~ Glare.. Chapter 4 ~

Author POV

Suasana semakin mencekam. Semuanya berpencar. Sahabat Seohyun pun dibawa oleh Clay. Clay pun mengakalkan itu semua untuk memancing Seohyun agar Clay dapat membalaskan dendamnya. Sebenarnya, Seohyun tidak pernah berbuat salah pada Clay. Tapi Clay selalu ingin mencelakai Seohyun. Seohyun mengalami hilang ingatan, itu semua karena Clay dan Ibu tiri Seohyun.

FLASHBACK

Seorang yeoja dengan rambut panjang bergelombang berwarna cokelat tengah asik memilih bunga untuk seseorang, lebih tepatnya untuk sahabatnya. Setelah selesai, yeoja itu pun menyebrangi jalan dan tanpa diketahuinya 2 orang yeoja telah memperhatikan gerak-geriknya. 2 yeoja itu pun menjalankan misinya, yeoja yang berumur kurang lebih 35 tahun itu tengah bersiap untuk menjalankan mobilnya sedangkan yeoja yang berumur 13 tahun hanya menyiapkan sesuatu untuk membantu melancarkan misinya.

"Joohyun!"

Yeoja yang memegang bunga pun berbalik. Namanya Joohyun, lebih tepatnya Seo Joo Hyun.

"eoh? Soo Ri?" ucap Joohyun.

Baru saja Soo Ri melangkah satu langkah, sebuah truk bermuatan langsung menghantam tubuhnya. Truk itu oleng, dan Soo Ri pun tewas seketika.

"Soo Ri!" pekik Joohyun.

Joohyun pun tidak jadi menyebrang untuk menolong Soo Ri.

BUGH!

Joohyun jatuh seketika, kepalanya yang banyak mengeluarkan darah segar. 2 yeoja tadi hanya dapat tersenyum senang ketika tubuh Joohyun mengenai bamper mobilnya. Yeoja yang berumur 35 tahun pun turun dari mobil itu dan berpura-pura menolong Joohyun. Yah, di jalanan itu tidak ada 1 orang pun kecuali penjual bunga tadi.

"kenapa kalian menabrak yeoja manis ini huh?!" bentak sang penjual bunga pada yeoja yang berumur 35 tahun tadi.

"wae?"

Yeoja yang berumur 13 tahun pun turun dari mobil dan segera bersuara.

SRAT

Yeoja itu menusuk perut sang penjual bunga dengan bebas sehingga sang penjual bunga pun tewas seketika.

BUGH

"Yoo Ri!" pekik yeoja yang berumur 35 tahun ketika yeoja berumur 13 tahun tadi tewas seketika ditabrak oleh sebuah bis.

Semua penumpang bis itu pun keluar untuk melihat keadaan sang yeoja bernama Yoo Ri.

"ahjumma, apa dia anakmu?" tanya sang supir gelagapan. Bagaimana tidak? Dia yang mengendarai bis itu dan dia juga yang tak sengaja mengantuk sehingga menyebabkan satu orang tewas.

"dia.. dia anakku" jawab yeoja berumur 35 tahun.

"siapa namamu ahjumma?" tanya sang sopir.

"Park Shin Young"

"oh baiklah… begini, saya akan membiayai semuanya.. nama saya Xi Lu Fan" ucap sang sopir.

"tidak usah.. sepertinya dia telah tewas.. biarkan saja" ucap Shin Young sembari berpura-pura menangis sendu.

"tapi ahjumma—"

"tidak perlu"

"lalu… dia siapa?" tanya Lufan sembari menunjuk Joohyun yang terbaring di pinggir jalan dengan darah yang terus keluar dari kepalanya.

"dia.. calon anakku.." ucap Shin Young. Dihatinya dia tersenyum senang.

"bisakah kau antarkan dia ke rumah sakit terdekat? Aku ingin membawa kedua anakku dulu dan ini nomor teleponku" ucap Shin Young sembari menyerahkan sebuah kertas pada Lufan, dikertas tersebut tertera nomor telepon dirinya juga alamat rumahnya. Dia pun membopong Yoo Ri lalu Soo Ri kedalam mobilnya.

Lufan membawa Joohyun ke rumah sakit terdekat di Busan. Semua penumpang pun terpaksa harus berjalan kaki menuju tempat yang mereka tuju.

