Genre: Drama/Romance?

Pairing: Taoris/Kristao/Fantao

Cast: Huang Zitao

Wu Yifan

The rest of EXO members

Rate: T

Summary: Bukan salah Yifan jika dia dilahirkan dengan segala kelebihan yang dimilki. Dia tampan? Jelas iya. Dengan rambut pirang mencolok bagaikan tokoh utama manga yang keluar dari komik. Sayangnya, banyak orang merasa salah paham dengan ketampanan yang dimilikinya terutama karena Bitch face-nya. "Sungguh Hyung. Dia seperti cuter version dari wajah bitchy yang kau miliki itu – Park Chanyeol

Warning: OOC, Boyslove, alur membingungkan, typo(s) bertebaran, author sableng dll

Cuter version?

.

.

Silahkan tinggalkan page ini jika anda tidak berkenan

Dengan para cast dan warning-nya

.

Menerima Segala kritikan dan saran yang bersifat membangun

Tanpa menghancurkan semangat dan imajinasi author

.

Enjoy the story

.

.

.

Menyandang nama dengan marga Wu dibelakangnya bukanlah hal yang mudah bagi Yifan. Selain dia diharapkan untuk menjadi sosok yang membanggakan, dia juga diharuskan bersikap 'selayaknya' keluarga terhormat di depan semua orang. Bukan berarti dia hidup dalam kekangan keluarga justru kedua orang tuanya membebaskan Yifan untuk memilih segala sesuatu yang dia inginkan dalam hidup. Asal hal itu baik untuk masa depan Yifan, mereka akan mendukung.

Dibesarkan menjadi anak tunggal dalam lingkup keluarga berada membuat sosok Yifan tumbuh menjadi anak yang cenderung kaku dan jarang berekspresi di depan banyak orang. Jangankan orang lain, di hadapan kedua orang tuanyapun dia jarang mengungkapkan isi hati yang sebenarnya. Tapi semua sifat jeleknya tersebut sedikit berkurang saat diusia 8 tahun dia bertemu dengan seorang bocah bermata panda yang lucu. Seorang bocah yang menjadi tetangga barunya saat mereka sekeluarga diharuskan untuk pindah rumah.

Hari-harinya menjadi begitu berwarna saat ada bocah panda itu mengisi setiap lembar kehidupan hambar yang dulu pernah dijalaninya sendirian, tanpa teman. Entah dimulai dari sejak kapan, sosok Zitao berubah menjadi begitu berharga di mata seorang Yifan. Sosok yang ingin dia lindungi sepenuh hati dan berjanji untuk tidak akan meninggalkannya ataupun membuatnya menangis. Tapi nyatanya hal itu hanya sebuah janji semu saat Yifan memutuskan untuk pergi karena diharuskan untuk mengikuti kedua orang tuanya.

Katakan Yifan sangat menyesal hingga sekarang. Seandainya dulu dia tetap berada disamping Zitao, akankah keadaan saat ini akan jauh berbeda? Jika dulu dia tidak pergi, Zitao tidak perlu menunggunya kan?

"Maafkan gege, Zitao." bisiknya pelan. Tangannya menggenggam erat sebuah foto dengan potret dua anak kecil yang saling berangkulan.

"Maafkan gege yang sudah meninggalkanmu sendirian." bisiknya lagi pada angin malam. Tirai jendela kamarnya berkibar tertiup angin dengan memperlihatkan sosok Yifan yang tengah berdiri diam di ambang pintu balkon kamarnya. Ekspresinya mengeras saat mengingat Zitao yang sekarang telah melupakannya. Dia tidak rela Zitao meninggalkannya padahal dia begitu mengharapkan pemuda itu. Dia akan terluka jika Zitao memutuskan untuk pergi seperti apa yang pernah dia lakukan dulu.

Tidak! Dia tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Sudah cukup dia bersikap lemah dan pengecut selama ini, apapun yang terjadi Zitao harus kembali ke pelukannya lagi.

Ya, harus!

"Kau tetap milik Gege sampai kapanpun, benarkan?"

Dinginnya angin malam menjadi saksi bisu saat Yifan dengan sengaja meremas pelan foto yang ada digenggamannya.

.

.

.

Keesokan harinya Kai dan Sehun pagi-pagi sekali berjalan memasuki gerbang sekolah mereka dengan tampang menyedihkan. Terlebih lagi dengan keadaan Sehun yang saat ini berekpresi lesu berbanding terbalik dengan muka datarnya sehari-hari. Ini semua akibat dari latihan basket kemarin yang terjadi secara gila-gilaan. Entah setan apa yang merasuki Kris hingga membuat hampir semua anggota inti basket ingin sekali menjerit dan mencakar wajah tampannya jika tidak ingat Kris adalah pemegang kunci mati hidup mereka. Terdengar pasrah memang, tapi siapa yang bisa menjinakkan Kris jika dia sedang dalam mood buruknya?

