gimana ff yu yangini? ga buruk buruk amat kan? hee~
langsung aja deh
here we go..
Disclaimers: masashi kishimoto
rate: T
Pair: Sasufemnaru sasuhina
Mentari menyinsing dari ufuk timur. Naruto mengerjabkan matanya berusaha membiasakan kontras sinar matahari dengan matanya.
Senyum terukir di bibir Naruto. Ini adalah hari yang membahagiakan bagi Naruto.
Dengan gesit Naruto berbenah dan menuju sekolah. Dengan kecewa saat ia turun tidak ada siapa pun di bawah sana. Kecuali ibunya yang membawa senampan penuh cup cake bertulisKan happy birthday Naruto.
Naruto tersenyum. Ia menghambur kepelukan kaa-channya. "Arigato kaa-chan"
"Douita naa~ selamat ulang tahun, doa kaa-chan adalah semoga kau bahagia" Kushina tersenyum lembut.
Naruto mengambil dua buah cup cake, mencium kaa-channya dan bergegas menuju sekolah.
Tiba di sekolah. Naruto mencari sosok pria. Namun di mana pun ia tidak menemukan pria itu.
"Apa dia melupakan hari ulang tahun ku?" Gumam Naruto.
Ia berjalan dengab malas menuju kelas. Berharap jika di sana ada pria yang ia maksud. Namun..
Blarrr
"Happy birthday Naruto'' teriak teman temannya.
"Waah.. kalian tau ulang tahun ku?"
"Hee sebebarnya ini ide Gaara." Jawab Rin.
"Hee~ Gaara?"
"Hm.. aku melihat arsip mu kemarin."
"Ne ne ayo tiup lilin nya" pekik Ten ten.
Baru kali ini teman sekelas Naruto merayakan ulang tahunnya. Yang jelas tanpa Sasuke. Yaa ia mendapat kemeriahan di kelas namun ia harus menggantinya dengan ketidak hadiran Sasuke.
Naruto menghembus lilin bertuliskan 16 tahun di kue nya. Dan di pagi hari itu terjadi lah perang cream karena Naruto memoles rapih cream di wajah gara dan teman satu kelasnya.
Akibat kelakuan mereka itu. Kini satu kelas di hukum jemur di lapangan.
Gaara dan Naruto saling berpandangan. Kemudian tawa mereka pecah dan diikuti yang lainnya.
"Maaf harus membuat mu di hukum, Gaara. Aku tahu kau tidak pernah di hukum.'' Sesal Naruto.
"Daijobu da, ini menyenangkan." Gaara tersenyum.
Bell pulang berbunyi. Baju seluruh orang di kelas Naruto penuh dengan cream. Itu membuat mereka tidak belajar hingga bell terakhir berbunyi. Yaah hanya Gaara yang senior kelas 3 waktu itu.
Naruto terus berfikir Sasuke tidak ia temukan di sekolah. Mungkin Sasuke akan memberinya kejutan di rumah. Naruto cengar cengir. Ia melompat lompat girang menuju rumah. Sasuke akan ada untuknya semalaman ini.
Namun pupus sudah harapan Naruto. Dari kejauhan ia melihat Sasuke seperti akan pergi. Ia menenteng banyak tas dengan Hinata bersamanya.
Mobil yang Sasuke bawa perlahan pergi meninggalkan kediaman nya. Refleks kaki Naruto tergerak untuk mengejar mobil yang dk kendarai Naruto.
Sebagai pemaik basket ia memiliki power yang waw untuk berlari. Nyaris ia menyentuh belakaang mobil yang Sasuke kendarai. Namu kakinya tersandung krikil dia ia harus merasakan sakit karena terjatuh.
Tidak. Ada yang jauh lebih sakit dari pada luka saat terjatuh. Di hatinya.. luka bergitu menganga lebar. Ternyata begini rasanya memiliki sahabat yang sudah memiliki kekasih.
Ia harus di nomor duakan dan terbaikan.
Naruto membuka pintu kediamannya. Ia tidak punya tenaga hanya untuk sekedar mengatakan 'tadaima'.
Kushina menatap khawatir Naruto. Bajunya lusuh dan kotor. Kaki tangannya penuh luka.
"Naru.. apa kau berkelahi?"
