"Terimakasih." Hinata membungkuk sembilan puluh derajat. Ia tersenyum kecil.

"Sama-sama, Nona." Orang yang bertugas mengantarkan barang-barangnya ke apartemen barunya tersenyum. "Kami permisi."

Hinata mengangguk. Ia menutup pintu bercat putih kemudian berbalik. Bibirnya menghela napas, setelah mengucapkan 'terimakasih' dengan sopan–karena memang itu kenyataanya– Naruto entah pergi kemana.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Like An Ilusion © RiuDarkBlue

Warning: AU, OOC, typo sana-sini, asem, garing, maaf jika ide pasaran, alur kecepetan, yang nggak suka harap tekan back. Saya tekankan kembali! Bahwa ini adalah inspirasi saya! Nggak ngejiplak siapapun kecuali karakternya!

"Percakapan."

'Bicara dalam hati.'

Naruto Namikaze x Hinata Hyuuga

DLDR

.

.

Apartemennya memang mewah bukan main. Keluarga Namikaze memang kaya. Bahkan Jiraiya menyiapkan hal ini sedari dulu. Belum lagi mashion mewah yang di belinya untuk mereka.

Tapi, apa Hinata akan sanggup tinggal disini bersama pemuda kejam?

Kakinya melangkah menyusuri setiap sudut ruangan apartemen. Perpaduan warna antara putih dan hitam mendominasi seluruh ruangan. Apartemen ini terdiri dari dua kamar. Ya, kamar siapa lagi kalau bukan kamar mereka berdua.

Hinata menghela napas, ia bersyukur bisa pisah kamar. Jika tidak, mungkin tubuh Hinata akan hancur akibat sering di lempar ke ranjang.

"Naruto's Studio?" Kening Hinata berkerut, ternyata ada juga studio di apartemen ini. Tapi tak heran, mengingat hobi Naruto; menyusun sebuah lagu.

Ia melangkah menuju ruang tamu sekaligus ruang keluarga dengan televisi besarnya. Disana ada yang menarik perhatian Hinata.

Piano.

Ya, piano hitam itu menarik perhatiannya.

Kenapa ada piano disini?

Apa Naruto bisa memainkannya?

Hinata menggeleng, ia berjalan ke arah balkon. Di geserlah pintu kaca yang menghubungkan langsung ke arah balkon. Hinata tersenyum kecil, pemandang sore hari dari lantai sebelas memang yang terbaik.

Ia berbalik melangkahkan kaki menuju dapur.

Ah! Ternyata disana. Pemuda itu sedang...

"Telepon?"

...

"Masih belum?"

"Ya, begitulah. Maafkan kami."

Naruto menghela napas. "Tidak, akulah yang seharusnya minta maaf. Aku khawatir padanya. Kau pasti lelah menjawab teleponku dua jam sekali."

Tawa Sora di sebrang sana menggema. "Aku tidak lelah Naruto. Hanya saja aku geli, tidak menyangka saja. Orang dengan sifat bunglon sepertimu bisa seperti ini."

"Urusai!" Sapphire Naruto memutar. Sora selalu saja menyebutnya dengan 'sifat bunglon' mengingat dirinya yang sering memiliki mood tidak menentu. Bahkan pernah ia di kira bipolar. Padahal tidak.

Dasar Sora sialan!

"Dia itu Kakakku! Pastinya aku khawatir!"

"Ya. Ya. Ya. What ever."

"Cari dia. Cepat!"

Tuh, kan!

Baru saja Naruto mengatakan maaf dengan manis, sekarang sudah main sembur.

"Iya. Dasar sialan."

"Brengsek."

"Bunglon."

"Rambut uban."

"Hoi–"

Klik.

Naruto tersenyum puas, Sora memang paling sensitif jika membahas tentang rambutnya. Tapi tenang saja, pemuda itu tidak akan marah hanya gara-gara di katai.

Ponselnya kembali dimasukkan ke dalam saku celananya. Naruto menatap datar pada telur yang masih ia pegang. Ya, benar. Dia akan memasak. Perutnya sudah keroncongan dari tadi. Dari siang memang Naruto belum makan.

Trek!

"Shit!"

Lelehan telur mengotori tangannya. Bukannya pecah sempurna, namun telur ini malah pecah dengan cangkangnya ke dalam wajan.

Naruto memejamkan matanya, ini sudah telur ketiganya, namun tetap saja berakhir seperti ini. Kelopak matanya terbuka.

Kenapa ia baru ingat?

"Dimana dia?"

Bodoh. Ia'kan pindah kesini dengan seseorang, dan orang itu menyandang status sebagai peliharaanya.

