One Night Stand [REMAKE]

Story belong to Chantiqe

GS for uke

KAISOO~

.

.

.

.

Jongin menunggu di depan Century dalam mobil mewahnya. Yakin Kyungsoo pasti akan mengunjungi coffe shop. Sebenarnya bisa saja ia memasuki Century dan meminta bertemu dengan Kyungsoo, tapi membuat kehebohan adalah satu yang paling ia hindari selama hidupnya. Dan benar saja, Kyungsoo keluar dari Century dengan pakaian yang sama sekali tidak cocok di tubuhnya. Walaupun begitu Jongin masih ingat tubuh seksi di balik baju jelek itu. Gairah muncul di sela pahanya.

Jongin tidak mau bertingkah seperti orang bodoh, dua kali pertemuan terakhir membuatnya kehilangan kesempatan bicara dengan Kyungsoo. Ia melangkah memasuki coffe shop duduk di meja dekat pintu masuk, menunggu Kyungsoo dengan sabar. Begitu gadis itu berbalik. Jongin mencegahnya.

"Kyung!"

Tidak lagi!

"Oh hai, sepertinya kita selalu bertemu dimanapun." Senyum bodoh menghiasi wajah Kyungsoo.

"Aku juga tidak mengerti kenapa." Jongin mencoba terlihat kaget. "Tapi bisakah kau menemaniku sebentar?" Ajak Jongin. Dan itu adalah hal terakhir yang akan Kyungsoo lakukan mengingat pengaruh Jongin padanya.

"Lagipula ini jam istirahat." Lanjut Jongin melihat kebimbangan di mata Kyungsoo.

"Aku tidak bisa, aku tidak mau atasanku Jonghyun menunggu. Apalagi Jonghyun sedang stress dan dia benar-benar butuh kopi panas."

"Aku bisa mengaturnya." Tanpa memberikan kesempatan Kyungsoo menolak, Jongin memanggil seorang pelayan.

"Berikan kopi ini pada seseorang yang bernama Jonghyun di seberang." Jongin mengambil kedua gelas yang dipegang Kyungsoo dan memberikannya pada pelayan kemudian mengeluarkan uang yang lumayan besar untuk tips. Pelayan wanita itu tersenyum menggoda.

"Tentu saja tuan." Ucapnya bergegas secepat mungkin. Kyungsoo melihatnya hampir berlari. Dengan tips sebesar itu, dia bisa tidak bekerja selama seminggu.

"Salah satunya adalah minumanku."

"Aku akan membelikanmu yang baru… ayo…" Jongin menggenggam tangan Kyungsoo dan mengajak ke salah satu meja. Kyungsoo melirik tangan besar yang menutupi tangannya, rasanya hangat tapi membuatnya tidak karu-karuan. Kyungsoo duduk dengan gelisah menunggu Jongin memesan kopi untuk mereka berdua. Kegugupan Kyungsoo bertambah parah ketika Jongin kembali ke meja dan duduk di hadapannya. Menyodorkan sepiring muffin dan segelas kopi.

"Aku tidak makan muffin… diet." Kyungsoo masih menunduk dan mengaduk kopinya. Ia sadar penampilannya saat ini bagai itik buruk rupa dan Jongin memandangnya tajam.

"Tubuhmu sudah sempurna kau tidak perlu diet."

"Aku gemuk."

"Kau seksi, aku pernah melihatmu telanjang." Ucap Jongin wajahnya berubah nakal. Kenangan malam itu menyeruak di dalam otak Kyungsoo. Bagaimana bisa Jongin bersikap nakal disiang panas seperti ini. Panas sangat panas.

"Kita bicarakan yang lain saja." Kyungsoo akhirnya mendongak dan melihat wajah Jongin yang tampan. Jongin bisa melihat wajah Kyungsoo yang merona dan itu menggemaskan.

"Aku tidak mengira kau bekerja di majalah mode."

"Karena penampilanku tidak bermode?" Potong Kyungsoo.

"Bukan… bukan itu… aku hanya tidak mengira itu saja, dan apa pekerjaanmu di century?" Aku mengira kau menghabiskan harimu dengan melayani pria dan hidup dari sana. Jongin marah pada pemikirannya sendiri.

"Editor, hanya staff editor. Tapi kau… apa yang kau lakukan disini? Aku sudah bekerja setahun lebih di Century dan tidak sekalipun aku pernah melihatmu kecuali dua hari lalu dan sekarang."