"Tidak kaa-chan. Aku baik baik saja. Dan aku ingin segera tidur." Ujar Naruto. Naruto melangkah kan kaki nya menuju kamar.
Ia melepas seluruh pakaiannya dan berjalan menuju kamar mandi.
Naruto menyalakan shower dan berdiri di bawah nya.
Perlahan air mulai membasahi tubuhnya hingga ke lukannya. Lukanya terasa begitu perih. Ia tak sanggup untuk tidak meneteskan air mata.
'Oh tou-chan? Apa dosa ku? Kenapa hubungan cinta ku begitu menyakitkan' ringis Naruto dalam hati.
Ia rindu saat ia bersama sang ayah. Ayahnya tidak akan pernah membiarkan dirinya menangis.
Sekarang ia hanya bisa mandiri. Menanggung sakit hati nya sendiri. Shower puk tak sanggup menghilangkan penat di hatinya.
Bell kediaman Naruto berbunyi. Kushina bergegas membukan pintu. Dan terpam panglah sang tamu.
"Ano, watashi wa Sabaku Gara Desu. Apa Naruto ada?" Ucap Gaara sopan.
"Ah.. Naruto di atas. Dia bilang dia ingin tidur. Masuklah. Akan aku buatkan teh" Kushina mempersilahkan.
"Arigato bibi"
"Ada prihal apa kedatangan mu kemari nak?"
"Begini. Saya barusan melihat Naruto berlari mengejar sesuatu. Dan tiba tiba ia terjatuh. Saya hendak menolongnya namun ia sudah menghilang entah kemana. Saya terus mengejarnya. Tak sia sia,, saya melihat ia masuk ke sini. Namun ada yang janggal dengan Naruto bibi. Ia terlihat sedih."
"Mengejar sesuatu? Aku juga melihat wajah nya barusan." Wajah Kushina sedih. "Apa jangan jangan ia mengejar Sasuke."
"Sasuke?" Beo gara. Ia teringat pada pria yang ada di UKS waktu itu.
"Ya dia sahabat Naruto sejak kecil. Mereka tak bisa di pisahkan. Namun, bisa di lihat sekarang. Hubungan mereka mulai renggang."
"Ano bibi. Malam ini apa boleh aku membawa Naruto?"
"Huh?"
"I-tu bukan yang seperti bibi pikirkan. Aku akan pulang ke suna malam ini. Dan aku pernah berjanji pada Naruto untuk mempertemukannya dengan adik ku. Ku pikir ini saat yang tepat untuk menghiburnya."
Kushina tersenyum. Ia mempersilahkan Gaara untuk menemui Naruto di kamarnya.
Naruto keluar dari kamar mandi. Matanya terlihat sembab. Naruto berjalan menuju lemarinya. Mengambil pakaian ternyaman yang bisa ia kenakan. Kemudia memakai nya.
Tok tok
"Masuk lah." Pekik Naruto.
Naruto sedikit terkejut saat yang membuka pintu adalah Gaara.
"Gaara? Bagaimana bisa."
"Wahh jadi ini kamar Naruto." Gaara sedikit kagum. "Sangat berantakan untuk di sebut kamar seorang gadis" Gara terkekeh geli.
"Urusai na" Naruto melemparkan bantal pada Gaara. "Ada apaa kemari?"
"Ayo refreshing. Aku ingin mengajak mu ke suna."
"Ke suna?" Naruto melotot. Lalu ia melompat lompat di atas kasur kegirangan.
"Aku juga sudah mendapat izin ibu mu untuk membawa mu."
"Kapan kita akan pergi?"
"Malam ini."
"Wooh suge ttebayo"
Secepat kilat Naruto mengemaskan barang untuk ia bawa. Kemudian Naruto dan Gaara turun kebawah untuk makan malam dan berpamitan untuk pergi.
Minggu pagi yang cerah. Sasuke pulang ke rumah dengan riang gembira. Ia berhasil mendapat kepercayaan orang tua Hinata.
Tidak sia sia kemari ia pergi menginap di villa milik keluarga Hyuuga itu.
Namun ia merasa sedikit ada yang kurang.
Sasuke masuk ke dalam rumah. Di lihatnya Kushina sedang masak untuk sarapan. Ia tidak melihat si pirang di rumah hari ini. Biasanya Naruto selalu berada di rumah. Dan tidak pernah pergi kemana mana.
