CHAPTER IV
"WAITING"
Hari ini adalah hari yang sempurna untukku memulai hal-hal yang menyenangkan: dari meniupkan angin dingin, membekukan jendela-jendela kaca, terutama membuat anak-anak bermain perang salju─salah satu permainan andalanku yang mampu menarik perhatian mereka meskipun tidak satupun yang menyadari bahwa akulah yang memeriahkannya. Akan tetapi disinilah aku sekarang, duduk di depan meja panjang─dengan tongkat kayuku tepat disampingku─yang melimpahnya berbagai macam makanan. Mulai dari kue kering, cokelat beraroma cengkeh tersusun cantik disetiap sisi meja membentuk gunungan, beberapa pie buah yang baru dari panggangan tampak mengeluarkan uap panas yang mengepul-ngepul, berbagai macam buah-buahan yang ditata rapi diantara ayam panggang utuh dan sayur yang menghiasi disetiap sisinya mendominasi di tengah-tengah meja, sosis asap yang tampak mengkilap setelah dibakar menggunakan kayu menimbulkan aroma khas, dan banyak lagi yang lain-lain didua meja yang berada dibelakangku─terlalu banyak aku rasa, yang tidak mungkin aku sebutkan satu-persatu.
Tidak jauh dari meja yang aku tempati, terdapat api unggun yang berkobar terang, memercikkan bunga api, asap, dan lidah-lidah api. Di atas yang membakar tumpukan kayu terdapat panci hangus besar berisi cairan hitam kental dengan sebatang kulit kayu kecil yang menggulung tampak berbaur didalamnya. Uap yang mengepul dari panci besar itu memenuhi udara dengan wangi khas kopi dan kayu manis: wangi harum yang tajam dan terasa begitu berkelas. Semua orang tahu kalau kopi merupakan minuman mewah dengan kualitas terbaik yang biasa dikomsumsi oleh orang kaya, para seniman ternama, dan para maestro-maestro yang telah menulis buku-buku pengetahuan─harganya pun sama dengan sebatang emas. Hanya saja aku tidak mengerti, dari mana Desa Burgess yang kecil dengan penduduknya mayoritas bermata pencarian menebang kayu, petani, dan peternak itu dapat membeli kopi dan rempah-rempah seperti cengkeh dan kayu manis sebanyak itu, tentu memerlukan uang yang tidak sedikit.
Mengherankan menurutku, sebab mereka pun memiliki bertong-tong brendi yang berlabel V.S (Very Special, brendi yang disimpan di dalam tong kayu selama tiga tahun) dan empat tong brendi dengan label Hors D'age (Brendi yang disimpan di dalam tong kayu selama sepuluh tahun lebih) tampak tersusun rapi didekat pohon ek tidak jauh dari api unggun. Setahun lebih aku disini, tapi baru sekarang aku tahu kalau mereka memiliki semua itu. Aku tahu semua penduduk desa adalah orang-orang yang pekerja keras, tampaknya mereka menyisihkan uang untuk acara-acara tertentu. Menyiapkan pesta dengan hidangan mewah, sepertinya yang akan datang bukan orang biasa.
Ya, siapapun dia aku akan menunggunya disini sambil makan roti kering cokelat dan kopi panas yang manis-pahit karena rebusan yang dipadu dengan kayu manis. Aku terlanjur jatuh cinta pada wangi harum khas dari cairan hitam kental ini ketika Lagus mengajakku ke Pulau Maluku untuk menemui teman lamanya─Dewi Sri, Spirit of Harvest. Pertama kali aku mencobanya rasanya pahit dan berbubuk sebelum dipadu dengan kayu manis, seketika saja melapisi langit-langit mulutku yang terasa seperti kue kering yang hangus. Akan tetapi wangi khasnya mamanjakan indra penciumanku ketika aku meminumnya. Setelahnya Dewi Sri memberikan potongan kecil kayu manis untuk dimasukkan ke dalam kopi milikku hingga menimbulkan aroma terapi yang menyebarkan keamanan dan kenyamanan. Saat itulah untuk pertama kalinya kegelisahanku yang tertahan─karena kegagalanku dalam menarik perhatian anak-anak─seketika menguap setiap kali aku menghirup aroma kopi yang beradu manisnya kayu manis.