"Kemana saja dia sih?"

Naruto berbalik, ia hendak mencari peliharannya. Sapphire birunya memicing. Melihat disana–

Hinata menahan tawanya. Pipi tembamnya memerah akibat menahan tawa. Ini pemandangan yang man–

Naruto menggeleng, hampir saja ia menyebutkan kata keramat.

"Hoi! Kemari!"

Hinata maju, dengan wajah yang masih setia menahan tawa. "I-iya?"

"Cepat buatkan aku makanan. Kau ini istri macam apa? Tidak membuatkan suami makan malam. Kau mau aku mati, hah? Dan kau jadi janda?"

Hinata melotot, ia hampir tersedak ludahnya sendiri.

Janda?

Astaga! Mengerikan sekali, bahkan usianya masih terlalu muda untuk jadi janda. Dan lagi ini masih pukul 17.50. Masih terlalu sore untuk masak makan malam.

"Iya, sebentar aku buatkan."

"Cepat! Cepat!" Naruto duduk di meja pantry. Ia mengamati Hinata yang membersihkan sisa telur yang berceceran akibatnya.

Hinata membuka lemari es, telur disana masih ada, mungkin jika Naruto kembali memasak, telur di lemari es akan habis. Untung pemuda itu berhenti. Dan beruntungnya, Kushina memberikan mereka bahan makanan.

"Naruto-san mau makan apa?"

"Hah?"

Hinata menoleh, ia menatap ke arah Naruto yang kini menatapnya. "Iya, mau makan apa?"

"Sup miso saja." Naruto mengumpat dalam hati, ia ketahuan sedang mengagumi istrinya. Untung Hinata tidak peka. Bahkan Naruto sampai gagal fokus.

Meski tidak suka dengan makan Jepang, tapi Naruto sepertinya harus menyukai itu meski sementara, bagaimana tidak. Kushina yang memberikan bahan makanan di lemari es, Naruto kan sudah melihatnya tadi.

Hinata mengangguk, ia ambil bahannya dari lemari es. Dengan cekatan, Hinata memotong dan memasukkannya ke dalam panci. Jangan lupakan kemampuannya yang meracik bumbu dengan baik.

Naruto berkedip. Tak sia-sia ia menyuruh gadis ini memasak, ternyata kemampuannya cukup hebat.

Senyuman hadir di bibir Hinata, memasak memang hobinya, dapur adalah tempat ternyaman setelah kamarnya. Tidak seperti Naruto, dapur adalah musuh terbesarnya. Sekalinya pemuda itu terlibat dengan urusan dapur, pasti ada saja kehancuran yang terjadi. Seperti halnya tadi.

Hinata tersentak, kala sebuah tangan menyentuh helaian indigonya. Tubuhnya mendadak kaku.

Dengan telaten Naruto mengumpulkan helaian indigo Hinata. Ia sedang mengikatnya –tepatnya menggulungnya– "Sudah. Jika sedang memasak, jangan biarkan rambutmu tergerai."

Ia menepuk-nepuk tangannya, seakan-akan yang di lakukannya adalah hal yang merepotkan. Naruto tersenyum, rambut Hinata halus. Dan sangat pas ketika ia pegang.

"A-apa yang kau la-lakukan?"

Naruto berkedip, ia menatap Hinata yang kini sudah berbalik menghadapnya. "Aku merapikan rambutmu, bukankah itu sudah jelas?"

Hinata merenggut, baru saja bersikap manis. Sekarang malah bersungut-sungut. Memang susah jika menikah dengan orang yang bersifat seperti bunglon.

"A-aku tahu kok." Hinata berbalik. Jika saja ia berani, sendok sayur sudah melayang ke kepala Naruto.

"Baguslah, cepat sedikit, jika tidak mau aku mati."

...

18.10

Jam sudah menunjukkan waktu itu, kala Hinata menyajikan sup miso ke meja makan.

Naruto bertepuk tangan. "Bagus. Kau peliharaanku memang."

"Iya. Iya."

Hinata menuangkan sup ke mangkuk Naruto. Ia sodorkan ke depan si pemuda. "Si-silahkan."

Naruto mengambilnya, ia mencicipi sup miso Hinata. Alisnya mengernyit. "Kau tidak memasukkan racun, kan?"

Bibir Hinata mengerucut. "Te-tentu saja tidak."

"Bagus. Jadi kau tidak akan jadi janda."

"Iya. Iya."

.

.

.

.

"Kenapa sih, kita harus latihan basket?" Kiba berbaring di tengah lapangan. Tetesan keringat mengalir dari keningnya.

