HELLO BABIES!

.

A story by timeandpain84

.

Naruto © Masashi Kishimoto

.

DLDR!

.

Summary

Hatake Kakashi. Aktor, 27 Tahun. Tampan, pintar, kaya, dan terkenal. Namun, tiba-tiba kehidupannya berubah ketika dia menemukan dua orang balita laki-laki tanpa identitas saat sedang bersembunyi dari kejaran fansnya.

.

[4] Warning Sign

.

"Aku rasa film ini akan menjadi box office," komen Gai setelah membaca sinopsis singkat proyek film terbaru Kakashi. Jalan cerita yang menarik, sutradara terbaik, penulis skenario ternama, dan jangan lupakan sang aktor utama yang berbakat. Perpaduan sempurna untuk jaminan keberhasilan film ini.

"Yah, kurasa..." respon Kakashi pelan, dia melirik tumpukan kertas yang ada di depannya dengan datar.

Proses reading naskah film yang berjudul 'Learning to Breathe' itu baru saja selesai. Sekarang Kakashi dan Gai tengah berada di kafetaria rumah produksi untuk sekedar bersantai sebelum pulang ke rumah.

"Serius deh, tapi aku benar-benar tidak bisa mengerti kenapa Ken tetap memaafkan Naomi. Padahal jelas-jelas Naomi sudah mengkhianatinya dan bahkan mencoba membunuhnya. Apa dia begitu dibutakan oleh cinta?" oceh Gai menyuarakan pikiran yang sudah dia pendam sedari tadi.

Ken adalah peran yang dimainkan oleh Kakashi di dalam film ini, sementara Naomi adalah nama tokoh utama wanitanya.

Kakashi tak berniat menanggapi ocehan Gai, dia hanya tersenyum tipis kemudian menyeruput kopinya. Gai itu memang selalu cerewet tentang peran-peran yang dimainkan Kakashi. Sedangkan Kakashi sendiri tidak pernah mau pusing memikirkannya, yang penting dia berakting dengan baik sesuai tuntutan skenario.

"Hey! Aku sedang menunggu komentarmu sebagai pemeran Ken!" kata Gai.

Kakashi mengangkat wajahnya dan menatap Gai malas, "Apa itu penting?"

"Sudahlah, jawab saja! Apa susahnya?" paksa Gai dengan semangat penuh.

"Hn, mungkin karena Ken sudah malas mencari wanita lain lagi. Atau karena Ken berpikir bahwa Naomi adalah takdirnya." jawab Kakashi ogah-ogahan.

Gai berdecak.

"Jawaban yang dangkal sekali, Hatake Kakashi."

"Lalu kau mau jawaban yang seperti apa?"

"Yang sedikit puitis dan menyentuh..."

"Kau tahu bahwa aku tidak suka hal-hal yang picisan seperti itu," Kakashi menghela napasnya.

Gai memandangnya prihatin, "Ckckck... Kau memang playboy dingin yang mengencani wanita hanya untuk mematahkan hati mereka. Aku yakin nanti kau juga akan menggaet dia..." mata Gai melirik ke arah pintu kafetaria.

Di sana tampak seorang wanita cantik dan anggun berambut biru memasuki kafetaria. Senyuman manis tidak lepas dari bibir ranum wanita itu. Sebagian pengunjung kafetaria dibuat terpana olehnya.

"Hey, dia berjalan kemari..." bisik Gai.

Kakashi tak menyahut, memilih fokus pada cangkir kopinya.

"Kakashi-san... Gai-san" suara lembut itu akhirnya terdengar.

"Konan-san." Kakashi menaruh cangkir kopinya di atas meja dan tersenyum pada Konan.

"Mau bergabung dengan kami?" tawar Gai ramah pada aktris cantik itu.

Konan tersenyum, "Terimakasih. Tapi aku hanya ingin menyapa kalian berdua. Managerku sudah menunggu."

"Benarkah?" Kakashi tertawa renyah, "Aku pikir kau ingin mengatakan hal yang lain selain itu..."

"Wow, kau seperti seorang pembaca pikiran," Konan ikut tertawa namun masih tetap menjaga keanggunannya, " Sebenarnya aku juga ingin memberikan ini..."

Konan mengambil sesuatu dari dalam handbag-nya dan menyerahkannya pada Kakashi. Sebuah undangan berwarna hitam dan bertuliskan tinta emas. Terlihat berkelas dan elegan.

"Undangan pesta?" Kakashi mengangkat sebelah alisnya.

"Ya, pesta kecil yang aku adakan. Walaupun kita baru bertatap muka secara langsung tadi, aku harap kau berkenan menghadirinya."

Kakashi mengangguk, "Aku akan berusaha untuk hadir di pestamu, Konan-san."

