Single Parent (Chapter 4)

Disclaimer

Naruto©Masashi Kishimoto

Story By. : Misa-Chan ©

Warning. : Semua Chara OOC semua, Gender Ben,Typo(s) dll (Kalo gak niat baca, gak usah baca! Gak terima Flame disini!)

Rated : T+

Chibi Naruto

(Fem) Dei

.

.

.

.

Summary

Hidup menjadi seorang single parent bukanlah keinginan Deidara. Hanya saja, Deidara memiliki alasan untuk itu. Membesarkan putra semata wayangnya, dan menjadi wanita yang direbutkan oleh pria-pria dewasa disekitarnya.

.

.

.

.

Sejak mendengar pernyataan Minato yang hendak tinggal di apartemen yang sama dengan dirinya, Deidara lagi-lagi terlihat galau dan tampak enggan untuk keluar rumah. Sudah 2 hari ini ia tidak membuka tempat prakteknya. Deidara benar-benar bingung sekarang. Entah, apa yang ia rasakan saat ini. Wanita bersurai blonde ini tak tahu harus berbuat apa-apa lagi. Biarlah Minato berbuat sesuka hatinya, selama itu tidak mengganggu ketenangan dirinya.

Deidara mengulas senyum saat melihat Kakashi yang melambaikan tangan kepadanya. Posisinya saat ini memang tengah berada di kamar mandi. Niatnya yang ingin membasuh muka ternyata disuguhkan oleh Kakashi yang tengah memandang langit malam. Deidara sendiri tak tahu apa yang indah dari langit malam, kenapa banyak orang yang menyukai langit gelap bertabur bintang itu sih?

*Deidara's Pov*

Entah hanya perasaan ku saja, atau Kakashi-san memang sering memperhatikan ku ya? Pria tampan itu sering sekali tertangkap basah tengah memperhatikan diri ku. Aku tidak tahu, kenapa. Apa yang menarik dari ku? Padahal, Kakashi-san kan bisa mendapatkan wanita-wanita yang lebih daripada aku. Mendapatkan seorang gadis cantik pun, ku yakin pasti bisa.

Secara, dia tampan, baik, ramah, dan juga mapan. Ya, meskipun dia itu misterius sih. Hmm, setiap kali di dekatnya pun pasti aku merasa deg-deg'an, bingung sekali dengan perasaan ku kali ini. Kakashi-san, dan Minato-kun benar-benar bisa membuat jantung ku berdebar-debar.

Minato-kun ya?

Hehehe, miris rasanya jika aku memutar kembali memori ku tentangnya. Melihat dirinya yang selalu pulang mabuk, memarahi ku, juga membawa wanita lain ke rumah. Rasanya, itu sangat menyedihkan. Aku memang rapuh, bahkan hampir bunuh diri saat ku rasa aku tak bisa bersabar lagi, jika tak ku lihat Naruto, putra ku yang masih memerlukan diri ku.

Balita itu semangat ku. Semangat hidup ku, aku menyayanginya sangat. Putra ku, putra kami yang lahir 4 tahun silam. Bahagia rasanya saat aku mengetahui ada kehidupan di dalam perut ku. Melahirkan bayi mungil ku, ku lalui masa-masa melahirkan itu sendiri. Tanpa suami ku, yang tidak ku tahu dimana keberadaannya.

Naruto ku tumbuh menjadi anak yang sehat dan hyperaktif, tak bisa diam dan gemar bermain (ya, meskipun pulang ujung-ujungnya nangis). Aku memutuskan pindah ke sini 1 tahun lalu. Tadinya aku tinggal di kediaman Yamanaka. Tapi, melihat kondisi adik bungsu ku yang selalu memberi contoh tak baik, aku memutuskan untuk pindah ke sini. Aku tak mau Naruto disuguhi pemandangan adik ku, Ino yang selalu berbuat tak senonoh di depan mata polos putra ku.

End Of Dei's Pov

.

.

.

.

* Kediaman Namikaze *

Lagi-lagi pria tampan ini terlihat begitu lesu. Besok pagi Minato akan segera menempati apartemen yang ia pesan di desa Konoha. Sengaja ia pesan untuk ia tempati agar lebih dekat dengan anak dan istrinya (mantan). Dikamar bernuansa eropa itulah saksi bisu tentang perjalanan hidup rumah tangganya.

Hanya 3 tahun pernikahannya berjalan. Jika mengingat pernikahan itu terjadi karena adanya perjodohan, Minato terkadang tertawa miris. Deidara pergi dari hidupnya, meninggalkan dirinya sendiri. Memang kini ia tengah menerima resiko jika ia terlalu sering mencampakan istrinya.

Diusianya yang saat itu baru 21 tahun memang terlalu buru-buru untuk menikah. Emosinya pun masih belum bisa dikendalikan, terlebih Deidara yang juga saat itu masih berusia 20 tahun. Ia baru resmi menjadi seorang dokter gigi diusinya saat menikah dengan Minato.

Mereka berdua masih terlalu muda. Terlalu muda, juga mungkin terlalu bodoh untuk menghadapi hidup berumah tangga. Menjadi seorang ayah, seorang ibu, seorang suami dan seorang istri. Minato kesal saat mengetahui perjodohan tersebut. Ingin digagalkan, tentu saja Minato tidak ingin membuat malu keluarganya.

"Semoga saja tindakan ku benar" gumam Minato-seraya menarik selimut menutupi tubuhnya.

"Good night my love, Deidara" lanjutnya.

.

.

.

.