Tidak ada.

Dan di dalam benaķ mereka akhirnya mencatat, perpaduan Kris dengan mood buruknya sama dengan mala petaka. Tidak hanya mereka saja yang terkena imbas secara langsung, tapi aura mengancam yang dikeluarkan Kris sungguh sangat mengganggu. Menakuti setiap orang yang ada di sekitarnya. Untung saja Kris jarang sekali badmood, hal yang pantas disyukuri tentunya.

"Aku akan mengutuk siapa saja yang telah berhasil membuat Kris-hyung berkelakuan seperti itu." gerutu Sehun sambil sesekali memegangi bahunya karena pegal. Dia mulai meringis saat kram masih terasa di kedua kakinya.

"Berkelakuan seperti apa maksudmu?" balas Kai yang keadaannya tidak jauh beda dengan Sehun. Bahkan jika dilihat lebih jauh, terdapat tempelan koyo di setiap sisi bagian tubuhnya.

Mengenaskan sekali.

"Seperti Naga yang hibernasinya telah diganggu secara paksa. Entah orang bodoh mana yang berani mengusiknya." Sehun masih menggerutu di sepanjang perjalanan.

"Orang bodoh yang beruntung pastinya. Bisa membuat seorang Kris Wu uring-uringan."

Sehun mengangkat sebelah alisnya bingung.

"Apa sih yang kau bicarakan Kkamjong? Mana ada orang bodoh yang beruntung?" dengusnya pelan. Sepertinya akibat latihan ekstrim kemarin otak Kai bergeser beberapa senti.

"Kau memang tidak tahu apa-apa, Albino." remeh Kai dengan nada sengak yang kentara. Sehun menatapnya tajam.

"Memangnya apa yang kau tahu, huh?" balas Sehun jengkel. Dia mempercepat langkahnya malas menghadapi sahabat hitamnya.

"Aku tahu jika mungkin karena Zitao-lah penyebab Kris-hyung bermood buruk kemarin." penjelasan Kai itu membuat Sehun langsung terperangah.

"Panda-hyung? Darimana kau tahu?" tanya Sehun curiga.

"Soo-baby yang memberitahuku."

"Kau bercanda? Bukannya dia sedang marah?" dengus Sehun sambil memutar kedua bola matanya.

"Sudah tidak lagi. Aku sudah menjinakkannya tadi malam~" jawab Kai bangga.

"Gila." desis Sehun. Dia semakin mempercepat langkahnya meninggalkan Kai dibelakang.

"Ngomong-ngomong... Aku juga tahu tentang perasaanmu terhadap seseorang." ucap Kai terdengar santai. Dia melebarkan senyumnya saat melihat Sehun berhenti dan membalikkan badan ke arahnya.

"Siapa?" tantang Sehun. Dia mengerutkan dahinya saat mengikuti arah telunjuk Kai yang mengarah ke parkiran mobil.

Lebih tepatnya ke arah sebuah mobil yang baru saja terparkir dengan dua orang pemuda keluar setelahnya.

Luhan dan Zitao.

"Kau tahu siapa yang aku maksud, Sehunna~" jelas Kai dengan nada sing a song di akhir.

Sehun mengangkat kedua bahunya cuek kemudian berbalik kembali melanjutkan langkahnya. Matanya sempat melirik dua orang yang dimaksud Kai tadi. Tatapannya sempat terhenti beberapa detik diantara salah satunya. Sebuah sinyum tipis terbentuk saat telinganya menangkap tawa halus yang mengalun lembut.

Dia suka sekali tawa itu.

.

.

.

Zitao berlari dengan wajah ketakutan di sepanjang koridor sekolahnya. Dia menyesal kenapa tidak menerima tawaran Luhan gegenya untuk mengantarnya ke kelas lebih dulu jika kejadian yang dialaminya sekarang sungguh ingin membuatnya lebih memilih pulang kerumah dan bermanja-manja dengan mamanya daripada harus sekolah tapi diburu segerombolan siswi dengan wajah yang terkesan maniak. Mereka mengejar Zitao dengan berbagai macam bungkusan yang ada di tangan masing-masing. Entah apa isinya Zitao tidak mau tahu. Dan dia tidak akan pernah ingin tahu.

Ekspresi menahan tangis tercetak jelas di wajahnya saat mereka mulai berteriak dan memanggil namanya. Ya tuhan! Ada apa dengan mereka sebenarnya? Kenapa mereka tidak pergi saja dan membiarkan Zitao sendirian? Dia tidak mau hadiah atau apapun itu yang ada ditangan mereka. Dia hanya mau sampai kelas dengan selamat.

