His Butler, Trouble Maker
.
.
.
Summary: Sebastian akhirnya mengungkapkan apa yang diinginkannya. Akhirnya dia mengajukan pembatalan kontrak dengan Ciel setelah berkali-kali mencoba meyakinkan diri bahwa dia tidak akan melakukannya. Tiba-tiba saja semua menjadi awal kekacauan.
Warning: OC, OOC, dan saya nggak tahu harus menilai fic ini apa lagi.
Disclaimer: Siapa yang nggak kenal Yana Toboso?
Rate: T
.
.
.
"Teh siang Anda, Tuan Muda," kata Sebastian menuangkan teh ke cangkir di hadapan tuannya. Ciel mengendus wangi yang keluar dari teko itu.
"Teh Keemun ya?" tanya Ciel tanpa mengalihkan pandangan dari lembaran kertas yang dipegangnya.
"Benar, Tuan Muda." Sebastian meletakkan tekonya. "Menu utama makan siang kali ini adalah Lancashire Hotpot."
"Ya, baiklah."
"Dan waktu makan siang lima menit lagi."
"Ya."
Sebastian mengambil kertas dalam genggaman Ciel. "Mata Anda tidak bergerak. Artinya Anda tidak sedang membaca kan? Kalau begitu bukankah lebih baik Anda menatap lawan bicara?"
"Bagaimana aku bisa baca kalau kau mengganggu terus," kata Ciel mencoba merebut kertas itu. Sialnya, Sebastian lebih tinggi, bahkan saat Ciel naik ke meja dia tidak berhasil menangkap kertas itu karena Sebastian melangkah menjauh.
"Anda seharusnya mengerti maksud saya. Lima menit lagi berarti sebentar lagi. Dan sebaiknya Anda jalan sekarang ke ruang makan."
"Lima menit lagi ya lima menit lagi. Kenapa harus lebih awal hanya untuk makan siang? Sial! Kembalikan, Sebastian! Itu surat kerja sama dengan keluarga Walker!"
"Lancashire Hotpot tidak akan enak kalau sudah dingin, Tuan Muda," kata Sebastian.
"Hangatkan saja lagi."
"Tapi microwave-nya sudah diledakkan oleh Bard tiga jam yang lalu. Anda ingat?"
Ciel membisu.
.
Akhirnya Ciel menyerah. Dia berjalan ke dapur, menggerutu kesal sampai-sampai mungkin Ciel sanggup mencabut semua rambut butler-nya sampai botak. Tehnya pun belum disentuh sama sekali, dan Sebastian langsung membereskannya sampai bersih. Seharusnya Ciel merengek agar Sebastian kalah, tapi Ciel punya harga diri yang terlalu tinggi untuk melakukan hal semacam itu.
Ciel agak kesal belakangan ini. Sebastian tidak pernah seakan memiliki pemikiran sendiri untuk menentang tuannya. Selama ini Sebastian hanya menuruti apa yang diperintahkan tuannya, dan melindungi tuannya walau harus melewati neraka sekalipun –dan sesungguhnya neraka bukanlah hal yang perlu ditakuti butler berponi belah tengah ini. Ciel berpikir bukan hanya manusia yang bisa berevolusi, iblis juga. Mungkin Sebastian belajar banyak dari butler manusia, dan mulai menjadi menjengkelkan seperti manusia.
Ciel duduk di kursi ruang makan. Dia sedang menyentuh sendok ketika tiba-tiba Bard jatuh dari atas, menjebol langit-langit dan menghancurkan makan siang sekaligus mematahkan meja panjang di hadapan Ciel. Ciel sweatdrop.
"Apa yang kaulakukan?" tanya Ciel.
"Finny! Dia cari ribut. Kemudian dia pakai jurus judo membanting lawan dan saya jatuh dari ruang musik. Apa tulang punggungku patah ya? Astaga! Apakah saya menghancurkan makan siang Anda? Akan saya buatkan yang baru," kata Bard yang berantakan, antara gosong, puing langit-langit, krim saus dan serpihan meja.
"Tidak, tak perlu," kata Ciel.
"Jangan remehkan saya. Saya bisa masak juga, lho. Agni yang ajarkan."
"Sudahlah. Aku juga tidak lapar," kata Ciel berdiri dan bersiap pergi. "Seharusnya aku berterima kasih padamu."
"Anda kurus banget lho, Tuan Muda. Kapan mau tingginya kalau asupan gizinya kurang?" ujar Bard jujur.
