Chap 4: Romeo and...Juliet?
Summary: "Aku yang akan memerankan Romeo," kata si pemuda berambut pirang bergelombang kepada Arthur. Mata Arthur melebar. "KAU?"
Rating: M
Warning: OOC, US x UK
Sebelumnya, author mau mengucapkan terima kasih buat Shion Shihakami-uchiFan 4ever yang memasukkan cerita ini ke list favourite stories-nya. dan Charles Grey-san buat review serta sarannya. Dan Apple-Mint Inversion-san buat review dan sarannya juga. Makasiiih! That's mean a lot to me!
US x UK.
"Hei Arthur," panggil Alfred. "Hem?" Sahut Arthur cuek tanpa mengalihkan pandangan dari kertas di tangannya. Ia sedang membaca naskah untuk syuting selanjutnya. Alfred cemberut.
"Setelah ini,kau kerumahku ya," ajak Alfred. Arthur tidak mendengarnya tapi dia mengangguk dengan asal. Alfred tersenyum dan melompat ke sofa studio untuk memeluk uke-nya dengan sayang.
"Thanks,Iggy! Love you," Cup. Alfred mendaratkan ciuman sekilas di bibir Arthur,membuat wajah pemuda itu memerah. Alfred memperhatikan wajah Arthur. 'Manisnyaaaaaa~!' Kata Alfred dalam hati.
Tanpa diduga-duga, Arthur memegang kedua sisi wajah Alfred dan mencium bibirnya dengan bernafsu. Alfred, si seme yang selalu bersemangat,langsung membalas sepenuh hati. Sambil menindih Arthur di sofa,ia membiarkan lidahnya bermain-main di mulut Arthur. Arthur mengalungkan lengannya ke leher Alfred dan mengerang pelan. Ketika mereka selesai berciuman, Arthur menatap Alfred dengan memohon. Alfred langsung mengerti.
"Iggy..lagi horny ya?" Tanya Alfred polos, dijawab dengan erangan,"Mhm~" dan tangan yang mengencang di sekeliling lehernya. Alfred tersenyum nakal, mata biru lautnya berkilau dari balik kacamata yang ia kenakan, membuat wajah Arthur yang sudah merah menjadi semakin merah.
"Kalau begitu..." Gumam Alfred,tangannya sudah menyusup ke balik kemeja hijau yang Arthur kenakan, mencari sesuatu.
"Aaah~nnnh~" erang Arthur ketika Alfred menemukan titik sensitif di dadanya dan mulai memijat ujung putingnya dengan sangat lembut. Alfred menggunakan ujung jempolnya, membuat Arthur mengerang lebih keras.
"Al-alfred..mmhh~" desah Arthur. Alfred menelan ludah. Ia sudah tak tahan ingin mencicipi tubuh pria ini. Alfred mulai menurunkan wajahnya ke leher putih Arthur dan menghisap serta menjilat seluruh kulit leher Arthur. Arthur mengerang semakin keras.
"Ahhhl-fhhrreed..Ja-ahh-nghn..ah~!" Desah Arthur tak jelas. Alfred tersenyum makin lebar. Menyenangkan rasanya bisa melihat Arthur seperti ini. Tangan Alfred sudah sampai di ikat pinggang Arthur ketika pintu terbuka dan seseorang menjerit dengan keras.
"Gyaaaaaaaa! Awesome!" Jerit Francis. Alfred dan Arthur langsung menghentikan perbuatan bejat mereka dan menoleh ke arah pintu dengan kesal.
"Bisa ketuk pintu dulu?" Tanya Arthur sambil membereskan pakaiannya. Alfred hanya berdehem, wajahnya memerah. Francis terlihat tidak peduli.
"Memangnya studio itu kamar kalian? Harus ketuk pintu dulu baru boleh masuk?" Tanya Francis balik. Saking kesalnya, Arthur menjewer telinga Francis. Francis memukul kepala Arthur sebagai balasannya. Alfred hanya bisa melongo. Tepat ketika Arthur dan Francis mulai cakar-cakaran, Yao melangkah masuk ke studio 4.
"Hei, dengar," kata Yao kepada Alfred, Arthur dan Francis. Arthur dan Francis berhenti bertengkar.
"Ada proyek baru. Film dengan durasi 150 menit. Judulnya Romeo dan Juliet," Kata Yao. Arthur dan Alfred mengangguk. Francis menyeletuk,"Ah,aku sudah dengar,"
Yao mengangguk kepada Francis. "Jadi,kami sudah memutuskan bahwa yang akan memerankan Juliet adalah..Arthur," kata Yao. Kuping Arthur melebar. Alfred tertawa geli.
