Sacrifice
This fic © Fuyuhime Ryuu
Super junior and DBSK © GOD and themselves
Rated : T
Genre: Friendship, Hurt/Comfort, a Little bit Angst.
Warning! Gaje, abal, EYD gak karuan, don't like, DON'T READ THEN...!
_o0o_
Fuyuhime Ryuu
-o0o-
Don't compare our brotherhood to the flower that blooms only in summer,
Instead compare it to the river that flows forever
_o0o_
Chapter 4: SURVIVE
"Aku mungkin tak bisa menyembuhkanmu dari racun itu." Ucap sang uisa pelan seakan penuh dengan rasa bersalah yang luar biasa.
"Tidak perlu menyembuhkanku. Hanya buat aku hidup lebih lama. Aku pasti akan bertahan, tidak peduli bagaimanapun caraku. Aku hanya akan mengambil imbalanku, dan setelahnya, aku tidak akan apa-apa." Wajah heechul yang masih sangat pucat itu terlihat mengembangkan senyuman. Senyuman yang seolah telah menerima apapun yang digariskan takdir untuk dilaluinya.
"Aku akan terus mengusahakannya chullie ah. Aku tidak akan menyerah, aku harap kau juga begitu." Namja muda nan tampan penyandang predikat dokter jenius itu nampak kembali bergumul dengan barang-barang dihadapannya. Tak dibiarkannya waktu berlalu begitu saja.
"Zhoumi sshi, jangan terlalu khawatir. Sekarang aku masih bisa bertahan. Aku pergi dulu." Heechul segera melangkahkan kaki jenjangnya menuju pintu keluar tanpa memperdengarkan suara sedikitpun. Pantas saja dia mendapat julukan phantom. Zhoumi, namja tampan yang terlihat sibuk dengan alat-alat kimia dihadapannya, mau tak mau memandang punggung sempit milik sang beta tersebut. Zhoumipun turut sakit melihat heechul yang nampak lemah seperti itu.
_o0o_
"Bagaimana keadaanmu chullie ah..." Tuan choi, namja yang telah mencapai kepala 6 namun lekuk rupawannya belum menghilang sama sekali itu nampak tengah menikmati kopi dihadapannya.
"Seperti yang anda harapkan aboji," Sedikit terkejut dengan jawaban yang diberikan heechul untuknya, namun roman mukanya segera dibuatnya senatural mungkin. "Syukurlah..." Jawabnya tak kalah ambigu.
"Aboji, bolehkah saya meminta sesuatu pada anda?". Tanya heechul setelah mendudukkan pantatnya di sofa nyaman itu.
Tuan choi yang kini tengah sibuk dengan cerutu ditangannya mulai memandang heechul serius. Selama ini baru beberapa kali heechul meminta sesuatu padanya, sedang permintaannya tak ada yang membuat tuan choi mengatakan 'iya' tanpa syarat. "Apa yang kau inginkan chullie ah...?".
"Alat untuk mematikan pelacak yang anda miliki aboji." Heechul menjawab setenang air danau. "Apa yang kau katakan chullie ah...? tidak ada alat seperti itu padaku." Tuan choi nampak berkelit.
"Haruskah... anda merasakan apa yang saya rasakan saat ini aboji?. Setidaknya anda akan tahu, bagaimana rasanya orang sekarat membuat permintaan terakhirnya." Heechul mengeluarkan sebuah alat injeksi dan menaruhnya di atas meja kerja tuan choi.
"Untuk apa kau memintanya padaku chullie?. Kau ingin mematikan pelacak milikmu dan menuju rumah sakit untuk mengobati racunmu?." Tuan choi mulai mengerutkan dahinya.
"Bisakah...?. Anda lebih tahu bagaimana keadaan saya saat ini aboji, dan anda tahu, saya bukan orang yang suka menyia-nyiakan waktu untuk melakukan hal yang sia-sia." Heechul nampak menggenggam erat alat injeksi ditangannya. Sebuah seringaian ditampilkannya tanpa rasa takut.
"Untuk mendapatkannya, kau perlu membunuhku chullie. Karena sebelum aku mati, aku tidak akan membiarkanmu mendapatkannya." Baiklah, suara tuan choi mulai sedikit bergetar. Apa dia takut?. Mungkin juga, mengingat kemampuan heechul yang cukup mengerikan.
"Arraseo, untuk mendapatkannya, saya pasti akan membunuh anda. Dalam beberapa waktu kedepan, saya mohon anda mengantisipasinya. Jangan biarkan perhatian anda tertuju kearah lain selain pada saya. Untuk sementara, saya hanya akan menjadi anak yang manis, mengingat terakhir kali anda menggunakan teukie untuk mencoba membunuh saya. Terimakasih untuk waktunya aboji." Heechul segera memasukkan alat injeksinya kedalam saku celananya. Tak lupa sebuah senyum yang sangat manis diperlihatkannya dengan cuma-cuma yang malah sukses membuat tuan choi merasa ngeri.
Heechul segera melangkahkan kakinya kearah pintu, tapi tubuhnya limbung sejenak memaksanya untuk mencengkeram sofa yang kebetulan tepat berada di sisi kanan daun pintu. Tangan kirinya nampak memijat keningnya pelan.
"Gwenchana chullie ah...?" Tanya tuan choi dari meja kerjanya. Sebuah pertanyaan bernada khawatir yang sangat kontras dengan seringaiannya di bibir tebalnya itu.
"Anda tidak perlu mengkhawatirkan saya, tolong khawatirkan diri anda sendiri aboji. Saat ini, tangan saya masih cukup cepat untuk melepaskan nyawa anda."
"Biar bagaimanapun, kau salah satu anakku chullie..."
"Terimakasih telah mengkhawatirkan saya, permisi." Heechul benar-benar tak ingin bertele-tele ditempat itu. Tangan kirinya segera meraih kenop bundar dan memutarnya hingga pintu dapat terbuka sempurna.
Heechul memamerkan seringaiannya sesaat sebelum kembali menutup pintunya dan berlalu dari hadapan tuan choi.
Sejak awal, tuan choi memang sudah menganggap heechul sebagai salah satu anaknya yang akan sangat berbahaya nantinya, tapi bukan dalam artian akan mengkhianatinya. Saat ini heechul justru memberi peringatan keras padanya, haruskah membunuh heechul saat ini juga?. Tapi tuan choi pikir, heechul masih punya kelemahan yang diketahuinya sejak awal, park leeteuk.