'ada telepon.. ada telepon..'

TET

Dia berhenti sebentar, padahal baru saja dia hendak mengendarai bisnya. Lufan pun mengangkat panggilan dari anaknya. Xi Lu Han yang berada di China.

"yeobseyo?"

"ayah? Ayah masih di Busan kah?"

"iya.. Lu, tolong siapkan peralatan medis yang biasa keluarga kita siapkan untuk penyelamatan!"

"Apa? Untuk apa?"

"ayah menemukan seorang gadis yang mengalami pendarahan di kepalanya.. cukup parah"

"ah~ baiklah ayah.. ayah sekarang ke China?"

"tentu!"

WUSS

Lufan pun menggunakan kekuatan teleportasinya untuk membawa Joohyun ke rumahnya. Sebenarnya, Lufan orang yang sangat kaya. Dia mempunyai kekuatan yang tak dimiliki oleh orang awam. Kekuatan ini sudah menjadi harta warisan, tapi setiap kekuatan yang berada di dalam diri saudara kerabatnya selalu berbeda-beda. Entah itu teleportasi, telepati seperti anaknya, pengatur waktu, membekukan sesuatu, mengeluarkan api, dan masih banyak lagi.

China 10 A.M. 2006

TUK TUK

Lufan mengetuk pintu rumahnya dan tidak ada satu pun yang membukakan pintunya. Lufan pun menunggu di luar rumahnya selama 5 menit.

CKREK

"ayah!" pekik anak Lufan. Dia hendak memeluk ayahnya tapi ketika dia melihat gadis kecil yang dibopong oleh ayahnya dia segera membantu ayahnya untuk membawa gadis kecil itu.

"dia siapa?" tanya anak Lufan yang membantu Lufan membawa Joohyun.

"ayah tidak tahu namanya, yang pasti dia adalah gadis Busan" ucap Lufan. Dia sibuk kesana kemari untuk mengambil peralatan yang belum tersedia untuk menyembuhkan Joohyun dengan caranya sendiri.

"lalu.. dia kenapa?" tanya Luhan.

"dia sepertinya tertabrak dan kepalanya membentur bamper mobil" jelas Lufan.

Luhan hanya mengangguk-angguk mengerti.

1 bulan kemudian…

"Luhan! Kembalikan syal itu padaku!" teriak seorang gadis cilik pada Luhan yang sedang berlari sembari mengibaskan sebuah kain berwarna biru muda ke langit.

"jika kau bisa, ambil saja! Bwee" ucap Luhan sembari menjulurkan lidahnya.

Sang gadis pun terus berlari mengejar Luhan. Luhan terus berlari menjauhi sang gadis sembari membawa syal milik sang gadis.

Lama-kelamaan, sang gadis pun menyerah. Dia berhenti sejenak.

"hash~ Luhan!" teriaknya meluapkan kekesalannya.

"kalau saja aku dapat mengambil syal itu dengan kekuatan seperti harry potter.." gumamnya sembari mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal.

Dan…

WUSS

"eoh?"

Gadis cilik itu kaget. Syal miliknya sudah berada di tangannya, Luhan yang melihat hal itu tampak sangat terperangah. Luhan pun berlari kecil ke arah sang gadis. Luhan melihat tangannya dan tangan sang gadis bergiliran.

"kau… memiliki kekuatan sepertiku Seohyun.." ucap Luhan pelan sembari melihat tangannya.

Seohyun hanya menatap Luhan heran.

"maksudmu? Kekuatan? Kekuatan seperti apa?" tanya Seohyun polos.

Luhan pun menatap Seohyun sembari tersenyum lalu menarik lengan Seohyun untuk menemui ayahnya.

"mau kemana kita?" tanya Seohyun panik.

"tenang saja.. aku akan memberitahu ayah tentang hal ini" ucap Luhan.

Seohyun hanya mengikuti Luhan.

"ayah!" panggil Luhan.

Lufan yang tengah asyik berlatih langsung terjatuh.

"ada apa, Han?" tanya Lufan.

"ayah.. ayah pasti tidak akan percaya!" ucap Luhan. Dia menyembunyikan tubuh Seohyun di belakang tubuhnya.

"tara!" seru Luhan sembari menunjukkan diri Seohyun.

Sang ayah hanya tertawa.