"Terimakasih," Konan memberi senyuman terbaiknya. "Kalau begitu aku permisi dulu."

Tanpa berbasa-basi lagi Konan meninggalkan Kakashi dan Gai. Dia adalah wanita yang memberikan kesan yang mengagumkan. Seorang wanita yang mempunyai rasa percaya diri yang tinggi. Seorang wanita yang bisa membuat lelaki bertekuk lutut untuk mendapatkannya.

"Aku rasa dia tertarik padamu..." kata Gai.

"Begitukah?"

"Belum-belum Naomi sudah mengundang Ken untuk datang ke pestanya," kata Gai lagi bermaksud untuk menyindir, "Dan sebentar lagi akan ada berita bahwa kalian tertangkap kamera bersama."

Gai sudah hafal benar dengan kebiasaan Kakashi. Dia memang tampan dan cool sehingga banyak wanita yang mendekatinya. Dan konyolnya Kakashi selalu menanggapi mereka. Karena itu pulalah dia disebut sebagai seorang scandal-maker yang suka berkencan dengan aktris cantik partner kerjanya.

"Aku tidak mau berkomentar soal itu..."

Kakashi lalu terdiam.

"Kau ini... Berhenti memainkan hati wanita, Kakashi!"

"Aku tidak memainkan hati mereka! Mereka saja yang terlalu menaruh harapan lebih padaku. Aku..."

Ting.

Perkataan Kakashi terhenti ketika ponsel miliknya berbunyi. Dia mengambil ponselnya dan melihat ada satu email baru yang masuk. Dia lalu membukanya setelah melihat nama yang tercantum di sana.

.

From : uchiha-obito

Hello Tuan Aktor yang sibuk, aku selalu memaafkanmu yang selalu lama membalas e-mailku.

Kupikir kau harus sedikit meluangkan waktumu untuk berlibur. Jangan hanya bekerja, kau akan melewatkan banyak hal yang menyenangkan. Percayalah padaku...

Luangkan waktumu dan,

Datanglah ke California...

Jun sudah bisa berlari dan melemparkan botol susunya ke kepalaku. Kadang dia malah tidak membiarkanku untuk menyentuh ibunya. Coba bayangkan bagaimana perasaanku!

Oh ya, aku yakin bahwa Jun akan menyukaimu jika dia bertemu denganmu.

Heh!

Lebih baik kau cepat menikah dan buat Jun-mu sendiri.

Undang kami jika saatnya tiba.

Salam manis dariku, Rin, dan Jun.

Ps:

Aku melampirkan foto terbaru Jun. Rasanya sangat luar biasa ketika melihat anakmu tumbuh dan mulai memanggilmu 'ayah' :)

.

Tanpa sadar Kakashi mencengkeram ponselnya sendiri ketika membaca e-mail Obito. Ada sesuatu yang aneh terasa menjalar di dalam dadanya.

Dia lalu membuka foto yang dilampirkan Obito. Tampak seorang bocah montok berusia dua tahunan di dalam foto. Dia sedang memamerkan senyuman kanak-kanaknya yang ceria dan tanpa beban ke arah kamera.

Jun begitu mirip dengan Obito. Rambut hitam, mata hitam, dan senyuman yang jenaka.

Obito terlihat bahagia. Begitu pula dengan Jun. Dan pasti juga Rin...

Sensasi aneh itu semakin merongrong dada Kakashi dari dalam. Dia tidak tahu apa ini.

Mungkinkah dia merasa iri pada kebahagiaan Obito? Atau justru dia merasa cemburu?

Tidak. Kakashi tidak boleh cemburu. Dia tidak punya hak untuk cemburu.

Tapi...

"Kakashi! Kau tidak apa-apa?" tanya Gai khawatir. Dia menggoncang lengan Kakashi yang tiba-tiba terlihat tertegun.

Kakashi tersentak, "Aku tidak apa-apa," ujarnya menutupi, "Bagaimana jika kita pulang sekarang?"

Gai mengangguk. Dia mengerti bahwa ada sesuatu yang terjadi pada Kakashi, namun dia memilih untuk tidak menanyakan.

"Baiklah. Pulang dan istirahat!" ucap Gai penuh semangat masa mudanya.

Kakashi memalingkan wajah, ekspresinya tak terbaca.

.

.

Sebelum menyusut, Uzumaki Naruto tinggal di sebuah apartemen kelas menengah yang terletak di distrik pinggiran Konoha. Unit apartemennya tidak terlalu besar, hanya ada dua buah kamar tidur, satu kamar mandi, ruang tamu merangkap ruang keluarga, dan sebuah pantry.