Sementara heechul, sejenak setelah ia keluar dari ruangan itu segera menggunakan alat injeksi yang sebelumnya diperlihatkan pada tuan choi. Rupanya itu hanyalah serum yang biasa ia gunakan seminggu terakhir ini. "Pabo..." ucapnya pelan.
Kakinya terus melangkah menuju kamarnya yang sepi. Ditatapnya kembali foto besar yang berada disudut barat kamarnya, fotonya dengan leeteuk 4 tahun yang lalu setelah melakukan perjalanan ke jerman untuk membunuh bandar narkoba.
"Sebenarnya apa yang aboji kejar dengan memanfaatkan kami?. Menguasai perdagangan pasar gelap?, bahkan dia sudah dikenal sebagai salah satu orang penting negeri berkat asetnya di berbagai perusahaan dunia, majalah forbes juga sudah mencatatnya sebagai salah satu orang terkaya dunia. Pasti sekarang hanya ketamakan yang dimilikinya. Hehh..." Heechul memilih untuk merebahkan tubuhnya di kasur miliknya itu.
_o0o_
#35 years ago.
Seorang namja muda dengan setelan jas rapi nampak berjalan dibawah rintik air hujan. Kaki jenjangnya sedikit dipaksanya berlari di atas air yang menggenang dibeberapa sudut jalan berlubang.
Sebuah bar yang cukup ramai dengan penerangan yang minim nampaknya menjadi tempat tujuan sang namja muda.
"Min hyuk ah... Akhir-akhir ini kau jarang kemari, Apa blue house mendapat masalah lagi?" Seorang bartender nampak mendekatinya dan mengangsurkan segelas cairan berwarna kuning ke hadapan namja muda tersebut.
"Anni hyung, aku sudah keluar dari sana sebulan yang lalu." Sang namja muda yang dipanggil min hyuk itu segera menyambut minuman yang diberikan sang bartender padanya.
"Waeyo...?" Tentu saja kaget. Untuk dapat bekerja di kediaman presiden bukanlah perkara yang gampang. Banyak tahapan yang harus dilalui demi memperoleh posisi tersebut.
"Aku tidak suka bekerja disana hyung. Semua penuh dusta. Korupsi, peredaran obat-obatan terlarang, penggelapan dana, dan penyuapan. Mereka membiarkan itu semua hyung. Dan kami harus melindungi apa yang mereka lakukan itu dengan taruhan nyawa kami." Choi minhyuk yang berumur 29 tahun itu nampak mengeluarkan seluruh kekesalannya.
"Yha... Minhyuk ah... Jangan bicara seperti itu. Tempat ini ramai, bisa saja kau dianggap penghianat negara jika mengatakan itu." Sang bartender mulai khawatir dengan ucapan minhyuk yang dianggapnya sudah agak mabuk itu.
"Jika mereka bisa menyuap petinggi negara, maka aku akan menyuap Tuhan." Minhyuk segera mencengkeram kerah sang bartender dan menariknya mendekat. "Hyung, aku akan membuat pasukanku sendiri. Akan aku kuasai negara ini dan akan aku jalankan sesuai dengan yang aku inginkan. Aku juga ingin para tikus berperut gembung itu tahu, bahwa aku, Choi minhyuk. Akan menundukkan mereka hingga mereka harus mencium kakiku. Aku sudah lelah menjadi tameng hyung, sedang mereka sama sekali tak pernah menghargainya dan malah berfoya-foya. Bergabunglah denganku hyung."
"Yha... yha... minhyuk ah... Kau sudah sangat mabuk. Berhentilah minum dan tidurlah dikamarku." Namja bartender tersebut nampak gelagapan mendengar setiap ucapan yang dikeluarkan namja ceria yang sudah dikenalnya sejak lama itu.
"Aku akan menjadikan mereka semua sebagai budakku. Akan kutundukkan dunia dengan kekuatanku. Dan akan aku beritahukan pada mereka apa itu rasa takut dan putus asa, hingga mereka bersedia mengakui kekuasaan absolutku. Dan jika negara ini harus hancur, akulah yang akan menghancurkannya." Sang bartender segera meraih tubuh minhyuk yang sudah sangat mabuk setelah meminum beberapa botol bir di hadapannya itu.
"Kekecewaan seperti apa yang membuatmu menjadi seperti ini min hyuk ah... Adik kecil yang ceria." Nada lirih itu mewakili rasa getir yang dirasakan sang bartender.
_o0o_
Apa yang dikatakan choi minhyuk rupanya bukanlah isapan jempol semata. Beberapa waktu kemudian dia mulai membangun kerajaannya dengan menghubungi teman-temannya yang memiliki pemikiran sama dan punya tujuan dan juga dendam yang sama pada negara.
Semakin lama organisasi yang diberinya nama black shadow itu semakin berkembang. Beberapa pejabat menggunakan jasanya. Black shadow ini bergerak dibidang apapun yang menjadi inti dari perkembangan negara. Menjadi bodyguard dengan bayaran tak hanya uang, tetapi juga informasi penting yang dimiliki klien, bergabung dalam pasar saham, menyuap para petinggi demi informasi rahasia negara, menjadi assassin, dan segala macam pekerjaan kotor mereka lakukan. Dengan satu tujuan, menguasai negara dan menjadikannya tunduk dibawah kuasa black shadow bukan pada kepala negara mereka yang sebenarnya sangat lemah itu.
Cukup frontal tapi begitulah choi minhyuk ketika dia memiliki suatu keinginan. Tak bisa dibantah dan tak bisa dilawan.
Belum puas dengan anggota black shadow, dia segera berkeliling wilayah korea demi menemukan bocah-bocah kecil yang berpotensi, kemudian dilatihnya sejak kecil untuk dijadikannya anjing-anjingnya yang setia dan juga mesin pembunuh yang tangguh. Bocah-bocah yang terpilih dan ternyata lemah, akan dikalahkan oleh mereka yang lebih kuat. Begitulah hukum rimba dijalankan disana. Tidak ada tempat pergi maupun kembali bagi bocah-bocah naas itu, hingga mereka akan lebih memilih untuk menjemput mautnya diusia belia.