"Bekerja, aku baru pindah. Kantorku dekat sini." Kyungsoo mengangguk-angguk, ia tidak tahu harus bicara apa dengan Jongin.

"Kau tidak mau makan muffinmu?" Tanya Jongin kemudian.

"Tidak. Aku sudah berjanji untuk diet…" Kyungsoo mengibaskan tangannya. Jongin mengambil sepotong muffin dan memasukkan ke mulut Kyungsoo.

"Oh Jongin…" Mulut Kyungsoo yang penuh berusaha memprotes.

"Harusnya kau makan sesuatu ini jam makan siang, muffin ini hanya snack Kyungsoo." Jongin kembali menyuapinya dan Kyungsoo tidak bisa menolak.

"Bagus… aku suka perempuan yang suka makan." Jongin menyuapi sampai muffin itu habis.

"Bagaimana dengan Baekhyun kemarin?" Tanyanya penasaran dan ketakutan akan jawaban Jongin.

"Tidak ada bagaimana, aku pergi begitu kau pergi."

"Baekhyun perempuan yang cantik. Bukan begitu Jongin?" Pancing Kyungsoo.

"Kyungsoo, kau ingin menjodohkanku dengan Baekhyun?"

"Tidak… tidak… hanya saja Baekhyun sepertinya tertarik padamu."

"Aku tidak ingin membicarakan Baekhyun Kyung."

"Lalu apa yang ingin kau bicarakan?"

"Apa saja, tentangmu tentang pekerjaanmu…" Kata-kata Jongin terhenti oleh alunan I will survive… I will survive. Kyungsoo mengangkat ponselnya, suara di seberang terdengar murka, Jongin bisa mendengar dengan jarak sejauh ini.

"Maaf Jong aku harus pergi, Jonghyun marah-marah. Aku tidak mau kehilangan pekerjaanku." Kyungsoo melirik jam tangannya dan berdiri. Jongin mengikutinya.

"Bisakah aku menjemputmu sore ini Kyung?"

Oh tidak lagi, Jongin berpikir dirinya adalah pelacur yang siap mengangkang kapan pun mereka menghendakinya, tidakkah Jongin tahu malam itu ia adalah wanita berbeda yang ingin melepaskan tanda perawan tua yang disandangnya? Walaupun tidak mempunyai kekasih paling tidak sekarang Kyungsoo sudah bukan perawan.

"Jongin… aku ingin hidupku lurus kembali, aku sudah meninggalkan kehidupan sebagai perempuan jalang…"

"Aku hanya mengajakmu makan malam, tidak lebih." Sorot mata Jongin penuh harap.

"Itu terdengar seperti kencan."

"Aku tidak peduli apapun namanya, sudah lama kita tidak bertemu dan pertemuan terakhir sangat tidak menyenangkan. Apapun yang terjadi, aku ingin kita tetap bersama Kyung." Bujuk Jongin.

"Hanya makan malam?"

"Hanya makan malam, tidak lebih."

"Baiklah…" Jawabnya sudah bisa ditebak karena tidak mungkin ia bisa mengalahkan pengaruh kuat Jongin yang menghipnotisnya.

.

.

.

Kyungsoo menghitung detik demi detik. Lima menit lagi. Ia akan bertemu dengan Jongin. Kyungsoo berlari menuju studio pemotretan. Biasanya bagian wardrobe menyediakan baju untuk model, dan mungkin dengan merayu Sooyoung ia bisa meminjam salah satunya. Ia tidak mau mempermalukan Jongin dengan penampilannya. Ia tidak mau orang-orang beranggapan Jongin mengajak salah satu pelayannya untuk makan malam.

"Tidak bisa Kyung, maafkan aku. Hyunsik akan membunuhku." Kyungsoo membayangkan Hyunsik berubah menjadi menyeramkan karena pakaian yang dipakai untuk model-modelnya menghilang. Tapi ia tidak menyerah.

"Katakan saja kau sedang melaundrynya, lagipula besok pagi aku akan mengembalikannya." Kyungsoo menunjukkan wajah paling menderita.

"Aku tidak bisa Kyung, maafkan aku."

"Tolonglah, ini menyangkut hidup dan matiku…" Kyungsoo mencakupkan tangannya. Sooyoung mengutuk hatinya yang lemah melihat penderitaan Kyungsoo.