"Tadaima.''
"Okaeri Sasuke. Kau datang di waktu yang tepat. Apa kau sudah sarapan?"
"Belum kaa-san. Hn di mana Naruto?"
"Dia ke suna?"
"Ke suna? Kenapa bisa? Itu sangat jauh."
"Dia pergi bersama temannya. Jarang sekali aku membawanya ke luar kota di harivulang tahunnya."
Sasuke langsung tersedak. Ia baru ingat ternayata kemarin adalah hari ulang tahun Naruto. Kenapa ia bisa melupakannya.?
Teman? Dengan pria itu kah?
Mendadak wajah Sasuke menjadi masam.
Hari minggu akan segera berakhir. Matahari sudah tak tampak lagi wujud nya.
Naruto dan Gaara sudah akan segera tiba di kediaman Naruto. Yah Gaara bermaksud untuk mengantar Naruto pulang dengan selamat di depan matanya.
Bis berhenti di sebuah halte tidak jauh dari kediaman Naruto.
"Ne Gaara. Aku duluan"
"Oke.''
Naruto menuruni bis. Ia hanya perlu berjalan sebentar untuk tiba di rumahnya.
Ckreek
Naruto membuka pintu rumahnya. Ia melihat ke arah jam dinding.
Belum lewat jam makan malam. Ujarnya dalam hati.
"Dari mana saja kau." Suara berat yang tidak Naruto sukai terdengar.
"Bukan urusan mu" saut Naruto jutek.
"Kau sudah berani seperti ini pada ku Naruto?" Rahang Sasuke mengeras. "Apa karena pria itu."
"Jangan pernah kau mengatai Gara seperti itu. Dia jauh lebih baik sebagai teman ku. Setidaknya dia tidak lupa hari ulang tahun ku. Walau aku tidak pernah memberi tahunya." Bentak Naruto.
Sasuke terdiam sesaat.
"Selamat ulang tahu."
"Sudah terlambat."
"Kau jahat pada ku Naruto."
"Kau lebih jahat Sasuke."
"Hinata jauh lebih baik dari kau"
"Urusi saja Hinata mu sana. Jangan perdulikan aku."
Naruto berlari ke kamar. Matanya terasa begitu panas. Dadanya begitu sesak. Kenapa Hinata selalu berusaha mendominasi Sasuke. Naruto sudah berusaha agar tidak egois. Tapi mengapa? Ia hanya ingin Sasuke ada untuk nya di saat hari special nya.
Di pagi hari. Tepat nya di KHS. Naruto duduk di sendirian di bangku taman. Sungguh ia ingin sendiri sekarang.
Naruto menatap foto fotonya saat ia merayakan ulang tahun bersama Sasuke dan ibunya. di sana juga ada Ino sepupunya.
Mungkin ia akan di anggap lebay jika memperbesar masalah Sasuke tidak mengingat ulang tahunnya.
Tch.. tapi ini berbeda.
Naruto melempar Album nya ke tanah dan menginjak injak album itu hingga kumal.
"Naru-chan apa yang kau lakukan?"
"Hinata.."
"Album.. ini ada Sasuke. Kenapa kau melakukan ini Naruto?"
"Pergilah. Aku muak dengan mu" ujar Naruto dingin.
Hinata sedikit tersentak.
"Apa maksud mu Naruto"
"Ku mohon pergilah" rintih Naruto. Ia tak sanggup menatap Hinata. Ia jengkel karena Hinata sudah terlalu egois terhadap Sasuke. Ia selalu mengeksploitasi Sasuke hanya untuk dirinya.
Hinata tak begeming. "Kau marah pada ku karena Sasuke?" Hinata membincingkan alis. "Kau hanya sahabatnya dan aku kekasihnya. Aku berhak atas Sasuke. Apa jangan jangan kau menyukai Sasuke?" Celetos Hinata.
Rahang Naruto mengeras. Matanya berkilat marah.
Plak..
Sebuah tamparan mendarat di pipi Hinata.
Dan plaaakk..
Satu tamparan mendarat pula di pipi Naruto. Tamparan itu bukan datangnya dari Hinata. Melainkan..