Choi minhyuk dengan ambisinya yang kuat, terus dan terus menjadi orang yang serakah dan tamak. Beberapa teman yang awalnya bergabung dengannya memilih untuk tak terlibat lagi dengan kegiatan organisasi yang dibentuknya bersama itu. Mereka merasa sudah tak sepaham dan sejalan lagi dengan visi dan misi yang diusung oleh minhyuk.
Tak ada yang tahu, takdir apa yang akan menunggu keserakahan minhyuk kelak.
#Flashback end.
_o0o_
Senja telah menggantung di langit barat. Leeteuk masih saja termenung di tepi sungai han. Sebuah tempat yang akhir-akhir ini menjadi tempat favoritnya.
"Yha... kembalikan dompetku!. Dowajoseyo... Dompetku, namja itu mencuri dompetku...!" Sebuah teriakan yang cukup mengusik gendang telinga leeteuk yang masih sibuk dengan lamunannya.
Leeteuk, seorang yang memiliki jiwa keadilan yang tinggi, segera melangkahkan kakinya yang jenjang kearah suara berasal.
Namun setelah beberapa langkah, kakinya membatu seketika melihat siapa namja yang tengah berteriak-teriak kecopetan itu, dan siapa yang dia kejar.
Cho kyuhyun, namja yang berteriak-teriak kecopetan dan roommatenya lee sungmin, namja yang dengan lincah berlari sambil sesekali cekikikan tak jelas itu.
Beberapa orang dewasa nampak membantu kyuhyun mengejar sungmin, tetapi bagian yang menyedihkan adalah orang-orang itu bahkan tak mampu mengejar kyuhyun yang tengah lari pontang panting itu, apalagi untuk mengejar sungmin yang lincah itu. Mustahil.
Leeteuk yang melihat sungmin menuju arahnya segera memasang muka segarang yang dia bisa, -tapi sama sekali tak berhasil itu- dan kemudian menghadang langkah kelinci bandel dan juga si tukang nge-game itu dengan santai.
"Apa yang kalian lakukan...?" Sungmin yang melihat wajah yang seharusnya mengerikan itu berhenti mendadak tanpa aba-aba, membuat kyuhyun yang terlanjur berlari cepat tak bisa melakukan hal yang sama dan berakhir menabrak sungmin yang berada di depannya.
"Alpha..." Pekik sungmin kaget yang setelahnya mendapat hadiah jitakan dari jemari kurus milik leeteuk itu.
"Apa yang kalian lakukan?. Berlatih eoh...?" Wajah garang leeteuk benar-benar sangat lucu dan sama sekali tidak pantas dimilikinya itu.
"Chogi... chogi... kyunnie mengejarku hyung, aku ketakutan makanya aku lari..." si gigi kelinci lee sungmin tampak mencari pembelaan.
"yha... kau mengambil dompetku, mempergunakan uangku, merampas hakku. Bagaimana mungkin aku tidak mengejarmu minnie hyung..." Kyuhyun nampak berapi-api dengan pembelaan versinya.
Oke, kyuhyun memang kadang-kadang lebay dan membuat kedua orang yang lebih tua darinya itu cengo untuk sesaat.
"Sudah, kalian segeralah pulang. Kalian sudah selesai dengan misi kalian kan.? Atau kalian malah tak memiliki misi apapun dan hanya bermain-main saja.? Aku pasti akan menghukum kalian."
"Nde... kami akan pulang alpha-san..." Kedua namja muda ini sejak kecil memang kadang-kadang membuat leeteuk kesal.
Kedua namja itu segera kabur sesaat setelah mengatakannya. "kau juga harus segera pulang hyung, sebelum aku menghukummu." Ucap kyuhyun setengah berteriak dari kejauhan. Leeteuk yang mendengarnya hanya mampu tersenyum dan kembali ke tepi sungai han dan kembali melamun.
"Heechul ah... Bagaimana akhir cerita yang kita miliki ini akan berakhir...?" Ucapnya lirih sambil terus memandang pantulan jembatan yang bercahaya itu dari datarnya air sungai han yang gelap. Di usapnya wajah tirus itu dengan kedua tangannya, berharap beban yang dikandungnya akan turut luruh.
_o0o_
"Bummie, Kau sudah selesai melakukan tugasmu?." Kim heechul nampak terlibat pembicaraan dengan seseorang yang berada diluar sana.
"Bisa kau datang kekamarku?, Nde aku akan menunggumu." Pembicaraan singkat itu berakhir begitu saja.
_o0o_
Park leeteuk tengah melajukan kakinya menuju sebuah ruangan besar yang sudah kita hafal sebagai ruangan milik tuan choi minhyuk itu.
Leeteuk membungkuk sopan sesaat setelah melihat tuan choi duduk di kursi empuknya seperti biasa. "Aboji, anda memanggil saya?" Ucapnya halus.
"Nde, kemarilah teukie. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Kau sudah sehat benar bukan?" Leeteuk segera mengambil tempat duduk didepan tuan choi dan mengangguk setelahnya.
"Aku punya misi untukmu. Misi ini adalah misi level S. Apa kamu bersedia melakukannya.?" Tanya tuan choi hati-hati.
"Nde, akan saya usahakan aboji. Jadi misi seperti apa yang akan anda berikan pada saya aboji?".
Merekapun segera memulai pembicaraan mengenai misi yang diterima oleh leeteuk.
"Jangan lupa, misi ini sangat penting untuk kemajuan organisasi kita. Hari kamis nanti teukie." Tuan choi memberikan penekanan di setiap kalimatnya.
"Baiklah aboji saya menerima misi ini, saya permisi." Park leeteuk segera memohon diri, dan segera keluar dari ruangan tersebut.
Tuan choi mengulum senyum puas. Dilihatnya park leeteuk hingga ia tak terlihat lagi.
_o0o_
Dua orang namja tampan tengah berjalan dikeramaian chongdamdong market. keduanya berjalan dengan langkah santai.
"Chullie hyung, kau yakin tidak apa-apa menemui mereka?." Seorang namja yang mengenakan setelan T-shirt warna daun dengan kerah V-neck dipadu dengan celana jins ¾ berwana hitam.