"APAAA? Aku tak sudi memerankan wanita!" Teriak Arthur. Yao menggoyangkan jari di depan wajah Arthur dengan menyebalkan.
"Semua aktris wanita tidak bisa memerankan peran ini karena sibuk," kata Yao. "Kami sudah meminta adik Ivan,Natalia,untuk memerankan Juliet. Awalnya dia mau, tapi dia bilang ada syaratnya," kata Yao lagi. Alfred membetulkan posisi kacamatanya.
"Apa syaratnya?" Tanya Arthur pada Yao.
"Yang memerankan Romeo harus Ivan. Tapi begitu kutanya Ivan, dia langsung menolak mentah-mentah. Dia bilang adiknya lebih pantas memerankan film bergenre horror daripada romantis seperti Romeo dan Juliet." Yao menghela nafas, seakan mengeluh. Arthur mendengus. Yao melihat hal ini dan memberi isyarat meminta bantuan kepada Alfred. Alfred mengangguk dengan mengerti.
"Ayolah,Iggy. Aku ingin melihatmu menjadi Juliet,ya?" Bujuk Alfred. Arthur menggeleng.
"Ayolah..kumohon. Ya?" Alfred melancarkan jurus puppy eyes-nya yang membuat Arthur menghela nafas dan akhirnya mengangguk. Alfred dan Yao bersorak dalam hati.
"Siapa yang memerankan Romeo?" Tanya Arthur datar. Yao menunjuk orang yang tidak diduga-duga. Francis?
"Aku yang akan memerankan Romeo," kata si pemuda berambut pirang bergelombang kepada Arthur. Mata Arthur melebar. "KAU?"
Francis mengangguk. "Jangan kira aku senang," kata Francis sambil menyisir rambut dengan jari-jarinya.
"Aku melakukannya karena Yao membujukku. Sebetulnya,aku juga lebih suka jika berakting dengan cewek-cewek cantik daripada si alis tebal ini," kata Francis. Twitch.
"Apa katamu? Alis tebal?" Teriak Arthur. Yao dan Alfred menghela nafas secara bersamaan dan mengedikkan bahu,sementara Arthur dan Francis sudah kembali dalam peperangan.
"Yah..kuharap kalian bisa bekerjasama dalam beberapa minggu kedepan," gumam Yao kepada Arthur dan Francis yang sudah acak-acakan. Mereka mengangguk. Setelah itu,Yao dan Francis menghilang.
Alfred menarik Arthur ke parkiran dan mendorong Arthur masuk ke mobilnya.
"Ngapain sih?" Tanya Arthur kesal. Alfred menaruh jari di depan bibirnya,menyuruh Arthur tutup mulut. Kemudian Alfred mendekatkan wajahnya ke wajah Arthur.
"Kita ke apartemenku," bisik Alfred. Ketika Arthur menatapnya dengan pandangan bertanya, Alfred hanya tersenyum.
"Melanjutkan yang tadi," kata Alfred. Wajah Arthur memerah. Mobil keluar dari parkiran dan melaju ke apartemen Alfred. Ketika sampai di parkiran apartemen luas itu, Alfred hampir menabrak tanda pengaman karena terburu-buru. Mereka berjalan ke atas dengan bergandengan tangan,diiringi tatapan 'Oh-so-sweet' dari orang-orang yang melihat mereka. Sesampainya di kamar Alfred, Arthur langsung menarik Alfred ke tempat tidur king-size berseprai putih dengan selimut tebal bermotif mawar tersebut. Alfred melepas kacamata dan mulai membuka bajunya dan dan baju Arthur sehingga sekarang mereka telanjang. Alfred memagut bibir Arthur dalam ciuman panas, mengajak lidah Arthur bermain-main dengan lidahnya.
"Mmmh~" Erang Arthur. Alfred tersenyum diantara ciuman mereka dan mencium pipi halus Arthur sebelum turun ke lehernya.
"Ah! Ahn~uuh...mmmh~!" Desah Arthur keras ketika Alfred mulai mencicipi lehernya dan meninggalkan kissmark. Lidah Alfred menemukan 'titik spesial' di leher Arthur yang membuat Arthur mengerang lebih keras. "Ah-ah-ah~Alh-fhreed~" gumam Arthur nggak jelas. Arthur bisa merasakan Alfred tersenyum di lehernya. Alfred mulai turun ke dada bidang Arthur.