Naruto tinggal sendirian di tempat ini. Dia sengaja menjauhkan dirinya dari hiruk pikuk pusat Konoha sekaligus ingin belajar hidup mandiri. Yah, walau sejatinya dia lebih sering mengikuti dan mengganggu Sasuke dan Sakura.

Namun setelah kejadian tak terduga itu, otomatis apartemen Naruto jadi kosong. Dan siapa juga yang tahu bahwa akan ada kehebohan lain yang terjadi berkat seseorang yang mengunjungi apartemen Naruto malam ini.

"Naruto!"

"Yuhuuuuu~"

"Narutoooooooo..."

"Sepupu tampanmu datang mengunjungimu!"

"Buka pintunya dong!"

"Kemana sih dia?"

Pria berambut orange itu mengetukkan kakinya dengan kesal di depan pintu unit apartemen Naruto. Dia sudah 30 menit berada di depan pintu namun adik sepupunya itu tidak juga membukakan pintu.

"Naruto juga tidak bisa dihubungi... Sial, padahal Paman yang menyuruhku," pria itu menggerutu sambil berpikir.

Ponsel Naruto tidak aktif sejak kemarin. Membingungkan.

"Apa aku hubungi dua teman Naruto itu ya? Eh, tapi aku kan tidak punya nomor ponsel mereka..." gumamnya. Dia sedang bicara sendirian. Persis seperti orang gila.

Tak lama kemudian, dia justru menepuk kepalanya sendiri.

"Bodoh sekali diriku... Si Sasuke kan adiknya Itachi!" dia menjerit histeris. Lupa bahwa Uchiha Sasuke itu adik kesayangan Uchiha Itachi, teman seperjuangannya di TK dulu.

Tanpa membuang waktu lagi, pria itu segera mendial nomor Itachi.

"Itachi! Bisakah kau membantuku? Aku rasa Naruto hilang!" teriaknya panik. Tetapi kemudian matanya melotot karena Itachi juga menjawab dengan teriakan frustasi.

"SASUKE JUGA HILANG!"

.

.

Jarum jam sudah menunjukkan angka 11 malam. Sakura masih berada di apartemen Kakashi untuk menemani Naru dan Sasu. Wanita itu menguap sambil menatap layar televisi yang menayangkan sebuah acara talkshow. Rasanya bosan sekali.

Sakura ingin tidur tapi dia belum mengantuk. Lagipula ini kan bukan rumahnya sendiri. Ingin pulang, tapi Sakura tidak tega meninggalkan Naru dan Sasu walaupun kedua balita itu sudah tertidur lelap di sampingnya.

Tawa pelan meluncur dari bibir Sakura ketika mengamati wajah keduanya yang begitu damai. Naru tidur beralaskan bantal sofa sambil mengemut ibu jarinya. Sesekali dia bahkan mengigau tidak jelas. Sementara Sasu lebih tenang, dia tidur bersandar pada lengan Naru.

"Kalian dalam versi balita sangat menggemaskan," gumam Sakura. Tangannya terjulur untuk mengelus pipi montok Naru dan Sasu. Hal yang dulu juga sering dia lakukan pada Naruto dan Sasuke.

"Sakura..."

Sakura mengangkat kepala dan melihat Gai berjalan menghampirinya.

"Oh, Gai-san. Sudah pulang?" sambut Sakura.

"Ya, maaf karena baru kembali." Gai nyengir, mata pria itu langsung berbinar saat melihat Naru dan Sasu. Sepertinya dia memang benar-benar menyukai anak kecil.

"Tidak masalah."

"Jika kau ingin pulang dan beristirahat, pulanglah. Aku yang akan menjaga Naru dan Sasu." kata Gai. "Kakashi tadi kabur dariku jadi aku yang akan menggantikannya untuk menjaga mereka."

Kening Sakura bertaut, "Kabur?"

Gai terkekeh.

"Ya begitulah dia. Suka tiba-tiba menghilang. Tadi kami berhenti untuk mengisi bahan bakar, eh saat aku kembali dia sudah lenyap tak berbekas," jelas Gai seraya menggelengkan kepalanya sendiri. Ini adalah salah satu kebiasaan Kakashi untuk menenangkan dirinya sendiri.

Sakura pun tidak habis pikir. Kenapa Kakashi kesannya jadi kekanak-kanakan sekali ya?

"Uhm. Baiklah, aku memang harus pulang karena besok ada shift pagi. Aku titipkan Sasu-kun dan Naru-chan padamu ya. Besok jika pekerjaanku sudah selesai aku akan segera kemari,"

"Tentu saja. Kau bisa mempercayaiku untuk menjaga mereka!" Gai mengacungkan kedua ibu jarinya, meminta Sakura untuk tidak perlu khawatir.

"Sekali lagi terimakasih Gai-san."

"Tidak perlu sungkan, Sakura. Aku senang bisa membantumu," balas Gai dengan tulus.