"Mereka yang memintaku bummie. Jika mereka macam-macam, apa kau pikir kita tak bisa mengatasinya, eoh?. Kita bukan anak kecil lagi bummie." Ucap kim heechul, namja tampan yang saat itu menggunakan kemeja berwarna biru tua dan celana berwarna hitam. Jangan lupakan kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya yang bangir lengkap dengan jam tangan dan sepatu hitam mengkilap yang menambah sempurna penampilannya.
"Anni hyung, aku percaya padamu."Balas kibum yakin. Heechul hanya mampu tersenyum menanggapi jawaban kibum tersebut.
"Kita menunggu disini bummie."
"Nde hyung."
_o0o_
"Kyu... Aku kadang merasa ingin melarikan diri dari tempat ini. Menurutmu apa kita bisa bebas kyu.?" Seorang namja berwajah manis dengan gigi kelinci dan mata foxynya menatap namja yang lebih tinggi beberapa senti darinya itu.
"Aku kira kau sudah tak memiliki pikiran itu lagi hyung." Cho kyuhyun, namja tampan dan berkulit pucat itu sedikit tercenung mendengar pertanyaan roommate nya, mengingat dia sendiri sudah mengubur pikiran itu bertahun-tahun yang lalu.
"Anni, aku hanya berfikir, apa kita akan mati disini juga?. Sejujurnya aku terlalu lelah kyu untuk terus menjalani hidup seperti ini. Kadang aku berfikir untuk menyerah saja pada hidup yang buruk ini. Apa kau tak pernah memikirkannya?." Sungmin mulai sedikit merajuk.
"Ribuan kali hyung, tapi aku masih terlalu sayang pada kalian makanya aku selalu membatalkan niatku itu. Akupun kadang masih berharap ada suatu keajaiban yang bisa membuat kita terlepas dari belenggu mengerikan ini." Entah bagaimana, setiap kali membicarakan tentang kebebasan yang sulit mereka raih, kyuhyun selalu meneteskan air mata.
Sungmin yang merasa bersalah segera merangkul kyuhyun. "Mianhae kyunnie, aku bersalah..." Jemari sungmin yang putih dan sedikit pendek itu segera mengusap air mata yang hampir menetes tersebut.
"Sudahlah hyung. Bukankah sudah lama kita tahu, kebebasan itu begitu mahal bagi kita. Lagipula sulit bagiku untuk menjadi egois dan meninggalkan kalian begitu saja. Aboji bilang, jika salah satu dari kita membuat kesalahan, maka seluruhnya akan turut menanggungnya bukan.?"
Sungmin hanya manggut-manggut mendengar kalimat kyuhyun tersebut. "Mari kita melupakannya saja kyu. Mari kita jalani apa yang ada dihadapan kita. Biar takdir yang menentukan kemana kita akan berlabuh nantinya. Tuhan maha tahu, Dia berjanji tak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan kita, meski kadang aku meragukannya karena merasa aku tak lagi mampu." Kini sungmin turut meneteskan air mata.
"Hyung jangan seperti ini. Kita namja dan kita harus menjadi kuat hyung. Demi apapun, namja menangis itu sungguh tak elite hyung." Ucap kyuhyun kemudian mengeluarkan senyuman setannya, begitu juga dengan sungmin. Nampak jelas beban yang dikandungnya sedikit berkurang.
_o0o_
"Dimana posisinya?." Seorang namja yang tengah menggunakan pakaian olah raga lengkap nampak tengah berbicara melalui earphone kecil ditelinganya.
"Diarah jam 2?. Oke, aku akan mengambilnya dari gedung H." Namja yang menggunakan kaca mata hitam dan berkepala agak besar itu nampak berjalan dengan langkah lebar seakan berkejaran dengan waktu.
Sebuah tas golf nampak tersampir dipundaknya yang kokoh, Lengkap dengan beberapa alat pemukul bola golf yang sedikit menyembul ke atas tersebut.
Kini dirinya telah memasuki sebuah bangunan hotel megah dengan beberapa tingkatan lantai. "Jeremy kim" Ucapnya sedikit pelan saat seorang resepsionis menanyakan identitasnya.
"Ini kartu pass kamar anda. Ini kamar yang telah anda pesan, kamar nomor 2013." Sang resepsionis segera memberikan sebuah kartu yang berguna untuk membuka pintu kamarnya nanti.
"Gamsahamnida".Balas namja tampan yang ternyata memiliki mata yang sangat kecil itu lengkap dengan jemarinya yang tak kalah imut. Kaki panjangnya segera melangkah menuju salah satu lift disudut ruangan tersebut.
Sambil menunggu pintu lift terbuka, namja tampan itu lebih memilih untuk menatap layar handphonenya. Matanya terlihat menyendu saat melihat sebuah photo yang terpampang dilayar handphonenya tersebut. "Jongjin ah..." Lirihnya.
Pintu lift terbuka, namja itupun segera beranjak memasuki kotak lift yang akan membawanya ke beberapa lantai diatas bangunan tersebut.
Sesaat setelah menemukan kamarnya, namja tersebut segera membuka tas golfnya sesaat setelah dirinya sampai di kamar yang telah dipesankan untuknya tersebut. Beberapa tongkat golf dikeluarkannya begitu saja dan menyisakan beberapa besi berwarna hitam metalik didalamnya.
Dengan lincah segera dikeluarkannya satu persatu dan segera merakitnya menjadi sebuah benda yang setiap orang ketahui sebagai senjata api laras panjang lengkap dengan peredam suara yang dipasang dimoncong senapan tersebut.
Setelah selesai dengan kegiatannya, diapun segera mengarahkan moncong senjatanya kesuatu arah setelah sebelumnya membuat lubang yang tak terlalu lebar namun cukup untuk menampung moncong senjata yang tengah dikongkangnya tersebut, disebuah jendela kaca dengan menggunakan alat khusus yang dimilikinya. Dan dia mulai menghitung mundur seperti kebiasaannya, seakan memberi waktu pada mangsanya untuk menikmati beberapa hembusan nafas terakhirnya.
"5..." Matanya sudah membidik mangsanya dengan tajam.
"4..." Sebuah ruangan terlihat diseberang sana, beberapa orang berdasi sepertinya tengah mengadakan sebuah pertemuan. Entah apa yang tengah mereka bicarakan.
"3..." Orang-orang di ruangan yang cukup lebar dengan aneka makanan lezat dihadapan mereka, nampak tertawa-tawa tanpa menyadari, dewa maut tengah mengintai mereka.
