THE MOTEL
Naruto punya Kishimoto-sensei
Ada baiknya jika saya mengingatkan, fic ini penuh hal GAJE, AU, OOC
Pair : SasuSaku
.
Kalau nggak suka jangan dibaca, cepet-cepet deh keluar dari halaman ini. Kalao Cuma buat flame bukan di sini tempatnya.
.
.
Pria yang berpakaian serba hitam itu menusuk-nusukkan pedang tajamnya kepintu yang terbuat dari papan triplek itu. Sakura yang ketakutan menjauhi pintu sedangkan berjalan ketengah ruangan, dia sedang mencari-cari sesuatu dilantai.
Sasuke sedang mencari jalan keluar lain yang ada dilantai, tadi dia melihat ada pintu lain dilantai ini dalam video yang ditontonya. Sasuke berusaha mengabaikan pria hitam yang sedang berusaha menerobos masuk itu, sebagai pencegahan Sasuke juga sudah menahan pintu dengan sofa, sebagai usaha pertahanan. Sekilas Sasuke melirik istrinya yang sedang meringkuk ketakutan diujung ruangan. Melihat wajah istrinya yang ketakutan Sasuke bertekad akan membunuh pria bertopeng hitam itu nanti, setelah dia bisa mengamankan Sakura
Sasuke mengetuk-ngetuk setiap lantai yang tebuat dari papan itu. Dia mendengarkan setiap ketukannya, saat dia mendengar salah satu papan yang mengeluarkan bunyi berbeda dengan papan lantai yang lainnya, Sasuke menyingkirkan karpet yang menyelimuti lantai. Di sana di lantai papan yang memiliki bunyi berbeda, dia menemukan pintu menuju ruang bawah tanah.
"Ini dia," ucap Sasuke kemudian. "Sakura, sini. Cepat kau masuk kedalam sini," Sasuke membuka sebuah jalan yang menuju ruang bawah tanah yang gelap dan mengeluarkan aroma yang tidak sedap. "Aku menemukan jalan ini dari vidieo laknat itu. Capat!"
"Tapi, tapi aku," ragu Sakura untuk memasuki lubang bawah tanah yang gelap dan pengap itu.
"Cepat! Nanti keburu pintunya dibuka," seru Sasuke kesal mendorong paksa Sakura, membuat wanita itu jatuh terlungkup di ruang bawah tanah. Setelah itu Sasuke ikut masuk ke sana lalu menutup kembali ruang itu dengan papan lantai sebelumnya. "Jalan kedepan, aku akan berjalan dibelakang, berjaga jika pria itu berhasil masuk dan menemukan kita di sini."
"Ini gelap Sasuke, aku tak bisa melihat apa pun, dan astaga di sini sangat bau Sasuke."
"Sudah jangan banyak mengeluh, kau mau selamat kan, cepat jalan ke depan. Penggang dinding saja, kita akan menyusuri lorong ini," tanpa protes kembali Sakura melakukan apa yang disuruh Sasuke.
Lorong bawah tanah itu sangat sempit dan gelap, tak ada seberkas cahaya pun yang masuk, menyebabkan mereka harus berjalan dengan hati-hati, setiap mereka menyentuh dinding tanah yang tak dilapisi semen itu berjatuhan, karena lorong bawah tanah ini hanya ditahan oleh beberapa tiang kayu penyangga saja.
Sakura melangkah dengan hati-hati, karena dia tidak ingin menginjak sesuatu. Dia tahu ditempat seperti ini pasti ada hewan yang sangat dibencinya, makanya dia berjalan pelan-pelan membuat Sasuke yang ada dibelakangnya kesal.
"Tak bisakah kau mempercepat jalanmu?" tanya Sasuke berusaha bersabar sambil sesekali menengok ke arah belakang untuk memastikan kalau semuanya aman.
Sakura memberhentikan jalannya dan memekik pelan, ketika merasakan sesuatu berlari menubruk kakinya, membuat Sasuke yang berjalan dibelakangnya menubruk tubuhnya dan membuat mereka berdua jatuh terduduk.
"Kenapa berhenti berjalan?" tanya Sasuke.
"Tadi ada yang menubruk kakiku," jawab Sakura sambil berusaha bangun dengan bertumpu pada sesuatu yang dia anggap sebagai batu didinding tanah itu. Tapi ternyata itu bukan batu, yang dia pegang itu adalah sekumpulan tikus besar yang langsung kabur saat dia memegangnya, dan hal itu pun yang membuat Sakura memekik ketakutan. "Oh, astaga!"
"Ada apa?" Sasuke terkejut saat Sakura terlonjak kebelakang yang berhasil membuatnya jatuh terduduk lagi.