Brukk

Tubuhnya langsung terjungkal kebelakang saat dia tanpa sengaja bertabrakan dengan seseorang di persimpangan koridor. Dia sudah ingin menangis terisak ketika dengan tiba-tiba orang itu berjongkok dan memanggil namanya.

"Zitao?"

Mendengar suara yang terasa familiar, Zitao mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk.

"Xiumin-ge?" teriaknya kaget. Ekspresinya berubah kembali menjadi ketakutan melihat gerombolan siswi tadi sudah berada dekat dibelakangnya.

"Gege… Selamatkan Tao." cicitnya dengan muka menahan tangis. Dengan cepat dia berdiri dan berlindung di belakang pemuda yang ternyata lebih pendek darinya itu.

Xiumin menghela nafas kemudian menatap gerombolan dengan wajah mengkerut. Alisnya terangkat sebelah saat melihat tatapan mereka tertuju pada Zitao yang saat ini bersembunyi di belakangnya. Wajah mereka tampak mencurigakan apalagi dengan senyum maniak yang begitu kentara.

"Ada apa ini? Jangan ganggu Zitao." sahutnya lantang. Dia tidak rela sosok yang sudah dianggap adik diusik oleh mereka yang Xiumin tahu sebagian besarnya adalah Fans dari Kris.

"Kami hanya ingin memberikan hadiah ini untuknya, Minseok-sunbae." balas salah satunya.

Oh! Sekarang Xiumin tahu apa tujuan mereka. Dia sudah berhasil membaca situasi yang terjadi sekarang. Berita tentang kemiripan Zitao dengan Kris memang sudah tersebar ke seluruh sekolah cuma dalam waktu beberapa hari. Tidak heran banyak orang merasa penasaran bahkan penggemar Kris-pun ikut merusuh seperti ini.

Xiumin heran, dari sisi sebelah mana mereka berdua mirip? Atau seperti kata orang-orang Zitao adalah cuter version-nya? Versi manis dari sosok segarang Kris?

Konyol!

"Ehm. Sepertinya ada banyak kesalahpahaman di sini, nona-nona?" kata Xiumin bermaksud menenangkan massa yang mulai ribut. Dia menoleh kebelakang dan melihat Zitao menatapnya dengan sorot mata memohon layaknya anak panda malang yang tidak diberi susu. Tangan Zitao bahkan memegang Jas sekolahnya bagian belakang.

"Begini... Jika kalian menganggap dia adalah saudara kembar ataupun adik Kris, kalian salah besar." katanya lagi mencoba menjelaskan. Kerumunan massa mulai berdengung.

"Jadi berhentilah mengganggunya dengan memberikan hadiah yang aku tahu akan kalian titipkan untuk Kris. Dia bukan saudara Kris, ok?"

Krik

Suasana mendadak hening dan Xiumin melempar senyum canggung. Takut-takut gerombolan marah dan mengeroyok mereka berdua berjamaah.

"Anno sunbae... Hadiah ini bukan untuk Kris-sunbae, tapi untuk Zitao." jawaban yang berhasil membuat Xiumin bingung. Dia mulai menggaruk lehernya dan meneliti berbagai bungkusan yang dibawa mereka. Benar juga, kenapa ada boneka panda kecil segala?

"Tapi bukankah kalian Fans-nya Kris? Tindakan kalian ini membuat Zitao ketakutan."

Xiumin dan Zitao melangkah mundur saat gerombolan mendesak maju.

"Kami fans-nya Zitao juga mulai sekarang, sunbae. Jadi bolehkah kami memberinya hadiah?"

"Dia mirip dengan Kris-sunbae. Bukankah dia manis?"

"Benar. Dia seperti panda kecil yang lucu."

"Aku ingin mencubit pipinya~"

Xiumin menghela nafas kemudian menepuk kedua tangannya untuk meredakan kericuhan.

"Baiklah... Kalian boleh memberinya hadiah tapi jangan berebut, ok? Berbarislah yang rapi."

Selanjutnya Xiumin menyesal telah berkata demikian karena detik itu juga mereka langsung menyerbu dan mengelilingi mereka berdua. Zitao bahkan langsung menangis saat beberapa dari mereka mulai mencubiti pipinya gemas hingga memerah dan berteriak kegirangan.

Ya tuhan... Zitao ingin pulang.

.

.

.

"Yo! Yifan-hyung." Kris menoleh saat acara main basketnya diganggu oleh seseorang. Ekspresinya berubah datar saat melihat Chanyeol dengan riang berlari ke arahnya.