"2..." Sebuah senyum mengerikan terlihat jelas dari bibirnya saat melihat orang-orang yang tengah dibidiknya itu menuangkan wine berwarna pekat ke gelasnya masing-masing. Masih dengan tawa yang menghiasi wajah mereka.
"1..." Jemari pendeknya segera menarik pelatuk yang berada ditangannya itu. Sebuah timah panas meluncur dengan kecepatan yang tak dapat diikuti oleh mata telanjang.
"Time over..." Ucapan terakhirnya disertai dengan sebuah senyuman puas terlihat jelas diwajahnya timah panas yang keluarkan senjatanya tepat mengenai sasaran. Sekali lagi dipandanginya beberapa orang yang nampak panik dan ketakutan melihat darah yang keluar dari kepala rekan mereka.
Namja berparas tampan itu segera menghubungi seseorang melalui handphonenya, "Mission complete." Ucapnya tegas, dan segera mematikan sambungan jarak jauhnya itu. Diapun kembali membongkar senjata apinya, memasukkannya kembali dengan sangat rapi, mengenakan kembali kaca mata hitam yang sebelumnya dilepaskannya itu, juga tak lupa memasukkan kembali tongkat golf yang sebelumnya dikeluarkannya juga.
Setelah merasa seluruhnya beres, namja itu segera keluar dengan langkah santai seakan tak ada satupun yang dikhawatirkannya.
Tepat setelah dia menjejakkan kaki diluar gedung tersebut, beberapa polisi nampak mendatangi ruang resepsionis guna menanyakan beberapa pertanyaan yang biasa ditanyakan polisi. seperti apa anda melihat orang yang mencurigakan memasuki hotel ini dan sebagainya.
Namja berkacamata hitam yang sudah sedikit jauh dari hotel tersebut segera mengeluarkan seringaiannya. "Lamban," Ucapnya meremehkan kesigapan polisi korea demi mencari pelaku pembunuhan yang baru saja terjadi tersebut.
Tak memperdulikan apapun, dia segera memasuki sebuah mobil hitam yang sudah menunggunya di pelataran parkir tersebut. "Otte yesung, hyung...?" Seorang namja mungil yang ternyata tengah duduk dibangku pengemudi itu yang bertanya.
"Beres wookie," Ucapnya seraya memamerkan senyumannya yang selalu menenangkan siapapun.
Mobil hitam itupun segera melaju membelah ramainya seoul di siang itu.
_o0o_
"Kim heechul imnida, dan ini adik saya, kim kibum." Ucap heechul sesaat setelah orang yang lama ditunggunya terlihat. Kibum sedikit kaget dengan perkenalan itu. Adik?. Entah mengapa perasaannya menghangat mendengar kata tersebut keluar dari orang yang begitu di hormatinya. Heechul membungkuk sesaat meski dia tahu orang dihadapannya itu tengah mengangsurkan tangannya.
"Senang bertemu denganmu heechul sshi, Kau orang yang sedikit tak sopan rupanya, dan juga cantik." Orang dihadapannya itu berucap, entah itu pujian atau hinaan, tapi kim heechul tak peduli dengan itu.
"Terimakasih. Jadi, apa yang anda inginkan dari saya hingga anda meminta pertemuan ini Kim Buyeong sshi?."Tanya heechul masih dengan nada yang sangat tenang.
"Luar biasa kau bisa tahu namaku. Anak choi minhyuk benar-benar hebat. Aku jadi semakin ingin memilikimu heechul sshi. Pesanlah dulu, setelah itu aku akan mengatakan keperluanku." Heechul sedikit mengernyit demi mendengar kalimat 'ingin memiliki' yang diucapkan oleh tuan kim tersebut.
Tapi bukan kim heechul namanya jika tak bisa mengendalikan situasi dihadapannya. "Terimakasih atas pujiannya kim sshi, tapi yang menemukan anda bukanlah saya, tetapi adik saya ini." Heechul segera memasang senyuman meremehkannya. "Melon soda 2, terimakasih." Ucapnya saat pelayan menghampirinya.
"Wah... Aku semakin ingin memiliki satu set saudaramu chullie ah... Daebak... Eh kenapa kau memilih soda melon.?" Ah, tuan kim. Benarkah anda salah satu pemilik organisasi hitam yang ditakuti.
"Ah... anda lucu sekali kim sshi. Tapi saya tidak ingat anda dan saya begitu dekat hingga terbiasa berbicara informal." Heechul segera menerima minumannya saat minuman dingin berwarna hijau cerah itu menyapa pandangannya.
Tuan kim nampak tertawa renyah demi menanggapi kalimat sedikit kurang ajar yang terlontar dari bibir sexy heechul tersebut. Heechul segera mengarahkan perhatiannya pada dua gelas minuman dihadapannya dan kibum tersebut. Heechul segera meminum minumannya sedikit dan menukarnya dengan milik kibum. Kibum yang melihat tingkah heechul menjadi sedikit kaget.
"Apa kau pikir aku akan memberi racun pada orang yang kusuka heechul sshi." Tuan kim kembali berbicara dengan kalimat formal.
"Anda menyukai saya?. Sepertinya anda melupakan sesuatu kim sshi, mari saya bantu mengingatnya. Terakhir kali, junsu sshi memberi saya racun yang hampir membuat saya tak bisa melihat dunia. Untuk kali ini, anggap saja pencegahan. Saya sangat menyayangi dongsaeng saya kim sshi." Heechul nampak tak peduli dengan dua bodyguard tuan kim yang nampak tak suka dengan kalimat yang keluar dari mulutnya itu. Sementara kibum nampak menyesap minuman dihadapannya.
"Geure... geure... Heechul sshi, mianhae." Kali ini tuan kim memilih untuk mengalah dari namja keras kepala dihadapannya itu. "Ye," Balas heechul singkat.
"Begini heechul sshi. Aku bilang aku menyukaimu itu aku tidak bohong. Satu lagi yang aku ingin katakan padamu. Maukah kau menjadi bagian dari keluargaku?.Kau bisa membawa siapapun jika kau mau." Ucap tuan kim terus terang.
