"Apakah besok hasilnya sudah bisa saya terima?"
"Sepertinya belum. Tunggu saja kabar dari kami"
"Ne," ucapnya
Kyungsoo melangkah lunglai dan sesekali ia menghela nafas beratnya tiap kali mengingat test yang dilakukannya barusan.
"Apakah penyakitku parah? Kenapa aku harus melakukan semua test itu?" batinnya
"Kyungsoo~ah" ia terkejut saat mendengar suara Kang Jun yang memanggilnya juga berlari kecil untuk menghampirinya, dan ia tersenyum padanya.
"Bagaimana? Apa kata Dokter?" tanya Kang Jun cemas
"Dokter masih belum mengatakan apa-apa. Pihak Rumah Sakit akan menghubungiku, jika hasilnya sudah ke luar"
"Oh...ya sudah, nanti aku akan menemanimu untuk mengambil hasil testnya"
"Ne"
"Aku akan mengantarmu pulang sekarang" tawarnya
"Tidak perlu Kang Jun. Kau sudah menemaniku hari ini, aku tidak ingin merepotkanmu lagi"
"Tapi Kyungsoo..."
"Tidak apa-apa, lagipula sepertinya aku masih bisa pergi ke Caffe karena masih sore juga"
"Kalau begitu aku akan mengantarmu ke Caffe"
"Tidak perlu, aku bisa sendiri"
"Tidak apa-apa Kyungsoo, lagipula Caffe tempatmu bekerja searah dengan rumahku"
"Baiklah jika kau memaksa, hehehehe"
"Kau ini..." Kang Jun tersenyum, dan merangkul pundaknya.
~ J ~
Pelayan Kang yang sedang mengontrol pelayan yang lain bekerja, ia menoleh saat security di rumah tempat mereka bekerja berjalan menghampirinya dengan membawa sebuah box berbungkus kado.
"Apa itu?" tanyanya
"Tadi ada yang mengantarkan box ini, katanya untuk tuan muda Kyungsoo"
"Oh, gumawo"
"Ne" sahutnya, lalu ia berbalik dan kembali melakukan tugasnya
"Kenapa tidak ada nama pengirimnya?" gumamnya
"Jangan-jangan itu dari salah satu tuan muda kita yang mengirimkannya untuk tuan muda Kyungsoo" celetuk salah satu pelayan yang membersihkan guci
"Kenapa kau berkata seperti itu?" tanyanya
Sebelum melanjutkan ucapannya, pelayan wanita yang umurnya lebih tua sedikit dari umurnya celingak-celinguk karena khawatir jika majikan mereka mendengarnya.
"Tuan muda dan tuan besar sedang tidak ada di rumah. Kau tidak perlu cemas, katakan apa maksud ucapanmu barusan"
"Ah...syukurlah. Saya takut jika saya membahas ini, saya akan kena marah oleh majikan kita" ucapnya lega seraya mengelus dadanya pelan.
"Lanjutkan apa yang ingin kau sampaikan"
"Sebenarnya...beberapa hari lalu, saya tidak sengaja melihat tuan muda Luhan berdiri di depan pintu kamar tuan muda Kyungsoo, dan tuan muda Luhan tampak seperti menyeka air matanya"
"Sebenarnya mereka semua sangat menyayangi tuan muda Kyungsoo, hanya saja mereka takut pada tuan besar"
"Nde. Kasihan tuan muda Kyungsoo" ucap pelayan wanita tersebut dan menghela nafasnya
"Kau kembalilah bekerja, aku akan menaruh box ini di kamar tuan muda Kyungsoo"
"Ne" sahutnya
Pelayan Kang menaiki anak tangga menuju kamar Kyungsoo yang terletak paling pojok. Ia masuk dan meletakkan box itu di atas kasurnya. Kemudian ia ke luar dan menutup rapat pintu kamarnya. Sewaktu ingin menuruni anak tangga, Suho melangkah gontai menuju kamarnya dengan wajah pucatnya, dan pelayan Kang segera menghampirinya karena ia mencemaskan majikannya.
"Tuan muda sakit?"
"Darah rendahku kambuh ahjussi, aku ingin istirahat" ucapnya lemah
"Saya akan membantu anda" ucapnya dan memapah Suho masuk ke kamar
"Saya akan meminta Deuliem untuk membuatkan susu hangat untuk anda"
"Ne" sahutnya dan merebahkan dirinya di atas kasur.
Suho memandang langit-langit rumahnya, dirinya teringat akan Kyungsoo saat bertemu dengannya di Rumah Sakit . Setetes air mata jatuh dari sudut matanya. Pelayang Kang tahu bahwa majikannya sedang memendam sesuatu.
"Apa tuan muda ada masalah?"
"Ahjussi..."
"Ne?"
"Apakah aku egois?"
"Kenapa anda bertanya seperti itu?"
"Aku tahu...ahjussi juga mengakui bahwa aku egois, pengecut, aku hanya mementingkan diriku sendiri hingga harus menyakitinya."