Sai ikut berbaring. "Tidak tahu. Ini memang hobi kita, kan? Biasanya kita melakukan ini saat penat atau ada masalah."

"What?" Kiba memiringkan tubuhnya ke arah Sai. "Tadi siapa yang mengajak?"

"Dia." Dagu Sai mengendik ke arah Naruto.

Kening Kiba berkerut, ia sedang mengamati Naruto yang kini adu tanding dengan Sasuke dan Shikamaru. Bahkan orang yang selalu tidur saja ikut bertanding, apa mereka sedang ada masalah?

"Shika! Tidur sana."

Shikamaru menguap, meski dirinya mengantuk. Tapi rasa kesal, bingung, dan juga marah lebih besar. Hanya saja ia adalah orang yang paling pintar menyembunyikan emosi di antara sahabatnya.

"Kau saja sana yang keluar."

Naruto terawa. "Tidak akan. Kapten Basket tidak mungkin menyerah. Lebih baik kau tidur."

Jika Shikamaru pandai menyembunyikan rasa marah, maka Naruto adalah orang yang pandai menyembunyikan rasa sakit dan masalah dengan senyuman. Bukankah itu lebih hebat?

Shikamaru mendengus. Mengingat ia bisa tidur kapanpun dan dimanapun. "Urusai! Aku tidak akan kalah."

"Jangan lupakan aku." Sasuke datang, ia dan Shikamaru mengejar Naruto yang mendribel bola.

Bukannya memasukkan bola ke dalam ring, mereka malah saling kejar-kejaran.

"Aku mengantuk." Shikamaru menuju ke tengah lapangan; tempat dimana Sai dan Kiba berbaring.

"Kiba, kau dan Sai seperti pasangan." Naruto menyeringai.

Sai dan Kiba saling pandang. Posisi mereka memang bisa dikatakan intim. Sai yang berbaring menghadap langit-langit. Dan Kiba menyamping ke arah Sai dengan sebelah tangan yang menopang kepalanya.

"Sialan kau Naruto!" Kiba melemparkan botol minumnya. Dan tentunya berhasil di hindari oleh si tersangka.

Naruto tertawa. Ia duduk di dekat Shikamaru, di ikuti Sasuke.

"Kalian kenapa, sih?"

Shikamaru berbaring. "Aku sedang marah, kesal, dan bingung." Ia menutup matanya.

"Kau marah atau mengantuk?" Sasuke juga ikut berbaring.

"Entahlah... Aku bingung."

"Masih tentang bidang kedokteran?" Naruto yang kini berbaring, menatap Shikamaru.

Shikamaru membuka matanya. "Ya, kau tahu, kan. Kalau aku ingin bergelut di dunia kepolisian?"

"Ya. Aku tahu... Aku juga merasakannya." Naruto menoleh ke arah Sasuke. "Bagaimana denganmu?"

Sasuke menghela napas. Terlihat ia sedang membuang semua bebannya. "Sepertinya, Tou-san semakin tidak suka padaku."

"Ah... Kenapa takdir kita begitu menyebalkan?"

Sasuke tertawa. "Kau benar Dobe. Bagaimana aku bisa mengalahkan kalian semua, kita satu kelas sekarang. Meskipun nilaiku yang paling tinggi, tetap saja tidak bisa mengalahkan Aniki."

Naruto memejamkan matanya, Sasuke memang memiliki misi agar dirinya di akui oleh Ayahnya –Fugaku Uchiha– meski Sasuke mendapat nilai paling besar di sekolah, tetap saja tidak bisa mengalahkan Itachi.

Dan sialnya. Sekarang mereka sekelas. Sasuke, Naruto, dan Shikamaru. Tiga orang ini selalu menduduki peringkat pertama. Tapi jika untuk juara umum. Selalu bergilir.

Waktu kelas sepuluh dan sebelas, mereka memang tidak sekelas, tapi sekarang berkumpul di kelas yang sama. Jadi bagaimana Sasuke akan mendapatkan peringkat pertama?

"Bagaimana jika aku dan Shikamaru menyerahkan juara umum padamu?"

"Kau gila?! Aku ingin sportif." Selalu saja jawaban itu yang Naruto dapat, ketika menyarankan hal itu.

"Jangan salahkan kami, kalau aku dan Naruto mengejarmu."

Sasuke mengangguk.

"Kalau begitu, kalian tukar Kakak saja." Semua menoleh ke arah Sai.

"Apa?"

Sai mengangguk. "Itachi-nii jadi Kakakmu, Naruto. Dan Sara-nee jadi Kakaknya Sasuke. Bukankah, kau–Naruto– tidak ingin menjadi pewaris perusahaan, suruh saja Itachi-nii. Dan kau–Sasuke–, bisa jadi pewaris perusahaan, dan membuktikan pada Fugaku Ji-san bahwa kau bisa, Sara-nee kan tidak berniat jadi pewaris."