"Kau membuatku tidak berdaya Kyung. Ku mohon kau menjaganya dan yang terpenting kembalikan besok pagi. Hidupku juga berada di tanganmu."

"Aku akan menjaminnya dengan hidupku tapi jika aku merusaknya, aku akan menggantinkannya dengan gaun gergous." Kyungsoo mengecup pipi Sooyoung.

"Jika kau bisa membelikan gaun gergous untukku, kau tidak akan meminjam pakaian ini." Sindir Sooyoung kemudian melangkah pergi. Kyungsoo memeletkan lidahnya pada Sooyoung. Sooyoung tidak tahu jangankan gergous, mensabotase gergouspun ia bisa. Gergous adalah merek busana ternama hasil karya Shin Ji Hyun atau sekarang dikenal dengan Do Ji Hyun, ibunya sendiri.

Kyungsoo mengitari gaun-gaun yang dipajang penuh sesak, mencari gaun yang kira-kira pantas untuk dia kenakan. Tapi semua gaun yang ia coba selalu tidak muat pada dadanya. Kyungsoo mendesah. Ini sudah jam lima lewat. Ia terduduk di lantai.

"Apa yang kau lakukan disini Kyung?" Kepala Jonghyun muncul dari atas tumpukan baju.

"Aku ingin meminjam baju, tapi tidak ada yang muat untukku."

"Kau tidak takut pada Hyunsik?"

"Jabatanmu lebih tinggi dari Hyunsik, aku yakin kau akan membelaku." Cengirnya. Jonghyun menggeleng. "Lalu apa yang membuatmu datang kesini?"

"Aku mencari Hyunsik tapi sayangnya dia sudah pergi."

"Baiklah Kyungsoo sayang, kita lihat apa yang bisa kau kenakan disini." Ucap Jonghyun kemudian melihat raut Kyungsoo yang putus asa. Jonghyun mengelilingi gantungan pakaian-pakaian yang berjubel. Kyungsoo mengikuti dengan senang, Jonghyun lebih tau seluk beluk bagian wardrobe dibanding siapapun. "Harusnya kau mencari dikoleksi baju-baju yang berukuran m-l bukan s-m, dadamu besar dan seksi." Jonghyun melirik dada Kyungsoo dan Kyungsoo mendelik.

"Aku tidak tahu ternyata pakaian-pakaian ini disusun seperti itu, aku pikir semua baju hanya berukuran xs, s, dan m!"

"Apa kau pikir baju-baju ini hanya dipakai model? Lagipula tidak semua model mempunyai tubuh kurus. Fotogenik di kamera sudah cukup." Jonghyun mendadak berhenti dan Kyungsoo menabrak punggungnya.

"Sudah berapa lama kau bekerja di Century? Apa aku harus menjelaskan padamu lagi!" Sembur Jonghyun, Kyungsoo menunduk malu.

"Kau kencan?" Lanjutnya.

"Tidak, hanya makan malam biasa. Tapi aku tidak mau mempermalukan temanku dengan pakaianku."

"Nah ini dia. Ini cocok untukmu." Jonghyun memberikan sebuah blouse merah tanpa lengan dan rok mini bunga-bunga. "Blouse ini akan memperlihatkan lekuk tubuhmu, dan rok ini akan memperlihatkan kakimu yang seksi. Cobalah!" Jonghyun menepuk bokong Kyungsoo mendorongnya menuju kamar ganti.

Kyungsoo mengerjapkan matanya berulangkali. Pakaian ini terlihat bagus di tubuhnya. Tapi tidak bisa menjamin Jongin tidak melirik dadanya. Belahannya sedikit rendah.

Kyungsoo melangkah keluar.

"Jika aku tidak homo, aku akan menikahimu Kyung! Kau luar biasa seksi. Harusnya kau lebih sering berpakaian seperti ini. Menampilkan kelebihan yang kau punya. Aku memberikan pakaian ini padamu, kau tidak usah mengembalikannya pada Sooyoung."

"Benarkah?" Mata Kyungsoo berbinar karena senang.

"Tentu saja, agar kau punya referensi mengenai penampilan." Sindir Jonghyun, Kyungsoo meleletkan lidahnya.

"Ayo… aku akan mengantarmu keluar." Jonghyun menyelipkan lengan Kyungsoo pada lengannya. Tentunya setelah mengacak rambut Kyungsoo.