* Apartemen Karin *

Wanita bersurai merah terlihat tengah memijat pangkal hidungnya. Pusing melihat kedua buah hatinya yang saling melempar guling, hingga busa-busa benda empuk itu keluar dari tempatnya. Kedua buah hatinya memang nakal, bahkan melebihi nakalnya anak-anak biasanya.

"Hentikan, Kyuu-chan, Naga-chan!" Bagaikan nyamuk, suara Karin benar-benar tak lagi dihiraukan oleh kedua anak kembarnya. Terkadang ia menyesal sudah mempercayai pria brengsek itu. Pria yang pergi meninggalkan dirinya dan malah menikah dengan wanita lain. Benar-benar menyebalkan!

Pria bernama Sakon yang ternyata adalah mantan kekasihnya, juga ayah dari kedua buah hatinya, merangkap menjadi pria yang sangat ia benci. Mengingat hal itu Karin begitu jijik dengan pria hidung belang semacam Sakon. Ditambah gen kembar dari nya membuat Karin melahirkan dua malaikat kembar yang membuatnya tetap semangat hidup. Ya, meskipun Karin sering kewalahan sendiri.

Karin pindah ke Konoha saat dua buah hatinya berusia 1 tahun. Kegigihannya lah yang membuat dia menjadi tak kekurangan seperti ini. Karin sendiri bekerja menjadi seorang karyawati disebuah perusahaan ternama. Mengingat dirinya yang sempat mengenyam S1, membuat dirinya memiliki pangkat sebagai manager disana.

Ia bekerja begitu tekun. Baginya Waktu Adalah Uang. Tak boleh menyia-nyiakan waktu. Karin yang saat itu hampir putus asa, melihat kedua buah hatinya membutuhkan dirinya. Akhirnya Karin bisa maju dan memiliki semangat untuk meneruskan masa depannya kembali bersama kedua buah hatinya.

"Kyuu, nakal"

"Naga, juga"

"Hey, hentikan" Karin benar-benar tak habis pikir. Gen fisik lebih banyak diturunkan olehnya, kenapa Gen sikap cenderung menuruni ayah mereka? Gahhh, Karin pusing memikirkannya.

Tingg..Tongg..

"SIAPA SIH YANG BELTAMU MALAM-MALAM" Protes dua bocah kembar itu.

"Hey, tidak sopan tahu!" Kata sang ibu, seraya melenggangkan kaki jenjangnya menuju pintu depan.

Cklek...

"Huwwaaaahhhhh, Paman Yahiko ya! Ayo macuk, ayo macuk" Sikap Tsundere Kyuubi kecil pun tiba-tiba saja hilang ketika melihat sang tamu atau bisa dikatakan ATM Mainan nya datang. ATM Mainan? Hoh, tentu saja begitu. Sejak pertemuannya dengan Karin, Yahiko jadi berambisi untuk mendekati ibu dua anak itu, dengan cara menyogok dua putra kembarnya dengan mainan yang banyak.

Nagato juga tak kalah ramahnya dengan Kyuubi, tangan kecilnya bergelayut manja di lengan kekar pria bertubuh tegap itu. 'Benar-benar anaknya Sakon' Karin sweatdropped sendiri melihat kedua buah hatinya yang berniat memonopolikan Yahiko. "Mana mainan untuk, Kyuu?" Kyuubi menagih mainan yang dibawakan Yahiko untuk keduanya. "Tidak, Kyuu ndak ucah dikacih, Naga-chan aja yang dikacih (tidak, kyuu tidak usah dikacih, Naga-chan saja yang dikasih)" kata Nagato.

.

.

.

.

* Skip Time *

Minato geleng-geleng kepala saat ibu-ibu ganjen tak tahu malu yang tinggal di lantai 2 berusaha membantu dirinya untuk mengangkut barang-barang miliknya ke lantai 4. Ia tak mengerti dengan keadaan apartemen 5 tingkat milik putra Hokage ke-3 yang menjabat di desa ini.

Kok mau-maunya orang-orang tampan macam Minato, Kakashi, Sasori, Itachi dan Yahiko tinggal disini? Bagaimana dengan Kisame? Wah, itu lain lagi ceritanya. Entah, dia betah atau tidak. Melihat Fansgirl-fansgirl barunya yang begitu agresif layaknya kawanan macan betina yang merebutkan satu macan jantan. Mana lagi, Ibu-ibu disini sangat gemar melakukan silaturahmi yan terselubung (dibaca, Gosip).

"Tidak apa-apa, aku bisa melakukannya sendiri" Minato menolak secara halus ibu-ibu yang sedang mencari perhatian padanya, atau bahasa gaulnya Caper. "Tidak usah sungkan, kami ikhlas kok membantu anda, Minato-san" kata seorang wanita berdada bohai, Mei Terumi. "Humm, tidak usah" Tolak Minato-segera menggeret koper besar miliknya. Ibu-ibu tersebut hanya bisa menghela napas melihat sosok pangeran di negeri dongeng itu berlalu meninggalkan mereka.

« GREY Misa »

"Nalu-chan, sebenalnya kita mau ajak Nalu ke taman. Tapi kami takut ibu-ibu penggocip itu gigit pipi Nalu lagi" Kata Balita bersurai coklat brunette dengan tatto berbentuk taring berwarna merah. "Kita main dicini caja Kiba-chan" Timpal balita bersurai merah bata yang terlihat lebih dewasa dari dua balita lainnya.

Ke-3 nya kini terlihat tengah bermain di depan pintu apartemen milik balita bersurai blonde, yang mungkin terlihat lebih kecil dan Chubby dibanding Gaara dan Kiba. Naruto menganggukan kepalanya sambil memeluk erat boneka rubah kesayangannya. Ia juga takut jika harus bertemu dengan ibu-ibu lantai 2 yang suka menggigit kedua pipi gembilnya.

