REPUBLISHED
anonymous review: disabled
mau membantuku?
tolong kunjungi profileku dan vote on the poll
aku sangat membutuhkan hasil poll itu
Hai semua :)
Apakabare? #medok
Puasnya hati ini karna sudah mempublish fict Lihat Aku. Ahahaha kalo sempet baca ya? Gawajib review kok hehehe
Oh iya! Kalian semua wajib denger lagu Utakata Hanabi nya Supercell! That's Naruto Shippuden's 14th ending song! Itu SasuSaku banget! Baca lyricsnya dan liat video clipnya, aduh jadi mau nangis kalo inget betapa setia nya Sakura :(
Yasudah, mari tuan, mari nyonyah :9
.
SasuSaku
Under The Same Sky
.
Disclaimer: Naruto is Masashi Kishimoto's. This story is purely mine.
Warning: OOC, SasuSakuNaru, AU
.
Dia berusaha bersikap biasa. Dia berusaha berpikiran positif. Walaupun dari pantulan cermin itu terlihat sang emerald menatap sahabatnya, dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa itu bukan apa-apa. Walaupun hatinya bergetar hebat karena takut kehilangan cintanya, dia berusaha bersikap biasa saja. Walaupun dia tahu ada yang salah, walaupun dia tahu ada arti di tatapan itu, dan walaupun dia tahu adanya keraguan di hati wanita itu, dia tetap berusaha untuk percaya. Ya, percaya. Hanya satu bulan lagi, Naruto. Kau pasti bisa.
Cinta
By LuthRhythm
"Kau yakin mau menyetir, Teme? Kau pasti sudah lupa jalan. Banyak hal telah berubah di kota ini."
"Hn."
"Yakin?"
"Hn."
"Ah, terserah kau lah. Tapi jangan lupa minta Cherry mengantarmu ke apartemenku ya. Aku sudah siapkan kamar untukmu. Ini kunci apartemenku."
"Hn."
"Kalian berdua hati-hati. Teme, kau jaga Cherry ya! Cherry, kamu jaga Teme ya, sayang. Kalau wajahnya sudah terlihat lelah atau pucat, langsung minta di untuk pulang dan istirahat. Jangan sampai dia pingsan di jalan."
"Iya, Naruto."
"Kalau Teme menyebalkan, jangan terlalu dipikirkan. Dia memang menyebalkan dari lahir. Jangan berkelahi ya."
"Iya, Naruto."
"Yang akur-akur y– Hey! Jangan garuk kepalamu saat aku sedang mengingatkan kalian, Teme!"
"Hn."
"Eh, sudah jam segini? Aku telaat! Love you, Cherry! Bye!"
Uzumaki Naruto, bergegas masuk ke suatu gedung tinggi berlantai empat puluh, meninggalkan sahabatnya di bangku kemudi mobilnya, dan calon tunangannya di bangku sebelah kemudi.
"Semoga dia tidak telat," gumam Haruno Sakura sambil melihat punggung tegap calon tunangannya menjauh dengan cepat.
"Hn." Dan mobil sedan berwarna kuning pun melaju meninggalkan gedung berlantai empat puluh itu.
"Ini cafe kesukaan Naruto?" tanya Uchiha Sasuke saat memandang 'Cafe Latte' di seberang jalan.
"Iya, memang kenapa? Dan kenapa kau ingin ke tempat favorit Naruto?" tanya Sakura sambil memandang Sasuke heran. Keputusan Sasuke untuk mengunjungi cafe kesukaan Naruto sebagai tempat singgah pertamanya hari ini tidak masuk ke logika Sakura. Wanita ini pikir, Sasuke akan memintanya menunjukkan jalan ke pantai, atau tempat apapun yang menenangkan atau melepas lelah. Bukannya 'cafe kesukaan Naruto'.
"Hanya ingin tahu apa selera dia. Agar aku tidak salah membuat makanan saat acara pertunanganmu dengan Naruto nanti."
Deg.
Ah, ya. Sepertinya wanita ini lupa tujuan utama pria tampan ini, yaitu: menyukseskan acara pertunangannya dengan Naruto. Ya. Membuat acara itu sukses. Bukan mengacaukan, atau bahkan membuatnya batal.
"Menyeberang sekarang?" tanya Sasuke yang membuyarkan lamunan singkat Sakura.
"Ah, iya," ucap Sakura sekenanya, berusaha melupakan sedikit rasa nyeri di hatinya. Belum satu jam kenal tetapi pria itu sudah membuatnya merasa nyeri, huh? Wah, hebat.
"Eh?" gumam Sakura bingung karena Sasuke yang tadinya berada di sebelah kanannya, pindah ke sebelah kirinya saat menyeberang jalan. Begitu selesai menyeberangi jalan satu arah itu, Sasuke kembali berpindah ke sebelah kanan, dan menuju ke pintu masuk Cafe Latte.
Sakura diam. Tidak beranjak. Mematung. Tetap berdiri di tempat, sambil melihat Sasuke yang melangkah menjauh. Kakinya tidak bergerak, sedangkan otaknya terus bekerja untuk memikirkan alasan logis kenapa Sasuke berpindah ke sebelah kirinya.