"Aku ingin melihat siapa yang menjadi teman kencanmu."

"Bukan kencan Jonghyun, ayolah ini hanya makan malam biasa. Jangan mempermalukanku." Mereka sudah keluar dari gedung Century dan menemukan pria tampan bersandar pada Porsche putih.

"Kau yakin itu teman kencanmu?" Tanya Jonghyun. Kyungsoo tidak bisa menyahut, ia gugup. "Dia sangat tampan Kyung, aku akan meninggalkan kekasihku jika dia mau kencan denganku." Air liur Jonghyun menetes menatap Jongin.

"Maaf membuatmu menunggu. Kenalkan atasanku Jonghyun." Jongin memandang Jonghyun dengan dingin, Kyungsoo merasa kasihan pada Jonghyun.

"Jonghyun…" mata Jonghyun berbinar.

"Jongin."

"Terimakasih atas bantuanmu Jonghyun, sampai besok." Kyungsoo melambaikan tangannya.

"Selamat bersenang-senang." Jonghyun meniupkan ciuman jauh dan disambut tidak kalah norak oleh Kyungsoo. Jongin menyeretnya masuk ke dalam mobil.

"Apa yang terjadi dengan pakaianmu?" Jongin melirik tajam.

"Aku meminjam ini di bagian wardrobe. Aku tidak mau mempermalukanmu, kau tidak suka?"

"Aku suka, kau terlihat cantik. Cantik seperti biasa dan kau tidak akan pernah mempermalukanku Kyung. Tapi aku tidak suka cara Jonghyun melihatmu." Geram Jongin. Kyungsoo tertawa terbahak-bahak.

"Tidak ada yang lucu Kyung."

"Jika kita benar-benar berkencan, aku mengira kau pasti tengah cemburu. Tapi sayangnya dia tidak melirikku, tidak mungkin."

"Apa yang tidak mungkin, kau cantik dan seksi."

"Dia melirikmu bukan aku."

"Apa?" Jongin menoleh pada Kyungsoo yang kembali tertawa. Untuk sekian kalinya ia merasa bodoh sangat bodoh di dekat Kyungsoo. Cemburu pada seorang gay… tapi tunggu dulu, ia tidak mungkin cemburu!

.

.

.

Jongin mengajaknya menuju restaurant klasik bernuansa Perancis. Ini adalah salah satu tempat favoritenya, rotinya membuat Kyungsoo kalap dan melupakan dietnya.

"Kau sering ketempat ini?" Tanya Kyungsoo.

"Tidak. Aku baru beberapa kali kesini, sebagian waktuku di Austria."

"Untuk bisnis?"

"Begitulah, tapi aku sudah pindah dan tinggal disini." Jongin menarik sebuah kursi dan untuk Kyungsoo, lengan mereka bersentuhan. Sentuhan bagai sengatan listrik di tubuh Kyungsoo.

Seorang pelayan berpakaian rapi bagai pengantin pria, mendatangi mereka dan menawarkan menu dengan sopan.

"Nona Kyungsoo, senang melihatmu disini. Sudah lama sejak terakhir anda datang bersama tuan Kris." Ternyata Calvin, kepala pelayan yang selalu melayani dirinya dan keluarganya jika berkunjung kesini.

"Aku ingin makan roti Calvin." Kyungsoo mendelik dan mengerjap beberapa kali. Untungnya Calvin mengerti bahasa isyarat Kyungsoo dan tidak berceloteh lebih banyak.

"Baiklah roti seperti biasa, dan anda tuan?"

"Aku akan menyerahkannya pada nona cantik ini, seperti dia sudah menjadi langganan disini." Jongin melirik Kyungsoo.

"Rotinya sangat enak, tapi kau harus mencoba ayam marengonya, Jongin."

"Pilihan yang bagus nona. Saya akan membawakan spesial untuk anda berdua, dan juga sebotol sampanye." Sahut Calvin dan bergegas.

"Kau langganan tetap disini?" Tanya Jongin.

"Iya, Kris sering mengajakku kemari dulu."

"Di setiap tempat kau selalu identik dengan Kris. Aku tidak habis pikir Kris tidak menikahimu."

"Tidak mungkin Kris mau dengan wanita sepertiku."

Raut wajah Kyungsoo menohok hati Jongin.