"kenapa ayah tertawa?" tanya Luhan polos.

"apa maksudmu? Ayah tahu bahwa itu Seohyun.. kau ini!" ucap Lufan sembari menahan tawanya.

"ish~ maksudku.. Seohyun mempunyai kekuatan seperti kita yah!" teriak Luhan.

Lufan berhenti tertawa. Dia menatap Luhan penuh selidik.

"bahkan lebih dari kita.. ayah tahu tidak? Tadi, aku dan Seohyun bermain.. Seohyun menggunakan syal miliknya saat bermain, dan aku menjahilinya dengan mengambil syal itu.. aku pun berlari untuk menghindar darinya, Seohyun mengejarku.. ketika sudah kelelahan, Seohyun berhenti.. lalu, ketika Seohyun berteriak namaku… syal miliknya yang berada di tanganku langsung berada di tangan Seohyun" jelas Luhan panjang lebar.

Lufan tertegun.

Tidak mungkin—batin Lufan.

"ayah! Bagus kan? Berarti di dunia ini bukan hanya keluarga kita yang memiliki kekuatan seperti itu.." ucap Luhan.

Lufan hanya diam. Dia menatap Seohyun.

Benarkah Seohyun mempunyai kekuatan?—batin Lufan sekali lagi.

Lufan terus berpikir keras. Mengapa bisa? Yang dia tahu, hanya keluarganya saja yang mempunyai kekuatan seperti itu.

"ayah! Bagaimana? Bukankah ini bagus?" ucap Luhan.

Lufan tersadar dari lamunannya lalu tersenyum lembut pada anaknya juga Seohyun.

"oh ya Seohyun-ah.. kau sudah baikan?" tanya Lufan.

"em.. sudah paman.. memangnya kenapa?" tanya Seohyun balik.

"bisakah kau bereskan barang-barangmu besok pagi.. lusa kau akan pulang ke Seoul" jelas Lufan.

Entah mengapa, Lufan merasa tidak tega memulangkan Seohyun ke Seoul. Padahal, Seohyun baru saja dikenalnya 1 bulan yang lalu.

"ayah! Mengapa begitu cepat? Aku tidak ingin Seohyun pergi!" tolak Luhan sembari menggenggam tangan Seohyun erat.

"Luhan.. aku kan harus bertemu ibu dan ayahku" ucap Seohyun.

"tidak bisa! Kau tidak boleh pergi! Tidak boleh!" ucap Luhan menekankan setiap kalimat yang dilontarkan dari bibir mungilnya.

"tap—"

"benar.. baiklah.. bagaimana kalau kau tinggal disini beberapa tahun lagi?" ucap Lufan.

Seohyun tertegun. Beberapa tahun lagi? Itu memang menyenangkan. Tapi, bagaimana dengan ibu dan ayahnya? Apa mereka tidak akan rindu pada Seohyun? Ah! Mereka pasti sangat rindu pada anak semata wayangnya ini.

"tapi paman.. aku rindu ibu dan ayahku.." ucap Seohyun.

"oh.. kalau begitu aku punya ide!" seru Luhan.

"apa itu?" tanya Lufan dan Seohyun bersamaan.

"kau pulang ke Seoul untuk melepas rasa rindumu.. nanti, ketika kau berumur 14 tahun.. aku akan menjemputmu" ucap Luhan dengan senyuman yang tak pernah lepas dari bibirnya.

"baiklah.. yaksok?" ucap Seohyun. Dia pun menampilkan jari kelingkingnya bermaksud untuk menautkan jarinya dengan jari milik Luhan.

"yaksok!" ucap Luhan. Mereka pun saling menautkan jari kelingking mereka.

"ya sudah.. kalian main lagi sana! Ayah sedang berlatih!" ucap Lufan.

"baiklah ayah.. maaf mengganggu ayah hehe.." ucap Luhan cengengesan. Luhan dan Seohyun pun bermain kembali.

"semoga tidak ada hal buruk yang akan terjadi pada Seohyun" gumam Lufan sembari memperhatikan Luhan dan Seohyun yang sedang asik bermain istana pasir.

FLASHBACK END

Luhan POV

BRUK

Aku membuka mataku. Bunyi apa itu? Seperti ada orang yang baru saja terjatuh.

"eungh.. kenapa.. ak—uwahh! K-kau?!" teriakku.