Sakura mengangguk.

Dia lalu mulai membereskan barang-barangnya dan memakai coat abu-abunya. Sebelum berpamitan, dia mendekati Naru dan Sasu yang masih tertidur nyenyak kemudian mengecup kening mereka dengan sayang.

"Wah, kau sudah cocok menjadi seorang ibu," celetuk Gai membuat wajah Sakura merona.

"Ehm. Aku permisi dulu dan selamat malam." pamit Sakura cepat, tak mempedulikan tawa Gai yang ditujukan padanya.

"Hati-hati, Sakura!" teriak Gai tepat saat Sakura menutup pintu apartemen ini.

Gai pun langsung bergegas ke sofa dan merebahkan dirinya di sana, mencoba menyusul Naru dan Sasu ke alam mimpi.

.

.

Mobil putih Sakura melaju dengan kecepatan sedang menembus kegelapan malam. Cuaca tidak begitu baik, angin berhembus kencang dan mendung tebal bergelayut di langit. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.

Lalu lintas juga mulai sepi. Mungkin orang-orang memilih untuk bergelung di balik selimut mereka daripada harus menghadapi dinginnya Konoha.

Sakura sampai di sebuah distrik yang sepi, mayoritas pintu rumah di sana sudah tertutup rapat. Dia menghela napas, tinggal 3 distrik lagi sebelum sampai ke rumahnya.

Setelah distrik ini Sakura harus melewati kawasan pertokoan yang sudah lama tak terpakai. Konon karena kawasan itu banyak dihuni oleh arwah-arwah penasaran sehingga ditinggalkan penghuninya. Tak berlebihan jika area itu disebut sebagai 'Ghost Area'.

Biasanya di jam seperti ini masih banyak kendaraan yang berlalulalang mengingat Ghost Area dilewati sebuah jalan besar. Tapi sepertinya Sakura kurang beruntung, saat ini hanya mobilnya yang terlihat melintasi kawasan ini.

Mengenyahkan segala pikiran negatifnya, Sakura memacu mobilnya dengan lebih cepat. Sekitar 300 meter kemudian, Sakura memelankan laju kendaraannya saat melihat sesosok pria tengah duduk di sebuah halte bus yang sudah lama tak terpakai.

Sinar dari lampu jalan sedikit membantu Sakura untuk mengenali sosok itu.

"Kakashi..." ucap Sakura heran.

Ya, tidak mungkin Sakura salah mengenalinya. Dia hafal postur tubuh pria itu. Selain itu, topi dan masker yang Kakashi kenakan sama dengan yang kemarin saat pertama kali bertemu dengan Sakura.

"Apa yang dia lakukan di sini?" gumam Sakura. Dia tengah memutuskan untuk menghentikan mobilnya atau tidak.

Tapi apa pedulinya? Sakura pun memutuskan untuk meneruskan laju mobilnya.

Ctarrr...

Suara petir terdengar memekakkan telinga. Tak lama kemudian hujan deras mengguyur Konoha. Sakura menggigit bibir bawahnya ragu dan melirik melalui spion bahwa Kakashi tak beranjak dari tempat itu.

Huh, apa dia sudah gila?

Sambil mendengus kesal Sakura memundurkan mobilnya. Kali ini benar-benar berniat menghampiri sang aktor.

Sakura merapatkan coatnya dan mengambil payung merah jambu miliknya. Dia turun dari mobil, membuka payungnya dan mendekati Kakashi yang tampak tidak menyadari keberadaannya.

Aneh juga, apa mobil Sakura kurang besar?

"Kakashi-san," panggil Sakura saat dia sudah berada di dekat pria itu.

Kakashi tak menyahut. Dia sedang menundukkan kepalanya ke bawah, entah sedang tidur atau melamun.

Sakura menjulurkan tangannya dan menepuk bahu Kakashi.

"Kakashi-san," panggilnya lagi.

Kali ini tepukan Sakura membuat Kakashi mengangkat kepalanya. Sepasang mata abu-abu gelap itu menatap Sakura dengan pandangan yang lemah.

"Sakura?"

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sakura tak habis pikir. Dia teringat tentang perkataan Gai bahwa Kakashi kabur darinya.

Sakura pikir pria seperti Kakashi akan kabur ke tempat hiburan yang gemerlap, tapi kenyataannya pria ini justru memilih untuk berdiam di halte bus tak terpakai, di sebuah area menyeramkan, dan di tengah hujan pula.

"Apa yang kau lakukan di sini?" ulang Sakura.

"Aku sedang menenangkan diriku," jawab Kakashi. "Dan kau pasti setuju bahwa tempat ini sangat tenang."

Sakura semakin heran.