"Aku minta maaf Kyung, aku tidak bermaksud merendahkanmu." Ucap Jongin cepat. Kyungsoo kasihan melihat Jongin yang terus saja salah paham. Kyungsoo harus menyalahkan Kris karena mengenalkannya sebagai wanita simpanan. Tapi tidak seratus persen salah Kris. Jika Jongin tidak mengenalnya sebagai jalang, tidak mungkin Jongin mau bercinta dengannya. Apakah pria segampang itu bercinta? Kyungsoo geram menyadari Jongin bagai gigolo.

"Apakah kau secepat itu berhubungan dengan perempuan?" Tanya Kyungsoo kemudian. Jongin mengernyit kemudian menyadari topik pembicaraan sudah beralih pada kejadian malam panas mereka.

"Tidak, itu rekor tercepatku memutuskan bercinta dengan seorang wanita. Penampilanmu menyihirku Kyung, jujur saja saat ini aku menginginkanmu lagi." Jongin berdeham. Kyungsoo merona merah.

"Jongin jangan mengungkitnya lagi. Aku sudah meninggalkan kehidupan lamaku." Ucap Kyungsoo tidak berbohong sepenuhnya.

"Lalu bagaimana dengan Sehun?" Kata Jongin dingin. "Kemarin kalian bertemu kan?"

"Aku mengembalikan mobilnya."

"Aku pikir kau ingin mengakhirinya enam bulan lalu. Pembicaraan kita terakhir sangat tidak menyenangkan. Aku minta maaf Kyung, aku menjadi pria brengsek malam itu."

"Tidak ada yang terjadi enam bulan ini antara aku dengan Sehun semua benar-benar berakhir. Hanya saja Sehun masih suka mengirimiku hadiah tapi aku tidak mau menanggung resiko akan kemarahan istrinya jadi aku mengembalikan semua barang-barangnya."

Tidak lama pelayan mengantarkan makanan untuk mereka. Untungnya pembicaraan tidak lagi mengarah pada seks.

"Editor adalah cita-citamu?" Tanya Jongin. Kyungsoo menganggukkan kepala.

"Aku suka membaca dan menghayal tapi aku tidak bisa menuangkan dalam cerita jadi dengan menjadi editor aku bisa membaca dan menggambarkan karya tulis orang lain dalam imajinasiku." Jongin mendengarkan Kyungsoo yang berbicara begitu semangat, Kyungsoo menggemaskan, jujur, dan polos. Sedikitpun tidak ada kesan jalang dalam pembawaannya. Jongin berharap ini memang Kyungsoo dan dia tidak sedang bersandiwara.

"Kau sangat cantik Kyung…" tanpa bisa ditahan Jongin mengelus pipi Kyungsoo. Kyungsoo memerah malu, aliran listrik kembali menyengatnya.

"Ceritakan tentang dirimu?" Tanya Kyungsoo berusaha mengalihkan perhatian dari wajah Jongin yang menggiurkan.

"Hmm." Jongin terlihat berpikir. "Kakekku pengusaha tapi ayahku membelot menjadi pengacara, dia tidak suka bisnis. Aku korban konflik ayah dan kakekku. Mau tidak mau aku meneruskan usaha keluarga."

"Sebenarnya apa yang kau inginkan?"

"Perwira… angkata udara, bisa menerbangkan pesawat dan bermanuver menurutku sangat hebat."

"Harusnya kau meraihnya, kau bisa memperkerjakan seseorang untuk menjalankan bisnis keluargamu."

"Aku tahu, tidak salah kalau aku bilang aku korban disini bukan." Jongin tersenyum, senyum yang melelehkan. Mereka terlihat nyaman satu sama lain, Jongin tidak pernah membicarakan banyak hal dengan wanita sebanyak dia bicara dengan Kyungsoo. Kyungsoo gadis yang pintar, entah apa yang membuat gadis itu merendahkan dirinya. Sesaat Jongin lupa ia berbicara dengan seorang perempuan jalang. Sampai akhirnya Kyungsoo memekik dan merangkak ke kolong meja tempat mereka makan.

"Apa yang kau lakukan Kyung?" Kepala Jongin mengintip dari balik kain.