"Hey, cemua" sapa Nagato dan Kyuubi yang tengah digandeng oleh seorang pria bersurai jingga. Naruto, Gaara dan Kiba memandang aneh pria yang tengah bersama sahabat kembar mereka. 'Siapa orang itu, ya?' Tanya Naruto, Gaara, dan Kiba dalam hati.

"Kalian mau kemana?" Tanya Kiba

"Iya, kalian mau kemana?" Gaara ikut bertanya.

"Kami ingin pelgi ke kebun binatang" Jawab Nagato dan Kyuubi bersamaan.

"Lalu ciapa om ini?" Kiba bertanya lagi layaknya seorang wartawan yang tengah mencari gosip-gosip para selebritis papan atas.

"Dia ini Om Yahiko" Jawab Kyuubi.

"Yuk, Om kita belangkat" ajak Nagato.

Yahiko pun mengangguk pelan dan berjalan seraya menggandeng kedua balita tersebut menuju lift. "Enak cekali ya meleka" Gumam Naruto. "Tadi, Nalu bilang cecuatu?" Tanya Gaara. Naruto pun menggelengkan kepalanya dan segera mengikuti kedua temannya menuju apartemen milik Gaara.

.

.

.

.

"Dimana Naru-chan?" Tanya Minato, kepada mantan istrinya yang tengah menyajikan minuman untuk dirinya. Minato memang sengaja mampir untuk melihat keadaan mantan istrinya dan putra tunggal mereka. Meskipun baru 3 hari tak bertemu, rasanya Minato sangat merindukan keduanya. Berlebihan? Menurutku tidak.

"Kamu benar ingin tinggal di sini? Lalu bagaimana dengan perusahaan mu, un?" Tanya Deidara.

"Aku bisa melihatnya seminggu sekali. Lagipula, untuk apa punya asisten jika tak ada gunanya sama sekali, bukan begitu fungsi mereka" Jawab Minato.

"Dasar tuan muda" Gumam Deidara.

Minato menaikan satu alisnya mendengar gumaman Deidara. Lucu sekali sebutan 'tuan muda' itu. Memang ia sering dipanggil 'tuan muda' tapi baru kali ini istrinya atau lebih tepatnya mantan istrinya memanggil dirinya dengan sebutan 'tuan muda'.

"Kau masih sering berkata 'un' ya, Dei" Ujar Minato, sambil menyesap secangkir kopi yang Deidara sajikan untuknya.

"Dan kamu masih suka meminum kopi hangat dengan 1 gula batu ya, un" Timpal Deidara-memandang ke arah lain, agar Minato tidak menatap dirinya.

"Kau masih hafal kebiasaan ku?" Tanya Minato

"Tentu saja, memangnya siapa yang dulu menyajikan secangkir kopi untuk mu? Kekasih mu, un"

"Maaf"

"Eh" Deidara terlonjak kaget mendengar Minato yang mengucapkan maaf padanya. Entah, apa maksudnya. "Maaf, dulu aku terlalu sering menyakiti mu" lirih Minato. "A..apa? Enggak kok, kamu-"

"Dei"

"Yang lalu biarlah berlalu, un" Ujar Deidara.

"Kau memaafkan ku?" Tanya Minato.

"Mau bagaimana lagi, marah pun juga percuma. Pada siapa aku harus marah, un" Jawab Deidara.

Deidara beranjak dari duduknya. Wanita bersurai blonde itu hendak menuju kamarnya meninggalkan mantan suaminya. Tetapi, Minato dengan cepat menarik pergelangan Deidara hingga tubuh indah Deidara jatuh ke pangkuan Minato. "Uun" Deidara lagi-lagi merona merasakan posisinya yang begitu dekat dengan Minato.

"M..Minato bisa tidak lepaskan tangan mu? Sesak tahu, un" kata Deidara.

"Oh, maaf" Minato segera melepaskan pelukannya dari pinggang Deidara.

"Iya, tidak apa-apa, un"

.

.

.

.

Di sebuah mini market yang terletak tidak jauh dari apartemen, Deidara mengajak putra tunggalnya untuk berbelanja. Hari masih sore, kira-kira sekitar jam 18:30. Naruto terlihat senang berada diatas troli yang di dorong oleh sang ibu. "Mama, Nalu mau itu" kata Naruto-menunjuk sebuah mainan puzzle.

"Itu tinggi sekali, mama sepertinya tidak bisa mengambilnya, un"

"Tapi-"

"Bisa ku bantu?"

Deidara segera menoleh dan mendapati Kakashi yang juga tengah berbelanja. "Eh, Kakashi-san, un" Deidara mengulas senyum saat Kakashi meraih mainan tersebut untuk putranya. "Boleh aku yang bayar?" Tanya Kakashi. "Tidak-"

"Tidak masalah, Dei-san! Kakashi sangat suka anak-anak" Seorang pria tampan bersurai raven ikat kuda menepuk pelan bahu Kakashi. "Tidak usah repot-repot, un" kata Deidara. "Tidak apa, Dei-san" Timpal Itachi-mengedipkan satu matanya ke arah Kakashi.

Kakashi bergidik ngeri melihat tingkah Itachi. Belum sempat Kakashi menyumpahi dirinya, Itachi pun sudah melenggang pergi meninggalkan ke-3 nya. "paman Kakachi, Nalu mau es klim" Naruto menunjuk sebuah tempat pendingin dimana terdapat berbagai macam es krim di sana. Kakashi mengangguk pelan dan segera mengangkat tubuh Naruto dari Troli. "Mau rasa apa?" Tanya Kakashi. "Laca jeluk" jawab Naruto. Kakashi tersenyum singkat melihat Naruto yang begitu manja padanya. Mungkin jika ayahnya melihat, sudah pasti Kakashi akan dinasehati untuk segera menikah dan cepat-cepat mempunyai seorang anak.