"Tapi sekarang hujan deras. Lebih baik kau pulang dan beristirahat." nasehat Sakura.

Dia lalu bisa mendengar tawa pelan Kakashi.

"Hujan tidak akan membunuhku."

"Jangan keras kepala! Lagipula apa kau tidak takut berada di sini sendirian? Kabarnya ada banyak..."

"Hantu? Kalau ada hantu yang muncul tentu saja aku akan berlari, tapi dari tadi belum ada yang muncul, jadi aku masih mau di sini." Kakashi terdengar sedang mencoba melucu walau Sakura tidak tertawa sama sekali karena suara itu terdengar begitu lemah.

"Sekarang hujan deras. Kau bisa sakit nanti," Sakura ingin menampar mulutnya sendiri, apa sekarang dia terdengar sok perhatian?

Tapi sungguh, kata-kata itu meluncur dengan sendirinya ketika dia melihat sorot mata Kakashi yang rapuh. Tidak ada kilat mata menyebalkan seperti biasanya.

"Aku tidak akan sakit semudah itu. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Lebih baik kau menuruskan perjalananmu..." kata Kakashi.

Sementara itu, hujan terasa semakin deras mengguyur kota ini.

"Aku serius Sakura," Kakashi berdiri dari duduknya. Tapi kemudian tubuhnya limbung, Sakura refleks melempar payungnya ke sembarang arah dan menangkap tubuh Kakashi yang lebih tinggi itu semampunya.

"Kakashi-san, Kakashi-san! Kau tidak apa-apa?"

Dengan sedikit kepayahan Sakura berusaha menahannya agar mereka tidak terjatuh.

"Kau demam," ucap Sakura saat dia menyentuh lengan Kakashi yang terasa panas.

Sakura tidak punya banyak pilihan. Dia membawa Kakashi ke dalam mobilnya setelah merapatkan topi dan jaket pria itu agar sedikit terlindung dari hujan.

"Putar balik atau pulang ke rumah?" tanya Sakura pada dirinya sendiri. Dia melirik Kakashi yang memejamkan matanya dengan bingung.

Tak sampai dua menit kemudian Sakura telah membuat keputusan. Dia akan membawa Kakashi ke rumahnya yang jaraknya sudah cukup dekat daripada harus memutar balik.

"Tunggu sebentar lagi..." bisiknya cemas.

.

.

Kakashi merasa kepalanya pening ketika membuka matanya di pagi itu. Pria itu mencoba bangun dari ranjang dan mendapati sebuah handuk kecil jatuh dari keningnya.

"Arghhh... Kepalaku," erangnya pelan.

Dia mengamati ruangan ini. Jelas bahwa ini bukan kamarnya. Cat kamarnya berwarna putih sedang di sini berwarna soft pink.

Pink?

Kejadian semalam langsung muncul di kepalanya. Semalam dia sedang menyepi, lalu hujan dan Sakura datang. Mereka bicara sebentar dan semua gelap di pandangan matanya.

"Kau sudah bangun?"

Suara lembut menyapanya ketika pintu bercat putih itu terbuka. Sakura masuk dengan dandanan rapi, sepertinya dia mau berangkat kerja.

"Sakura? Aku..."

"Kau demam tinggi," jawab Sakura cepat seraya menghampiri Kakashi, ada nampan berisi bubur di tangannya. "Karena jaraknya lebih dekat ke rumahku, jadi aku membawamu kesini."

Kakashi tersenyum tipis, "Terimakasih sudah mau menolongku."

"Itu bukan apa-apa. Kau juga sudah mau membantu kami," Sakura balas tersenyum, "Dan apa kau lupa jika aku adalah seorang dokter?"

Sakura lalu meletakkan nampan yang dia bawa di dekat Kakashi, "Makanlah buburnya lalu minum obat," dia menyodorkan sendok pada Kakashi dan memaksa pria itu untuk menerimanya.

Kakashi masih menatapnya ragu, "Ini bisa dimakan kan?"

Sakura menggeram marah dan memukul lengan Kakashi, membuatnya mengerang kesakitan.

"Jangan meremehkan masakanku ya!"

"Ah, kau benar-benar wanita monster!" keluh Kakashi, akhirnya dia mengambil sendok itu dan menyendoki buburnya.

Sakura tersenyum puas melihatnya.

"Setelah ini aku harus berangkat ke rumah sakit, kau mau istirahat di sini dulu atau langsung pulang? Kurasa aku bisa mengantarmu," kata Sakura sambil melirik jam tangan silver yang ada di pergelangan tangan kirinya.

"Aku akan pulang dan kau tidak perlu mengantarku. Arah rumah sakit dan apartemenku berlawanan,"

"Tapi kau belum sehat, Kakashi-san," Sakura mengulurkan tangannya ke kening Kakashi, mencoba untuk mengecek suhu tubuhnya.

