OHAYOU GOZAIMASU, KONNICHIWA, KONBANWA MINNA-SAN!
Sebelum saya pergi karena ada urusan sekolah. Ada baiknya saya update dulu sebentar #lol
Happy Reading Minna~
.
.
.
Subordinate Prince
Based from Subordinate Prince by Ayano Saijo
Story by Neiyha
Genre : Romance and Humour(?)
Warning: AU, TYPO, OOC, and many more.
Bandung—21 Oktober 2012
.
.
.
"Ada urusan apa kau disini, heh? Tuan Uchiha." Tanya Hinata menantang sambil menenteng tas belanjaan yang sejak tadi dibawanya. Ada sekitar 4 kantong yang dibagi rata ditangan kanan dan kirinya. Maklum saja, hari ini supermarket sedang ada sale besar-besaran. Jadi, tidak heran bahwa Hinata menjadi beringas dengan membeli barang sampai 4 kantong sekaligus.
"Aku tanya, apa pria yang tadi pagi itu pacarmu?" Sasuke mendesis dengan rahang mengeram. Sikap Sasuke persis seperti orang yang akan muntab.
"Hah?" Alis Hinata mengeryit. Hinata bingung akan perubahan sikap Sasuke. Apa urusannya Sasuke bertanya seperti itu kepada Hinata?
"JAWAB AKU!" Didera oleh rasa tidak sabaran. Sasuke menarik lengan Hinata-lagi. Tanpa mengindahkan Hinata yang meringis sakit karena tarikan kuat Sasuke.
"Le-lepas." Pinta Hinata takut-takut dengan suara mencicit. Mata bulannya tak berani menatap langsung iris kelam milik Sasuke yang menatapnya dengan tatapan menghujam setajam pisau yang mampu membelek Hinata hidup-hidup.
"AKU TANYA, APA DIA PACARMU?" Semakin dikuasai emosi, Sasuke meluapkan semua amarah kepada Hinata. Merasa kesal karena Sasuke tidak mengabulkan permintaannya untuk melepaskan tangannya yang semakin memerah, Hinata mendelik menantang Sasuke dengan tatapan nyalang.
"Iya! Dia itu pangeranku tahu!" Teriak Hinata asal pada Sasuke dan berharap dengan deklarasinya itu Sasuke akan melepaskan cengkramannya.
Sedetik kemudian pikiran Hinata sukses dikacaukan oleh tindakan serta-merta Sasuke yang menempelkan bibir tipisnya pada bibir pink Hinata. Tidak hanya memberikan kecupan singkat. Sasuke tidak sungkan-sungkan melumat bibir mungil milik Hinata yang tersaji didepannya. Hinata meronta, mencoba melepaskan pagutan Sasuke yang semakin liar. Sampai akhirnya-
DUK! BRAK!
"Mesuuuuum!" Teriak Hinata sambil melayangkan kantong belajaannya yang menghantam Sasuke tepat dikepalanya. Dengan sekali pukul, Sasuke langsung tersungkur didepannya, dengan kepala yang sedikit benjol dan mata yang tertutup bertanda bahwa pria tersebut dipaksa tidur meninggalkan dunia sadarnya.
"E-Eh?!" Hinata terlonjak kaget mendapati seonggok tubuh yang dia vonis sebagai mayat tersungkur dengan badan telungkup dibawah kakinya. Dengan pank Hinata mencoba menoleh kekanan dan kekiri, Hinata sedikit mengelus dada ketika tidak ada orang yang kelihatan sedang memergokinya ketika hampir melakukan percobaan pembunuhan.
"A-apa yang harus kulakukan?" Didera rasa panik yang luar biasa, Hinata mengacuhkan kantong belanjaannya yang isinya mulai menghambur keluar karena digeletakan begitu saja sesaat setelah Hinata memakainya untuk memukul Sasuke. "Se-sebaiknya aku bawa masuk kedalam saja kali ya?" Masih mengigit bibir bawahnya yang gugup, Hinata menyeret tangan Sasuke dan membawanya masuk kedalam apartemen reotnya.