"Aku melihat seseorang… seseorang yang pernah berhubungan denganku. Tapi istrinya memergokiku dan sekarang dia datang bersama istrinya. Kumohon Jongin lakukan sesuatu. Aku ingin keluar dengan selamat dari sini." Kebohongan itu mengalir deras dari mulut Kyungsoo, Kyungsoo tidak mempunyai pilihan, semuanya akan terbongkar begitu mereka melihat Kyungsoo bersama dengan seorang laki-laki. Suatu saat ia pasti mengakui kebohongannya dengan Jongin tapi tidak sekarang. Ia terlalu takut untuk itu. Sesaat kepala Jongin menghilang, kemudian ia menengok lagi.

"Maksudmu tuan Do Min Joon?"

"Kau mengenalnya?" Belum juga Jongin menjawab. Suara Do Min Joon membuat Kyungsoo serangan jantung.

"Jongin… kaukah itu?"

"Oh, hai tuan." Jongin langsung berdiri tegak. Nyonya Ji Hyun terlihat sangat cantik. Sekilas ia mirip Kyungsoo. Rahang Jongin mengencang, apa karena Kyungsoo mirip dengan istrinya, pria tua ini mengencani Kyungsoo?

"Nyonya." Sapanya, Ji Hyun tersenyum manis.

"Apa yang kau lakukan?" Min Joon menunduk kebawah, untungnya kain yang tadi tersibak sudah menutup kembali.

"Dompetku jatuh tuan."

"Kau sendirian? Mau bergabung bersama kami? Atau mungkin aku bisa bergabung denganmu?" Tawar Min Joon.

"Hmm. Saya baru saja selesai dan saya bersama teman, mungkin lain kali. Tapi terimakasih tuan."

"Okay nikmati malam kalian, aku dan istriku tidak akan mengganggu."

"Selamat malam tuan." Sahut Jongin. Suami istri itu melangkah pergi, dan Jongin bernapas lega. Dibawah, Kyungsoo merangkak keluar.

"Kau bisa berjalan, ayolah kyungsoo. Mereka tidak akan melihatmu." Jongin menarik lengan Kyungsoo.

"Oh aku takut setengah mati Jongin." Kyungsoo mencoba menyembunyikan wajahnya di lengan Jongin.

"Aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu Kyung." Jongin merangkul Kyungsoo dan Kyungsoo merasa aman. Merasa bersalah selebihnya, dalam hatinya ia minta maaf pada orang tuanya yang luar biasa hebat.

Sepertinya aku melihat Kyungsoo." Ji Hyun memandang gadis yang tengah berjalan di sebelah Jongin. Lengan Jongin melingkari pundak gadis itu, mereka terlihat intim.

"Kau yakin sayang?" Tuan Do mengikuti pandangan istrinya. Dari belakang perempuan itu memang mirip putrinya, tapi perempuan itu lebih bermode tidak seperti Kyungsoo yang tidak pernah peduli dengan penampilan.

"Itu memang Kyungsoo. Perempuan yang berjalan bersama Jongin, ini kejutan. Aku pikir putriku tidak berminat menjalin hubungan setelah putus dengan Joonmyeon." Seulas senyum menghiasi wajah nyonya Ji Hyun.

"Jangan berpikir terlalu jauh sayang. Dia memang mirip Kyungsoo tapi penampilannya sangat jauh dari Kyungsoo."

"Dia putriku, aku sangat yakin. Aku ibunya aku melahirkan dan membesarkannya. Jangan pernah ragukan insting seorang ibu."

"Aku tidak akan berdebat denganmu, aku akan menemui Kyungsoo. Jongin pria yang baik aku harap mereka serius."

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

Thanks for reading.

Dan aku mau menegaskan sekali lagi kalau aku sudah izin untuk remake cerita ini dari Chantiqe.

Jadi untuk yang bertanya-tanya masalah izin. Aku sudah dapat izin dengan syarat dan ketentuan dari Kak Chantiqe.

Jadi ini bukan menjiplak. Dan aku sama sekali tidak berniat membuat author asli menutup cerita karena ada yang remake tanpa izin karena kenyataannya aku izin.

Buat yang masih tidak percaya bisa PM dan kalau perlu aku kirim screencapture ku via email.

Oke sekali lagi terimakasih buat yang sudah semangatin aku. Ily :* hehehe

Jangan lupa review, aku suka baca dan bales review kalian ^^

Untuk cerita asli bisa baca di www. Wattpad user /Chantiqe (spasi dihapus)

See you next chapter~