Kakashi mengerjapkan matanya kaget.

"Demamnya sudah turun." Sakura bergumam.

"Nah, aku bisa pulang sendiri," balas Kakashi cepat untuk menutupi kekagetannya.

"Keras kepala, lebih baik kau memanggil Gai-san saja untuk menjemputmu."

"Aku bukan anak kecil, Sakura. Aku bisa pulang sendiri."

"Ya, terserahlah..." Sakura mengibaskan tangannya malas. Tapi beberapa saat kemudian wajahnya berubah jadi penasaran, "Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan di tempat itu semalam?"

"Kau masih saja penasaran?" Kakashi menatap Sakura tak percaya.

"Menurutku aneh saja jika melihat seorang aktor ternama Konoha berkeliaran di tempat seperti itu,"

"Apanya yang aneh? Aku hanya mengingat masa lalu di sana." jawab Kakashi, matanya menerawang.

"Masa lalu?" ulang Sakura heran.

"Uh, tidak perlu dibahas," Kakashi mengelak.

Sakura mengangguk, tak mau mendesak. Lagipula tidak ada alasan bagi Kakashi untuk menceritakan masa lalunya pada Sakura.

"Baiklah, aku berangkat dulu. Kau tinggal menutup pintunya nanti." Sakura berbalik, "Dan jangan lupa minum obatnya."

"Sakura," panggil Kakashi saat Sakura meraih gagang pintu.

"Ya?"

"Terimakasih."

Sakura terpana, ada sesuatu yang menggelitik hatinya.

.

.

"Astaga, Kakashi! Kemana saja kau semalam?"

Yang pertama kali Kakashi lihat saat membuka pintu adalah Gai yang sedang menggendong Naru. Sorot matanya terlihat menuntut penjelasan Kakashi.

"Hmmm... Hai, Naru-chan!" Kakashi tidak menggubris Gai dan memilih untuk menyapa Naru.

Naru tertawa gembira menyambut Kakashi.

"Kau belum menjawabku!" teriak Gai, "Ah, aku tahu! Kau pasti berkencan dengan seseorang sampai lupa waktu!"

"Tidak!" Kakashi menjawab cepat, "Bukan seperti itu!"

"Kau mencurigakan!"

"Diamlah Gai!"

Kakashi berjalan meninggalkan Gai sebelum dia menjadi lebih cerewet lagi.

"Lihat dia Naru-chan, dia mencurigakan kan?" tanya Gai pada Naru.

Naru mengangguk, "Paman Kakachi balu pacalan... Hihihi..."

Kakashi mendengus mendengar pembicaraan mereka.

"Pagi, Sasu-chan!" panggilnya saat melihat Sasu yang sedang memegang sebutir tomat merah.

Sasu menoleh dan memasang tampang datarnya.

"Hn," dan dia kembali fokus pada tomatnya seolah benda itu adalah benda paling menarik di muka bumi.

Gai menyusul kemudian mendudukkan Naru di sofa. Naru langsung merangkak kepada Kakashi dan menarik-narik ujung jaketnya.

"Ada apa Naru?"

"Paman kemana cemalam?"

Kakashi mendengus, "Kau juga penasaran?"

"Iya..."

Kakashi terlihat berpikir. Cerita atau tidak ya?

"Hei, kau cedikit pucat," sela Sasu tiba-tiba.

"Benal, apa Paman cakit?" sambung Naru, nadanya khawatir.

"Semalam aku sedikit demam dan sekarang aku sudah baik-baik saja kok. Tidak perlu khawatir."

"Jadi itu alasan kenapa kau tidak pulang?" Gai terlihat kesal, "Kenapa tidak menghubungiku?"

"Aku..." Kakashi terdiam, "...pingsan"

"HAH?" Gai memekik. "Lalu? Kau ada di rumah sakit?"

Kakashi menggeleng. "Aku berada di rumah Sakura semalam."

Hening sejenak.

Gai melongo.

Naru kaget.

Sasu melotot.

"APA?!"

Kakashi benar-benar tidak menyadari saat Sasu merangkak ke arahnya. Dan...

"SASUUUUU! KENAPA KAU MENGGIGITKU LAGI? ARGGHHH... INI SAKIT!"

.

.

"Teme... Kau cembulu?" tanya Naru. Sekarang dia hanya berdua dengan Sasu di depan televisi. Kakashi sedang istirahat di kamarnya sementara Gai sudah pulang sejak tadi.

Sasu menoleh, "Tidak."

"Jangan boong!"

"Cudah kubilang, aku..."

Naru tertawa, "Kau payah! Kenapa kau balu cembulu cekayang? Makcudku, kalau kau macih cuka dengan Cakuya-chan kenapa kau tidak bilang padanya cejak kemayin kemayin?"