Iseng?
Tidak. Tidak mungkin iseng, kan? Wajah dan perilakunya tidak menunjukkan kejenakaan. Terlalu serius untuk bergerak atau melakukan hal tanpa arti.
Merasa ada yang janggal, Sasuke berhenti dan membalikkan badan. Heran melihat Sakura yang mematung, ia pun bertanya, "Kenapa?"
"Eh?" refleks Sakura. Memutar mata, berusaha mencari kata-kata, dan begitu menemukannya, ia pun menjawabnya dengan pertanyaan, "Ehmm... tidak penting, sih... tapi, aku hanya heran. Kenapa tadi kau pindah ke sebelah kiriku, Sasuke?"
Mata Sasuke memandang lurus ke mata emerald Sakura. Tidak terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan Sakura. Tidak terkejut karena Sakura menyadari bahwa dirinya berpindah, pasti dengan alasan. Sejak pertama kali melihat Sakura, Sasuke sudah mengetahui dan dapat menyimpulkan bahwa wanita ini berpendidikan, dan cerdas.
Setelah berpikir tentang kata-kata apa yang pas untuk menjawab pertanyaannya. Sasuke pun menjawab –atau, bertanya?–, "Memangnya kau mau meninggal duluan?"
"Eh?"
"Kalau kau yang di sebelah kiri saat menyeberang, nanti kau duluan yang tertabrak," jelas Sasuke yang lalu membalik badan dan melangkah masuk ke Cafe Latte sambil bergumam, "aku tidak ingin kau celaka."
Pelan. Namun masih dapat terdengar oleh Sakura. Membuat Sakura kembali berharap terdapat rasa yang sama di sana.
Degupan jantungnya kali ini tidak segila tadi. Tidak segila saat di airport atau saat di mobil. Karena kali ini, bukan degupan yang mengambil peran. Tetapi lututnya.
Lututnya terasa bergetar dan begitu lemas. Membuatnya sangat berhati-hati untuk mengejar Sasuke dari belakang. Hati-hati agar tidak terjatuh.
Jangan sampai kau terjatuh dalam lubang terlarang itu, Sakura. Jangan sampai.
"Kenapa kau murung, Naruto?" tanya Inuzuka Kiba yang kini terduduk di sofa putih di ruangan atasannya.
Naruto, atasan atau bos Kiba, tidak menjawab pertanyaan Kiba. Naruto hanya diam, dan memandang Kiba dengan alis mengkerut dan pipi tergembung.
"Hey. Kenapa?"
Merupakan suatu kejaiban seorang Uzumaki Naruto tidak menjawab saat ditanya. Inuzuka Kiba, adalah sahabat Naruto sejak sekolah menengah atas. Sebagai sahabat yang baik, tentu dia menyadari ada yang salah dengan sikap Naruto siang ini.
"Sasuke, dia ada di kota ini," jawab Naruto dengan lemas sambil tetap memandang Kiba. Kali ini, tidak memakai gembungan di pipi, atau kerutan di alis.
"Lalu? Bukannya kau harusnya senang? Dia datang untuk mempersiapkan pertunanganmu dengan Sakura, bukan?"
Angguk.
Naruto menjawab pertanyaan Kiba dengan anggukkan lemas. Meninggalkan mata Kiba, Naruto kini lebih memilih untuk memandang langit-langit ruangannya, lalu memejamkan mata dengan lemas dan perlahan.
"Naruto?" tanya Kiba heran.
Naruto yang dipanggil, membuka mata, kembali menatap langit-langit ruangannya.
Setelah menarik nafas panjang, Naruto mengucapkan, "Masih bulan depan."
Uzumaki Naruto, merogoh jasnya, mengambil handphone-nya dan membuka menu kalkulator lalu bergumam, "Masih satu bulan, empat minggu, dan tiga puluh hari." Terlihat Naruto memandang layar handphone-nya dengan pasrah dan lemas. "Masih 720 jam..."
Memandang sahabat baiknya yang duduk di sebelahnya, Naruto tersenyum kecut dengan sedikit tambahan tawa palsu, "Matilah aku."
SEE?
Naruto gak bodoh :D
Ada typo? EYD?
Beri aku masukan!
.
Makasih buat yang ngereview chapter tiga!
Aya-na rifa'i, Mayuura, minamicchi, Mila Mitsuhiko, Uchiharuno Rin, Micon, popoChi-moChi, Kuroneko Hime-un, Kiro yoiD, 4ntk4-chan, Miss Uchiwa SasuSaku's Lover, Rievectha Herbst, Aiko JoonBe Hachibi-chan, LheaRinrin, Hikari 'The Princess Blue, Sakura Haruno 1995, CyeAmakusaKuchiki, Hydrangea Amutia, Cielheart Ie'chan, Cherry-chan, dan Icha yukina clyne! Ini mobil buat kaliaan! *ngoper mobil pake katapol.
.
review lagi ya buat chapter 4 ini hihi. Yang review chapter empat, ini ada Sasuke dan Naruto! Silakan pilih! Mau Sasuke atau Naruto? OBRAL!
.
Review! \m/