Aku tidak percaya Lagus menyadari kegelisahanku, padahal aku yakin tidak ada yang menyadarinya. Beralasan ingin bertemu teman lama, padahal ia ingin mempertemukanku dengan Dewi Sri sebagai pasien yang harus diobati dan tanpa sadar aku melakukan terapi santai dengan berjalan-jalan sambil menikmati kopi. Dewi Sri memancarkan aura yang nyaman sehingga semua yang berada didekatnya merasakan kedamaian, selain parasnya yang cantik dengan tubuh tinggi ramping, sinar mata cokelat keemasannya memancarkan kecerdasan dan kekuatan.
Ngomong-ngomong, setengah jam yang lalu seharusnya aku sudah mengetahui si dia yang dimaksud oleh si gadis kecil. Tapi ternyata gadis kecil yang bernama Giselle itu rupanya berbohong pada gadis kecil bersurai cokelat pekat itu.
"Apa!? Kamu bilang keretanya sudah ada di ujung jalan!" ujarnya meninggi dan wajahnya memerah karena amarah.
"Aku bohong," tutur Giselle santai, "soalnya aku tidak mau repot-repot kalau nanti disuruh mencari-carimu! Tahu 'kan kamu selalu lupa waktu jika sudah di danau kecil itu, kamu selalu begitu, Putri Kecil," seburat senyum manis timbul di wajahnya yang bulat.
"Huh! Untuk acara sepenting ini tidak mungkin aku lupa waktu," kesalnya sembari menggembungkan pipinya.
"Aye, akan aku catat itu," balas Giselle tertawa geli.
Oh, Putri Kecil? Ya, itulah nama panggilan yang digunakan oleh penduduk desa untuk gadis kecil itu. Gadis periang yang manis dengan senyuman selalu menghiasi wajahnya. Putri Kecil, aku tidak tahu kenapa semua orang memanggilnya begitu, hanya saja suatu kekuatan terpancar dari bola matanya yang bening. Yah, itulah sedikitnya yang aku rasakan darinya, terkadang ia bahkan terlihat lebih dewasa dari yang lain dan itu selalu menarik perhatianku.
«—»
Hmm, dua jam telah lewat, tapi yang ditunggu belum datang juga. Roti kering dan kopiku telah habis aku lahap dan ini yang ketiga kalinya kau mengambil roti-roti itu dan kopi yang aku tuangkan ke dalam cangkir kayu. Aku bosan dan semua orang mondar-mandir dihadapanku. Gadis-gadis kecil dan para gadis remaja tampak memasang untaian kain merah untuk menghiasi tiang yang merentangkan kain bertuliskan "Selamat Datang Kembali"─haah… si Putri Kecil dan Giselle tampak dikerumunan itu. Sedangkan para pria, tua, dan remaja sedang mendirikan obor dengan tinggi sekitar satu meter di setiap sudut desa dan anak laki-laki terlihat menyusun kudapan-kudapan cokelat di atas meja. Wajah mereka tampak tergiur dengan kudapan-kudapan yang menebarkan aroma cokelat itu, namun tidak ada yang berani menyentuhnya barang sebutir pun karena takut dengan Mrs. Landy─satu-satunya yang memiliki toko roti di desa. Semua buatan rotinya sangat enak, aku sendiri tidak tahan untuk tidak mencicipinya.
"Hey, Jack…" sapa seseorang yang menyentakku dari rasa bosan. Dengan segera aku menengadah ke arah asal suara.
"Surt, Maple, apa yang kalian lakukan disini?" tanyaku kaget dengan kedatangan mereka.
"Mengunjungimu tentunya," jawab Surt sambil melayang mendekatiku bersama Maple.
Surt, laki-laki berambut tegak dengan warna merah gelap berpadu dengan cokelat tanah yang memiliki mata beririskan biru dan jingga itu adalah Spirit of Summer. Tubuhnya tinggi semampai─satu kepala dariku, sorot matanya tajam seperti elang dengan senyuman tipis selalu menghiasi wajahnya yang berseri kemerahan. Memakai kemeja panjang putih dengan stelan rompi hitam berekor yang dipadupadanankan dengan celana hitam dan sepatu kulit yang berwarna senada. Tampan dan elegan, dan juga populer dikalangan gadis-gadis diluar sana. Surt sangat dihargai karena garis keturunan murni spirit purba, ia sering jadi perbincangan dan ramah disetiap kesempatan, aura kuatnya yang melegenda itu hampir membuat semuanya segan padanya tidak hanya alasan dari garis keturunan saja, tapi juga tatapannya yang tajam dan aura yang kuat. Bahkan ada yang segan menyapanya hanya karena itu, tapi aku rasa mereka terlalu pemalu, maksudku para gadis yang ingin menarik perhatiannya. Padahal kalau mereka mengetahui, Surt itu pria yang baik.