"Diam dobe, kau celewet." Sasu memalingkan wajahnya, mencoba menyembunyikan apapun yang terlukis di wajahnya dari Naru.

"Kau malah kalena Cakuya-chan menolong Paman Kakachi yang pingcan?" Naru melirik ke sobat ravennya itu. Sebenarnya dia tidak perlu bertanya lagi karena dia pun sudah tahu jawabannya, tapi asyik juga kalau menanyai Sasu yang suka sensi itu.

"Kau tidak cepelti ini caat dulu Cakuya-chan pacalan dengan Gaala setelah putus denganmu," kata Naru lagi.

Sasu masih bungkam. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi pada hatinya.

Kisah cinta Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura memang sudah berakhir dua tahun yang lalu. Selama kurun waktu itu, Sasuke memang belum menemukan seorang wanita yang bisa menggantikan posisi Sakura di hatinya.

Sakura sendiri bisa dengan mudah mendapatkan penggantinya. Sekitar 10 bulan setelah putus dengannya, Sakura mulai berkencan dengan Gaara, dan mereka putus sekitar 2 bulan yang lalu. Dan sekarang Sakura sudah flirting dengan Kakashi?

Sasu(ke) hanya tidak siap dengan situasi ini.

Lalu kisah Sakura dan Naruto?

Mereka berpacaran saat masih berusia 15 tahun, dan berpisah hampir 3 tahun kemudian. Setelah itu Sakura berkencan dengan Akasuna Sasori sebelum bersama Sasuke. Memang kisah mereka sedikit rumit, terutama Sakura.

"Teme..." Naru menyikut Sasu yang justru melamun.

"Lebih baik kita pikilkan kenapa kita bisa menciut dan bagaimana cala kita kembali ke tubuh kita yang cemula!" Sasu berteriak kesal. Dia melotot pada Naru.

Naru menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Aku punya pemikilan, tapi kau jangan malah ya?"

"Apa?"

"Mungkin ini kalena cokelat yang kita makan. Makcudku aku makan dan kau juga. Kita cama-cama makan. Kalau kalena yamen itu tidak mungkin, kita cudah celing memakannya," jelas Naru dengan susah payah. Hanya hal ini kemungkinan yang terpikirkan olehnya.

Aura Sasu menggelap.

"Tumben kau pintal..."

"Ciayan kau!"

"Kita halus mencali olang yang membelikan cokelat itu padamu. Kau macih ingat olangnya kan?"

Naru mengangguk mantap.

"Kita halus cepat-cepat. Aku yakin Itachi cudah menyadali bahwa aku menghilang,"

"Huft, ya. Kakakmu memang menyelamkan..."

"Dan apa kau pikil Ayahmu tidak menyelamkan?" Sasu bergidik.

Mereka berdua lalu saling tatap ngeri saat melihat seorang pria dewasa berambut pirang sedang memberikan pidato politiknya di sebuah channel berita.

.

.

Sakura dan Ino tengah berjalan di koridor rumah sakit sembari membawa laporan kesehatan pasien mereka. Kedua wanita itu berbincang ringan, dan sesekali tertawa bersama. Saat ini Ino mengoceh tentang Kakashi yang kemarin menghadiri proses reading naskah film barunya.

Namun Sakura tidak bisa berkonsentrasi dengan apapun yang dikatakan oleh Ino. Pikirannya lebih tertuju kepada kejadian pagi tadi.

'Terimakasih.'

Hatake Kakashi berterimakasih kepadanya. Sakura bisa merasakan bahwa wajahnya memanas.

Tidak. Ini tidak benar. Sakura mengusir pikirannya tentang Kakashi.

Tidak ada sesuatu yang istimewa. Ini semata-mata Kakashi adalah seorang aktor, dan Sakura hanya terpesona karena melihatnya secara langsung. Hanya itu. Tidak lebih.

"Sakura? Apa kau mendengarkanku?" Ino mengguncang bahu Sakura.

"Ya? Oh, itu tidak masalah..." Sakura tergagap

"Holy cat! Apanya yang tidak masalah?" kesal Ino, "Aku baru saja bilang padamu bahwa aku tidak menyukai lawan main Kakashi di film barunya."

Ala fangirl sekali pikiran Ino.

Tawa rendah keluar dari bibir Sakura. Tapi dia penasaran juga.

"Memangnya siapa lawan mainnya?" Sakura keceplosan mengucapkan pertanyaan itu. Sial!

Mata Ino memicing, "Konan."

Sakura tertegun sejenak saat mendengar nama itu. Konan? Artis cantik dan seksi itu?