.
.
.
Setelah meletakan Sasuke diatas futon kasarnya yang mulai rusak dengan kapas yang mencuat kemana-mana. Hinata segera berlari menuju dapurnya untuk mengambil handuk hangat sebagai kompresan kepala Sasuke yang baru saja dia hantam sampai benjol.
Pelan-pelan Hinata berusaha menyibakan poni panjang milik Sasuke. Syukurlah pemuda ini dikaruniai wajah yang tampan. Kalau tidak, potongan rambutnya yang seperti ini akan membuatnya disama-samakan dengan vokalis sebuah band –you know who- yang terkenal dengan kealayers-annya.
Hinata berjenggit ketakutan ketika kelopak mata Sasuke mulai mengerjap-ngerjap menandakan bahwa Sasuke mulai sadar. Secara refleks, Hinata mengambil jarak aman dari Sasuke. Berharap bahwa Sasuke akan memaafkannya saat Hinata meminta maaf karena telah membuatnya pingsan.
"Ka-kau sudah sadar?" Hinata mencoba tidak gagap, tapi gagal. Oh, ayolah, siapa juga yang tidak ketakutan kalau kapan saja kau bisa dilaporkan oleh orang dihadapanmu karena kejahatan yang baru saja kau lakukan padanya.
"Hn." Sasuke bergumam untuk menjawab pertanyaan Hinata. Sasuke mencoba duduk walau dengan susah payah, karena Hinata pun dengan jelas melihat raut wajah Sasuke yang kesakitan. "Hey!" Sasuke memanggil Hinata, membuat Hinata seketika mengalihkan pandangannya yang terpaku dilantai untuk melihat keadaan Sasuke.
"Y-Ya?" Hinata meneguk ludah. Belum! Hinata belum siap kalau pria dihadapannya ini menuntutnya dengan segala kerugian yang dideritanya. Hutangnya saja belum terlunasi, apalagi ditambah dengan kerugian tuntutan Sasuke. Bisa-bisa sampai rambutnya berubah putih pun, Hinata tidak akan bisa melunasinya.
"Aku dimana?" Hinata mengeryit, sepertinya Sasuke tidak tahu bahwa Hinata telah membawanya masuk kedalam apartemennya. Hinata hendak membuka bibirnya untuk menjawab Sasuke. Tetapi Sasuke dengan cepat memotong jawaban Hinata yang bahkan belum mengeluarkan satu patah katapun. "Lebih penting lagi, aku ini siapa?" Tanya Sasuke santai sambil mengusap-usapkan tangannya pada kepalanya yang terasa pening.
"E-Eh?" Lagi-lagi hanya dua huruf itu yang keluar dari bibir Hinata. Tunggu! Ini tidak benarkan? Hinata kira kejadian seperti itu hanya ada didalam sinetron picisan yang dia lihat atau setidaknya saat kemarin sedang menyempatkan dirinya untuk membuka situs fanfiction, dirinya menyempatkan diri untuk membaca sebuah cerita yang bercerita tentang seseorang yang hilang ingatan. Jadi saat ini sosok pria dihadapannya itu menderita
.
.
.
-amnesia?
.
.
.
Reverse 'Amnesia'
Reverse 'Amnesia' #lol
Hahaha, salah loh, sebenarnya cerita ini yang mengilhami cerita AMNESIA!
Yah, anggap aja ini parallel worldnya Amnesia
Tapi motifnya beda loooh~
Bedaaaaaaaa jauuuuh
Yang sudah baca komiknya pasti tahu. Udah ceritanya bagus-bagus, gambarnya bagus pula QAQ ngirii mamen.
Yak, cukup sekian curhatan Ney
Last
Mind to RnR?