"Mianhamnida kim sshi, apa anda memiliki niat untuk merekrut saya yang telah anda ketahui sebagai milik choi sshi." Heechul benar-benar tidak mengerti dengan kalimat yang keluar dari bibir hitam milik tuan kim.
"Aku sudah mengetahui kerengganganmu dengan choi sshi, kim heechul sshi." Masih terus memasang wajah tenang yang seakan tak dibuat-buat.
"Apa anda bersedia memberi saya penawar untuk racun yang junsu sshi masukkan ke tubuh saya?. Jika anda bersedia, sayapun tak segan untuk mempertimbangkan." Heechul nampak membuat tawar menawar dengan tuan kim. "Hyung..." Kibum tentu saja kaget dengan apa yang dikatakan heechul.
"Aku pikir si dokter jenius itu sudah menemukan penawarnya hingga kau terlihat sesehat ini." Wajah kaget nampak jelas di raut tuan kim.
"Ah, saya pikir juga begitu. Tetapi nyatanya saya belum bisa sesumbar bahwa saya telah sembuh dari racun tersebut kim sshi."
"Bergabunglah denganku dan ku beri penawarnya."
"Apa saya bisa memegang janji anda?."
"Tentu saja."
"Seperti yang saya katakan sebelumnya, akan saya pertimbangkan kebaikan anda." Heechul segera beranjak dari kursinya. "Saya anggap pertemuan kali ini cukup sampai disini. Gamsahamnida untuk undangannya."
"Benarkah kau mau mempertimbangkannya?."
Heechul hanya mengangguk sebagai jawabannya. Ditariknya lengan kibum agar segera berdiri dari tempat duduknya. Heechul segera memberikan bungkukan, begitu juga dengan kibum.
Keduanya segera berlalu dari hadapan tuan kim.
Sementara itu, tuan kim nampak memperlihatkan seringaian liciknya.
_o0o_
Langit sore yang cerah, beberapa burung nampak terbang rendah bersama koloninya.
"Hyung... Apa kau akan memilih ikut tuan kim...?" Kim kibum, namja bersurai hitam itu sedikit penasaran dengan keputusan heechul, namja berkulit seputih susu disampingnya.
"Entahlah bummie." Wajah heechul memandang pada sepasang burung yang terbang bebas diatasnya itu.
"Jika dengan ikut dengannya kau bisa hidup, aku sungguh akan mendukungmu hyung." Heechul hanya tersenyum mendengar ucapan kibum baru saja. Pandangannya tak dialihkannya sedikitpun dari langit sore yang selalu membuatnya terpukau.
Heechul kemudian mengeluarkan sesuatu berbentuk kotak pipih dari saku celana hitamnya. Ditekannya beberapa digit angka diatas alat tersebut.
"Yeoboseyo..." Sebuah suara pelan dari seberang akhirnya terdengar sesaat setelah nada sambungnya berhenti.
"Hannie, kau dimana?." Tanya heechul pada orang diseberang.
"Aku sedang di airport chullie. Waeyo?" Suara pelan itu terdengar lagi. Suara milik namja china bernama tan hankyung.
"Kau sudah selesai dengan misimu?"
"Nde, Hah... Aku ingin sampai rumah dan mandi."
'Rumah?' Batin heechul pelan. "Belikan aku coklat putih. Jangan sampai lupa."
"Hah...? Kau menelphone ku hanya untuk meminta itu?. Baiklah, tunggu dirumah. Aku akan segera mengunjungimu."
"Nde..." Sambungan jarak jauh itu akhirnya berakhir dengan cepat.
"Hyung, kenapa kita tidak membelinya sendiri. Ada supermarket di depan sana." Kibum sedikit bingung dengan hyung cantiknya itu.
"Hanya ingin bertemu dengan hankyung nanti." Sebuah smirk terlihat nyata diwajah putih heechul. "Cha... Ayo kembali bummie."
Mereka berduapun akhirnya beranjak dari tempat duduknya dan kembali melangkahkan kakinya.
_o0o_
"Kangin hyung..." Sebuah suara cempreng tampak mengalihkan perhatian namja tinggi kekar yang tengah menggendong tas ransel di punggungnya.
"Hyukkie, Hae ah..." Kalian juga baru selesai?." Tanya kangin, namja tinggi kekar tersebut.
"Nde... Hyung, kita pulang bersama nde...?" Eunhyuk, namja imut kelebihan gusi itu nampak memperlihatkan wajah aegyonya tingkat akut.
"Cepatlah kalau begitu, aku tak sabar bertemu yang lain." Ketiga namja tampan itu nampak berjalan dengan langkah lebar demi segera bertemu dengan keluarga yang begitu mereka kasihi.
"Ah, Heechul hyung bagaimana ya kabarnya?. Apa dia akan baik-baik saja?." Donghae, namja berwajah childish itu nampak bergumam pelan saat taxi yang mereka tumpangi berjalan mulus di aspal seoul.
"Dia pasti akan baik-baik saja hae..." Balas eunhyuk mencoba menenangkan partnernya itu.
"Semoga saja." Donghae nampak menghela nafas berat. Sementara kangin nampak menoleh sambil memberikan senyuman.
Mobil berjalan perlahan membelah jalanan seoul yang mulai menggelap.
_o0o_
Tuan choi nampak sedang menerima sambungan jarak jauh dengan seseorang. Kepalanya beberapa kali mengangguk seakan orang diseberang sana akan mengetahui gesture yang diciptakannya.
"Arra... Segeralah kembali. Nde, jangan sampai dia curiga." Suaranya begitu pelan.
"Apa...? Dia menyadarinya. Sudahlah, segera kembali. Jangan membuatnya semakin curiga denganmu." Tuan choi segera mematikan sambungannya dengan orang yang berada diseberang.
"Aku tahu kau hebat, tapi aku tak menyangka kau akan sehebat ini sekarang. Aku memang harus segera menyingkirkanmu sebelum kau menjadi batu sandunganku nak." Wajah bengis itu tiba-tiba saja terlihat di air muka tuan choi.
_o0o_
"Heechul hyung, aboji memanggilmu." Heechul nampak melirik singkat namja bertubuh tambun yang tengah mengejarnya. 'Apa maunya,' Batin heechul ditengah perjalanannya.
"Ah, gumawo shindongie..." Balas heechul dengan senyum diwajahnya. Sedang shindong hanya meringis lebar.