.

.

.

.

Sepulang dari mini market, Naruto segera berlari dan mengambil sebuah gunting. Ia tak sabar untuk segera membuka mainan-mainan yang Kakashi belikan untuknya. Ia suka mainan, sudah menjadi naluri balita-balita seumurannya menyukai mainan. "Hati-hati! Nanti jari mu kena gunting, un" Deidara pun membantu buah hatinya membuka kerdus-kerdus mainan itu.

"Paman Kakachi baik cekali" kata Naruto.

"Iya, makanya Naru-chan jangan membuat paman Kakashi repot, un" timpal Deidara.

"Ciap, ma"

Deidara terkekeh pelan melihat Naruto yang bersikap lucu seperti itu. Ia gemas, gemas sekali. Wajah Naruto memang imut, ditambah lagi dengan tingkah dan gaya bicaranya yang dapat membuat siapa saja tak tahan untuk tidak mencubitnya sekali. Bahkan, banyak yang suka melihat Naruto menangis (karena bagi mereka: melihat Naruto menangis seperti melihat sosok malaikat yang turun dari surga).

Kringg..Kriingg..

"Naru-chan, tolong angkat teleponnya, un!" Pinta sang ibu. Naruto kecil pun mengangguk pelan, dan berlari menuju telepon rumah yang berada di atas meja kecil. Tangan mungil Naruto segera meraih gagang telepon tersebut.

"Mochi..Mochi.. (Moshi..Moshi)"

'...'

"Oh, Papa ya. Mama lagi membantu Nalu buka mainan. Papa lagi apa?"

'...'

"Papa mau ke cini? Ascyik, Nalu tunggu ya"

'...'

"Jaa, papa"

Naruto pun segera meletakan kembali gagang telepon ke tempat semula. Balita manis itu berlari ke arah sang ibu yang tengah tersenyum ke arahnya. "Papa mau datang" kata Naruto. "Iya, Papa rindu kamu, un" Timpal Deidara.

Naruto menyunggingkan senyuman 5 jari andalannya. 'Putra ku benar-benar imut' batin Deidara, innernya benar-benar gemas melihat pipi gembil Naruto yang terlihat seperti bapao. 'Benar-benar putra mu, ya Minato' Deidara tersenyum saat mengingat dimana Minato yang begitu memanjakan buah hatinya.

.

.

.

.

"Papa, becok kita makan lamen belcama ya" Ajak Naruto. Minato mengangguk pelan menimpali buah hatinya yang kini tengah berada dipangkuannya. "Memangnya Naru-chan tidak sekolah, un" Timpal Deidara. "Becok mama cama papa halusc jemput Nalu di cekolah" Kata Naruto.

Deidara dan Minato merona mendengar perkataan buah hati mereka. Tak terbayang, apa yang terjadi jika besok mereka menjemput Naruto di taman kanak-kanak. Bisa-bisa, ibu-ibu lantai 2 bertambah Jealous dengan Deidara. Menjadi, trending topics itu tidak enak lho! Kenapa? Karena kau akan merasa jika kau adalah seorang artis kontroversial.

"Kan, N..Naru-chan b..biasa pulang bersama teman-teman, un" kata Deidara-berusaha menyembunyikan rona merah di wajahnya.

"Nalu mau dijemput papa cama mama!" Naruto mulai merengek.

"Iya...besok, Naru-chan akan kami jemput" Timpal Minato.

"Kamu memang tidak bekerja, un?" Tanya Deidara.

Minato menggelengkan kepalanya pelan.

"Bersiap-siaplah, jam 1 siang aku akan menjemput mu" Ujar Minato.

« GREY Misa »

* Apartemen Kakashi *

Jam menunjukan pukul 8 malam, seorang jomblo atau bisa kita katakan 'bujang' 24 tahun terlihat tengah asyik menikmati mie instan saat ia tak sempat memasak atau membeli makanan untuk makan malam. Seandainya jika ia memiliki seorang istri, tentu saja ia tidak akan seperti ini. Salahnya yang dulu sering menolak gadis-gadis cantik yang pernah di tawarkan oleh ayahnya.

Tontonan malam ini kurang begitu bagus. Kakashi benar-benar kesal dengan acara tontonan dorama-dorama yang sering diputar saat jam-jam dimana ia kadang merasa bosan. Dorama-dorama yang berisi tentang adegan percintaan, penganiyaan, permusuhan, bahkan persaingan mendapatkan cinta dari seorang pria yang sama (seperti tak ada pria lain saja). Ini nih yang sering membuat para gadis-gadis muda yang menginginkan hidup bahagia tanpa berusaha, mau memiliki suami kaya nan tampan dan baik hati, rumah tangga yang indah, tinggal di rumah megah, dan memiliki 2 orang anak. Terlalu naif! Kenapa? Karena hal itu terlalu indah untuk dibayangkan.

"Dei-chan sedang apa ya" gumam Kakashi.

Pria tampan itu benar-benar ingin tahu aktivitas yang sekarang tengah dilakukan pujaan hatinya. Padahal baru beberapa jam yang lalu mereka pulang bersama dari minimarket. Tapi kenapa masih kangen? Entahlah, mungkin itu yang dinamakan efek cinta (siapa yang tahu).