"Aku hanya tidak siap mendengar kabar kedekatan mereka,"

"Kau berlebihan, pig!" Sakura menormalkan ekspresinya. Dia ingat, saat berusia 16 tahun dia pernah bertemu dengan Konan di pesta ulang tahun Naruto.

"Ini tidak berlebihan. Kau kan juga tahu kalau Kakashi suka berkencan dengan lawan mainnya..."

"Itu kan hidupnya," jawab Sakura, tapi hatinya mencelos saat mengucapkannya. Jantungnya berdebar dengan kencang.

"Haish, kau ini..." gerutu Ino. "Tapi kudengar sebelumnya kalau Konan bersih dari skandal. Apa karena dia pintar menutupinya ya?" dia mulai lagi. Seharusnya Ino jadi host acara gosip saja daripada jadi dokter.

"Aku tidak tahu,"

"Tapi..."

"Sakura!"

Rasanya tubuh Sakura seolah membeku saat mendengar suara itu. Dia menoleh ke belakang dengan takut-takut diikuti oleh Ino. Ino justru terlihat senang karena melihat dua orang pria tampan di depannya.

Siapa mereka? Tanya Ino dalam hati. Yang satu mirip sekali dengan Uchiha Sasuke, sementara yang satu berwajah tampan bak seorang model.

"Itachi-niisan, Yahiko-san," lirih Sakura.

Setelah mendengar nama Itachi, tahulah Ino bahwa pria yang mirip Sasuke adalah kakaknya. Dan yang satu lagi entahlah, tapi memang dia sedikit familiar bagi Ino.

Mati! Mati! Dia akan mati berdiri!

Dua orang yang dia takutkan akhirnya datang menemuinya. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Sakura meremas ujung jas putihnya panik.

"Sakura, Sasuke dan juga Naruto menghilang. Kami tidak bisa menghubungi mereka? Apa kau tahu apa yang terjadi?" tanya Itachi dengan raut wajah panik dan khawatir. Yahiko yang berdiri di sampingnya tak bereaksi, namun matanya juga terlihat khawatir.

"A-aku..."

Harus menjawab apa aku? Sakura ingin menangis.

"Aku juga tidak tahu," satu kebohongan meluncur dari mulutnya, "Aku tidak pernah bertemu dengan mereka beberapa hari ini."

Pembohong! Kau pembohong Sakura!

Itachi dan Yahiko saling berpandangan. Yahiko lalu mengacak rambutnya frustasi.

"Bagaimana ini, Itachi? Aku rasa aku harus melaporkan hal ini pada Paman. Bagaimana jika Naruto diculik?" paniknya.

Itachi makin terlihat panik, "Mungkin saja... Saat itu Sasuke dan Naruto sedang bersama, lalu sekelompok teroris menangkap mereka. Geez..." Itachi menanggapi dengan ekspresi berlebihan.

Yahiko makin panik.

"Bisakah kalian tidak berasumsi macam-macam?" sela Sakura.

Yahiko memelototinya, "Tapi Naruto dan juga Sasuke menghilang, bagaimana bisa kami tidak khawatir?"

"Mungkin mereka sedang liburan bersama dan tidak ingin diganggu?" celetuk Ino.

"Itu tidak mungkin," balas Itachi yakin.

"Jika Sakura juga tidak tahu itu berarti aku harus bilang ke Paman. Paman dan Bibi pasti punya cara untuk menemukan Naruto dan Sasuke." Yahiko menepuk bahu Itachi.

"Kau benar..."

Ino terlihat bingung setelah mendengarnya. Sakura diam dan berpikir. Bisa gawat jika sampai mereka tahu.

"Hmmm... Mungkin mereka sedang pergi ke Suna untuk mengunjungi Kankurou," kata Sakura kehabisan ide.

Itachi dan Yahiko saling pandang.

"Baiklah, kami akan coba menanyakannya pada Kankurou dulu," putus Itachi, "Ayo kita pergi, Yahiko!"

"Oke!" Yahiko langsung mengekori Itachi.

Itachi berbalik lagi pada Sakura, "Jika kau tahu dimana mereka kau bisa langsung menghubungi kami."

Sakura memaksakan senyumannya, "Pasti..."

.

oOo

To be continued...

oOo

.

Hello sorry updatenya agak lama. Sesuatu terjadi dan itu nyaris membunuhku... Hehehe...

Btw udah dari awal dirancang kalau Naruto BBB (Bukan Bocah Biasa).

Dan Itachi plus my biggest crush Yahiko harus cepat tahu kalau Sasuke dan Naruto menciut biar Kakashi punya banyak waktu ama Sakura ^^ soalnya mereka yang gantiin jadi babysitter-nya.

So ini KakaSaku?

Yes.

Tenang aku juga lagi nulis buat SasuSaku... Ntar aja tapi postingnya... Hehehe...