Sedangkan Maple, laki-laki yang parasnya yang tidak menyerupai aku dan Surt yang lebih mirip manusia ini, ia tidak memiliki hidung dan mulut bahkan telinga, namun mampu menggemakan suara dan mendengar adalah Spirit of Autumn. Matanya yang oval tajam mendatar itu berwarna hijau berpadu dengan kilauan jingga, memiliki tubuh seperti manusia dangan kedua tangan dan kaki, juga dengan kesepuluh jari tangan dan jari kaki─dengan warna jingga kekuningan. Tubuhnya pun lebih ramping dari sebatang pohon pinang (diameter lima belas centimeter/lebih) yang pernah aku lihat di Pulau Maluku. Ia tidak memiliki rambut seperti halnya aku dan Surt, namun memiliki beberapa helai daun besar berwarna hijau berpaduan jingga yang menutupi dahi, sisi kepala, dan belakang kepalanya yang menjulang sampai di atas tengkuknya secara berlampis-lampis─sifatnya ramah dan sopan, tutur bicaranya juga lembut dan baik, sangat berbeda dengan Surt yang terkesan lembut namun tegas.
"Raut wajahmu terlihat bosan, Jack. Aneh sekali melihatmu dengan wajah seperti itu mengingat kau selalu bersenang-senang disepanjang waktu yang selalu dihiasi senyum lebar dengan barisan gigi seputih salju diiringi dengan suara tawa, ya tentu saja, yang mampu melelehkan para gadis-gadis seperti es yang mencair," tutur Surt tersenyum penuh arti sembari bersedekap sementara salah satu tangannya menggamit dagunya. Ia memiringkan kepalanya kesatu sisi memandangku dengan satu alisnya tampak naik─seolah menilai diriku.
Aku menggelengkan kepala sembari memutar bola mataku, ini dia sifat Surt yang terkadang tidak pernah ia tunjukkan di depan kerumunan, "Tidak hari ini, Teman." Menggoda dengan halus, oh, mirip sekali denganku.
Dengan santai aku memandanginya tidak berminat untuk merespon godaan halusnya sambil menyesap kopiku dengan nikmat. Aku tahu maksud godaannya itu yang bermakna, tampang bosanmu membuat wajahmu terlihat konyol, Jack, tersenyum dan tertawalah untuk melelehkan para gadis. Memangnya kau sendiri tidak membuat para gadis meleleh? Dengusku pelan. Oh ya ampun, memangnya aku ini pria penggoda kelas kakap yang tebar pesona, menggelikan!
Pertama kali aku bertemu dengan Surt dua musim yang lalu dimana ia mengganti musim semi menuju musim panas di Desa Burgess, ia menyapaku dengan sindiran halus ketika saat itu aku sedang bersantai di bawah pohon oak yang rindang dengan semilir angin yang hangat. Menyebalkan adalah kesan pertamaku untuknya.
"Kamu tidak bermain bersama anak-anak seperti biasanya, Jack?" tanya Maple─tampak mengapung di atas tanah di samping Surt.
Terkadang ia tidak menampakkan kaki-kaki rampingnya di atas tanah, mungkin tubuhnya seringan daun. Pertemuanku dengannya bisa ditebak, tentu satu musim yang lalu sebelum musim dingin, dipenghujung musimnya adalah bagianku─ketika penggantian musim tidak jauh berbeda dengan Surt. Kesan pertamaku padanya adalah menyenangkan dan ramah, ia sesosok figur seorang kakak laki-laki bagiku. Anehnya, entah kenapa aku pernah merasakan perasaan aneh yang timbul entah dari mana, sama halnya ketika aku bertemu dengan Lagus yang menimbulkan rasa rindu kepada sesuatu. Terkadang hal itu membingungkanku.
"Mereka sedang sibuk disana-sini," tunjukku pada anak-anak yang berkerumunan dibeberapa titik dengan tanganku yang memegang cangkir kayu.
"Wah, akan ada pesta, ya," Surt memperhatikan setiap jengkal di alun-alun.