Kakashi akhirnya memutuskan untuk mengunjungi Deidara malam ini. Diambilnya sebuah amplop berwarna merah muda yang dititipkan oleh seorang security yang menjaga apartemen mereka, yang juga menjadi fansboy sang blonde. Kakashi berniat mengantar surat tersebut sekalian melihat keadaan pujaan hatinya, bisa dikatakan niat yang terselubung.

Dengan style casual, Kakashi segera mengunci pintu apartemennya dan berjalan menuju apartemen janda anak satu itu. Seorang janda yang belakangan ini sering menjadi model dalam mimpinya. Hatinya berdegup kencang saat pintu apartemen Deidara sudah ada di depan matanya.

« GREY Misa »

Minato memandangi wajah damai putra dan juga sang istri yang tertidur begitu damai. Wajah Deidara tampak cantik ketika tengah tertidur. Dengan lembut disentuhnya pelan wajah Deidara. Minato merangkum wajah sang istri. Jujur saja, ini kali pertama bagi Minato merasakan betapa lembutnya kulit sang istri.

Tingg..Tongg..

Mendengar suara bel berbunyi, Minato pun segera beranjak dari kasur dan bergegas menuju pintu depan. Menerka-nerka siapakah seseorang yang hendak bertandang ke apartemen sang mantan istri malam-malam begini.

Cklek..

Minato terbelalak melihat sang tamu, sama halnya dengan tamu tersebut. Ia tampak syok melihat orang yang membukakan pintu untuknya tidak sesuai dengan harapannya. Kecewakah? Ya, Kakashi benar-benar kecewa saat melihat sosok Minato yang membuka pintu apartemen pujaan hatinya.

"Anda cari siapa?" Tanya Minato seformal mungkin. "Ada surat untuk Dei-san" jawab Kakashi, tidak sesuai dengan pertanyaan dari Minato. "Surat" beo Minato. Kakashi berbalik badan hendak pergi meninggalkan Minato. Melihat tamunya yang bersikap aneh kepadanya. Minato menggelengkan kepalanya pelan, 'apa orang ini tak pernah diajarkan sopan santun?' Tanya Minato dalam hati.

"Anda bisa menitipkannya pada ku, tuan" Ujar Minato. "Aku diamanatkan untuk memberikan ini untuknya" Kata Kakashi, tanpa menolehkan ke arah sang lawan bicara. Dalam hati sih Kakashi sudah merutuki Minato yang bisa-bisanya ada di apartemen Deidara malam-malam begini. Mau apa coba dia? Seperti kehadirannya itu dibutuhkan saja! Dasar mantan playboy pembawa masalah.

.

.

.

.

Selasa pagi, adalah hari yang cukup indah untuk seorang anak berusia 7 tahun yang baru duduk di kelas 1 SD. Hyuuga Neji namanya, bocah kecil yang tampan, pintar, dan memiliki selera rambut yang aneh, kok bisa? Begini, jadi si Neji ini sangat suka rambut panjang. Mama nya saja rambutnya panjang kelihatan cantik, bibinya pun juga begitu. Tetangganya, Deidara berambut panjang juga cantik. Jadi, menurut Neji rambut panjang itu bisa menambah kesan rupawan untuk orang-orang berambut panjang.

Hyuuga Hinata sangat perhatian dengan putra semata wayangnya. Lihat saja sekarang! Wanita bersurai indigo itu benar-benar rajin mengantar putranya pergi ke sekolah. "Kau yakin tidak ada yang tertinggal, Neji-kun?" Tanya Hinata. Neji kecil mengangguk pelan. "Mama, kapan manusia mulai memiliki keriput?" Tanya Neji, dengan sedikit berbisik. "Ketika manusia sudah tua, maka manusia pun mulai berkeriput" jawab Hinata.

"Apa mama benar?" Tanya Neji. Hinata mengangguk pelan, bingung sendiri dengan sikap putra semata wayangnya yang sekarang terlihat tidak mempercayai perkataannya. "Lalu kenapa paman itu berkeriput?" Neji bertanya seraya menunjuk seseorang yang hendak berjalan ke arah mereka yang tengah menunggu lift.

Satu hal...

Hinata nyaris pingsan saat buah hatinya menunjuk seorang pria seumuran dengannya, (ya, mungkin diatasnya 1 atau 2 tahun) yang memang memiliki garis melintang di sela-sela hidung mancungnya. Pria itu tampan, sayangnya ia mengalami apa yang disebut PENUAAN DINI, dan lagi-lagi DINI lah yang disebut. Kasihan sekali si Dini itu! Pernikahannya pun tak boleh terjadi, begitupun dengan dirinya yang sering disebut-sebut Tua! Dini Oh Dini.

Ok, kita lupakan si Dini!

Pria itu tersenyum ramah ke arah Hinata. Padahal sih, pria keriputan itu memang ganjen. Jadi, alasan ramah pada tetangga itu cuma dijadikan alasan saja. Dasarnya ganjen sih tetap saja ganjen. "Selamat pagi" sapa pria itu ramah. "Selamat pagi" Balas Hinata.

Melihat Hinata tersenyum, si Itachi hatinya mulai goyah. Goyah? Ya, goyah! Dia yang kemarin-kemarin jatuh cinta pada Temari, sedikit berpaling melihat kecantikan Hinata. Wow, bukan cuma cantik! Tapi Sexy! Hinata sexy! Sexy sekali! Ya, meskipun lebih sexy Deidara sih. Hohohoh, salahkan saja clan Yamanaka yang sering memproduksi wanita-wanita cantik berbody aduhai macam Deidara dan Ino, si bungsu Yamanaka itu.