Semua tertegun, ide Sai memang terdengar luar biasa, namun juga terdengar–

"Gila!"

Sai mengangkat kedua bahunya mendengar umpatan Naruto dan Sasuke. "Setidaknya aku sudah memberi ide. Ke sananya terserah kalian."

"Lebih baik kau saja yang berikan posisimu pada Shikamaru."

Sai berkedip, ia menatap Kiba. "Apa?"

"Akhirnya, Kiba pintar juga."

Mata pemuda penyuka anjing itu berkilat tajam. "Apa katamu?!" Jika saja posisi tidurannya tidak terhalangi oleh Sai dan Shikamaru, Kiba sangat ingin memukul Naruto. Meski pada akhirnya ia selalu kena balasan.

"Kau ini tuli, ya?"

Kepala Kiba beruap, daripada meladeni Naruto yang aneh. Lebih baik ia menatap Sai kembali. "Ayahmu, Danzo Shimura itu adalah seorang polisi terkenal –"

"–dan cita-cita Shikamaru adalah menjadi polisi, tukar posisi saja."

Kiba mendelik, Naruto baru saja memotong perkataannya.

Sai mengangkat kedua bahunya. "Malas. Lagi pula aku tidak berniat jadi Dokter. Dan lagi aku sudah membuktikan pada Tou-san, bahwa aku mampu melukis dan menjadi polisi."

Shikamaru menguap. Ia menatap Naruto. "Kau menguruskan mimpi orang, bagaimana dengan mimpimu sendiri?"

"Tidak tahu. Kau tahu, kan. Jika audisi itu hanya satu kali."

Semua mengangguk, audisi yang Naruto jalani waktu itu hanya satu kali, dan itu gagal.

Karena–

"Semua gara-gara dia!" Naruto mengacak rambutnya frustasi. Ia teringat gadis berpipi tembam yang tak lain adalah istrinya.

"Masih mending kalian, bagaimana denganku?" Kiba menunjuk hidungnya.

"Kukira kau yang paling beruntung." Mata Shikamaru menerawang, ia sedang iri, mengingat Kiba yang cita-citanya tidak bertentangan dengan kehendaknya maupun orangtuanya.

Kiba menghela napas. "Aku bisa dikatakan paling beruntung, namun aku tidak secerdas kalian. Mempelajari hal-hal yang dilakukan Dokter Hewan memang sulit. Apa lagi dengan otakku ini."

"Berjuanglah." Sai menepuk pundak Kiba.

Kiba tersenyum. "Aku sedang mencobanya."

"Lalu bagaimana dengan kalian?" Kiba menatap ketiga sahabatnya yang tebaring lemas.

"Menyebalkan." –Sasuke.

"Mengesalkan." –Naruto.

"Merepotkan." –Shikamaru.

...

Naruto menghela napas, ia jadi bad mood. Shikamaru sih, malah mengungkap-ungkap tentang mimpi. Jadilah Naruto bad mood.

Ia mendudukkan diri di kursi penonton, membiarkan bola yang tadinya di dribble-nya menggelinding. Naruto mengambil ponselnya yang di taruh di kursi penonton.

Ia membuka aplikasi chat-nya dan langsung mengetik sesuatu–

Naruto: bawakan tasku kemari. Cepat.

Naruto tersenyum puas, memang menyenangkan menyuruh istrinya.

Ini memang sudah jam pulang. Bahkan keempat sahabatnya saja sudah pergi sejak 5 menit yang lalu, namun Naruto masih tidak bergeming. Ia masih senang berada disini, lapangan basket indoor.

Alis Naruto mengernyit. Tidak biasanya gadis ceroboh itu telat membalas pesannya selama dua menit. Memangnya kemana dia?

Naruto: oi!

Naruto: cepat kemari.

Naruto: balas pesanku. Mau kuberi hukuman di apartemen?!

Naruto: hoi! Hinata Namikaze!

Naruto: P

Naruto: P

"Argh!" Naruto mengacak rambutnya frustasi, ia tidak suka diabaikan. Ia tidak suka pesannya tidak di balas. "Sial!"

Dug!

Dengan kesal, Naruto melempar bola basket di dekatnya.

"Wow! Tenanglah."

Naruto menoleh. Dalam sekejap sapphire birunya memutar, ia paling malas jika dihadapkan dengan 'orang ini'

"Mau apa?"

Mata orang itu memutar. "Yang sopan jika bicara."

