Huuuuft…

Akhirnya bisa update jugaaa…

Para readers, gomen baru bisa update sekarang!

Abis ujian capek banget, jadi santaikan diri dulu skalian bermeditasi untuk melanjutkan fic ini!

Lucy : Cih! Pake bermeditasi segala! Banyak alasan!

Author : Lah? Bener kan? Apa salahnya sih! Dari pada bikin fic yang biasa-biasa!

Lucy : Serah deh!

Author : Cieee~ kiceeep~

Lucy : URUSAI!

Author : Cukup2! Aku nggak mau mancing2 dosa lagi! Jadi, langsung aja ya, para readers!

Disclaimer : Fairy Tail and the characters is owned by Hiro Mashima. Not me. Aku cuma meminjam karakter-karakternya untuk kupakai dalam fic buatanku.

SO, HAPPY READING~! ;)

Chapter 4

Dewdrop

Normal POV

"Hem? Kombinasi macam apa itu? Kelihatannya jarang sekali." Ucap Natsu kepada Lisanna yang sedang duduk di sampingnya. Mereka berdua terlihat bingung dengan pemandangan di depan mereka yang sangat sangat dan sangat jarang ada di kelas itu.

"Entahlah. Mungkin terjadi sesuatu di antara mereka sebelumnya." Balas Lisanna sambil menempelkan jari telunjuknya ke bibir mungilnya.

Tidak hanya Natsu dan Lisanna yang bingung terhadap apa yang dilihat mereka saat itu di kelas mereka. Hampir semua pandangan penghuni kelas tertuju pada…

"Beraninya kau mencoret-coret wajahku!"

Mencoret-coret wajah?

"Siapa suruh tidur kayak orang mati! Bweeek!"

Tidur? Kayak orang mati?

"Gara-gara kau! Imageku jadi jelek di depan umum tau nggak sih!"

Gara-gara siapa? Lucy?

"Siapa suruh tidur bareng aku!"

Ti-tidur bareng? Ma-maksudnya?

"Kita kan harus mengawasi Dewdrop! Kau mengawasinya tapi kau tertidur duluan!"

Dewdrop? Siapa itu? Ja-jangan-jangan…

Pokoknya, setiap kata yang dilontarkan Lucy dan Gray yang sedang bertengkar selalu diikuti oleh pemikiran para penghuni kelas yang tidak-tidak.

"Um…Gray dan Lucy tidur bareng…?" Tanya gadis mungil berambut biru dihiasi bandana kuning yang bertengger di atas kepalanya dengan polosnya.

Akhirnya, ada juga yang berani bertanya…Itulah tujuan pemikiran para penghuni kelas dari tadi. Mereka bersyukur karena Levy berani bertanya karena dari awal tak ada yang berani bertanya, tetapi mereka benar-benar penasaran.

"Le-Levy-chan! Ja-jangan salah paham dulu! Ehm…itu…itu…" Lucy tergagap-gagap karena ia tak tahu harus beralasan apa pada sahabatnya itu.

"Lalu, Dewdrop itu siapa?" Tanya Levy lebih lanjut.

"Eh…itu…itu…"

"Gray! Sejak kapan kau punya hubungan seperti itu dengan Lucy?" Tanya Natsu akhirnya memberanikan diri setelah melihat keberanian Levy. Lucy bersyukur karena Natsu memotong percakapannya dengan Levy sehingga ia tidak perlu menjawabnya.

"Heh? Bu-bukan begitu! Kami…kami…umm…" Gray tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi. Tentu saja. Ada dua alasan. Pertama, Karena ia adalah ketua OSIS, yang paling tahu-menahu tentang norma yang ditata di Fairy Academy. Salah satu peraturan sekolah tersebut itu adalah 'Dilarang keras memelihara atau membawa hewan peliharaan ke sekolah ini'. Satu lagi, ia tak tahu beralasan apa. Yah, alasan yang sama dengan Lucy.

Natsu pun menghampiri Gray, lalu menepuk pundak Gray. Gray tak tahu apa maksud dari Rival Friend Forever-nya itu. Tak lama kemudian, Natsu mengangguk-angguk. Tangannya masih bertempat di pundak Gray. Gray yang awalnya tak mengerti langsung merona merah padam. Akhirnya ia mengerti. Jarang sekali para penghuni kelas melihat ketua OSIS mereka merona merah seperti itu. Tetapi setelah itu, ia langsung meninju Natsu sehingga Natsu terpental entah ke mana sambil berkata : "BAKA!".

"Baiklah, kita semua pergi ke cake shop! Tapi kita tak perlu menipisi dompet lagi!" Sahut perempuan berambut merah scarlet secara tiba-tiba yang tak lain adalah Erza, sahabatnya Lucy, diikuti oleh sorakan riang para penghuni kelas.

"Eh? Apa maksudmu, Erza?" Tanya Lucy bingung.