Melihat tatapan nafsu Itachi pada sang ibu, si kecil Neji pun begitu kesal. Dia takut jika Itachi merebut sang ibu darinya. Takut? Wah, tentu saja takut. Neji takut kalau ibunya dibawa kabur pria keriput bertampang mesum itu. "Mama, kita lewat tangga saja! Biar lebih aman" Usul Neji.

.

.

.

.

* Skip Time *

Berada di dalam mobil bersama orang yang kita kenal memang tidak enak jika saling diam, dan hanya tatap-tatapan saja. Begitupun dengan Deidara dan Minato. Mereka merasa canggung dengan suasana diam-diam'an itu. Akan tetapi, mereka juga tidak tahu harus mengobrol tentang apa.

Mereka memang menuruti permintaan putra semata wayang mereka untuk menjempunya di sekolah. Padahal, biasanya Naruto mau pulang bersama anak-anak lain (seperti, Kyuubi, Nagato, Gaara, dan Kiba). Tapi, setelah mendengar penjelasan Naruto. Kalau Nagato dan Kyuubi sudah dijemput oleh seorang om-om yang mengaku sebagai calon ayah mereka, Gaara? Ya, akhir-akhir ini Gaara juga sering di jemput oleh om-om berwajah imut macam Barbie. Kiba? Hmm, ku rasa hanya dia yang dijemput oleh baby sitter nya.

Jadi, bisa kita cetuskan: kalau Naruto iri melihat teman-temannya yang sering dijemput. Padahalkan, Naruto sering mendapat tumpangan gratis dari Kakashi, atau paman Iruka yang hendak berangkat ke kantor. Tapi sepertinya, Naruto kali ini benar-benar mau mama dan papanya yang menjadi tukang antar jemput untuknya.

"Naru-chan sering di jadi sasaran empuk ibu-ibu lantai dua ya?" Tanya Minato. Sasaran empuk? Apa maksud bapak satu anak ini? Memangnya Naruto itu anak rusa yang sering menjadi santapan harimau apa? Heh, Minato ada-ada saja.

"Apa maksud Sasaran empuk-mu itu, un?" Deidara balik bertanya. "Naru-chan sering menjadi korban 'gigit' kan" Minato memperjelas pertanyaannya. "entahlah, kenapa ibu-ibu penggila gosip itu senang sekali menggigit putra ku yang imut itu, dan selalu membuatnya menangis, un" Ujar Deidara.

"Itu karena Naru-chan manis dan tampan seperti aku" Kata Minato. "Dia itu anak ku!" Deidara tidak mau kalah dengan Minato. "Dia juga anak ku tahu" Sahut Minato. "Naru-chan itu lebih mirip aku, un" seru Deidara. "Tidak! Dia itu mirip aku!"

"Dia itu putra ku!"

"Putra ku, un!"

"Putra ku!"

"Putra ku, un"

"Naru-chan itu putra ku dan putra istri ku tahu!"

"Istri mu? Dia itu putra ku dan Minato, suam-Ooopss" Deidara menutup mulutnya saat hendak mengucapkan hal itu. Malu, malu sekali rasanya. Wajahnya panas, dia rasa kini wajahnya mulai memerah layaknya udang rebus.

"Kau tadi mau bilang apa, Dei?" Tanya Minato-pura-pura tidak tahu maksud Deidara. "Lupakan, un!" Seru Deidara.

.

.

.

.

Si kecil Naruto tertawa senang saat melihat kedua orang tuanya menjemput dirinya. Kaki-kaki kecilnya pun segera melangkah memasuki mobil sport milik ayahnya. Wajah imutnya terlihat berseri-seri, seperti menunjukan jika dia adalah anak yang paling beruntung hari ini.

"Naru-chan, bagaimana sekolahnya tadi" tanya sang ayah kepada putranya yang tengah dipangku oleh sang ibu.

"Celu lho pa! Mama tahu ndak? Tadi ada mulid balu namanya Uta, dia pindahan dali Iwagakule! Dia baik lho ma cama Nalu. Dia bilang, Nalu manisc, cepelti adiknya Uta" Jelas Naruto.

"Ya, Naruto memang anak yang manis" Ujar sang ayah.

"Uta punya adik, Nalu kapan ya punya adik" gumam Naruto.

"I...itu" Deidara tergagap saat mendengar perkataan polos Naruto.

Minato dan Deidara saling bertatapan. Jujur saja ya, mereka benar-benar merasa seperti dua orang idiot saat mendengar perkataan putra semata wayang mereka. Si kecil Naru sih malah terlihat asyik menyesap jus jeruk kesukaannya, dikala kedua orang tua nya tengah bersusah payah menyembuyikan semburat merah di wajah mereka.

.

.

.

.

Kembali kita lihat keadaan pria tampan nan keren yang sepertinya tengah dilanda kontroversi hati alias galau. Entah manusia mana yang begitu tega meng-Kudetakan hati pria tampan (yang kalau author sudah besar, author mau kok jadi istrinya) ini. Tega sekali, benar-benar tega! Rasanya susah sekali mendapatkan harmonisiasi hidup. Ada apa ini? Apa yang kurang dari seorang Hatake Kakashi?

Kakashi kaya!

Kakashi tampan!

Kakashi keren!

Kakashi pintar!

Kakashi baik, setia dan penyayang (ya, meskipun ke-3 nya itu masih menjadi pertanyaan).

Tapi yang jelas, Kakashi bukanlah seorang pria yang mengaku jika dia adalah seorang bujangan, anak orang kaya, dan berlaga 'sok' Intelek, tapi ternyata tak lebih dari seorang pembual bermulut manis di depan mangsanya yang notabene adalah seorang biduan! Cih, Kakashi bukanlah seorang pembual, apalagi penggombal. Dia memang suka membaca novel-novel dewasa, tapi bukan berarti ia seorang pria mesum yang memiliki banyak teman kencan, hingga tak ada wanita club malam yang tidak pernah ia kencani.