"Saya tidak mengerti maksud anda, tuan"
"Tinggalkan aku sendiri, aku ingin tidur" pintanya tanpa ingin melanjutkan perkataannya pada pelayan Kang.
"Ne, jika anda butuh sesuatu, panggil saja saya"
"Mm" sahutnya dan memiringkan tubuhnya ke arah kanan.
Sebelum pergi meninggalkan kamar Suho, pelayan Kang menatap lirih dari balik punggung Suho, lalu ia melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Suho sendiri di kamarnya.
Suho memejamkan matanya dan membiarkan air mata mengalir dari sudut matanya. Perkataan Kang Jun masih terngiang di telinganya, "Ini artikel mengenai penyakit Ataksia, salah satu penyakit yang menyerang sistem syaraf pada bagian otak juga mengganggu gerak anggota tubuh lainnya"
"Iya , aku tahu. Tapi...apa hubungannya denganku?"
"Aku hanya takut, jika apa yang kau alami sama seperti gejala penyakit Ataksia"
" Ataksia...jika apa yang temanmu katakan itu benar. Bagaimana jika appa mengetahuinya? Hyung takut jika appa akan mengusirmu dari rumah, Kyungsoo. Jika itu terjadi...kau akan tinggal dimana dengan kondisi penyakit seperti itu?" batinnya
"Maafkan hyung, Kyungsoo. Hyung terlalu pengecut...hyung sangat menyayangimu"
~ J ~
Kyungsoo buru-buru mengganti pakaiannya dengan seragam pegawai di Caffe tempatnya bekerja. Kyungsoo cukup bersyukur karena Manajernya masih mau menerima permintaan maafnya karena terlambat sekitar 15 menit.
Kyungsoo mengambil sebuah nampan berisi minuman Flat White juga Cappucino yang disodorkan oleh salah satu teman kerjanya yang bertugas sebagai Barista .
"Kyungsoo tolong berikan minuman ini pada tamu kita di meja nomor 13 "
"Ne, hyung" sahutnya
Kyungsoo segera membawa nampan tersebut menuju salah satu meja , dimana salah satu saudaranya yang memesan minuman itu bersama seorang rekan kerjanya, dan Kyungsoo tidak mengetahuinya.
Kyungsoo cukup terkejut begitu juga saudaranya karena dirinya tidak mengetahui bahwa Kyungsoo bekerja di Caffe tersebut.
"Kyungsoo?" batinnya
"Kris hyung?" batin Kyungsoo sama terkejutnya seperti Kris.
Setelah meletakkan cangkir berisi Cappucino , Kyungsoo ingin meletakkan cangkir berisi Flat White di atas meja, tetapi tangan kanannya mulai mengalami kram hingga membuat cangkir tersebut jatuh di atas meja dan percikannya membuat pakaian rekan kerja saudaranya kotor, dan membuatnya marah hingga spontan menampar Kyungsoo.
Plak!
"Dasar pegawai tidak becus! Kau tahu ! harga pakaianku ini sangat mahal!Brengsek!"
"Mianhe...saya benar-benar tidak sengaja" ucapnya dan membungkukkan tubuhnya di depannya.
Kris yang melihat rekan kerjannya menampar Kyungsoo di depannya, ia tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa diam sambil mengepalkan tangannya. Matanya terasa panas karena menahan air matanya agar tidak tumpah.
Kris beranjak dan mengajak rekan kerjanya untuk meninggalkan Caffe tersebut, karena ia tidak ingin jika rekan kerjanya terus menerus memaki Kyungsoo di depannya.
"Kita pergi saja dari sini. Kita cari Caffe yang lain" ajak Kris
"Tidak! Aku ingin dia mengganti pakaianku ini!" tolaknya
"Sa...saya akan menggantinya. Saya akan bertanggung jawab karena kecerobohan saya"
"Biar aku saja yang menggantinya. Lagipula, dia tidak mungkin memiliki uang untuk mengganti pakaian mahalmu! Dia pasti orang miskin yang bekerja mencari uang untuk biaya hidupnya. Kau tidak perlu meminta uang padanya, dia tidak akan mungkin bisa bertanggung jawab!" Kyungsoo hanya diam walau ucapan Kris membuat hatinya sakit, sedangkan Kris sengaja berkata seperti itu agar Kyungsoo tidak perlu menggantinya, dan Kris tahu bahwa Kyungsoo akan sakit hati karena perkataannya.
"Mianhe" batin Kris
"Ayo kita pergi dari sini" ajaknya dan menarik lengan rekan kerjanya.
Kepergian Kris membuat Kyungsoo meneteskan air matanya, dadanya terasa sesak dengan semua perkataan Kris padanya, "Apa hyung benar-benar membenciku, hingga hyung harus berkata seperti itu padaku?" batinnya.
TBC
Mian cukup lama baru aku lanjutin, bagaimana? Apa kalian suka?
