Naruto bukan milik saya, mereka milik Masashi Kishimoto. X-men juga bukan milik saya, mereka milik Marvel.
.
.
.
Awan itu warnanya putih tapi di antara itu semua ada yang warnanya hitam. Sama seperti suasana hati. Itu tergantung darimana kau menatanya.
.
.
.
Feeling
.
.
.
Chapter 4
Sasuke pikir dengan lengsernya ia dari Konoha. Ia akan mendapat suatu kebajikan, kebajikan dari menetapnya ia di Xavier School. Semuanya hampir terasa sempurna, seperti teman yang baik hati, orang yang mempercayainya dan cinta.
Pietro sudah menunjukan semua cinta yang terlahir begitu lugas pada Sasuke hingga membuat Sasuke sedikit simpati pada Pietro. Awalnya biasa saja, tapi lama-lama menjadi kasih. Dipikir, Sasuke hanya membenci Reiko karena gadis itu terlalu pasif tapi nyatanya Sasuke memendam cemburu tiada tara. Sayang sekali.
Akhir-akhir ini, Pietro sering jalan berdua dengan Reiko. Mengumpulkan sejuta antensi menakjubkan yang hampir sama seperti yang pernah sang Quicksilver tunjukan pada Sasuke. Nyatanya, Sasuke menjadi cemoohan Scott dan Jean. Secara tidak sadar, Sasuke menunjukan gelagat tidak suka antara dirinya dengan Reiko atau hubungan manis antara dirinya dengan Pietro.
Scott menyarankan curhat pada Xavier. Tapi kata Jean, itu bukanlah ide bagus. Prof akan sangat marah jika tahu bahwa Sasuke menolak mentah-mentah titah Xavier untuk mengajak Reiko bicara dan berteman. Sejauh waktu berjalan, Sasuke tidak pernah sekalipun mengajak Reiko bicara melalui pesonanya.
Kejadian ini berlangsung lumayan lama, Sasuke perlahan menjauh dari Pietro dan membuat sang Quicksilver mendera kecewa, ia bahkan tidak tahu kesalahan apa yang di timpalkan Sasuke pada dirinya, meski ia bertanya dan terus berusaha, semua itu sia-sia. Scott yang menggantikan teman bicara Pietro bagi Sasuke untuk beberapa saat, meski lelaki itu tidak menyenangkan dan kuno.
Kali ini dalam hamparan rumput kehijauan berpayung awan yang putih. Scott, Jean dan Sasuke mengadakan pesta minum teh di balkon belakang sekolah. Ini bukan pertamakali, tapi sangat menajubkan bagi ketiganya. Curhat bersama, makan kukis dan menikmati sengat mentari.
Scott datang dengan secangkir teh. Mengajak Sasuke bicara. "Oh, aku tahu kau amat jealous. Tapi, coba pikir deh. Pietro hanya mengajak Reiko bicara kok! Lagi pula, cewek itu hanya mau bicara dengan prof dan Pietro jadi wajar saja."
Sasuke membenarkan. Ia menenggelamkan kepala di antara meja. Rasanya sedikit aneh ketika ada orang lain selain dirinya dan Xavier membicarakan soal Pietro. "Yah, aku merasa sedikit aneh. Aku agak sedikit iri barangkali?"
Jean tertawa keren. "Uh? Kau harus bicara pada Pietro. Diam tak menyelesaikan apapun. Cemburu sih boleh saja tapi tidak ada yang keren dari mencintai dalam diam."
Langsung saja Sasuke meledak-ledak. "Aku tidak mencintai Peitro. Aku merasa sedikit iri dan marah jika ada orang lain mengambil antensi darinya!"
Sasuke tak paham dengan apa yang terjadi pada hati dan kasih ini. Perasaannya sedikit berantakan kala mengingatnya. Ia tidak pernah seagresif ini jika menyangkut soal perasaan. Sasuke selalu mengklaim dirinya lelaki tanpa perasaan, tapi pada Pietro ia memiliki jawaban lain atas ini semua.
Scott menggeleng basi. "Lalu, di sebut apa hal itu? Itu namanya kau suka pada dirinya. Aku tidak masalah dengan orientasi seksualmu, Sasuke. Tapi, jangan bodoh dan egois."
Jean melirik. "Scott..."
"Masa bodoh Jean! Sasuke, kau yang membuat pertanyaan atas hatimu. Kau juga yang harus menemukan jawabannya. Itu baru namanya adil."
Jean memiringkan kelapa, merasakan kepedihan yang Sasuke utarakan sepersekian detik yang lalu. Scott telah berhasil menyentil sanubari Sasuke.
Di pukulnya kepala Scott. "Hei. Kita kesini bukan untuk bergalau ria!"
"Ups, sorry. Aku lupa, habisnya..."
"Sas. Talk that! Kalau Maximoff usil lagi beri tahu aku!"
Hari berikutnya Pietro benar-benar menghilang dari peredaran. Padahal, Sasuke sudah menyiapkan berbagai percakapan salam minta maaf atau basa-basi makan siang. Lalu, ia menyesal. Dialah orang paling awal yang mengabaikan ini semua. Mengabaikan Pietro dan kebaikan-kebaikan ini.