Bohong kalau ada berita yang beredar, jika seorang pewaris tunggal Hatake menghamili seorang wanita berusia 70 tahun. Bohong! Jangan dipercaya! Pacaran sama ABG (anak baru gede) saja Kakashi tidak pernah, apalagi sama yang lebih senior? Hey, Kakashi memang lebih suka wanita dewasa, tapi ya tidak 70 tahun juga kan. Mau dibilang apa dia? Kakashi benar-benar tidak bisa membayangkan jika namanya disebut-sebut disebuah acara gosip terkini, mengenai hubungannya dengan seorang wanita berusia 70 tahun. Apalagi sampai menghamilinya. BIG NO, adalah jawaban yang tepat untuk diucapkan.

"Kakashi-san, akhir-akhir ini anda sering terlihat bersama Deidara-san. Apa kalian pacaran?" Tanya seorang ibu-ibu bernama Tayuya, yang tinggal di lantai dua. Tayuya itu salah satu fans girl nya Kakashi, wajar kalau dia cemburu melihat kedekatan Kakashi dengan si 'Janda' ikan asin (Deidara) itu. Kebetulan sekali, kini Kakashi memang sedang berjalan menuju apartemennya, maka saat di lantai 2 ia pun berjumpa dengan seorang shinigami yang tidak pernah diharapkan kedatangannya.

"Pacaran? Tentu saja tidak. Kami hanya tidak sengaja bertemu di minimarket" Jawab Kakashi-diiringi tawa canggungnya. Tayuya bersorak senang saat mendengar jawaban Kakashi, benar-benar sesuai dengan apa yang ia harapkan. "Ah, ku kira kalian pacaran" kata Tayuya.

Kakashi tersenyum dan berpamitan hendak meneruskan perjalanannya kembali. Tayuya yang sudah merona (akibat senyuman maut Kakashi) tidak begitu memikirkan, jadi dia mengangguk saja saat Kakashi meninggalkan dirinya. Jika saja dia sadar, pasti dia tidak akan melepaskan Kakashi pergi begitu saja. Tayuya akan mengajak bicara Kakashi panjang lebar, dengan durasi yang begitu panjang dan membuat kuping Kakashi terbakar rasanya. Wanita itu akan melakukan apa saja, demi mendapatkan sang Hatake. Jadi, istri ke-10 nya pun juga tak masalah, begitulah menurut Tayuya. Lagi pula, siapa juga yang mau punya istri sebanyak itu. Kakashi memang tampan, tapi dia tidak pernah serakah hingga memiliki istri sebanyak itu.

.

.

.

.

* Apartemen Deidara *

Sehabis menjemput Naruto, Deidara pun segera berkutat di dapur. Ia hendak membuat kue-kue kering atau cookies yang sering ia sajikan untuk tamu-tamu yang bertandang ke apartemen miliknya. Yakin, pasti tamu-tamu yang bertandang ke apartemen Deidara begitu menikmati jamuan tersebut. Diperlakukan seperti raja oleh si cantik, Deidara. Siapa yang tidak mau..

"Mama, Nalu mau main-"

"Naru-chan, harus bobo siang.. Kalau tidak begitu, mama akan membuang mainan mu, un" sela Deidara. Dia tak habis pikir dengan hobi putranya itu. Main, Naruto memang sangat suka bermain. Deidara sendiri kesal, jika Naruto sulit dibujuk untuk berhenti bermain saat si kecil Naru tengah asyik bermain.

"Tapi, ma-"

"Mama bilang bobo! Kamu harus bobo siang, un" lagi-lagi sang ibu menyela perkataan buah hatinya. Naruto kecil pun segera berlari ke kamar, entah apa yang akan dia lakukan. Biasanya sih, kalau tidak diizinkan bermain, Naruto pasti akan menangis di dalam kamar layaknya seorang gadis muda yang tengah patah hati.

Deidara menggelengkan pelan kepalanya melihat tingkah buah hatinya itu. Biarlah, lagipula Deidara tidak mau mendengar berita mengenai tragedi 'gigit pipi' yang dilakukan ibu-ibu lantai dua pada putra tunggalnya itu. Dia kan tidak mau melihat ada tanda 'gigitan' tepat di pipi gembil Naruto.

"Hah, anak itu, un" Gumam Deidara-Kemudian melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda kembali.

.

.

.

.

Kita lihat keadaan Naruto kecil yang tengah meringkuk didalam selimut. Ia menangis dan tidak mau keluar dari persembunyiannya itu. Padahalkan, dia hanya ingin bermain bersama teman-temannya, kenapa ibunya tidak mengizinkan dirinya untuk bermain?

"Ndak acyik! Mama maca ndak bolehin Nalu main, hiks" tangisan Naruto terdengar dari balik selimut bermotif bunga matahari itu. Balita berparas imut tersebut tidak habis pikir dengan mamanya yang melarang dirinya untuk bermain. Kenapa? Dia kan sudah besar, bukan anak bayi yang perlu dilarang kesana-kemari lagi.

"Mama, ndak cepelti bibi kalin! Bibi kalin caja bolehin Kyuu-chan cama Naga-chan main" Naruto mengerucutkan bibirnya dan menggembungkan kedua pipi chubbynya. "Huuwwwaahh...Nalu mau main" Tangisan Naruto mulai meledak dan tidak bisa lagi ditahan. Balita 4 tahun itu benar-benar, ingin bermain bersama teman-temannya.