"Tidak ke kantin?" tanya Chanyeol setelah sampai di dekatnya. Pemuda itu masih saja tersenyum lebar walau Kris terlihat tidak berniat untuk merespon ucapannya.

Dengan cuek Kris berbalik dan meneruskan kembali main basket solonya yang tadi sempat terganggu. Suara bola basket yang memantul mengisi kekosongan area lapangan basket indoor tempat mereka berdua sekarang.

"Aku tahu apa yang kau pikirkan, hyung." kata Chanyeol. Dia mulai duduk bersila di tengah lapangan dengan Kris yang masih sibuk dengan bola basketnya.

"Anak baru itu kan?" ucapnya lagi. Chanyeol sekuat tenaga untuk tidak berteriak karena Kris tidak merespon sedari tadi. Apa Kris menganggapnya badut?

"HYUNG!" teriaknya menggelegar.

"Berisik." respon Kris dingin.

Chanyeol menelan ludah gugup saat melihat Kris menatapnya tajam. Auranya yang gelap membuat suasana yang awalnya sepi berubah menjadi mencekam.

Sekali lagi, Kris badmood adalah neraka.

"Zitao itu... Siapamu hyung." Chanyeol rasanya ingin menampar mulutnya sendiri ketika tanpa sadar menanyakan hal itu. Kenapa dengan bodohnya dia menanyakan topik yang sangat sensitif bagi Kris? Apa dia cari mati?

Kris berhenti mendribble bola dan berdiri mematung setelahnya. Benar, Zitao itu siapa sebenarnya? Keluarga jelas bukan. Teman atau sahabat juga bukan. Kekasih? Apalagi. Orang yang diam-diam dia kasihi dan cintai sedari kecil dan SANGAT berharap bisa hidup bersama suatu saat nanti? Hanya berdua?

Sepertinya iya.

"Entahlah." jawab Kris akhirnya. Chanyeol mengerutkan dahinya bingung. Tiga tahun mengenal Kris dan dia sama sekali tidak pernah mengerti dengan jalan pikiran sahabatnya itu. Sifatnya yang sedari awal tertutup menyulitkan Chanyeol untuk sekedar mengerti orang seperti apa Kris sebenarnya. Kadang-kadang dia bisa bersikap ramah walau cenderung dingin, tapi juga ada disaat-saat tertentu dia bisa berubah menjadi sosok lain yang bukan Chanyeol kenal.

Hening

"Dia teman kecilku dulu." Chanyeol sumringah saat mendengar ucapan Kris yang seolah mau sedikit terbuka mengenai privacy-nyà. Dia semakin bersemangat melihat Kris berjalan ke arahnya dan ikut duduk bersila di depannya dengan bola basket ditangan kanannya.

"Teman sejak kecil? Maksudmu di Kanada?" tanya Chanyeol penasaran.

Kris menggeleng.

"Bukan. Di China." Chanyeol mulai bingung.

"Aku sempat tinggal di China sebelum pindah ke Kanada." jelas Kris. Katakan ini adalah informasi yang baru bagi Chanyeol. Sebelumnya Kris bahkan belum pernah bercerita mengenai apapun. Padahal dia sudah menganggap Kris sebagai sosok seorang kakak.

"Berarti dengan Luhan-hyung juga?"

"Apa maksudmu?"

"Kalian sudah saling mengenal sebelumnya kan? Luhan-hyung juga dari China jika kau lupa, hyung." kata Chanyeol dengan nada heran.

"Bukan berarti aku mengenal semua orang China yang saat ini menetap di Korea, Chanyeol." dengus Kris pelan.

"Tapi... Bukankah Luhan-hyung dan Zitao saudara sepupu? Kau tidak mengenalnya, hyung?"

Kris membeku. Matanya menyipit tajam saat menatap Chanyeol yang tengah duduk manis di depannya.

"Luhan dan Zitao... Saudara sepupu?" desis Kris dingin. Chanyeol mengangguk kaku.

Kenapa Kris baru mengetahui info sepenting ini sekarang?

.

.

.

.

.

T.B.C.

NOTE : Ada sedikit clue disini. Entah ini perasaan saya atau memang jalan ceritanya makin ngawur?. Sepertinya saya secara tidak sadar malah memperlebar konflik yang ada. Ini melenceng dari apa yang sudah direncanakan dulu. Aarrgghhhhhh... Maafkan saya jika ceritanya menjadi seperti ini. Saya akan mencoba kembali ke jalan yang benar(?), padahal author sendiri tidak tahu jalan yang benar seperti apa. -_- ya tuhan...

Serius, bikin fic multishoot sepertinya bukan keahlian saya. Tapi ah sudahlah... :3

Tolong kasih saran dan masukan mengenai chap ini ya? Author lagi gelo.

See u next time guys...

Review?