"Pesta penyambutan tepatnya," jelasku pada Surt yang meraih kue kering milikku di mangkuk kayu dihadapanku, kemudian ia duduk disampingku membelakangi meja seraya mencelupkan roti itu ke kopi milikku.
"Hm, orang penting ya?" terkanya ketika ia selasai menelan roti dengan sekali suapan, "banyak hidangan mewah."
"Ya sepertinya begitu," jawabku singkat ketika meraih roti keringku dan mencelupkannya ke kopi, ingin tahu seperti apa rasanya, Surt tampak nikmat memakannya.
"Apakah itu yang membuatmu terlihat bosan? Karena anak-anak sibuk membantu dalam mempersiapkan pesta ini," ujar Maple yang tertawa cekikikan melihat kerumunan anak laki-laki yang berusaha memakan kudapan cokelat ketika Mrs. Landy sibuk ditungku pembakaran di tokonya, namun mereka ketahuan ketika seorang gadis remaja yang kebetulan lewat sembari membawa kain merah.
"Tidak, aku sedang bersenang-senang tidakkah kamu melihatnya," ujarku meraih tongkat kayuku disisi sampingku yang lain.
Aku mengayunkan tongkatku untuk menciptakan angin dingin yang berhembus disekitar alun-alun itu hanya untuk mengagetkan mereka semua, sementara aku menjajalkan rotiku dengan celupan kopi ke mulutku dengan satu suapan. Manisnya kayu manis bercampur dengan roti membentuk lelehan bubur roti yang lezat menebarkan keharuman aroma kopi dan cengkeh seiring setiap kunyahanku. Benar-benar enak! Sesaat kemudian, suara riuh suara-suara yang mengeluh kedinginan terdengar disetiap sudut desa, seperti musik ditelingaku, puas dengan kejahilan kecilku. Namun ditengah-tengah aku menikmati kepuasan itu, terdengar suara jeritan para gadis remaja dan wanita yang berusaha menahan rok mereka dengan tangan yang tersingkap karena hembusan angin dinginku.
Aku langsung melongo sembari menelan rotiku yang tiba-tiba terasa hambar. Seketika aku merasakan tatapan mata yang menuntut penjelasan mengenai perbuatanku yang melenceng dari tujuanku semula. Aku tidak berani memandang kedua orang itu. Sekarang mereka pasti salah paham denganku dan berpikir yang aneh-aneh tentangku. Tidaaaak… aku bukan pria seperti itu! Aku memang jahil tapi tidak sampai melakukan hal yang tidak senonoh.
"Ngg… Jack," suara Maple yang biasanya rendah dan lembut entah kenapa terdengar seperti dentuman batu besar yang menimpa kesadaran dan seketika meledakan jantungku, kaget bercampur dengan rasa takut mengerogoti setiap lapis kulitku.
"Ya ampun," nada suara Surt terdengar sakarsme dengan desahan tawa kecil yang mengiringinya, "maksudmu bersenang-senang itu dengan menyingkap…"
"Tidaaak…" bantahku meninggi dengan seketika aku mempelototinya, "aku bukan pria yang tidak senonoh seperti itu!" tegasku memberikan penjelasan dan memaksa Surt menerimanya dengan mengancungkan tongkat kayuku yang melengkung itu tepat di ujung cuping hidungnya. Aku tidak peduli ketika melihatnya mundur menjauhi jangkauan tongkatku dengan mata terbelalak kaget menatap ujung tongkat kebangganku ini yang mengancam dengan sedikit percikan sihir bekuku.
"Wouu… tenanglah, Temanku, percikan sihir bekumu itu bisa membekukan hidungku dan itu tidak bagus," Surt menjauhkan hidungnya dari ujung tongkatku dan menurunkannya dengan pelan menggunakan jari telunjuknya.
"Aku hanya bermaksud mengagetkan mereka, tidak lebih," jelasku lagi tidak menduga akan hasil perbuatanku yang kelewatan, kembali aku menjejalkan tongkat kayuku disampingku dengan menggerutu bercampur rasa malu yang berusaha aku tutupi.
"Oke, kamu menyakinkan kami, Teman," ujar Surt memandangi Maple, "lalu apa yang membuatmu tetap disini menikmati secangkir kopi dan roti kering? Tidak seperti dirimu yang selalu mencari kesenangan dimana saja."