"Saa-su-ke, kau merasakannya, kan? Kuyakin kau pasti tahu itu hewan apa? Aku benci sekali dengan hewan ini Sasuke!" jerit Sakura berusaha keluar dari kumpulan tikus-tikus itu.
"Sstt... diamlah, ini bukan waktunya untuk takut padahal sepele seperti ini Sakura. Memangnya kau ingin tertangkap sama mereka? Cepat jalan dan jangan berisik," Sasuke mendorong Sakura dengan susah payah karena Sakura tak mau melangkahkan kakinya sama sekali.
"Tapi, tapi.. Sasuke, aku nggak mau," Sakura tetap diam tak bergerak. Membuat Sasuke semakin kesal.
"Kita nggak bisa balik Sakura, kau lebih memilih rasa jijik atau nyawamu sih?"
"Sasuke!" jerit Sakura, membuat Sasuke membungkam mulut Sakura cepat.
"Jangan berisik, nanti mereka tau kita ada di sini," Sasuke masih membungkam mulut Sakura, dan memaksa Sakura tetap berjalan ke depan.
.
.
Sementara keadaan di Motel, pria bertopeng hitam berhasil mendobrak paksa pintu, dan langsung mencari-cari keberadaan Sakura dan Sasuke. Dia mencari ke setiap sudut kamar dan sampai ke kamar mandi. Tapi dia tidak menemukannya juga. Saat pria itu berjalan ke luar Motel, si supir truk ke luar bersama Orochimaru sambil mengobrol, entah apa yang mereka bicarakan. Pria bertopeng hitam itu tak memperdulikannya, dengan berjalan mendekat ke tuannya.
"Banyak yang pesan, kau kan tahu sendiri mereka bagaimana, jadi tolong stoknya diperbanyak dan juga dipercepat!" ujar si supir sinis.
"Tenang saja, itu masalah gampang. Kalau sudah selesai akan segera saya kabari lagi," ujar Orochimaru menyerahkan sebuah kardus yang berisi berbagai macam kaset video.
"Baiklah kalau begitu, aku pergi. Dan oh ya, tadi ada pemain yang cukup cantik, buat yang bagus ya," ucap Si sopir sambil memasuki truknya dengan tersenyum licik, dan sebelum menutup pintu dia kembali berkata. "Kali ini buat lebih didrama tisir lagi ya. Banyak yang menunggu adegan-adegan seperti itu!"
Menanggapi ucapan si sopir, Orochimaru hanya mengangguk dan tersenyum licik. "Tentu saja."
Setelah si sopir pergi membawa truk besarnya, Orochimaru membalikkan badannya lalu berbicara pada si pria bertopeng hitam. "Ayo, kita mulai... aku sudah sangat lelah malam ini, aku ingin segera selesai."
"Mereka tidak ada," ucap pria bertopeng hitam.
"Apa?!" Orochimaru terkejut dan segera berlari memasuki kamar Motel. Mencari kesetiap sudut ruang kamar Motel, dari menyingkap selimut kasur, menyingkap tirai pancuran di kamar mandi, dan terakhir melihat keluar dari jendela kamar mandi.
"Cepat periksa hutan belakang," perintahnya pada si pria bertopeng. "Sial! Pergi kemana mereka?"
Saat Orochimaru keluar dari kamar Motel, dia melihat salah satu pria bertopeng lainnya baru saja tiba dengan mobil sedan hitam Sasuke. Keluar dari mobil, setelah sebelumnya menutup dan mengunci pintu mobil, pria bertopeng hitam itu jalan mendekat ke arah Orochimaru.
"Paket sudah sampai, ini tanda pembayarannya. Mereka mengatakan tidak ingin melakukan transfer lagi kalau barang belum siap."
Dengan kesal Orochimaru menerima secarik kertas itu, "Mereka selalu saja keras kepala, memang mereka pikir ini pekerjaan mudah, apa?" dumal Orochimaru kesal. "Kau cepat cari dua manusia sialan itu, mereka kabur ke hutan."
Dengan menganggukkan kepalanya, pria bertopeng hitam segera melesat ke dalam hutan. Dalam hitungan detik suasana kembali hening. Orochimaru yang kesal berjalan menghentak-hentakkan kakinya dengan keras mendekati mobil, dan menendang ban mobil dengan keras.
"Sialan! Mereka terlalu banyak menuntut, mereka pikir pekerjaan ini mudah?" dengan kesal Orochimaru masuk ke dalam mobil sedan Sasuke, dia berniat untuk memindahkan mobil itu ke belakang gedung pengisian bensin dan menutupi mobil itu menggunakan terpal. Sebagai tindakan penjegahan kalau dua manusia sialan itu kabur dengan mobil ini.