"Iya. Iya." Naruto mengangguk malas. "Ada apa Sensei kemari, mencariku?" Tampak ia menggeram.

Orang yang Naruto panggil Sensei itu tersenyum puas. "Nah. Kau harus sopan seperti Ayahmu."

"Ck. Terserah Kakashi Sensei saja."

Ya, orang itu adalah Kakashi Hatake. Dan entah kenapa Kakashi yang notabene seorang guru biologi pemalas dan pintar itu hobi sekali membuat moodnya kacau, seperti sekarang ini misalnya.

"Kenapa Sensei selalu menghampiriku saat aku sedang bad mood?"

"Tentu saja karena aku mood boster mu."

Naruto berdecak. Mood boster apanya?!

"Kau itu harus tersenyum seperti Ibumu."

"Sensei, kenapa selalu menggangguku?"

Dan jawabannya, seperti biasa–

"Aku hanya penasaran denganmu. Kau tidak seperti Minato-sama yang sopan, tidak juga seperti Kushina-sama yang ceria, ataupun galak seperti Tsunade-sama, atau bahkan mesum seperti Jiraiya-sama. Kau itu unik."

Naruto meringis, ia melihat Kakashi duduk di sebelahnya. "Unik apanya? Sensei pikir aku barang antik?"

"Kau punya sifat mereka semua."

Naruto menoleh. "Apa?"

"Ya... Bisa di bilang kau gabungan semua sifatnya."

"Tapi aku tidak mesum."

"Iya terserah."

Kakashi menghela napas, Naruto memang menyebalkan jika dihadapan dengannya. Tapi jika dihadapan guru lain, anak ini sopannya minta ampun.

Decakkan Naruto yang lumayan keras, menarik perhatian Kakashi untuk menoleh.

Oh...

Ternyata, Naruto sedang sibuk dengan chat-nya. Tapi sepertinya orang yang di chat tidak membalas pesannya. Tunggu! Siapa yang berani mengabaikan Naruto?!

Naruto: cepat kemari. Kau ini sedang apa?!

Read.

Sial! Hanya di baca?

"Kau sedang pendekatan?"

Naruto menoleh dengan alis berkerut. "Apa?"

"Kau chat siapa?"

"Peliharaanku."

Kakashi tertawa. Ia selalu merasa geli jika ingat kejadian satu bulan lalu.

"Sensei. Jangan menertawakan hal itu lagi."

Jika saja orang ini bukan Kakashi. Naruto pasti sudah memukulnya. Ini juga alasan Naruto tidak menyukai Kakashi, Sensei nya ini selalu mengejeknya.

"Kau yang jatuh ke kolam renang itu menghiburku, belum lagi ekspresimu." Tawa Kakashi masih menggema.

Ia beranjak dari duduknya. Memasukkan ponsel ke saku celana berniat pergi. "Terserah Sensei saja. Aku pergi."

"Jangan terlalu membenci Hinata, jangan terlalu menyuruhnya untuk berada di dekatmu. Nanti kau terbiasa, dan kebencian itu tumbuh menjadi rasa posesif, ingin memilikinya, dan kau berakhir mencintainya."

Naruto yang memunggungi Kakashi tidak bergeming. Sampai akhirnya–

"Punya pacarlah dulu Sensei, sebelum menasehatiku tentang cinta. Kau'kan jomblo."

"Dasar murid durhaka!"

.

.

Hinata menggit bibirnya, ia takut sekaligus panik. Naruto Namikaze baru mengomelinya lewat pesan chat. Ingin di balas tapi pulsanya sudah habis, ya kuotanya habis saat akan membalas pesan, jadi hanya sempat di read saja.

Sudah Hinata pastikan bahwa Naruto tengah mengomel ria di lapangan basket.

Lagi, Hinata bingung. Ia sudah sampai di depan kelas suaminya. Namun Hinata tidak berani masuk, meski sudah jam pulang, tapi kelas pemuda itu masih ramai.

Pernah Hinata masuk ke kelasnya. Tapi malah jadi cibiran.

"Hinata!"

Satu panggilan dengan nada suara baritone mengalihkan pandangan Hinata.

Cekrek!

Hinata melotot, ia menutup wajahnya dengan telapak tangan. "Ja-jangan lakukan itu."

"Astaga, kau jelek sekali." Orang itu mendekat, ia sedang meneliti foto Hinata di kamera SLR nya.

Hinata cemberut. "Aku memang jelek, hanya orang tampan saja yang bilang aku cantik."

Gaara tertawa. "Ya kau benar."