Ciel yang hendak meninggalkan ruang makan tiba-tiba berbalik dan menatap Bard tajam. "Kalau begitu buatkan aku makan siang dan antarkan ke ruang kerjaku. Tidak dibantu Sebastian. Aku ingin menghina masakanmu sendiri dengan sangat kejam!"
"Tenang, serahkan pada saya," kata Bard.
Kemudian Ciel pergi. Sebastian menatap Bard dengan kesal. Luar biasa kesal.
.
"Kau serius mau melakukan ini?" tanya Maylene saat Bard menyiapkan bahan.
"Tentu saja. Lagian Agni memberikanku buku resepnya. Dia sudah memraktekkannya di depanku dan tentu saja otakku menyerap dengan baik. Jadi mudah kan?"
"Bukan itu maksudku. Kau serius mau menantang Sebastian dengan tidak langsung?"
Bard melihat sekeliling. Kemudian merapat dengan Maylene dan Finny. "Aku tidak menantangnya. Aku hanya ingin menolong Tuan Muda. Seharusnya kalian bersyukur aku mengintip saat Sebastian memasukkan obat bius ke dalam makanan itu –entah keberuntungan apa, aku melihat iklan obat bius yang sama di gang kumuh yang seperti pernah meledak tiga kali. Jika tidak, aku tak tahu Tuan Muda akan gimana sekarang. Dan percakapannya dengan Alois sebelum Tuan Muda datang, kalian sendiri mendengarnya kan? Jadi, aku rela bertransformasi menjadi 'pasukan berani mati' untuk menolong Tuan Muda."
Maylene dan Finny akhirnya mendapat suatu kesepakatan. Mereka nyengir dan tertawa bersama.
"Omong-omong, tadi kau membantingku keras sekali, Finny," kata Bard, merasa sakit di bagian punggung.
"Lantainya kurasa agak keras, jadi harus banting sekuat tenaga kan," kata Finny tertawa.
"Bukannya lantainya sudah kau pukul sampai cuma retak-retak doang?" tanya Bard.
"Entahlah, aku merasa membantingmu pelan saja kok," kata Finny, dan Bard merinding.
Di luar dapur, di dekat pintu yang terbuka, Sebastian mendengar dalam diam.
.
"Ini namanya macaroni schotel, Tuan Muda," kata Bard dengan bangga.
Ciel mengamati makanan itu, mengaduk-aduk dengan sendok, kemudian dia yakin tidak ada bagian yang mencurigakan. Wanginya enak, penampilannya bisa saja beracun.
"Saya bawakan Anda Lasagna, Tuan Muda," kata Sebastian tiba-tiba muncul di depan pintu. "Anda tak perlu membahayakan nyawa Anda dengan memakan makanan buatan Bard."
Baru saja Bard akan menentang, Ciel mulai bicara. "Kau pikir aku takut hanya makan makanan seperti ini?"
Ciel mulai mencicipi masakan buatan Bard, dengan perasaan agak terpaksa dan menyesal berkata seangkuh itu pada Sebastian. Kemudian ketika kunyahan pertama berhasil, Ciel mulai menginginkan kunyahan-kunyahan berikutnya.
"Ini benar-benar buatanmu?" tanya Ciel, benar-benar melihat koki yang seperti bukan Bard di depan matanya.
"Sudah saya katakan Agni mengajarinya," kata Bard bangga.
"Memangnya Agni mengerti masakan Italia?" tanya Ciel.
"Saya tidak tahu, mungkin saja dia sedang mempelajarinya."
"Hebat sekali, bahkan koki mengerikan sepertimu bisa diubah jadi koki profesional kelas atas. Aku sesungguhnya berniat untuk menghinamu, tapi tidak ada alasan. Coba saja Agni lebih lama di sini dan bisa mendidik dua Manusia Tak Berguna lainnya. Enak sekali jadi Soma ya," kata Ciel terang-terangan. Tiba-tiba Ciel menyadari keberadaan Sebastian dan muka Ciel memerah. "Baiklah, Bard. Aku memberimu kehormatan dengan memasak untuk makan malam nanti."
"Benarkah Tuan Muda? Apa Anda bercanda? Anda pasti terlihat lucu jika bercanda, tapi Anda berkilau jika serius. Benar lho, Tuan Muda. Terima kasih!" kata Bard kegirangan, kemudian pergi ke dapur untuk melihat-lihat resep apa yang bisa disiapkan.
"Anda serius menginginkan Agni lebih lama berada di sini?" tanya Sebastian.