.
.
Sakura dan Sasuke akhirnya sampai diakhir terowongan bawah tanah itu, diujung terowongan mereka menemukan sebuah tangga yang mengarah ke atas, di atas sana sepertinya ada jalan keluar, dan jalan itu tertutup papan sama seperti yang ada di kamar Motelnya tadi. Perlahan Sasuke menggeser papannya pelan-pelan tanpa suara, setelah terbuka cukup lebar mereka naik dan membiarkan lubang itu tetap terbuka, untuk jaga-jaga.
"Kita di mana?" tanya Sakura bingung sekaligus takjub.
Dengan memandang takjub sekaligus ngeri ruangan yang baru saja mereka datangi ini. Sasuke dan Sakura memeriksa setiap sudut ruangan. Di ruangan itu ada banyak sekali monitor berukuran 8 inc berjejer rapih di dinding, lalu di bawah monitor ada keyboard yang bersinar mengeluarkan berbagai macam warna, disamping kiri monitor terdapat rak-rak besar berisikan kaset video tersusun rapih bersama beberapa buku tebal, di sudut kanan ruangan juga terdapat berbagai dus berukuran besar bertumpuk rapih dan di dinding sebelah pintu kayu cokelat, terdapat berbagai senjata tanjam, seperti pedang, kampak, celurit, pentungan berduri, dan banyak lagi lainnya.
"Sepertinya kita ada dimarkas mereka," kata Sasuke tertegun melihat semua benda dihadapannya. Perlahan Sasuke mendekat kesalah satu monitor yang menayangkan gambar Orochimaru yang baru saja keluar dari tempat pengisian bensin. "Sakura, sepertinya orang ini yang ada dibalik semua kejadian ini."
Sakura perlahan mendekati Sasuke, memalingkan wajahnya ke arah monitor yang ditunjuk Sasuke, "Si pemilik Motel? Kenapa kau berpikir seperti itu?"
"Aku melihat dia menutupi mobilku dengan terpal merah itu, kau lihat terpal itu kan? Benda yang dia tutupi terpal itu mobilku," ucap Sasuke.
"Kalau begitu ayo kita ke sana, mobilnya pasti sudah mereka isikan bensin."
"Tidak, kita tak bisa keluar sekarang. Lihat dia berjalan ke arah sini. Kita harus keluar sekarang juga, cepat masuk lagi ke lorong itu," Sasuke mendorong Sakura paksa memasuki lorong bawah tanah itu lagi untuk bersembunyi.
"Sebentar Sasuke, telepon ini berfungsi?" kata Sakura berhenti berjalan ketika dia meraih gagang telepon yang ada dimeja. Lalu mendengar kalau telepon itu tersambung. "Kita bisa menghubungi polisi," ucap Sakura sambil memencet tombol panggilan darurat untu polisi.
"Kalau begtiu cepat sebelum orang itu masuk," perintah Sasuke sambil terus mengawasi layar monitor.
.
.
Setelah nada panggilan kedua, panggilan Sakura diangkat oleh operator.
"Hallo selamat malam, dengan siapa saya berbicara?" kata operator itu.
"Hallo, aku Haruno Sakura, tolong kami. Ada yang berusaha membunuh kami, tolong kirim polisi untuk menolong kami."
"Hallo Haruno-san, tenanglah. Anda bisa memberi tahu daerah dimana anda berada? Biar kami dapat mengirimkan bantuan untuk anda."
"Daerah... Oh, astaga, ini di mana? Aku tidak tahu ini di daerah mana, yang pasti kami ada di sebuah Motel dekat jalan tol, tolong kami cepat."
.
.
Sambungan telepon pun terputus, seiring dengan suara mendesis Orochimaru mengetahui keberadaan Sasuke dan Sakura ditempatnya.
"Kalian... Sialan," dengan mengambil perekam video dan sebuah pisau dari ikat pinggangnya Orochimaru berlari menerjang Sakura yang sedang memegang gagang telepon.
"Sakura awas, akhh," Sasuke mendorong Sakura dengan mengorbankan lengan kirinya tergores pisau yang dipegang Orochimaru. "Cepat masuk ke dalam sana. Aku akan menyusul nanti."
"Tidak akan kubiarkan kalian lolos," dengan membabibuta Orochimaru mengayun-ayunkan senjatanya. Sasuke yang tak mau ketinggalan mengambil sepucuk pedang yang menempel di dinding untuk menahan serangan pisau Orochimaru.