"S-sasuke.."
"Kau keterlaluan Naruto." Mata Sasuke memutih. Ia sangat marah. "Kau kasar pada Hinata, kau tahu Hinata itu sakit. Kau ingin bersama ku Naruto? Aku bisa bersama dengan mu. Tapi tidak sekarang"
Hinata tersenyum miring melihat perlakuan Sasuke pada Naruto. Sasuke membelanya.
"Kau bukan sahabat aku lagi." Sambung Sasuke sembari membawa Hinata menjauh dari Naruto.
Wajah Naruto di tekuk dalam. Ia memegang pipinya yang terasa begitu sakit. Untuk pertama kali Sasuke menamparnya. Biasanya tangan itu akan Sasuke selalu gunakan untuk melindunginnya dari para fansgirl Sasuke.
Tapi..
"Baiklah.. akan aku tunjukan sekarat yang sebenarnya" Naruto terkekeh dengan air mata yang terus mengalir dari pelupuk matanya.
Sasuke memutar tubuhnya. Namun sosok Naruto sudah tidak ada di tempat. Perasaan Sasuke mendadak tak enak.
"Sasuke-kun.'' Hinata menarik tubuh Sasuke. Dan membuat perhatian Sasuke kembali padanya.
Di atas pohon. Gaara yang sedari tadi melihat kejadian antara Hinata, Naruto dan Sasuke hanya bisa menggelengkan kepala.
Ia turun dari pohon dan mulai berlari ke arah menghilangnya Naruto.
Gaara sedikit mengumpat saat ia tidak berhasil menemukan sosok Naruto.
Tiba di sebuah gerbang pemakaman. Dan dapat..
Sosok Naruto yang menangis tersedu sedu di makam seseorang.
Gaara berjalan mendekat dengan ragu ke arah Naruto.
Hatinya tersayat melihat kerapuhan Naruto yang selalu terlihat ceria.
Gaara memeluk tubuh rapuh Naruto dan menenangkanya. "Tenanglah Naruto. Jangan menangis. Aku akan selalu bersama mu." Gara tak sanggup melihat sosok Naruto yang menyedihkan.
"Gaara. Albumnya." Saat seperti ini pun Naruto masih mengutamakan alabumnya. Begitu berharga Sasuke baginya.
Naruto melepas kasar pelukan Gaara. Ia berlari menuju ke lokasi awal dan na'as..
Saat menyebrang jalan raya ada sebuah truck besar yang sangat laju menghantam tubuh mungil Naruto tepat di depan Gaara.
Naruto terpental jauh. Tubuh Naruto bersimbah darah.
"NARUTOO" raung Gaara histeris.
Sang supir truck panik al hasil ia melarikan diri karena takut.
Darah Naruto banyak keluar. Membuat Naruto tidak sadarkan diri.
"Tidak tidak.. ku mohon bertahan lah." Gaara mengambil ponsel nya dan mencoba menghubungi ambulance.
Orang orang mulai menggeromboli tubuh Naruto yang terkulai lemah. Mereka prihatin melihat tubuh Naruto yang mengenaskan.
Tak lama kemudian ambulance pun datang. Segera mereka membawa Naruto ke rumah sakit terdekat.
Naruto di larikan ke UGD. Sebelum masuk ke UGD keajaiban menghampiri Naruto. Darah nya yang bangnyak keluar, seharusnya Naruto tidak sadarkan diri sekarang. Namun ajaib.
Naruto mememegang tangan Gaara.
"Y-yokatta.." ujar Gaara lega melihat Naruto membuka matanya.
Naruto menggerakan mulutnya mengatakan sesuatu.
Setelah mengatakannya Naruto kembali tak sadarkan diri.
Gaara membatu. Air matanya menyucur keluar. Ia mengerti apa yang di katakan Naruto barusan.
Lutut Gaara terasa begitu lemas. Ia terduduk sambil menangis karena apa yang menimpa Naruto saat ini.
Ruang kelas KHS. Sasuke terus menoleh noleh ke arah baangku Naruto.
Kemana anak itu? Pikirnya.
Brakk..
Pintu kelas terbuka dengan tidak elitnya.
"Gaara-kun" panggil Tenten heran. "Apa yang kau lakukan, astaga kenapa baju mu penuh darah?"