Kaki jenjangnya segera mengarah ke ruangan tuan choi yang tak terlalu jauh dari tempatnya berdiri saat itu. "Anda memanggil saya aboji?." Masih dengan kesopanan yang telah dipelajarinya sejak sebelum dia bergabung dengan organisasi tersebut.
"Nde, kemarilah chullie." Ucap tuan choi seakan tak terjadi apa-apa diantara mereka sebelumnya.
Heechul segera duduk dihadapan tuan choi. "Apakah anda berniat memberi misi pada saya lagi?." Sedikit jengah juga dengan sikap tuan choi yang sama sekali tak berubah.
"Chullie ah, aku tahu hari ini kau bertemu dengan pemimpin bloody rose, kau juga tahu kalau aku telah menyuruh orangku untuk mengikutimu bukan?." Tuan choi masih menampakkan wajah ramahnya.
"Lalu, apa yang anda ingin saya lakukan?." Sedikit bosan berbicara dengan namja yang telah lanjut usia namun masih memiliki kuasa atas dirinya itu.
"Kill him..." Ucap tuan choi dengan mata yang terlihat berkilat itu.
Heechul terdiam sejenak sebelum seringaian diwajahnya terlihat begitu saja. "Apa yang dapat anda berikan pada saya sebagai hadiah?."
"Kau sekarang meminta hadiah pada ayahmu sendiri chullie ah?." Wajah tuan choi terlihat sedih yang jelas dibuat-buat itu.
"Apa seorang anak tidak boleh meminta haknya pada ayahnya?."
"Mengajakku bernegosiasi, eoh?. Bagaimana jika hadiahnya adalah saudara-saudaramu?."
"Maksud anda.?"
"Beberapa waktu yang lalu, aku berniat untuk membunuh kalian semua. Kalian semakin sulit dikendalikan. Terutama kibum untuk saat ini."
"Apa maksud anda?."
"Kau mengetahuinya dengan sangat baik chullie. Aku bukan orang yang suka bermain-main. Aku terlalu gampang bosan dengan sesuatu." Tuan choi sekali lagi memamerkan smirk nya karena merasa tengah diatas angin.
"Baiklah, permisi." Heechul segera melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.
"Kau akan melakukannya kan chullie?. Demi saudaramu?." Tuan choi masih nampak memaksa heechul untuk menjawab 'iya'.
Heechul hanya mampu menggigit bibirnya demi meredakan amarahnya yang hampir meledak itu. Kakinya sama sekali tak berhenti untuk terus melangkah. 'Malam yang buruk' Batinnya pelan.
Sementara tuan choi nampak tertawa puas karena mampu mempermainkan salah satu anak –anjing- terbaiknya itu.
_o0o_
"Uhuk... uhuk... hoek... Ugh..." Sebuah suara pelan terdengar dari arah kamar mandi di sudut kamar mewah dimalam itu.
Namja tampan bersurai cokelat muda yang tengah nyenyak dalam tidurnya itu sedikit terusik dengan suara yang kerap didengarnya beberapa hari belakangan ini.
Langkah kakinya yang panjang segera membawanya keruangan dimana suara itu berasal. "Chullie ah... Gwenchana...?" Teriaknya, mengingat pintu kamar mandi dalam keadaan terkunci.
"Nde..." Sebuah jawaban pelan dari dalam ruangan itu sama sekali tak membuatnya tenang.
"Jinjja...?" Sekali lagi sebuah pertanyaan mengalun dari bibirnya berusaha mencari kepastian.
"Nde, Mag ku kumat teukie." Suara dari dalam itu terdengar lemah.
"Apa kau belum makan?. Buka pintunya chullie ah, Biarkan aku masuk" Leeteuk semakin khawatir.
Tak ada jawaban dari dalam sana selain suara aliran air yang mengalir. Namun tak seberapa lama pintu yang dikunci terbuka dan menampakkan sosok tinggi dan berwajah pucat.
Leeteuk tentu saja sedikit terkejut dengan keadaan sahabatnya itu. "Ah aku lelah teukie. Ayo tidur lagi." Ucap heechul pelan. Leeteuk hanya mampu menuruti setiap langkah sang sahabat yang menuju ranjang king sizenya itu.
Mata heechul segera terpejam meski tidak dengan kesadarannya. Tubuhnya benar-benar terasa lemas saat ini tapi tak mampu membuatnya segera terlelap dalam mimpinya. Teringat kembali pembicaraannya dengan sang uisa beberapa waktu yang lalu.
#Flashback on,
"Sejak kapan kau mengalami batuk chullie ah...?" Sang dokter nampak membelalakkan matanya yang tidak bisa dianggap lebar itu.
"2 atau 3 hari yang lalu seongsaengnim." Heechul nampak mengingat-ingat sesuatu.
"Serumnya mulai tidak bekerja. Aku akan membuatkan yang lebih kuat lagi. Tapi aku khawatir serum yang aku buat justru akan merusak jaringan lainnya." Wajah sang dokter menjadi mendung sesaat kemudian. "Aku tak menyangka efeknya lebih cepat dari dugaanku." Lanjutnya.
"Gamsahamnida seongsaengnim. Hubungi aku jika serum itu sudah jadi. Masih ada beberapa hal yang perlu aku selesaikan." Heechul benar-benar tak melupakan senyumannya.
Sang dokter nampak berkutat kembali dengan tabung reaksinya dan segala macam peralatan dimeja penelitiannya sesaat setelah heechul keluar dari ruangannya.
#Flasback end.
'Apa mati itu akan menyakitkan?' Batin heechul pelan. Siapapun tak pernah tahu bukan bagaimana rasanya mati dan dapat menceritakan bagaimana kematian itu menghampirinya. Namun sejenak kemudian, bibir heechul nampak tersenyum tipis. 'Ah... kebebasan. Harummu bahkan sudah tercium.' Kembali batinnya berucap. Di tariknya nafasnya pelan dan terlelap setelahnya.
_o0o_
"Yeoboseo, kim sshi. Bisa kita bertemu." Pagi yang cerah itu diisi dengan suara pelan heechul namun cukup mampu membangunkan roommatenya itu.