Sedangkan Deidara yang sedang sibuk memasukan kue-kue kering buatannya ke dalam toples, hanya menggelengkan kepalanya. "Benar-benar anak keras kepala, un" Gumam Deidara-Tidak sadar akan dirinya yang juga tak jauh beda dari putra tunggalnya itu. Ibu muda itu pun kemudian menutup toples yang sudah dipenuhi kue-kue kering buatan tangannya.

« GREY Misa »

.

.

"Jadi, Dei-san sendiri yang membuat kue-kue kering ini?" Tanya Kakashi yang begitu kagum dengan rasa kue-kue kering buatan Deidara. Padahal sih, dia juga sudah tahu bahwa Deidara lah yang membuat kue-kue itu (bisa dibilang basa-basi). "Iya..tidak enak ya, un?" Deidara balik bertanya mengenai kue buatannya. "Tentu saja enak! Dei-san, tidak hanya cantik tapi juga pintar memasak" Puji Kakashi.

Deidara yang dipuji pun hanya bisa blushing ria, bagaimana tidak? Dipuji pria tampan macam Kakashi? Siapa yang tidak memerah? (Kalau author sih, pasti sudah Nosebleed). Cuaca sore ini lumayan cerah untuk dinikmati sambil berjalan-jalan ke taman (apalagi bersama sang pujaan hati). Taman Konoha, yang tidak jauh dari apartemen mereka dipilih Deidara untuk menemani buah hatinya bermain. Suasana sep di taman tersebut, tidak juga membuat Naruto kecil enggan untuk pulang ke rumah.

Deidara sendiri heran, kenapa buah hatinya sangat menyukai taman. Jika ditanya, Naruto pasti akan menjawab 'Nalu cuka taman, kalena Taman ada bunga-bunga cantik' begitulah jawabannya. Naruto suka bunga, suka sekali. Mungkin, Deidara sedikit menuruni kebiasaannya saat ia masih kecil kepada putranya. Untung saja ada Kakashi di taman itu, jadi setidaknya Deidara mendapatkan seorang teman dewasa yang bisa diajak berbincang-bincang. Jangan tanya kenapa mereka bisa bertemu, karena setiap menjelang malam Kakashi selalu menikmatinya di taman itu. Entah apa yang ia tunggu, bergalau sendiri di taman mungkin suatu kebiasaan baru untuk pewaris tunggal Hatake itu (mungkin saja kan).

"Naru-chan suka sekali taman ya" kata Kakashi-sambil menggigit kue kering buatan Deidara. "Ya, begitulah, un" Timpal Deidara-seraya menolehkan kepalanya ke arah Kakashi. Rambut pirang panjang Deidara (yang sengaja digerai) terlihat melambai-lambai ditiup angin. Menambah kesan Sexy bagi Kakashi. Cantik, cantik, cantik, baginya Deidara benar-benar cantik, dan termasuk seorang istri yang diidam-idamkan oleh banyak pria (mungkin).

"Mama, lihat! Nalu nemu cacing" seru Naruto-mengangkat seekor cacing tanah tinggi-tinggi, hendak menunjukannya pada sang ibu. "Buang Naru-chan! Itu kotor" Kakashi berjalan menuju Naruto. Pria tampan itu menyamakan posisinya dengan Naruto yang baginya sudah dianggap sebagai anaknya. "Kotol (kotor)" Beo Naruto. Kakashi mengangguk meng'iya'kan perkataan Naruto.

Deidara juga ikut-ikutan berjalan menuju Naruto dan mengikuti Kakashi (menyamakan tingginya dengan Naruto). Disentuhnya pelan pucuk surai blonde putra kecilnya itu, "buang ya, un" Timpal Deidara. Naruto mengangguk pelan dan segera membuang cacing malang itu sembarangan. "Habis ini Kakashi-san mau kemana, un?" Tanya Deidara-sambil membersihkan telapak tangan Naruto dengan hand sanitizer. "Bagaimana jika menikmati makan malam di restoran sea food disebelah sana" Usul Kakashi. "Tapi aku dan Naruto belum mengganti baju, un" Kata Deidara, memasukan kembali botol kecil hand sanitizer miliknya ke dalam tas.

'Dei, meskipun begitu kau tetap terlihat cantik' batin Kakashi, benar-benar berharap Deidara tidak menolak ajakannya. "Cea food? Nalu mau, Nalu mau! Ayo ma, kita ke cana" Naruto menarik paksa pergelangan tangan ibunya. "Unn"

"Naru-chan mau paman gendong?" Tawar Kakashi.

"Mau! Nalu mau digendong!" Jawab Naruto.

Kakashi pun berjongkok dihadapan Naruto. Si pirang imut itu langsung memeluk leher Kakashi. "Huup, kau berat juga ya" Ujar Kakashi. Deidara terkekeh pelan saat mendengar Kakashi berkata jika buah hatinya 'lumayan berat'. Naruto sendiri tidak peduli dengan kata-kata Kakashi dan malah tertawa senang mendapatkan perhatian lebih dari pria tampan yang tengah menggendongnya itu.

"Brengsek!" Umpat seseorang yang tengah bersembunyi di dalam semak-semak.

.

.

.

.

TBC

Minna-san, maaf kalau ff buatan Misa kurang bagus dan kurang memuaskan kalian. Juga, terimakasih bagi kalian yang sudah membaca ff ini. Apalagi sampai di Review.. Oh, iya.. Menurut kalian pairing mana yang bagus? Itahina atau Itatema? (Soalnya, banyak yang minta Itahina, juga banyak yang minta Itatema). Sekali lagi, Misa ucapkan Terimakasih^^

.

.

.

.

So Mind To Review