Ya, orang itu adalah Gaara Sabaku. Salah satu teman Hinata yang sekelas dengannya. Pemuda yang identik dengan rambut merah itu memang hobi fotografer, bahkan setiap hari ia selalu bawa kamera yang dikalungkan ke lehernya.

Hinata tersenyum, jika orang lain menilai Gaara sebagai pemuda yang kaku, tapi Hinata berpikiran lain.

"Sedang apa disini?"

Rupanya Gaara menyadari tingkah lakunya yang aneh di depan kelas orang lain.

Lavender Hinata memutar, ia sedang menghindari jade Gaara yang menatapnya instens. "A-ano, aku sed–"

"Kau menuruti pemuda bipolar itu lagi." Jade Gaara memicing.

Hinata meringis, selain Ino, ada juga orang lain yang tak suka jika Hinata di suruh-suruh oleh Naruto. Gaara Sabaku lah orangnya. "I-iya..."

"Kau ini, mau-maunya di suruh dia begini dan begitu. Laporkan saja pada Kepala Sekolah. Kudengar, dia Neneknya."

'Dia bahkan Nenekku juga.'

"Ta-tapi–"

Hinata ingat, akibat kecerobohannya. Mimpi pemuda itu hancur.

"Kau tidak sengaja Hinata, lagi pula itu terjadi satu bulan yang lalu. Dia menghukummu keterlaluan."

Hinata makin cemberut, Gaara adalah orang yang hobi mengomelinya setelah Naruto.

"Iya... Maafkan aku ya? Dan Gaara-kun harus menolongku juga." Lavender Hinata memelas.

Gaara memalingkan wajahnya, ia tidak tahan dengan ekspresi Hinata. "Hn. Apa maumu?"

"Gaara-kun jangan marah."

Hinata tahu, jika 'Hn' sudah keluar. Tandanya pemuda itu kesal.

"Iya baiklah. Hinata Hyuuga sahabat perempuanku satu-satunya. Apa maumu manis?"

"Ambilkan tas Naruto-san di dalam."

"Hah?" Gaara berkedip. "Tidak."

"Ayolah."

"Tidak."

"Gaara-kun mau aku di tatap sinis ya?"

Gaara menghela napas. Ia tidak mau sebenarnya berurusan dengan rubah bipolar. "Baik aku ambilkan."

Hinata tersenyum puas. Ia mengabaikan Gaara yang mengomel tidak jelas. Sebenarnya Hinata tahu Gaara malas masuk kesana karena–

"Gaara-kun! Lihat! Itu dia!"

"Cool boy! Makin tampan saja!"

Hinata ingin tertawa, selain wajah kesal Naruto, wajah kesal Gaara juga hiburannya.

"Ini!"

"Terimakasih..." Hinata tersenyum, ia memeluk tas Naruto. "Tubuh Gaara-kun masih utuh, kan?"

Gaara mendengus. Ia melangkah pergi. "Ayo kutemani. Aku tidak mau kau dijadikan santapan makan siang rubah."

Hinata melangkahkan kakinya lebar-lebar. Entah kenapa Gaara makin lebar saja melangkah. Apa pemuda itu marah?

"Gaara-kun jangan menekuk wajah begitu, semua orang jadi takut."

"Aku'kan memang menyeramkan."

Hinata mengangguk polos. "Nanti tidak ada yang naksir."

"Banyak yang menyukaiku, sekalipun rambutku berwarna pink."

Hinata tertawa kecil. Lucu rasanya Gaara yang bermata panda memiliki rambut merah muda. "Jika begitu, gadis yang Gaara-kun sukai akan takut."

Gadis ini benar-benar tidak peka!

"Yang kusukai adalah–"

"Oh. Disini kau rupanya."

Hinata menatap ke depan, ia melihat Naruto disana. Dengan pakaian yang berantakan begitupun rambutnya.

"Ma-maaf, aku terlambat. Pulsaku hab–"

"Terserah."

Sapphire Naruto menatap tajam jade Gaara. Yang di tatap juga tidak kalah menatap tajam.

Naruto merasakan sesuatu di dalam hatinya. Hati kecilnya seperti berkata bahwa ia membenci Hinata yang dekat dengan Gaara. Padahal Naruto sering melihat istrinya dulu pergi dengan pemuda panda ini.

Tapi... Entah kenapa hatinya terasa–

... Tidak rela.

"Ini tasmu."

Sial!

Naruto semakin menajamkan tatapannya, saat Gaara dengan sengaja melemparkan tas yang tadinya di bawa Hinata.

"Terimakasih. Sialan."

Gawat!

Hinata harus bertindak. Naruto dan Gaara jika bertemu memang tidak pernah akur.