"tenanglah~ aku Glare bukan Clay.."

"ah.. aku kira.. mengapa kau membawaku?" tanyaku.

Aish! Kenapa kakiku dan tanganku sakit sekali?

"aku hanya ingin menyelamatkanmu.."

"oh.. lalu? Kenapa kau tidak menyelamatkan Seohyun juga Chanyeol?" tanyaku.

Perasaanku sepertinya tidak enak.

"kenapa yah.. ahahahah"

Benar saja! Dia Clay! Omona~

Aku menengok kanan kiri dan.. bawah! Aku melihat Glare tergelepak tak bertenaga. Dia sedikit mengerang kesakitan. Apa yang Clay lakukan?

"kau ingin tahu apa yang aku lakukan pada Glare? Kau ingin tahu? Akan aku beritahu!"

WUSS SRET

"aw~"

Aku terus meringis kesakitan hingga akhirnya, semua menjadi gelap kembali dan yang terakhir aku ingat hanyalah sebuah teriakan seseorang.

Baekhyun POV

Aku mencoba membuka mataku. Kenapa terasa sangat berat? Aku mencobanya kembali tapi tidak berhasil. Aish! Ayolah~ aku mencoba membuka mataku perlahan dan berhasil!

Aku melihat siluet seorang yeoja yang sedang berdiri membelakangiku. Aku mencoba melihat keadaan sekelilingku. Kemana Joonmyun?

"kau sudah sadarkan diri?"

Aku pun dapat membuka mataku dengan lebar dan aku hanya dapat diam. Itu bukankah itu eomma tiri Seohyun?

"bukankah seharusnya kau belajar di sekolah?" tanyanya lagi sembari menatapku tajam.

Aku hanya diam. Joonmyun! Dimana kau?

"kau mencari temanmu?"

"ya! Ahjumma, dimana Joon?!" teriakku. Aku begitu panik.

"tenanglah nak~ temanmu berada di tempat yang aman.."

"dimana dia?!" teriakku.

"kau ingin tahu? Kau benar-benar ingin tahu?"

Aku hanya mengangguk.

"bawa dia kemari!"

Omo~

"Joon!" pekikku.

Seluruh tubuhnya penuh dengan darah segar.

"Joon! Apa yang terjadi?" teriakku.

Aku tahu Joonmyun tidak akan menjawab karena dia tidak sadarkan diri.

"kalian.. mengapa kalian berbuat seperti ini huh?" teriakku.

"karena kau dan temanmu ini telah berani ikut campur urusanku!" ucap eomma tiri Seohyun di depan wajahku.

"aku mohon lepaskan kami.." ucapku.

"hh.. lepaskan? Aku tidak akan melepaskan kalian semua! Kalian semua sudah masuk ke dalam urusanku!" bentaknya. Dia pun kembali membelakangiku.

"tapi.. kenapa kau takut jika kau ketahuan huh?! Kenapa kau menyakiti Seohyun?" teriakku.

"kau.. karena Seohyun dan keluarganya telah merampas semuanya dariku! Pertama, ibu Seohyun sudah merebut namja yang telah aku cintai. Kedua, mereka berdua telah melahirkan Seohyun ke dunia ini dengan kekuatan yang tak dimiliki manusia biasa. Ketiga, Clay terbunuh karena Seohyun. Keempat, kalian semua membantu Seohyun. Dan ingat! Aku tidak takut dengan apapun!" ucapnya panjang lebar.

Aku hanya dapat diam kembali mencoba mencerna setiap kalimat yang dia ucapkan. Apa ini yang disebut balas dendam?

BRAK

Aku sontak melihat ke arah pintu ruangan ini. Sepertinya ini sebuah gudang.

I-itu.. itu! Itu ke 7 sahabat Seohyun! Cham! Tapi mereka hanya berenam, dimana Luhan?

"dimana anak satu itu?!" bentak eomma tiri Seohyun pada dua hantu? Aku baru menyadarinya, yang membawa ke 6 sahabat Seohyun itu adalah hantu.

"kami tidak tahu nyonya~"

"hh.. ayo kita cari dia! Letakkan mereka disana! Disamping namja itu!" ucap eomma tiri Seohyun sembari menunjukku.

"baik!"

BRUK

"Baekhyun! Man—omona~ Joonmyun?!" pekik ke 6 sahabat Seohyun.