"Aku penasaran dengan orang yang akan disambut di pesta ini. Belum pernah aku melihat hidangan mewah ini di pesta-pesta di desa, semua orang membicarakannya seperti orang yang telah melakukan jasa besar pada desa ini," jawabku menggigit roti kering yang langsung meleleh begitu mencapai mulutku dan sisanya kembali aku celupkan ke kopi kemudian memakannya. Aku mulai menyukainya! Aku berterimakasih pada Surt yang telah menunjukkan cara menikmati roti dan kopi ini secara bersamaan.
"Wah, saya jadi ingin tahu siapa orang itu," Maple tampak semangat dari sebelumnya.
"Sebenarnya kami ingin mengajak Bunny untuk mengunjungimu, mengingat kita adalah Spirit of Four Season. Tapi ia menolak karena sibuk dengan datangnya musim semi di Australia disamping ia juga disibukkan untuk mempersiapkan benih-benih bunga telur paskahnya. Meskipun alasan sebenarnya, yah kau tahulah, kau memberikan kesan buruk karena menjahilinya terus," Surt mengeleng-gelengkan kepala atas perbuatan Jack kepada Bunny.
"Tidak masalah bagiku kalau ia tidak datang. Aku tidak mengharapkan apapun darinya. Lagi pula ia seorang Guardian, punya tanggung jawab besar terhadap anak-anak. Aku menyukai diriku apa adanya, melihatnya marah-marah tidak karuan itu sangat menyenangkan, hahaha…" tuturku tertawa menyembunyikan perasaan kagumku, mengingat kembali betapa hebatnya jabatan Guardian dengan tanggung jawab besar itu; juga perasaan miris bahwa Kelinci Paskah pemarah itu memiliki kepercayaan dari anak-anak. Walaupun aku tidak yakin dapat menyembunyikan perasaan menyesakkan ini dari kedua teman baikku karena tidak ada tanggapan dari mereka berdua.
Hening, tidak ada lagi pembicaraan lagi diantara kami. Roti yang sebelumnya aku nikmati terasa hambar dan aroma kopi pun tidak menggugah seleraku. Suasananya jadi tidak enak begini, padahal mereka berdua jauh-jauh datang mengunjungiku, tapi aku malah mengacaukannya. Satu pukulan pelan dilancarkan ke punggungku dan membuatku sedikit tersontak. Surt tersenyum dengan matanya yang teduh tampak menghiburku─Maple juga begitu. Aku tertawa berdegus membalas senyuman mereka. Benar 'kan aku tidak bisa mengelabuhi dua orang ini.
"Ayo, bergegaslah semuanya!" teriak seorang pria setengah baya di ujung alun-alun didekat tiang yang dihiasi para gadis-gadis. Nafasnya tersengal-sengal, keringat dingin mencucur dari wajahnya. Sepertinya ia berlari dari ujung jalan desa yang jauhnya sekitar lima ratus meter─disepanjang jalannya ditumbuhi pohon-pohon pinus dan ek yang rimbun. Semua orang memandang kearahnya dengan wajah tegang, "mereka telah sampai dan kereta kudanya sudah diujung jalan menuju kemari!" teriaknya lagi dengan sisa tenaganya.
"Benarkah?" tanya seorang laki-laki kecil dengan wajah memerah di ujung hidung dan kedua pipinya akibat udara yang dingin, jambangnya dipenuhi uban. Ia mendekati pria paruh baya itu dengan berlari kecil. Ia memakai topi tinggi dengan setelan jas hitam.
"Iya Mr. Thomas, hah… hah, apakah saya terlihat berbohong?" ujarnya ditengah engahnya yang sesak dan lunglai kehabisan nafas.
"Kenapa Anda tidak mengendarai kuda? Tapi malah menggunakan kaki," Mr. Thomas tertawa geli melihat pria dihadapannya itu, ia mengusap-ngusap punggung si pria untuk menenangkannya.
"Miss Jeany memerintahkan segera melapor dengan kesenangan yang histeris, saya jadi kelabakan dan langsung berlari kesini, lupa… hahhah… lupa membawa kuda saya dan tertinggal disana, Mister," ujarnya sembari memegang dadanya yang terasa mau meledak. Mr. Thomas hanya mengeleng-gelengkan kepala tidak percaya.