"Kita akan merayakan hari jadiannya kalian berdua. Untuk membayar PJ (Pajak Jadian), kalian akan mentraktir kami sekelas ke cake shop." Jawab Erza santai sambil membayangkan cheese cake kesukaannya.

"WHA-WHA-WHAAAAAAAAATTT?" Teriak Gray dan Lucy bersamaan.

"Tuh kan. Kalian memang kompak dan serasi!" Ucap Erza sambil melipat kedua tangannya.

"TUNGGU, ERZA! KAU SALAH PAHAM! KAMI…KAMI…"

"KAMI SEDANG LATIHAN DRAMA!" Sahut Gray melanjuti perkataan Lucy yang tergagap-gagap.

Semua penghuni kelas tersebut langsung jatuh ke dalam keheningan dan hanya memandang Gray bingung. Seolah-olah mereka berkata 'Aku tak yakin! Pasti bohong!'. Gray mengetahui hal tersebut. Ia pun melirik ke arah Lucy dengan tatapan isyarat 'Bantu aku! Jangan bengong saja!'.Lucy yang mengerti langsung mengangguk-angguk.

"Ehm…i-iya! Itu betul! Aku sedang membantu Gray latihan drama karena ia punya acara di lingkungan tetangganya! Dia ikut dalam pertunjukan drama! Jadi aku membantunya!" Ujar Lucy sambil berkeringat dingin dan menunjukkan senyum palsunya.

'Nice job, Lucy!' Ucap Gray dalam hati.

Semua penghuni kelas tersebut langsung menggangguk-angguk tanda mengerti. Tetapi beberapa di antara mereka ada yang kecewa, ada yang bersyukur, dan ada yang merasa biasa-biasa saja. Pokoknya, semua penghuni kelas langsung terlarut pada aktivitas mereka masing-masing.

(Skip Time)

"Haaaaaah…" Lagi-lagi Gray dan Lucy menghela napas bersamaan di halaman belakang sekolah tempat mereka mengawasi Dewdrop. Mereka berdua sempat lega karena aib mereka tidak jadi ketahuan.

"Makanya! Jangan buka-buka aib di depan umum!" Ucap Lucy membuka percakapan.

"Salahkan dirimu! Siapa suruh coret-coret muka orang!" Balas Gray tak mau kalah.

Gray dan Lucy terus melontarkan kata-kata dengan perasaan tak mau kalah. Keduanya tak ada yang menyadari bahwa Dewdrop hanya lesu dan tak mau minum susunya. Dewdrop hanya diam saja memandang mereka Gray dan Lucy yang masih bertarung dengan kata-kata yang ada di pikiran mereka. Keduanya pun membalikkan badan ke arah yang berlawanan. Lucy menggembungkan pipinya sambil melipat tangannya. Di wajahnya terlihat lipatan-lipatan ekspresi kesal. Sama halnya dengan Gray. Hanya saja Gray tidak menggembangkan pipinya dan hanya berkacak pinggang.

Lucy pun manyadari kelesuan yang diperbuat Dewdrop. Ia berjongkok ke arah tempat Dewdrop membaringkan badannya. Ia pun mengarahkan pandangannya pada tempat minum Dewdrop yang masih diisi oleh susu yang masih utuh.

"Lho? Dewdrop? Kok diam saja? Kenapa susunya belum diminum? Kenyang ya?" Tanya Lucy bingung. Dewdrop kan suka susu, seharusnya ia langsung meminumnya sampai habis.

"Hm? Hei, Dewdrop! Minumlah susu itu! Mahal tau belinya! Emangnya belinya pakai daun apa!" Ujar Gray sambil melipat tangannya.

"Bhu…huhuhu…"

"Kenapa kau tertawa, Lucy! Memangnya ada yang lucu?"

"Hihihi…lucu aja pas kau bilang beli pakai daun! Ada-ada saja!"

"Lah? Betul kan? Kalau bisa beli apapun pakai daun, pasti aku sudah jadi kaya sekarang! Mungkin kayanya diriku bisa setara dengan kekayaanmu yang sekarang!" Ucap Gray sambil menunjukkan senyum usilnya. Lucy pun ikut tertawa. Mereka kembali tertawa bersama.

Sepasang mata bening Dewdrop berbinar-binar saat melihat Gray dan Lucy tertawa bersama kembali. Ia pun kembali menggonggong, kemudian ia langsung menjilat-jilat susunya sampai habis. Gray dan Lucy mengembangkan senyumnya secara perlahan. Mereka senang melihat anjing kesayangan mereka ceria kembali. Walaupun sebenarnya mereka tak tahu apa yang membuat Dewdrop murung dan ceria kembali, tetapi mereka tak terlalu memikirkan hal tersebut. Yang penting, Dewdrop menghabiskan susunya sekarang!

Malamnya…

TOK TOK TOK

"Lucy, boleh mama masuk ke kamarmu?"

"Hem! Tentu saja! Masuklah, ma!"