"apa yang terjadi padanya?" tanya Kyungsoo padaku.

"aku tidak tahu.." jawabku lirih.

Seohyun POV

"Chan chan.. kita belum menemukan siapa pun.." ucapku lirih.

"tenanglah Hyun.. kita pasti akan menemukan mereka semua!"

"tap—"

"sht~ kau dengar sesuatu tidak?"

Aku pun mendengarkan suara seseorang, ah bukan! Itu suara 2 orang yang sedang berdebat.

"kau ini bodoh! Aku tahu dia adik yang manis, tapi kita harus mengikuti eomma!"

"aku tahu itu hyung.. tapi kita belum tahu permasalahannya dengan jelas.. bukankah begitu?"

"kau benar juga.. tapi jika kita menusuknya dari belakang, apakah tidak mungkin jika kita akan mati secara mengenaskan?"

GLEK

Suara itu.. kenapa mirip sekali dengan suara Chen oppa dan Xiumin oppa?

"Hyun.. kau kenal dengan suara itu?" bisik Chanyeol.

Aku hanya mengangguk.

"suara siapa?" bisiknya lagi.

"itu seperti suara Chen oppa dan Xiumin oppa" ucapku pelan.

"siapa mereka?"

"mereka oppa tiriku.."

"MWO?!"

Aku langsung membungkam mulut Chanyeol dengan telapak tanganku.

"bodoh!" ucapku pelan.

TAP

"kalian?" teriak Chen oppa.

"hai oppa.." sapaku. Dengan cepat aku pun melepaskan bungkaman tanganku pada mulut Chanyeol.

"kenapa kau ada disini? Bukankah ini jam sekolahmu?" tanya Xiumin oppa.

"oh itu.. ak-aku.. ah! Tadi aku terlambat masuk kelas jadi.. kita dihukum.. lalu, aku dan Chanyeol juga Baekhyun dan Joonmyun kabur.. begitu.." ucapku pelan.

"benarkah itu?" tanya Chen oppa. Dia menatapku tajam.

"itu benar hyung!" ucap Chanyeol.

"hh.. jika benar… mengapa tadi aku melihat Joonmyun penuh darah dan Baekhyun juga ke 6 sahabatmu disekap di gudang gedung tua yah?"

Chen oppa menampilkan smirk nya. Ini bukan dirinya! Tapi.. cham! Joonmyun penuh darah? Dan Baekhyun juga ke 6 sahabatku disekap? Cham! 6 sahabatku? Itu artinya.. Luhan? Dia dimana?

"apa kalian ingin bukti? Baiklah.. ini buktinya!"

"aaaaaaaaaaa!" teriakku.

Air mataku mengalir dengan deras. Aku menutup wajahku. Chanyeol memelukku erat sembari menggerutu.

Kenapa Chen oppa dan Xiumin oppa membunuh Joonmyun? Apa yang terjadi dengan mereka? Oh tuhan.. aku harap, kau membantuku untuk mencari tahu akar permasalahan yang aku hadapi ini..

Author POV

Some Place

"apa menurutmu ini saatnya kita menolong mereka?" tanya seorang namja dengan umur sekitar 40-an pada seorang namja dengan umur diatasnya yaitu sekitar 40 tahun lebih.

"ya.. ini saatnya.. mereka sangat membutuhkan bantuan kita.. aku harap, mereka semua tidak kaget dengan kedatangan kita.." ucap namja dengan umur sekitar 40 tahun lebih itu.

"baiklah.. jadi, kapan kita berangkat Lufan?" tanya seorang yeoja dengan umur 38-an pada namja yang berumur sekitar 40 tahun lebih itu.

"kita berangkat sekarang" ucap Lufan.

"tunggu kami semua nak~" ucap Lufan pelan.

Semuanya pun menghilang dengan kekuatan teleportasinya.

Back to Seohyun side [Author POV]

"apa yang oppa lakukan pada Joonmyun, Baekhyun dan ke 6 sahabatku?!" bentak Seohyun pada Chen dan Xiumin.

"menurutmu.. apa yang sudah kami lakukan pada mereka semua hm.." ucap Chen sinis. Sebenarnya, di dalam hatinya dia merasa tidak enak harus seperti ini. Tapi, bagaimanapun caranya dia tidak ingin mati mengenaskan.