"Ah, nde. Di C cafe. Arrasimnika. Sekarang. Nde. Nde." Heechul yang saat itu tengah merapikan penampilannya yang menggunakan baju kemeja berwarna hitam berlengan panjang yang ditekuknya hingga hampir mencapai siku, dipadukan dengan celana jins berwarna senada yang sangat kontras dengan kulit tubuhnya yang seputih susu itu. Sebuah kalung bertuliskan huruf china itu seakan melengkapi penampilannya. Rambut hitamnya yang masih sedikit basah dibiarkannya begitu saja.
"Chullie... Kau mendapat misi?." Leeteuk yang masih belum terbangun sempurna itu nampak menguap sekali lagi sambil memandangi penampilan sahabatnya yang lebih pantas menjadi anggota boyband itu.
Heechul hanya menganggukkan kepalanya seraya meraih tas gitar yang berada disampingnya dan kemudian berjalan keluar dengan langkah yang sedikit lebar.
_o0o_
# Di cafe,
"Maaf membuat anda menunggu kim sshi." Ucap heechul sopan, dan tangan tuan kim yang terulur segera disambutnya, tidak seperti pertemuan sebelumnya. "Anda sudah memesan sesuatu?, biar saya pesankan sekalian ke toilet sebentar." Lanjutnya.
"Nde, pesankan aku kopi hitam heechul sshi. Gumawo." Cafe tersebut memang jenis cafe yang tidak memiliki pelayan yang berkeliling untuk mencatat pesanan. "Chakkaman heechul sshi, kau sedikit berubah. Apa ada yang tengah kau rencanakan?."
Heechul kembali membalikkan tubuhnya 180 derajat demi menjawab pertanyaan tuan kim. "Nde, saya berencana untuk mengambil hati anda, bukankah anda berjanji membawakan saya penawarnya kim sshi?." Ucap heechul lembut.
"Ahahaha... Nde. Mari kita bicarakan nanti setelah mendapatkan minuman kita." Wajah tuan kim terlihat begitu senang akan kalimat heechul sebelumnya.
Heechul segera membungkuk dan berlalu dari hadapan tuan kim dan kemudian menuju meja pelayan untuk memesan minumannya dan beberapa kue kering yang menjadi kegemaran tuan kim. Heechul segera menuju ke toilet untuk menuntaskan kegiatannya melepaskan plastik sintetis yang merekat di seluruh jemarinya. Warnanya yang bening tak akan membuat siapapun tahu. Dia kemudian menggantinya dengan yang baru.
_o0o_
Dua orang namja dengan perawakan tinggi dan berwajah tampan nampak tergesa-gesa menuju suatu ruangan. Langkahnya diikuti oleh seorang namja kekar dan juga namja tinggi berwajah chiness yang tengah membawa bungkusan plastik berwarna merah muda ditangannya.
"Heechul hyung..." Tanpa mengetuk pintu atau semacamnya, dua bocah hyperaktif itu segera memasuki ruang kamar mewah milik alpha dan beta itu.
Siinggg... Tidak ada orang didalam kamar tersebut, tidak ada suara apapun kecuali guyuran air shower dari kamar mandi.
"Mungkin chullie hyung sedang mandi. Kita tunggu disini saja." Ucap Lee eunhyuk, namja kelebihan gusi roommate namja tampan namun childish disampingnya itu, Lee donghae.
Sementara namja kekar berparas 'real namja' itu memilih untuk duduk dikursi sofa berwarna merah itu, begitu juga dengan namja china yang membawa bungkusan sebelumnya.
Pintu kamar mandi terbuka. Empat pasang mata yang nampak bersemangat itu terus menatap ke arah kamar mandi. Dan park leeteuk yang keluar dari sana hingga membuat keempatnya menghela nafas kecewa.
"Ada apa.?" Leeteuk yang sedikit kaget dengan kunjungan empat namja tampan itu nampak kebingungan.
"Kami mencari chullie hyung. Dia kemana teukie hyung?." Kangin namja kekar itu seakan mewakili pertanyaan ketiga namja yang lain.
"Oh, ada apa?.Dia sedang menjalankan misi." Jawab leeteuk sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk ditangannya.
"Oh..." Jawab mereka serentak. "APA...?!" Sekali lagi mereka berteriak secara serempak. 'Oh, ada apa dengan mereka?' Batin leeteuk sambil menutup telinganya yang hampir pendarahan gara-gara suara nyaring luar biasa milik mereka.
"Hyung... Bukannya chullie masih terlalu lemah kondisinya?. Apa sebenarnya yang ia kejar sampai dia berbuat bodoh begini?." Hankyung, namja china itu tentu saja bertanya-tanya tentang keputusan nekat heechul.
Leeteuk hanya mampu mengendikkan bahunya menanggapi pertanyaan hankyung. Sebentar kemudian mereka segera bubar dengan wajah kecewa.
_o0o_
"Mianhamnida membuat anda menunggu." Ucap heechul singkat sambil membawa nampan yang berisi dua gelas cangkir berwarna putih gading dan dua piring kue kering.
Heechul segera menurunkan gelas ditangannya, juga beberapa makanan ringan seakan pelayan yang sangat profesional.
Segera dirinya sendiri duduk dan berniat untuk meminum kopinya yang masih mengepul itu menggunakan tangan kirinya.
"Heechul sshi... Bisakah kita bertukar minuman?. Seperti yang kau katakan, hanya pencegahan."
_o0o_TBC_o0o_
Saatnya balas review….
Waa… seneng ada satu lagi yang sudi ngereview epep geje ini… :P
Miniseokie01 Hahahaha… meski kayak malaikat, teukie manusia juga ….
Kadang-kadang masih suka egois… :P
Emang minta ditimpuk tu teukie… #Plakk. :P
Gumawo udah bersedia mampir diepep fuyu…
Fuyu pasti bakal lanjutin. Ni yg chapter 4 update… minta reviewnya lagi ya...?
:)
Emon204 Fuyu tetap terus semangat selama masih ada yang nunggu lanjutan ff fuyu kok…
Jadi emon juga tetep semangat ya buat ngereview dan ngebaca ff fuyu…
Buat kyuchul dan kyubum… Chapter 5 ntar ya…? Ya…?
Udah fuyu siapin kok… :P
Buat yang masih setia menjadi silent reader…
Fuyu ucapin makasih juga, Semoga ff fuyu menghibur…
Mind to review for chapter 4...?
Jeongmal gamsahamnida…. #bow