Aku tersenyum melihat pria yang berbicara dengan Kepala Desa, Mr. Thomas, ia adalah George Carter pria berhidung mancung panjang dengan matanya yang sipit, berjenggot tipis, dan berambut pirang mengkilap adalah pria ramah, namun selalu gugup berlebihan. Sebenarnya apa yang ia gugupkan, aku tidak tahu. Tapi aku sering membuatnya tergelincir di atas es yang aku bekukan, hahaha… mengganggu orang itu menyenangkan. Tapi aku juga merasa kasihan dengannya, paling tidak ia mendapat perhatian dari Miss Jeany anak kepala desa yang ia sukai karena sering aku buat tergelincir di depan wanita itu. Ooh jahatnya aku, ia pasti malu. Aku terkikik mengingatnya, berlebihan, tapi secara tidak sengaja berhasil membuat hubungan mereka lancar. Sepertinya aku makcomblang yang sukses, hehehe.
"Ayo semuanya kita tidak punya cukup waktu lagi," kata Mr. Thomas kepada warganya yang tampak berlarian dengan tergesa-gesa membereskan semua yang belum rapi.
Si Putri Kecil dan Giselle bergegas memasang dan merapikan untaian kain warna-warni bersama teman-temannya yang lain. Pria dan remaja lelaki dengan sigap bergotong royong membantu teman-temannya yang belum menyelesaikan menanam obor. Para wanita dengan tanggap menyusun gelas-gelas kaleng untuk brendi dan cangkir-cangkir kayu untuk kopi di atas meja. Semuanya mondar-mandir lebih gesit dari sebelumnya dihadapanku, sepertinya rasa penasaranku akan terbayarkan setelah dua jam aku menunggu kedatangan orang penting itu.
«—»
Semua penduduk desa dengan memasang wajah bahagia atas kedatangan tamu istimewa itu, berkerumun di depan alun-alun yang telah dihiasi kain warna-warni. Anak laki-laki memakai stelan jas dengan mantel kecil; lalu celana panjang dan sepatu, dan anak-anak perempuan memakai terusan yang cantik berwarna-warni dengan pita menghiasi surai mereka. Pakaian mereka beragam dengan nuansa gelap, berbaris rapi untuk menyambut sang tamu. Mr. Thomas berdiri paling depan bersama George, asistennya. Semua dengan tegang menunggu kereta kuda datang.
Aku, Surt, dan Maple duduk disalah satu atap rumah untuk memperhatikannya dengan jelas dari atas. Dari ujung penglihatanku di atas atap, sebuah kereta kuda tampak mendekat, kareta kuda yang terbuat dari kayu mahoni berwarna merah teh itu dihiasi dengan liukan motif berwarna perak yang mengkilap di bawah sinar matahari. Di atas kereta kuda tersusun koper-koper dan kotak-kotak kayu dengan rapi diikat oleh balutan tali yang ketat.
Pintu kereta kuda itu tepat berhenti dihadapan Mr. Thomas. Ketika pintu kereta itu terbuka yang keluar adalah bocah laki-laki bersurai pendek berwarna cokelat kehitaman dengan bola mata beririskan warna hazel yang tampak bersinar. Memakai stelan rompi cokelat dengan kemeja lengan panjang putih, celana cokelat panjang menutupi tumitnya menyisakan ujung sepatu kulit yang berwarna senada, terlihat mengkilap. Sehelai mantel berbulu putih menggantung dengan cantik disalah satu lengan kecilnya. Senyuman lebarnya merekah dari wajah rupawannya yang polos begitu ia menyapa Mr. Thomas dengan ramah.
"Steven!" si Putri Kecil menghamburkan dirinya ke arah bocah itu dan memeluknya dengan erat.
"Hey, Putri Kecil, kamu begitu merindukanku, ya, sampai menghamburkan diri padaku begini," ucapnya dengan senyum merekah membalas pelukan si Putri Kecil.
Aku tertawa berdengus melihatnya, "Yang ditunggu itu seorang anak kecil?"
"Tampaknya masih ada orang di dalam kereta itu, Jack," kata Maple yang duduk melayang sambil bersimpuh di sampingku.
Seperti yang dikatakan Maple, satu orang lain turun dari kereta. Seorang wanita tua memakai topi lebar nila dengan hiasan bulu-bulu angsa yang lembut, tersenyum ke arah Mr. Thomas. Wajahnya tirus dengan sedikit garis halus, iris matanya hijau, anting mutiara tersemat dipangkal cuping telinganya, dan mantel berbulu abu-abu melingkari lehernya. Sinar matanya teduh ketika menyapa Putri kecil dan anak-anak yang mengerumuni Steven.