"oppa.. hiks.. ini bukan oppa yang aku kenal.." ucap Seohyun lirih.

DEG!

Xiumin merasa hatinya tersakiti. Apa Seohyun sudah sangat menyayangi 2 orang namja yang melakukan kejahatan di belakangnya? Apakah Seohyun benar-benar seperti itu? Oh tuhan.. jika benar, Xiumin ingin sekali mengakhiri semua ini dan memberhentikan sikap hyungnya yang begitu tega membentak Seohyun. Perlu kalian ketahui, pisau yang dipegang oleh Xiumin juga Chen bukanlah alat untuk menyakiti Joonmyun. Pisau itu hanya bekas saja. Mereka tidak menyakiti Joonmyun. Yang menyakiti Joonmyun itu orangtua mereka beserta para hantu kesayangannya yang jahat itu.

"Hyun~" panggil Xiumin pelan.

Chen menatap Xiumin tajam. Xiumin mendekat ke arah Seohyun.

"tunggu! Hyung mau melakukan apa pada Seohyun?!" panik Chanyeol.

"aku.. aku minta maaf.." ucap Xiumin sembari berlutut.

Seohyun hanya melongo. Ini oppa nya!

"Xiu! Apa yang kau lakukan huh?!" bentak Chen.

"hyung! Sadarlah hyung! Dia itu bukan ibu kita hyung!" teriak Xiumin sembari terisak. Seohyun ingin sekali memeluk Xiumin tapi dia takut akan ada bahaya yang terjadi padanya.

"apa maksudmu?" tanya Chen mengangkat satu alisnya.

"aku tidak sengaja memasuki kamar eomma.. dan aku menemukan sebuah berkas yang menyatakan bahwa eomma belum pernah menikah.. dan.. aku melihat sekeliling kamarnya.. disana banyak terpajang foto orang.. dan… semua foto itu dicoret dengan darah"

GLEK

Chanyeol, Seohyun dan Chen menelan ludah mereka.

"dan aku menemukan seseorang yang mirip dengan Luhan belum dicoret lalu.. foto kita semua ditulis 'the next'" jelas Xiumin.

"MWO?! Kau tidak bohong?" tanya Chen.

"aku tidak bohong hyung.. bukankah nenek sihir itu selalu melarang kita masuk ke kamarnya" ucap Xiumin.

Chen dan Seohyun hanya mengangguk-anggukan kepala mereka.

"kalau begitu.. aku juga minta maaf padamu adik kecilku" ucap Chen sembari memeluk Seohyun.

"aku sudah memaafkan oppa…" ucap Seohyun.

"tapi.."

Seohyun melepaskan pelukan Chen.

"apa kalian benar-benar membunuh Joonmyun?" tanya Seohyun.

"kami tidak membunuhnya.. eomma dan hantu pembantunya yang melukai Joonmyun.. Joonmyun tidak dibunuh.." jelas Chen.

"ah~ kalau begitu.. ayo kita selamatkan mereka!" ucap Chanyeol.

"tunggu Chan chan.. aku penasaran dengan foto yang disebut oleh Xiumin oppa" ucap Seohyun.

"maksudmu.. foto yang mirip dengan Luhan?" tanya Xiumin.

"ne! apa lebih baik kita ke kamar psycho itu?" ucap Seohyun.

Semuanya berusaha untuk berpikir jernih tapi, sungguh hal itu sulit. Mereka berpikir negatif karena yeoja psycho itu benar-benar kejam! Bagaimana kalau mereka menjadi korban selanjutnya dengan jangka yang tidak sesuai dengan jadwal yeoja psycho itu? Oh god!

"baiklah.. kita harus cari tahu kelemahan yeoja psycho itu!" ucap Chen.

"baiklah! Kajja!" seru mereka berempat serempak.

Mereka pun pergi ke rumah Seohyun. Beruntung, ini bukan pukul 12 siang.

Care University 10 A.M.

"hei! Kenapa sekolah ini jadi dihilangkan huruf S di depannya?" ucap seorang yeoja berumur 38-an.

"aku juga tidak mengerti semua ini Jihyun~ sepertinya.. mereka semua sudah keterlaluan.." ucap Lufan.

Dengan cepat, mereka pun memasuki koridor sekolah.

TBC