"A-ano–"

"Ayo Hinata, kita harus pergi." Gaara menarik lengan kanan Hinata.

"Mau kemana kau?" Naruto juga menarik lengan kirinya.

Hinata berkedip, dalam hati ia berteriak. Kenapa dia harus terjebak diantara pemuda paling popular di sekolah?!

"Dia menemuiku."

"Aku menemaninya."

"Dia peliharaanku."

"Aku sahabatnya. Kau terlalu sialan untuknya."

"Dan kau berengsek."

"Tukang bully."

"..."

Naruto diam. Ia ingin sekali memukul wajah panda Gaara. Namun Naruto sedang bad mood untuk berkelahi.

"Urus dia sesuka hatimu. Jika perlu bawa pulang saja. Tidak. Usah. Kau kembalikan pun. Tak masalah bagiku."

Hinata menatap punggung Naruto yang menjauh, entah kenapa ia takut Naruto bicara seperti itu.

"Ma-maaf. Gaara-kun, pulanglah lebih dulu. Aku takut masa hukumanku di perpanjang."

Gaara mendengus, saat merasakan lengan Hinata yang hilang di genggamannya.

"Jika perlu kau bawa pulang, tidak kau kembalikan pun tak masalah. Keh! Memang kau suaminya?"

...

Argh!

Sial!

Naruto semakin gerah saja, belum hilang keringatnya saat main basket, sekarang tubuhnya semakin berkeringat saja. Ini pasti karena melihat Hinata dan Gaara.

Tunggu! Kenapa hatinya sekarang yang terasa panas dan bergejolak?! Ugh! Ingin sekali ia meninju wajah 'sok' Gaara. Namun karena hatinya yang tidak mood jadilah ia mengurungkan niatnya.

'Jangan terlalu membenci Hinata, jangan terlalu menyuruhnya untuk berada di dekatmu. Nanti kau terbiasa, dan kebencian itu tumbuh menjadi rasa posesif, ingin memilikinya, dan kau berakhir mencintainya.'

Dan kenapa lagi ucapan Kakashi terus terngiang-ngiang di dalama pikirannya.

Posesif? Yang benar saja. Setahu Naruto, posesif itu hanya dilakukan orang yang saling suka.

Lagi pula ia tidak suka pada Hinata. Hanya saja... Ia tidak suka jika peliharaannya dekat dengan orang lain. Ia'kan majikannya sudah pasti –

"Na-Naruto-san."

Naruto tak bergeming, ia malah melangkah semakin lebar ke arah taman belakang.

"M-maaf. Aku terlambat."

"..."

"Tadi ponselku mode silent. Dan saat aku ingin membalas chat Naruto-san, pulsaku habis."

Naruto berbalik. Ia menatap tajam Hinata. Si gadis yang di tatap seperti itu semakin mundur.

"Kau–"

Naruto maju selangkah.

"I-iya."

"Kau–" Naruto semakin mendekat. Hinata sendiri semakin tersudut akibat dinding yang menghalanginya.

Wajah Naruto mendekat, bahkan bibirnya hanya berjarak beberapa senti dengan pipi Hinata.

"Kenapa kau selalu membuatku kesal?"

Bisa Hinata rasakan, bibir Naruto yang menyentuh pipinya saat bicara.

"Kau selalu terlambat dan membuatku kesal."

Hinata diam, bibir Naruto masih berbicara di pipinya.

"Kau harus di hukum."

"A-aw!"

Hinata memekik, hidungnya terasa entahlah... Hinata bingung, pokoknya. Naruto. Kembali. Menggigit. Hidungnya. Lagi.

"Na-Naruto-san kenapa–"

"Kenapa aku gigit hidungmu?"

Hinata mengangguk.

"Masih mending tak kumakan."

Hinata melotot.

"Kau berani melotot, hah?"

"Ti-tidak."

Naruto berbalik. "Bagus, jadi, aku tak jadi mencokel matamu."

Ingin sekali Hinata menjambak surai pirang Naruto.

"Cepat pulang, dan bereskan apartemen."

"I-iya."

Tanpa Hinata ketahui, Naruto tersenyum kecil. Ia suka gadis itu yang memilih mengejarnya dan mengabaikan Gaara.

.

.

.

.