Seorang gadis dewasa yang sangat mirip dengan Lucy pun masuk ke dalam kamar Lucy. Ia melihat putri tercintanya sedang menulis-nulis sesuatu di sebuah selembar kertas. Ia yakin bahwa putrinya itu sedang menerapkan hobinya kembali, yaitu adalah menulis novel.

"Lucy, sebentar lagi liburan musim panas akan dimulai kan?" Tanya Layla Heartfilia, ibu tercinta Lucy, sambil duduk di sofa kecil berwarna pink tak jauh dari tempat Lucy menulis naskah novelnya.

"Iya." Jawab Lucy singkat. Ia tak ingin menjawab terus terang karena ia masih berkonsentrasi pada selembar kertas yang penuh dengan tulisannya di hadapannya. Ia sempat berpikir, kemudian kembali menulis lagi. Terkadang, ia menghela napasnya. Ibunya hanya tersenyum memandang anak perempuan tersayangnya itu.

TOK TOK TOK

"Permisi nyonya besar dan nona muda, saya datang untuk mengantarkan hot cocoa pesanan nona muda." Ucap seorang maid yang baru muncul di depan pintu kamar Lucy.

"Ah, Virgo! Arigatou!" Balas Lucy riang, kemudian ia menerima hot cocoa itu dari Virgo dan mulai menyesapnya perlahan-lahan.

"Lucy, apakah kau sudah punya pacar?"

CROOOOT!

Lucy langsung menyemburkan hot cocoa yang sudah tertampung di mulutnya berkat pertanyaan dari mamanya. Untungnya, semburan itu tidak mengenai naskah novelnya. Kalau tidak, Lucy akan pundung untuk beberapa hari.

"Lucy, kau kenapa?" Tanya Layla polos.

"Mama! Mama ngomong apa sih!" Cetus Lucy sambil mengelap mulutnya yang basah dengan tisu.

"Kan mama bertanya. Kalau kau sudah punya pacar, mama ingin segera melihatnya." Balas Layla dengan senyum lembutnya.

"Belum kok, ma." Jawab Lucy.

"Soalnya, nanti kita selama liburan akan menginap di villa kita yang ada di laut. Mama pikir kalau kamu sudah punya pacar, kita ajak dia untuk ikut bersama kita." Jelas Layla terus terang.

DHEG!

Eeeh…? Tau begitu aku bilang punya deeeeh…! Hancur sudah kesempatan emasku! Batin Lucy.

"Hnnn…gitu ya. Aku belum punya kok. Tenang saja, kalau aku sudah punya, aku akan memberi tahunya pada mama." Jawab Lucy dengan nada menyesal.

"Oh, begitu. Baiklah, mama keluar ya. Tak enak mengganggu aktivitasmu." Ujar Layla sambil membuka pintu kamar Lucy dan melangkah keluar kamar.

Setelah, ibunya keluar dari kamarnya, ia langsung menidurkan kepalanya di atas meja belajarnya dengan ekpresi menyesal.

Hiks…kesempatan emaskuuuuu…

Sementara itu, di tempat lain, Gray sedang membeli notes di toko buku. Setelah membayar notes dengan uang pas, ia pun langsung pulang ke rumahnya. Saat di perjalanan pulang, ia melihat…

"Ayo! Tarik undiannya dan menangkan hadiahnya untuk liburan musim panas! Hadiah utamanya liburan ke Hawaii selama seminggu loh! Gratis deh!" Teriak seorang laki-laki yang sedang menjaga stall undian.

Hmmm…tak ada salahnya tuh mencoba! Lagian, musim panas ini aku tak ada rencana! Pikir Gray.

"Aku mau coba!" Ucap Gray sambil memberikan uang pada penjaga stall tersebut, kemudian ia menarik undian tersebut.

"Ehm, ini hadiah ke berapa ya?" Tanya Gray penasaran.

"Hadiah ke-3! Selamat!"

GUBRAK!

"Hiks…sedih deh…berakhir sudah…" Ucap Gray sambil meninggalkan stall itu dengan penuh kesuraman. Ia mengharapkan hadiah utama, tetapi malah dapat hadiah ke-3.

Tiba-tiba, laki-laki penjaga stall tadi berlari mengejar Gray.

"Hei, tunggu! Anda meninggalkan hadiah ke-3 anda!"

Otomatis, Gray menoleh ke belakang. "Memangnya aku dapat apa?" Tanyanya.

"Anda dapat ini." Ucap laki-laki itu sambil memberikan selembar amplop cokelat yang cukup besar kepada Gray. Gray pun membuka dan melihat isinya.

"Eh? Aku dapat ini?"

-To Be Continued-

Selesaaaaaai…..

Capek juga ya….

Ngantuk banget lagi, udah jam 11malem…

Lucy : Ya udah, tidur sono!

Author : Ya udah, lo yang kasih kata penutup ya? Oyasumi. *masuk ke kamar*

Lucy : Yes! Oke, para readers! Kalau mau tahu chappy berikutnya, tunggu dengan sabar ya!

REVIEW ONEGAISHIMASU~! ;)