Satu kelas hiateris melihat penampilan Gaara.
Guru yang mengajar hanya menatap heran Gaara. Sampai akhirnya ia membuka mulut dan bertanya. "Apa yang terjadi?"
"Aku ada perlu dengan orang itu." Gaara menunjuk Sasuke dan Hinata. "Aku menyampaikan kabar baik untuk kalian. Aku punya pendonor jantung untuk Hinata." Setelah Gaara mengatakan itu ia keluar dengan wajah suram.
Ia tidak akan mengatakan prihal kematian Naruto pada Sasuke sekarang. Setidak nya sampai ia tahu siapa yang mendonorkan jantungnya pada Hinata.
Gaara mengangkat telefonnya. Ia menghubungi seseorang.
Sasuke masih teheran heran. Tapi jika memang ada orang yang akan mendonorkan jantung nya pada Hinata. Itu merupakan hal yang bagus, pikirnya.
Hinata dak Sasuke saling berpandangan dan melempar senyuman. Akhirnya mereka bisa hidup bahagia berdua selamanya.
Sorenya. Hinata dan Sasuke menuju kesebuah rumah sakit yang di kabarkan Gaara. Sasuke ingin segera melaksanakan oprasi donor jantung pada Hinata. Ia tidak ingin melihat Hinata menderita kesakitan.
Sasuke mondar mandir di ruang oprasi. Ia begitu cemas, begitu pula ayah Hinata.
5 jam berlalu. Dokter pun keluar dari ruang oprasi. Dengan cepat Hiashi menyerbu si dokter.
"Bagaimana oprasi putri saya.?"
"Selamat pak, oprasi nya berhasil.'' Dokter itu menjabat tangan Hiashi. Dan Sasuke terduduk lemas karena lega.
Namun kelegaannya sirna. Saat melihat Kushina berada di rumah sakit.
"Kaa-san.'' Panggilnya.
"Oh Sasuke.''
"Apa yang kaa-san lakukan."
"Aku-"
"Bibi Kushina. Ayo cepat, Kita harus segera memakamkan Naruto." Teriak seorang gadis jauh di depan Kushina.
"Hai hai Ino. Matte ne.'' Pekiknya. "Ne Sasuke, aku duluan" Kushina tersenyum kemudian pergi meninggalkan Sasuke dan menuju Gadis pirang bernama Ino itu.
Sasuke terkesiap.
Tunggu, pemakaman? Naruto?
Mata Sasuke membulat sempurna. Ia berlari menuju Kushina dan menarik tangannya.
"Kaa-san apa maksud nya ini?"
"Ino melepaskan tangan Sasuke dari Kushina. Naruto sudah meninggal.'' Terang Ino. "Kau gagal menjaganya untuk ku. Seharusnya aku tidak pernah mempercayai mu Uchiha." Desis Ino marah sembari melenggang pergi.
Kushina membelai surai dongker Sasuke sesaat. Menatap sendu iris onyx Sasuke kemudian beranjak menyusul Ino.
Lutut Sasuke mendadak lemas tubuhnya ambruk di lantai kramik rumah sakit.
"Ini tidak mungkin." Gumam Sasuke tidak percaya. "Naruto tidak mungkin mati.''
"Puaskah Uchiha" seorang pria berdiri. "Sekarang Naruto sudah tidak ada. Apa kau sudah puas? Naruto sudah mengabulkan segala permintaan mu. Bahkan sampai keinginan mu yang ingin hidup bersama dengan Hinata selalu.''
"Diam kau. Kau tidak tahu apa apa soal aku dan Naruto."
"Omong kosong.'' Ucap Gara. "Aku Sekarang lebih banyak tahu prihal Naruto dari pada kau. Yang lebih penting ia menitipkan ini pada ku untuk di berikan pada mu." Gaara memberikan sebuah album pada Sasuke.
Sasuke menatap nanar album yang di pegang Gaara. Ia membuka halaman pertama album tersebut.
Sett..
jatuh selembar Kertas yang menyelip di album itu.
Bersambung..
hay pembaca baru, salam kenal juga. mohonbantuannya di FF yu yang lain ya :D
revew yang lain sudah yu baca semua, tapi maaf ga bisa balas u.u