"Omong-omong, apakah anak-anak akan senang kalau kubangun Klub Bermain Funtom?" tanya Ciel mengalihkan pembicaraan. "Aku sedang merancang dan mendesain apa-apa saja yang akan…"
"Tuan Muda," panggil Sebastian, kemudian menatap Ciel lama seakan meminta untuk tidak mengalihkan topik pembicaraan.
"Yah, aku lupa kau bukan anak-anak yang bisa dimintai pendapat semacam itu," kata Ciel. Sebastian masih menatapnya, menaikkan satu alis. Ciel menghela nafas. "Yah, kurasa kau agak tidak suka dibandingkan dengan Agni."
"Bukan," kata Sebastian. "Saya ingin bertanya, di mana letak perbedaan saya dengan Agni, sehingga saya bisa mempelajari cara untuk mendidik tiga Orang-orangan Sawah itu."
"Kalau menurutku, menurut yang kulihat, Agni berbicara pada mereka dengan halus dan lembut seakan mereka bisa saja rapuh dan menjadi serpihan tiba-tiba jika kau membentaknya, berbicara dari hati sehingga dia terlihat alami dan membuat bersamanya jadi aman. Mereka bertiga itu tipe orang yang akan luluh dengan pujian –aku baru tahu ketika Agni yang beri tahu. Jadi lewat pujian juga," kata Ciel.
"Jadi menurut Anda saya orangnya kasar, tidak tulus, tidak alami dan tidak pernah memuji?" tanya Sebastian.
"Yah, kau tahulah. Jika saja ada alasan untuk membantahnya, tapi memang itu kenyataannya kan. Bahkan ada batasan yang bisa dilakukan manusia dan…Makhluk Tak Berbentuk?" kata Ciel, agak berat untuk mengucapkan spesies Sebastian di depannya langsung.
Tanpa permisi, Sebastian langsung pergi dan meninggalkan tuan mudanya di ruang kerja.
"Dasar, butler itu makin tidak sopan."
.
Pagi harinya, Ciel tidak percaya kalau dia sudah bangkit dari ranjangnya yang empuk dan sedang berjalan di koridor menuju ruang makan. Apa yang dilihatnya tidak seperti nyata –bahkan sangat mengerikan untuk dijadikan mimpi.
Dia melihat Bard menyiapkan makan siang di dapur. Maylene menjemur pakaian-pakaian dan taplak meja. Di luar jendela, Finny menari-nari sambil menyiramkan pestisida. Mungkin Ciel singgah di Dunia-dengan-Segala-Kebalikannya saat mimpi. Mungkin juga mereka adalah alien.
"Anda terkejut?" tanya Sebastian dengan senyumnya. Sekarang Ciel tahu apa yang terjadi di dunianya.
"Kau menyihir mereka," tuduh Ciel.
Sebastian mengerutkan kening. "Bahkan para shinigami tidak bisa sihir. Apalagi saya."
"Sihir illegal."
"Berhentilah menuduh saya, Tuan Muda."
"Kalau begitu jelaskan!"
"Saya hanya melakukan apa yang kemarin Anda katakan."
"Kau kira aku akan percaya?"
"Tentu saja tidak."
"Lalu kenapa masih pakai alasan tidak masuk akal itu."
"Karena itu kenyataannya. Saya tidak akan pernah berbohong pada Anda."
Ciel kehabisan akal. Kemudian dia mendiamkan diri dan berjalan ke ruang makan untuk sarapan.
"Tuan Walker akan datang malam ini. Kami akan membicarakan tentang kerja sama yang akan kami buat. Tolong persiapkan segalanya dengan baik, Sebastian," kata Ciel.
"Baik," kata Sebastian.
.
"Selamat malam, Tuan Phantomhive," sapa Walker yang akhirnya tiba di mansion Phantomhive. "Anda makin tinggi sejak terakhir kali kita bertemu. Kira-kira tambah satu sentimeter."
"Terima kasih Anda memperhatikannya, saya sangat tersanjung, Tuan Green Walker," kata Ciel, yang sebenarnya dia sangat jengkel luar biasa. "Silahkan masuk."
Di dalam, Sebastian dengan tiga Figura Tambahan berdiri berjejer di dekat jalan masuk untuk menyambut tamu. Mereka bertiga membungkuk dan mempersilahkan tamu menuju ruang makan.
"Suatu kehormatan bisa diterima sebagai tamu di mansion Anda," kata Walker.
"Silahkan nikmati hidangan," kata Ciel ketika mereka duduk di meja makan.
"Bagaimana tawaran kerja sama yang saya tawarkan?" tanya Walker.
"Begini Mr. Walker…"
"Panggil Green saja."