Sakura sendiri sudah masuk dan berlari sebisa mungkin di dalam lorong gelap itu, saat pertengahan lorong Sakura berhenti untuk menunggu Sasuke menyusulnya. Dia tidak ingin kembali ke kamar Motel sendirian tanpa Sasuke. Dia takut saat dia sampai di sana, para penjahat bertopeng hitam sudah menunggunya.
Sementara di markas para penjahat Orochimaru dan Sasuke sedang mengadu senjata dengan sangat sengit, Sasuke sudah banyak terluka apalagi kondisi kakinya yang memang sudah terluka parah membuat pertahanan dan kekuatan serangannya berkurang.
Saat Sasuke berusaha menghunuskan pedangnya ke arah perut Orochimaru, senjatanya dengan mudah ditangkis, menyebabkan dia tak bersenjata, tapi pada saat itu juga lah dia mendapatkan kesepatan untuk menyerang Orochimaru, karena saat itu Orochimaru sedang terawa-tawa kesenangan, tapi dia salah karena dengan kekuatan kepalan tangannya Sasuke memukul wajah Orochimaru dengan keras sampai orang itu terjengkang.
Dengan kekuatan yang masih tersisah Sasuke mengambil kunci mobil, handphone, dan pedangnya lagi. Lalu segera memasuki lorong menyusul Sakura.
.
.
Sakura dan Sasuke sudah kembali ke kamar mereka lagi, sekembalinya mereka segera menutup lubang lorong dengan lemari buku yang Sasuke balikkan, pintu yang terbuka juga segera Sakura tutup kemudian Sasuke menahan pintu itu dengan sofa, meja dan kursi yang ada di dalam kamar itu.
Sasuke yang mendapatkan kunci mobil dan handphonenya lagi, segera menyusun sebuah rencana untuk pergi dari tempat terkutuk ini tanpa sepengetahuan penjahat-penjahat diluar sana.
"Sakura aku mendapatkan kucin mobiku, kita bisa pergi dari sini."
"Syukurlah, tapi bagaimana kita bisa mencapai pom bensin dengan keberadaan para penjahat itu diluar sana?"
"Aku punya sebuah rencana yang entah bisa berhasil atau tidak, yang penting kita harus mencobanya dulu."
"Tunggu! Rencana yang nggak tau akan berhasil atau tidak? Nanti bagaimana kalau rencananya tidak berhasil, kita bagaimana?"
"Dengarkan dulu, jangan menyela," ujar Sasuke kesal. "Keberhasilan rencana ini kira-kira 50-50. Dengarkan ini rencanaku ..."
Sasuke membisikkan rencananya pada Sakura, dan Sakura memperhatikan dengan serius setiap ucapan Sasuke. Setelah mengerti dengan maksud rencana Sasuke, mereka berdua segera menyusun setiap gerakan yang akan mereka lakukan nanti.
Sementara itu di markas para penjahat, Orochimaru juga sedang merencanakan sebuah rencana. Dia membicarakan rencana penjebakannya dengan kedua anak buahnya yang sudah kembali dari hutan. Kedua pria itu melaporkan kalau mereka berdua tidak menemukan kedua pasangan suami istri yang akan menjadi korban mereka. Tapi Orochimaru menyela mereka dengan mengatakan kalau kedua pasangan suami istri itu tadi ada di sini, dia juga mengatakan kalau pasangan itu sudah tau apa yang sedang mereka lakukan.
Orochimaru yang tidak ingin ditangkap polisi, menyusun sebuah rencana untuk menjebak pasangan itu. Setelah itu dia akan segera menyelesaikan pembuatan videonya. Lalu setelah semuanya selesai dia akan membunuh pasangan suami istri itu. Seperti biasanya.
"Dengar, mereka mendapatkan kunci dan hanphone. Mereka bisa saja menghubungi seseorang untuk menyelamatkan mereka di sini. Jadi kau," tunjuk Orochimaru pada salah satu anak buahnya yang berdiri diambang pintu. "Berjaga di depan pom bensin. Di sana aku memarkir mobil mereka. Nanti kalau ada orang selain pelanggan kita yang datang habisi saja."
"Lalu kau," tunjuk Orochimaru pada anak buahnya yang lain. "Masuk lewat lorong, kepung mereka lewat bawah, aku akan menerobos masuk ke sana dengan buldoser, setelah aku beri perintah cepat rekam dan buat mereka semenderita mungkin. Setelah itu kau habisi saja yang pria, dan sisahkan yang wanita untukku. Biar aku saja yang urus."
"Baik," seru kedua pria bertopeng hitam secara bersamaan. Setelahnya mereka segera berpencar untuk melaksanakan tugas masing-masing.
.
..::To Be Continue::..
.