"Selamat datang Duchess Amerling Edward," sapa Mr. Thomas sopan.
Wanita tua itu tertawa kecil menanggapi sapaan Mr. Thomas, "Panggil saja dengan madam, Mr. Thomas, kita tidak berada di Inggris, tapi Amerika, Anda lupa ya."
"Baiklah, Madam Edward," kata Mr. Thomas tersipu malu dengan kerendahan hati wanita itu, "tapi saya tidak menyangka kalau Lord Steven Lincoln juga datang mendamping Lady Emilia Lincoln."
"Steven, Mr. Thomas, jangan pakai lord seperti kata nenek, kita sekarang ada di Amerika," ucap Steven dengan lembut dan ramah, dan entah kenapa sikapnya itu hampir mengingatkanku pada Surt yang elegan dan terkendali.
"Iya, tapi nanti Anda akan menjadi Earl Lincoln yang menggantikan ayah Anda," ucap Mr. Thomas dengan senyuman yang mengambang.
"Meskipun begitu, anda harus memanggilku Steven karena aku belum mewarisi gelar itu, Mr. Thomas, lord sangat formal," balas Steven lembut.
Ya ampun! Duchess, Earl, Lady, dan Lord itu adalah gelar dan panggilan untuk para bangsawan inggris. Aku tidak menyangka para bangsawan itu datang berkunjung ke Desa Burgess yang kecil ini, pantas saja sambutannya sangat meriah. Sepertinya ini bukan yang pertama kalinya mereka datang ke desa ini.
"Maafkan Mr. Thomas, kami telah merepotkan Anda," Madam Edward tampak memancarkan kesedihan dari wajah tuanya, "terutama Anda nantinya Mrs. Overland," ia berpaling pada wanita paruh baya yang berdiri di belakang Putri Kecil dan Steven.
Wanita itu bersurai pendek warna cokelat tanah, begitu pun matanya yang indah. Ia mengenakan gaun hijau gelap yang sederhana dengan selendang dengan warna senada melilit dilengannya. Berdiri tegap dengan kedua tangan mengatup di depan perutnya. Ia tersenyum lembut meneduhkan.
"Saya sama sekali tidak direpotkan, Madam Edward, justru saya sangat senang jika Lady Lincoln bersedia tinggal dirumah saya yang sederhana, saya merasa terhormat, Madam."
"Anda benar-benar tegar dari yang saya kira, wajah anda tampak segar, Mrs. Overland," tutur Madam Edward kagum.
Mrs. Overland tersenyum menanggapinya, "Meskipun anak laki-laki saya sudah pergi, namun ia tetap hidup di hati saya, Madam. Walau pada awalnya saya sangat berat menerimanya pergi dengan cara seperti itu, tapi saya harus merelakannya."
Mrs. Overland, ibu dari si Putri Kecil. Wanita dengan senyuman menawan dan lembut itu adalah seorang bendahara di balai desa, sering bersama Miss Jeany selaku sekretaris. Sinar mata Mrs. Overland yang hangat itu mampu membasuh rasa rindu di sudut hatiku, sejak aku keluar dari danau kecil. Rasanya menentramkan, membuatku melupakan segala hal yang membebani perasaanku. Ngomong-ngomong siapa Lady Lincoln yang mereka bicarakan itu, ya? Tampaknya Lady itu yang akan menetap di desa seperti yang dikatakan Putri Kecil sebelumnya.
"Mereka rendah hati dan ramah juga untuk ukuran bangsawan kelas atas," tutur Surt santai dan tampak berminat. Biasanya ia tidak tertarik dengan orang-orang berdarah biru, selain itu ia mempunyai sedikit sifat anti sosial dengan yang lain terutama dengan orang yang tidak disukainya. "Duchess itu bukannya gelar istri bangsawan tertinggi dari tingkatan gelar di kerajaan 'kan, Maple!?"
"Iya, gelar untuk istri dari pria bergelar Duch yang melayani segala bentuk urusan di kerajaan," jelas Maple.
"Oh iya, Mr. Thomas, kami membawa beberapa bahan pangan untuk desa, hadiah dari suami saya," kata Madam Edward sembari melihat ke arah barang-barang yang diturunkan oleh dua orang yang menjadi kusir kereta.