"Tenang saja,Iggy," kata Alfred sambil menjilati puting kiri Arthur,"Biar aku yang mengurusmu," Tangan kanannya memencet puting kanan Arthur, membuat Arthur mendesah nonstop.
"Aaaaahn~nnngh! Ah! Uh! Haah! Mmmhh! Terus! Alfred,jangan berhenti!" Erang Arthur ketika Alfred mulai menghisap puting susunya, memainkan ujung putingnya dengan lidah di dalam mulut panasnya. Nafas Arthur terengah-engah. Saliva mengalir dari sudut mulutnya. Alfred melepaskan puting Arthur dan turun ke bawah,ke selangkangan Arthur.
"AAAAH! NNNGGGGH! MMMM!" Arthur tidak bisa berhenti berteriak ketika Alfred memasukkan 'benda' milik Arthur ke dalam mulutnya, menghisap dan menjilati benda itu layaknya lolipop.
"Uuuhnn~Al-alfred..." Arthur merasakan orgasme akan datang dan ingin memperingatkan Alfred. Tapi ketika ia membuka mulutnya,yang keluar hanyalah desahan nafas yang tidak beraturan. Dan ketika Alfred memasukkan benda milik Arthur lebih jauh kedalam mulut panasnya, Arthur melihat bintang-bintang.
"Nnnnnngh~! Mmmmnnn..oooh! Aaah! Uh! Nggggh~" erang Arthur ketika orgasme menarik keluar seluruh pikirannya, menyisakan hanya pemuda yang kini sedang menjilati cairan yang keluar dari alat vitalnya. Tiba-tiba,Arthur merasakan ada jari yang memasuki lubangnya. Arthur,yang merasa agak takut,memanggil kekasihnya,"Al-alfred,"
Alfred mencium bibir Arthur, kembali menariknya dalam nafsu. Alat vital Arthur yang tadinya sudah melemah, kini kembali mengacung tegak. Jari-jari Alfred terus melanjutkan kegiatannya. Namun,Arthur sama sekali tidak menyadarinya.
"Ngh," gumam Arthur disela-sela ciuman panas Alfred. Alfred melepas ciumannya serta mengeluarkan jari-jarinya.
"Aku masuk,Iggy," bisik Alfred sambil menggigit cuping telinga Arthur dengan lembut. Arthur,hanya bisa megerang sebagai jawaban ketika ia merasakan benda Alfred memasukinya. Harusnya terasa sakit, tapi tidak sama sekali. Alfred melebarkan kaki Arthur untuk mempermudah ia bergerak, mencoba untuk tidak langsung bergerak ketika kehangatan dan kenikmatan menyelimuti dirinya.
"Sakit?" Tanya Alfred pelan. Arthur menggeleng sambil mengalungkan tangannya di sekeliling leher Alfred.
"Kapan kau akan bergerak? Ah! Aaaah~! Oh my GOD! Nggggggh!" Desah Arthur ketika Alfred mulai memaju mundurkan pinggulnya.
"Mmmh...nggh..Iggy~you're so damn TIGHT!" gumam Alfred sambil mempercepat gerakan pinggulnya.
"More~nnnnnnngh! Aaah~Faster...harder!" Pinta Arthur kepada Alfred. Alfred mematuhinya, membuat Arthur melayang. Arthur merasakan orgasmenya yang kedua semakin dekat. Dan ketika Alfred menggengggam alat vitalnya,memencet ujung benda itu dengan keras, Arthur pun orgasme sambil meneriakkan nama Alfred,dan orgasmenya terasa lebih nikmat ketika meneriakkan nama itu. Setelah beberapa kali maju mundur, Alfred pun orgasme di dalam tubuh Arthur.
"Nnnnngh~! Nyaaaaaahh!"
Mereka berbaring dalam diam selama beberapa saat, berusaha menormalkan nafas. Setelah nafasnya kembali seperti semula, Alfred mencolek pipi Arthur.
"Jadi...bagaimana menurutmu? Buruk ya?" Tanya Alfred. Arthur tertawa.
"Menjijikkan!" Canda Arthur dan membaringkan kepalanya di dada Alfred. "But..it feels good," gumam Arthur malu-malu. Ia mulai memejamkan matanya. Alfred memeluknya dan mencium rambut pirang Arthur sebelum matanya sendiri terpejam.
"Good night,Iggy,"