To Be Continued

A/N

Telat update?:( saya tahu.. Saya banyak tugas sekarang, padahal sekolah belum sebulan, tugas udah menggunung:(, dan lagi banyaknya tugas kelompok. Oh.. My! Belum lagi kesehatan yang menurun:( ingin kuberteriakT_T

Gaara nongol, kok bukan Toneri? Saya sukanya Gaara hahaha. Dia juga cool, bisa nyebelin di waktu bersamaan, jadi saya kira yah... Begitulah. Dan Gaara lebih cocok meraninnya:)

Oh, ya. Ada yang penasaran kenapa Naruto galak?;) Saya suka Naruto yang galak jhahaha

Maaf kalo reviewnya ada yang nggak kebales, email nya ada yang ke hapus:') maaf juga dengan typo

Makasih sama yang udah review, fav, follow, sama silent reader. Bisa kasih review kalian, itu semangatku:')

Saatnya balas review:

Kurotsuki Makito: iya, Naruto emang kejam, dan kamu benar. Sikapnya hanya ditunjukkan pada Hinata. Yang saya jelasin? Bener kok:) hanya aja itu belum rinci.

ryuuki Kuroichi: maaf deh, kalo chapter kemaren agak-agak gimana gitu:'). Iya Naruto emang nge bully Hinata, dan Hinata nya pasrah-pasrah aja lagi:') makasih dah nunggu

FVN-Hime: sama-sama, makasih juga udah baca+review sama mau nunggu:)

rifkiabadi99: makasih lho:))

antiy3629: maunya juga gitu:') kalo ide sama waktunya banyak pasti bisa:), iya semoga Naruto kaya gitu, go Hinataaaa:v oke semangat!

rifkiabadi99: makasih:), iya konflik nya emang cukup berat:) sekali lagi makasih:)

rifkiabadi99: Naruto sama Kiba emang gitu:v, NaruHina emang belum menonjol, iya bener emang belum di tampilin kok. Makasih, oke semangat! Makasih juga udah nunggu:)

mikaniku94: makasih;))

Anito522: gigit aja Naruto nya:v makasih, ini udah:)

vinifauziah: terimakasih penantiannya:v

nawaha: iya saya balik lagi:'). Saya juga kangen kok:) makasih:))

nawaha: bisa aja, makasih:) iya ini saya panjangin, ganbatte! Peluk cium juga:v

NHL48: semoga sabar ya:')

rokuro: jejak?

tiya: makasih;))

uzumakiboruto10: iya nanti saya bikin kalo bisa:'). Makasih:) Naruto susah di bilangin:'( Naruto juga gentlemen kalo sama yang lain:)

nawaha: makasih udah nunggu:) iya Naruto bandel;(, iya awas kalo jatuh cinta

Baenah231: iya udah lanjut:) sukur kalo buat bahagia: v

dindra510: ini udah:)

nara: nggak papa terlambat juga:) makasih udah nunggu, makasih juga:) oke semangat! Semoga rasa penasarannya terbayar.

Laffy: makasih:) oke semangat! Makasih dah nunggu

Salsal hime: iya belum:( semoga aja sesuai harapan:'). Ketawanya serem:')

himechan tea: ihh nggak papa baru nemu juga:v, oke ganbatte! Nuhun tos kersa ngantosan:v

the best: makasih:) Naruto emang bandel sama Hinata:( makasih dah nunggu

Iis Hanifah: semoga sabar:')

NameNNY: sayangnya saya nggak ada ide:')

megahinata: ini yang datangnya Gaara bukan Toneri:')

key: makasih udah nunggu:) masa iya kocak?;) iya hobi Naruto tuh:'v iya kasian Hinata:'), makasih:) saya nggak ada ide jadi tbc deh:( makasih, semoga sekarang ngakak juga:)

lavender: makasih:), bisa aja deh, perasaan cerita saya biasa aja:v tapi makasih, makasih juga udah nunggu, semangat!

Guest: ini udah:)

senpay: makasih, semoga sabar nunggu kelanjutannya:)

Yuuna Anisaka: makasih:) semoga sabar nunggu kelanjutannya.

Guest: makasih, ini dah lanjut:)

QuesixEliex: ini udah:)

cecepantonii: nggak papa baru nemu juga:) makasih

mawarjingga: hai juga, iya ini juga udah saya panjangin:) makasih dah nunggu, saya nggak janji ^^v

salsal hime: selalu gimana?:'v

HariwanRudy: ini udah lanjut:)

Hyuuzu Avery: Kiba emang lebay:v, masih inget X5 ternyata:')

Hyuuzu Avery: drama Korea? Apa judulnya, kali aja saya tahu:), iya Naruto emang bandel:'). Iya awas tuh:v, ganbatte!

Hyuuzu Avery: tentang impian sama Hinata yang ngancurin, entar saya ceritain:) iya saya tetep lanjut kok:)

Sampai jumpa di chapter depan... 👋

Mind to RnR?

Arigatou minna-san.

~Peluk cium RiuDarkBlue~

.

.

.

21 Januari 2018