"Terima kasih, Madam, Duke Edward baik sekali mau bersedia memberikannya pada kami," Mr. Thomas tampak segan, "tapi dari tadi saya melihat, kenapa Lady Lincoln belum keluar dari kereta?" Mr. thomas menggeser tubuh kecilnya untuk melihat ke arah pintu kereta yang masih terbuka.
"Kakak tampaknya tertidur, Nek," ujar Steven melongokkan kepalanya ke dalam kereta, "akan aku bangunkan ia dulu seperti yang ia minta sebelumnya, jika tidak, ia akan menjewer telingaku lagi," ia memalingkan wajahnya keluar kereta dengan wajah nyengir.
"Jahat sekali kamu berkata seperti itu mengenai kakakmu yang cantik ini, Steven," seorang gadis terlihat melongokkan kepalanya keluar kereta, tepat di belakang kepala Steven.
Seketika bocah laki-laki itu terperanjat kaget sembari berteriak kencang merapat ke tubuh sang nenek saat ia berpaling menghadap ke arah si gadis itu.
Aku mengernyitkan mata untuk melihat parasnya, aku rasa itulah sang Lady yang dibicarakan, kepalanya yang melongok itu memakai topi putih yang diikat oleh sebuah pita lebar berwarna nila cerah, untai pitanya diikat di bawah rahangnya sehingga topi itu menekuk menutupi pipinya─menutupi parasnya dari sudut pandangku.
"Teganya kakak mengagetkan aku begitu," kata Steven cemberut kesal.
Lady itu tampak tersenyum di bawah topi besar itu, ah ya, aku bisa melihat bibir dan dagunya, hanya saja aku tidak bisa melihat parasnya seutuhnya. Ketika ia hendak turun, Miss Jeany membantunya menuruni anak tangga kereta, tubuhnya sekilas terlihat lunglai dimataku, apa cuma perasaanku saja? Dan tangannya yang mencuat dari mantel bulu putihnya, oh astaga, kulitnya hampir sama pucatnya denganku.
Lady itu menunduk dan menyalami Mr. Thomas yang tersenyum lembut penuh kasih kepada sang Lady. Terlihat Mr. Thomas mengatupkan tangan sang Lady di antara kedua tangannya dengan erat, wajah bulat pria kecil itu terkesan sedih yang berusaha ia tutupi. Raut wajah si Putri Kecil juga begitu, nyaris tidak terlihat dan sinarnya tampak goyah memandangi sang Lady, akan tetapi tetutupi ketika Lady itu mengecup keningnya dengan lembut penuh kasih. Ada apa? Kanapa mereka memandangi Lady itu dengan tatapan sedih?
Aku tetap menunggunya untuk berpaling ke arah yang dapat membuatku melihat wajahnya, ingin tahu apa yang membuat mereka memandangnya dangan tatapan seperti itu. Aku sungguh tidak sabar untuk mengetahuinya, terbukti ketika aku mulai mengatuk-ngatuk tongkat kayuku dangan jari telunjuk yang aku pangku dibahuku. Ketegangan yang perlahan namun pasti mengerogotiku, membuat perutku sakit dan ia masih belum berpaling seperti yang aku harapkan. Ia tampak berbicara dengan Mrs. Overland─membelakangiku, sementara ketegangan mulai menyempit rongga dadaku untuk tidak mengizinkanku bernafas dengan lancar, menyesakkan, dan aku paling tidak suka dibuat penasaran. Tangan kananku menggenggam tongkat kayu dengan erat; tangan lainnya mengepal di depan mulut di atas tompangan kaki kiriku yang aku tarik hampir menyentuh dadaku yang mulai nyeri bertubi-tubi akibat penasaran dan ketegangan. Tidak biasanya aku berdebar-debar begini.
Nyeri itu semakin menyakitiku ketika tiba-tiba degupan jantungku menggebu menghantam tulang rusukku, sementara perasaan asing yang tidak aku kenal menyelinap entah datang dari mana. Ketika ia berpaling ke arah yang aku harapkan, ya, ia berpaling yang kini berbicara dengan sang nenek sembari sesekali tertawa kecil dengan jahil.
Dari sudut itu aku bisa melihat dengan jelas parasnya yang membuatku tertegun diam. Seperti yang aku katakan sebelumnya, ada perasaan asing yang menguap begitu saja dari dalam diriku. Benar, otakku langsung mencerna perasaan itu dan seketika hatiku berteriak. Perasaan rindu tidak tertahankan apa ini?
To Be Continued...