Arloji di tangan kanan Sasuke menunjukan pukul 7 malam. Dia duduk di dekat jendela tempat biasa dia dan Pietro mengobrol dan cerita soal ini dan itu. Arloji itu membawa Sasuke pada sebuah ingatan. Itu pemberian dari Peitro, dari dalam surat yang ada di loker sekolah. Surat yang waktu itu.
Hadiah pertemanan.
Sasuke sangat menyukai benda ini. Setidaknya itu karena ia tahu benda itu datang dari siapa dan untuk siapa.
Langit saat ini kelam, tidak ada apapun di sana. Termasuk setitik bintang yang selalu ada di manik mata Pietro atau cahaya bulan yang menderang layak arwah yang memikat.
"Hei..."
"Piet!"
"Lama tidak bicara ya, Sas? Apa kau masih marah sama aku?"
Langsung saja Sasuke meleleh dibuatnya. Ia sebenarnya antara terkejut, ingin menangis dan menampar orang di sana dengan kekuatan super yang melebihi tenaga Hank. Tapi, Sasuke tidak mungkin melakukannya. Memontum ini sangat kuat dan ia tidak mau menorehkan khilaf berkepanjangan.
"Duh, Sas. Ini bahaya dalam pertemanan! Aku tahu kalau kau marah karena ini. Maaf." Peitro tersenyum. "Apa kau mau minum kopi?"
Sisa-sisa rasa sedih yang bersarang di pelupuk mata perlahan melumer. Turun menjadi sebuah air yang sangat memukau, bagi siapapun.
"Piet, aku minta maaf..."
"Kenapa kau nangis, Sas? Jangan gitu deh. Aku mau kau tetap di sini. Kudengar dari Scott kau akan kabur dari Xavier School! Makanya aku datang ke sini."
Oh, Scott Summers.
Berbohong itu tak baik.
Pietro tersenyum nakal. "Bagiamana?"
"Enak." Puji Sasuke terlampau manis. Kopi itu manis dan pahit ada krim putih yang membentuk debur ombak yang lucu.
"Aku belajar membuat ini dari seorang murid! Aku lupa namanya, hehe."
Sasuke tersenyum klasik, sedikit benturan dari afeksi yang Pietro tunjukan hari ini buat Sasuke sedikit kehilangan arah dalam artian ia sedikit salah tingkah. "Piet, menurutmu jika aku dapat kesempatan pulang ke Konoha apa aku bisa mengambilnya?"
Pietro hampir tersedak mendengar pertanyaan itu. Terdengar aneh sekaligus tolol memang, sepertinya ini pertamakalinya Pietro mendengar Sasuke menyuarakan ini dan tentu saja ini membuatnya syok. "Kenapa kau bertanya begitu?"
"Err, aku sudah memikirkan ini cukup lama." Sasuke menelan kopi. "...apa yang terjadi pada mereka ya?"
"Ah.." Pietro memulai, duduk bersebrangan dengan Sasuke sembari menompang dagu. Senyum penuh semangat ia sampaikan, buat darah Sasuke mendidih akibat terpesona. "Kurasa dengan melihat mereka sesekali boleh, tapi bukankah itu akan terdengar konyol?"
Sasuke mengeryit. "Aku tak paham..."
"Yah, orang-orang Konoha menganggapmu mati, Sas. Dan kau bilang padaku kalau kau bukan pribadi yang baik. Kau melamar gadis pujaanmu tapi di tolak, aku tidak mau jika kau kembali ke sana kau akan semakin terpuruk."
Sasuke, terus terang saja merasa bimbang. Entah bagaimana dan atas dasar apa Sasuke mengatakan hal serumit ini pada Pietro. Jika di pikirkan lagi, mungkin Sasuke berusaha mengambil hati Pietro sekali lagi, mengambil simpati agar lelaki itu, mencuri senyumnya yang sangat manis dan membuat Pietro lebih sayang padanya dan melupakan soal Reiko.
Itu adalah faktanya.
"Sasuke..."
"Ya?"
"Aku merasa, kau agak berbeda akhir-akhir ini. Semenjak Reiko datang dan kau semakin menjauhiku, boleh aku tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu?"
Sasuke menghela napas. Ia mengingat-ngingat kembali apa yang terjadi siang tadi dan laporan demi laporan dari Scott dan juga Jean. Ia sedikit khawatir dengan apa yang akan terjadi selanjutnya jika Sasuke buka bicara dan menumpahkan seluruh perasaan yang tersimpan di dalam hatinya yang sangat luas.
Detik demi detik berlalu, Pietro menunggu untuk sebuah jawaban. Dia merasa tak nyaman di diamkan seperti ini, rasanya seperti manusia paling bodoh. Akhirnya, pada menit pertama, Sasuke membuka mulut. "Kalau aku jujur, aku takut kau akan menghilang..."
"Ya?"
"Mungkin aku suka padamu..."
Tanpa ada jawaban dan kepastian sang korban. Sasuke mendapat kenyataan yang merugikan.
Sebuah gelas jatuh dan Pietro yang menghilang...