"Baiklah, Green. Saya tidak bisa melihat di mana bisa terjalin kerja sama yang baik antara perusahaan mainan dengan perusahaan desain pakaian. Apakah hanya sebagai sponsor atau semacamnya?"
"Kita kan bisa membuat produk duet antara perusahaan kita, Bocah. Hihihi," ujar Green santai.
"Produk duet apa maksudnya? Dan, tolong jangan panggil saya bocah," ujar Ciel, kemudian melahap makanannya, menahan emosi.
"Aku hanya mengikuti gaya Ratu Victoria yang menyebutmu bocah."
"Anda kenal baik dengan Ratu?"
"Tidak. Hanya saja, bagian sang Ratu menyebut kepala keluarga Phantomhive sebagai 'Bocah' kan jadi topik hangat." Green tertawa garing dan kembali melanjutkan makan malamnya.
"Baiklah, jadi maksud Anda produk duet itu apa?"
"Bagaimana kalau kita membuat pakaian anak-anak dengan desain mainan kecil-kecil menghiasinya? Atau, kau membuat boneka yang manis dan perusahaanku membuat pakaian untuk boneka itu. Bagaimana?"
"Ide bagus," kata Ciel. "Oh, ya, ke mana butler Anda yang dulu."
"Sudah dipecat. Dia benar-benar butler yang tidak berguna."
"Pasti menyenangkan memiliki butler seperti Michaelis itu ya."
"Tidak juga. Dia sekarang semakin menjengkelkan. Susah mencari butler yang benar-benar mengabdi untuk tuannya."
"Aku setuju denganmu. Seperti samurai Jepang, benar-benar mengabdi seumur hidup."
"Apakah Anda akan pulang setelah kita menyelesaikan pembicaraan dan tanda tangan berkas?"
"Tentu saja."
"Hari sudah malam. Apakah tidak sebaiknya Anda menginap?"
"Suatu kehormatan bisa ditawari menginap. Tapi saya harus pulang. Saya akan senang apabila Anda mau berkunjung ke rumah saya."
Setelah menyelesaikan makan malam, mereka menuju ruang kerja Ciel dan mendiskusikannya kemudian menandatangani semacam berkas. Setelah semua beres dan Green Walker pulang dengan kereta kuda yang telah dipanggilkan Sebastian, Sebastian mendatangi tuannya di ruang kerja yang masih membaca.
"Apakah Anda benar-benar berpikir bahwa saya sudah berubah?" tanya Sebastian.
"Kurang lebih begitu," jawab Ciel. "Aku tidak akan tanyakan alasannya. Kau juga tidak usah tanyakan kenapa aku berpendapat kau sudah berubah."
"Saya memiliki solusi terbaik untuk masalah ini. Saya sudah lakukan yang terbaik belakangan ini, tapi Anda sudah tidak sesuai selera saya."
"Apa maksudmu?" tanya Ciel, akhirnya menatap lurus pada Sebastian.
"Kita batalkan saja kontrak ini. Anda bisa temukan butler yang lebih baik seperti Agni. Saya bisa mencari majikan yang sesuai selera saya. Itu maksud saya."
Ciel kaget. Bingung. Kesal. Marah. Dia hanya menatap Sebastian tanpa bisa memikirkan respon apa yang akan dia tunjukkan. Kaget? Bingung? Kesal? Marah?
+To Be Continued+
Selesai akhirnya, akhirnya selesai. Fiuuhh. Author numpang eksis nih. Ohohoho. Omong-omong, kayaknya chapter depan bakalan dimunculin OC lagi deh, selain author sendiri. Kekekeke. Mungkin bakal jadi shinigami, kan bosen kalo shinigami yang dipake William T. Spears, Grell 'banci' Sutcliffe, Ronald blablabla.
Jadi, yang ngereview dan ngerequest paling pertama bakal dipake namanya buat jadi OC shinigami chapter depan! Shinigami yang ditugasin William Spears buat menuntaskan masalah kontrak SebasxCiel. Itung-itung service buat pembaca lah. Hahaha. Tapi mungkin loh ya, saya nggak tahu bakal jadiin OC jadi apa. Mungkin jadi butler barunya Green Walker. Kekekeke.
Oke, kalo gitu review cepat-cepat tapi jangan cuma review yang satu baris doang ya. Kekekeke.
Oiya, ngomong-ngomong di zamannya Ciel microwave itu udah ada belum ya? Kalo belum, anggap aja alat pemanas makanan, entah di zamannya Ciel disebut apa. Hohoho.
Sampai jumpa di chapter depan.
